Standar disclaimer: applied

.

.

.

"Hinata, tunggu! Jangan lari! Kumohon dengarkan aku dulu… HINATA!"

Gadis bernama Hinata itu tidak mempedulikan teriakan Naruto yang mencoba mengejarnya. Ia malah semakin mempercepat langkahnya. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya meluncur di wajah putihnya.

Kenapa? Kenapa Naruto mengejarnya? Seharusnya Naruto membiarkan saja dirinya pergi. Bukankah itu yang Naruto inginkan? Bukankah kepergiannya adalah keputusan terbaik untuk mereka berdua? Bukankah dengan ia pergi dari kehidupan pemuda Uzumaki itu, Naruto akan bisa berbahagia dengan Sakura, gadis yang selama ini Naruto sukai dan kagumi?

"BERHENTI, HINATA!"

Entah sudah berapa jauh mereka berlari. Mereka tidak peduli. Puluhan orang yang mengeluarkan umpatan dan sumpah serapah akibat mereka tabrak tidak mampu menghentikan mereka. Tidak ada lagi rasa malu ketika terdengar bisik-bisik dari berbagai mulut, ataupun puluhan mata yang memandang dengan berbagai makna ke arah mereka. Hinata hanya ingin pergi. Pergi sejauh mungkin dari Naruto. Sementara Naruto ingin membawa Hinata kembali dan menjelaskan semua kesalahpahaman di antara mereka.

Dan tanpa Hinata sadari, kini ia sedang menuju ke jalan raya yang cukup ramai. Tanpa melihat lampu penyebarangan yang sudah berganti warna menjadi merah…

TINNN!

TINNN!

TINNN!

"KYYYAAA!"

"HINNNATAAA!"

Satu meter. Hanya satu meter lagi mobil tersebut akan menerjang sang putri sulung Hyuuga sebelum Naruto menarik kuat tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Membuat keduanya kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan Hinata yang menindih Naruto.

"DASAR GADIS GILA! DIMANA MATAMU ITU, HAH?"

Umpatan sang pengemudi mobil tidak dihiraukan keduanya. Sebaliknya, Naruto segera bangkit dan mengalihkan pandangannya ke arah Hinata.

"Hinata! Kau tidak apa-apa kan? Kau tidak terluka? Mana yang sakit? Hina-"

"Hiks.. Hiks… Hiks…"

Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir Hinata. Hanya isakan tangis dan air mata yang keluar dari sepasang mata amethyst indah milik Hinata yang didapat Naruto sebagai jawaban pertanyaannya. Tidak tahan mendengar suara tangis memilukan dari gadis yang sangat disayanginya, Naruto kembali membawa Hinata ke dalam pelukannya.

"Sudah… Tidak apa-apa, Hinata. Aku ada di sini. Tenanglah. Jangan menangis lagi…"

"Ja-Jahat… Kau jahat… Kau jahat Naruto-kun!" Hinata meronta dalam pelukan Naruto sambil memukul dada bidang pemuda itu berulang kali. Naruto hanya diam, membiarkan Hinata melampiaskan seluruh emosinya. Namun tangan kekarnya memegang pinggul gadis itu seerat mungkin. Seakan menjaga agar gadis itu tidak pergi lagi dari sisinya.

"A-Aku benci… Aku benci diriku sendiri… Kenapa… Kenapa aku tidak pernah bisa membencimu, Naruto-kun… Mes-Meskipun aku tahu kau me-menyukai Sakura-chan… Ta-Tapi… Kenapa… Kenapa aku tetap mencintai-"

Perkataannya terhenti saat ia merasakan sesuatu yang lembut dan basah menutup bibirnya. Naruto menciumnya pelan. Hinata menggelengkan kepalanya, berusaha melepaskan ciumannya dengan Naruto. Didorongnya dada pemuda itu dengan sekuat tenaga sebagai usaha akhirnya untuk melepaskan diri, hingga akhirnya Naruto melepaskan ciumannya sejenak dan menatap Hinata yang sudah hampir kehabisan nafas.

"Hosh... Hosh..Hen-Hentikan, Naruto-kun! Kau tidak boleh mencium gadis yang sama sekali tidak kau cinta-"

Sekali lagi Naruto menutup bibir kemerahan itu dengan bibirnya. Berbeda dengan ciuman yang pertama, kali ini Naruto menjilat belahan bibir Hinata dengan lidahnya. Dengan lembut ia memelintir lidah Hinata yang masih bergerak kaku di dalam rongga mulutnya sendiri, hingga lidahnya kembali bergerak menelusuri seluk beluk rongga mulut Hinata.

Dengan jari-jarinya, Naruto mengangkat dagu Hinata dan memiringkan kepalanya. Mencoba memperdalam ciuman mereka. Tangan kanannya membelai tengkuk gadis itu, sementara tangan kirinya tetap melingkari pinggul sang gadis dengan sangat erat. Bunyi saliva yang tertukar dan deru nafas yang semakin berat menambah euphoria tersendiri bagi kedua insan ini.

Naruto tidak peduli meski paru-parunya memberontak meminta pasokan oksigen. Ia hanya ingin mengungkapkan seluruh perasaannya melalui ciuman ini. Ia ingin Hinata menyadari, semua perasaan yang selama ini ia rasakan, rasa sakit… rindu… sayang… dan cinta… Semua itu hanya untuk Hyuuga Hinata seorang.

Merasakan Hinata yang sudah benar-benar tidak kuat lagi, Naruto melepaskan ciumannya. Diletakkkannya kepala gadis itu di dadanya yang bidang. Tangannya mengelus punggung Hinata dengan lembut, mencoba memberikan kehangatan dan rasa nyaman untuk kekasih hatinya.

"Aku mencintaimu, Hinata. Percayalah padaku. Aku hanya menganggap Sakura sebagai sahabat dan saudaraku. Tidak lebih. Aku memeluknya karena aku ingin menghiburnya. Belakangan ini ia sering terlihat sedih karena Sasuke harus meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama. Aku tidak mungkin menyia-nyiakan gadis yang benar-benar tulus mencintaiku… Maafkan aku… Tapi kumohon… Jangan pergi dari sisiku. Tetaplah berada di sampingku. Aku benar-benar menyayangimu, anata…"

Kali ini Hinata tidak mampu menahan air matanya yang semakin deras meluncur dari pipi putihnya. Naruto mengusap air mata itu dengan ibu jarinya, dan mencium kening Hinata.

"Kau mau memaafkan aku kan, Hinata? Kau tidak akan meninggalkan aku, kan?"

Tidak ada jawaban. Namun satu anggukan yang diberikan Hinata sudah cukup membuat Naruto merasa bahagia dan kembali membawa gadis itu kembali ke dalam pelukannya.

Dan sepertinya, akan terjadi antrian mobil yang berkepanjangan akibat ulah dua insan yang dengan seenaknya menikmati dunia milik mereka berdua di tengah-tengah jalan raya yang selalu ramai itu.

.

.

.

FIN

A/N: Terima kasih banyak buat yang udah review: Diana chan, arakida kirito, Reverie Lence, Kirigaya, Hyuna toki, zzz , Anne Garbo, Fishy ELF, erryeoo. Untuk chap depan diusahan akan dipenuhi requestnya hehehe

Mind to review? ^_^