Boboiboy © Animonsta Studio, Malaysia
Boi & Fani, Ling & Lee, Iqbal (OC) by me
WARNING!
Fang x fem!Boboiboy
Gopal x Yaya
Stanley x Ying
Terima kasih atas review teman-teman ^^ Kondisi saya sekarang sudah lumayan, terima kasih bagi yang telah mendoakan kesehatan saya ^^ Bagi teman-teman yang sedang menjalankan ujian, semoga berhasil dengan sukses yah ^^ Jaga kesehatan juga... cuaca sedang tak menentu akhir-akhir ini.
Hanya ingin memberi informasi, bahwa fanfic 'Melodi Malam Hari' akan selalu terjadwal update SEMINGGU SEKALI.
Dan buat teman-teman yang sudah mengenalkan diri melalui PM di FB, saya amat sangat berterima kasih ^^ Jika ada yang add saya namun tak saya accept, mohon maaf karena saya tak mau meng-add seseorang yang tak saya kenal.
Ada Boi & Fani gallery di FB saya ^^ Semoga suka ^^
Petals of Times
Mobil mungil berwarna hitam melaju keluar dari daerah perkotaan, melepas dirinya dari riuh ramai kota menuju damainya pedesaan. Boboiboy menarik napas panjang, membiarkan Fang memencet tombol di sebelahnya untuk membuka jendela sedikit. Angin lembut menyisir rambut hitam pendek sang nyonya memberikan kesegaran dan mendamaikan hati. Fang melirik melihat sang istri yang bersandar di bangku mobilnya dengan damai.
Suara canda tawa kecil terdengar dari bangku belakang, di mana Boi memainkan boneka tangan menghibur Fani yang tak pernah melepas boneka Dino dari pelukannya. Bahkan Ochobot tertawa menikmati hiburan dari sang anak sulung. Robot bundar kuning tersebut duduk di antara kedua anak dari dua sahabatnya. Terkadang Fani memeluk-meluk Ochobot penuh sayang bersama dengan boneka Dino buatan mamanya.
Fang tersenyum memperhatikan anak-anaknya dari kaca spion depan dan kembali melihat lurus ke jalanan. Begitu matanya melirik kembali melihat Boboiboy, ternyata sang istri tengah tertidur lelap.
Tentu saja, sang nyonya lelah karena bangun ketika semua orang masih tidur, menyiapkan bekal dan sarapan untuk keluarga tersayangnya. Menyiapkan pakaian untuk suaminya sebelum berangkat, untuk kedua anaknya yang masih kecil. Jemari lentiknya menari membuat sarapan penuh gizi dan bekal yang dapat mengenyangkan selama perjalanan nanti. Penuh perhatian dan kasih sayang, diberikan sang ibu pada keluarganya.
Canda tawa kecil menjadi lagu di pagi hari ketika Boboiboy membangunkan anak-anaknya agar mereka bersiap-siap. Penuh semangat Boi bangun, tak sabar akan berlibur ke tempat buyutnya. Fani tertawa kecil ketika mendapati ibundanya mencium kening anak perempuannya. Keduanya menempelkan hidung mereka dan tertawa-tawa kecil. Begitu Boi dan Fani berhambur ke kamar mandi masing-masing, Boboiboy berjalan menuju kamarnya dengan Fang.
Perlahan tanpa ingin mengejutkan, Boboiboy membaringkan tubuhnya di samping sang suami, mengelus wajah tampan tanpa kacamata dengan lembut. Ciuman kecil menghampiri bibir Fang. Wangi mawar dari tubuh Boboiboy yang begitu lembut membangunkan Fang, mendapati wajah cantik sang nyonya berambut pendek dengan senyuman di wajahnya.
Fang bersumpah setiap pagi ia menatap mata istrinya, melihat wajah cantik dengan senyuman hangat dari Boboiboy, ia selalu kembali menemukan dirinya berkali-kali jatuh cinta pada sahabat masa kecilnya.
Bidadari bertopi yang kini telah menjadi miliknya seorang...
Kini sang nyonya tengah tertidur dalam damai di samping sang suami yang sedang menyetir mobil. Fang kembali memeriksa anak-anaknya melalui kaca spion depan karena tak lagi mendengar suara canda tawa. Nampaknya kedua bocah tersebut lelah dan tertidur sambil membaringkan kepala mereka pada Ochobot yang mau tak mau menjadi bantal di tengah.
Sudah beberapa jam mereka terus melaju, sampai Fang menemukan pos peristirahatan di mana mereka bisa beristirahat di sebuah food court yang memang disediakan dengan bersih dan rapi untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Fang memarkir mobilnya pada area parkir. Boboiboy seraya terbangun begitu merasakan mobil berhenti.
"Pah...? Oh, kita di rest area, ya...?"
Fang mengangguk sambil membuka pintu mobil dan merenggangkan badan begitu kakinya menapak tanah. "Papa pasti lelah... Mama siapkan bekal, yah..." Boboiboy turut membuka pintu dan turun dari mobil.
"Nanti papa saja yang ambil sendiri, ma... Mama istirahat saja lagi... Kan tadi pagi mama bangunnya terlalu awal' kan...?" Fang menghampiri istrinya yang membuka pintu dengan hati-hati karena Boi dan Fani masih tertidur di dalam mobil.
Boboiboy tersenyum dan menggeleng kecil, "Mama tak apa-apa, kok... Kan tadi sudah tidur di mobil... Justru papa yang harus istirahat, ya...?" bisik Boboiboy tanpa ingin membangunkan kedua anaknya. Tetapi akhirnya Boi dan Fani turut terbangun sambil mengucek-ucek mata mereka yang masih agak mengantuk. Fani mendapati mamanya tersayang ada di hadapannya begitu ia membuka mata, "Mama...? Sudah sampai...?"
"Belum, sayang... kita mau makan siang dulu, nih... Udah pada lapar' kan?" Boboiboy mencium kening Fani yang seraya memeluk ibundanya begitu ia terbangun. Boi menguap lebar sambil membuka pintu mobil dan turun dengan hati-hati. Fang yang sedang merenggangkan badan sedikit berolah raga di samping mobil, sedikit terkejut ketika anak lelakinya tiba-tiba memeluk pinggang sang ayah sambil teler masih mengantuk, "Boi...? Masih ngantuk, nak? Papa gelar tikar supaya bisa tiduran, yah?" Boi mengangguk sambil menenggelamkan wajahnya di pinggang Fang.
Kalau Fani begitu manja pada mamanya, Boi selalu mencari perhatian ayahnya. Bagi Boi, Fang adalah idolanya, orang paling hebat dan keren di dunia. Anak lelaki berusia delapan tahun ini begitu bangga pada ayahnya. Sementara Fani selalu menganggap mamanya tersayang adalah bidadari atau putri cantik yang ada di dongeng-dongeng, Boi selalu menganggap ayahnya adalah seorang pahlawan super.
Boi selalu menunggu-nunggu setiap hari Sabtu dan Minggu, di mana sang ayah tidak pergi ke kantor sehingga bisa bermain dengannya. Sedangkan, setiap Fani membuka mata dari lelapnya, Boboiboy selalu memberikan senyuman hangat nan cantik di wajahnya, membuat sang gadis kecil tersenyum manis menyambut sapaan sang bunda tersayang. Kedua anak yang begitu akrab ini amat sangat menyayangi kedua orang tua mereka, dan menganggap Ochobot adalah keluarga mereka sendiri.
Di mana pun dan kapan pun, Fani selalu menggenggam ujung rok atau memeluk kaki ibundanya dengan boneka Dino dalam pelukan sang bocah. Nyaris semua orang bertanya-tanya kenapa gadis kecil tersebut begitu menyukai boneka aneh berwarna oranye terang dengan wajah dungu. Begitu sederhana jawabannya. Boneka tersebut adalah hasil karya jahitan sang bunda, yang sebenarnya adalah topi masa kecil Boboiboy yang disulap menjadi boneka dinosaurus untuk Fani.
Meskipun Fani sedang berusaha membawakan termos besar dari mobil demi membantu mamanya, boneka tersebut sama sekali tak ditanggalkan. Ochobot berusaha menawarkan diri membantu Fani yang tampak kerepotan, namun anak itu menggeleng kecil bersikeras ingin membantu mamanya tercinta. Apa yang membuat Fani begitu ingin membantu ibunya?
Ketika sang bocah berhasil membawa termos hingga di dekat mamanya yang sedang duduk di atas tikar menyiapkan perbekalan piknik, Boboiboy menoleh menyadari anaknya telah berjuang keras membawa termos dari mobil sendirian.
"Oh, terima kasih banyak, Fani...!" hanya pelukan serta kecupan sayang di pipi dari sang bunda yang diinginkan Fani sebagai balasan atas apa yang telah ia lakukan dengan penuh kebanggaan.
Fang mengunci pintu-pintu mobil yang telah tertutup dari tempatnya duduk dengan remote kunci mobil. Di atas tikar yang digelar di bawah pohon rindang rest area, Fang meluruskan kaki-kakinya yang lelah sambil berbaring santai dengan Boi yang berbaring di perut ayahnya.
"Papa... kita kapan sampai di rumah Atok...?"
"Hmm, mungkin nanti sore..."
"Waktu dulu kita sampainya cepat... kok, sekarang lama...?"
"Kan' dulu kita naik kereta... Kalau naik kereta lebih cepat, sayang..." Boi membenamkan wajahnya di pelukan Fang, menikmati elusan lembut tangan sang ayah di rambutnya. Fang maklum pada anak laki-lakinya yang sudah tak sabar ingin bertemu orang tua yang berjualan cokelat di kedai mungilnya. Teman-teman baru yang ditemui Boi di Pulau Rintis membuat bocah lelaki itu begitu merindukan kota kecil yang menjadi memori indah bagi kedua orang tuanya.
"Boi kangen Iqbal, Lee, dan Ling, yah...?"
Boi nyengir lebar memberi jawaban dengan anggukan antusias pada pertanyaan ayahnya. Fang tersenyum geli mengingat bagaimana serunya Boi bermain dengan teman-teman baru di Pulau Rintis dan ketika ia merengek tak mau pulang. Saat itu Fani masih begitu kecil, sehingga gadis kecil tersebut tak rewel atau memiliki ingatan jelas kenangan di Pulau Rintis. Yang diingat gadis cilik itu hanya cokelat hangat lezat dari Tok Aba.
Begitu roti isi dikeluarkan dari keranjang bekal beserta teh panas dari termos, Boi langsung duduk tegap tak sabar ingin menikmati bekal buatan ibunda tersayang. Tentu saja donat lobak merah lebih cepat habis karena menjadi kegemaran Fang dan Boi. Boboiboy memangku Fani yang masih mengunyah roti di mulut mungilnya dengan pelan sambil menuang teh pada tutup termos untuk Fang. Fani yang melihat ayahnya minum teh dengan nikmat dari tutup termos, meniru sang bunda menuang coklat panas dari termosnya sendiri ke tutup termos dengan hati-hati. Boboiboy mencium kepala Fani yang bisa melakukan segalanya sendiri dengan cara meniru mamanya. Begitu bangga sang bunda pada putri bungsunya itu. Sementara Boi yang telah terisi kembali energinya berpamitan pada kedua orang tuanya untuk bermain di taman.
"Fani mau ikut kakak main...?" Fani menggeleng menjawab pertanyaan ibundanya. Gadis cilik itu tak mau lepas dari Boboiboy, "Kalau mama temenin Fani, mau?" mendengarnya Fani menjadi berbinar dan mengangguk. Boboiboy tersenyum, ia tahu betul sifat anak perempuannya itu. Sementara Fang tertidur pulas dengan Ochobot yang juga kelelahan karena menjadi bantal selama di mobil, Boboiboy menemani kedua anaknya bermain di taman bermain kecil dekat situ.
"Mama! Lihat! Lihat!" Boi meluncur mulus dari papan perosotan. Sementara Fani takut-takut sambil terus memeluk erat Dino. Boboiboy tersenyum dan merentangkan tangan siap menangkap Fani di ujung bawah perosotan, "Ayo, sayang... Mama di sini... Mama akan tangkap Fani...,"
Fani akhirnya memberanikan diri membiarkan tubuh mungilnya merosot turun hingga mampir di pelukan ibundanya tercinta.
Fani sangat suka ketika tubuhnya dipeluk erat oleh sang bunda, ketika wajah cantik ramah penuh kehangatan tersenyum menyambutnya, ketika gaun yang dikenakan ibundanya mengembang cantik membuatnya bagai bidadari. Wangi mawar yang lembut begitu disukai Fani ketika memeluk erat Boboiboy.
Ketiganya tertawa-tawa bermain bersama di taman. Boi tak pernah bosan membuat adiknya tertawa cerah dengan candaan yang dilontarakan dan lagak-lagak lucu menghibur sang adik. Kedua anak yang telah mengisi tenaga dengan tidur pulas selama perjalanan di mobil tak bosan mengajak ibunda mereka turut bermain hingga kembali lelah.
Boboiboy mengajak kedua anaknya kembali duduk menemani ayah mereka di atas tikar. Boi langsung membaringkan tubuhnya di samping Fang. Fani kerap memeluk boneka Dino sambil duduk manis di samping ayahnya yang mulai membuka mata.
"Papa mau main sama Fani juga...?" tawaran sang gadis cilik membuat Fang tak bisa menahan senyum dan dengan gemas mencium pipi tembem Fani. Boi meringkuk manja di samping ayahnya, mencari tempat ternyaman untuk membaringkan kepala.
Boboiboy mengelus rambut halus Fani sambil membuatkan kopi untuk Fang, "Papa harus istirahat supaya kita bisa cepat sampai di rumah Atok... Fani ditemani mama aja, ya?" Fani sedikit kecewa, tapi akhirnya ia memilih meringkuk dalam pelukan mamanya tersayang.
Fang duduk sambil membantu Boi duduk di sampingnya. Anak lelaki itu seakan tak ada habisnya tenaga yang ia keluarkan. Sebentar-sebentar ia sudah mengajak adiknya atau Ochobot bermain lagi. Boboiboy menaruh roti isi sosis dan selada pada piring kertas di hadapan Boi, dan anak itu langsung kalem menikmati, tak melanjutkan lagi mengajak ayahnya dan Ochobot untuk bermain. Fang dan Ochobot menghela napas panjang dengan penuh kelegaan. Boboiboy tertawa kecil melihat kedua sahabat masa kecil yang menyerah menghadapi seorang bocah bertenaga banyak tak hentinya bergerak.
Boi dan Fani kembali tertidur di pangkuan kedua orang tua mereka setelah kenyang. Lelah bermain dan kenyang karena mengisi perut, sungguh sehat dan aktif kedua anak dari Boboiboy dan Fang.
Dengan hati-hati, suami-istri tersebut menggendong anak-anak mereka ke dalam mobil dan mengenakan sabuk pengaman di tubuh mungil mereka. Keluarga tersebut kembali melanjutkan perjalanan setelah cukup beristirahat.
"Ng... Boboiboy, nanti kalau Fani kebelet bagaimana...? Apa tak lebih baik kita bangunkan anak-anak dulu agar ke kamar kecil sebelum berangkat...?"
Boboiboy tertawa kecil mendengar kekhawatiran Ochobot. Sungguh robot yang penuh tanggung jawab dan dapat diandalkan.
Yaya merapikan isi lemari pakaian di kamarnya, sementara Gopal tengah menyirami kebun di sore itu. Suara gaduh terdengar dari kamar Iqbal, membuat ibundanya penasaran dan menengok anaknya yang sedang membongkar-bongkar mainannya.
"Iqbal... sudah sore begini kamu mau main apa, sih...?"
"Ini buat besok kalau Boi sudah datang, bunda...! Aku bingung mau membawa mainan apa... Ada bola sepak, pesawat-pesawatan, robot-robotan, atau...," Yaya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya menghampiri Iqbal yang begitu mirip ayahnya.
Yaya tak pernah lupa ketika Gopal begitu malas jika diajak mengerjakan tugas sekolahan bersama-sama, tapi semangat sekali jika diajak bermain game kapan pun ia mau. Sejak Boboiboy menjadi perempuan tulen, Gopal jadi lebih sering bersama Fang melakukan keisengan entah ada saja ide keduanya. Menjahili Papa Zola, teman-teman sekelas mereka, bahkan bolos pelajaran tambahan. Tak pernah peduli dengan ancaman Catatan Maut Yaya, pasti akan mereka lakukan lagi keisengan yang tak berakhir.
"Bagaimana kalau besok saja memilihnya bersama-sama dengan Boi dan Lee? Kalian jadi bisa memainkan pilihan kalian bersama...," Iqbal akhirnya setuju.
Sementara di rumah Ying, Lee dan Ling tengah menulis sesuatu pada kertas yang berlembar-lembar hingga memenuhi kamar, mengejutkan ibu mereka yang baru saja melewati kamar kedua anak kembarnya.
"Aiyo! Lee! Ling! Kalian sedang apa, wo...!? Ini kamar jadi berantakan begini ma...!"
"Mama! Kita orang lagi buat jadwal mau ke mana besok bersama Boi ma...!"
"Iya ma...! Besok kita mau jalan-jalan dan main sepuasnya...! Mumpung ada Boi!"
Ying menghela napas panjang. Entah kelakuan kedua anaknya yang terlalu bersemangat atau karena kamar mereka yang sudah seperti kantor percetakan dengan kertas di mana-mana. Lee dan Ling kembali menyibukkan diri mereka bagai sekretaris menulis-nulis dengan spidol dan krayon warna-warni.
"Aiyo... Kalau kalian semua bermain dengan Boi... Kasihan Fani, dong... tak ada yang menemani..."
Lee dan Ling terdiam. Mereka lupa pada si bungsu Fani.
Pada saat keluarga Fang datang, Fani memang masih sangat kecil, usianya masih dua tahun. Sehingga si kecil tak bisa bermain bersama teman-teman yang seumur dengan abangnya. Apalagi Fani sangat lengket dengan mamanya tersayang.
Lee dan Ling hanya bisa nyengir canggung menjawab kata-kata ibu mereka yang menghela napas sekali lagi, "Besok kalau kalian bermain jangan lupa ajak Fani, ya ma..."
Lee dan Ling saling memandang. Bagaimana mungkin mereka bisa mengajak berjalan-jalan bermain si bungsu? Usianya masih tiga tahun. Pasti ia akan rewel dan merengek.
Stanley tersenyum geli dari bangku santainya di depan televisi sambil membaca surat kabar, sementara Ying duduk di sampingnya sambil minum teh.
"Besok mereka baru datang... anak-anak semangatnya sudah sejak sore begini..."
"Seperti kamu dulu' kan? Waktu mau piknik sekolah... Hebohnya luar biasa siapin segala macam padahal masih seminggu kita akan piknik... Berkali-kali meneleponku menanyakan apakah aku sudah siapkan bawaan untuk piknik sekolah..."
Ying bersungut-sungut diingatkan Stanley. Tapi akhirnya ia tersenyum geli pada dirinya sendiri dahulu. Ying bukan orang yang sabaran, selalu bergerak cepat dan lincah, sementara Stanley terlalu santai, hingga bahkan ketika ulangan di sekolah kepalanya berselonjor ria di bangkunya dan tidur pulas.
Ada saatnya di mana Boboiboy, Yaya, dan Ying mengeluhkan kekasih mereka masing-masing. Suatu saat, Tok Aba yang sedang menjaga kedai mendengar keluhan ketiganya. Sungguh bijaksana apa yang dikatakan sang tua...
"Boboiboy, kau ini sungguh lembut hatinya dan penyabar, sementara Fang mudah sekali emosi dan tak pernah pikir panjang dalam bertindak bahkan tak peduli menggunakan kekerasan... Yaya, kau sungguh cerdas dan gigih dalam membantu Gopal yang membutuhkan 'cambuk kasih sayang' darimu untuk dipaksa belajar... Ying, kau yang selalu bersemangat dan lincah amat sangat membantu Stanley dalam mengatasi sifatnya yang terlalu santai... Nah, bukankah kalian pikir kalian semua ini diciptakan untuk melengkapi satu sama lain...?"
Kata-kata Tok Aba selalu terngiang di hati mereka.
Ying terdiam dalam kenangannya. Kepalanya menoleh sedikit pada Stanley. Tentu saja suaminya sadar sang istri memandang dirinya sambil tersenyum, "Ada apa...?"
Senyum di wajah Ying melebar.
Tangannya menggenggam hangat tangan sang suami.
"Terima kasih kau sudah melengkapiku..."
tbc
