"Aku minta maaf atas apa yang terjadi padamu." Suara Jimin terdengar begitu penuh penyesalan, dengan mata emasnya ia memandang Seokjin yang tengah menyadarkan punggung pada kepala ranjang.
"Tak apa, mungkin aku yang salah, dan aku memang terlalu takut." Ucapnya melirih di akhir kalimat, mendesis kecil saat merasakan lengan kanannya begitu sakit. "Apakah sesakit itu Seokjin?" Jungkook menggeser badan, ikut bersandar pada kepala meja, sudut bantal itu ia gunakan untuk mengelus lengan Seokjin yang terbalut kain.
Seokjin jelas tersenyum, mendengar suara Jungkook , menjadikan sekelebat bayangan anak manis dengan pipi menggemaskan dan suara riangnya itu menari-nari di pikirannya "Em, tidak terlalu sakit," sedikit berbohong "Tapi mungkin akan membuatku sulit untuk pergi dari istana ini dan akan merepotkan kalian." Pelan, dengan senyum manisnya.
"Kau tak akan boleh pergi sebelum sehat sempurna Seokjin. Percayakan pada kami, panggil kami jika kau butuh sesuatu. Kurasa Jennie akan segera dat-"
"Permisi."
"Itu dia." Yoongi menggeser badan pianonya, saat pintu terbuka, dengan sebuah teko yang menari-nari dan meja yang bergerak pelan juga sebuah tiang pakaian ikut menari, ah juga burung pembersih yang kini menyanyikan seriosa.
"Hidangan hadir." Suara riang Baekhyun terus mengalun, membuat si kecil bantal itu menggoyangkan badannya, Jungkook menyukai suara Baekhyun, tapi tidak jika si Kepala Dapur itu rewel dan terus berceloteh tanpa henti. "Bagiamana keadaanmu Seokjinie?" Seokjin tersenyum, merasa nyaman dengan suasana dalam kastil ini. Mereka semua ramah hangat dan perhatian padanya. Meskipun terasa aneh karena semua adalah benda ajaib memiliki nyawa dan hanya Seokjin lah satu-satunya manusia disini.
"Aku baik, setelah kalian rawat dua hari ini Baekhyunie. Terimakasih." Baekhyun berputar, dan sekali lagi Jungkook suka dengan ekor Baekhyun yang berwarna putih menjuntai itu.
"Kalau begitu makan makananmu. Jennie, hidangkan." Tiang tinggi yang menggunakan cabang sebagai tangan itu membawa nampan berisi bubur dan beberapa buah roti dan sayuran, sementara si teko melayang menuju atas nakas, menuangkan teh panasnya.
"Terimakasih." Ia berterimakasih saat hidangan sampai pada pangkuannya.
"Nikmati makananmu, kami permisi."
Seokjin melahap pelan makanannya, dominan menggunakan tangan kiri, karena jujur, tangan kanannya masih sakit jika terangkat, sementara yang lain hanya menatap Seokjin. Yoongi mulai bergerak menuju jendela besar dengan gorden transparan yang berteberangan, setelah ia berpandangan lama dengan Jimin dan Hoseok.
Ada semangkuk ramuan, ramuan yang selalu ada selama Seokjin terjatuh kemarin. Ramuan yang hanya dapat di buat oleh Namjoon. Dan ia begitu yakin, Pangerannya itu begitu peduli atau merasa bersalah pada Seokjin. Jadi ia tengah memikirkan bagaimana mereka akan memiliki waktu, menghilangkan kesalahpahaman yang ada, dan yang terpenting, ia berharap Seokjin akan bisa melepas kutukannya.
.
.
.
"Aku bosan." Lirihnya seraya menunduk. Tak ada yang dapat ia kerjakan selama empat hari ini, sebenarnya ia sudah merasa baikan, bahkan ia sudah bisa berjalan, ia sungguh merasakan perubahan drastis dalam tubuhnya setelah meminum semangkuk ramuan. Seharusnya ia akan berterimakasih pada tabib yang membuatkannya.
Terlalu bosan dan terlalu takut untuk berkeliaran di sekitar kastil, karena ia masih sedikit takut dengan kehadiran monster yang membuatnya lari terbirit-birit lalu terjatuh. Seokjin mencoba bangkit, menatap dunia luar lewat kaca jendela kamarnya. Masih sama. Seluruh halaman putih oleh salju, dan bunga-bunga itu masih sama, terbungkus oleh es. Seokjin jadi membayangkan, bagaimana indahnya istana ini saat musim semi nanti? Akankah seluruh istana di penuhi bunga-bunga? Akankah para pekerja akan menari dan menyanyi nanti di halaman sana? Ia begitu penasaran. Istana ini tak ada dalam buku manapun, tak pernah ada yang menceritakan sesuatu padanya tentang ini. Istana seindah ini, tersembunyi apik dari dunia sana, karena sebuah kutukan.
Kutukan.
Seokjin tak bisa membayangkan bagaimana orang-orang hangat itu menerima kutukan mereka. Mereka terlalu baik. Namun Hoseok menceritakan bagaimana sosok Pangeran yang begitu di takuti itu terlalu angkuh pada kuasanya dan semua terjadi. Ia tak tahu lebih tepatnya, dan iapun tak tahu bagaimana cara membantu mereka.
Yoongi meminta bantuannya, meminta Seokjin agar ia bisa menghancurkan kutukan itu. Tapi ia tak memberi tahu yang harus Seokjin lakukan. Seokjin merasa ia berhutang budi begitu banyak pada seluruh penghuni istana, maka ia ingin melepas kutukan mereka, namun nihil. Tak ada yang dapat ia lakukan.
"Sedang apa?"
Seokjin terlonjak kaget, berputar dengan pelan dan menemukan Jimin menggantung di pintu kamar. Iapun tersenyum lalu menggeleng. "Sendirian Jimin?"
"Ya. Yoongi tidur, Hoseok dan Jungkook tengah bermain dan Taehyung, entahlah kemana jam jelek itu." Seokjin terkekeh, memutar kembali badannya untuk kembali memandangi halaman.
"Aku menyukai halaman istana ini."
"Itu memang indah. Yoongi dan Jungkook yang merancangnya."
"Yoongi kekasihmu?" Ah kalau saja Jimin dalam wujud manusia, sudah di pastikan wajah Jimin memerah.
"Ya."
"Kalian seperti pasangan yang serasi, terlepas dari bentuk kalian yang sangat berbeda." Seokjin terkekeh. "Aku dapat merasakan bagaimana panggilan cinta kalian."
"Kami tidak begitu." Jimin tertawa. "Yoongi orang yang dingin. Bahkan dulu ia tak menyukaiku saat aku datang di depan Pangeran dengan membawa tubuh mayat prajurit seberang." "Yoongi benci pembunuhan. Terlepas dari sifat dingin dan bar-barnya, dia orang yang damai Seokjin."
Luar biasa, Seokjin benar-benar dapat mendengar ketulusan Jimin dan cinta Jimin terhadap Yoongi. Ia lagi-lagi membayangkan, bagaimana nanti sosok yang akan mencintainya. Akankah seperti Jimin?
"Kurasa kau harus jalan-jalan. Terlalu lama berada di kamar akan membuatmu menua dua kali lipat."
Seokjin terkekeh.
"Aku takut." Jimin mengerti. Mengetukkan tangan kerasnya pada kaca jendela. "Tak akan ada apa-apa. Perpustakaan tempat yang sunyi, mungkin kau akan suka. Kurasa kau menyukai buku." Bola mata Seojin bersinar cerah setelah mendengar kata perpustakaan, maka tanpa pikir panjang ia mengangguk. "Kuantar."
.
.
Ia tak menyangka, perpustakaan ini dua kali lipat lebih besar dari perpustakaan istanya. Banyak buku yang tak dimiliki oleh istanya. Dan itu membuat semangatnya bertambah, Jimin meninggalkan, harus menghentikan aksi Hoseok dan Jungkook, mereka memporak porandakan ruangan tengah. Ia tertarik pada sebuah buku legenda-legenda para dewi yang ia sukai. Ia juga menyukai puisi. Semua jenis buku ia sukai. Berdiam diri di istana miliknya, Seokjin hanyalah berteman dengan perpustakaannya.
Hearing a Nightingale
Since I left the imperial palace like a resentful bird,
I habve dragged my lonely shadow among blue mountains.
I beg for sleep night after night, but sleep won't come;
"year after year passes in grief, but the grief doesn't end." Seokjin menoleh kaget, dua hal yang membuatnya kaget, seseorang yang tahu buku yang tengah ia baca dan suara besar dan berat yang tiba-tiba.
"Singing stopped, the moon is pale over the peaks at dawn;"
Seokjin diam sejenak menatap.
"blood streamed, fallen petals are red in the spring valley." Ucapnya berbarengan dengan Monster-Pangeran di depannya yang menjaga jarak darinya.
"Kau tahu." Seokjin tersenyum, sungguh melupakan rasa takut yang beberapa waktu lalu ia rasakan hanya saat mengingat Monster itu. Ia begitu terkagum, tak semua orang suka membaca buku atau menghafalnya, dan Monster itu bukan seperti menghafal, itu sudah di luar kepala, layaknya sebuah kalimat yang sering ia ucapkan.
"Aku membaca beberapa kali puisi Suara Burung Bulbul" suaranya terdengar canggung dan putus. Mereka diam sejenak, Seokjin kembali mengangkat bukunya, membaca selanjutnya "Maafkan aku." Mendengar itu, Seokjin mendongakkan kepalanya.
"Tak apa, kuterima. Tapi aku bukan pencuri."
"Aku tahu. Aku hanya terlalu takut." Kening Seokjin mengernyit.
"Aku terlalu takut jika kau meruntuhkan kembali kelopak mawarku. Itu hidupku."
"Oh maafkan aku." Ucapnya penuh penyesalan. Menunduk dengan meremat buku.
"Ya. Maaf untuk lukamu."
"Sudah mendingan." Mereka kembali terdiam, bahkan suana menjadi begitu canggung. Setelah berdehem, Seokjin menutup bukunya, menaruhnya lagi ke dalam rak, mendongak mencari buku apalagi yang ingin ia baca.
"Suka buku?" Namjoon masih bertanya dari tempatnya berdiri, tak berniat mendekati Seokjin. Ia tahu, pasti pria itu masih takut padanya. Maka ia lebih memilih menjaga jarak.
"Ya." Tangannya menggapai "Perpustakaanmu lebih besar dari milikku." Ia terus menjinjit, hendak menggapai buku romansa yang menarik perhatiannya.
Tanpa sadar Namjoon melangkah mendekat, berada di belakang Seokjin lalu dengan mudahnya mengambil buku yang Seokjin inginkan. Dan Seokjin sukses di buat terdiam, menahan nafas saat Monster itu berada di balik punggungnya. "Ah maafkan aku. Ini." Namjoon segera menjauh setelah menyerahkan buku, tak ingin Seokjin lebih takut padanya.
Seokjin terdiam memandang buku, di detik selanjutnya ia tersenyum "Tak apa Pangeran. Jadi mau menemaniku membaca? Kurasa kau memiliki sejuta buku dalam otakmu."
Untuk sesaat jantung Namjoon berhenti berdetak rasanya, wajahnya kaku memandang bagaimana Seokjin tersenyum ke arahnya, lalu saat Seokjin memiringkan kepala ia baru tersadar dan tersenyum. "Namjoon. Panggil aku Namjoon."
Semua berjalan begitu saja.
Seokjin akan tertawa melihat bagaimana Namjoon menjatuhkan begitu banyak barang, atau saat Namjoon tertimpuk puluhan buku dari rak paling atas. Namjoon begitu ceroboh. Lalu saat Namjoon hendak duduk di kursi, kursi itu patah, ia kembali tertawa keras, mengabaikan Namjoon yang menggosok punggung dengan malu.
Dan Seokjin akan menganga hebat ketika Namjoon akan bercerita tentang semua buku yang Seokjin tanyakan. Namjoon tahu semua buku dalam perpustakaannya. Dan itu sangat menakjubkan. Seokjin merasakan menemukan sosok yang dapat berbagi dengannya. Tak pernah ia menemukan seseorang dapat dengan nyamannya mengutarakan pendapat dengan kalimat setegas dan selugas Namjoon.
.
.
"Kau menyukai bunga?" Seokjin mengangguk, kembali berjalan menimbulkan bunyi sepatu yang terpendam salju.
"Aku sangat menyukai bunga. Dan bungamu sungguh indah Namjoonie." Namjoon akan selalu tersenyum saat Seokjin memanggilnya Namjoonie, terkesan menggemaskan. "Aku tak menyangka Pangeran tegas sepertimu akan membiarkan Yoongi dan Jungkook menghias bunga sebanyak ini." Namjoon terdiam, terlalu bingung apa yang harus ia jawab. Tak ada alasan khusus bagi dirinya untuk melarang Jungkook. Selama anak itu tidak menyusahkannya, ia baik-baik saja.
"Kau pasti sangat menyayangi Jungkook dan mereka semua." Ucap Seokjin, tangannya menyentuh es yang melapisi mawar kuning di depannya. Dengan berjongkok, Seokjin menyingkirkan salju yang jatuh ke pahanya lalu mengeratkan mantel merahnya.
Mendengar itu Namjoon terus terdiam. Ia tak pernah mengatakan sayang kepada siapapun, termasuk pada dirinya sendiri. Namun sekelebat bayangan Jungkook, Jimin, Hoseok, Taehyung dan Yoongi terlintas, mereka selalu ada untuknya. Mereka penuh mendukungnya. Dan Namjoon selalu merasa nyaman bersama mereka. Itukah yang dinamakan sayang?
"e-em se-pertinya." Seokjin bangkit dari posisinya. Memandang Namjoon dengan diam, membuat Namjoon terbingung.
"Perang salju !" teriaknya setelah melempar bola salju yang tadi ia buat ke muka Namjoon lalu berlari kencang menjauh. Namjoon mematung untuk sesaat, lalu seringan muncul, mengambil saju lalu berlari mengejar Seokjin yang tertawa keras menyadari Namjoon mengejarnya.
"Kena kau Seokjin." Teriaknya dengan tawa mengejar Seokjin. Mereka terlihat begitu bahagia, tanpa ada jarak. Dan Seokjin akan kembali menyerang Namjoon dengan terus melempar bola-bola salju buatannya, pun Namjoon tak mau kalah ya walau dia harus menahan hasrat untuk tidak membuat bola salju sebesar mungkin.
"Aku ikuuut." Si candlelistick langsung membungkam mulut bantal yang hendak berlari menyusul Namjoon. Sementara si Jam dengan tangan kecilnya menahan Jungkook yang meronta ingin berlari. Meski jelas-jelas Taehyung kesusahan karena jujur, badannya saat ini lebih kecil dari Jungkook. Menyebalkan memang buntalan bantal itu.
"Jangan teriak-teriak Kook. Kau bisa mengganggu mereka." Bisik Hoseok pelan.
"Tapi mereka sedang bermain bola salju. Aku mau." Sang piano menghela nafas lelah. Jungkook tetaplah anak kecil polos yang tak tahu sebuah strategi. Mereka sedang bersembunyi, tepatnya di semak rambatan daun mawar yang jaraknya tak terlalu jauh dari Seokjin saat bercakap dengan Namjoon. Mereka dapat dengan jelas menangkap apa yang mereka bicarakan, dan Yoongi sama sekali tak bisa melunturkan senyumnya. "Bertahanlah sebentar lagi Jungkookie. Kutukan kita akan lenyap." Ucapnya dengan penuh keyakinan.
.
.
.
"Rajamu tak mencarimu?" Namjon langsung memakan setengah buah apel, mengunyahnya dengan keras.
"Pasti mencariku. Dan mungkin memang aku harus segera pulang sebelum Junmyeon marah." Seokjin berujar pelan, memutar apelnya tanpa berniat menggigit barang seinchi pun. Namjoon memandangnya dengan diam lalu melahap sisa apelnya dalam satu kali kunyahan.
"Kenapa kau kabur?" Terdengar begitu hati-hati saat Namjoon mengatakannya. Ini sudah seminggu lebih semenjak Seokjin sembuh, dia merasa amat sangat nyaman di samping pemuda yang manis dan suka tersenyum itu. Bahkan beberapa hari Namjoon tak bisa tidur, memikirkan bagaimana tiba-tiba Seokjin menggandeng tangannya, mengajaknya berdansa dengan Yoongi yang memainkan piano. Mereka tertawa bersama, bahkan Jungkookpun ikut menari bersama Taehyung dan Hoseok, sementara Jimin bertengger manis di atas piano, menyanyikan sebuah lagu dansa.
"Em, mencari kehidupan sementara?" Justru Seokjin membuatnya bingung dengan menjawab penuh tanda tanya. "Kehidupan sementara?" Seokjin mengangguk, lalu menengadah memandang langit yang gelap.
"Em. Aku ingin mencari diriku untuk diriku sehari saja."
"Aku tak mengerti." Namjoon menggelengkan kepala, membuat bulu-bulu panjangnya bergerak. Sementara Seokjin terkekeh. "Aku ingin menjadi diriku Namjoon. Selama ini aku merasa aku bukanlah diriku. Terkekang di dalam istana, mengikuti aturan Junmyeon, mengikuti aturan istana yang begitu, mengikuti.." Namjoon terus terdiam, menanti Seokjin melanjutkan kalimatnya. Namun sekian lama Seokjin tak kunjung membuka mulutnya.
"Sudah menemukan jati diri sekarang?" Namjoon memecah keheningan, suaranya besar terdengar menggema di ruangan.
Seokjin tersenyum mengangguk. "Sudah. Aku merasakan menjadi diriku. Bahkan tidak hanya sehari. Dan aku merasakan bagaiamana bahagianya memiliki teman."
"Aku ikut bahagia." Si Monster kembali mengambil apel kelimanya. Sementara Seokjin bahkan tidak menggigit miliknya. "Kau.." Namjoon merasa kesulitan mencari kalimat untuk ia utarakan, namun ia kepalang penuh penasaran "Kau akan pulang?" Aku mohon katakan tidak. Ucap hatinya tanpa sadar.
Seokjin tak langsung menjawab, ia menatap Namjoon sejenak. "Ya Namjoon. Aku harus pulang. Aku harus-" Namjoon memiringkan kepala
"Menikah."
Oh. Namjoon beku seketika. Entah perasaan aneh apa yang tiba-tiba menusuk dadanya, membuatnya ingin menjerit sakit. "Aku akan menikah Namjoon. Setelah ini. Itulah alasanku pergi dari istana. Aku ingin menjadi diriku sesaat sebelum aku terikat."
Namjoon hanya diam. Sungguh. Ia ingin mengucapkan sesuatu, namun bibirnya terasa hilang dari wajahnya. Maka ia hanya dapat memandangi Seokjin dengan tatapan tak bisa di artikan, baik oleh dirinya ataupun oleh Seokjin. "Besok aku akan pulang. Terimakasih untuk semuanya Namjoon. Aku tak akan melupakan ini." Seokjin tersenyum. Tersenyum begitu cantik begitu manis. Senyum terindah yang pernah Seokjin berikan, senyum terindah yang pernah Namjoon lihat terukir di wajah Seokjin.
"Y-ya. K-kau akan meni-kah. Se-selamat Seokjin." Seokjin tersenyum mengangguk. "Dia begitu beruntung."
.
.
.
.
.
.
"Kau benar-benar melepasnya?" Hoseok bertanya pelan di balik punggung Namjoon. Namjoon mengangguk lemah. "Dia punya kehidupan tersendiri. Dia layak bahagia dengan yang ia cintai." Namjoon masih memandang Seokjin dari jauh. Melihat Seokjin memeluk Jungkook dengan senyum, ia tahu, Seokjin lebih bahagia pulang. Tempatnya bukan disini. Bukan bersama monster sepertinya.
Ia, Namjoon menyadarinya. Ia jatuh, ia jatuh pada pesona Seokjin. Ia jatuh pada apapun yang Seokjin lakukan. Ia menyukai senyum Seokjin, ia menyukai saat Seokjin tertawa, ia menyukai saat Seokjin dengan serius membaca buku, ia menyukai saat Seokjin bertanya banyak padanya. Ia, menyukai Seokjin.
"Kau maksudnya?"
"Apanya?"
"Orang yang Seokjin cinta."
"Jangan bercanda di saat seperti ini Hoseok. Aku tahu, ia mencintai calon suaminya, aku melihatnya tersenyum manis waktu mengatakannya."
"Dia tidak mengatakan ia mencintai calon suaminya."
"Semua tersirat Hoseok. Tak selalu cinta dapat kau tahu dari pernyataan. Cinta dapat kau lihat tergambar jelas di tubuh seseorang." Hoseok mendengus.
"Seperti kau."
"Aku? Tidak."
"Terserahlah. Yang jelas harapan kita hilang sudah. Aku akan menjadi gelas selamanya. Seokjin sudah benar-benar pergi." Gerutunya seraya berbalik menjauh dari Namjoon yang kini menunduk. Tanpa sadar meneteskan air matanya.
Aku kalah.
.
.
.
Seokjin benar-benar lenyap dari matanya, dari istananya dan dari kehidupannya. Mungkin memang ini yang seharusnya terjadi. Ia harus berada dalam kehidupan normalnya seperti sedia kala – hidup dengan kutukannya – ya begitulah. Ia akan terus merenung di depan kelopak mawarnya yang hanya tertinggal dua, menunggu dirinya menjadi monster selamanya. Hidup sendirian, terasing lalu mati dengan perlahan.
"Pangeran." Namjoon segera menoleh, melihat geli bagaimana bantal berwarna hijau itu berjalan dengan lesu. "Ada apa Jungkookie?" Berkat Seokjin, ia menjadi begitu dekat dengan Jungkook. Mereka sering bermain bertiga, yeah tak dapat dikatakan hanya bertiga, karena pasti Hoseok dan Taehyung akan mengganggu mereka.
"Taehyung mengganggu tidurku." Namjoon mengusap bulu lengannya yang terkena remukan dari kastil sebelah yang sempat roboh karena pagi tadi kelopak mawarnya kembali layu dan jatuh. "Kemarilah. Tidur di pangkuanku, setelah itu kita hukum Taehyung." Dengan enteng Namjoon mengangkat Jungkook, membaringkannya pada paha besarnya. Hangat. Namjoon penuh bulu, dan itu sangat hangat.
Begitu banyak yang Namjoon pikirkan saat Jungkook terlelap dalam pangkuannya. Masa depan Jungkook, masa depan Yoongi dan Jimin dan masa depan kerajaannya. Jungkook masih terlalu kecil untuk terus seperti ini. Jungkook layak meneruskan kerajaan ini. Bukan menjadi benda seperti ini. Lama ia berpikir, suara pecahan kaca membuatnya terlonjak, Jungkook masih betah dalam tidurnya. Dengan membawa Jungkook dalam pelukannya, Namjoon mencari ke asal suara. Jendelanya terkena lembaran obor. Dan saat ia melongok ke bawah..
Booomm. Begitu banyak manusia disana. Berteriak kasar, memporak porandakan halamannya.
"Keluar kau monster busuk!"
"Rusakan semuanya!"
"Dobrak pintunya!"
Mata besar Namjoon membola, membalikkan badan saat Yoongi berteriak memanggilnya "Namjoon kita di serang!" Jungkook bergerak dalam dekapannya. "Siapa mereka?"
"Tidak tahu! Apa yang harus kita lakukan?" Suara Yoongi terdengar begitu panik.
"Jennie dan Mark tengah mencoba menahan pintu utama. Sebaiknya kita menyerang balik. Apapun yang terjadi, kita harus menyelamatkan istana kita." Taehyung datang dengan tergopoh-gopoh. "Jungkookie kali ini, mau melawan orang jahat bersama?" Jungkook segera melompat dari dekapan Namjoon, berlari menyusul Taehyung.
"Serahkan pada kami Namjoon."
Namjoon kembali melihat ke luar istana. Mereka mencoba membakar apapun yang ada, meski sulit karena tanah tertutupi salju. Ia terus terdiam, hanya bisa menatap, terlalu bingung bagaimana manusia bisa tahu keberadaannya, dan apa masalah mereka dengannya.
"Doobbrraaak!"
Namjoon menggeram marah saat mereka berhasil memasuki istana. Maka ia segera melompat turun.
.
"Rasakan ini." Kai, si Teko kini tengah menggantung bak akrobat pada gantungan lilin di atas. Menyiram para manusia itu dengan air panas yang mengalir dari dalam tekonya. "Yuhu, melepuh. Indahnya." Ia bagaikan menari di udara.
"Taehyung Hyung cepat." Jungkook naik ke atas bahu seorang pria bertubuh besar dengan lemak perut menggunung, ia bertugas menutup mata si manusia lemak itu lalu Taehyung menusuk perut pria itu dengan pedang kecil andalannya. "Ganti pemain Kook." Pria yang tadi telah ambruk karena kelelahan. Sungguh.
"Mati kau." Baekhyun mengayunkan wajan dengan ekor cantiknya. Memukul siapa saja yang lewat dengan pantat wajan. Tenaganya tidak main-main, sementara Hoseok dengan lincah menerbangkan piring-piring kecil hingga pecah mengenai kepala para manusia. "Yiiha, ini lebih menyenangkan."
"Aduh aduh, tolong aku." Yoongi mengaduh saat beberapa wanita tua memukulnya, Yoongi yang sedari mendepak orang kini justru tengah menjadi santapan para wanita tua. Bahkan beberapa suduhnya patah. "Yooongi." Jimin yang tengah memukul pria bertopi hijau itu segera melaju cepat menyelamatkan Yoongi, namun kakinya tersandung oleh sepatu pria kurus tinggi yang kini menatapnya angkuh.
Mereka kewalahan.
.
"Berhenti!" Namjoon meraung keras hingga dinding istana bergetar.
"A-ah, di-dia Monsternya. Monsternya sungguhan." Teriak seseorang dengan pakaian Jenderal.
"Jadi kau yang sudah menculik adikku dan mencuci otaknya?" Junmyeon telak meludah di depan Namjoon.
"Namjoon. Namjoon pergi." Namjoon membola, menemukan Seokjin terikat dan berantakan di belakang lelaki yang meludahinya. Emosinya memuncak tinggi, tangannya mengepal keras. "Kumohon pergi Namjoon. Atau kau akan mati."
"Diam Seokjin. Ini juga salahmu. Kau membatalkan pernikahan dengan Ken hanya demi Monster ini. Setelah ini, kau yang ku hukum." Junmyeon menarik kasar pedangnya, mengacungkannya tepat di wajah Namjoon. "Ku bunuh kau!"
"Jika kau sakiti Seokjin. Kau yang mati. Rrgghhhah." Namjoon menubruk kencang Junmyeon, tak ada senjata apapun yang akan membantunya. Hingga lengan kirinya tersayat, ia terus berusaha melawan Junmyeon.
Beberapa orang datang membantu Junmyeon, menendang Namjoon dari belakang. Sedikit orang yang berani maju, karena Namjoon terlihat begitu mengerikan. "Monster sialan." Junmyeon terbatuk setelah dadanya di tendang Namjoon hingga mulutnya mengeluarkan darah. "Aku bersumpah akan membunuhmu." Geramnya, lalu mencoba bangkit.
Mereka kembali bertarung, kini Namjoon menarik paksa obor yang berada di tangan prajurit dan menjadikan benda itu senjatanya menghalau serangan dari Junmyeon. Mereka terus bertarung hingga menjauh dari istana. Tidak mudah melawan Junmyeon, Pangeran itu terlalu pandai dalam senjata. "Serang dia sekarang!" Suara Junmyeon mengalun kencang.
"Tidak Namjooooon." Seokjin segera berlari saat melihat Minseok menarik anak panahnya. Berlari menuju ke arah anak panah melesat. Dan sssaaattt. "Nam-" Namjoon segera berbalik saat mendengar suara Seokjin di belakangnya.
Untuk kedua kalinya, jantungnya kembali seakan berhenti berdetak. Seokjin jatuh tersungkur, dengan panah menancap di punggungnya. "Seokjiin!" teriaknya, berbalik untuk menendang Junmyeon keras penuh emosi hingga Junmyeon melayang jatuh ke jurang. Setelahnya ia berlari "Seokjin bertahanlah."
Uhuk.
Seokjin terbatuk, begitu banyak darah keluar dari mulutnya. Matanya memanas melihat bagaimana tangan Seokjin bergetar dengan wajah memerah dan mata yang melotot menahan sakit "Seokjin kumohon." Lirihnya, ia tak dapat menahan air mata. Air matanya jatuh menetes ke pipi Seokjin.
"Ti-dak nam-joon." Namjoon menggeleng hebat. "Ma-a-"
"Jangan berbicara kumohon. Aku akan menyelamatkanmu." Baru kali ini rasanya Namjoon ingin mati. Menggantikan Seokjin yang kesakitan.
"Ti-dak Namj-oon." Hkk, darah kembali keluar dari mulut Seokjin. "A-aku mencin-ta-imu." Saat mata Seokjin hendak tertutup, Namjoon segera mengecup bibir penuh darah itu, air matanya mengalir deras, membahasi kelopak mata Seokjin yang terpejam.
"RRRRRgggghHHhhtt." Erangan itu terdengar, menghentikan segala aktivitas apapun yang terjadi. Dengan bibir dan bulu yang penuh darah itu, Namjoon terus meraung saat melihat Seokjin sama sekali tak bernafas.
Ia menangis, meraung, menyalahkan diri sendiri.
Jimin yang berhasil menyelamatkan Yoongi segera berlari ke asal suara, disusul Hoseok , Taehyung dan Jungkook yang terlihat begitu kelelahan.
Dan sebuah pemandangan yang paling mereka benci terlihat.
Seokjin, seorang pria manis, ramah dan baik itu tergeletak penuh darah dengan Namjoon yang meraung. Dan mereka pun tak dapat menahan air mata, menyadari Seokjin benar-benar meninggalkan mereka.
.
.
"Kau menemukannya Namjoon." Sebuah cahaya muncul tepat di atas tubuh Seokjin. Jimin segera menutup mata, diikuti yang lain karena cahaya itu begitu silau.
"K-kau?" Namjoon terbata saat melihat wanita itu melayang, wanita yang ia usir, wanita yang mengutuknya.
"Tidak. Seokjinku telah pergi, aku gagal." Ia menunduk kembali memandang Seokjin dengan derai air mata.
Wanita anggun yang kini turun menyentuh tanah itu tersenyum lembut."Setidaknya kau menemukan orang yang tulus mencintaimu."
"Aku mencintainya." Tegasnya.
"Aku tau." Lalu wanita itu berjalan perlahan, berjongkok tepat di samping Seokjin. Tangannya yang bercahaya bergerak mengelus lembut pipi Seokjin lalu menempelkan telapak tangannya pada kening Seokjin. Hoseok hanya menatap dengan rasa campur aduk dan dada yang berdegup kencang.
"Aku, melepas kutukanmu Kim Namjoon. Dia Kim Seokjin, seseorang yang mencintaimu. Maka dengan kuasaku, berbahagialah kalian."
Namjoon melepas genggamannya pada tangan Seokjin saat ia justru melayang berputar. Dan Seokjin pun ikut melayang dengan cahaya terang melingkupinya. Mereka berdua berputar berlawanan arah.
Hingga seluruh istana kini bercahaya. Begitu terang layaknya menantang langit malam.
Dan saat Namjoon kembali menapaki tanah, ia sudah dalam wujud manusianya. Dengan jubah hitam dan rambut hitam tanpa poni. Namjoon menatap sekitar, Yoongi, Jimin, Hoseok, Taehyung dan Jungkook juga kini berubah wujud menjadi manusia. Maka ia segera berlari memeluk mereka. Mencium Jungkook dengan gemas. Dan Namjoon merasakan air matanya kembali menetes saat mengingat Seokjin.
"Berbahagialah Namjoon. Seokjin juga pasti bahagia." Itu yang Yoongi ucapkan saat keenam lelaki itu berpelukan dalam sebuah lingkaran.
"Namjoon?"
Suara lembut itu mengalun. Semua mata mengarah pada Seokjin yang kini berdiri dengan tangan terpaut dan senyum yang selalu Namjoon rindukan. "Seokjin?"
"Ya. Ini aku."
Dan setik selanjutnya Namjoon menerjang Seokjin dengan pelukan eratnya. Membuat Seokjin terasa sulit bernafas namun ia tak mau melepas pelukan Namjoon. Namjoon masih hangat tanpa bulu, dan yang jelas Namjoon terlalu tampan tanpa bulu.
"Kau hidup Seokjin." Isaknya.
"Aku hidup Namjoon."
"Aku mencintaimu." Katanya cepat melepas pelukan.
"Aku juga mencintaimu." Seokjin tersenyum amat sangat manis, dan tak ada alasan untuk Namjoon tidak mencium bibir ranum tersebut. Mereka berciuman, amat sangat lama. Menumpahkan seluruh rasa rindu dan cinta mereka.
"Khm. Khm. Kurasa disini masih ada anak di bawah umur." Jimin berjalan mendekat dengan Jungkook dalam dekapannya dengan menutup mata namun bibirnya tersenyum lebar.
"Ma-maaf." Seokjin segera melepas pautannya, menunduk menahan malu.
"Mengganggu." Gerutu Namjoon.
"Boleh lanjutkan, setelah Jungkook tidur." Goda Hoseok.
"Jungkook?" Seokjin terpekik gemas melihat Jungkook dalam wujud manusianya "Astaga Jungkookie." Ia segera merebut Jungkook dari Jimin, menggendongnya, mengecupnya lalu mengajak Jungkook berputar. "Ahahaha, Seokjin geli."
Seokjin menghentikan aksinya, beralih menyalamin Jimin dan yang lain. Memeluk Yoongi erat. Lalu kembali menggendong Jungkook.
"Kita kembali."
"Iya Yoongi. Kita kembali. Para prajurit Junmyeon sudah kabur. Kita harus menghidupkan kembali Luxa. Dan aku akan menjadi Raja yang lebih baik untuk kalian. Jadi aku Kim Namjoon, Pangeran Luxa, mengharap kalian kembali menjadi keluargaku, menuntunku, menasehatiku dan menjadikanku Pangeran yang lebih."
Mereka menggenang air mata, mengangguk tegas lalu berjalan menuju istana dan saling menyapa seluruh penghuni istana yang kini kembali hidup seperti semula.
,\.
.
.
Astaga, jelek bgt astaga, niat mau hapus cerita atau ga tek lanjutin, tapi astatang, ga enak ke kalian. Jadilah cerita amburadul begini. Jadi ku hanya mengambil inti-intinya saja.
Dan terimakasih udh mau review~ maaf ya jadi jelek gini. Tek berusaha lagi nulis lebih baik.
Terimakaasih. Gomawo. Anyeong. Baibai.
