Tittle : Another Story Of The Three Detectives.

Cast : Cho Kyuhyun, Park Jungsoo, Lee Donghae, Lee Sungmin and other.

Genre : Crime, Friendship, Mystery.

Rated : T

First Case : Trouble at School. ( Part 2 )

Author POV

Jungsoo dan Donghae kembali ke mansion, setelah mengantarkan Kyuhyun ke sekolah barunya. Mereka kini tengah bersantai sembari melakukan kegiatan mereka masing-masing. Donghae yang sibuk dengan laptop di hadapannya, sementara Jungsoo yang tengah sibuk menonton acara di TV.

"Hyung." Panggil Donghae. Jungsoo hanya menggumam sebagai jawaban. "Apa keputusan yang tepat, membiarkan Kyuhyun sekolah? Aku sedikit khawatir padanya." Lanjut Donghae. Pandangannya kini ia alihkan pada Jungsoo yang masih sibuk dengan kegiatannya.

"Tidak apa. Biarkan ia bersosialisasi terhadap lingkungan. Jangan hanya bertemu dengan kita dan Sungmin saja." Donghae beranjak dari duduknya dan beralih duduk di samping hyungnya yang sedang asik menonton TV. "Benar juga. Tapi tetap saja aku khawatir, ia bisa bersekolah di sana karena kita yang mendaftarkannya sebagai siswa beasiswa. Aku khawatir teman-temannya akan memandangnya rendah." Sanggah Donghae.

"Ia bukan tipe orang yang akan down kalau direndahkan. Yang ada dia akan melawan dengan pembuktian bukan dengan ikut merendahkan diri. Tenang saja ia pasti baik-baik berada di sana." Jungsoo menepuk-nepuk punggung adiknya itu pelan. "Semoga saja." Bisik Donghae pelan.

Keduanya tidak terlibat dalam perbincangan tentang Kyuhyun lagi. Donghae kembali ke kegiatan awalnya yaitu berkutat dengan laptop miliknya. Sementara tangan Jungsoo masih sibuk memilah saluran TV yang ingin ia tonton.

'Breaking News! Sebuah sekolah elit di kawasan Seoul, mendapat serangan Bom yang terpasang di pos keamanan dari sekolah tersebut. 'Seoul High School' dikabarkan menjadi sekolah yang mendapatkan terror Bom . Sampai saat ini belum dikabarkan adanya korban jiwa ataupun korban luka-luka dalam kejadian tersebut.'

PRANGG

Jungsoo mengalihkan pandangannya dari layar TV menjadi ke arah suara seperti sesuatu yang pecah. Pandangannya tertuju pada Donghae yang tengah menatap layar TV dengan pucat, sementara gelas yang tadi dipegangnya sudah hancur berkeping-keping di lantai.

"Donghae!" Seru Jungsoo panic. Ia sampiri adik pertamanya itu dan mengguncangkan bahunya keras. "Donghae!" Seru Jungsoo lagi.

"Hyung..kita ke sekolah Kyu sekarang." Tanpa menunggu jawaban Jungsoo, Donghae berlari ke kamarnya dengan sebuah jaket tersampir di tubuhnya. Satu tangannya memegang sebuah kunci yang dipastikan adalah kunci mobil.

Jungsoo tanpa banyak bicara langsung menyusul adiknya yang telah berlari terlebih dahulu. "Hae!" Jungsoo memanggil adiknya. "Biar hyung yang menyetir. Bahaya kalau kau yang menyetir." Tanpa bantahan, ia langsung melempar kunci mobil pada Jungsoo dan beralih duduk di bangku penumpang.

Donghae menatap jalanan yang ia lewati dengan intens, tatapannya tidak ia alihkan sama sekali berharap dapat sampai secepat mungkin. Sementara Jungsoo sedikit tidak bisa berkonsentrasi menyetir, di satu sisi ia mengkhawatirkan Kyuhyun namun ia juga sedikit mengkhawatirkan Donghae yang sedari tadi hanya diam memandang jalanan.

"Tenang Hae. Ia bukan orang biasa." Jungsoo mencoba menenangkan Donghae yang nampaknya tidak cukup berhasil.

CKITT

Donghae langsung berlari keluar tepat setelah mobil berhenti di kawasan sekolah, Jungsoo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Donghae. Banyaknya mobil polisi dan beberapa mobil pemadam kebakaran menyambut penglihatan Jungsoo. Banyak para murid dan guru yang sedang dievakusi keluar sekolah. Namun ia sama sekali tidak menemukan Kyuhyun dalam pandangannya.

"Permisi, apa anda tahu dimana siswa yang bernama Cho Kyuhyun?" Tanya Jungsoo ramah pada salah satu pria yang berperawakan seperti seorang guru.

"Kami tidak mendaftar siapa saja yang telah dievakuasi karena keadaan yang tidak terkontrol. Para petugas hanya akan memastikan dengan mengosongkan seluruh isi sekolah saja." Jawab guru tersebut.

"Hyung! Kyuhyun tidak ada." Donghae tiba-tiba sudah berada di dekat Jungsoo. "Aku tidak menemukannya di rombongan siswa manapun." Lapornya. Jungsoo menghela nafas berat dan memijit keningnya pelan. Ia tahu, kalau mereka tidak akan diizinkan untuk masuk ke dalam sekolah dan mencari adiknya itu.

"Kalau kau adalah Kyuhyun, maka apa yang akan kau lakukan dalam situasi seperti ini?" Tanya Jungsoo menatap Donghae. Sementara yang ditanya hanya menatap bangunan sekolah tersebut, seakan tahu apa jawabannya.

"Bersembunyi dulu hingga sepi lalu berkeliling mencari pelaku dan kemungkinan bom lainnya yang terpasang." Jawab Donghae sambil menerawang.

"Ya. Jadi kita tidak bisa berbuat apa-apa."

.

.

.

Kyuhyun POV

Aku masih terjebak di ruang music ini seorang diri. Seorang petugas sempat masuk ke dalam ruangan ini dan memeriksa keadaan, untung saja aku berhasil sembunyi dan ia tidak menemukanku. Waktuku terbuang percuma kalau hanya diam di sini dan tidak berkeliling, untuk memecahkan petunjuk dari pelaku ini, aku harus mencari tempat di sekolah ini.

Sial. Semoga saja tidak ada yang mengenaliku sebagai siswa. Tapi itu tidak mungkin, mengingat saat ini aku memakai seragam.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar ruang music ini dan semoga bisa menemukan sesuatu untuk penyamaran. Daaaan Bingo! Aku melihat sebuah jaket tergantung di salah satu sudut ruangan. Tanpa buang waktu aku langsung berlari dan memakai jaket yang sebenarnya sudah sangat lusuh ini.

"Apa semua arena sudah clear?"

"Sepertinya sudah. Kita kembali ke rombongan saja."

Sayup-sayup aku mendengar perbincangan para petugas yang berlalu lalang di sekolah. Setelah memastikan keduanya telah pergi, aku keluar dari tempat persembunyianku dan mulai mencari tempat yang menjadi petunjuk.

"Sial! Aku masih belum tahu apa arti dari surat ini. Andai saja aku tidak meninggalkan ponselku di kelas." Aku menggaruk kepalaku kasar.

"Sudah jam berapa ini?" Aku melihat jam yang melilit pergelangan tanganku dan waktu sudah menunjukkan pukul 10.30, itu berarti aku berada di dalam ruangan itu cukup lama.

Tunggu! Jangan-jangan arti dari 'Ketika mereka berjodoh pada saat puncak' adalah ini. Ya tidak salah lagi. Kalau begitu berarti hanya tinggal 90 menit lagi. Sial! Aku harus mencari arti dari kata 'pusat' dan 'kotak kayu emas' itu.

GUK GUK GUK

"Hei! Apa yang kau lakukan di sini?" Sial. Aku ketahuan oleh salah satu petugas yang tengah membawa seekor anjing. Kalau seperti ini aku akan dievakuasi seperti yang lainnya.

"Eh..Hmm..Anu.."

"Kau seharusnya berkumpul dengan yang lain." Ia memegang lenganku dan mulai menarikku.

"Tunggu!" Dia menatapku kesal karena aku sedikit membentaknya. "Kalau ada anjing pelacak, mengapa bom yang lainnya belum ditemukan? Kalian para petugas masih berada di lingkungan sekolah ini, jadi bom yang lain belum berhasil ditemukan kan?" Tanyaku langsung.

"Jangan banyak bertanya. Disini berbahaya." Dia mulai menarikku lagi. Aku harus mencari cara agar bisa kabur dari petugas ini.

"Ah!" Ia menghentikan kegiatannya menarikku. "Tali simpul sepatuku lepas." Ia melepaskan tanganku dan kesempatan emas ini ku gunakan untuk lari.

"YA!" Ia berteriak dan ikut berlari di belakangku. Aku langsung mempercepat langkahku agar petugas itu tidak bisa mengejarku lagi.

BRUKK

"Ukkhhh."

Aku mengusap wajahku yang sakit akibat tertabrak seorang laki-laki berkacamata berpakaian formal, yang aku yakin seorang guru. Tapi aneh, bukankah semua warga sekolah harusnya sudah diungsikan.

"Aish. Bocah sial. Kenapa kau malah kabur huh?" Petugas yang tadi mengejarku berhasil menyusul.

"Ah..Aku…Masih ada yang tertinggal di kelasku. Aku harus mengambilnya." Kucari alasan yang logis agar ia bisa membiarkanku pergi.

"Tidak bisa. Kau harus keluar dari kawasan sekolah." Dia mau menarikku lagi. Sial. Bagaimana cara untuk mengelabuinya.

"Tidak apa."

Belum sempat aku menyela, sang guru yang baru saja bertabrakan denganku tiba-tiba berbicara. "Aku akan mengantarnya mengambil barang, setelah itu aku juga yang akan mengungsikannya setelah selesai." Lanjutnya. Sang petugas menghela nafas panjang kemudian mengangguk, setelahnya ia meninggalkan kami.

"Nah. Kau bisa melanjutkan kegiatanmu. Sampai jumpa."

Dia berlalu pergi dari hadapanku setelahnya, sementara aku hanya bisa menatapnya tajam. Sudah dua orang aneh yang kutemui hari ini. Pertama siswa yang memberiku surat ancaman dan yang kedua, guru yang membiarkanku berkeliaran walaupun dalam situasi seperti ini. Siapa sebenarnya mereka.

DRAP DRAP

Aku langsung bersembunyi dibalik tembok ketika mendengar suara langkah beberapa orang. Terlihat dua orang petugas tengah berlari dan kemudian berhenti tepat di dekatku.

"Aneh. Seharusnya anjing pelacak itu bisa dengan mudah menemukan bom yang terpasang. Tapi kenapa sampai sekarang mereka hanya berputar-putar." Seseorang diantara mereka bersuara.

"Ya. Yang ditemukan hanya berupa plastic yang berisi bubuk, yang tersebar di beberapa area sekolah. Ini gawat. Kalau tidak ditemukan cepat, polisi dan tim gegana bisa terkena ledakan bom juga." Seorang lainnya menyahut. Mereka pun berlalu, mungkin bergabung dengan tim lainnya.

Benar juga. Aku sudah mengetahui tujuan pelaku dan bagaimana ia mengelabui para petugas. Sekarang tinggal mencari letak dimana bom tersebut diletakkan.

'Berjalanlah ke arah belakang dari pusat' tapi pusat apa yang ia maksud.

Tunggu! Disurat ini ada petunjuk lain yaitu 'For Love And Good'. Kenapa petunjuk itu ditulis dalam bahasa inggris. Dan kata 'And' seharusnya tidak membutuhkan huruf capital di depannya.

Ah! Aku mengerti!

Tapi di sekolah ini pasti banyak yang terpasang seperti itu. Pasti ada petunjuk lainnya, kata yang terhubung dengan ini. Kalau begitu aku akan berkeliling lagi untuk menemukan tempat yang tepat.

.

.

.

Author POV

Sudah sekitar satu jam Jungsoo dan Donghae mencari keberadaan Kyuhyun. Namun mereka sama sekali tidak menemukan tanda-tanda dimana Kyuhyun berada. Petugas kepolisian yang bertugas bukan Jaeng Woo dan anak buahnya yang memang sudah mengenal mereka bertiga. Maka dari itu sulit untuk meyakinkan para petugas kalau mereka adalah seorang detective. Mereka sudah berusaha menelpon ponsel Kyuhyun, namun sama sekali tidak ada jawaban, hanya nada tunggu yang mereka dengar.

"Hyung, bagaimana ini?" Tanya Donghae. jungsoo hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak mengerti. Ia juga sama bingungnya dengan Donghae saat ini. "Entahlah. Mungkin kita juga harus menunggu. Untuk saat ini kita percayakan semua padanya." Ucap Jungsoo.

"Tidak bisa begitu. Kalau ternyata ia terjebak di salah satu ruangan dan tidak bisa keluar bagaimana? Ia bisa mati di dalam hyung." Donghae tetap saja bersikeras. "Bocah itu tidak akan mati semudah itu Hae. Mungkin saat ini ia sedang mencari letak bom lainnya." Jungsoo masih berusaha menenangkan Donghae yang sedari tadi memaksa ingin masuk.

"Hei. Kudengar ada satu siswa yang masih berada di dalam?"

"Benarkah?"

"Ya. Sempat bertemu dengan polisi, tapi setelah itu menghilang lagi."

"Siapa siswa itu?"

"Tidak tahu. Sepertinya dia anak baru di sekolah, dan kemungkinan tersesat."

Donghae dan Jungsoo saling berpandangan setelah mendengar percakapan antara dua murid laki-laki yang mereka tidak kenal tersebut. Setidaknya saat ini mereka tahu kalau magnae mereka itu sedang tidak terjebak di sebuah ruangan atau tersesat.

"Maaf. Tapi sebaiknya kalian pulang ke rumah. Karena tempat ini akan kami sterilkan." Seorang tugas memberi perintah agar para siswa dan guru untuk pulang ke rumah atau berada dalam radius yang jauh dari lokasi. Beberapa murid dan guru memang sudah memilih pulang, namun banyak juga yang memilih tinggal dan menunggu hasil kerja dari para polisi.

Tidak ada yang bisa dilakukan Donghae dan Jungsoo selain menuruti perintah dari petugas. Mereka bersama kerumunan yang lain berjalan menjauhi area sekolah menuju tempat yang dalam radius aman.

"Kalian berdua mengenal Cho Kyuhyun?"

Donghae dan Jungsoo terkesiap mendengar pertanyaan tiba-tiba dari seseorang yang mereka tidak kenal. Seorang pria muda berkacamata dan berwajah penuh wibawa namun terlihat masih muda dengan tiba-tiba mendekati mereka dan bertanya seperti itu.

"Aku tadi melihatnya berkeliaran di sekolah. Dan saat ia akan dievakuasi oleh petugas, aku yang mencegahnya dan memilih membiarkannya berkeliaran." Jawab pria tersebut.

"Ke..Kenapa?" Tanya Jungsoo.

"Entahlah. Tapi saat itu wajahnya sangat terlihat berbeda dari murid yang lain. Aku hanya yakin kalau dia bukan murid biasa." Jawab sang pria sambil tersenyum misterius dan setelah itu berlalu dari hadapan Jungsoo dan Donghae.

"Pria aneh." Komentar Donghae. Sementara Jungsoo hanya diam, namun pandangannya ia tidak lepaskan dari pria yang baru saja menyapa mereka tersebut.

GUK GUK GUK

"Aneh. Kenapa anjing pelacak itu belum juga menemukan letak bomnya ya. Padahal sedari tadi mereka menggonggong terus menerus." Jungsoo mengalihkan pandangannya pada Donghae dan menganggukkan kepalanya ringan. "Ne. Ini sudah lebih dari satu jam sejak ledakan pertama. Seharusnya mereka sudah menemukan lokasi bom lainnya."

.

.

.

Kyuhyun POV

"Hahh Hahh Hahh."

Sial. Aku sudah berkeliling sekolah selama satu jam dan tidak mendapati lokasi yang tertulis di surat tersebut, begitu banyak yang seperti itu berada di sekolah ini tapi tetap saja tidak menemukannya. Untung saja aku selalu berhasil menghindar dari para petugas yang juga tengah mencari lokasi bom tersebut.

Aku pasti melewatkan sesuatu. Sesuatu yang penting dari surat itu.

Aish! Disaat seperti ini biasanya Jungsoo hyung bisa membantuku. Sebaiknya aku membaca ulang surat itu lagi dengan perlahan.

'Ketika mereka berjodoh pada saat puncak, maka cahaya terang akan terlihat dari segala penjuru. Aku berada di tumpukan coklat yang akan meleleh jika termakan air. Berjalanlah ke arah belakang dari pusat. Sebuah kayu coklat berhiaskan emas akan menyambutmu dan aku menunggumu membukanya. Hint : For Love And God.'

'Berjalan ke arah belakang dari pusat'

Pusat...Pusat. Sedari tadi kata itu mengangguku. Tunggu! Jangan-jangan pusat itu berarti...

Ya sesuatu yang pasti ada di setiap sekolah. Tidak salah lagi pasti yang dimaksud 'Pusat' adalah disana. Sial. Kenapa harus selama ini baru menyadarinya.

Tanpa buang waktu aku langsung berlari menuju tempat yang harusnya aku temukan sejak tadi. Ada beberapa petugas yang sepertinya melihatku, namun mereka nampak tidak terlalu perduli. Entahlah, mungkin mereka mengira aku salah satu dari mereka.

Ketemu! Sebuah tiang tinggi dengan sesuatu yang berkibar di atasnya.

Tidak salah lagi. Pasti tempatnya disini. Sekarang tinggal berjalan ke arah belakang. Aku sedikit melirik jam tanganku dan kurang dari 30 menit lagi waktunya.

Sebuah pohon besar yang kelihatannya cukup tua menjadi pemandanganku setelah berjalan ke arah belakang dari tiang tinggi tersebut. Sebuah tempat yang nampaknya seperti sebuah taman yang dipenuhi dengan berbagai pohon dan tanaman lainnya.

Sekarang aku mengerti arti dari kata 'Kotak Kayu' tersebut dan tinggal mencari yang berwarna keemasan. Ada beberapa pohon besar yang berada di taman ini. Dan rata-rata mereka sudah berumur cukup tua.

"Emas..Emas..Emas.." Gumamku sembari melihat satu persatu pepohonan.

"Eh?" Mataku menangkap sebuah lubang yang sepertinya masih baru digali dan mendapatkan bubuk berwarna coklat bertebaran di sekitarnya. Aku mencium baunya, dan tidak salah lagi kalau ini adalah serbuk mesiu.

Bau ini. Sepertinya aku pernah menciumnya. Tapi aku tidak mau mengingatnya saat ini. Sekarang aku harus fokus mencari yang berwarna keemasan tersebut.

"I..Ini.."

Sebuah pohon dengan warna daun yang semuanya sudah berwarna kuning menyita perhatianku. Ketika sang matahari menyinarinya, maka daun-daun tersebut terlihat berkilau dan menyengat. Tidak salah lagi, ini pasti tempatnya.

Aku mencari sesuatu yang bisa kugunakan untuk menggali tanah ini. Beberapa ranting kayu yang cukup besar sepertinya cocok sebagai alat.

SRAK SRAK

Dengan alat seadanya dan dengan kekuatanku yang sudah terkuras, aku berusaha menggali tanah tepat di bawah pohon ini. Semoga saja didalamnya benar-benar terkubur bom, kalau tidak waktunya akan semakin habis.

11.50

Tinggal 10 menit lagi. Dan sekarang aku merasakan kelelahan, mungkin karena sedari tadi aku terus berlari dan melupakan kalau aku ini paling lemah dalam urusan berlari.

Kuusap peluh yang sedari tadi terus saja menetes dari dahiku. Sial. Si pelaku menanamkannya terlalu dalam, hanya dengan berbekal ranting ini tidak akan bisa cepat.

'In The End. I will be the one who fall into the deep silence.'

Kata-kata yang tertulis diakhir surat itu masih menggangguku. Apa maksudnya? Kalau diartikan, maka akan menjadi 'Diakhir, Aku satu-satunya yang akan jatuh di kesunyian yang dalam.' Ya kira-kira seperti itu.

'Sepertinya pelaku suka kesunyian ya?'

Siswa yang memberikanku surat itu, juga berbicara tentang kesunyian. Apa sebenarnya ia sudah tahu pelakunya. Sunyi. Berarti sepi atau sendiri.

Tunggu.

'Tidak ada. Aku hanya suka menyendiri. Membuat pikiran dan batinku terasa tenang.'

Mungkinkah ia pelakunya. Berarti artinya jatuh dalam kesunyian yang dalam itu...

Sial. Itu berarti sejak awal ia berniat melakukan hal itu.

Aku tidak akan membiarkannya.

"Hei pak petugas!" Aku menghentikan kegiatanku dan memanggil salah satu petugas. Ia segera menengok dan menghampiriku. "Bomnya ada di bawah pohon ini. Lanjutkan saja galianku." Lanjutku. Tanpa menunggu jawabannya, aku segera berlari lagi ke suatu tempat.

.

.

.

Author POV

Jungsoo dan Donghae masih saja setia menunggu Kyuhyun keluar dari sekolah. Rasanya mereka ingin masuk ke dalam dan mencari keberadaan adiknya itu. Tapi apa daya, mereka tidak akan diizinkan masuk karena petugas kepolisian tidak mengenali mereka.

"Bomnya sudah berhasil ditemukan." Seorang petugas kepolisian menyampaikan berita. Jungsoo dan Donghae langsung bergegas menghampiri petugas tersebut. "Apa berhasil dijinakkan?" Tanya Jungsoo. Sang petugas menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

"Siapa yang berhasil menemukan?" Salah satu guru bertanya. "Entahlah. Menurut petugas lainnya, ada seorang siswa yang terlihat menggali tanah di taman sekolah. Tapi kemudian ia pergi dari tempat itu dan menyuruh petugas lainnya untuk meneruskan kegiatan menggalinya. Lalu ditemukan sebuah bom yang akan meledak sekitar 10 menit lagi." Jelas sang petugas tersebut.

"Lalu dimana siswa itu sekarang?" Tanya Donghae.

"Kami tidak tahu. Ia tiba-tiba berlari setelah menyuruh menggali, kami tidak mengejarnya karena harus menjinakkan bom tersebut."

Jungsoo dan Donghae saling berpandangan, mereka yakin siswa yang dimaksud adalah Kyuhyun. Tapi kenapa Kyuhyun harus pergi setelah menemukan lokasi bom? Bukankah seharusnya ia tetap berada di sana?

"Apa kami boleh masuk? Mungkin dia anggota keluarga kami." Sang petugas menggelengkan kepalanya dan berkata. "Maaf belum bisa. Kami akan mencari siswa tersebut dan mengevakuasinya segera. Kalian sebaiknya menunggu di sini."

"Hyung bagaimana ini?"Donghae terlihat gelisah. "Kenapa juga bocah itu harus berlari. Ia seharusnya berada disini kalau bomnya saja sudah berhasill dijinakkan." Lanjutnya.

"Aku tidak tahu Hae. Yang bisa kita lakukan hanya menunggu."

.

.

.

BRUKK

"Akkhh."

Kyuhyun terjatuh akibat tubuhnya kelelahan karena terus menerus berlari menyusuri sekolah. Kakinya sudah terasa lemas dan lelah yang sangat juga menyerangnya. Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak begitu pandai dalam urusan olahraga.

"Sial. Tinggal 6 menit lagi. Bertahanlah!" Kyuhyun kembali bangkit setelah menyemangati dirinya sendiri. Kakinya ia gunakan untuk berlari lagi, walaupun sedikit rasa sakit mulai menghinggapi.

BRAKK

Dengan kasar Kyuhyun membuka pintu ruangan yang menjadi tujuannya sedari tadi. Terlihat seorang siswa yang ia temui tadi pagi tengah duduk dengan tenang tanpa melakukan apapun.

"Sudah kuduga." Ucap Kyuhyun setelah berhasil menetralisir nafasnya yang tidak beraturan. Ia melangkah masuk ke dalam tempat yang biasa disebut gudang itu.

"Kau..Bukannya yang tadi pagi tersesat itu ya?" Tanya siswa tersebut sambil beranjak dari duduknya dan menatap Kyuhyun.

"Ya. Di lorong sebelum gudang ini, aku dan kau bertabrakan tadi pagi." Jawab Kyuhyun sembari menyenderkan tubuhnya di tembok dan menaruh tangan kanannya di saku celana sekolahnya.

"Kau yang menaruh kedua bom tersebut dan memberikan surat ancaman pada seorang guru kan? Untuk mencegah ketidak percayaan pada pihak polisi, kau meledakkan pos yang biasa ditempati para penjaga di depan sekolah. Untuk menghindari kedua penjaga tersebut menjadi korban, kau menelpon salah satu dari mereka dengan menyamar sebagai guru dan menyuruh mereka untuk pergi ke salah satu ruang guru." Kyuhyun mulai bernarasi sembari sesekali melihat jam di pergelangan tangannya.

"Ja..Jangan sembarangan menuduh." Kilah siswa tersebut.

'Ketika mereka berjodoh pada saat puncak, maka cahaya terang akan terlihat dari segala penjuru. Aku berada di tumpukan coklat yang akan meleleh jika termakan air. Berjalanlah ke arah belakang dari pusat. Sebuah kotak kayu berhiaskan emas akan menyambutmu dan aku menunggumu membukanya. Hint : For Love And God.'

Kyuhyun mengulang surat ancaman yang berisi petunjuk tentang keberadaan bom tersebut sekali lagi.

"Ketika mereka berjodoh pada saat puncak menunjukkan waktu, yaitu pukul 12 siang tepat. Dan cahaya yang terang berarti bom yang akan meledak pada jam tersebut. Lalu 'Aku berada di tumpukan coklat yang akan meleleh jika termakan berair' berarti kau mengubur Bom tersebut di dalam tanah."

"Aku tidak mengerti apa maksud dari 'Berjalanlah ke arah belakang dari pusat', tapi setelah aku membaca kembali Hint yang kau berikan aku mengerti. Kau sengaja memakai bahasa inggris dalam hint tersebut."

"For Love And God. Jika kita hanya memakai huruf awal dari kata tersebut, maka akan menjadi sebuah kata 'FLAG' yang berarti bendera. Begitu banyak bendera yang terpasang di sekolah ini, tapi kalau menyatukannya dengan kata pusat maka tidak salah lagi kalau yang dimaksud adalah sebuah tiang bendera yang selalu mengibarkan bendera kebanggan Korea Selatan itu."

Kyuhyun merubah posisinya menjadi posisi berdiri biasa dengan tangan yang masih setia berada di saku celananya. Matanya pun tidak ia alihkan dari mata siswa yang berada tepat di hadapannya itu.

"Lalu 'Sebuah kotak kayu berhiaskan emas', berarti sebuah pohon yang banyak tertanam tepat berada di taman yang terletak di daerah belakang dari tiang bendera tersebut. Dan di bawah satu-satunya pohon yang berdaunkan berwarna kuning emas tersebutlah kau mengubur bom tersebut. Mungkin saat ini bom tersebut sudah berhasil dijinakkan."

"Kau yang menemukannya pertama kali?" Tanya siswa tersebut. Kyuhyun tertawa ringan dan menganggukkan kepalanya.

"Alasan kenapa para petugas tidak berhasil menemukannya bahkan dengan membawa anjing pelacak sekalipun adalah karena kau juga menanamkan bubuk mesiu di seluruh area sekolah. Dengan begitu anjing pelacak pun akan kebingungan akibat banyaknya bubuk mesiu yang mengganggu indera penciuman mereka. Kau sengaja mengulur waktu agar hanya akan ada para polisi dan teamnya yang akan mencari letak bom tersebut, mungkin kau berniat memberi tahu keberadaan bom tersebut satu menit sebelum ledakan. Dan dari situ, aku bisa menyimpulkan bahwa targetmu adalah para polisi." Kyuhyun menyudahi narasinya.

PROK PROK PROK

"Hebat. Kau berbicara seperti seorang polisi saja. Tapi sayang, semua hipotesamu itu sama sekali tidak memiliki bukti." Sang siswa tersebut berkata setelah memberikan tepuk tangan untuk Kyuhyun.

"Bau mesiu."

"Eh?"

"Kau ingat saat tadi pagi kita bertabrakan? Saat itu aku mencium bau sesuatu dari tubuhmu. Dan itu adalah bau bubuk mesiu yang biasa digunakan sebagai salah satu bahan dasar dari pembuatan bom rakitan." Siswa tersebut membulatkan matanya kaget. "Si..Siapa kau sebenarnya?" Tanyanya gugup.

"Cho Kyuhyun. Catat namaku baik-baik."

"Ta..Tapi bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada di sini?"

"Mudah saja. Kalimat terakhir yang kau tulis di akhir surat tersebut berarti kalau kau berniat bunuh diri. Dan kata kesunyian itu yang mengingatkanku bahwa tadi pagi kau berkata 'Aku hanya suka menyendiri' kemudian aku berasumsi kalau kau berniat bunuh diri di dalam gudang ini seorang diri. Apakah ada yang salah?"

"Tidak. Sama sekali tidak ada. Aku memang yang memasang bom tersebut dan para polisi itu yang menjadi targetku. Pertama karena sekolah ini yang sama sekali tidak mau menerimaku sebagai murid baru dan para muridnya yang selalu membullyku hampir setiap hari. Dan para polisi bodoh itu tidak mau mendengarkan laporan yang kuberikan, justru mereka menganggap semua yang kulaporkan hanyalah sebuah candaan. Maka dari itu aku melakukan semua ini. Untuk menghancurkan sekolah ini dan para polisi bodoh itu!" Jelas siswa tersebut.

"Bohong. Kau sama sekali tidak berniat meledakkan sekolah dan membunuh warga sekolah. Kau meledakkan bom pertama di pos tersebut yang jaraknya cukup jauh dari ruangan lain di sekolah. Bahkan kau sengaja membuat para petugas keamanan tersebut menjauh dari posnya. Lalu kau juga menaruh bom kedua pada taman belakang sekolah yang hanya ada pohon-pohon besar yang tertanam di sana. Dan dengan itu aku yakin bahwa targetmu hanyalah para polisi yang akan segera berkumpul di taman tersebut setelah kau memberitahu mereka." Bantah Kyuhyun.

"Cih. Kau ternyata sangat pintar. Tapi sayang, berbeda dengan bom yang kutanam di bawah pohon tersebut, bom dalam gudang ini tidak bisa dijinakkan dan akan meledak kurang dari 1 menit lagi. Lebih baik kau keluar dari tempat ini segera."

"Tidak! Kau akan menghilang setelah membuat kekacauan seperti ini? Tidak akan kubiarkan." Kyuhyun mendekati siswa tersebut dan bersiap menariknya. Namun diluar dugaan, siswa tersebut justru mendorong tubuh Kyuhyun hingga terjatuh.

"Kubilang pergi dari sini! Kau bisa mati!"

"Tidak! Seorang detective tidak akan pernah membiarkan pelaku bunuh diri!" Kyuhyun bangkit dan mencoba menarik siswa tersebut lagi.

"De..Detective?" Sang siswa membulatkan mulutnya kaget. Kyuhyun menggunakan kesempatan tersebut dengan langsung menarik paksa siswa tersebut dan keluar dari gudang yang kurang dari satu menit lagi itu akan meledak.

"Lepas!"

"Diam bodoh!"

DUARRR

Tepat sekitar 5 meter setelah mereka berlari keluar dari gudang tersebut, sebuah ledakan terdengar dari dalamnya, menyebabkan kerusakan parah dan kebakaran pada gudang tersebut. Kyuhyun dan pelaku sedikit terlempar akibat guncangan dari ledakan. Asap tebal langsung menyelimuti ruangan.

"Uhuk...Uhuk.. Ka...u tidak apa ap..a?" Tanya Kyuhyun. Akibat asap yang dikeluarkan, Kyuhyun sedikit kesulitan bernafas dan berbicara.

"Hmm.." Jawab siswa tersebut. "Kenapa? Kenapa kau menyelamatkanku huh?! Seharusnya kau membiarkanku mati!" Siswa tersebut menarik kerah jaket yang dipakai Kyuhyun dengan kasar. Air mata sudah memenuhi wajahnya yang terlihat tirus itu.

"Aku tidak mau jadi pembunuh. Jika manusia membiarkan manusia lainnya untuk bunuh diri, maka orang tersebut tidak lebih dari seorang pembunuh. Aku sudah berjanji pada seseorang untuk tidak pernah membunuh lagi."

"Terima kasih. Dan kenalkan namaku Lee Taemin."

"Jangan biarkan dendam terus bertumpuk di hatimu. Manusia yang memiliki dendam sesungguhnya adalah manusia yang penuh dengan kerugian. Jalani hidupmu dengan baik setelah masa hukumanmu telah selesai."

Kyuhyun kembali tersungkur akibat kelelahan yang ia alami, ia tidak punya tenaga lagi untuk sekedar berdiri. Sayup-sayup ia mendengar deru langkah kaki dari beberapa orang di dekatnya. Bunyi mobil pemadam kebakaran pun terdengar jelas di telinganya.

"KYU!"

Suara Donghae dan Jungsoo berbaur menjadi satu di telinga Kyuhyun. Dengan sekuat tenaga, ia membuka kedua matanya dan melihat kedua kakaknya menghampiri dengan wajah super khawatir.

"Bertahanlah Kyu!"

Kyuhyun hanya tersenyum dan mengangguk. "Ne." Sahutnya.

Karena kedua matanya yang sudah terasa sangat berat, Kyuhyun memutuskan untuk menutupnya. Namun sebelum benar-benar tertutup sempurna, matanya menangkap seorang guru berkacamata dan murid yang tadi memberinya surat tengah menatapnya dengan senyum penuh arti.

TBC

Updateeee.. hoho

Maaf ya kalo jelek updatenya..keke

Ayo siapa yang tebakannya bener...hoho

Dan dengan ini saya juga mau mengumumkan saya ga akan update chap berikutnya dalam waktu dekat, paling lama saya akan publish 1 bulan lagi. Karena saya harus mengurus trip untuk kantor saya awal Juni nanti.

Nah. Terima kasih buat yang udah review, saya tunggu lagi reviewnya. Kalau ada yang masih bingung silahkan bertanya, nanti saya coba jawab di chap berikutnya.

See Youu

Pai pai ^^