"Maaf Sehun-ah, kau jadi harus menemaniku belanja." sesal pemuda bermata bulat mengenakan kaos putih dengan jeans hitam yang mendorong troli penuh berisi barang sesuai daftar belanja sesuai pesanan.
"Tak apa Kyungsoo hyung, aku hanya menuruti perintah ibuku untuk mengantarmu dan asal kau tak merepotiku dengan bawaan berat itu, aku tak keberatan." Sehun membalas cuek pemuda yang usianya setahun diatasnya, pandangan matanya tertuju pada jajaran rak yang berisi berbagai macam snack. Mencari snack kesukaannya.
"Aku sanggup membawanya sendiri, Sehun-ah. Aku hanya kurang mengambil beberapa kaleng tuna dan beberapa bumbu yang lain lalu mengantri di kasir."
"Hyung, ngomong-omong apakah kau sudah lupa?"
"Tentang apa?" Kyungsoo mengernyit.
"Sepertinya akhir-akhir ini kau melupakan perintahku."
"Oh, itu. Aku masih ingat. Tenang saja, Sehun-ah."
"Terserah kau saja kalau begitu. Asal jangan lupa saja." Sehun meletakkan tiga kemasan snack kesukaannya dalam troli yang Kyungsoo dorong. "Melihat antrian kasa itu, sepertinya kau akan lama. Aku mau membeli kopi di depan. Kau ingin titip sesuatu, hyung?" Sehun menaikan alisnya menunggu jawaban Kyungsoo.
"Tak usah Sehun-ah. Aku akan membuat cokelat hangat saja saat dirumah."
Sehun mengangguk mengerti, "Aku tunggu dimobil, hyung!" ia berlalu meninggalkan Kyungsoo yang terdiam tanpa ekspresi menatap kepergian Sehun.
.
OoooO
.
Perhaps Love
.
"Pikachu vs Rilakkuma"
.
OoooO
.
Cast:
Chanyeol, Baekhyun beserta orang-orang disekitarnya
~Royal OTP~
.
Chanyeol milik Baekhyun. Baekhyun milik Chanyeol. Baekhyun dan Chanyeol milik orangtuanya. FF ini milik Cactus93
.
OoooO
.
Happy reading^^
.
.
"Baekhyunnie~ turunlah, Eomma mau menunjukkan sesuatu padamu sayang~" Hyekyo berteriak dari bawah tangga memanggil putra bungsunya yang berada di lantai dua.
Seperti hari sabtu biasanya, Hyekyo yakin anaknya pasti masih bergelung dalam selimut kuning terang yang bermotif pikachunya. Anak bungsunya itu mendapat libur dari sekolah pada hari sabtu dan minggu. Ia selalu bermalas-malasan pada hari sabtu dan pada hari minggunya pasti ia selalu ribut mengajaknya pergi jalan-jalan.
Minggu lalu Baekhyun memaksa pergi ke 63 Seaworld setelah menonton Disney Channel yang menayangkan The Little Mermaid II. Apalagi ditambah Luhan memamerkan fotonya di instagram dimana bocah bermata rusa itu bercosplay ala ikan duyung dilengkapi ekor duyung hijaunya. Sontak saja Baekhyun merengek tak ingin kalah dari Luhan. Bukannya ia mengikuti Luhan yang bercostum ala mermaid, tapi Baekhyun memborong berbagai ukuran boneka berbentuk kerang beserta aneka jenis ikan, tak lupa ia boneka tokoh Ariel dan Flounder dari toko souvenir 63 Seaworld.
Baekhyun meminta ayahnya untuk mendekor ulang kamarnya yang semula berwarna kuning pastel penuh dengan pernik pikachu dan kawan-kawan kini berganti tema dengan The Little Mermaid, Pikachu, and friends in the Sea. Kamar Baekhyun di dekor ulang dengan wallpaper biru laut dengan beberapa gambar gelembung air beserta rumput laut bergoyang. Boneka kerang di letakkan di pojok dinding beserta karpet berwana cokelat pasir pantai sebagai pelapis lantai. Hyekyo tak mempermasalahkan toh kamar Baekhyun sudah sekitar tiga tahunan belum di permak ulang. Masih syukur permintaan anaknya masih dalam batas normal estetika walau dengan perpaduan tema yang aneh, setidaknya Baekhyun tak meminta membawakan pasir pantai di kamar. Suaminya memang selalu memanjakan si bungsu dan Hyekyo hanya menggelengkan kepala melihat itu semua.
Memikirkan hari minggu besok, sepertinya anaknya tak akan meminta pergi ketempat yang aneh-aneh, karena suaminya belum pulang dari Jepang. Jadi tak ada cerita seorang ayah memanjakan anaknya besok. Baekbeom juga tak pulang kerumah. Baekhyun tak akan berani macam-macam dengannya. Hyekyo hanya terkekeh memikirkan itu. Dirinya seperti seorang ibu tiri, tapi jangan ragukan kasih sayang ibu dua anak itu kepada kedua putranya.
Hyekyo mengetukkan kakinya ke lantai, sudah beberapa menit menunggu mengapa Baekhyun belum turun juga?
Setelah menghela napas, Hyekyo melangkahkan kakinya menanjaki belasan anak tangga menuju kamar anak bungsunya. Sekiranya tak perlu ia mengetuk pintu, ia langsung masuk ke kamar Baekhyun dan melihat ke sekeliling kamar. Dahinya mengernyit menyadari bahwa anak bungsunya sudah tak berada di kasurnya. Kemana anak itu?
"Eomma~"
"Aigooya!" Hyekyo terkejut tiba-tiba mendengar suara Baekhyun dari belakang. Ia langsung berbalik melihat anaknya yang berada di bingkai pintu kamar mandi dengan senyumnya yang manis tak berdosa. "Baekhyun-ah, dimana handukmu?" Tangannya terlipat didepan dada dengan mata menatap tajam anaknya yang berdiri polos tanpa sehelai benang apapun. "Sudah berapa kali Eomma bilang, habis mandi kau harus menutup belalai gajahmu itu~"
Bibir Baekhyun langsung mengerucut, baru saja dia bersemangat mandi pagi sekarang malah dimarahi ibunya. Padahal baru kali ini jam delapan pada hari sabtu ia sudah bangun dan mandi.
"Kau sudah hampir SMP Baekhyun-ah, tapi kelakuanmu," Hyekyo berdecak sambil menggelengkan kepala.
Kerutan bibir Baekhyun makin menjadi, kakinya ia hentak-hentakan ke lantai kesal berjalan menuju ranjang dan menguburkan dirinya di selimut. "Aku tak suka di marahi. Eomma jahat padaku. Appaaaa." Ia tengkurap dan menguburkan wajahnya pada bantal bulu angsanya, tak lupa kebiasaan memanggil ayahnya saat ia dimari ibunya.
Hyekyo makin pusing dengan sikap manja anaknya ini. Lapor suaminya pun malah ia yang akan disuruh bersabar dan bersabar. "Cepat pakai baju dan rapikan ranjang sekarang atau kau tak akan mendapatkan majalah itu."
Majalah?
Baekhyun langsung terduduk mendengar kata itu. "Sudah selesai dicetak Eomma?" matanya berbinar menatap ibunya.
Bibir atas Hyekyo sedikit tertarik ke kanan, "Tergantung. Eomma tunggu dibawah sampai sepuluh menit, jika kau tak juga turun… jangan berharap kau melihat majalah itu dirumah ini." Hyekyo mengibaskan rambutnya sembari berjalan menuju pintu kamar Baekhyun.
"Eomma tungguuuuu!"
Langkah kaki Hyekyo terhenti lalu menoleh menatap anaknya yang berdiri diranjang dengan kedua tangannya mengenggam mengarah padanya. "Apa lagi?"
"Pilihkan aku baju~ tolong~" Baekhyun bergerak menuruni ranjang berjalan kearah ibunya. Tangannya meraih pergelangan tangan kanan Hyekyo. Mengajak ibunya melangkah mendekati almari putihnya. "Ayo eomma~ tolong pilihkan Baekhyunnie baju~"
Melihat Baekhyun yang memberinya agyeo yang tak pernah gagal, tangan Hyekyo bergerak menuju pipi tembam anaknya dan mencubitnya. "Eomma sudah bosan dengan aegyo mu itu~" Hyekyo menarik pipi anaknya kekanan dan kekiri bergantian sehingga membuat Baekhyun meringis kesakitan "Tapi Eomma selalu saja tak keberatan menuruti permintaanmu." Kini tangannya beralih menepuk pucuk kepala Baekhyun lalu bergerak membuka pintu almari yang berada di hadapannya. Sebagai seorang desainer, ia tak luput mengatur gaya berpakaian anaknya. Almari pakaian Baekhyun penuh dengan pakaian berwarna pastel lembut. Mulai dari yang digantung dan dilipat semua warna berpadu sangat cantik. Hyekyo selalu memberi baju anaknya setidaknya sebulan sekali. Anaknya harus menjadi model, itu keinginan terdalamnya.
Senyum ceria Baekhyun bersinar melihat ibunya sibuk memilih baju untuk ia kenakan. Ia tak sabar baju apa yang akan dipilihkan ibunya. Tapi sesaat kemudian wajahnya langsung cemberut melihat pakaian yang dikeluarkan ibunya. "Eommaaaa aku mau bertemu Chanyeol hyuuuung bukan mau tidur!" yang benar saja, Hyekyo mengeluarkan satu setel piyama bermotif flora berwarna toska.
"Apa? Bertemu Chanyeol?" badan Hyekyo sedikit membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Baekhyun. Dahinya berkerut mendengar nama asing itu lagi.
Baekhyun hanya mengerjap terkejut tiba-tiba wajah ibunya sejajar dengannya.
"Mengapa anak bungsuku begitu agresif?" Hyekyo bertanya pada dirinya sendiri. Ia tegakkan kembali badannya. Dahinya berkerut dan mengelus pelan dagunya dengan ibu jari dan telunjuk tangan kanannya.
"Eomma cepat~ aku kedinginan."
"Aigoo!" Hyekyo langsung tersentak melihat anaknya yang memeluk tubuhnya sendiri. "Cepat pakai minyak dan bedak, Eomma pilihkan baju dengan cepat. Kau harus terlihat tampan dihadapan Prince Charming-mu!"
Baekhyun terbirit berlari menuju meja rias tepat disamping almari. Jemarinya mengambil minyak penghangat tubuh, menuangkan minyak itu ke tangan dan mengoleskannya ke badan bagian depannya.
"Sini sini! Eomma akan menaburimu bedak." Dengan membawa pakaian normal anaknya di lengannya, Hyekyo mendudukkan dirinya pada kursi di dekat meja rias dan tangannya bergerak aktif mendandani anaknya. Baekhyun hanya menurut saja, ia tak mau kena marah untuk kedua kalinya di pagi hari ini.
"Nah, anakku sekarang sudah tampan~" Hyekyo mengelus poni rambut Baekhyun yang sudah selesai ia sisir rapi. Baekhyun sudah berpakaian rapi dengan kaos polo biru muda dan celana selutut berwarna putih.
"Sekarang boleh aku melihat majalahnya, eomma?" mata Baekhyun kembali berbinar tak sabar.
"Eomma tadi bilang apa padamu?" melihat wajah Baekhyun yang bingung dengan maksunya, Hyekyo mengulangi perkataannya beberapa menit lalu. "Bereskan ranjangmu sekarang, atau kau tak akan melihat majalah itu."
Tanpa diingatkan ketiga kalinya Baekhyun langsung berlari menuju ranjangnya, menarik selimut dan merapikan bantal-bantalnya.
Hyekyo tersenyum lembut melihat anaknya yang rajin –dengan paksaan. "Eomma tunggu dibawah untuk sarapan."
"Majalah?" Apakah ibunya tak mengengerti seberpa tak sabarnya ia yang ingin melihat majalah? Mengapa ibunya selalu mengulur-ulur waktu?
Hyekyo tersenyum lembut, "Kau sangat tampan disana, Baekhyunnie. Kau bisa melihatnya setelah sarapan. Majalahnya tak akan lenyap jika kau tinggal sebentar hanya untuk sarapan. Apakah kau tidak lapar?"
Dengan semangat senyum ceria Baekhyun membalas, "Baik, eomma~ Baekhyunnie sangat kelaparan."
.
OoooO
.
Tak berbeda keadaan perdepatan antara Baekhyun dan ibunya, di kelas 2.A Chanyeol pun berdebat dengan sahabatnya, Jongin. Ketika gurunya baru saja keluar kelas, Chanyeol mulai bertanya, "Mengapa sedari tadi kau terus menatapku?" ia menyipitkan matanya memandang teman sabangkunya.
"Kau datang terlambat." Jawab Jongin datar dengan tetap memandang Chanyeol. Tangan kanannya berada di atas meja menyangga kepalanya yang menoleh kekiri.
"Ya, karena aku lupa–"
Belum selesai Chanyeol menjawab tetapi Jongin kembali berucap, "Tapi bukan itu alasan aku terus menatapmu."
"Lalu apa, Jongin-ah? Jangan berbelit belit."
"Karena aku mencintaimu." dengan tetap menjaga intonasi datarnya, Jongin menugungkapkan perasaanya.
"APA?!"
Jongin langsung tertawa keras melihat ekspresi Chanyeol yang terkejut dengan mata bulatnya yang makin melebar. Bahkan Chanyeol jatuh dari kursinya yang membuat tawa Jongin semakin membahana mengabaikan seluruh perhatian kelas yang mengarah padanya, tapi ia langsung bungkam melihat seseorang membantu sahabatnya berdiri.
"Kau tak apa-apa Chanyeol-ah?" senyuman lembut pemilik heart shaped lips membenarkan kursi Chanyeol yang ikut terjatuh.
"Tak apa, Kyungsoo-ya. Terima kasih." Setelah berbalas senyum dengan Kyungsoo, Chanyeol langsung memberi tatapan tajam pada Jongin. "Tak lucu, Jongin-ah." Jongin hanya memberi seringai miring dan mengendikan bahu. Melihat itu kekesalan Chanyeol semakin bertambah, "Awas kau!"
"Chanyeol-ah, ini untukmu."
Hampir saja Chanyeol akan mencekik leher Jongin, tiba-tiba Kyungsoo menaruh kotak bekal berwarna biru di mejanya. Dahi Chanyeol mengernyit, begitu juga dengan Jongin yang sibuk mencengkeram pergelangan tangan Chanyeol yang hampir menyentuh lehernya. Mandangan mereka berdua kini menatap kearah Kyungsoo, berharap ia memberi keterangan tambahan.
Seperti paham apa maksdunya, Kyungsoo menambah, "Beberapa hari lalu kau bilang ingin dibuatkan bekal nasi goreng dengan dadar gulung, maka dari itu pagi tadi aku baru ada waktu senggang untuk membuatkanmu bekal. Semoga kau menyukainya." Dengan senyum lebar, heart shaped lips milik Kyungsoo terbentuk dengan jelas. Membuat salah satu dari dua orang yang menatapnya menggigit bibir gemas.
"Wah, Kyungsoo kau kereeeen!" Chanyeol dengan semangat menunjukkan kedua ibu jarinya kepada Kyungsoo lalu membuka bekal yang sekarang jadi miliknya. "Wah sepertinya ini sangat lezat. Sekali lagi terima kasih, aku akan memakannya sampai habis tak bersisa."
Kyungsoo menganggukan kepalanya sebagai jawaban, "Ngomong-ngomong, Chanyeol-ah. Tadi pagi saat aku di UKS, Dr. Cho berpesan padaku agar sepulang sekolah kau menemui beliau." Chanyeol adalah ketua PMR dan Kyungsoo sebagai sekretaris. Banyak pula yang beranggapan jika mereka adalah sepasang kekasih karena sering bersama. Tak ayal Kyungsoo sering mendapat masalah akibat fans Chanyeol.
"Oh, baiklah Kyungsoo-ya. Aku nanti akan menemui beliau. Ayo kita makan bekalnya."
"Maaf Chanyeol-ah, ak tak bisa. Aku harus mengantar bekal untuk Sehun sebentar." Kyungsoo menunjukkan satu lagi bekal yang ia bawa ditangannya.
"Mengapa Tuan mudamu itu sangat manja, Kyungsoo-ya?" sebenarnya itu adalah sakartis dari Jongin. Kyungsoo terdiam mencoba mencari jawaban yang tepat. Merasakan aura canggung, Chanyeol langsung menginjak kaki Jongin, "Aku kira kita akan makan bekal bersama-sama Kyungsoo-ya."
"Lain kali saja Chanyeol-ah. Hari ini Sehun berangkat lebih awal untuk latihan basket. Jadinya ia tak sempat sarapan dan membawa bekal. Kemungkinan ia sekarang kelaparan." Kyungsoo tertawa dengan perkiraannya sendiri. "Sampai nanti, Chanyeol-ah." Ia menepuk bahu Chanyeol pelan, sedikit memberi senyum canggung pada Jongin dan berlalu pergi keluar kelas.
"Sehun sangat keterlaluan." Jongin berdecak kesal dengan perilaku Sehun yang suka menyuruh orang lain seenaknya.
Chanyeol menghela napas mendengar itu. Sudah rahasia umum di sekolah jika Kyungsoo adalah anak seorang pembantu di keluarga Oh. Kyungsoo anak pintar yang masuk sekolah ini karena beasiswa penuh, sering mendapat celaan mengenai hal itu. Untung ia sekelas dengan Chanyeol yang bisa terkadang mengawasi. Sebagai ketua kelas dan ketua klub yang sama, sudah menjadi kewajiban Chanyeol untuk peduli sesama.
"Chanyeol-ah. Aku minta bekalmu ya?"
"Dasar rakus!"
.
OoooO
.
Setelah selesai dengan makan siangnya, Baekhyun bergegas merapikan ulang penampilannya dan mengajak Jongwoon untuk pergi ke sekolah Chanyeol untuk kedua kalinya.
Anak itu membawa turut serta majalah fashion yang terdapat beberapa fotonya di dalamnya. Ia akan memberikan majalah itu pada pangeran idamannya. Sudah beberapa jam tadi ia habiskan bersama ibunya dengan mengagumi fotonya yang terpampang dimajalah. Tak lupa ia memotonya dan memamerkannya pada Luhan. Baekhyun bahkan selalu tertawa jika mengingat isi balasan chat dari Luhan yang isinya penuh emotikon cemberut marah karena ia tak diajak foto bersama. Hyekyo hanya gemas dengan kelakuan kedua anak itu meskipun saling iri tapi tak ada rasa kebencian disana. Mereka berdua berteman dengan tulus dan akrab. Mungkin lain kali ia akan mengajak Luhan berofo bersama ketika ada projek lain.
Asal kalian tahu, Baekhyun menjadi ikon baru style anak-anak di Kid HK Magazine dimana Hyekyo menjadi salah satu desainernya. Ide ini berasal dari ia mendapat tema ulang tahun dan bertepatan dengan anaknya yang akan berulang tahun, dan terjadilah itu semua. Hyekyo bangga anaknya dapat berpose dengan profesional dan hasilnya jauh dari ekspektasinya. Mungkin karier Baekhyun berawal dari sini. Bahkan Hyekyo sampai memesan 10 majalah. Hyekyo bangga dengan Baekhyun.
Dan disinilah Baekhyun sekarang. Dengan tas ransel pikachu tipis yang hanya berisi majalah, ia sudah berdiri di depan gerbang sekolah Chanyeol.
"Sepertinya sekarang Tuan muda Chanyeol masih belajar, Tuan muda." Jongwoon yang berdiri dibelakang Baekhyun memberi nasihat kepada Tuan mudanya untuk menunggu di mobil saja sambil menunggu jam pulang sekolah.
"Tapi aku sudah tidak sabar~" Bibir Baekhyun mengerucut. Tatapan matanya menatap sendu pada pintu gerbang yang tertutup rapat.
"Bagaimana kalau kita membeli ice cream dulu, Tuan muda? Atau kita membeli snack di mini market seberang."
Baekhyun menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Tuan muda?" Inilah dimana saatnya Jongwoon mulai merasakan harap-harap cemas.
"Ahjusshi!"
"Iya Tu-" Belum selesai Jongwoon menjawab, ternyata panggilan itu bukan untuknya. Tuan mudanya sudah berjalan kearah pintu gerbang dan melambaikan tangan dengan semangat kepada seseorang diseberang.
"Ahjusshi! Ahjusshi! Bolehkah Baekhyunnie masuk kedalam?" Baekhyun memandang sendu kearah satpan dengan kedua tangannya menggenggam sela jeruji pagar yang bercat putih.
Jongwoon menghela napas pasrah melihat Tuan mudanya berani memberikan aegyeo kepada seorang satpam sekolah. Tubuh satpam itu begitu kekar dan wajahnya yang menyeramkan. Jongwoon saja merasa enggan jika berurusan dengannya.
"Ajhusshi~ tolong bukakan pagarnya untuk Baekkie~ Baekkie mohooon~"
Sebagai seorang pengawal, saat ini Jongwoon merasa ia tak ada gunanya. Tapi ia juga bingung harus melakukan apa. Melihat si satpam menatap Tuan mudanya dengan pandangan tajamnya, Jongwoon siap-siap menolong Tuan mudanya.
Cklek.
"Sini, masuklah adik manis."
Eh?
Tubuh Jongwoon membatu. Tak menyangka si satpam membukakan pintu dan tersenyum ramah kepada Tuan mudanya. Tuan mudanya pun meloncat girang mengucapkan terima kasih kepada si satpam dan berlalu masuk ke dalam sekolah. Saat Jongwoon mau ikut masuk, sayangnya ia dihadang.
"Mau apa kau?" si satpam kembali menutup pintu gerbang dengan tiba-tiba membuat Jongwoon terkejut.
"Saya adalah pengawal Tuan muda Baekhyun dan saya ingin ikut masuk kedalam." Jongwoon memberi penjelasan berharap si satpam mengijinkannya masuk.
"Pakaiaanmu terlalu mencolok untuk berada dilingkungan sekolah. Kau seperti mata-mata."
"Apa?" mata sipit Jongwoon melebar.
"Tak ada pintu untuku. Tunggu saja satu jam lagi saat sekolah usai."
"Ta-tapi-" Jongwoon menelan ludahnya melihat satpam memamerkan otot lengannya yang besar, kemudian ia mundur beberapa langkah. Jongwoon berharap semoga Tuan mudanya tidak membuat keributan dan segera bertemu dengan Chanyeol.
.
OoooO
.
Baekhyun kembali pada tempat kemarin, dimana dirinya wajib memilih jalan yang bercabang. Bibirnya mengerucut, kakinya melangkah asal di sepanjang koridor. Ia bisa mendengar suaran guru yang masih memberi pelajaran di masing-masing kelas yang ia lewati. Tingginya yang tak mencapai jendela kelas yang tinggi, membuatnya tak di sadari seseorang pun di lorong yang sepi. Saat ini adalah pelajaran terakhir, mungkin para murid enggan keluar kelas dan memilih menunggu jam pelajaran usai.
Langkah kaki Baekhyun terhenti. Matanya berbinar melihat satu objek yang ia pandang. Ia langsung berlari mendekati objek itu dan meraihnya.
"Adik manis, kau mau permen itu?"
Baekhyun menoleh kearah suara disamping kanannya. Matanya mengerjab melihat seorang wanita paruh baya yang berjongkok tersenyum menatapnya.
Saat ini Baekhyun sedang berada di kantin sekolah. Anak itu menggenggam sebuah permen lollipop. Ia tak mengangka bisa menemukannya disini. Selama ia hidup, ia hanya pernah merasakan permen itu sekali waktu ia dititipkan dirumah Luhan dan Luhan memberinya permen lollipop. Baekhyun tak mempunyai kesempatan menikmati permen itu lagi karan ibunya akan memarahinya. Hyekyo tak melarang Baekhyun untuk makan ice cream, tapi ia melarang keras Baekhyun untuk memakan permen lollipop. Baekhyun sangat sedih dengan itu.
Dengan terpaksa Baekhyun mengulurkan permen itu kepada wanita paruh baya yang sepertinya pemilik kantin.
"Ahjumma~ ini permennya aku kembalikan. Aku ingin permen ini, tapi eomma melarangku untuk memakannya." Bibir Baekhyun mengerucut dengan tatapan mata sendunya dan itu sukses membuat si pemilik kantin merasa kasihan.
"Dimana eomma-mu?"
"Dirumah."
Si pemilik kantin mengelus surai lembut Baekhyun, "Kau disini dengan siapa?"
Dagu Baekhyun terangkat menatap si pemilik kantin yang tersenyum lembut kearahnya. "Aku kesini bersama Jongwoon ahjusshi tapi aku sedang mencari Chanyeol hyung, apakah ahjumma tahu dimana Chanyeol hyung?"
Si pemilik kantin berpikir jika anak dihadapannya ini sedang mencari kakaknya dan sepertinya nama Chanyeol tak asing bagi pendengarannya. "Apakah yang kau maksud 'Chanyeol hyung' itu si pemuda yang tinggi yang tampan?" Wanita itu mengingat-ingat sosok pemuda cerdas dan termasuk jajaran idola di sekolah ini.
Mata mungil Baekhyun berbinar dengan bibir tipis terbuka tersenyum lebar, "Chanyeol hyung sangat tinggi dan tampan! Itu pasti Chanyeol hyung!" Baekhyun yang menjawab penuh semangat membuat si pemilik kantin tersenyum gemas melihat tingkah anak yang berada dihadapannya.
"Setahu ahjumma, Chanyeol kelas dua dan berarti kelasnya berada di lantai dua."
"Lantai dua?" Baekhyun mengulang.
"Iya, kau harus menaiki tangga di belokan depan. Apakah perlu ahjumma antar?"
Baekhyun menggelengkan kepala tapi tak menghilangkan senyum manisnya. "Tidak perlu ahjumma, terima kasih. Aku akan mencarinya sendiri. Aku kan sudah hampir SMP!" Baekhyun membanggakan dirinya jika ia bisa melakukan apapun sendirian dan itu membuat bola mata wanita paruh baya tersebut membola. Ia kira anak laki-laki yang ia ajak bicara itu paling tidak kelas tiga sekolah dasar. Ternyata penampilan dan keimutannya menipu. Walaupun merasa tertipu dengan usia anak itu, si pemilik kantin tetap gemas dengan tingkahnya yang memang asli menggemaskan.
Tet. Tet. Tet.
"Apakah itu suara bel pulang sekolah ahjumma?" telunjuk kanan Baekhyun setengah terangkat si samping kepalanya saat mendengar bunyi itu.
"Iya, sayang. Sebaiknya kau tunggu dibawah tangga saja dari pada harus naik tangga. Chanyeol juga pasti akan turun." Wanita itu memberi nasihat. Ia tak tega jika Baekhyun harus naik tangga.
Baekhyun sedikit memiringkan kepalanya kekanan memikirkan perkataan wanita dihadapannya. Dahinya berkerut. Ia ingin segera bertemu Chanyeol mengapa si pemilik kantin menyarankan untuk menunggunya? Dengan penuh keraguan Baekhyun mengangguk.
Si pemilik kantin tersenyum lemut dan mengulurkan kembali permennya. "Permennya buatmu saja, jangan lupa setelah sampai rumah segera sikat gigi. Pasti ibumu melarangmu makan permen agar gigimu tidak berlubang. Ingat itu?"
Baekhyun menerimanya dengan senyum penuh hingga hampir mencapai telinga, "Eung! Iya ahjumma. Terima kasih~" Baekhyun membungkuk dan memamerkan senyum manisnya.
"Aigoo, anak pintar."
Baekhyun lambaikan tangan kepada wanita itu lalu berjalan keluar kantin mencari pangerannya.
Sembari berjalan, anak itu membuka permen lollipopnya perlahan. Ketika sebuah bulatan berwarna cokelat terlihat setelah ia membuka bungkus plastiknya, ia menelan air liurnya. Ia berhenti sebentar di sebuah tong sampah dan membuang bungkusnya lalu memasukan permen lollipop itu kedalam mulutnya. Rasa manis menyebar diseluruh rongga mulutnya. Tubuhnya bergidik senang merasakan rasa permen itu lagi.
Keadaan koridor kali ini sangat ramai dengan banyaknya siswa yang tak sabar ingin pulang kerumah. Baekhyun menepi, bahunya menempel ke tembok takut tubuhnya yang mungil akan tersenggol dan jatuh. Tanggapun terlihat sangat ramai dengan banyaknya siswa yang menuruninya dan saling bercanda. Ia ragu untuk menaiki tangga, sepertinya menuruti nasihat pemilik kanti tak ada salahnya.
Setelah sekiranya keramaian itu reda, ia duduk berjongkok. Baekhyun lelah dari tadi berjalan kemari dan berdiri. Ia menyesal tidak menuruti pengawalnya dan, Jongwoon ahjusshi dimana? Ia baru sadar pengawalnya tidak ada di sekitarnya. Baekhyun mengeluarkan lollipop dari mulutnya dan menggenggam erat batang putih itu. "Rasamu sangat manis~ aku suka~" lalu mengecup lollipop itu dengan semangat.
Dug.
Baekhyun terungkur di koridor. Ada seseorang yang menendang pantatnya, ia yakin itu. Walau tendangan itu tak terlalu kencang, tetapi Baekhyun tersungkur kedepan dengan tangan yang menyangga berat badannya dan lututnya yang masih terluka kini rasanya bertambah nyeri, padahal ia yakin saat mandi tadi luka itu sudah mengering.
"Sakiiit." Baekhyun manganggat dagunya melihat orang yang tega menendangnya. "Kenapa hyung menendang kuuuu?" bibirnya mengerucut kesal.
"Gara-gara kau muncul, rencanaku kacau. Mengapa kau datang kesini lagi? Ha?"
Wajah orang yang dipanggil 'hyung' oleh Baekhyun mempunyai wajah yang tampan tapi terkesan dingin dan pemarah. Niat awal yang ingin mengomel orang itu lagi surut. Baekhyun menelan ludahnya ketika malah ia yang dimarahi padahal statusnya korban.
"A-aku mencari Chanyeol hyung." Baekhyun menggigit bibirnya takut-takut akan dimarahi lagi. Baekhyun benci dimarahi.
"Tak seharusnya kau-"
"Sehun-ah! Apa yang kau lakukan dengan anak itu?"
Ucapan Sehun terhenti saat orang lain menginterupsi.
"Pikachu hyuuung~ hyung itu jahat pada Baekhyunnie!" dengan posisinya yang masih duduk dilantai, Baekhyun mengacungkan telunjuknya pada orang yang menendang bokongnya. Tak lupa bibirnya mengerucut kesal.
Sehun mengendus mendengar pengakuan itu. Dasar anak manja. Masih dengan menjaga sikap tenangnya. Sehun memasukan telapak tangannya kedalam saku celana dan berlalu pergi tanpa mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Hya! Oh Sehun! Kemana kau!" Jongdae berteriak memanggil Sehun tapi anak itu tak ada respon. "Isshh dasar anak itu." didalam hati Jongdae mengucap puluhan kata makian pada adik kelasnya yang tak mempunyai sopan santun itu.
"Hyuuu~ng. Kenapa hyung yang tadi itu jahat sekali?"
Perhatian Jongdae kembali pada Baekhyun yang kedua kalinya ia temui. "Entahlah Baekhyun-ah, hyung sendiri juga tak akrab dengannya. Sini, ulurkan tanganmu." Jongdae mengulurkan tangan kakannya pada Baekhyun, mengajak anak itu berdiri.
"Apakah ada yang yang terluka?" dahi Jongdae mengernyit melihat Baekhyun yang menunduk. Tinggi Baekhyun yang bahkan tak mencapai lehernya itu memilin ujun kaos polo birunya. Ia yakin kalau bibir anak itu pasti mengerucut. "Baekhyun-ah?"
"Hyung."
"Ada apa?"
"Permenku jatuh."
"Apa?"
Dengan bibirnya yang melengkung kebawah, Baekhyun menatap Jongdae dengan tatapan melasnya, "Itu hyung, lollipopku jatuh kelantaiii." Anak itu menunjuk lollipopnya yang tergeletak kelantai dengan dagunya.
Jongdae menghela napas. Ia kira ada hal yang parah. Ternyata. "Hyung akan membelikannya lagi. Sudah jangan mengangis." Jongdae menepuk bahu Baekhyun. "Ayo kita kekantin."
"Tidak mauuuu."
Jongdae menghela napas. Sebenarny ia masih kesal dengan Baekhyun dengan teganya meninggalkan dirinya dengan pose keren sendirian. Walaupun begitu, mana mungkin tega ia meninggalkan anak sekolah dasar ini sendirian. Kenapa anak ini selalu merepotkan?
"Ada apa lagi?" Jongdae berusaha menahan tangannya untuk tidak mencubit pipi Baekhyun yang terlihat sama menggodanya dengan pipi kekasihnya.
"Kalau aku ke kantin, Chanyeol hyung akan keburu pergi." Pandangan Baekhyun surut kembali.
"Ya sudah, tunggu saja disini. Hyung akan membelikan permen lollipop untukmu." Sepertinya Jongdae sendang berteman dengan malaikat baik hati.
"Terima kasih pikachu hyungie~"
.
OoooO
.
"Chanyeol-ah, kau yakin meminjam buku sebegitu banyaknya?" Jongin menatap ngeri kearah buku yang dibawa Chanyeol.
"Ini hanya tiga buku, Jongin. Jangan berlebihan."
"Walaupun tiga, tapi itu buku yang tebal!"
Chanyeol memutar bola matanya, "Yang membacakan aku. Mengapa kau yang protes."
Jongin mengendus, "Kau masih dendam padaku karena kejadian tadi, ya?" jiwa jahil Jongin kambuh. Ia mencolek dagu Chanyeol.
Plak.
Chanyeol memukul telapak tangan Jongin. "Jangan bertingkah menjijikan! Pulanglah sana. Aku kan nanti ke UKS dulu." Chanyeol meninggalkan Jongin yang sibuk mengelus punggung tangannya yang nyeri. "Dasar tak tahu berterimakasih! Padahal sudah aku temani diperpustakaan!"
"Aku tak menyuruhmu menemaniku. Kau saja yang kurang kerjaan."
Mereka berdua meninggalkan perpustakaan dengan ekspresi yang berbeda. Chanyeol yang sibuk melihat salah satu buku yang dibawanya dan Jongin yang sibuk menggerutu. Bahkan mereka berjalan pun tak ada perbincangan yang menarik seperti biasanya.
Sampai di bawah tangga, Jongin menyenggol Chanyeol.
"Ada apa lagi Jongin-ah."
Jongin menunjuk kearah sosok yang ia kenal akrab dari kelas sebelah, Kim Jongdae dan seorang anak laki-laki yang menggelayut di leher temannya.
"Bukankah itu-"
"Baekhyunnie?!" Mata Chanyeol membola. Ada perasaan yang mengganjal melihat Baekhyun akrab dengan orang lain selain dirinya. "Jongin-ah, titip bukuku."
Jongin terkejut tiba-tiba ia dipasrahi buku tebal yang dari tadi Chanyeol baca. Sahabatnya itu langsung berlari menghampiri Baekhyun.
Baekhyun yang sibuk menggelayut dipunggung Jongdae, langsung sumringah melihat pangerannya menghampirinya. "Chanyeol hyuuuung~"
"Ugh B-baek, lepaskan. Ugh leherku." Jongdae merasa kesakitan kerena Baekhyun terlalu erat memeluk lehernya.
"Eh eh Jongdae hyung jangan bergerak terus… aku bisa jatuuuh."
"Sini Baek."
Baekhyun terkejut merasakan tubuhnya menjadi ringan dan berpindah pada gendongan ala koala oleh pangerannya. Kini gantian Chanyeol yang dipeluk erat oleh Baekhyun, tapi ia tak mempermasalhakannya.
Jongdae menghela napas, "Akhirnya kau datang juga Chanyeol-ah. Anak ini dari tadi menunggumu." Ia mengelus lehernya yang nyeri akibat ulah Baekhyun.
Chanyeol tak bisa menahan senyumnya ketika mengetahui jika Baekhyun mencarinya. "Terima kasih Jongdae-ya." Ia tersenyum kearah Jongdae sembari mengelus rambut Baekhyun.
"Iya… kalau begitu aku pamit dulu Chanyeol-ah."
"Bye bye~ Jongdae hyung~ chu~" Baekhyun memiringkan badannya yang masih dalam gendongan Chanyeol lalu memberi kiss bye kepada Jongdae. Yang di beri kiss bye hanya terkikik membalas lambaian tangan si mungil.
"Ehem… Baekhyunnie mengapa kau bisa ada disini?"
Chanyeol menginterupsi acara lambaian tangan Baekhyun dan Jongdae.
"Aku kangen hyung~" tanpa menunggu lebih lama lagi, Baekhyun melupakan Jongdae yang masih melambaikan tangan dan kembali memeluk leher Chanyeol. Jongdae terabaikan –lagi.
Chanyeol terkekeh dengan sikap manja Baekhyun . Ia juga membalas erat pelukan Baekhyun. Aku juga.
"Ehem."
Mereka berdua melepas pelukan, menolehkan kepala kearah orang yang mengganggu acara peluk manja mereka.
Yang ada hanya Jongin yang menatap datar kearah mereka. Laki-laki berkulit lumayan gelap itu melipat kedua tangannya didepan dada, mengampit buku tebal Chanyeol. Saat matanya bertatapan langsung dengan Baekhyun, bola mata Jongin langsung membulat dan langsung mendekat kearah Chanyeol.
"Wah waaah ternyata jika dilihat dari dekat lebih menggemaskan! Ya ampun. Baekhyunnie~ ayo sini ikut Jongin hyung. Ayo~." Jongin mengulurkan kedua tangannya berharap Baekhyun berpindah kedalam gendongannya.
Baekhyun mengerjapkan mata dengan sikap orang asing yang mengaku dirinya bernama 'Jongin hyung'. Menurut Baekhyun, wajah orang itu sangat mencurigakan.
Sedangkan Chanyeol memandang jengan dengan sikap Jongin, "Kau sangat men-ji-jik-kan." Chanyeol memutar tubuhnya, menghindari Jongin yang sepertinya berjiwa om-om pedho terhadap Baekhyun.
Diperlakukan seperti itu, Jongin balas memincingkan matanya memandang Chanyeol. "Kau juga." Ia mengendus, "Ini buku mu!" dengan kejamnya Jongin melempar buku itu. Chanyeol yang terkejut hanya membiarkan buku itu jatuh ke lantai.
"Yak! Buku itu buku perpustakaan!"
"Terserah. Aku pulang saja. Kau selalu mengabaikanku ketika ada dia. Hiks. Kau jahat padaku." Jongin mengusap air mata imajinernya, berakting merasa diduakan oleh Chanyeol lalu berlalu pergi.
Melihat tingkah sahabatnya yang semakin hari semakin aneh itu membuat Chanyeol geli sendiri.
"Chanyeol hyung, dia kenapa?" Baekhyun yang tak tahu keadaan yang sebenarnya sedang berpikir keras tentang apa yang terjadi diantara dua orang yang lebih tua darinya itu.
"Abaikan saja, Baekhyun-ah. Dia memang agak kurang lurus hari ini."
Mendengar penjelasan Chanyeol. Membuat dahi Baekhyun semakin mengkerut.
Chanyeol yang gemas, menggerakkan tangannya mengacak poni Baekhyun. "Sudahlah. Tak usah dipikirkan."
Baekhyun mengangguk menyetujuinya. Otaknya hanya bisa memproses drama singkat Disney Princess dan animasi petualangan, belum bisa mencerna kisah sinetron yang sering ibunya tonton.
"Baekhyun-ah, bisakah kau turun? Hyung mau mangambil bukunya." Tanpa menunggu balasan Baekhyun, Chanyeol sedikit membungkukkan tubuhnya, membiarkan kaki Baekhyun menginjak lantai.
Kini Chanyeol berjongkok mengambil buku yang tadi dilemparkan Jongin. Ia menghela napas melihat keadaan buku yang untungnya tak ada yang cacat. Kemudian ia turunkan tas ranselnya dari bahunya dan memasukan buku tebal itu kedalam tasnya.
"Wah bukunya hyung tebal-tebal. Apakah jika SMA semua buku akan tebal seperti itu? Buku sekolahku saja tipis. Pasti itu berat. Aku saja sekarang hanya membawa majalah dan lollipop tapi terasa berat. Ah lollipop!"
Baekhyun teringat jika lollipop yang Jongdae berikan padanya belum ia makan. "Lihat hyung~ Jongdae hyung memberikan aku lollipop." Ia memamerkan lollipop yang diberikan Jongdae kepada Chanyeol.
Chanyeol kembali berdiri serta membenarkan posisi tas ranselnya. Ia hanya bisa melihat Baekhyun membuka bungkus permen lollipopnya lalu memakan permen itu dengan penuh raut bahagia.
"Ah aku juga sudah berfoto dengannya hyung! Kemarin kan aku lupa~ untung tadi aku ingat."
"Aku akan mempostingku dengan Jongdae hyung di instagram."
Chanyeol hanya mendengar semua ucapan Baekhyun tanpa membalasnya. Tatapannya terus terarah pada sosok mungil dihadapannya yang sibuk mengemut permen dan mengutak-atik ponselnya. Terkadang ia bingung dengan Baekhyun, sesaat si mungil polos keterlaluan tapi di lain pihak anak itu ternyata aktif juga di media sosial. Ponselnya pun setipe dengannya. Pergaulan anak jaman sekarang.
Tapi yang mengganjal di hati Chanyeol, mengapa Baekhyun selalu membanganggakan Jongdae? Chanyeol merasa kesal.
"Baekhyun suka dengan Jongdae?" Chanyeol meloloskan pikirannya.
"Iya. Tentu saja~" Baekhyun yang fokus dalam proses memposting foto diinstagram membalas singkat pertanyaan Chanyeol.
Jawaban itu membuat perasaan Chanyeol semakin gundah. "Baekhyunnie lebih suka Jongdae hyung atau Chanyeol hyung?" entah mengapa Chanyeol sekarang merasa dirinya childish.
Baekhyun langsung mendongakan kepalanya menatap Chanyeol dengan senyum manisnya. "Tentu saja aku lebih suka Chanyeol hyung~" ia mengulurkan tangan berharap Chanyeol menggendongnya lagi.
Sayangnya Chanyeol malah menggelengkan kepala, "Tapi sepertinya Baekhyunnie suka sekali dengan Jongdae."
Bibir Baekhyun melengkung kebawah dan kembali menurunkan tangannya. Mengapa Chanyeol hyung terus bertanya?
"Aku suka Jongdae hyung karena Jongdae hyung mirip pikachu~" Baekhyun membalikan badannya, "Lihat hyung~ tas ku bergambar pikachu mirip seperti wajah Jongdae hyung~" Baekhyun berbalik lagi dan terkikik. "Aku suka pikachu!" lalu tersenyum mendeklarasikan seberapa sukanya ia dengan salah satu tokoh anime Jepang.
Tanpa Chanyeol sadari, dirinya merasakan perasaan lega dengan jawaban polos Baekhyun. Ia mengulurkan tangannya mencubit pelan kedua pipi Baekhyun. "Imutnya."
Pipi Baekhyun memerah. Senyumnya semakin terkembang beserta eye smile ciri khasnya.
"Kalo hyung suka dengan rilakkuma."
Kini Baekhyun sedikit memiringkan kepalanya mendengar nama asing itu. "Animenya di channel apa, hyung?"
Chanyeol tak bisa menahan tawanya mendengar pertanyaan Baekhyun. Ia kembali melepaskan ranselnya dari bahunya dan memperlihatkan sebuah gantungan kunci berukuran segenggam tangannya kepada Baekhyun. "Lihat. Ini yang namanya rilakkuma. Animenya sudah lamaaa sekali. Sekitar tahun 2013, mungkin Baekhyunnie masih bayi."
Baekhyun menganggukkan kepala.
Chanyeol melepaskan gantungan kunci rilakkuma itu dari tasnya dan memperlihatkan pada Baekhyun. "Menurut Baekhyunnie, lebih bagus rilakkuma atau pikachu?"
Seumur hidup Baekhyun, pertanyaan inilah yang paling sulit. Ia suka pikachu dari tiga tahun yang lalu sampai mendekor ulang kamarnya bertema pikachu, tetapi pangerannya suka rilakkuma. Tapi rilakkuma itu imut juga. Tanpa merasa ragu lagi, telunjuk Baekhyun mengarah pada rilakkuma yang Chanyeol bawa.
Chanyeol menyeringai, "Benarkah?"
Seringai Chanyeol menurut Baekhyun itu sangat tampan dan menularkan senyum padanya, "Iya!" kepalanya mengangguk semangat.
"Anak pintar. Rilakkuma itu lebih keren. Ini gantungan kunci rilakkumanya untuk Baekhyunnie." Chanyeol mengulurkan gantungan kuncinya pada Baekhyun.
Tentu saja hati Baekhyun sangat berbunga menerima hadiah pertama dari pangerannya. Ia menggerakkan kedua tangannya menangkup gantungan kunci berbentuk beruang cokelat kekuningan itu. Raut wajahnya berseri penuh kebahangiaan.
Chanyeol mengusap surai rambut Baekhyun, anak itu masih terpaku dengan gantungan kunci yang ia beri. Apakah dia sebegitu senangnya?
"Hyung kapan-kapan akan memberi Baekhyunnie boneka rilakkuma."
Kini Baekhyun berganti memandang Chanyeol dengan penuh harapan.
"Hyung janji." Chanyeol memamerkan senyum tampan meyakinkan dan membuat Baekhyun mengangguk senang.
"Pinky promise?" Baekhyun mengulurkan jari kelingking kanannya.
"Pinky promise!" balas Chanyeol dan menautkan kelingkingnya pada kelingking Baekhyun. Perbandingan jari kelingking mereka membuat keduanya tertawa.
"Chanyeol-ah!"
Kepala Chanyeol menoleh, memandang seseorang yang memanggilnya. "Oh, Kyungsoo-ya. Ada apa?"
Kyungsoo berjalan mendekat, "Kau melupakan janji dengan Dokter Cho. Beliau sudah menunggu dari tadi."
Chanyeol tersentak. Ia menepuk dahinya pelan. "Ya ampun. Aku benar-benar lupa. Beliau masih menunggu?"
"Iya, cepatlah temui beliau karena sebentar lagi Dokter Cho akan ada urusan lain."
Chanyeol menggigit bibirnya. Bagaimana bisa ia melupakan janji dengan Dokter Cho. Pandangannya menoleh kearah Baekhyun yang terlihat kebingungan, "Baekhyunnie, maukah kau tunggu hyung sebentar? Hyung janji akan segera kembali."
Baekhyun mengernyit ragu.
"Kyungsoo-ya, aku titip Baekhyun sebentar boleh?"
Kyungsoo mengangguk, "Tak apa Chanyeol-ah. Cepatlah temui Dokter Cho."
"Iya, tentu." Tangan Chanyeol menepuk pelan bahu Bakehyun, "Hyung tinggal sebentar, ya."
Chanyeol langsung berlalu tanpa menunggu jawaban Baekhyun.
Tentu saja itu membuat si mungil mengerucut kesal. Mata indahnya melirik takut-takut kearah sosok asing yang bernama Kyungsoo. Tanpa Baekhyun sangka Kyungsoo memberikan ia tatapan yang tajam.
"Kau yang mengaku pacar Chanyeol, ya? Kau itu masih kecil, tapi sudah berani merebut pacar orang. Yah mungkin sekarang belum, tapi kelak aku yang akan menjadi pacarnya."
Baekhyun tak menjawab. Ia mundur selangkah. Memeluk erat gantunagn kunci rilakkuma yang sudah menjadi miliknya.
.
OoooO
.
TBC
.
OoooO
.
Thanks to:
D'Queens - chenma - firdazzy - baekhyeol - cookiebyun - ChanBMine - yolopolo - yolopolo - EXO Love EXO - Guest - ade park - yeollite - erry-shi - tjeyeee - sehunboo17 - chogiwa - Asmaul - kim21jongdae - exofujosh - calldy - moontae - laraswu89 - Park Yoo Ni - Guest - mrsbunnybyun - sunsehunee - AGNESA201 - txetxeet - Restikadena - baelight - baekbizz - hunniehan – auliamhrani - LoveB - exofujosh
.
a/n
Sebenarnya ini bukan pov Chanyeol yang aku maksud #ngumpet
Sub judul ini ketinggalan~
sub judul 'Chanyeol and Baekhyun' kemarin itu g ada dan adegan kissing-nya juga g adaaaaa. Karena adegan kissing itu, aku malah ngelantur nulisnya ampe nambah sub judul #ngumpet
Btw, aku kok merasa genre ini berubah jadi adventure si Baekhyun menjelajah sekolah Chanyeol ya? Apa cuma perasaanku? hahaha
Yang ngarep naikin rate, tunggu Baekhyun gedean(?) ya~
Yang kemarin komen gemes ma Baek, semoga di chap ini g jadi eneg karena overdosis ya. Mungkin baek yang emesin akan ku kurangin aja wkwkwk
Semoga chapter ini g mengecewakan kalian. Apakah sudah ada yang bisa nebak konfliknya?
Jangan lupa review ya~
Love u all~ chu~
#kissbye ala Baekhyun
