Yaha! Saya datang kembali!

Terimakasih buat Akita Need –Musicspeech,Yaklin1412, undine-yaha dan Yukari Hyuu-Kei. Semua sudah saya balas lewat PM.

Dan buat yang nggak login :

Nxkwlyac : Maaf, maksud dari review anda apa ya? Saya bingung sendiri, itu link suatu halaman web atau link ngasal. Sekali lagi, saya tidak tahu apa yang anda tulis di review anda.

DarkAngelYouichi : nggak apa – apa kok ^^. Saya juga sebenarnya masih amatir soal musik. Makasih dan ini dia updatenya!

Sebenarnya di chapter 2 ada kesalahan kata lagi. Alternatif Picking itu seharusnya Alternate Picking! Saya mau berterimakasih buat Akita Need –Musicspeech, yang sudah mau memberitahu saya! Hontou ni arigatou^^

Semoga saja di chapter ini sudah tiada typo dan kesalahan istilah lagi #ngarep#

Di chapter ini mungkin bahasa musiknya akan lebih sedikit, tapi saya nggak jamin itu -.-

. . .

Isabel And The Red Guitar

Chapter 3 : Lagu Baru

By : Hikari Kou Minami

Disclaimer : Eyeshield 21 by Yuusuke Murata & Riichiro Inagaki

Isabel Harvard dan OC lainnya milik saya seorang!

Rating : Teen

Genre : Romance, Tragedy

Warning : AU story, GaJe (so pasti!), abal, misstypo (maybe), time and place set yang membingungkan dan terkesan nggak mungkin, OOC (maybe), nggak ada hubungannya sama sekali dengan American Football, alur cerita yang aneh bin ajib, khayalan tingkat tinggi, dan hal – hal nista yang biasa dibuat oleh author newbie di setiap fandom.

And last, if you don't like this fic, don't read and review even flame at me!

Please, click on 'Back' button if you don't want to continue this fan fiction, I don't forbid you

Message : I hope all of you like this

Don't like don't read

=XXX=

Dua hari kemudian, CD demo dikirim ke salah satu perusahaan rekaman. Mereka berharap agar CD demo itu dapat diterima oleh perusahaan rekaman itu agar mereka dapat segera resmi menjadi band indie dan dapat melakukan debut band mereka secara live di hadapan penonton. Dan juga sebagai perwujudan mimpi Isabel dan Watt.

Yeah, mereka mempunyai mimpi sejak kecil bahwa mereka akan membuat sebuah band yang terkenal sampai ke luar negeri. Dan oleh sebab itulah, ini adalah langkah awal bagi mereka berdua untuk mewujudkannya. Paling tidak, menjadi band yang dapat eksis di pasar musik dalam negeri sudah cukup bagi mereka berdua.

Some days later...

Los Angeles, November17th, 2008

"Isabel!" teriak seseorang dari luar gedung yang terlihat tua. Bersama dengan lelaki berambut merah dan berambut hitam, ia mengetuk–ketuk pintu gedung itu. Setelah entah ke berapa kali ketukan yang ia lakukan, seorang gadis berambut merah gelap dan gadis berambut merah sedikit pink membuka pintu itu.

"Watt, sudah kubilang suara for-"

"Lagu demo kita diterima!" pekik lelaki itu keras hingga sukses membuat keempat orang disana menutup alat pendengaran mereka secara kompak untuk menghindari budeg permanen jika harus mendengar suara fortisissisimonya Watt.

Setelah mendengar kabar itu, wajah Isabel dan Felica langsung sumringah. Mereka lalu tertawa gembira. "Bel, lagumu diterima!" pekik Felica senang sambil memegang tanga Isabel.

"Iya, Fel, tapi, itu bukan laguku saja..." kata Isabel menggantungkan perkataannya. "Itu lagu kita. Itu lagu The Blood." lanjutnya sambil tersenyum senang. Akaba secara diam-diam tersenyum tipis melihatnya.

"Dan katanya kita akan rekaman di perusahaan itu sebagai band indie! Dan kita juga akan dipersiapkan untuk perform di salah satu konser seorang penyanyi untuk memulai debut kita secara live!" pekik Watt lagi.

"APA? DEBUT?" pekik kedua gadis itu terkejut. Jelas saja, Akaba, Watt dan Kevin sudah kaget duluan saat berada di perusahaan itu. Tadi saja suara kaget Watt lebih forte dari biasanya. Seakan sebuah pukulan keras pada drum memukul hatinya.

"Sungguhkah itu, Watt?" tanya Felica setengah kaget setengah senang. Watt mengangguk cepat, itu berarti ia tak bohong.

"Yey! Akhirnya kita debut juga! Mimpi kita terwujud Watt!" teriak Isabel senang sambil memeluk Felica senang. Felica hanya tersenyum di pelukan Isabel. Akaba hanya tersenyum senang melihat tingkah gadis berambut merah itu. Entah kenapa hatinya juga ikut merasa senang melihat gadis itu tertawa senang seperti itu.

"Lebih baik kita persiapkan hal-hal untuk debut kita, oh ya, Isabel, katanya harus ada paling tidak 2 lagu ciptaanmu agar kita bisa merilis single indie," kata Kevin kemudian. Isabel membelalakan mata hitamnya.

"2 lagu?" gumamnya. Raut wajah cantiknya itu kini berubah menjadi sedikit bingung. "Aku belum memikirkan yang satu," katanya lagi. Ia sedikit mendesah. Sepertinya ia kesal jika harus membuat sebuah lagu lagi.

"Aku akan membantu gadis itu," ucap Akaba tiba-tiba. Semua mata langsung tertoleh ke arah Akaba. Lelaki bermata merah itu melepaskan kacamata birunya. Ia tersenyum tipis.

"Apa maksudmu?" tanya Isabel heran. 'Kenapa lelaki ini mau membantuku? Jangan-jangan ada maksud tersembunyi?' Isabel berspekulasi dalam hati.

"Fuh.. aku bisa membantumu untuk membuat lirik mungkin, atau iramanya," jawab Akaba enteng sambil tersenyum lebar.

"Sungguhkah itu, Akaba?" tanya Watt senang. Akaba hanya mengangguk. "Bagus! Itu berarti lagu itu bisa selesai lebih cepat! Pekerjaanmu akan lebih mudah, bel!" ucap Watt senang.

"Asal dia tak menambah pekerjaanku, kuterima bantuannya dengan senang hati." Jawab Isabel dengan nada sinis. 'Dasar tukang cari muka!' rutuk Isabel dalam hati sambil memandang sinis Akaba. Akaba hanya tersenyum penuh arti melihat sikap gadis itu. Sepertinya ia suka menggoda gadis itu agar kesal dengannya.

"Oke, kita kumpul lagi kalau lagunya sudah jadi, konsernya akan dimulai sekitar sebulan lagi, kuharap kalian berdua bisa segera menyusun lagu itu." kata Kevin menyudahi pertemuan itu.

"Oke! Aku akan pulang dan mengabari seluruh penghuni apartemenku!" kata Watt sambil pergi dengan perasaan happy-go-lucky. Semua orang itu hanya sweatdrop bersama melihat tingkah lelaki itu yang sungguh-sungguh sangat memalukan.

"Dasar orang itu!" ucap Isabel sambil menghela nafas.

"Kalau begitu, aku permisi dulu. Lebih baik mulailah membuat lagu itu dari besok. Lebih cepat lebih baik." Kata Kevin sambil berbalik pulang.

"Iya, Iya!" jawab Isabel kesal mendengar perkataan lelaki itu. 'Suruh-suruh aja!' batin Isabel kesal.

"Aku pamit dulu ya, bel, Akaba." salam Felica sambil tersenyum kepada mereka berdua.

"Iya! Hati-hati, Fel!" salam Isabel balik. Felica hanya tersenyum sambil berjalan pergi. Kini tinggal Akaba dan Isabel disana. Mereka terdiam. Isabel melirik Akaba kesal. "Kau tak pulang?" tanya Isabel datar.

"Kau mengusirku?" tanya Akaba balik, membuat gadis berambut merah itu berbalik menoleh ke arahnya.

"Memangnya kau mau tetap disini? Di depan rumahku ini?" kata Isabel sambil menaruh kedua tangannya di pinggang. Akaba menaikkan alisnya.

"Rumah? Ini gedung tua. Bukan rumah." Kata Akaba kemudian. Sepertinya ia ingin sekali membuat gadis itu ngamuk.

"Aku tahu ini gedung, tapi ini juga merupakan rumahku, tahu! Aku bertempat tinggal disini!" bentak Isabel kemudian.

"Kalau aku mau tinggal disini, kenapa?" tanya Akaba ngasal. Isabel tersentak. Mukanya sedikit panas.

"Kau bodoh ya, gedung ini hanya punya sebuah kamar tidur, dan itu adalah tempat tidurku. Kau mau tidur dimana?" kata Isabel menanggapi perkataan Akaba.

"Fuu.. di sebelahmu." Jawab Akaba enteng lagi dan sukses membuat sang gadis berambut merah itu memerah wajahnya.

BLETAK!

Sebuah nada yang amat sangat buruk dan keras terdengar setelah itu. Nadanya pun tak ada unsur indah-indahnya. Tak enak didengar. Dan apakah sebab suara itu terdengar? Yak! Isabel menjitak kepala Akaba dengan tangannya!

"Jangan main-main, kau! Cepat pulang atau kupukul kepalamu dengan gitar di gedung ini!" teriak Isabel sambil memasuki gedung itu dan menutup –membanting, tepatnya– pintu malang gedung itu. Akaba hanya meringis kesakitan sambil tersenyum senang. Ia berhasil membuat gadis itu marah! Nyalimu sangat besar, Akaba!

Ia tersenyum senang melihat itu. Entah kenapa, ia mempunyai niat sesat untuk menggoda gadis itu agar marah. Sepertinya ritme gadis itu menarik dirinya untuk menggoda gadis itu. Ia merasa ada nada-nada mayor yang menenangkan jika menggoda gadis itu. Ia lalu pergi melangkah menjauh ke arah jalan rumahnya. Ia tengah berpikir, pasti gadis itu tengah mencak-mencak tak karuan di dalam kamarnya.

=XXX=

Los Angeles, November 18th, 2008

"Hai!" kata sebuah suara yang menyambut seorang gadis berambut merah yang kini tengah memasang muka ngantuk. Si gadis mencoba membuat mata onyxnya tersadar siapa yang pagi-pagi ini tengah menyapanya dengan nada sedang itu.

Rambut merah, kacamata biru, jaket jeans merah, t-shirt putih, celana jeans abu-abu dan sebuah kotak gitar. Lelaki itu tengah tersenyum padanya.

"Akaba.." ucap gadis itu setengah sadar.

"Hai!" sapa lelaki itu dengan nada mayor sambil tersenyum. Beberapa detik kemudian, baru mata hitam itu membulat. Ia sadar siapa yang berada di depannya kini. Dan terdengarlah sebuah suara fortississimo.

"Kau! Kau mau ngapain pagi-pagi ke rumahku? Nggak ada latihan apapun kan?" ucap gadis itu sedikit membentak. Wajahnya yang tadi polos sehabis bangun tidur kini berubah drastis menjadi campuran antara marah-kesal-sebal-heran.

"Fuu.. aku datang cuma mau membantumu membuat lagu. Menurut Kevin, lebih cepat membuatnya maka akan lebih cepat pula kita dalam rekaman lagu keduanya," jawab Akaba. Isabel masih menatap lelaki itu kesal.

"Baiklah, tunggu disini 15 menit! Jangan masuk tanpa kuperintah!" jawab gadis itu keras sambil berlalu ke dalam dan menutup pintu. Terdengar bunyi 'cklek' rendah sesaat sesudah gadis itu menutup pintu.

'Jelas aku tak akan masuk. Kau mengunci pintu, lalu aku harus membuka pakai apa?' batin Akaba pintar. Ia juga sepertinya tak bermaksud membuka pintu itu sebelum dipersilakan oleh sang empunya rumah.

15 minutes later...

Pintupun terbuka, terlihat seorang gadis berambut merah dengan t-shirt merah dan jaket putih membalut tubuhnya. Matanya menatap lelaki itu sinis.

"Masuklah." ucapnya datar sambil berlalu ke dalam. Akaba hanya tersenyum melihat itu. Mereka pun berjalan menuju "Record Room". Isabel membuka pintu itu dan mereka pun masuk. Mereka pun duduk di meja dimana mereka makan waktu rekaman dulu.

Terlihat bertumpuk-tumpuk kertas berada di atas meja itu. Ada pula yang sudah teremas tak berbentuk di sekitarnya, membuat tempat ini kotor untuk ukuran seorang gadis. Sebuah pena tergeletak manis di atas sebuah kertas yang tersendiri. Kertas itu sendiri masih bersih tanpa setitik noda sekalipun. Tanpa bait-bait lirik, tanpa kunci-kunci gitar maupun tabnya, tanpa not-not balok piano. Tanpa huruf-huruf yang membentuk sebuah kata.

Di dekat masing-masing bangku terdapat cangkir yang mengepul. Secangkir capucinno tertuang di dalam cangkir itu. Beberapa potong roti tawar tergeletak di samping kertas-kertas itu. Sebotol selai coklat duduk manis di sampingnya.

"Duduk dan pikirlah lirik lagu yang akan kau buat, aku sedang buntu ide," ucap Isabel sambil duduk di salah satu bangku. Akaba menatapnya sekilas kemudian ia duduk juga setelah sebelumnya ia meletakkan gitarnya di samping kakinya. Gadis itu lalu meraih sepotong roti dan mengolesnya dengan selai. "Kau ambil saja kalau lapar," kata gadis itu lagi.

Kini ia tengah melahap rotinya dengan sedikit melamun. Sementara Akaba hanya menatapnya sambil memegang sebuah kertas kosong. Gadis itu memakan rotinya perlahan-lahan. Temponya terlihat sangat lambat. Matanya menatap barisan gitar itu dengan tatapan melamun. Akaba hanya menatapnya sambil sesekali menulis sesuatu dengan penanya, meski terkadang ia malah mencoret-coret sendiri tulisannya.

"Kenapa kau melihatku terus? Sudah selesai belum liriknya? Atau kau malah sudah membuat irama dengan ritme-ritmemu itu?" tanya Isabel tiba-tiba. Mungkin karena merasa risih jika ia dilihat terus. Akaba sedikit terkejut. Kenapa gadis ini tahu?

"Kau sendiri dari tadi kenapa? Melamun terus," tanya Akaba balik.

"Aku tadi tidak melamun. Aku hanya sedang memikirkan bagaimana irama untuk lagu baru itu." jawab Isabel sambil meminum capucinnonya dan kembali menatap barisan gitar. "Aku sudah sedikit dapat gambaran tentang iramanya, kau sendiri? Liriknya sudah dapat belum?" sambung gadis itu lagi.

Akaba lalu langsung melihat ke kertas yang sedari tadi ia pegang. "Fuu.. sedikit susah, ritmeku sedikit buruk," ucap Akaba dengan mendesah pelan.

"Makanya, minum dulu capucinnomu. Pikiranmu akan fresh lagi dan ritmemu akan membaik," ucap Isabel sambil tersenyum tipis dan menunjuk ke arah cangkir berisi capucinno di depan Akaba yang belum tersentuh satu ujung jari Akaba pun. Akaba sedikit merasa ada distorsi aneh di dadanya saat ia melihat senyum itu. Ia lalu memegang dadanya perlahan. Sebuah ketukan dengan tempo yang sangat cepat seperti tempo allegro, berdetak disana.

'Ada apa dengan jantungku?' tanya Akaba dalam hati. 'Apa gadis ini melakukan Accelerando pada jantungku?' batin Akaba lagi. Ia lalu mencoba menghapus pikiran itu. Ia harus berkonsentrasi pada kertas dan pena yang ada di hadapannya kini. Ia harus bisa menulis barang satu buah baris. Kalau tidak, gadis ini akan memarah-marahinya.

Tunggu? Memarahinya? Bukankah gadis ini sudah terbiasa marah-marah pada dirinya? Tapi kenapa untuk kali ini saja ia tak ingin gadis ini marah? Aneh.

Ia lalu menghela nafas. Ia kemudian meraih cangkir cappucinnonya. Mencoba merefreshkan pikirannya. Mencoba menyusun kembali ritme-ritmenya untuk menulis sebuah lagu atau bahkan iramanya. Ia lalu meregangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, agar tubuhnya tidak tegang. Ia lalu mencoba berkonsentrasi lagi. Mencoba membuat ritme di otaknya. Membuat ritme yang lalu membentuk sebuah melodi lagu. Mencari kunci apa yang akan ia gunakan saat intro lagu atau paling tidak reffrain. Ia lalu membuka kotak gitarnya. Ia lalu mencoba menggenjreng sebuah kunci. Kunci D. Ia lalu mencoba menggenjrengnya.

Sepertinya cocok.

D. Yak, sebuah kunci sudah muncul di otak Akaba. Tinggal merangkai kunci itu dengan kunci lain agar menjadi sebuah chord. Tapi kunci apa lagi? Ia lalu mencoba dengan memetik kunci lain. Kunci B, kunci C, kunci B#m, kunci F, kunci G dan kunci lainnya. Nadanya pun ada yang berubah menjadi mayor ada pula yang minor.

Ia lalu mengacak rambutnya. Lagu dengan irama apa yang nanti akan ia buat? Pikirnya kesal. Sudah tiga puluh menitan ia mencocokkan nada dan kini ia bingung apa irama yang akan ia buat. Dan entah kenapa mata merahnya kini malah teralih ke arah gadis berambut merah di sampingnya yang kini tengah... tertidur?

Akab tertegun sejenak. Gadis ini.. tertidur..? Yah, tertidur di atas meja dengan alas kedua tangannya yang ditekuk menimpa sebuah kertas. Angin dari luar memang sepoi-sepoi dan membuat hawa mengantuk tapi ini kan masih pagi!

Pandangan Akaba kemudian teralih ke kertas-kertas yang teremas. Ia lalu mengambil salah satunya. Sederet kunci yang membentuk chord tertulis di atasnya. Tapi, dicoret. Baris di bawahnya juga, seperti itu. Ia lalu mengambil kertas lain dan sama saja, chord-chordnya tercoret. Apa gadis ini membuatnya sampai larut? Lalu jam berapa ia tidur?

Akaba lalu meletakkan kertas itu kembali. 'Sepertinya gadis ini bergadang untuk membuat lagu barunya,' pikirnya sambil tersenyum.

Ia lalu mengalihkan pandangannya ke sebuah kertas yang tertindih tangan Isabel. Dengan perlahan, ia mencoba menggeser tangan Isabel dan menarik kertas itu.

D.

Sebuah kunci D tertulis juga disana. 'Gadis ini memang seritme denganku. Fuh.. ritme kami cocok.' batin Akaba senang. Sebuah kunci lain juga tertulis. Bm. Kunci yang mungkin sempat ia coba. Gadis ini ternyata sudah memikirkan iramanya. Gadis ini tak melamun. Ia lalu melihat kunci lain lagi. G? Ia lalu segera mengambil gitarnya dan mencoba menggenjreng chord itu.

Bagus. Ia lalu mencoba menggunakan alternate picking.

Bagus juga.

Gadis yang hebat. Tapi, kenapa hanya 3 kunci? Tak bisakah ia membuat lebih banyak lagi? Ia lalu mencoba mencari kunci lain untuk merangkainya. A, mungkin. Dan sesaat ia mencobanya, ia tersenyum lebar. Ia sudah mendapatkan gambaran iramanya. Ia lalu mencoba mencari kunci lain, tapi ia belum juga mendapatkan nada yang cocok.

Pandangannya lalu teralih pada gadis itu yang sedang tertidur. Rambut gadis itu sedikit menutupi wajahnya yang cantik. Akaba lalu melepas jaket merahnya dan memakaikannya pada Isabel. Mungkin agar tak kedinginan, angin pagi ini sedikit dingin dari biasanya. Ia meliriknya sekilas. Distorsi ringan itu datang lagi. Sejenak, ia kemudian tersenyum tipis melihat gadis itu.

"Fuu.. sepertinya aku tahu, lirik apa yang harus kutulis untuk lagu baru ini." gumam Akaba sendiri sambil tersenyum. Ia lalu menuliskan sesuatu di atas kertas putih yang masih kosong itu. Sebuah bait-bait lagu. Huruf-huruf yang merangkai kata. Dan kata-kata yang merangkai sebuah kalimat. Kalimat yang mungkin ia dapatkan saat memandang gadis berambut merah itu. Sebuah kalimat yang sedikit sedih jika diresapi dengan seksama. Kalimat pengharap cinta meski ia menyangkal, dan cinta itu harus menjauh dari dirinya.

=XXX=

"Yak, selesai!" ucap Akaba kemudian. Suara Akaba yang cukup tenor itu membangunkan Isabel dari mimpi paginya itu.

"Emm.. apanya yang selesai?" ucap Isabel masih dengan kantuk menghinggapi dirinya. Ia lalu menggosok matanya perlahan. Jaket merah Akaba terjatuh perlahan. Isabel seidkit bingung dengan kajet itu.

"Fuu... liriknya dan iramanya." ucap Akaba tenang dan senang sambil mengambil jaketnya kembali. Mata Isabel terbuka sepenuhnya mendengar itu.

"Coba kulihat!" ia lalu meraih kertas yang dipegang Akaba dari tangan lelaki itu. Ia lalu membaca kuncinya. Ia mengernyit sesaat. "Ini kan yang kutulis tadi, kau mengopinya?" tanya Isabel sarkastis.

"Hanya kunci Bm dan G, aku tak mengopi kunci D nya, karena ternyata ritme kita sama. Kau memikirkan kunci D juga." kata Akaba menjelaskan. Isabel memandangnya sekilas. Ia lalu melihat kembali kunci di bawahnya. D, Bm, Em, F#m, G dan A. Hal sama dengan penambahan Em dan F#m. Dan di atasnya tertulis,

"Bridge?" gumam Isabel membaca tulisan itu. "Lalu untuk kunci pada reefrainnya?" tanya Isabel kemudian.

"Fuh.. semua sama. Coba kau mainkan! Oh ya, di antara bridge dan reffrain kedua dengan bridge akan ada tunning dan juga pada reffrain akhir," kata Akaba sambil memberikan gitarnya pada gadis itu. Gadis itu lalu mencoba memainkannya. Nada dan irama mayor yang terdengar. Ia lalu meneruskan sampai akhir.

"Hmm.. Bagus juga. Lalu liriknya bagaimana?" tanya Isabel sambil meletakkan kertas itu. Akaba menyerahkan kertas putih lain. Beberapa kalimat-kalimat yang telah tersusun tertera di atasnya.

"Tapi, aku masih bingung dengan judulnya. Mau memberi ide?" kata Akaba lagi. Isabel mencermati tulisan itu. Sedih. Kenapa lelaki ini menulis lirik sedih? Padahal lagunya cukup ceria.

"Aku tak berfikir itu cinta. Aku katakan pada diriku itu bukanlah cinta," Isabel membacakan lirik itu. Akaba hanya terdiam sambil memandangi gadis itu. "Dapat inspirasi dari mana kau membuat lirik ini?" tanya Isabel.

"Dari diriku sendiri." Jawab Akaba tenang.

"Kau sedang jatuh cinta?" tanya Isabel lagi dengan tatapan menahan tawa.

"Mungkin." jawab lelaki itu simple.

"Kau menyangkalnya?" tanya Isabel lagi sambil melihat tulisan itu.

"Mungkin." jawab lelaki itu lagi.

"Disini tertulis "Cinta yang telah kujaga hanya untukmu, sekarang dapat kukatakan padamu ". Kau ingin menyatakan cintamu? Sudahkah itu?" tanya Isabel lagi dengan masih menahan tawa. Ia berpikir, apa lelaki itu sudah menyatakannya.

"Belum," jawab Akaba biasa. Isabel tertegun sesaat. "Aku bahkan belum menyadari apakah itu cinta." kata Akaba lagi.

"Terus kenapa ini tertulis cinta?" tanya Isabel heran.

"Jika aku sudah menyadari perasaanku yang sesungguhnya," jawab Akaba lagi. Isabel hanya mengangguk-angguk. Ia sedikit heran dengan lelaki itu.

"Penyangkalan perasaan, penantian dan pernyataan. Dalam lagu ini, sang penyanyi tak menyadari perasaannya dan berusaha menepisnya hingga ia sadar apa yang tengah dirasakannya serta penantian akan diri orang yang dicintai itu meski orang itu mungkin secara tak sengaja melukai sang penyanyi hingga membuat sang penyanyi ingin mengatakan yang sebenarnya tanpa menunggu orang itu. Begitu maksudnya?" terka Isabel.

"Fu.. kau hebat. Baru saja membaca sudah tahu isinya." puji Akaba sambil membenarkan letak kacamatanya.

"Semua sama saja. Hanya penantian. Berarti mungkin judulnya Still As Before [1] yang berarti masih seperti sebelumnya. Artinya, ia tetap menanti tanpa perubahan hingga ia sadar harus mengungkapkannya. Penantian yang sama berulang kali. Kau setuju dengan judul lagu itu?" tanya Isabel kemudian. Akaba terperangah dengan penuturan Isabel. Ia lalu berpikir sejenak hingga akhirnya ia mengangguk.

"Baiklah, lagu baru sudah selesai! Karena chord gitar sudah ada berarti tinggal sheet piano dan chord bass. Eh, tunggu!" ucapan Isabel terputus.

"Ada apa?" tanya Akaba bingung. Isabel tersenyum lebar. Ia melirik ke arah Akaba dengan senyum yang mirip senyum licik itu.

"Bagaimana kalau taruhan, jika lagu ini tidak cukup berhasil diterima atau hanya menuai sukses kurang dari lagu punyaku oleh perusahaan rekaman, kau harus menyerahkan posisi gitaris melodismu padaku!" ucap Isabel kemudian. Seringai kecil terukir di wajahnya. Akaba terkejut sejenak. Apa maksud dari itu semua? Tapi sebuah ide yang baginya amat brilian tercetus di otaknya.

"Baiklah, tapi kalau lagu ini berhasil dan untung besar, kau harus kencan denganku beberapa hari setelah konser, gimana?" kini giliran Akaba sedikit menyeringai. Isabel mengernyit lagi.

"Kencan?" gumam Isabel kemudian. Akaba mengangguk perlahan. "Hanya seperti jalan-jalan biasa itu kan?" tanya Isabel lagi. Akaba mengangguk lagi. Tapi, ide kecil lain terlintas lagi di otaknya. Mungkin akan menjadi sebuah kencan yang tak biasa.

"Baiklah. Aku setuju," jawab Isabel kemudian. "Berharaplah kau bisa melampaui laguku, Mr. Akaba Hayato." sindir Isabel dengan menyombongkan lagunya.

"Fuh, kita lihat saja nanti, Miss. Isabel Harvard." jawab Akaba yang juga menyindir Isabel.

Hmmm, siapa yang akan menang ya?

To Be Continued

[1] Diambil dari lagunya A. (You're Beautiful). Bisa juga disebut Still/As Ever. Yang tahu lagunya dan punya mp3nya silakan disetel. Lagu ini akan saya pergunakan saat debut dan chapter 5 ^^. Lagu ini entah sedikit mirip dengan Akaba (mungkin), tapi menurut saya malah condong ke pair setan ma malaikat itu (HiruMamo), tapi itu menurut saya loh^^

...

Ya~ update juga!

Fuu... gimana dengan chapter ini? Gomen ne, bahasa musiknya saya sedikitin, saya bingung mau nulis istilah musik apa lagi. Bahasa deskripnya juga mulai berubahkah? Gomen ne, saya lagi nggak puitis-puitisnya. #nggakadayangnanya#

Romance-nya sedikit kerasa nggak? #ngarep#

Moga – moga nggak [lho?]

Jawaban taruhan itu akan dapat dilihat di chapter depan. Akaba yang memberikan posisi gitaris melodisnya? Atau Isabel yang harus berkencan dengan Akaba? Wew! Bagi yang bisa menebak dapat hadiah tepuk tangan langsung dari saya! *ditimpuk readers*

Yap, daripada saya banyak omong yang nggak jelas begitu, lebih baik anda mereview fic ini! [saran, kritik, anonymous dan flame (dengan alasan), silahkan ^_^]

See you!