My King My Destiny

Park Chanyeol X Byun Baekhyun

Chanbaek X Baekyeol

YAOI

BOYS LOVE

Drama

Romance

Mature

No Plagiat

No Bushing My Storry

Homopobic dilarang membaca ff ini

Tidak suka abaikan saja

Niniebee Present

.

.

.

Baekhyun masih terduduk ditanah melihat semua barang-barangnya di lempar oleh beberapa orang, tak lama taemin datang bersama yerin, berkacak pinggang memperhatikan baekhyun yang masih membereskan beberapa barangnya.

" I—ibu, apa ibu yang melakukan ini semua." Ucap baekhyun lirih.

" Ibu, siapa yang kau panggil ibu." Ucap taemin. " Aku bukan ibumu, dan kau mulai sekarang aku tidak mengenalmu jadi jangan pernah panggil aku ibu." Tambahnya lagi.

" Dan tuan bawa sampah ini sejauh mungkin aku tidak ingin melihatnya lagi berkeliaran di itern." Ucap yerin

" A—apa maksud noona—" Sebelum baekhyun menyelesaikan kalimatnya dua orang tinggi besar itu membawa baekhyun dan memasukannya ke dalam kereta kuda, baekhyun menolak bahkan meronta-ronta sampai sebalum satu pukulan mendarat di tengkuknya dan menghilangkan kesadarannya.

.

.

.

Kyungsoo sampai dirumah baekhyun dengan sedikit ter-engah mencari baekyun tapi nyatanya rumahnya sangat sepi, apakah baekhyun tidur atau pergi.

" Nyonya, apa kau melihat baekhyun.?" Tanya kyungsoo kepada seseorang yang kebetulan lewat.

" Baekhyun menjual rumahnya, dia sudah pergi dengan dua orang mungkin pindah." Ucap perempuan itu

" APA!" kyungsoo terkejut dengan penuturan perempuan itu, tidak mungkin baekhyun menjual rumahnya, tidak mungkin baekhyun pergi tanpa pamit kepada-nya dan luhan.

" Ini tidak benar." Ucap kyungsoo

Kyungsoo berlari menuju kediaman keluarga Xi. Kyungsoo mengetuk dengan keras pintu rumah keluarga itu, berharap seseorang segera membuka pintunya. Tak lama berselang seseorang membukakan pintunya.

" Nyonya Xi apa luhan ada.?" Tanya kyungsoo.

" Hey kyungsoo kenapa kamu terburu-buru seperti itu, ada apa nak.?" Tanya nyonya Xi.

" A—aku harus bertemu luhan nyonya." Ucap kyungsoo

" Baiklah luhan ada dikamarnya." Ucap nyonya Xi

Kyungsoo berhambur masuk kedalam rumah dan mencari kamar luhan, kyungsoo membuka pintu kamar luhan dengan keras, sipemilik kamar sangat terkejut dengan kedatangan kyungsoo yang tiba-tiba itu.

" Yak burung hantu apa yang kau lakukan, dan kenapa kau ini seperti yang dikejar-kejar setan huh." Ucap luhan

" Ba—baekhyun." Ucap kyungsoo, " Baekhyun pergi." Tambahnya lagi.

" APA!" luhan hampir saja menjatuhkan rahangnya, " Tidak mungkin dia tidak akan pergi tanpa sepengetahuan kita soo." Ucap luhan lagi.

" Rumah paman minho di jual." Tambah kyungsoo.

" APA!." Lagi-lagi luhan menjerit tak percaya dengan apa yang diucapkan kyungsoo.

" Aku yakin ini ada hubungannya dengan nyonya taemin." Ucap kyungsoo.

" Dasar nenek sihir." Ucap luhan.

.

.

.

Baekhyun membuka matanya, udara sore menyadarkannya, baekhyun memegang tengkuknya yang sakit, nyatanya dia tidak ingat apa-apa yang dia ingat hanyalah saat dua orang dengan postur tinggi besar memaksanya untuk ikut, dan setelah itu dia tidak ingat apapun lagi.

" A—aku dimana.? Gumam baekhyun." A—ayah aku takut, aku tidak tahu ini dimana, hiks—hiks." Air mata baekhyun mengalir, sebentar lagi senja, dan langit akan berubah menjadi gelap, baekhyun tidak suka gelap, baekhyun tidak suka kesunyian, tapi nyatanya kini dia ditengah hutan entah dimana seorang diri tanpa penerangan apapun.

Baekhyun berjalan menyusuri hutan, berharap menemukan pemukiman, tapi nihil langit malam semangit gelap, baekhyun semakin ketakutan, baekhyun tidak dapat menemukan jalan pulang, jangankan untuk pulang, bahkan dia saja tidak tahu kini berada dimana.

Baekhyun terduduk disebuah pohon rindang, gelap membuat baekhyun tidak ingin beranjak dari pohon itu, setidaknya kalau hujan dia tidak akan basah, begitu fikirnya, tapi kalau dilihat mana akan hujan yang ada bintang lumayan terlihat dibawah sini.

Baekhyun mencoba terjaga jangan sampai dia tertidur takutnya ada hewan buas atau perampok menghampirinya, jadi sebisa mungkin baekhyun jangan sampai memejamkan matanya, sampai atensinya teralihkan oleh sebuah cahaya, seperti nyala lentera atau obor semakin mendekat ke arahnya, mungkinkah itu perampok, atau begal, itu yang kini ada di fikiran baekhyun.

" Ya tuhan lindungi aku, ayah ibu lindungi aku, aku takut." Gumam baekhyun sambil menenggelamkan kepalanya dilutut.

Nyatanya saat cahaya lentera itu semakin mendekat baekhyun sangat dibuat ketakutan apa lagi diiringi dengan derap kaki kuda yang lumayan banyak, apakah itu benar-benar perampok fikirnya.

" Ayah mungkin aku akan mati malam ini, jadi kita akan bertemu disurga sana." Ucap baekhyun, saat seketika langkah kaki kuda itu berhenti, senyap sampai sebuah derap langkah mengdekat kearah baekhyun.

Seseorang berjalan mendekat kearah baekhyun, dengan perlahan, baekhyun yakin kalau orang tersebut adalah seorang perampok yang akan segera meng-esekusinya, karena terdengar suara pedang tercabut dari sarungnya, astaga ini sungguh mencekam.

" Apa aku harus mati dengan cara setragis ini, ibu ayah apa salahku." Gumamnya sampai dirasakan baekhyun seseorang menghunuskan pedang tepat kehadapannya.

" Siapa kau dan sedang apa kau disini." Ucap pria itu.

Baekhyun mengangkat kepalanya pelan, alih-alih menjawab baekhyun justru terkejut mendapati pedang dihadapannya tepat didepan wajahnya, " Tu—tuan aku ha—hanya.", " Apa yang kau lakukan di sini.?" Ucap pria itu tegas.

" A—aku tersesat." Baekhyun menjawab pertanyaan pria itu dengan gugup, bahkan mungkin kini sekujur tubuhnya sudah dibanjiri keringat dingin.

" Siapa yang membawamu kemari.?" Tanya pria itu lagi.

" A—aku tidak tahu tuan, aku terbangun dan aku sudah berada dihutan ini." Ucap baekhyun lagi dengan masih tidak bisa menahan ketakutannya.

" Sudahlah sehun kau menakutinya." Bawa dia dan ajak ke istana, sepertinya seseorang membuang dia disini." Ucap seseorang dari jauh. Suara baritone itu mengalihkan baekhyun, baekhyun serasa familiar dengan suara itu.

" I—istana, aku kenal dengan nyonya jung seojoon, apa aku bisa bertemu dengannya." Ucap baekhyun

" Ada hubungan apa kau dengan kepala pelayan istana." Tanya sehun

" Di—dia kenalan ayahku, sebelum meninggal aku diminta ayahku untuk menemui nyonya jung diistana, apa aku bisa bertemu dia tuan." Ucap baekhyun

" Kau tidak sedang menipuku kan." Ucap sehun lagi.

" Ti—tidak tuan, untuk apa aku menipu tuan, aku hanya kenal nyonya jung, -aku tidak punya siapa-siapa lagi." Lirih baekhyun.

" Baiklah, ayo ikut denganku, dan jangan bertingkah, atau aku akan memegal kepalamu" Ucap sehun

Nyali baekhyun seketika menciut mendengar laki-laki itu akan memegal kepalanya, jadi baekhyun hanya diam dan mengikuti kemana arahan pria itu, setidaknya ini lebih baik ketimbang terus-terusan berada didalam hutan yang gelap dan sendirian.

.

.

.

Luhan dan kyungsoo sudah lelah mencari baekhyun hampir kesemua penjuru desa, dan menanyakan kesetiap penduduk desa, tapi nyatanya tidak ada yang mengetahui dan melihat baekhyun.

" Kita harus mencari baekhyun kemana lagi lu.?" Ucap kyungsoo

" entahlah soo aku juga tidak tahu, bahkan penjaga desa pun tidak ada yang melihat baekhyun, aku takut terjadi sesuatu dengannya." Ucap luhan.

" Astaga, ini pasti ulah nenek sihir itu, ayo lu kita temui nenek sihir itu saja sekarang, akan aku beri pelajar wanita gila itu." Ucap kyungsoo

Kyungsoo dan luhan pergi kerumah taemin, dengan setengah berlari berharap wanita kejam itu kini berada dirumahnya, jadi kyungsoo akan memaki dan kalau perlu mengahajarnya telak dan memaksanya untuk mengatakan disembunyikan dimana baekhyun.

Kyungsoo dan luhan harus menelan ludahnya kasar, nyatanya taemin dan yejin sudah tidak menempati rumah itu lagi, menurut tetangganya taemin dan yejin sudah pergi kemarin, tapi tidak memberitahukan perginya kemana. Luhan dan kyungsoo dibuat geram dengan kelakuan nenek sihir itu.

" Astaga soo kita terlambat bagaimana ini.?" Ucap luhan sembari mengusak wajahnya kasar.

" Baekhyun, kau dimana baek." Gumam kyungsoo.

.

.

.

Chanyeol duduk di singga sana-nya membaca beberapa perkamen yang datang dari beberapa kerajaan, dan juga beberapa dari rakyat yang menyuarakan pengaduannya kepada sang raja, sehun yang berada diruang yang sama dengan chanyeol hanya mengamati sang raja dan menunggu perintah apa yang bakal diberikan sang raja kepadanya.

" Kau bawa kemana anak yang semalam.?" Tanya chanyeol

" Aku tempatkan dia di kandang kuda." Ucap sehun dengan tanpa ekspresi.

" Kandang kuda, astaga sehun, apa yang kau lakukan, dia manusia kau tidak bisa menempatkannya dikandang kuda." Chanyeol yang tidak percaya dengan ucapan mentrinya itu lantas bangkit dari duduknya.

" Anda mau kemana yang mulia." Tanya sehun.

" Aku mau menemui anak itu, dan membawanya masuk. Kau tidak bisa menempatkannya disana." Ucap chanyeol

" Tunggu yang mulia, kita tidak tahu niat anak itu, sebelum nyonya jung kembali dari Andes, aku takut dia berbohong mengatas namakan nyonya jung, bagaimana kalau nyatanya dia mata-mata." Ucap sehun

Chanyeol yang mendengar sehun mengatakan hal tersebut lantas terdiam, apa yang dikatakan sehun benar juga, bagaimana jika dia mata-mata yang dikirimkan negara musuh, bagaimana kalau anak itu memang berbahaya, itu akan jadi masalah jika dia gegabah membawanya masuk kedalam istana dengan mudah.

" Dan yang mulai, disana ada ruangan yang tidak bersentuhan dengan kuda langsung, jadi dia akan baik-baik saja disana, dan aku sudah menyuruh pelayan untuk membawakannya makanan dan minuman." Ucap sehun.

" Baiklah kalau begitu, kita tunggu sampai nyonya jung datang, dan sehun kemana jongin sudah dua hari dia tidak menampakan diri dihadapanku." Tanya chanyeol.

.

.

.

Jongin memutuskan untuk kembali keistana hari ini, mengamati laki-laki dengan mata burung hantu itu sudah cukup, kini saatnya dia kembali ke vetra, dia yakin kalau rajanya sudah mengendus ketidak hadirannya dikerajaan, jadi jongin memutuskan untuk meninggalkan itern, sampai sebelum dia mendengar percakan luhan dan kyungsoo, yang sedang mencari seseorang.

" Siapa yang mereka cari.?" Gumam jongin. Sampai telinga jongin mendengar sebuah nama mereka sebutkan, "Baekhyun." Gumamnya lagi.

Hari sudah menjelang senja saat jongin sampai di kerajaan, entah dengan kekuatan apa dia bisa sampai kekerajaan dengan begitu cepat, mungkin dengan teleportasinya, kalau saja dia punya kekuatan itu, nyatanya bukan, jongin memiliki kuda yang super cepat, yaitu kuda jenis mehra kuda yang memiliki bakat khusus dan keistimewaan khusus.

Setelah mengikat kudanya di kandang, jongin melihat kesebuah ruangan didekat kandang kuda, tumben sekali lampu diruangan itu menyala, apakah raja sudah menemukan penjaga kuda baru, itu yang ada di fikiran jongin saat ini, sudahlah itu bukan urusannya dia harus menemui sang raja terlebih dahulu, atau raja akan memenggal kepalanya karena dia menghilang sudah hampir dua hari.

" Kau kemana saja jongin." Ucap chanyeol dingin

" Maafkan saya yang mulia, ada sedikit masalah di itern, jadi aku harus menyelesaikannya." Ucap jongin sambil menunduk hormat.

" Masalah seperti apa,?" tanya chanyeol

" Banyak perampokan terjadi disana, jadi aku ingin turun tangan memusnahkan sampah-sampah itu, mereka mengganggu dan merampas uang penduduk." Ucap jongin, ceritanya memang benar tapi penduduk disini nyatanya seseorang yang tengah jongin amati akhir-akhir ini.

" Baiklah, kau boleh pergi, dan kabari aku jika kau memiliki tugas lain, jangan menghilang atau aku sendiri yang menindakmu." Ucap chanyeol

" Baik yang mulia.".

.

.

.

Baekhyun seolah menjadi tahanan disini, bagaimana tidak, dia dikurung disebuah gubuk yang berdekatan dengan kandang kuda, dan hanya akan dibukakan pintu jika seorang pelayan mengantarkan makanan dan minuman kepada baekhyun, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa dia belum dipertemukan dengan nyonya jung, dan dengan keberaniannya, saat seorang pelayan dan penjaga membuka pintunya untuk memberikan baekhyun makan malam, baekhyun bertanya kepada pelayan itu.

" Maaf noona, apa nyonya jung jaejoon ada di istana." Tanya baekhyun.

" Apa," ucap pelayan tersebut.

" Nyonya jung jaejoon, seseorang bilang kalau dia kepala pelayan di istana." Ucap baekhyun lagi, pelayan perempuan itu terdiam mendengar pertanyaan baekhyun, mencoba mencermati pertanyaan baekhyun, lantas pelayan itu menjawab.

" Ya, nyonya jung memang berada di istana, tapi kini beliau sedang bersama yang mulia ibu ratu ke Andes." Ucap pelayan itu.

" Ah begitu, kapan nyonya jung akan kembali." Tanya baekhyun lagi.

" Besok lusa, kalau begitu aku permisi." Ucap pelayan itu dan keluar lantas mengunci kembali pintu gubuk yang ditempati baekhyun.

" Jadi nyonya jung sedang ke andes, pantas saja mereka mengurungku disini, apakah mereka fikir aku orang jahat."gumam baekhyun.

Nyatanya hidup memang tidak adil, itu yang dirasakan baekhyun, baekhyun merasa hidupnya kini dipenuhi dengan kesialan, tuhan mungkin tidak menyayanginya itu yang kini ada di fikiran baekhyun, jika tuhan menyayanginya kenapa dia harus mengambil ayahnya dengan cepat, kenapa ibunya harus meninggalkannya saat baekhyun dilahirkan, ini nyatanya tidak adil bagi baekhyun. Dan sekarang dia harus terkurung didalam sebuah gubuk sempit yang bahkan orang tidak akan mengetahui keberadaannya sungguh hidup belum berpihak padanya.

Tiga hari sudah dilalui baekhyun dengan hanya makan tidur, makan tidur, belum ada tanda-tanda nyonya jung datang menemuinya sampai seseorang membuka kunci pintu gubuk itu, setelah pintu terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya, dengan dua orang pengawal dan satu pria tinggi, dan pria itu menatap baekhyun dengan tatapan dinginnya.

" Astaga byun baekhyun, kenapa kau bisa sampai disini." Ucap perempuan itu lantas langsung berhambur memeluk baekhyun, baekhyun terdiam, apakah ini nyonya jung.

" A—apa anda nyonya jung jaejoon." Ucap baekhyun

" Iya baekhyun, aku jung jaejoon, sahabat ibumu." Ucap nyonya jung.

" Nyonya kenapa kau lama sekali, aku bahkan hampir mati didalam gubuk ini, hiks—hiks." Nyatanya baekhyun menumpahkan air matanya dipelukan nyonya jung, entah kenapa lega rasanya telah bertemu nyonya jung.

" Ayo aku akan membawamu keruangan pelayan, berhentilah menangis, yang mulia raja tidak suka orang dengan air mata." Ucap nyonya jung.

.

.

.

TBC

NB: Akhirnya up juga, kalau belum ada yang puas maafkan, jangan lupa reviewnya, review kalian menyemangatiku, jika mau memberi masukan gunakanlah bahasa yang baik dan benar, terimakasih