UNTIL THE END
.
.
.
a HaeHyuk Fanfiction
DONGHAE X EUNHYUK
Super Junior members
.
.
.
Romance story/Sinetron/?
Boys Love
.
.
.
Typo(s), EYD yang tidak sesuai, Crispy, OOC, DLDR
.
.
.
.
DochiDochi present
.
.
.
.
Enjoy~~
.
.
.
.
.
Hari masih sangat pagi, bahkan sang surya pun masih belum menempati singgasanan kebesarannya. Suasana Pagi ini masih teramat tenang. Namun tidak dengan yang terjadi disebuah dapur dimana seorang pemuda tengah bergulat dengan kegiatannya. Memasak ? Sepertinya, iya. Dilihat dari sebuah spatula digenggamannya yang beradu dengan wajan sehingga menimbulkan bunyi khas orang memasak-suara gaduh yang tidak main- main. Donghae-pemuda itu- sesekali menggaruk kepalanya yang entah gatal atau tidak. Bahkan tak jarang gerutuan samar terdengar darinya.
"Ini bagaimana ?" Donghae kembali menggaruk kepalanya
"Aishh, kenapa susah sekali sih " Kali ini pemuda itu mengacak rambutnya frustasi. Donghae ingin menangis saja rasanya. Kenapa membuat sarapan saja terasa begitu sulit baginya. Padahal setiap hari Hyukjae harus bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya tetapi namjanya itu tidak pernah kesusahan apalagi mengeluh. Oh betapa Donghae semakin mencintai Hyukjae sekarang.
Masih bergelut dengan kebingungannya, Donghae tak menyadari kehadiran seseorang yang kini berdiri tepat dibelakangnya.
"Sedang apa, Hae-ah ?"
"Huwaaaaaaa"
TRANG
Walaupun suara yang barusan menyapa gendang telinganya sangatlah lembut, tak urung membuatnya terkejut hingga melemparkan spatulanya ke sembarang arah.
"Aishh... Hyukkie, kenapa mengagetkanku" Pemuda tampan itu mengelus dadanya berharap kekagetannya sedikit mereda.
Hyukjae hanya mengerjap- ngerjapkan matanya polos. Tersenyum lebar kemudian.
"Maaf~~" Suaranya terdengar manja. Membuat Donghae ingin menyerangnya dipagi buta seperti ini. Eh? Lupakan.
"Memangnya apa yang sedang kau lakukan, Hae-ah ?" Hyukjae mengintip dari balik tubuh Donghae yang membelakangi kompor.
"Kau memasak ? Kenapa tidak membangunkanku ?" Pertanyaan bernada tak percaya dari Hyukjae membuat Donghae mengusap tengkuknya.
"Kulihat tidurmu nyenyak sekali, aku jadi tidak tega membangunkanmu.
Jadi aku mencoba membuat sarapan untuk kita, walaupun hanya te- ya Tuhan telurkuu"
Teriakan heboh dari Donghae karna teringat dengan telur yang tengah digorengnya disambut dengan tawa nyaring Hyukjae.
.
.
.
Hyukjae menyajikan sarapan dengan menu special yang dibuat oleh Donghae. Pemuda manis itu mendudukan dirinya pada kursi yang berhadapan dengan Donghae yang tengah menekuk wajahnya.
"Cha, mari makan. Sarapan special ala Tuan Muda Donghae" Guraunya yang membuat Donghae semakin menekuk wajahnya.
"Jangan mengejekku, Hyuk" Donghae merajuk. Hyukjae berusaha menahan tawanya dengan mengulum bibirnya. Namun tidak berhasil. Lelaki manis itu kembali tertawa.
"Hahahahaaa"
"Hyukkie~~" Ohh dengarlah, sang tuan muda mulai merengek. Namun Hyukjae tak juga berhenti mentertawakannya.
"Hahahahaaa" Justru tawa renyahnya terdengar semakin nyaring.
"Berhenti tertawa atau bibirmu itu akan kujadikan sarapanku" Ancaman tersebut sukses membuat Hyukjae seketika menghentikan tawanya dan repleks menutup mulut dengan kedua tangannya.
Dan kini giliran Donghae yang terkekeh melihat tingkah lucu kekasihnya itu.
"Ya ! Donghae bodoh !" Hyukjae mengerucutkan bibirnya tanpa sadar setelah mengumpati kekasih-bodoh-nya. Dan secepat kilat Donghae memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencuri sebuah ciuman pada bibir merah yang selalu terlihat menggoda dimatanya itu.
"YA!" Membuat sang empunya terkejut dan tak ayal pipi putihnya terlihat memerah. Sedangkan sang tersangka percurian hanya tersenyum lebar. Namun senyum tersebut seketika luntur. Donghae meringis melihat sarapan yang teronggok tak berdaya diatas meja. Telur mata sapi yang sepertinya tak pantas disebut telur karna hampir seluruh bagiannya berwarna hitam. Gosong.
"Hyuk, maaf. Aku membuat persediaan makanan terakhir kita menjadi seperti ini"
"Tak apa Hae-ah, kita bisa membelinya lagi nanti" Ucap Hyukjae. Namja itu tersenyum manis.
"Tapi kau jadi tidak sarapan Hyuk, bagaimana jika nanti kau sakit. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kau sampai jatuh sakit karna kebodohanku" Jiwa melankolis dan hiperbolis Donghae mendadak muncul kepermukaan.
"Kau bicara apa Hae-ah ? aku tidak akan jatuh sakit hanya karna tidak sarapan jadi jangan berlabihan seperti itu" Hyukjae membalas datar.
"Tapi-
"Hyukkie... Donghaek, nenek membawakan jjangmyeon untuk sarapan kalian berdua, kalian dimana ?"
Ucapan Donghae terputus karna sebuah suara yang tiba- tiba terdengar dari arah depan. Mereka amat mengenal pemilik suara khas tersebut. Kedua namja itu saling berpandangan dan tersenyum lebar kemudian. Tuhan memang maha pengasih, pikir mereka.
"Kami didapur, Nek " Hyukjae menjawab seruan tersebut.
"Dan berhenti memanggilku Donghaek, nenek cantik" Dan sudah sangat jelas siapa yang bersungut kemudian.
.
.
.
.
.
Mendung menyelimuti langit Seoul siang itu. Seorang pria paruh baya terlihat tengah berdiri tegak menghadap dinding yang berupa kaca besar. Pandangannya lurus mengarah pada awan gelap yang berarak tertiup angin. Raut muka pria itu datar tak terbaca. Dibelakangnya berdiri dua orang bertubuh kekar menggunakan setelan pakaian serba hitam.
"Jadi anak itu bekerja ?" Pria itu yang tidak lain adalah Tuan Lee membalikan badannya menatap dua orang yang merupakan pengawalnya.
"Betul, Tuan besar"
"Bagaimana dengan namja itu ?"
"Dia bekerja ditempat yang sama dengan tuan muda Donghae"
Kembali Tuan Lee membalikkan badannya menghadap jendela besar dibelakangnya.
"Sepertinya sudah waktunya anak itu untuk pulang" Tuan Lee berujar pelan dengan raut wajah yang tetap sama. Namun tidak dengan salah seorang pengawal yang terlihat terkejut dengan ucapan tuannya.
"Segera lakukanlah tugas kalian"
Perintahnya pada dua pengawal tersebut.
"Baik Tuan, kami mohon diri" Kedua pengawal tersebut membungkuk hormat dan melangkah menuju pintu namun suara Tuan Lee menghentikan mereka sebelum benar- benar keluar dari ruangan tersebut.
"Aku ingin berbicara sebentar denganmu, Pengawal Han"
Salah seorang dari dua pengawal yang dipanggil Han-Hankyung- tersebut menghentikan langkahnya, sedikit terkejut. Namun tak urung ia berbalik menghadap Tuan Lee yang tengah kini membelakanginya.
"Kurasa aku tak perlu berbasa- basi lagi. Aku yakin kau tahu apa yang ingin kubicarakan, bukan ?"
Pria paruh baya itu masih tetap membelakangi Hankyung yang sedikit terpekur mendengar ucapannya.
"Aku hanya ingin kau melakukan apa yang seharusnya sudah menjadi tugasmu, Pengawal Han" Jeda sejenak hingga Sang tuan besar membalikan badannya dengan sebuah senyum tipis menghiasi wajah angkuhnya.
"Atau kau berharap aku melakukan apa yang tidak seharusnya kulakukan, begitu ?" Sambungnya.
Hankyung terdiam tak menjawab namun debaran kencang jantungnya seolah melemaskan seluruh syarafnya. Tuan Lee tahu. Ya, pengawal itu yakin jika tuannya itu telah mengetahui bahwa dirinya lah yang membantu Donghae dan Hyukjae melarikan diri.
Tak bisa dipungkiri bahwa hatinya sedikit bergetar. Pengawal itu tahu apa yang bisa dilakukan oleh Tuan Lee. Dan ia yakin betul bahwa Tuan Lee telah merencanakan sesuatu.
"Saya mengerti, maafkan saya"
Hankyung membungkuk hormat setelah mengucapkan permohonan maafnya.
"Baguslah jika kau mengerti, sekarang jalankanlah tugasmu pengawal Han"
Kembali Hankyung membungkuk hormat sebelum beranjak.
Setelah Hankyung meninggalkan ruangan besar tersebut Tuan Lee kembali memusatkan pandangannya pada langit yang tertutup awan mendung. Pria itu menghela nafasnya pelan. Perlahan tatapan angkuhnya berubah sendu. Ada raut kesedihan tergambar samar diwajah tuanya.
"Angel~~.." gumamnya pelan.
.
.
.
.
.
"Apa maksudmu, Hannie ? Apa Tuan Lee berniat mencelakakan Hyukkie ?" Heechul bertanya gusar setelah mendengar cerita dari Hankyung mengenai peringatan Tuan Lee padanya siang tadi. Pria berwajah oriental itu menarik pergelangan tangan istrinya itu agar ikut duduk bersamanya dan membicarakannya dengan tenang.
"Tenanglah Heenim"
Hankyung mengusap lembut punggung sang istri mencoba menenangkannya walaupun kelihatannya sia- sia karna Heechul yang kembali berseru panik.
"Bagaimana aku bisa tenang jika keselamatan adikku tengah terancam bahkan aku tidak tahu bagaimana keadaanya sekarang bersama si idiot itu. Bisa- bisanya kedua bocah itu mematikan semua nomor ponsel" Namja cantik itu menjambak rambutnya frustasi. Hankyung hanya bisa menghembuskan nafasnya mencoba tenang melihat tingkah polah sang istri.
"Lalu bagaimana jika si tuan besar Lee itu benar- benar berniat mencelakai Hyukkie, Hannie ?"
Ucapnya lagi setengah merengek. Heechul yang garang dan serampangan terlihat out of caracter.
Hankyung kembali menarik Heechul hingga kini namja yang berstatus sebagai istrinya itu terduduk dipangkuannya dengan kedua telapak tangannya menangkup wajah cantik sang istri.
"Dengarkan aku Heenim, apapun yang terjadi kita akan tetap membantu mereka. Itulah janjiku"
Heechul terdiam melihat kesungguhan yang terpancar dari sorot mata dan ucapan sederhana sang suami.
.
.
.
.
.
Donghae mengayuh sepedanya pelan agar satu ember bunga lily putih yang terikat diboncengan belakang sepedanya tidak terjatuh. Pemuda itu baru saja kembali dari tempat pemasok bunga- bunga yang dijual di florist Shin ajjushi. Donghae sedikit melirik kebelakang dan mendapati sebuah mobil hitam berjalan pelan. Pemuda itu mengernyit heran, pasalnya mobil itu terus berada dibelakangnya semenjak ia keluar dari pasar bunga seperti tengah membuntutinya.
Donghae mengayuh sepedanya dengan lebih cepat walaupun ia tahu bahwa ia dan sepedanya takkan mampu menghindar dari kejaran mobil yang berkecepatan jauh lebih tinggi itu jika benar mobil itu membuntutinya.
Pemuda itu kian menambah laju sepedanya saat florist tempatnya bekerja sudah didepan mata. Dinghae menepikan sepedanya dengan asal dan dengan terburu- buru memasuki florist dengan ember berisikan bunga lily yang tadi dibawanya.
"YA, kau kenapa Donghae-ah ?"
Shin ajjushi terkejut karena suara gaduh yang ditimbulkan Donghae karna tanpa sengaja kaki pemuda itu menyenggol ember kaleng yang terletak di sebelah sisi pintu masuk.
"Eoh, maaf ajjhusi aku tidak melihat ember- ember ini" ceringan polos tersemat diwajahnya membuat Shin ajjhusi berdecak karena tak tega memarahi pegawainya itu.
"Hae-ah, kau sudah kembali ? Loh, kenapa embernya berantakan ?"
Hyukjae yang baru saja memasuki ruangan penuh bunga itu segera membantu Donghae yang tengah membereskan ember- ember yang berantakan akibat ulahnya.
"Aku tidak sengaja menyenggolnya"
"Ya sudah biar aku yang bereskan, kau istirahatlah dulu"
Donghae menuruti saran Hyukjae tanpa protes karena ia memang merasa sedikit lelah setelah mengayuh sepeda dengan kecepatan diatas rata- rata tadi. Matanya sempat melirik kearah luar dan tidak mendapati mobil yang ia yakini membuntutinya tadi padahal Donghae yakin jika ia melihat mobil tersebut sempat berhenti sejenak didepan florist.
Shin ajjushi tersenyum melihat interaksi antara dua pemuda didepannya. Keduanya memang tak pernah mengatakannya secara langsung akan tetapi pria tambun itu bisa melihat ada sesuatu yang lebih dari sekedar hubungan sahabat yang mereka katakan diantara mereka. Dan ia adalah orang yang terbuka dengan hal semacam itu. Untunglah.
.
.
.
Hyukjae terlihat tengah serius dengan karangan bunga mawar putih yang tengah disusunnya. Pria manis itu tersenyum setelah membaui aroma dari mawar putih ditangannya.
"Cantik" gumamnya
"Seperti dirimu" Hyukjae tersentak saat seseorang tiba- tiba mencium sebelah pipinya.
"Hae-ah~~kau ini, bagaimana jika Shin ajjhusi melihat"
"Tidak perlu takut begitu Hyuk, Shin ajjhusi sedang keluar" Donghae merendahkan tubuhnya, melingkarkan kedua lengannya dileher Hyukjae dan menyandarkan kepalanya dipundak kecil pemuda manis itu kemudian memberi kecupan ringan pada leher putih Hyukjae yang terekspos karena kaos V neck yang Hyukjae kenakan.
"Lepaskan,Hae-ah" pintanya sembari menyentuh lengan Donghae yang melingkar disekitaran leher dan bahunya.
"Tidak mau" Donghae menjawab acuh
"Hae-ah~aku sedang bekerja" Hyukjae menggeliat tak nyaman karena lelaki yang tengah memeluknya ini terus saja mengecup dan mengendus lehernya, membuatnya bergidik saat nafas hangat Donghae menyapa kulitnya.
Namun protesan-rengekan-Hyukjae tak digubris oleh Donghae, pemuda tampan itu terus saja asik dengan kegiatannya. Akhirnya ia hanya bisa menghembuskan nafas pasrah menghadapi tingkah kekasihnya itu.
"Apa bunga- bunga itu lebih penting bagimu dari pada aku ?" Hyukjae tersenyum mendengar ucapan Donghae yang terkesan tengah merajuk padanya.
"Aishh!" Donghae merengut dan melepaskan lingkaran tangannya kemudian mendudukan dirinya dikursi sebelah Hyukjae, pegal juga sebenarnya membungkuk sedari tadi tapi kekasih manisnya itu terus saja mengacuhkannya demi bunga- bunga cantik tapi sialan menurutnya itu. Wajah tampannya tertekuk sedemikian rupa.
"Jangan merajuk seperti itu, kau benar- benar menyeramkan" Hyukjae terkikik pelan namun tak urung sebuah ciuman ia berikan dipipi Donghae yang tengah merengut sehingga mau tak mau rengutan kekasihnya itu berubah menjadi sebuah senyum jenaka.
"Apa setelah ini kau akan langsung pulang ?" Hyukjae mengangguk sambil menyematkan sebuah nota pada karangan bunga yang telah selesai ia rangkai.
"Apa kau ingin aku menunggumu ?"
"Tidak perlu, kau pulanglah dan masaklah untuk suamimu yang tampan ini"
"Kau mau mati muda, Lee Donghae? Aku ini pria mana mungkin aku menjadi istri, lagi pula kita ini 'kan belum menikah jadi aku bukan istrimu, dasar bodoh !" Hyukjae bersungut kesal mendengar ucapan Donghae.
"Tapi kau 'kan yang berada dibawah dan mendesah malam itu, jadi kau adalah istriku" Donghae menaik turunkan alisnya dan disertai cengiran polos yang amat sangat menyebalkan menurut Hyukjae.
"YA !"
"AHAHAHAHA"
Menggoda Hyukjae menjadi hobby baru baginya, menyenangkan sekali melihat bibir kekasihnya itu terus berkomat kamit mengomelinya panjang pendek dengan kedua pipi yang memerah. Sangat menggemaskan.
"Aishh,,, Donghae bodoh jelek mesum!" Hyukjae terus mengumpat sambil mencubit perut, lengan dan pipi kekasihnya itu yang terus saja tertawa sambil terus menghindari serangannya. Entah mengapa Hyukjae merasa kekasihnya itu menjadi sangat mesum setelah 'malam itu'. Atau memang pada dasarnya Donghae itu memang mesum. Entahlah.
"Ahaha-ya Hyuk berhenti aw- Hyukkie ouch... itu sakit Hyuk "
"Aku tak peduli! Dasar Donghaek bodoh bodoh bod-
"Jika kerja kalian hanya terus bermesraan seperti itu kios bungaku bisa bangkrut"
GUBRAKK
Salahkan gerak refleks Hyukjae yang kelewat cepat hingga dengan tidak sengaja ia mendorong Donghae hingga terjungkal dari kursi karena Shin ajjhusi tiba- tiba muncul dari arah pintu masuk dan mengagetkannya. Dengan gerakan patah- patah bagai slow motion, mengabaikan nyeri pada bokongnya karena mencium lantai dengan tidak kerennya Donghae menolehkan kepalanya keasal suara dan mendapati ajjhusi gemuk itu tengah berkacak pinggang.
GLUP
Donghae menelan ludahnya bulat- bulat.
'Matilah aku' batinnya
Sementara Hyukjae tengah sibuk menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah sempurna.
Donghae idiot!
Namun batinnya tetap mengumpat.
"A-ajjhusi?"
Shin ajjhusi menatap kedua pegawainya dengan pandangan mengintimidasi,terutama pada Donghae yang terlihat semakin kikuk. Dalam hati pria berbadan subur itu tengah terkikik geli melihat Donghae dan Hyukjae yang seolah-olah mereka adalah anak remaja yang telah tertangkap basah tengah berpacaran dan melakukan hal yang tidak-tidak. Walaupun kenyataannya memang seperti itu.
"Eunhyuk-ah, bukankah sudah waktunya kau pulang? Apa karangan bunga pesanan Nyonya Park sudah selesai?"
"S-sudah" Hyukjae mengangguk kaku. "Baiklah a-aku pulang dulu adjjhusi, annyeong~~"
Dengan secepat kilat Hyukjae melesat dari sana setelah sebelumnya melirik sekilas pada Donghae yang menatapnya dengan pandangan memelas.
"Dan kau Lee Donghaek,selesaikan pekerjaanmu secepatnya jika kau ingin segera pulang dan menemui kekasihmu itu" Titah Shin adjjhusi tegas.
"A-ajjhusi a-ku… kami- maksudku-
Donghae mendadak gagap.
"HAHAHAHAAA" Tawa nyaring Shin Adjjhusi meledak melihat wajah bodoh Donghae. Membuat Donghae mengernyit bingung. Apa bos nya itu memiliki alter ego, cepat sekali berubah suasana hatinya. Begitu pikiran melantur Donghae.
"Tidak perlu tegang seperti itu Donghae-ya" Masih dengan tawanya Shin ajjushi melanjutkan ucapannya "Aku adalah orang yang cukup terbuka dengan hal semacam itu, kau tahu? "
Syukurlah, Donghae bisa menghembuskan nafas lega setelah mendengar ucapan Shin adjjhusi. Pemuda tampan itu tersenyum saat sang adjjhusi menepuk pelan bahunya namun sebuah senyum misterius terpajang diwajahnya.
"Jadi, benarkah Eunhyuk yang menjadi istrinya?"
Dan seketika Donghae tersedak ludahnya sendiri.
.
.
.
Hyukjae mengayuh sepedanya dengan pelan menyusuri jalan yang dikiri dan kanannya terdapat ladang bunga lavender. Perjalanan pulang dari tempat kerja menuju rumah tak membutuhkan waktu lama. Jadi tak perlu terburu- buru menurutnya. Menikmat suasana sore dengan aroma lavender yang menenangkan benar- benar membuat Hyukjae merasakan kenyamanan yang tak pernah ia dapatkan ditempatnya tinggal sebelumnya. Hyukjae tersenyum senang karena Donghae telah membawanya ketempat seindah ini. Walaupun dalam misi melarikan diri.
Hyukjae tak pernah menyangka jika hidup tenangnya yang awalnya datar- datar saja bisa jungkir balik hingga seperti ini semenjak ia mengenal Donghae. Orang yang telah berhasil merubah segalanya bahkan hingga pada orientasinya yang Hyukjae yakini lurus saja-pada awalnya-. Entahlah, Hyukjae tak mengerti bagaimana caranya mendeskripsikannya, yang Hyukjae tahu, laki- laki yang mengaku sebagai suaminya itu adalah orang yang mengisi hampir seluruh ruang kosong dihatinya.
BLUSH
Pipi putih Hyukjae memerah -lagi- karena mengingat kejadian dikios tadi. Kenapa lelaki yang mengaku tampan-walaupun memang benar tampan- itu suka sekali menggodanya.
'Dasar Donghae bodoh'
Hyukjae mengusap pipinya menggunakan sebelah tangannya, berusaha mengurangi panas yang kian menjalar diwajahnya.
"Kenapa aku jadi seperti anak gadis yang sedang jatuh cinta,tsk" Monolognya pada diri sendiri. Hingga tidak menyadari akan sebuah mobil sedan hitam yang melaju searah dengannya dan-
BRAAK
Sedetik kemudian hantaman karena senggolan keras antara sepeda dan mobil itu pun tak bisa Hyukjae hindari hingga tubuh kurusnya terpental dan menghantam kerasnya aspal. Dengan kesadaran yang nyaris hilang dan pandangan yang mengabur karena tertutup darah yang mengalir dari pelipis hingga kemata, Hyukjae sempat melihat mobil sedan hitam yang menabrak sepeda yang tengah dikendarainnya melaju kencang begitu saja sebelum duniannya pun menjadi gelap karena Hyukjae yang kehilangan kesadarannya.
.
.
.
.
.
.
.
tebeseh
.
.
.
.
.
.
Satu chapter lagi terposting/?
Maaf kalau- kalau masih ada typo/buuanyaaaakk/
Maaf juga jika ff ini semakin lama semakin gaje u,u
Semoga berkenan dihati para reader sekalian/apadeh/
At last, makasih yang udah mau mampir /civoksatusatu
.
.
.
.
~DochiDochi~
