Pagi itu Baekhyun duduk di sebuah lorong rumah sakit. Dia sedang menunggu Kyungsoo yang sedang berada di ruangan Hwang Miyoung, sepupunya. Kali ini dia merasa gugup layaknya akan menerima rapor sekolah.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, keluarlah Kyungsoo dengan wajah yang ditekuk dan langkah yang gontai. Melihat keadaan sahabatnya yang seperti itu, Baekhyun sudah menebak apa yang terjadi.

"Apa aku akan punya keponakan?" tanya Baekhyun dengan polosnya.

"Bisa tidak menggunakan pertanyaan lain?" ucap Kyungsoo dengan tatapan tajam.

"Mian, unnie. By the way, congratulation!" seru Baekhyun sambil memeluk tubuh lemas Kyungsoo.

"Baekhyun-ah, apa menurutmu ini hal yang perlu dirayakan?" tanya Kyungsoo geram sambil memukul kepala Baekhyun.

Dengan senyum manisnya, Baekhyun berkata, "Unnie, anak ini tidak berdosa. Kau dan Jongin saja yang bodoh. Bukan, bukan bodoh. Tapi ceroboh."

"Aku harus bagaimana, huh?"

"Besarkan dia, unnie-ya. Jika kau tidak bisa membesarkannya, biar aku dan Chanyeol oppa yang merawatnya. Bagaimana?" tawar Baekhyun.

"Apa aku harus membesarkan dia tanpa ayah?"

"Minta saja Jongin menikahimu." Jawab Baekhyun enteng.

"YA! Kau ini selalu menjawab sekenanya!"

"Coba minta dia bertanggung jawab atas anak ini. Jika tidak mau… ya harus bagaimana lagi? Toh anak ini hadir karena ketidak sengajaan. Iya kan?"

Kyungsoo hanya bisa mengangguk mendengar penjelasan sahabatnya itu. Pikiran-pikiran yang aneh muncul dan berterbangan di dalam otaknya.

Melihat tatapan Kyungsoo yang kosong, tiba-tiba Baekhyun berkata, "Unnie-ya, apa kau mau aku carikan teman kencan buta?"

"BYUN BAEKHYUN!"


"Jaga kesehatanmu, Soo-ya." Ucap Chanyeol yang mendampinginya ketika tiba di kantor.

"Yeol-ah, apa menurutmu ini agak konyol? Maksudku, bagaimana bisa seorang wanita yang selama ini dianggap baik-baik, harus bernasib begini? Huh?"

"Jujur… kau ceroboh. Kau bahkan tidak bisa minum alkohol, kenapa malam itu harus ke club?"

"Kau tahu hari itu Donghae oppa mencampakkan aku. Bahkan dihadapanku dia membawa wanita lain. Padahal dia tahu bagaimana perasaanku padanya. Dan satu lagi, hari itu adalah hari dimana CEO menolak semua desain konser yang aku tawarkan. Aku tidak punya pilihan, Yeol-ah. Aku benar-benar merasa gila hari itu." Ujar Kyungsoo dengan wajah yang memelas.

"Baiklah, alasan itu bisa diterima. Tapi kalau begini? Kau harus menanggungnya sendiri bukan? Bahkan kau tidak tahu bagaimana sifat Jongin yang sebenarnya. Dia masih baru seminggu bekerja disini."

Kyungsoo yang sedari tadi berjalan dengan wajah tertekuk hanya bisa bergumam tidak jelas. Dia merasa sangat gagal dalam melakukan semua hal. Bahkan pada kehidupan pribadinya sendiri.

"Sudahlah Kyungsoo-ya. Mulai sekarang kau juga harus mengontrol pola makanmu, itu pasti. Aku dan Baekhyun akan mengawasimu. Kau harus menuruti apa yang kami katakan. Kau mengerti?" perintah Chanyeol.

"Kenapa kalian sekarang bersikap seperti abeoji dan eomma ku?" tanya Kyungsoo dengan wajah yang cemberut.

"Karena sikapmu yang ceroboh itu, bahkan melebihi Baekhyun. Oh iya, aku akan berusaha membuat Jongin tahu akan keadaanmu. Bagaimanapun juga, seorang ayah berhak tahu akan kehadiran anaknya."

Mendengar penjelasan Chanyeol, Kyungsoo membelalakkan matanya, "NO! Jangan!"

Chanyeol hanya memberikan tatapan penuh tanya, "I mean, dia tidak perlu tahu. Aku bisa membesarkannya sendiri. Atau, mungkin dia bisa tahu suatu saat nanti."

"Kau ini, selalu mengorbankan dirimu sendiri. Sudahlah, biar aku dan Baekhyun yang menyelesaikan semuanya. Sekarang kau pergi ke cubicle-mu. Lihat, sudah ada yang menunggu disana."

"Si-siapa?" Jawab Kyungsoo gugup.

"Sampaikan salamku pada Jongin appa~" goda Chanyeol yang setelah itu bergegas pergi menuju ruangannya.

Kyungsoo yang mendengar jawaban itu langsung memberikan death glare-nya kepada Chanyeol. Kemudian dengan langkah kecil dan serba ragu-ragu, Kyungsoo mendekati cubicle miliknya. Disana terlihat Jongin sedang duduk diatas meja kerja Kyungsoo.

"Ah, noona! Morning!" sapa Jongin dengan cerianya.

"Pagi juga, Jongin-ah." Balas Kyungsoo dengan senyum kikuknya.

"Noona, aku sudah menyiapkanmu sarapan pagi ini. Ada susu coklat juga untukmu. Aku takut jika kau tidak minum kopi di pagi hari, makanya aku hanya bisa membawakanmu susu. Tak apa, kan?"

"Terima kasih, Jongin-ah. Kau tidak perlu serepot ini." jawab Kyungsoo sambil mendudukan diri di kursi kerjanya.

Jongin yang berada dihadapannya hanya tersenyum melihat sikap Kyungsoo yang serba gugup. 'Aih, wanita ini pasti mudah untuk didapatkan. Dia terlalu polos untuk menaruh kecurigaannya kepadaku.' Batin Jongin dibarengi devilish smile-nya.

"Makanlah, noona. Aku akan menungguimu sarapan disini."

"Kau tidak perlu menungguiku, Jongin-ah. Kau bisa menyelesaikan apa yang sedang kau kerjakan." Jawab Kyungsoo sambil membuka kotak makan yang diberikan Jongin padanya.

"Belum ada yang harus ku kerjakan, noona. Kau tahu sendiri apa yang harus dikerjakan intern, bukan? Hanya melakukan apa yang disuruhkan pegawai-pegawai senior disini." Keluh Jongin.

Kyungsoo hanya memperhatikan apa yang Jongin katakan dengan diam. Dia berusaha melahap semua makanan yang ada dihadapannya. Berusaha. Dia sebenarnya ingin memuntahkan makanan itu. Entah mengapa dia ingin memuntahkannya. Ah, ternyata ada mentimun disana. Padahal biasanya dia memakan apapun yang ada dihadapannya.

"Noona, bagaimana makanannya? Enak?" tanya Jongin.

Kyungsoo hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan. Dia benar-benar berusaha untuk tidak memuntahkan mentimun yang ada pada kimbap tersebut.

"Kau bisa menghabiskannya, noona-ya." Kata Jongin yang tiba-tiba mengusap rambut Kyungsoo perlahan.

Mendapatkan perlakuan itu, Kyungsoo merasa gugup. Dan kegugupan itulah yang membuat makanan itu kembali keluar. Dengan segera dia berlari menuju kamar mandi dan tidak memperdulikan Jongin yang terkejut melihat apa yang Kyungsoo lakukan. Kemudian Jongin mengikuti kemana Kyungsoo pergi dan menunggunya di depan pintu kamar mandi tersebut.

Ketika Kyungsoo keluar, Jongin segera menghampirinya dan memburu dengan banyak pertanyaan, "Noona, kau kenapa? Apa kau sakit? Apa gara-gara makanan tadi?"

"Aku tidak apa-apa Jongin-ah. Sepertinya perutku sedikit bermasalah."

"Kau serius, noona? Kau terlihat pucat sekarang. Apa perlu aku antarkan ke dokter?"

"Ani, aku baik-baik saja, Jongin-ah."

"Apa perlu aku belikan makanan yang lain? Maafkan aku noona-ya." Jawab Jongin dengan wajah yang bersalah.

"Ini bukan salahmu, Jongin-ah. Memang perutku bermasalah sejak semalam." Ujar Kyungsoo sambil berjalan menuju meja kerjanya lagi.

"Aku ambilkan teh ya, noona. Tunggu disini! Jangan pergi!" ucap Jongin yang segera berlari menuju pantry.

"Tidak perlu,-" Belum selesai Kyungsoo berbicara, Jongin sudah pergi entah kemana.

Di perjalanannya menuju pantry, Jongin bergumam sendiri. Sedikit ada rasa bersalah padanya. Bukan sedikit, tapi banyak. Dia merasa sangat bersalah sekarang.

"Ada apa dengan dia? Kenapa dia tidak bilang kalau dia tidak suka dengan kimbap? Atau dia sedang sakit? Apa aku yang menyebabkan dia sakit? Tapi itu bukan salahku, kan? Tapi kasihan sekali dia. Apalagi wajahnya pucat begitu. Tapi benar kan kalau itu bukan aku penyebabnya?" tanya Jongin meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu bukan salahnya.

Setelah mendapatkan teh hangat untuk Kyungsoo, Jongin kembali menuju ke meja kerja Kyungsoo. Tapi Jongin mendadak terkejut ketika melihat Kyungsoo bersama seseorang. Dan yang membuat Jongin lebih terkejut adalah, ketika orang tersebut mengelus pucuk kepala Kyungsoo dan mengusap pipinya lembut.

'Ketua tim? Apa noona berkencan dengannya? Dia terlihat sangat peduli dengan noona. Bahkan dia bisa melakukan hal tersebut. Apa-apaan dia! Bisa-bisanya berkencan di jam kerja seperti ini! Apa ketua tim itu tidak bisa menjaga harga dirinya sendiri di kantor?' batin Jongin.

"Selamat pagi, ketua tim." Sapa Jongin sambil tersenyum. "Noona, ini teh hangatnya. Semoga kau lebih baik nanti. Ini sebagai permintaan maafku juga. Hmm… maaf juga jika mengganggu, sebaiknya aku segera kembali ke meja kerjaku. Permisi, ketua tim, Kyungsoo noona." Ucap Jongin seraya pergi meninggalkan Chanyeol dan Kyungsoo.

"Terima kasih, Jongin-ah!" Seru Kyungsoo dengan suara kerasnya.

Mendengar percakapan mereka, Chanyeol berkata, "Noo… na? Wow! Progress hubungan kalian cepat sekali, Soo-ya!"

"YA! Kau! Dia yang memintaku untuk melepas keformalan kami. Makanya dia memanggilku noona."

"Ah~ Jongin appa sepertinya merasakan kehadiran anaknya." Goda Chanyeol.

"Bisa tidak kau berhenti menggodaku? Aku muak mendengar tawamu, Chanyeol-ah!" gertak Kyungsoo.

Dengan wajah yang terkejut, Chanyeol menjawab, "Maafkan aku, Kyungsoo-ya. Nampaknya hormonmu mempengaruhi emosimu akhir-akhir ini. Kau lebih sensitif sekarang."

"Apakah begitu? Maafkan aku, Yeol-ah… aku tidak bermaksud untuk bersikap begini."

"Tak apa, Soo-ya. Aku bisa memaklumi itu. Lagipula, anak ini mau tak mau juga menjadi salah satu tanggung jawabku sekarang." Jawab Chanyeol sambil mencubit pipi chubby Kyungsoo.

"ANAK?!" tiba-tiba terdengar suara dari belakang mereka.

Dengan wajah yang terkejut, kedua orang itu menoleh dan melihat seseorang sedang menguping pembicaraan mereka. Dia menatap kedua orang tersebut dengan mata yang membulat. Ketika dia sadar bahwa kedua orang tersebut mengetahui keberadaannya, dia segera pergi untuk melarikan diri.

"Well, sepertinya aku harus berbicara dengannya. Apa jadinya kalau dia berpikir kalau ini anakku, huh?"

"Kenapa ini begitu rumit, Yeol-ah…" jawab Kyungsoo sambil menundukkan kepalanya lemas.

"Setidaknya hanya dia yang mendengar dan menguping pembicaraan kita. Untung saja yang lain sedang sibuk dan entah dimana. Lain kali aku akan lebih hati-hati ketika membicarakan hal ini."

"Kau memang harus melakukan itu dari awal, Park Chanyeol. Kau membuat masalah ini lebih tidak karuan!" kata Kyungsoo sambil mengacak-acak rambutnya yang tergerai.

"Tenanglah. Kau jangan memikirkan hal ini. Jangan membuat dirimu stress. Serahkan hal ini padaku!" Ujar Chanyeol seraya mengangkat kepalan tangannya.

"Baiklah, aku menyerahkan padamu, Park Chanyeol."

Hope you will be stronger, Do Kyungsoo.

.

TBC.