Love Me Right

Cast :

Jung Hoseok

Kim Taehyung

Jeon Jungkook

Park Jimin

Cameo :

Oh Sehun

Zhang Yixig

Do Kyungsoo

Genre : Romance, angst, hurt/comfort.

Rate : T

Boys Love, Yaoi, Shounen ai, OOC, typo

.

.

.

Hana

Dul

Set

.

.

.

Happy reading

.

.

.

Dinginnya udara AC di dalam kamar bercat putih membangunkan seorang namja tampan yang sedang terlelap di atas ranjang empuknya.

"Eunghh…"

Heosok membuka matanya perlahan, ia mencoba mengangkat sedikit kepalanya, namun sakit yang ia dapatkan. Tubuhnya kedinginan, ia terkejut saat mendapatkan tubuhnya telanjang bersama Taehyung yang memeluknya. Bau sperma dan keringat memasuki indra penciumannya. Hosoek menengok kearah Taehyung yang tidur dalam pelukannya, sepertinya namja cantik itu tidak merasa terganggu sedikitpun meski Hoseok menggerakan tubuhnya sedikit. Ia terus memperhatikan wajah polos Taehyung yang terlelap. 'cantik' batin Hoseok. Bibirnya melengkung keatas saat matanya memperhatikan pahatan wajah Taehyung.

Deg !

Jantungnya berdegup kencang. Ia merasakan sensasi aneh saat melihat wajah Taehyung yang sedang terlelap. Namun ia segera menggelengkan kepalanya saat wajah Jungkook terlintas di otaknya. Hoseok melepas pelukan Taehyung pelan agar Taehyung tidak bangun dari tidurnya. Hoseok menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Memungut pakaiannya yang berceceran di lantai lalu keluar dari kamar itu meninggalkan Taehyung sendirian dan bersiap-siap pergi ke kantornya.

.

Cahaya matahari pagi masuk melalui celah gordyn di kamar bercat putih itu. Membangunkan seorang namja cantik yang tidur cukup nyenyak semalam.

"Eughh…"

Taehyung menutup wajah cantiknya menggunakan punggung tangannya menghindari cahanya matahari yang mengganggu tidurnya. Taehyung menyadari bahwa kini disebelahnya telah kosong. Bau sperma dan keringat menyapa indra penciumannya. Taehyung merasakan bagian bawahnya nyeri dan sakit, ia bangkit dari tidurnya dan mendudukan dirinya di kepala ranjang dengan keadaan menyender. Ia menyingkap selimutnya. Matanya membulat sempurna saat ia melihat cukup banyak cairan sperma yang mulai mengering dan juga adanya bercak darah.

Tes

Tes

Tes

Air mata lolos dari mata sipitnya dan turun melewati pipinya. Ia menekuk lututnya, tak peduli jika holenya masih sakit. Otaknya memutar kejadian tadi malam saat Hoseok memperkosanya dalam keadaan mabuk dan mendesahkan nama orang lain di sela kegiatan mereka diatas ranjang dan juga saat suaminya mencapai puncak.

Taehyung menagis menumpahkan air matanya yang selama ini ia tahan terus menerus. Taehyung turun dari ranjang dan memungut pakaiannya yang berada di lantai. Kaki jenjangnya melangkah menuju kamar mandi. Taehyung menyalakan shower dan berdiri di bawah shower yang mengalir air hangat itu. Kadang ia juga meringis saat holenya terkena air hangat yang mengalir dari shower.

Ia memegang perutnya, perasaan takut mulai muncul di benaknya. Taehyung merupakan namja spesial, ia memiliki Rahim dan bisa mengandung serta melahirkan layaknya yeoja. Taehyung takut jika salah satu sperma Hoseok bisa menembus rahimnya dan tumbuh janin di dalam perutnya. Taehyung takut jika Hoseok tidak mempercayainya dan malah menceraikannya atau lebih parahnya lagi menyuruhnya menggugurkannya. Apalagi Hoseok tidak pernah mencintainya.

Taehyung memeluk perutnya erat. Air matanya kembali turun bersamaan dengan air shower yang jatuh membasahi wajah dan seluruh tubuhnya. Taehyung berjanji jika dirinya hamil, ia akan menjaga bayinya meskipun Hoseok pergi meninggalkannya.

.

Jungkook meletakkan makanan yang dimasaknya untuk sarapan pagi bersama Jimin di atas meja makan. Tubuh mungilnya yang terbalut apron berwarna biru muda menambah kesan manis dalam dirinya. Setiap pagi Jungkook selalu membuat sarapan untuk mereka berdua. Awalnya Jimin ingin memakai jasa pembantu rumah tangga untuk memasak dan membereskan apartemennya, namun Jungkook menolaknya. Tak lama kemudian Jimin keluar dari kamarnya dengan penampilan rapi khas kantornya.

"Selamat pagi Hyung." Sapa Jungkook pada Jimin yang mendudukan dirinya di kursi. Tak lupa senyum manis di wajahnya yang selalu membuat Jimin terpesona pada namja mungil itu.

"Selamat pagi Kookie." Jawab Jimin ceria.

Pagi ini Jungkook membuat roti panggang dengan selai coklat yang menjadi isinya. Serta satu gelas susu untuknya dan segelas teh untuk Jimin. Jungkook selalu bangun pagi untuk menyiapkan sarapan. Tak lupa juga dirinya mandi sebelum meyiapkan sarapannya.

Jimin dan Jungkook makan dengan tenang. Hanya suara mulut yang sedang mengunyah, mereka makan dengan tenang. Jimin selalu menyukai apa yang Jungkook masak. Setelah selesai mereka bersiap-siap untuk mengawali aktifitas mereka sehari-hari.

"Apa kau mau aku antar Kook ah ?"

"Tidak usah hyung aku bisa sendiri. Lagipula jarak dari kafe ke kantor cukup jauh." Ujar Jungkook santai.

"Tidak kau akan berangkat bersama ku. Kajja kita sudah telat." Jimin menarik tangan Jungkook yang sedang mengunci apartemen.

Yang ditarik tangannya hanya bisa mendesah pasrah. Mulai hari ini dan seterusnya Jimin akan mengantar dan menjemput Jungkook di kafe, sejak kemarin malam Jungkook menceritakan pada dirinya bahwa dia bertemu lagi dengan Hoseok di kafe perasaan takut dan khawatir muncul di benaknya. Takut jika mereka akan menjalin hubungan kembali, meski kini Hoseok telah menikah namun itu semua tak menjamin . Jungkook mengatakan bahwa Hoseok tidak mencintai istrinya sama sekali dan khawatir jika Jungkook disakiti lagi oleh Hoseok. Namun Jimin menutupinya dengan berkata bahwa ia tidak suka dengan Hoseok. Jungkook yang mendengarnya hanya setuju saja, ia juga pernah merasakan seperti Jimin dan Jungkook juga tidak mau sahabatnya kembali menjalin hubungan dengan kekasihnya dulu.

Selama perjalanan tidak ada yang membuka mulut untuk mengawali obrolan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiga puluh kemudian mobil Jimin telah berhenti di depan kafe tempat Jungkook bekerja.

"Kabari aku jika kau sudah pulang. Arrachi ?"

"Nde.. hyung."

Jungkook menutup pintu mobil dan melangkah memasuki kafe. Jimin segera menjalankan mobilnya meninggalkan kafe menuju kantornya.

Ceklek…

"Selamat pagi semua." Sapa Jungkook pada Sehun dan Kyungsoo yang sedang merapikan kursi dan meja kafe yang berantakan. Kafe akan buka sepuluh menit lagi.

"selamat pagi Kookie." Jawab Kyungsoo tak kalah cerianya dari Jungkook.

Jungkook segera masuk menuju ruang ganti karyawan, namun langkahnya terhenti saat Sehun memanggilnya.

"Kook ah."

"Ne hyung. Wae ?" Jungkook memutar badannya dan berjalan kearah Sehun.

"Ada seseorang yang ingin bertemu dengamu."

"Seseorang ? nugu ya ? apa itu Jongin sajangnim ?" Tanya Jungkook menebak-nebak.

Sehun menggelengkan kepalanya. "Ani, maldo andwae.. itu orangnya." Tangannya menunjuk pada sosok namja yang memakai hoodie berwarna abu-abu serta kupluk dikepalanya. Namja itu duduk membelakangi Sehun, Jungkook,dan Kyungsoo menatap kearah luar jendela.

Jungkook mengerutkan dahinya, ia merasa familiar pada sosok namja didepannya.

"Ya.. terima kasih hyung." Jungkook menundukan kepalanya sebagai rasa hormat pada orang yang lebih tua darinya.

Kaki mungilnya berjalan mendekat kearah orang itu. Ia mengulurkan memegang pundak orang tersebut. Mata Jungkook terbelalak saat orang itu membalikan badannya dan menampakan wajahnya didepan Jungkook.

"Ho… Hoseok hyung. Se.. sedang apa kau disini ?"

Hoseok tersenyum, matanya memandang rindu pada sosok namja mungil didepannya.

"tentu saja mencarimu chagi." Jawab Jungkook santai.

Hoseok menarik tangan Jungkook dan menariknya menuju kursi. "Kita harus bicara Kookie. Aku akan menjelaskan semuanya."

Jungkook hanya mengikuti Hoseok, dirinya bagai terhipnotis saat ini. Hoseok menjelaskan semuanya pada Jungkook. Mulai dari pernikahan paksanya dengan Taehyung, tentang ia yang tidak pernah sama sekali mencintai Taehyung, serta dirinya yang akan segera menceraikan Taehyung jika Jungkook bersedia menjadi kekasihnya lagi.

"Aku mohon Kookie kembalilah padaku. Aku akan menikahimu dan aku akan membawamu pergi jauh dari Seoul. Kita akan hidup bersama sampai kita mati. Aku merindukanmu Kookie dan aku juga masih tetap mencintaimu." Hoseok mencium punggung tangan Jungkook lembut. Jungkook menangis, ia sangat terharu pada kata-kata Hoseok barusan.

Ingin rasanya mulutnya berkata 'tidak', tapi hatinya terus berteriak bahwa ia sangat merindukan dan masih mencintai Hoseok.

"Ya.. ya hyung ak… aku mau. Aku.. aku juga masih mencintaimu." Ucap Jungkook final. Ia tak peduli jika Hoseok sudah menikah, ia tidak peduli jika nantinya Jimin akan marah, ia tak peduli jika nanti banyak cobaan yang lebih besar mendekati dirinya dan Hoseok. Asal Hoseok terus berada disampingnya semua akan terasa ringan.

Dari luar kafe terdapat orang suruhan Taehyung yang sedang bersembunyi di balik pohon dan mengabadikan momen Hoseok yang sedang merayu Jungkook untuk kembali padanya dengan kamera poselnya dan mengirim kepada Taehyung.

.

Drtt..

Drtt..

Taehyung membuka ponselnya. Matanya membulat saat melihat sebuah foto yang dikirim orang suruhannya beberapa menit yang lalu.

[Subete for you~ kotae nante~

Naku te i subete wa kimi no egao no naka ni aru

Choose~ hanarate ita mo kokoro doko koro wa tsunagatte ini forever kimi tto

Hira hirama (hana bira no shower)

Kira kira ma (taiyou mo naka)

Boku wa dakishimate iru mune no naka da kimi wo zutto

Hira hira ma (hana bira no shower)

Kira kira ma taiyou no shita de zutto futari wa donna toki mo tsunakatte iru kara ne daijoubu.]

Taehyung menggeser tombol hijau kekanan.

"Yeobosaeyo.."

'Yeobosaeyo sajangnim. Saya sudah mengirim fotonya dan apakah sajangnim ingin saya mencelakai orang itu?'tanya seseorang diseberang sana.

"Tidak perlu, kau hanya perlu mengikuti dia dan namja itu kemanapun mereka pergi. Soal bayaran aku akan mentransfer ke rekeningmu siang ini."

'Baik sajangnim. Saya akan menjalankan apa yang anda perintahkan.'

Piip..

Taehyung menutup teleponnya. Meletakkan ponselnya di samping tubuhnya.

Tes

Tes

Tes

Dirinya kembali menangis. Taehyung meraih foto pernikahan dirinya dan Hoseok yang berada di samping meja nakas sofa. Mengusap foto Hoseok dengan sayang.

"hikss.. hikss…" air matanya menetes tepat difoto Hoseok. Taehyung memeluk foto pernikahannya yang berukuran sedang dengan erat.

Taehyung benar-benar tidak siap jika ia Hoseok menceraikannya, ia bertekad untuk membuat Hoseok 'melihat'nya meski ia tau ini sulit dan akan memakan waktu lama. Taehyung tidak peduli ia akan terus menunggu hingga ia benar-benar lelah.

.

Satu bulan kemudian…

Sudah terhitung satu bulan Hoseok dan Jungkook menjalin hubungan dibelakang Taehyung dan Hoseok juga mulai jarang pulang ke rumah. Taehyung jugamasih terus mengikuti dan memantau mereka dari jauh, entah itu ia sendiri yang memantau atau menyuruh orang suruhannya untuk memantau suami dan selingkuhannya. Jungkook juga telah menceritakan hubungannya dengan Hoseok pada Jimin. Awalnya Jimin sempat kecewa dan marah dengan Jungkook. Namun Jimin tidak bisa memaksa sahabatnya meski ia menyukai…. Tidak lebih tepatnya Jimin telah mencintai sahabatnya itu. Yang terpenting bagi Jimin sekarang ialah bisa melihat orang yang dicintainya tersenyum dan bahagia meski semua itu bukan untuk dirinya. Kekhawatirannya benar-benar terjadi.

Seperti saat ini, Taehyung bersembunyi di balik pohon besar memantau dua namja yang tengah duduk di depan pohon dengan mesra. Jungkook melingkarkan tangannya kepinggang Hoseok dengan mesra yang dibalas oleh Hoseok dengan merangkul mesra Jungkook. Taehyung yang melihatnya berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.

"Hyung." Panggil Jungkook lembut

"Hmm… wae chagi ?"

"Apa kau mencintaiku.?"

"Ya tentu saja aku mencintaimu."

"Lalu kapan kau akan menikahiku hyung?" Jungkook mendongakan kepalanya menatap wajah tampan Hoseok dalam.

Hoseok yang mendengarnya sedikit terkejut. Ia mengecup puncak kepala Jungkook dengan sayang untuk menutupi kegugupannya.

"Secepatnya Kookie. Aku akan segera menceraikan Taehyung dan menikah dengamu."

"Jinjja ?"

Hoseok tersenyum dan mengecup bibir Jungkook lembut. Jungkook menutup matanya saat Hoseok mulai melumat bibir mungilnya seraya membuka mulutnya agar lidah Hoseok lebih leluasa menjelajahi isi mulutnya.

Tes

Tes

Tes

Lagi lagi Taehyung menagis saat melihat adegan didepannya. Air matanya benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Ia benar-benar sudah lelah dengan semuanya. Taehyung membalikan badannya dan pergi dari situ. Tak peduli dengan beberapa pasang mata yang memandangnya heran dan bertanya-tanya. Taehyung segera memberhentikan taksi dan menyebutkan alamat rumahnya pada supir taksi itu.

.

Taehyung memasuki rumahnya dengan langkah gontai. Ia merasa bahwa akhir-akhir ini tubuhnya sering cepat lelah, kepalanya terasa pusing dan sering kali mual dan muntah di pagi hari. Taehyung mendudukan dirinya diatas sofa empuknya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Baru lima menit Taehyung beristirahat, tiba-tiba saja ia merasa perutnya seperti diaduk-aduk dan seperti ingin mengeluarkan sesuatu. Taehyung segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.

"Huwekk… huwekk… huwekk…"

Taehyung memegang perutnya dan mendudukan tubuh lemasnya di closet kamar madi. Ia segera merogoh kantung celananya. Mengeluarkan ponselnya untuk menelpon dokter keluarga.

.

"Taehyung ssi apa keluhanmu ?" Tanya dokter Yixing pada Taehyung yang sedang berbaring di ranjangnya.

"Aku merasa akhir-akhir ini tubuhku sering terasa lelah dan juga aku sering mual muntah setiap pagi."

Yixing hanya menganggukan kepalanya dan mulai mengambil stetoskop di tasnya untuk memeriksa Taehyung. Untuk lebih memperjelas lagi Yixing memeriksa nadi Taehyung agar ia tidak salah. Taehyung mengerutkan dahinya bingung saat melihat dokter itu tersenyum.

"Apa aku tidak mengidap penyakit berbahaya dok.?" Tanya Taehyung ragu pada Yixing. Yang ditatap malah tersenyum sehingga lesung pipi nya makin kentara.

"Ani.. Taehyung ssi kau sehat-sehat saja"

"lalu mengapa dokter terus tersenyum seperti itu.?" Tanya Taehyung takut.

"Selamat Taehyung ssi didalam perutmu saat ini sudah tumbuh janin berumur satu bulan." Taehyung membulatkan matanya, terkejut akan pernyataan dokter itu.

"Be.. benarkan dok ?"

"Ya tentu saja. Aku harap kau bisa menjaganya karena janin didalam perutmu cukup lemah. Kau tidak boleh stress atau melakukan pekerjaan berat dulu, karena jika sampai semua itu terjadi kau akan kehilangan bayimu."

Hatinya saat senang impian yang diharapkannya akhirnya tercapai.

"Baiklah kalau begitu aku kembali dulu kerumah sakit, jika kau ingin bertanya atau butuh apa-apa kau bisa menelponku jika aku tidak sibuk." Ucap Yixing final. "Dan ini ada vitamin untuk memperkuat kandunganmu. Diminum 3x sehari setelah kau makan dan harus diminum teratur." Yixing menyerahkan beberapa vitamin pada Taehyung.

Setelah itu Taehyung mengantar Yixing hingga depan rumahnya saja. Tak lupa juga ia mengucapkan terima kasih pada dokter berdimple itu. Taehyung menutup pintu rumahnya dan berjalan menuju kamarnya. Bayangan Hoseok yang akan menceraikannya terlintas di otak Taehyung. Matanya mulai memanas, namun Taehyung segera meggelengkan kepalanya cepat saat teringat ucapan dokter Yixing beberapa menit lalu.

Taehyung mengusap lembut perutnya yang masih rata.

"Hallo aegya ini eomma apa kau baik-baik saja di dalam sana ? jika ia tumbuhlah menjadi anak yang baik. Eomma akan selalu disini menjagamu, maka dari itu kau juga harus membantu eomma ne." Taehyung tersenyum meski pergerakan bayi yang ada didalam perutnya belum terasa, ia yakin bahwa bayinya telah mendengarnya.

Taehyung akan berusaha menjaga dan membesarkan bayinya seorang diri. Ia benar-benar sudah siap dengan semuanya. Lagipula Hoseok tidak mencintainya dan tentunya Hoseok tidak menginginkan bayi yang ada didalam perut Taehyung.

.

.

.

.

.

.

.

TBC/DELETE