Tittle : The Fake
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Other Cast : Temukan sendiri
Genre : Romance, humor
Rate : T
.
.
.
WARN typo bertebaran
.
.
.
Get reading
.
.
.
"Jadi kau ini apa?" Baekhyun bertanya.
Chanyeol mengernyit tidak mengerti dari pertanyaan perem-eh laki-laki didepannya kini.
Mereka sedang duduk dibawah salah satu pohon kering disana. Setelah adu mulut dengan laki-laki yang menuduhnya melakukan pelecehan karena telah memegang tangannya. Seharusnya laki-laki itu sadar bahwa orang yang membawanya kesini seperti sandraan adalah dirinya. Jadi dialah yang telah memegang tangannya. Bukan hanya itu saja bahkan ia juga diancam saat laki-laki itu berganti pakaian. Ia dan Kai disuruh berbalik badan dan tidak boleh bergerak sedikitpun. laki-laki itu terus berbicara selama mengganti pakaiannya, bahkan pelanyannya saja diam sedari tadi. Chanyeol tidak terlalu mengingat apa yang dibicarakannya yang ingat betul laki-laki itu berkata 'berani menoleh kucongkel matamu'. Itu diucapkan berulang kali.
Itu adalah kata-kata yang paling kasar yang ia pernah dengar selama 20 tahun hidupnya. Jangankan berkata kasar bahkan meninggikan suara saja tidak pernah, mereka semua segan terhadapnya. Telinganya juga kebas karena terus mendengar orang itu berbicara menasehatinya tentang kesopanan, menghargai orang lain dan untuk tidak melakukan pelecahan lagi. Apa maksudnya itu.
Kai pengawal pribadinya bahkan sudah beberapa kali mengacungkan pedang kepada laki-laki itu. Dan selanjutnya yang terjadi giliran si pelayan yang berbicara tanpa henti.
"Maksudmu?" Chanyeol bertanya karena ketidakpahamannya atas pertanyaan yang super ambigu tersebut.
"Kau. Kau berasal dari mana? Kau tinggal dimana? Dan kenapa kau melakukan pelecahan padaku? Kau sudah mengincarku sejak lama? Ada orang yang menyuruhmu? Siapa dia?" Baekhyun bertanya beruntun membuat Chanyeol berniat menyumpal bibir tipis itu dengan sepatunya. Apa memang benar jika kau memiliki bibir tipis maka kau akan banyak bicara?
"Untuk pertanyaan pertama dan kedua, aku akan balik bertanya 'kenapa kau ingin tahu sekali?' dan aku tidak pernah ataupun berniat melakukan pelecehan padamu, aku juga tidak mengincarmu mengenal saja tidak, dan terakhir tidak ada orang yang menyuruhku karena aku tidak melakukan hal yang kau tuduhkan" ia menjelaskan dengan berapi-api. Ia sedang kesal sekarang. Wibawanya sebagai seorang putra mahkota yang tenang telah hancur begitu saja.
"Aku sama sekali tidak ingin tahu. Hanya waspada saja"
Kemudian mereka terdiam cukup lama. Baekhyun sibuk memperhatikan Kyungsoo pelayannya dan Chanyeol menatap tanah yang kira lapang tenyata ditumbuhi bunga liar yang sangat cantik.
"Jadi..kau tinggal dimana? Dan apa pekerjaanmu?" akhirnya Baekhyun mengeluarkan suara terlebih dulu dengan bertanya dengan satu pertanyaan yang sama seperti tadi.
"Di istana. Menurutmu" menjawab singkat.
"Mentri:tidak mungkin, panglima:kurang menyakinkan, juru masak:sangat tidak menyakinkan, pelayan:bisa saja, ahh prajurit. Iya kan?" sambil menepuk bangga dadanya. Sedangkan Chanyeol menjawab dengan anggukan malas.
"Namamu?" tanyanya lagi.
" Chan-" ia berhenti.
"Chan~" Baekhyun mengikuti.
"Channeul, Kim Channeul. Aku sepupunya namaya Kim Kai" ia manjawab sambil menunuk Kai yang berada agak jauh dari mereka. Astaga ia hampir keceplosan. Nama Kai sebenarnya bukan nama aslinya. Nama aslinya adalah Kim Jongin. Hanya segelintir orang yang tahu nama lain pengwal pribadinya tersebut.
"Nama kalian aneh. Sama seperti wajah kalian"
Bibirnya mungkin tercipta untuk berujar pedas. Ia sangat pandai membuat emosi seseorang memuncak.
"Kalau kau?" bertanya dengan ketus.
Baekhyun tiba-tiba melototkan mata sipitnya.
"Beraninya kau menanyakan namaku. Aku ini anak seorang menteri dan kau hanya prajurit rendahan. Kau tidak pantas"
"Lalu apasalahnya dengan prajurit. Ia bahkan sangat berjasa untuk kerajaan"
"Kau tahu prajurit itu ibarat anjing penjaga yang mau disuruh-suruh oleh tuannya"
"Hah?" Chanyeol semakin tidak mengaerti kemana arah pembicaraan ini.
" Kau pasti maukan disuruh oleh apapun oleh atasanmu. Bahkan disuruh mati untuknya pun pasti kau mau. Kau berada dibarisan depan saat perang, kau pasti akan mati terlebih dahulu sedang mereka menunggu tapi kau berada dibarisan terakhir saat mendapatkan keuntungan. Benar-benar menyedihkan"
Chanyeol terdiam. Ia mengerti sekarang. Memang benar apa yang dikatakan laki-laki sipit itu. Ia bisa melihat keadilan yang tidak merata disekitarnya.
"Baekhyun" berujar lagi
"Apa?"
"Namaku Byun Baekhyun, aku adalah putra dari mentri Byun Heecul"
"Oh" Baekhyun kesal saat Chanyeol menggapinya dengan singkat. Ia melengoskan pandanganya kearah lain.
"Sepertinya kau tidak menyukai yang berbau kehidupan istana" ia menyimpulkan
"Eum" jawab Baekhyun singkat.
"Rajanya tidak adil" berujar lagi.
"Atas dasar apa kau mengatakan seperti itu. Apa kau pernah bertemu sebelumnya?" ia tidak terima jika ayahnya dikatakan tidak adil. Yang ia tahu ayahnya adalah orang yang dermawan dengan kerap memberikan batuan agar hidup rakyatnya tercukupi.
"Kau hanya melihat sekilas. Dan itu tidak bisa dijadikan kesimpulan. Masih banyak rakyat diluaran sana yang mati kelaparan hanya karena haknya diambil oleh yang lebih berkuasa" menjelaskan apa yang ia tahu.
Chanyeol kembali terdiam. Benarkah yang Baekhyun katakan. Selama ini ia memang hanya memantau tapi tidak melihat lebih jelas dan masuk kedalamnya. Seburuk itukah.
"Jangan dipikirkan. Pikirkan saja kau akan disuruh apa nanti" Baekhyun tersenyum. Senyum iu membuat Chanyeol tidak berkedip sesaat.
"Apakah kau benar-benar parnah bertemu raja?" Chanyeol bertanya. Sedang Baekhyun hanya mengangguk malas sebagai jawaban.
"Benarkah. Kapan itu?"
"Sekali. Saat aku masih kecil. Jangan bertanya lagi tentang itu ada kejadian buruk yang membuatku enggan masuk istana setelahnya" ia berujar datar.
Kepala mereka mendongak saat melihat banyak cahaya kuning diantara langit malam. Itu adalah lampion. Sepertinya mereka mulai menerbangkan lampion-lampion itu.
Chanyeol menoleh dan melihat Baekhyun mendongak dengan kedua sudut bibir tertarik keatas.
"Kau juga ingin membuat permohonan?" bertanya kembali. Pada bagian bawah lampion itu memang digantungkan kertas yang telah ditulis harapan oleh penerbang lampion dengan alasan doanya akan cepat terkabul.
Baekhyun menggeleng pelan dan kepala yang masih mendongak.
"Tidak. Jika kau bersungguh-sungguh baik itu dalam bekerja dan berdoa setelahnya pasti keinginginanmu terkabul. Aku hanya suka memandangnya. Bukankah mereka indah?" Tanya Baekhyun dengan telunjuk yang terangkat keatas.
Chanyeol tersenyum tipis sebagai jawaban. Baekhyun tak seburuk kelihatannya.
.
.
.
.
"Eomma" Baekhyun merengek
Kyungsoo yang disampingnya hanya memberi isyarat untuk tidak bicara. Tapi Baekhyun tidak mau mendengarkan.
"Tanganku kram. Seperti ada ribuan semut berjalan dan mengigit diatasnya. Bahuku juga terasa panas. Mungkin aku akan sakit" berkata dengan puppy eyes jurus andalannya.
Baekhyun –tidak Kyungsoo juga- mereka sedang dihukum karena ibunya tahu mereka keluar hingga larut malam. Sebenarnya kedua orang tuanya baru pulang tadi pagi tapi entah mendapat informasi dari mana tiba-tiba saja ibunya datang mengomelinya dan berakhir dengan hukuman.
"Baekhyun kau itu laki-laki, jangan merengek seperti itu" ibunya berujar tegas.
Baekhyun menggerutu pelan. Tangannya benar-benar keram karena harus menopang sebuah mangkuk –tidak terlalu besar- berisi air sejajar dengan bahunya sejak satu jam yang lalu. Bahunya juga terasa panas.
"Ya sudah turunkan tanganmu dan kau juga Kyungsoo" ucapan ibunya membuat ia tersenyum lebar.
"Sekarang pindahkan air dalam sumur itu kedalam bak didalam rumah. Ingat harus sampai penuh. Setelah itu kita makan bersama"
"Eommaaa" Baekhyun merengek lagi. Demi tuhan bak mandi dirumahnya itu besar. Sangat.
Baekhyun bisa melihat Kyungsoo mengepalkan tangannya keudara dan bergumam 'semangat' untuknya. Apa-apaan itu.
"Kyungsoo kau juga ikut membantu" suara Ibunya dari dalam rumah membuatnya bersorak senang. Tapi tak lama kemudian cemberut lagi saat mengingat hukumannya.
.
.
.
.
"Yang mulia apakah anda baik-baik saja"
Chanyeol segera tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Yejin tunangannya bertanya. Mereka sedang makan siang berdua saat ini, salahkan saja ibunya yang benar-benar keinginannya tidak mau ditolak.
"Aku baik" dengan tersenyum demi kesopanan. Ia sebenarnya sejak tadi masih memikirkan kata-kata Baekhyun tentang rakyatnya semalam. Ia berfikir kenapa hal itu bisa sampai terjadi.
"Aku mengucapkan selamat atas pengangkatan anda sebagai raja yang mulia" Yejin berujar lagi.
"Belum. Aku masih putra mahkota Yejin-ah"
Ia harus merelakan waktunya hingga beberapa jam kedepan untuk menemani Yejin dan segala obrolan yang membosankan. Ia berdecal kesal.
.
.
.
.
"APA?" nasi itu beberapa butir keluar saking lebarnya mulutnya terbuka.
"Tapi aku masih kecil" Baekhyun berujar lagi. Ini bukan tentang Baekhyun yang tiba-tiba akan segera dinikahkan. Baekhyun berteriak karena sang ayah memintanya untuk menjadi guru pangeran yang ia tahu lebih tua darinya. Ia masih 16 ingat.
"Apanya yang kecil. Kau bahkan sudah berani membangkang appa dengan tetap keluar dimalam hari. Ini bukan masalah besar Baekhyun. Kau hanya perlu mengajari apa yang kau tahu kepada pangeran. Appa juga tidak pernah meragukan kepintaran keturunan appa "
"Tapi ia lebih tua dari pada aku appa" Baekhyun merengek. Sepertinya itu sudah jadi kebiasaan.
"Hanya setahun. Dan jangan perlihatkan rengekanmu bayimu" ibunya kali ini yang berbicara.
"Ia membutuhkan perhatian lebih Baekhyun dan appa yakin kau bisa melakukan itu"
Membutuhkan perhatian lebih bukan berarti pangeran memiliki gangguan mental tapi lebih kepada pembangkang. Mirip juga sepertinya sih.
"Kau juga akan tinggal disana" ujar Ibunya
"Eom-"
"Bersama Kyungsoo juga. Jadi tenanglah dan tidak perlu merengek lagi tentang kesepian jika disana nanti" ucapnya final.
.
.
.
.
Sepanjang jalan tidak ada henti-hentinya bibir itu bergerak. Menggerutu, berdecak dan mengumpat. Tidak lupa kakinya menendang batu-batu kerikil yang dijumpainya. Ia kesal atas keputusan sepihak tadi.
"Aishh" mendesis sakit saat merasakan nyeri pada ujung jari kakinya akibat tumbukan batu.
Ia berdecak dengan kedua tangan masing-masing dipinggang. Mata sipit itu memandang kedepan.
'Eohh bukakah itu Channeul dan sepupunya' ujar dalam hati.
"Hei tuan prajurit!" panggilnya.
"Kim Channeul!" memanggilnya lagi saat tidak mendapat respon
"Channeul pabo!" akhirnya ia menoleh juga.
.
.
.
.
"Kemana pelayanmu?" Chanyeol bertanya saat melihat sedari tadi Baekhyun sendiri. Mereka sedang berada ditempat mereka bertemu kemarin malam ngomong-ngomong.
"Tidak ada"
"Apa yang bisa dilakukan anak manja sepertimu tanpa pelayan?"
Baekhyun menyipitkan matanya mendengar pertanyaan itu. Ia tidak mau bertambah kesal.
"Jangan memulai, aku sedang kesal saat ini" ujarnya dengan nada mengancam.
Chanyeol menanggapinya dengan kekehan. Mengobrol dengan Baekhyun lebih menyenangkan dibandingkan dengan Yejin.
"Ngomong-ngomong sebagai prajurit kau cukup santai juga" Baekhyun berujar karena melihat Chanyeol yang sepertinya bisa keluar istana kapanpun ia mau.
"Tidak juga. Kami sedang tidak ada tugas" jawabnya
"Channeul-ah apa Kai benar-benar sepupumu?"
"Ten..tu saja" ia gelagapan. Apakah Baekhyun mulai mencurigai kebohongannya.
"Ia terlihat seperti pengawalmu dibandingkan sepupu" berujar sambil melihat Kai yang berdiri tidak jauh dari mereka dengan berdiri tegap seperti patung jangan lupakan pendang yang selalu dibawanya itu.
"Dia memang seperti itu. Jangan difikirkan. Oh ya Baekhyun apakah kau akan mengahadiri penobatan raja nanti?" ia harus mengalihkan pembicaraan.
"Eum aku dan keluargaku pasti datang"
Chanyeol terdiam mendengar ucapan Baekhyun. Jika Baekhyun datang berarti ia pasti akan melihatnya bukan.
Tbc.
