True Love

(Chapter Three: Confuse)

© AliciaFon

Bleach © Tite Kubo

Rate: T

Genre: Romance, Hurt/ Comfort

Warning: Maybe Typo's, Out Of Chara, Alternative Universe

DON'T LIKE DON'T READ!

Malam itu dilewati dengan Ggio yang berhasil membuat Soifon terpukau. Bukan hanya ketampanannya saja, namun juga tutur kata dan sikapnya yang sangat manis mampu membuat Soifon tak melepaskan pandangannya kepada Ggio meskipun hanya sedetik.

Ah, hampir saja ia melupakan sesuatu.

"Hei, Ggio-kun?" Ia meletakkan dagu nya di pundak Ggio selagi mereka berdansa.

"Hm?"

"Bolehkah… bolehkah kau mampir ke rumahku?" Wajah Soifon terlihat mulai memerah.

"Ah, aku baru saja ingin memintamu."

Perlahan Soifon menyunggingkan senyum.

.

Sudah sekitar pukul sepuluh malam ketika mereka berdua meninggalkan restoran itu. Namun, Soifon merasakan ada sesuatu yang janggal dengan Ggio. Entah apa, namun ketika akan menuju ke dalam mobil, Ggio tak menggenggam lengan Soifon. Ya, Soifon tahu, barangkali ia hanya berharap terlalu tinggi. Namun, jika ia membandingkan sikap Ggio sekarang dengan yang sebelumnya, ia pikir tak ada salahnya berharap lebih. Dan mereka segera masuk ke mobil.

"Ggio-kun?" Ia menatap Ggio dengan raut wajah bingung.

"Hm?" Ggio memandang lurus ke depan. Entah apa yang ia pikirkan.

"Tidak. Tidak apa-apa."

Mobil melaju dengan kecepatan stabil. Sepanjang perjalanan, tampaknya mereka berdua hanya diam tanpa ada yang ingin memulai pembicaraan.

Mengapa ia seperti itu? Batin Soifon dalam hati. Ia tampak berkutat dalam pikirannya sendiri ketimbang memperhatikan keadaan sekitarnya. Tanpa ia sadari, ponselnya berbunyi nyaring. Telepon dari Orihime.

"Halo?"

"Soifon? Bagaimana kencanmu hari ini?"

"Hm… Biasa saja, h… hei… bagaimana kau tahu kalau aku sedang berkencan?"

"Hihihi… Ulqui-chan dan aku juga sedang berada disana. Bahkan aku melihat kalian berdansa! Kau tahu, aku akan membagikan gambar kalian saat sedang berdansa!"

"E… eh? Orihime! Jangan kau-"

Klik.

Soifon menghela nafas panjang. Tampaknya ia akan menjadi bulan-bulanan teman-temannya lagi untuk beberapa hari ke depan. Bahunya lunglai, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Soifon menoleh ke kursi sebelahnya untuk melihat reaksi dari Ggio. Namun tampaknya tak ada yang ingin Ggio ucapkan. Soifon mulai gelisah. Apa maksud dari perilaku Ggio saat ini? Apakah ia mencoba untuk mempermainkan dirinya? Apakah harus selalu Soifon yang memulai percakapan? Apakah Soifon bukan sesuatu yang Ggio utamakan?

Namun, ia mulai menyadari satu hal. Ia sudah bersikap berlebihan. Benar, Ggio hanyalah seseorang yang ia bayar untuk menemaninya selama beberapa bulan ke depan. Setidaknya untuk memperlihatkan kepada keluarganya -terutama orangtuanya- bahwa ia bukan seorang 'perawan tua'.

Bahwa Ggio bukanlah siapa-siapanya, bahwa Soifon hanyalah salah satu dari sekian banyak pelanggan lain. Ah, ya… sudah berapa perempuan yang Ggio kencani sebelum dirinya? Ah, dengan ketampanan yang seperti itu, Soifon yakin bahwa Ggio merupakan salah satu aset bernilai jual tinggi.

Tanpa sadar, Soifon memperhatikan Ggio dengan tatapan menerawang.

.

Soifon memencet bel rumahnya dan menunggu. Tanpa ia sadari, Ggio menggenggam punggung tangan Soifon erat.

Tak lama, Yoruichi membukakan pintu untuk mereka berdua.

"Ah… Soifon? Siapa ini?"

"Bu, kenalkan, ini Ggio, p… pacarku."

"Eh? Wah… Tampan sekali! Ayo masuk nak! Kalian mau makan apa? Aku baru saja membuat makan malam.

"Ah, tante… tidak usah repot-repot…"

"Ah, tidak apa apaaa… ayo, aku akan marah jika kau tidak makan sebelum kau pulang!"

Soifon melihat mereka berdua -Ggio dan ibunya- dengan tersenyum.

Setidaknya ia akan diijinkan tidur di rumahnya malam ini, meskipun ia harus membohongi orangtuanya ketika mereka bertanya bagaimana ia dan Ggio bisa bertemu.

"Ggio? Apa kau mau bermalam di rumah kami?"

"Eh? M… maksud tante?"

"Ini kan sudah larut, kau bisa pulang esok pagi. Bilang saja kepada orangtuamu bahwa kau akan bermalam di rumah temanmu. Atau jangan-jangan kau sudah memberitahu hubungan kalian pada orangtuamu? Wah kalau begitu aku akan sangat senang sekali!"

"Em… ti-tidak apa-?"

"Sama sekali tidak apa-apaaa… ayolah, aku malah akan sangat tersinggung sekali jika kau tidak bermalam disini. Maaf jika rumah kami hanya sebuah rumah sederhana. Apa kau tidak nyaman bermalam disini?"

"Bukan begitu tante… eh?"

"Ya? Kau bisa memakai baju suamiku untuk kau pakai malam ini."

"Baiklah tante." Ggio akhirnya menyerah.

.

"Hihihi…" Soifon menahan tawanya ketika melihat Ggio memakai baju ayahnya yang khas dengan warna hijau tuanya. Ggio memandang Soifon dengan tatapan ingin membunuh.

"Wah... pas ya? Kalau begitu baju ini untukmu saja. Anggap saja kenang-kenangan dari kami."

"Eh? Te… terima kasih tante." Ggio tampak tak kuasa lagi menolak ketika melihat wajah Yoruichi yang tersenyum namun terlihat mengeluarkan aura intimidasi.

Cklek.

Yoruichi menggenggam kunci kamar tamu.

"Lho? Saya tidur dimana tante?"

"Kau bisa tidur bersama Soifon, Ggio." Lagi-lagi Yoruichi mengeluarkan aura intimidasinya.

Soifon melirik Ggio ragu-ragu. Apakah Ggio baik-baik saja dengan keputusan ini? Apakah ia tidak apa-apa? Apakah ia mau tidur dengannya? Pipi Soifon berangsur-angsur memerah ketika memikirkan kalimat terakhir.

"Baiklah tante." Ggio menunduk. Takut barangkali.

"Bagus bagus!" Yoruichi menepuk pundak Ggio sebelum kembali ke kamarnya, meninggalkan mereka berdua.

Keheningan mengambang di udara selama beberapa menit sebelum akhirnya Ggio angkat bicara.

"Ayo kita ke kamarmu."

.

Mereka sudah berbaring dan saling menatap. Setidaknya ini sudah lebih baik dibandingkan beberapa saat yang lalu ketika mereka sama-sama canggung dan ragu siapa yang akan naik ke atas ranjang terlebih dulu.

"Maafkan sikap ibuku. Mereka-"

"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa seperti ini."

Soifon terdiam. Ia lalu mengubah posisinya menatap langit-langit kamarnya. Sudah biasa? Kalau begitu… sudah berapa kali ia tidur dengan wanita selain dirinya? Tak disangka olehnya, ia merasakan sesuatu yang sangat menyesakkan dadanya. Perih.

"Kamarmu rapi. Aku suka."

Soifon tersenyum kecut. Ia lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Ggio. "Selamat tidur."

Ggio tampaknya menyadari perubahan sikap Soifon. Ia mencoba meraih punggung Soifon, namun ia ragu dan akhirnya urung melakukannya.

"Selamat tidur juga, Soifon."

Ggio sudah terlelap dan tak menyadari pipi Soifon yang basah oleh air mata.

Malam itu mereka lewati dengan berkutat pada perasaan mereka masing-masing.

.

.

.

17 Mei 2017 sampai dengan 11 Desember 2017. Sebuah waktu yang menurutku cukup panjang untuk sebuah update-an kasih lenacchi nee-chan sudah memberikan masukan yang amat sangat berguna untukku. Dan mungkin aku tak yakin kapan bisa melanjutkan fict ini lagi.

Ngomong-ngomong, banyak hal yang sudah terjadi selama empat tahun ini, tanpa aku sadari.

Sekian dariku. Semoga kita bisa bertemu di lain waktu.

Salam,