2
SENI MENCULIK
.
.
.
Ketika sinar matahari padam, anak-anak sudah lama terkurung. Dari balik jendela kamar tidur, mereka mengintip para ayah, kakak perempuan, dan nenek berbaris memegangi obor di sekeliling hutan gelap, menantang Sang Guru untuk melintasi lingkaran api mereka.
Sementara anak-anak gemetar sambil mengencangkan sekrup-sekrup jendela mereka, Soojung bersiap untuk membuka sekrup jendelanya. Dia ingin penculikan ini berjalan senyaman mungkin. Di kamarnya yang diberi brikade, dia mengeluarkan jepit rambut, pinset, serta pengikir kuku dan mulai bekerja.
Penculikan awal terjadi dua ratus tahun sebelumnya. Selama beberapa tahun, dua anak laki-laki diculik; di tahun-tahun lainnya, dua anak perempuan, terkadang sepasang. Usianya tidak sama; yang satu bisa saja 16, dan yang satu lagi 14, atau keduanya baru saja berulang tahun yang ke-12. Jika pada awalnya pemilihan itu tampak acak, lama-lama poana menjadi jelas. Salah satu anak selalu cantik dan baik, dambaan setiap orangtua. Satu lagi biasa saja dan aneh, diasingkan sejak lahir. Pasangan yang berlawanan, direnggut dari masa muda dan menghilang begitu saja.
Sudah sewajarnya para penduduk desa menyalahkan beruang. Tak seoraang pun pernah meilhat beruang di Jangho, tapi kejadian ini membuat mereka bersikeras untuk menemukannya. Empat tahun kemudian, setelah dua anak lagi menghilang, para penduduk desa mengakui bahwa seharusnya mereka lebih spesifik mengumumkan bahwa yang menjadi biang kerok adalah beruang hitam, begitu hitam hingga tersamar dengan malam.
Setelah anak-anak terus saja menghilang selama empat tahun, desa itu mengalihkan perhatiannya pada perburuan beruang, kemudian siluman beruang, lalu penyamaran beruang–sampai akhirnya bukan beruang sama sekali.
Para penduduk desa kalang kabut menelurkan teori baru seperti Teori Lubang Isap dan Teori Kanibal Terbang. Kemudian anak-anak Jangho mulai menangkap sesuatu yang mencurigakan. Selagi mereka mengamati lusinan poster Orang Hilang yang terpampang di alun-alun, wajah laki-laki dan perempuan yang hilang itu anehnya tampak familier. Lalu saat mereka membuka buku-buku dongeng, mereka menemukan anak-anak yang telah diculik.
Namun ketika anak-anak menunjukkan Teori Buku Dongeng, orang-orang dewasa meresponnya sebagaimana yang sering dilakukan orang dewasa. Mereka mengelus kepala anak-anak dan kembali pada lubang hisap dan kanibal.
Lalu anak-anak menunjukkan lebih banyak wajah familier. Para orangtua lambat laun mulai menyadari hal itu. Sejumlah anak yang diculik berpasangan, telah menemukan kehidupan baru dalam dunia buku dongeng. Seorang sebagai Si Baik, seorang lagi sebagai Si Jahat.
Buku-buku itu berasal dari Toko Buku Hwang, terletak di sudut pengap antara Bar dan Toko Roti Jennie. Tentu saja masalahnya adalah dari mana Tuan Hwang itu mendapat buku dongengnya.
Setahun sekali, di setiap pagi yang tidak disangka-sangka oleh Tuan Hwang, dia tiba di toko bukunya dan menemukan sekotak buku menunggunya di dalam. Empat buah buku dongeng terbaru, masing-masing satu eksemplar. Lalu Tuan Hwang akan menggantung papan pengumuman di pintu tokonya: "Tutup Sampai Pengumuman Selanjutnya." Kemudian ia mendekam dari hari ke hari di ruang belakang toko, menyalin dongeng-dongeng baru itu dengan tangannya sendiri sampai cukup banyak buku untuk setiap anak di Jangho.
Selanjutnya buku-buku asli yang misterius itu akan dipajang di jendela tokonya pada suatu pagi, sebagai tanda bahwa ia telah merampungkan tugas melelahkan itu. Dia membuka pintunya dan menadapati antrean sepanjang tiga kilometer mengular sampai alun-alun, lereng-lereng bukit, dan tepi danau; dipenuhi anak-anak yang haus akan dongeng-dongeng baru, dan orangtua yang ingin melihat apakah ada anak-anak hilang yang berhasil masuk ke buku dongeng tahun ini.
Para anggota Dewan Pengurus Desa mengajukan banyak pertanyaan pada Tuan Hwang. Ketika ditanya siapa pengirimnya, Tuan Hwang bilang dia sama sekali tidak tahu.
Kemudian para Sesepuh menangkap sesuatu pada buku-buku dongeng itu. Semua gambar pedesaan di dalamnya persis seperti Jangho. Namun, semua itu digambarkan sebagai negeri fantasi di tempat yang sangat jauh. Semua yang terjadi di antara awal dan akhir berlangsung di dalam hutan gelap tak bertepi yang mengelilingi desa. Mereka baru menyadari bahwa Jangho juga dikelilingi hutan gelap yang tak bertepi.
Pada awal menghilangnya anak-anak, para penduduk desa menyerbu hutan untuk mencari mereka yang kemudian didepak oleh badai, banjir, topan, dan pohon-pohon berjatuhan. Ketika mereka memberanikan diri untuk menembusnya, mereka menemukan sebuah desa yang tersembunyi di balik pepohonan lalu mengepungnya dengan penuh rasa dendam. Namun ternyata, itu adalah desa mereka sendiri.
Benar. Dari manapun orang-orang desa itu masuk ke hutan, mereka keluar tepat di mana mereka masuk. Hingga suatu hari, mereka tahu sebabnya.
Tuan Hwang baru saja selesai mengeluarkan buku-buku dongeng tahun itu ketika dia melihat coretan besar yang tersembunyi pada lipatan kotaknya. Dia menyadari tinta coretan itu masih basah ketika menyentuhnya. Ketika diamati, coretan itu ternyata segel berhiaskan angsa hitam dan angsa putih. Pada lambangnya ada tiga huruf:
S.K.K
Dia tak perlu lagi menebak arti huruf-huruf ini. Tulisan hitam kecil ini memberi tahu orang-orang desa ke mana anak-anak itu pergi:
SEKOLAH KEBAIKAN DAN KEJAHATAN
Penculikan terus berlanjut, tapi kini si penculik mempunyai nama.
Mereka menyebutnya Sang Guru.
.
.
.
Beberapa menit menjelang pukul sepuluh malam, Soojung membongkar gembok jendelanya yang terakhir lalu mendobrak daun jendela. Dia bisa melihat ke tepi hutan, tempat ayahnya, Yunho, berdiri bersama para penjaga garis pertahanan lainnya. Ayahnya tersenyum, satu tangannya berada di bahu si Janda Haneul.
Soojung meringis. Dia tidak tahu apa yang dilihat ayahnya dari wanita itu. Dulu, ibunya cantik tanpa cela bagai ratu dalam buku dongeng. Sementara Haneul berkepala kecil, bertubuh bulat, dan kelihatan seperti kalkun.
Ayahnya berbisik nakal ke telinga janda itu dan pipi Soojung serasa terbakar. Ia tahu yang sebenarnya, ayahnya tidak menyayanginya karena dia bukan seorang anak laki-laki. Sekarang ayahnya ingin menikahi wanita mengerikan itu, lima tahun setelah kematian ibunya. Dengan pertukaran janji sederhana, ayahnya bisa mendapatkan dua anak laki-laki, sebuah keluarga baru, awal yang baru.
Namun ayahnya perlu restu dari anak perempuannya terlebih dahulu untuk mendapatkan izin Sesepuh. Beberapa kali ayahnya mencoba, Soojung akan mengalihkan pembicaraan atau memotong timun keras-keras. Ayahnya belum pernah menyinggung soal itu lagi.
Biar saja si pengecut itu menikahinya setelah aku pergi, pikir Soojung sambil menatap tajam ayahnya dari balik daun jendela. Pada dudukan jendelanya, Soojung menyiapkan kue-kue jahe berbentuk hati untuk Sang Guru. Pesan bahwa dia mau ikut secara sukarela. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, dia membuat kue dengan gula dan mentega.
Sambil melesak di bantalnya, Soojung menutup matanya dari janda, ayah, dan Jangho terkutuk.
Segera setelah kepala Soojung menghilang dari balik jendela, Kyungsoo menjejalkan kue-kue jahe berbentuk hati ke mulutnya. Sayang sekali kalau dimakan tikus, pikirnya. Remah kue berjatuhan ke sepatu hitam tebalnya. Dia menguap dan beranjak pergi ketika jam desa hampir menunjukkan tengah malam.
Kyungsoo melangkah berat menuju pekuburan. Seraya menapaki lereng, matanya menangkap lengkungan gelap di antara obor-obor yang menjadi garis batas hutan. Ternyata para penjaga yang bertanggung jawab atas pekuburan memutuskan bahwa yang tinggal di dalamnya tidak layak dilindungi.
Selama yang Kyungsoo ingat, dia memiliki kelebihan untuk membuat orang pergi. Anak-anak kecil berlari menjauh seperti kelelawar vampir. Orang-orang dewasa berimpitan ke dinding selagi dia lewat, taku kalau-kalau dia mengutuk mereka. Bahkan para penjaga kuburan di bukit lari saat melihatnya. Tahun berganti, bisik-bisik di desa bertambah keras–"penyihir", "penjahat", "Sekolah Kejahatan" –sampai akhirnya dia mencari alasan untuk tidak keluar rumah. Awalnya berhari-hari, kemudian berminggu-minggu, akhirnya dia tinggal di pekuburan layaknya hantu.
Awalnya banyak cara untuk menghibur diri. Kyungsoo menulis puisi ("Hidup yang Sengsara" dan "Surga adalah Kuburan" merupakan karya terbaiknya), menggambar Reaper untuk menakut-nakuti tikus, dan mengarang sendiri cerita dongeng, "Kebahagiaan Abadi yang Suram", tentang anak-anak cantik yang meninggal dengan tragis.
Namun semua itu tak bisa dipamerkannya pada siapa-siapa sampai suatu hari Soojung mengetuk pintu.
Kyungsoo mendengar nyanyian dari dalam–
"Di hutan purbakala, berdirilah Sekolah Kebaikan dan Kejahatan..."
Kyungsoo memutar bola matanya lalu membuka pintu. Ibunya membelakanginya, bernyanyi riang sambil mengisi koper dengan jubah-jubah hitam.
"Mau pergi liburan eksotis?" tanya Kyungsoo. "Seingatku tidak ada jalan keluar dari Jangho kecuali eomma bisa menumbuhkan sayap."
Sooyeon menoleh. "Menurutmu tiga jubah cukup?"
"Semuanya sama persis, kenapa perlu tiga?"
"Untuk berjaga-jaga kalau kau perlu meminjamkannya pada seorang teman, sayang."
Kyungsoo menaikkan alisnya. "Ini semua untukku?"
"Aku memasukkan dua topi kalau-kalau satunya penyek, sebuah sapu tangan, dan beberapa botol lidah anjing, kaki kadal, dan kaki katak."
"Eomma, itu semua untuk apa?" tanya Kyungsoo sambil meringis.
"Tentu saja untuk acara Penyambutan Penyihir Baru!" jawab Sooyeon dengan semangat.
Kyungsoo menendang sepatu tebalnya hingga terlepas. "Mari lupakan kenyataan bahwa dokter desa ini percaya pada dongeng. Kenapa sulit sekali untuk menerima kenyataan bahwa aku bahagia di sini? Aku punya segalanya yang kubutuhkan. Tempat tidurku, kucingku, dan temanku."
"Yah, kau harus belajar dari temanmu, sayang. Setidaknya dia menginginkan sesuatu dalam hidup ini," ujar Sooyeon sambil mengancing koper.
Kyungsoo menelusup ke balik selimut. "Semua orang di desa mengira eomma seorang penyihir, jadi keinginanmu tetap terwujud."
"Keinginanku adalah kau keluar dari sini," desis Sooyeon. "Tempat ini membuatmu lemah, malas, dan ketakutan. Setidaknya di sini aku bisa membuat diriku berguna. Kau hanya menyia-nyiakan waktu sampai membusuk hingga Soojung datang dan membawamu jalan-jalan seperti anjing."
Kyungsoo terperangah menatap ibunya.
Sooyeon tersenyum. "Tapi jagalah temanmu itu. Sekarang tidurlah. Sang Guru akan datang sebentar lagi dan lebih mudah untuknya kalau kau tertidur."
Kyungsoo menarik selimut ke atas kepalanya.
.
.
.
Soojung tidak bisa tidur. Lima menit menjelang tengah malam dan tidak ada tanda-tanda penyusup. Dia berlutut di tempat tidur dan mengintip melalui jendela. Saat itulah dia melihat hati di ambang jendelanya sudah hilang.
Dia sudah ada di sini!
Tiga buah tas pink yang sudah dikemas keluar dari jendela, diikuti sepasang kaki bersepatu kaca.
Kyungsoo melonjak dari tempat tidur, terjaga karena mimpi buruk. Sooyeon mendengkur keras di seberang ruangan, Reaper berada di sampingnya. Di samping tempat tidur Kyungsoo, berdirilah kopernya yang terkunci, dibubuhi tulisan cakar ayam "Kyungsoo dari Jangho, Jalan Bukit Kuburan nomor 1", lengkap dengan sekantung kue madu untuk di perjalanan.
Sambil melumat kue, Kyungsoo memandang keluar jendela yang retak. Dia menggigit potongan kue madu terakhir sambil menatap ke arah hutan gelap.
Mata biru berkilau balas menatapnya.
Kyungsoo tersedak dan menyelinap ke tempat tidur. Perlahan dia mengangkat kepalanya. Tidak ada apa-apa, termasuk si penjaga.
Sedetik kemudian Kyungsoo terperanjat. Ia menemukan si penjaga pingsan di atas batu nisan patan dan obornya padam. Ada yang berjalan pelan menjauhinya, sesosok bayangan kurus membungkuk tanpa tubuh.
Bayangan itu melayang di atas lautan makam tanpa sedikitpun terlihat buru-buru, lalu menuruni bukit dengan mengendap.
Kyungsoo merasa kengerian mencekik jantungnya. Dia memang nyata, siapapun itu.
Dan dia tidak mengincarku.
Rasa lega menghantamnya, diikuti gelombang rasa panik yang baru.
Soojung.
Sooyeon yang berpura-pura tidur mendengar langkah Kyungsoo bergegas, lalu pintu tertutup.
Soojung meringkuk di balik pohon, menunggu Sang Guru menculiknya. Dia menunggu dan menunggu, lalu melihat sesuatu di tanah.
Remah-remah kue, hancur di atas jejak kaki. Jejak sepatu tebal yang menjijikkan, yang begitu buruk sehingga bisa dipastikan pemiliknya. Tangan Soojung mengepal, darahnya mendidih.
Tangan menutup mulutnya dan sebuah kaki bersepatu tebal menendangnya ke jendela. Kepala Soojung menghantam tempat tidurnya, lalu dia berbalik dan melihat Kyungsoo.
"Dasar kau cacing menyedihkan, tukang ikut campur!" jerit Soojung sebelum melihat raut ketakutan di wajah sahabatnya. Dia terkesiap, "Kau melihatnya!"
Kyungsoo menutup mulut Soojung dengan satu tangan dan menjepitnya dengan tangan lainnya ke tempat tidur. Selagi Soojung bergeliat melawannya, Kyungsoo mengintip keluar jendela. Bayangan bungkuk itu melintas ke alun-alun, melewati para penjaga yang tak awas, dan langsung menuju rumah Soojung.
"Apakah dia tampan seperti pangeran? Atau seperti guru biasa yang berkacamata–"
BUK!
Soojung dan Kyungsoo menoleh ke pintu.
BUK! BUK!
Gembok terbuka, engsel berderit. Kyungsoo menciut ke dinding, sementara Soojung mengembangkan gaunnya seolah menanti kunjungan kerajaan.
Ketika pintu terbuka, Kyungsoo melompat dari tempat tidur dan menabrakkan diri ke pintu. Kalah tenaga, Kyungsoo terlempar ke tengah ruangan.
Ternyata ayah Soojung, wajahnya pucat seputih kain seprai. "Aku melihat sesuatu!"
Lalu mata Kyungsoo menangkap sosok bungkuk di dinding, sedang menginjak bayangan ayah Soojung. "Itu!" jerit Kyungsoo. Yunho berputar dan bayangan itu meniup obornya. Kyungsoo menyambar korek api dari saku dan menyalakannya. Yunho sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai dan Soojung–hilang.
Terdengar jeritan dari luar.
Melalui jendela, Kyungsoo menyaksikan orang-orang desa berteriak sambil mengejar Soojung selagi bayangan itu menyeretnya ke hutan. Tetapi Soojung–dia tersenyum lebar.
Kyungsoo menerjang keluar jendela dan berlari mengejar sahabatnya. Namun tepat saat para penduduk desa menggapai Soojung, obor mereka secaraajaib meledak dan mereka terjebak dalam lingkaran api. Kyungsoo menghindari kepungan api dan bergegas menyelamatkan Soojung sebelum bayangan tadi menariknya ke dalam hutan.
Soojung merasa tubuhnya meninggalkan rerumputan halus dan menyapu tanah berbatu. Dahinya berkerut membayangkan hadir di sekolah dengan pakaian kotor oleh tanah.
"Aku kira akan ada pesuruh yang datang menjemput," ujarnya pada si bayangan. "Atau paling tidak kereta labu."
Kyungsoo berlari kalang kabut, Soojung sudah hampir menghilang ke balik pepohonan. Di sekitar, lidah api semakin meninggi, cukup untuk melahap seluruh desa.
Melihat api menjilat-jilat, Soojung merasa lega mengetahui tak ada yang bisa menyelamatkannya sekarang. Tetapi di mana anak yang satu lagi? Di mana anak yang jahat? Soojung tertegun. Selama ini anggapannya tentang Kyungsoo salah. Namun ia mengalihkan pemikirannya.
"Selamat tinggal, Jangho! Selamat tinggal ambisi rendah! Selamat tinggal rata-rata–"
Lalu dia melihat Kyungsoo menembus api.
"Kyungsoo, jangan!" jerit Soojung.
Kyungsoo melompat ke atas sahabatnya dan keduanya di seret ke dalam kegelapan.
Tiba-tiba api di sekitar penduduk desa padam. Mereka bergegas masuk ke hutan, tetapi pepohonan secara ajaib bertambah lebat dan berduri, menahan mereka di luar hutan.
Sudah terlambat.
"APA-APAAN KAU INI?!" raung Soojung, mendorong dan mencakar Kyungsoo sementara bayangan menarik mereka ke hutan gelap gulita. Kyungsoo memukul-mukul dengan liar, berusaha melepaskan cengkeraman si bayangan pada tubuh Soojung dan cengkeraman Soojung pada si bayangan.
"KAU MENGACAUKAN SEGALANYA!" pekik Soojung. Dia memutar tubuhnya agar Kyungsoo bergesekan dengan tanah. Kyungsoo memutar tubuh Soojung dan memanjat ke bayangan, sepatu tebalnya menginjak wajah sahabatnya.
Kemudian mereka merasa tubuh mereka meninggalkan tanah.
Ketika sesuatu yang memanjang dan dingin membungkus tubuh mereka, Kyungsoo merogoh korek api dari bajunya, menggesekkannya ke pergelangan tangannya yang kurus kering, lalu memucat. Bayangan itu sudah hilang. Mereka terbungkus dalam sulur-sulur pohon elm yang merambat dan mengantarkan mereka naik ke pohon yang sangat besar, lalu memuntahkan mereka ke cabang yang terendah. Keduanya berusaha mengatur napas mereka.
"Kita pulang, sekarang."
Namun cabang pohon itu bergoyang, mengayun ke belakang seperti ketapel, dan menembakkan mereka seperti peluru. Sebelum keduanya sempat berteriak, mereka sudah mendarat di cabang pohon lain. Cabang pohon itu menggulung dan melempar mereka ke cabang berikutnya.
Diping-pong dari cabang pohon ke cabang pohon di atasnya, tubuh kedua gadis itu saling tubruk dan tabrak, baju terkoyak duri dan ranting, wajah mereka membentur dahan yang memantul, sampai akhirnya mencapai dahan pohon tertinggi.
Di puncak pohon elm bertengger sebutir telur hitam raksasa. Telur itu pecah, mencipratkan cairan kental keruh dan amis bersamaan dengan munculnya seekor burung raksasa yang hanya berupa kerangka tulang. Si burung menatap sepasang gadis itu dan melepaskan lengkingan marah.
Kedua cakar burung itu mencengkeram mereka, lalu terbang dari pohon itu. Di sekitar, pepohonan tinggi menyambar mereka ketika burung itu menukik dan naik. Guntur memecah di depan dan mereka pun terlempar dengan kepala lebih dulu ke dalam badai petir yang mengamuk. Halilintar mematahkan pepohonan sehingga roboh ke arah mereka dan mereka pun menutupi wajah untuk menghindari hujan lumpur, mengelak dari sarang laba-laba, sarang lebah, dan ular. Lalu si burung terjun ke tanaman berduri yang mematikan dan kedua gadis itu memucat sambil memejamkan mata, bersiap untuk merasakan sakit–
Kemudian sunyi.
Kyungsoo membuka matanya dan menjumpai sinar matahari. Dia melihat ke bawah dan terkesiap.
"Ternyata benar."
Jauh di bawah mereka, dua kastel tinggi menjulang dan membentang di hutan. Salah satu kastel berkilau bermandikan cahaya matahari berkabut, dengan menara-menara kecil berwarna merah jambu dan biru di atas danau yang berkilauan. Kastel lainnya tampak samar, suram, bergerigi, dan puncak-puncaknya yang tajam menembus awan hitam bagaikan gigi-gigi monster.
Sekolah Kebaikan dan Kejahatan.
Si burung tulang melayang di atas Menara Kebaikan dan melonggarkan cengkeramannya pada Soojung. Kyungsoo memegang erat sahabatnya dengan ketakutan, tetapi dia melihat wajah Soojung yang berseri-seri bahagia.
"Kyungie, aku seorang putri."
Namun si burung malah menjatuhkan Kyungsoo.
Terpana, Soojung mengawasi Kyungsoo terjerembap ke dalam kabut gulau-gula kapas merah jambu. "Tunggu, bukan–"
Burung itu menyambar liar ke arah Menara Kejahatan.
"Tidak! Aku si Baik! Ini keliru!" jerit Soojung.
Lalu tanpa ragu, si burung menjatuhkan Soojung ke dalam kegelapan yang mencekam.
.
.
.
TBC
Haloo. Buat para readers, mau mengingatkan kalau ini bukan murni hasil author yaa. Ini remake dari satu novel. Judul novel aslinya ada di page pertama (intro). Bagi yang suka baca novel fantasi, novelnya recommended banget buat kalian beli dan baca. Dapet banyak moralnya juga loh, hehe.
Thanks for reading! RnR? :)
