a/n: Assalamu'alaykum sahabat semua, alhamdulillah chapter 3 senandung cinta bisa vea update hari ini, (walau sempet dimarahi ibu juga), habisnya vea udh atel dan geregetan pingin lanjutin.. Hihi.. Oke deh, pertama-tama, bales review yg ngga log in dulu ya..

Hanazono: ini udh d update lho^^

No name: yup, udh update lho^^

Laysein: Makasih^^

Kujyo: Makasih ya, vea udh update nih,^^

KK: iya, mksih ya^^

Renton: sip, ganbatte, hehe.. mksih^^

Kazune: mksih, ini udh update lho^^

selanjutnya u/ para readers, mksih ya udh mau baca fanfic vea yg amatiran ini, vea harap kalian menikmatinya^^

.

.

~Senandung Cinta~

.

.

Kamichama Karin ; Kamichama Karin chu © Koge Donbo

~Senandung Cinta~ © Invea

Pairing : Karin X Kazune

Rated : T

Chara : Karin Hanazono ; Kazune Kujo ; Jin Kuga ; Michiru Nishikiori ; Rika Karasuma ; Himeka Kujo ; Kirika Karasuma ; Kazusa Kujo ; Imiyon ; Yuki Sakurai ; Kirio Karasuma ; Kirihiko Karasuma ; Kazuto Kujo ; Suzuka Kujo ; Q-chan ;

Warning : OOC, GaJe, OOT, AU, Ngga Rame, Bloody Scan, De eL eL

.

.

~Senandung Cinta~

.

.

Senandung Muhasabah Cinta ini dibuat oleh Aden EdCoustic

.

.

-Muhasabah Cinta-

.

.

Wahai pemilik nyawaku

Betapa lemah diriku ini

.

.

Kicauan ceria burung membangunkanku dari lelapnya tidurku. Harum wangian embun segar yang menetes di dedaunan menambah kesejukan pagi ini. Mentari terlihat begitu cerah ceria menerangi bumi. Ku buka jendela kamarku dan kurasakan kesegaran suasana pagi.

Sebuah ketukan halus membuyarkan lamunanku. Aku kemudian melangkahkan kakiku menuju pintu kamarku yang berwarna putih polos itu. Adik bungsuku terlihat tersenyum manis begitu pintu ku buka.

"Kazune-chan, ayo kita sarapan," ajaknya dengan ceria. Rambut indigonya terlihat berkilau. Sebuah bandu tipis menghiasi rambutnya.

"Baiklah, aku ganti baju dulu," Dia kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Sementara aku langsung memakai seragam sekolahku. Tak lupa ku pakai sebuah sweater putih polos kesayanganku.

Setelah rapi, aku kemudian melangkahkan kaki kecilku menuju ruang makan. Di tengah jalan, kepalaku tiba-tiba terasa pening. Kakiku melemas, tapi ku paksakan untuk terus berjalan dan berpura-pura sehat.

.

.

Sesampainya di sekolah, pening kembali menghampiri kepalaku. Ukh, ku raba keningku. Panas! Mungkinkah aku demam?

Aku kemudian memutuskan untuk beristirahat di UKS sampai demamku mereda. Sakit kepala ini semakin menyiksaku, menyerang tanpa ampun. Kebetulan di UKS sedang tidak ada guru yang berjaga. Setidaknya kedua orang tuaku tak kan mengetahui yang ku alami sekarang.

Aku kemudian mengambil termometer. Suhu tubuhku kini 39°C. Waw, aku tak menyangka demamku cukup tinggi kali ini. Mungkin karena kemarin aku berada di halaman rumah pada sore hari. Anginnya pada saat itu memang cukup membuat tubuh kedinginan.

Payah, karena kedinginan seperti itu saja tubuhku langsung ambruk seperti ini. Ternyata aku memang sangat lemah…

.

.

Berat ujian dariMu

Ku pasrahkan semua padaMu

.

.

Sudah 4 jam pelajaran ku habiskan dengan berbaring di UKS. Pusing yang mendera kepalaku kini rasanya sudah membaik. Sekarang adalah waktunya istirahat. Lewat jendela UKS, aku bisa melihat ribuan siswa yang silih berganti datang dan pergi. Namun, ada 1 pemandangan yang begitu menyesakkan dada. Membuatku semakin hancur dikalahkan penyakitku.

Ku lihat 2 sosok manusia yang tak asing lagi untukku. Seorang gadis bermata zamrud dengan pemuda gelap berambut hitam. Pemuda itu terlihat mengecup kening gadis berambut cokelat yang dikuncir 2 itu.

Kenapa aku harus melihatnya?

Aku terbakar dalam api kecemburuan. Aku hanyut dalam penyakitku sendiri. Semua ini memperburuk keadaanku. Aku tahu aku bukanlah siapa-siapa. Dan aku tahu, wajar jika mereka berdua melakukannya karena mereka berpacaran. Tapi kenapa aku harus melihatnya? Dan merasakan beban penderitaan yang besar.

Nafasku semakin sesak. Pening kembali menyerang kepalaku. Dan, seperti kejadian sebelum-sebelumnya, sesuatu kembali ingin keluar dari mulutku. Kemudian, tanpa bisa ku cegah, darah kembali berceceran keluar dari mulutku.

Ohock! Ohock! Damn! Darah yang keluar justru semakin banyak dari yang waktu itu. Lantai UKS kini telah basah oleh darahku.

Akhirnya setelah 5 menit, darah mulai berhenti keluar dari mulutku. Dengan tubuh yang masih lemas, aku kemudian pergi mencuci mulutku untuk membersihkan darah yang masih menempel. Setelah itu, aku kemudian mengepel lantai UKS yang kini sudah memerah karena darahku. Untunglah darah yang keluar dari mulutku tidak mengenai pakaianku, dengan begini, kedua orang tuaku tak kan mengetahui hal ini.

Setelah selesai, aku kemudian kembali berbaring. Tubuhku sangat lemas. Mungkin ada baiknya kalau aku tidak terlalu memikirkan Karin dan hubungannya dengan Kuga. Semua ini hanya akan memperburuk keadaanku. Biarlah ku serahkan semua masalahku ini pada Tuhan.

.

.

Tuhan, baru ku sadar

Indah nikmat sehat itu

Tak pandai aku bersyukur

Kini ku harapkan cinta Mu

.

.

Bel pulang kini berbunyi. Aku kemudian pergi ke kelas untuk mengambil tasku dan langsung bergegas pergi menghampiri Q-chan yang tengah menanti di dalam mobil.

Aku kemudian duduk di kursi mobil sebelah Q-chan. Q-chan kemudian menyalakan mesin, dan mobil pun melaju dengan kecepatan di bawah rata-rata, meninggalkan bangunan Seiei Gakuen yang berdiri tegak tinggi menjulang.

.

.

Ting! Tong! Terdengar suara bel rumahku. Aku tidak begitu terlalu memperdulikannya. Paling juga keluarga pasien yang berkunjung untuk berkonsultasi. Aku kembali membuka halaman demi halaman sebuah buku kedokteran. Pikiranku hanyut tenggelam dalam ilmu yang tertuang di sana.

Tok! Tok! Seseorang mengetuk pintu kamarku. Siapa ya? Mungkinkah Okaa-san?

Aku kemudian membukakan pintu. Sosok Kazusa yang pertama kali ku lihat. Dan, sebuah kejutan menantiku! Di sebelah Kazusa ada sesosok gadis yang begitu ku cintai, Karin!

"Ka… Karin…" Aku sangat terkejut! Hidup ini penuh dengan kejutan yang tak terduga!

"Hai, apa aku mengganggumu?" tanyanya. Kazusa kemudian meninggalkan kami berdua.

"Ti… Tidak… Silahkan masuk," Dia kemudian memasuki kamarku. Kami hanya berdua sekarang. Detak jantungku kini terasa begitu cepat. Tuhan begitu baik!

"Kau sedang apa?" tanyanya berbasa-basi. Belum sempat aku menjawab, Kazusa masuk ke kamarku dan membawakan sebuah nampan yang berisikan segelas jus jeruk untuk Karin dan segelas air mineral untukku. Selain itu, ia pun membawa beberapa macam aneka kue kering dan cheese cake. Setelah itu, dia kemudian meninggalkan kami kembali berdua, menghabiskan waktu sore bersama.

"A… Ano… Maaf ya untuk yang kemarin, aku benar-benar lupa. Oh iya, tadi kau seharian di UKS ya? Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah baikan? Masih sakit?" tanyanya bertubi-tubi. Ada sedikit kegembiraan ku rasakan. Dia peduli padaku dan dia mengkhawatirkanku. Itu sudah lebih dari cukup untukku. Tuhan ternyata begitu baik. Dia memberikan kejutan dibalik setiap ujian. Malu rasanya diriku. Hampir setiap hari aku mengeluh dan kufur atas semua rahmat-Nya. Padahal, Dia senantiasa memberi yang terbaik untuk hamba-Nya.

"Aku sudah tidak apa-apa kok," jawabku sembari tersenyum manis. Dia memperlihatkan raut kelegaan di wajahnya.

Setelah itu, kami sedikit berbincang-bincang dan gadis itu kemudian memintaku menyanyikan beberapa lagu dengan diiringi petikan dawai gitar. Aku pun lantas menyanggupi permintaannya.

Sore itu begitu syahdu. Suasana di kamarku kini terasa hangat dan nyaman. Aku merasa sangat bahagia. Tak henti-hentinya hati ini bertasbih memuji Tuhan. Entah sampai kapan aku bisa hidup di dunia ini. Tapi, aku bersyukur karena kini aku mempunyai kenangan indah dalam hidupku.

.

.

Kata-kata cinta terucap indah

Mengalir berdzikir di kidung do'aku

Sakit yang ku rasa biar jadi penawar dosaku

.

.

Keringat mengalir cukup deras dari tubuhku. Panas. Kelihatannya demamku semakin tinggi. Ku raba keningku. Rasanya memang sangat panas. Padahal tadi aku bisa bersenang-senang bersama Karin, tapi malamnya, tubuhku malah ambruk seperti ini. Untunglah sakitku kambuh setelah makan malam, kalau tidak, kedua orang tuaku pasti akan sangat khawatir.

Huf! Hawa nafasku pun terasa begitu panas. Bantalku kini telah basah keringat. Aku lantas mengambil paracetamol yang terdapat di dalam kotak P3K kamarku. Kepalaku rasanya semakin pusing. Aku kemudian berbaring di atas tempat tidurku.

.

.

Pagi harinya, keadaan tubuhku sudah lebih membaik. Walau harus ku akui, tubuhku terasa masih sedikit pening. Aku kemudian bersiap-siap menuju sekolah. Okaa-san terlihat merasa janggal dengan gerak-garikku yang sedikit sempoyongan.

"Kau baik-baik saja, Kazune?" tanya beliau dengan sangat khawatir. Okaa-san kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku. Membuatku menelan ludah dan semakin gugup di hadapannya.

"A... Aku baik-baik saja kok, okaa-san," jawabku berpura-pura sehat dan tenang. Okaa-san terlihat masih ragu. Beliau terus memperhatikanku.

"Sudahlah sayang, kalau Kazune bilang baik-baik saja, berarti ia baik-baik saja. Dialah yang paling mengetahui apa yang dia rasakan," ujar ayah menegur ibu. Ah, bahagianya mempunyai seorang ayah yang mau mengerti aku.

"Baiklah, baiklah... Sekarang, mari kita sarapan dulu," sahut ibu mengalah. Ah, ayah memang hebat! Selain beliau itu dokter terkenal, baik hati, dan juga pengertian. Aku sayang sekali pada ayah!

.

.

Seusai sarapan seperti biasa, aku berangkat naik mobil. Tapi, kali ini tidak sendiri, okaa-san meminta Kazusa untuk ikut naik mobil bersamaku. Dan juga kelihatannya untuk memata-mataiku.

Ugh, ibu, ibu... Kau memang ibu yang baik, begitu mengkhawatirkanku. Tapi, ini sih terlalu overprotective! Dan lagi, feeling ibu begitu kuat pada anaknya. Ku akui, ibu memang ibu terhebat yang pernah ada.

Sesaat sebelum aku menaiki mobil, ayah membisikkan sesuatu ke telingaku,"Jangan memaksakan dirimu, ayah sudah susah payah mencari banyak alasan dan berdebat dengan ibumu. Kau pikir ayah tidak tahu kondisimu tadi pagi? Jangan lupa, yang ada di sampingmu saat ini adalah dokter yang hebat,"

Aku menganggukan kepala tanda mengerti. Ayah dan ibu memang tidak bisa ku remehkan.

.

.

Selama perjalanan menuju sekolah, aku sedikit berdebat dengan Kazusa. Dia sedikit mengeluh karena tidak bisa memakai roller blade nya hari ini. Gadis yang satu ini memang sedikit tomboy.

"Kakak, harusnya kakak jangan terlalu memaksakan dirimu, semua orang begitu khawatir!"

Hh, bosan aku mendengarnya. Semua orang selalu berkata,"Kazune, jangan memaksakan diri!" Aku ini sudah besar. Aku yang paling tahu kondisiku, dan aku sendiri yang akan merasakan sakitnya saat memaksakan diri.

"Aku tahu,"

"Kakak kenapa sih selalu memaksakan diri?" tanyanya heran. Aku hanya menghela nafas.

"Aku juga ingin merasakan rasanya menjadi pemuda normal, yang tidak perlu menghabiskan waktu bertahun-tahun di rumah sakit!"

"Tapi kan kalau kakak memaksakan diri, sakit kakak akan semakin parah!"

"Tak ada yang ingin sakit, begitu pula denganku,"

"Tapi kak, itu kan tak..."

"Takdir Tuhan maksudmu? Iya, ini memang takdir Tuhan yang harus ku jalani. Semoga saja ini menjadi pelebur dosaku..."

"Kakak..."

.

.

Butir-butir cinta air mataku

Teringat semua yang Kau beri untukku

Ampuni khilaf dan salah selama ini, Ya Ilahi

Muhasabah cintaku

.

.

Ku langkahkan kaki kecil ini untuk berjalan memasuki kelas. Seperti biasa, pandangan semua siswi kini tertuju padaku. Mereka saling berbisik-bisik. Ku dengar bisikannya tak lebih dari sebuah harapan untuk menjadi seorang wanita yang berjalan di sampingku –read: pacarku. Aku tak begitu memperdulikannya. Yang ku harapkan hanya Karin seorang, dan ku rasa, itu sangat mustahil.

.

.

Keringat kembali mengalir di pelipisku. Baru berjalan dari lapangan parkir menuju kelas saja rasanya begitu melelahkan. Capek sekali rasanya. Ternyata aku ini begitu lemah.

Aku kemudian mengatur nafasku yang masih tersenggal-senggal. Rasanya sedikit sesak. Beberapa siswi terlihat mengkhawatirkan keadaanku. Aku hanya menatap mereka dengan tersenyum seolah berkata,"Tenanglah, aku baik-baik saja,"

.

.

Bel istirahat berbunyi. Para siswa berhamburan keluar kelas. Ada yang menuju kantin, ada juga yang sibuk mencontek tugas pada temannya. Aku memutuskan untuk pergi ke halaman belakang sekolah. Di sana biasanya sepi, selain itu, udaranya juga begitu sejuk.

Sepanjang perjalanan, aku sedikit bernyanyi-nyanyi kecil seraya menatap keluar jendela. Dan, lagi-lagi, pemandangan yang sangat tidak enak harus kembali aku lihat! Kuga sedang mencium pipi Karin. Karin terlihat menunduk malu dengan wajah memerah, sementara pemuda itu terkekeh sendiri. Mereka terlihat begitu mesra. Cemburu kembali menguasai tubuhku.

Aku kalut, terkalahkan oleh amarahku, hingga tubuhku terasa begitu sakit. Sangat sakit. Begitu menusuk qalbu! Aku ingin menjerit. Nafasku kembali sesak. Sangat sesak. Alveoli dalam paru-paruku seperti tidak bekerja. Jantungku serasa berhenti. Ku rasakan dunia terhenti dari putarannya.

Ohock! Darah kembali keluar dari mulutku, memerciki lantai lorong yang berkeramik putih polos. Aku tak kuat lagi, pandanganku menggelap dan aku terjatuh tak sadarkan diri.

.

.

Tuhan, kuatkan aku

Lindungiku dari putus asa

.

.

Berat rasanya untuk membuka kedua mata ini. Sekali pun terbuka, yang ku lihat hanya samar-samar. Masih belum jelas aku menatap. Aku hanya bisa mendengar perbincangan orang-orang di sekitarku. Ku rasa itu antara ayah dan ibuku.

"Sekarang keadaan Kazune semakin parah, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya okaa-san. Hening. Tak terdengar ada sahutan. Yang ku dengar hanya helaan nafas ayah yang diiringi isak tangis ibu.

"Kalau Kazune sampai pergi... Aku... Aku..."

"Kau mau menyerah? Apa kau putus asa? Bagaimana Kazune bisa sembuh kalau kau tak yakin ia bisa sembuh?" sahut otou-san. Okaa-san hanya terisak. Kelihatannya beliau merenungi perkataan ayah.

"Tenangkanlah dirimu, yakinlah. Percayalah pada Kazune, dia pemuda yang kuat," Ibu kembali terisak.

"Apa kau tidak mempercayai kemampuan anak laki-laki kita satu-satunya itu? Apa kau tidak mempercayai keajaiban dan keagungan Tuhan?" Ibu terdiam. Isak tangisnya sudah tidak begitu terdengar.

"Aku percaya," jawab ibu. Ku dengar langkah mereka meninggalkan kamar yang ku tempati sekarang. Aku membuka kedua mataku. Sudah ku duga, saat ini aku berada di rumah sakit keluargaku. Di sebuah kamar VVIP, kamar khusus yang jauh seperti kamar yang berada di hotel bintang 5 ini aku berbaring kaku dengan sebuah infusan di salah satu tanganku.

Tuhan, sampai kapan aku bisa bertahan?

.

.

Jika ku harus mati

Pertemukan aku denganMu

.

.

To Be Continued

.

.

Review please?