Only U
Cast : HunHan, BaekYeol, Kaisoo, EXO Member
Genre : Yaoi, Romance, Comfort, AU, OOC
Length : ?
Rated : T
Jeongmalyo?" mata Suho berbinar. Baekhyun mengangguk.
"Geurae! Kajja! Gomawo Baekhyun-sshi! Panggil saja aku hyung kalau begitu!"
"Ne, kau juga harus memanggilku Baekhyun-ah saja!"
"Deal!"
Kyungsoo menghela nafasnya keras. Demi pipi chubby Xiumin hyung, ia merasa capek sekali dan mendadak telinganya error. Luhan benar-benar tidak waras tadi. Setelah mengantar Luhan pulang, ia malas sekali harus masuk kelas. Ia merasa kesal terhadap seonsaeng tadi. Seenaknya saja tidur sementara yang lain harus melukis. Kampus ini memang terbaik, tapi guru tadi seharusnya ditegur. Lebih baik ia bolos lagi. Efek bolos kemarin masih kuat rupanya. Ia meraih tasnya dan pergi dengan santai.
Kyungsoo berhenti di sebuah kedai coffee & cake. Ia masuk, memesan cafe latte dan wafel, lalu menuju tempat duduk yang sepi. Ia mengeluarkan buku sketsanya. Siapa tahu ia mendapat inspirasi. Mungkin ia bisa membuat sketsa cafe latte dan wafel. Ia akan memesan double kalau ia sedang dalam mood yang baik.
Seorang pelayan mengantarkan pesannya di meja 01. Kyungsoo tersenyum dan hendak mengucapkan terima kasih, ketika ia dan pelayan itu sama-sama tertegun.
"Ah, gamsahamnida!" ujar Kyungsoo canggung. Pelayan itu bow, lalu hendak beranjak.
"Apa aku pernah bertemu denganmu?" tanya Kyungsoo penasaran sambil menatap wajah pelayan itu lekat.
"Eh?"
"Ah ya! Kau si tukang listrik!" ujar Kyungsoo riang karena berhasil mengingatnya. Pelayan itu tersenyum.
"Duduklah sebentar. Aku bahkan belum berterima kasih kepadamu!"
"Apa kau yakin? Aku harus melayani orang lagi,"
"Bukankah suasananya sepi sekarang? Aku yakin teman-temanmu bersedia jika kau istirahat sebentar. Apa kau mau minum?"
"Ah, tak usah. Aku..." melihat pelayan yang masih berdiri ragu, Kyungsoo menepuk meja dan berujar riang.
"Ayolah, bukankah pembeli adalah raja? Kau ingin pengunjungmu merasa senang dan puas kan?" ujarnya. Pelayan itu duduk dengan ragu-ragu. Kyungsoo menatapnya menyelidik. Kulitnya yang tan tampak kontras dengan kemejanya yang putih bersih.
"Ireumi Do Kyungsoo!" Kyungsoo mengacungkan tangannya mengajak bersalaman. Mata pelayan itu membulat, ia bergegas mengelap tangannya ke kemejanya sebelum menjabat tangan Kyungsoo dengan ragu-ragu.
"Jadi, siapa namamu?"
"Joneun Kim Jongin imnida..." ujar pelayan itu pelan.
"Ah, aku mau berterima kasih karena kau telah berbaik hati tidak membangunkanku kemarin. Kau mau apa? Biarkan aku mentraktirmu!"
"Andwae... aku tak bermaksud, itu tak perlu!"
"Jadi, apa yang harus kulakukan?"
"Kau tak perlu melakukan apa-apa. Aku..."
"Kim Jongin!" seorang yeoja jangkung berdiri di dekat mereka dan tersenyum dibuat-buat pada Jongin. Kyungsoo melihat Jongin langsung terkesiap dan takut.
"Wah, siapakah ini Jongin? Bisakah kau memperkenalkannya padaku? Kau ada urusan dengan sajangnim! Pergilah menemuinya!" ujar yeoja itu dengan nada suara mengancam. Jongin langsung berdiri, bow, lalu pergi dengan menunduk. Yeoja itu menatap Kyungsoo dengan manis.
"Nah, apakah ada yang perlu kubantu? Namaku Hyebi. Apa lagi yang kau perlukan?"
"Ah, tak ada. Jeongmal gamsahamnida. Aku pikir aku perlu waktu untuk membuat sebuah inspirasi!" ujar Kyungsoo cepat. Yeoja itu kelihatan kecewa, tapi ia mengangguk manis dan melambaikan tangan, lalu meninggalkan Kyungsoo.
Kyungsoo jadi manyun. Baru tadi ia mendapatkan hiburan. Ia mengarsir sesuatu dengan asal sampai matanya menangkap sosok Jongin yang sedang mengepel lantai. Kyungsoo jadi mengamati wajah Jongin. Wajahnya lumayan, pikir Kyungsoo. Ah, bagaimana jika aku membuat sketsa wajahnya lalu aku berikan padanya sebagai hadiah? Pikir Kyungsoo lagi. Ia tersenyum dan membalik kertas sketsanya, lalu dengan tekun mulai membuat garis-garis wajah, menghapusnya, membuat lagi, hingga tanpa terasa ia sudah menghabiskan waktu cukup lama. Dari saat Jongin mengepel seluruh ruangan, melayani pelanggan, membersihkan kaca. Apa dia tidak tahu kalau aku mengamatinya dari tadi? Pikir Kyungsoo. Ditepisnya pikiran itu lalu ia mulai menghapus garis-garis yang tak perlu. Selesai!
Kyungsoo menatap puas ke buku sketsanya. Sebuah sketch hitam-putih dengan gambar seorang Kim Jongin yang amat bagus. Kyungsoo benar-benar berbakat jadi pelukis. Ia bangkit, meregangkan tubuh, lalu celingak-celinguk mencari Jongin. Tak ada. Sejak kapan ia tak menyadari kalau Jongin tak ada?
"Chogiyo, aku akan membayar pesananku," ujar Kyungsoo pada seorang namja yang menjaga kasir. Namja itu tersenyum ramah dan memberikan bon.
"Oh ya, apa kau tahu Kim Jongin?" ucapan Kyungsoo sukses membuat senyum namja itu luntur.
"Kim Jongin?"
"Ya, Kim Jongin! Kau mengenalnya kan? Kau tahu dia dimana?" ujar Kyungsoo sambil membenahi tasnya.
"Aniyeyo. Dia pulang. Shiftnya sudah selesai," ujar namja itu. Kyungsoo mendesah kecewa.
"Kau tahu dimana rumahnya?"
"Ani," jawab namja itu singkat. Kyungsoo manyun dan melangkah keluar. Besok, ia harus kesini lagi di jam yang sama!
Kyungsoo memutuskan untuk pulang setelah melirik kesana kemari untuk memastikan jika Jongin benar-benar sudah pulang.
Sementara itu, Baekhyun berjalan menyusuri jalan setapak yang terbujur sama kakunya dengan dirinya. Suho baru saja meninggalkannya sendirian, sesuai dengan yang ia minta. Ia meraba dadanya. Batinnya terasa perih. Ia sudah tak peduli lagi jika ada bodyguard yang melihatnya sendiri atau siapapun itu. Aku harus cari baju ganti, pikir Baekhyun yang agak risih saat beberapa orang melihatnya yang dalam balutan baju formal dengan heran. Ia melirik ke sebuah toko baju sederhana di ujung perempatan. Ia berjalan masuk, memilih sepotong kaus sport berwarna hitam bergaris biru tua dengan celana panjang berwarna hitam juga, dan sebuah sepatu kets berwarna hitam bertali biru tua. Ia sudah tak peduli apakah stylenya telah berubah drastis. Ia langsung memakainya di fitting room setelah terlebih dulu membayarnya, membungkus setelan jas putih dan sepatu putihnya, lalu... membuangnya ke tong sampah di depan toko baju itu.
Baekhyun kembali berjalan lurus tanpa arah sehingga tidak menyadari seorang namja yang sedang bingung melirik kesana kemari. Namja itu sibuk dengan tongkat bantunya, sedangkan Baekhyun berjalan luntang-lantung dan tak menghiraukan apapun kecuali suara hati dan batinnya yang sibuk bertengkar.
BRUKKK!
"OMO!"
Tubuh Baekhyun yang lemah langsung terjatuh saat dirinya dengan pasrah bertabrakan dengan namja yang sedang berancang-ancang untuk beranjak. Baik namja itu maupun Baekhyun jatuh terduduk di pinggir jalan itu dengan posisi tidak elit. Untung saja tabrakan mereka tidak terlalu kuat. Baekhyun menangisi nasibnya dalam hati sambil berusaha bangkit walaupun ia merasa pantatnya agak berat.
Namja itu bangkit lebih awal, segera saja ia mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri. Baekhyun menyambutnya dan berdiri sambil meringis.
"Jeoseonghamnida!" Baekhyun bow.
Baekhyun menatap namja itu sekilas. Agak kesal melihat namja itu begitu jangkung dengan wajah bersinar-sinar yang Baekhyun rasa 'bahagia'. Wajah itu tampak selalu bahagia. Namun, tatapan matanya... kosong. Namja ini buta.
Namja itu tersenyum, mengangguk-angguk antusias, lalu menjulurkan tangannya ke arah Baekhyun sambil mengibaskan tangannya mencari Baekhyun. Baekhyun menatapnya aneh, lalu menjabat tangannya.
"Gwaenchana?"
"Mm... ne. Jeoseonghamnida... Byun Baekhyun imnida. Mmm... ireumi mwoyeyo?"
Namja itu mencari di sakunya, lalu menyerahkan sebuah kartu nama padanya. Park Chanyeol. Nama namja itu Chanyeol.
"Bangapseupnida!"Baekhyu menatapnya ragu. Orang ini... buta? Betul-betul? Sejak kapan? Namja itu memakai tongkat bantu. Kenapa ia bepergian sendiri?
"Chogiyo, kau tahu dimana apartemen XXX?"
Baekhyun berpikir sebentar, lalu ia menoleh sambil tersenyum.
"Mollayo. Tapi, jika kau mengizinkan, aku akan membantumu!" ujar Baekhyun walaupun agak ragu-ragu. Namun ia kasihan juga harus meninggalkannya sendiri. Siapa tahu hanya dia orang yang bisa dimintai tolong. Yah, ia butuh pelarian suasana saat ini.
"Maaf karena aku buta. Aku kesusahan mencari apartemen ini!"
Baekhyun menoleh padanya dan mencoba tertawa.
"Tak apa, aku akan membantumu sebisaku!"
Namja jangkung itu tertawa, lalu membungkuk seraya membuat tanda terima kasih. Tiba-tiba, hati Baekhyun begitu terenyuh. Ia menatap namja. Walaupun ia buta, namja itu seperti tak mempunyai beban. Wajahnya bahagia dan bersinar, ia juga tipe yang seringkali tersenyum... manis. Setidaknya itulah yang Baekhyun pikirkan. Mereka terus berjalan dalam keheningan, tangan Baekhyun canggung menggandeng tangan Chanyeol untuk mencegahnya agar tak terpisah karena jalanan mulai ramai oleh siswa-siswa yang pulang sekolah. Baik Baekhyun maupun Chanyeol tak berusaha untuk membuat komunikasi lagi. Baekhyun sibuk menduga-duga apa yang ayahnya dan ayah Suho lakukan sekarang, sementara Chanyeol terlihat amat sibuk pikirannya sendiri.
Tiba-tiba, Baekhyun melihat sebuah plang alamat. Ia terlonjak, lalu tanpa sengaja mencengkram lengan Chanyeol.
"Lihatlah! Itu apartemennya!" ujar Baekhyun antusias dan mengagetkan Chanyeol. Namja itu mengeluarkan bunyi kaget, lalu tesernyum.
"Ah, jeoseonghamnida," Baekhyun melepaskan cengkraman tangannya sambil tersipu. Baru kali ini ia berinteraksi dengan orang buta. Dan ia senang telah berusaha membantu.
"Gamsahamnida. Berarti aku melewatkan jalan ini tadi sehingga tak menemukannya!" Chanyeol tersenyum. Ia sudah meraba banyak teras apartemen untuk melihat kecocokan apartemennya dengan apartemen yang Luhan katakan. Di depan apartemen Luhan ada sebuah mail box eksentrik sebagai hiasan, dan pintunya mempunyai ukiran tertentu yang unik. Ia belum menemukan satupun. Beberapa orang memang membantunya, namun Chanyeol 'mengusir' mereka halus. Ia ingin berusaha sendiri setelah terus-terusan membuat yang lain repot.
Baekhyun tersenyum karena Chanyeol nyengir bodoh.
"Gwaenchanayo, aku senang membantu!" ujar Baekhyun. Ia berdiri canggung dan Chanyeol pun tampak terdiam.
"Lalu... yah... inikah saat kita harus berpisah?" ucap Baekhyun canggung. Alis Chanyeol naik turun.
"Ah ya... kurasa begitu. Aku benar-benar berterimakasih. Maaf karena aku merepotkanmu dan semua orang. Annyeong Byun Baekhyun!"
Baekhyun menunggu sampai Chanyeol masuk ke dalam apartemen itu. Yah, misinya membantu orang sudah selesai. Ia melambaikan tangannya menjauh pada Chanyeol walaupun Chanyeol tak tahu. Baekhyun melihatnya dengan tersenyum. Setidaknya, ia tak menderita sepertiku, pikir Baekhyun, lalu melanjutkan acara jalan-jalannya dan memutuskan untuk pulang karena ia yakin tak punya tempat yang ingin ia tuju lagi.
Luhan mengendap-ngendap masuk perpus dengan wajah mencurigakan. Walalupun punggungnya belum sembuh benar, ia tak bisa melepaskan rasa keingintahuan bodohnya untuk menemui namja kursi roda kemarin. Ia berasumsi kalau namja itu masih berada di perpustakaan, mungkin masih mencari buku yang ada di rak sialan kemarin. Walaupun ia mendapat omelan seonsaeng karena tidak hati-hati dan terlalu banyak alasan, ia sudah bertekad untuk tidak bergeming. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Ya, begitulah.
Luhan berjalan tak sabaran menyusuri setiap deret rak buku. Eodiya... pikir Luhan greget. Ia bolak-balik menyusuri seluruh sudut pepustakaan, tapi namja kemarin tak ada. Luhan menyerah setelah sadar ia bahkan gak ada istirahat dan minum apapun sejak masuk perpus. Jadi, ia melangkahkan kaki menuju kedai Bubble Tea dekat kampus.
Ia keluar dari perpustakaan dan baru sadar, hujan deras...
Luhan merutuki nasib malangnya. Ia tak pernah bawa payung, jadi ia terpaksa harus puas basah-basahan. Ia berlari menuju kedai bubble tea secepat yang ia bisa, mengibaskan rambutnya yang basah, lalu masuk ke dalam.
Luhan memesan bubble tea chocolate dan duduk di tempat paling sudut. Kedai itu amat ramai. Luhan beruntung cepat-cepat, kalau tidak, entah bagaimana nasibnya. Kedai itu sangat ramai karena banyak orang yang memilihnya untuk tempat berteduh sementara. Biasanya ramai, namun tak seramai ini. Semua kursi penuh, beberapa orang bahkan memilih berteduh. Luhan tak peduli suasananya dingin. Ia duduk di sudut dengan tenang, sementara di sekelilingnya ramai sekali pengunjung. Ia menyeruput bubble teanya dengan perlahan, lalu sibuk menunduk dan memainkan hpnya.
Ia masih sibuk ketika suara disekelilingnya mulai berkurang dan malah bisik-bisikan bertambah. Luhan mengangkat kepalanya bingung ketika manik matanya menangkap seorang namja dengan kursi roda yang terdiam dan menyeruput bubble tea dengan tenang.
"Ya!" Luhan refleks berseru dengan mata yang membulat. Namja itu hanya melihatnya datar. Luhan sadar diri dan melihat ke sekelilingnya dengan malu.
"Kau!" ujar Luhan dengan penekanan, antara senang dan geram.
Namja itu masih diam, dan ketika sadar Luhan memelototinya, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu mengernyit menatap Luhan, menoleh ke kanan-kiri lagi untuk memastikan, dia yang dipelototi makhluk astral di depannya ini?
"Ne! Neo!" ujar Luhan masih dengan penekanan. Namja itu meletakkan bubble teanya dengan wajah tak berdosa.
"Kau siapa?"
Akhirnya namja itu berbicara. Dan Luhan nyaris menganga. Semua 'kerinduannya' terhadap namja di hadapannya jadi melebur, dan malah ingin jadi... ah, sudahlah.
"Kau tak ingat siapa aku?" tanya Luhan. Namja itu menggeleng.
"Aku Xi Luhan, namja yang kau temui di perpustakaan kemarin. Apa kau masih belum ingat?" ujar Luhan sambil tersenyum manis.
"Kau harus mempertanggungjawabkan punggungku!" lanjut Luhan dengan wajah yang berubah menjadi kesal tanpa bisa ia kontrol.
Namja itu terlihat agak terkejut dan memutar bola matanya, mengingat.
"Ah, aku kan sudah meminta maaf padamu! Aku akan mengulanginya! Jeoseonghamnida!" ujar namja itu datar. Luhan makin melotot.
"Mworago? Itu tak cukup!"
"Aku tak menyuruhmu untuk melindungiku, kan?" ujar namja itu cepat. Luhan membeku. Iya sih. Kan, dia jadi kelihatan babo banget.
"Geureom, aku akan memaafkanmu. Hanya saja..." Luhan menelan ludahnya. Namja itu masih menunggunya. Realistis gak ya... pikir Luhan ragu-ragu.
"Aku bahkan belum tahu namamu! Aku sudah memperkenalkan diriku dua kali. Itu sangat tidak impas!" ujar Luhan cepat.
"Aku tak memintamu memperkenalkan diri!" ujar namja itu lebih cepat.
"Ya! Kau... apa kau tak tahu bersikap..."
"Geurae, geurae, namaku Oh Sehun!" potong namja itu cepat sebelum Luhan meledak. Luhan tak jadi menyambung kata-katanya dan tersenyum.
"Geurae, Sehun-sshi. Bangapseumnida!" ujar Luhan sambil menyorongkan tangannya. Namja itu menyambutnya singkat. Luhan merasa kulitnya tersengat saat tangan mereka bersentuhan. Omona... jantungku... pekik Luhan dalam hati.
Sehun masih menatap Luhan yang sibuk menenangkan diri sendiri sambil komat-kamit.
"Hujan sudah reda. Kau harus membantuku mencari buku di perpus," ujar Sehun, lalu beranjak pergi menuju kasir.
"Eh? Ya, geumanhae!" Luhan bergegas mengejar Sehun, lalu membantu mendorong kursi rodanya. Ia bahkan sadar banyak mata yang berbisik-bisik tentang ia dan Sehun. Bodoh! Pikir Luhan. Ia sedang bahagia saat ini, walaupun ia sendiri tak yakin.
Jadi ia di perpustakaan sekarang, mendorong kursi roda seorang namja tampan yang baru dikenalnya yang tak berbicara apapun selainkan memberikan intruksi seperti "belok kanan, lurus, belok kiri, terlewat, balik lagi ke kiri," dan sebagainya. Akhirnya mereka berhenti tepat di depan rak komik berbahasa Inggris.
"Kau mau berhenti disini?" ujar Luhan heran. Ia mendekat ke arah tumpukan komik berbahasa Inggris. Sejujurnya, ia tak terlalu suka komik. Ia pusing membaca kolom-kolom komik dan tulisannya yang kadang-kadang kekecilan atau malah terlalu banyak.
"Ne," Sehun mengambil 3 buah komik dari tumpukan bawah dan melenggang pergi. Luhan terhenyak.
"Ya! Tunggu aku!" Luhan mengambil alih kontrol kursi roda Sehun. Mereka keluar dari perpustakaan dan membeli beberapa makanan ringan. Luhan duduk di kursi taman sementara namja itu masih mematung. Karena memang kepribadiaannya yang riang dan gak bisa diam, Luhan sibuk ngoceh sementara namja itu mendengarkan tanpa reaksi. Luhan bercerita tentang kenapa ia bisa ada di Seoul, tentang Kyungsoo, tentang kucingnya di China, adiknya, pelajarannya di kelas sastra, dan lain-lainnya. Luhan baru sadar dia sudah bercerita banyak sekali ketika Sehun mendekatkan kursi rodanya ke depannya dan mencondongkan tubuhnya ke depan, memandangnya lekat.
"Aigo... mianhaeyo... aku hanya... ya... tak bisa diam!" Luhan memalingkan wajahnya malu. Sehun masih diam dan menatapnya lekat sekali. Luhan bisa merasakan detak jantungnya yang seakan siap meledak dan keluar. Ia pasti merasa malu setengah mati jika Sehun bisa mendengarnya.
"W...wa... wae..?" gagap Luhan saat Sehun tak juga mengalihkan pandangannya. Luhan bahkan berpikir Sehun belum sempat berkedip.
"Kau manis," ujarnya singkat dan berhenti menarik badannya.
JLEBB!
Luhan merasa wajahnya pasti jelek banget. Mulutnya menganga kaget dan ia buru-buru tersenyum aneh.
"Ee... apa maksudmu..?"
"Nope," ujarnya singkat. Luhan manyun. Ia melirik kaki Sehun yang kaku.
"Lanjutkan saja ceritamu," ujar Sehun saat ia melihat Luhan melirik kakinya.
"Aku sudah bercerita terlalu banyak... apa... kau mau menceritakan soal..." suara Luhan makin mencicit kecil. Sehun menatapnya tajam.
"Kalau tak mau tak apa," ujar Luhan cepat. Sehun menatap lurus ke depan, ke mata Luhan.
"Kecelakaan..."
"Huh?" mata Luhan membulat.
"3 tahun yang lalu, kalau kau tanya kapan. Sejak itu aku lumpuh dan tak tahu bagaimana lagi rasanya berdiri, apalagi berjalan dan berlari,"
"Mianhaeyo Sehun-ah..." Luhan ikut menatap Sehun intens. Tangan Luhan tanpa sadar meraih tangan Sehun dan menggenggamnya. Sehun merasa tangannya tersengat, dan seluruh syaraf tubuhnya terkejut. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Wajah Luhan merah padam, tapi matanya terlihat amat sedih.
"Apa itu berlaku... untuk selamanya?"
"Ntahlah... tapi itu bukan permanen. Aku bukan orang yang kuat untuk kembali melangkah, jadi aku tak layak mendapatkannya lagi,"
Luhan merasa hidungnya pedas. Ia buru-buru memalingkan wajahnya. Aku cengeng banget, pikirnya. Ia menggenggam tangan Sehun lebih erat.
"Aku akan membantumu Sehun-ah! Aku janji! Aku akan membantumu berjalan lagi!"
"Impossible!" ujar Sehun cepat.
"Andwae, jangan berkata begitu. Aku akan memenuhi janjiku! Setiap hari, datanglah kesini untuk menemuiku! Kau dengar itu Sehun-ah? Aku akan membencimu jika kau tak datang!"
Mata Sehun yang tajam kini terlihat sayu. Mata kelelahan. Ia menatap Luhan dengan lelah, lalu menunduk.
"Luhan-sshi, kemarilah!" Sehun menarik tangan Luhan sehingga tubuhnya condong ke depan. Ia dapat melihat wajah Luhan yang merah, hidungnya, matanya, alisnya...
Chu!
Mata Luhan membelalak. Sehun mengecup dahinya pelan, lalu sebelum Luhan bisa bereaksi, Sehun sudah beranjak dan meninggalkannya yang masih mematung.
Kini, Luhan bisa merasakan jantungnya juga perutnya akan meledak.
TBC
.
.
.
Thx for ever read my FF! I really knew that it's imperfect, but i really enjoyed it!
Special thx or Arifahohse
I'll try my best!
