.

.

Disclaimer: All of the characters and Naruto itself are Masashi Kishimoto's but this story is purely mine. Saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun selain kepuasan pribadi x')

Warning: Slight SasuKarin, AU, OOC, typo(s), dan jauh dari kata sempurna ;)

Rate T+ semi M untuk bahasa dan beberapa pembahasan(?)

.

.


.

.

Responsible

.

.


Masih terisak, Haruno Sakura duduk di sofa ruang tengah kediaman Uchiha. Ia masih berusaha menstabilkan napas yang tak beraturan. Ia kesal, sangat kesal! Kenapa ... kenapa semua urusannya bisa runyam dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam sih?

Dadanya masih terasa sesak, tenggorokannya pun masih terasa disumpal dengan bongkahan yang tak terdefinisi. Ia tahu kalau ia sedang berlebihan saat ini tapi bisa 'kan kalau ia menyalahkan hormonnya?

Uchiha Sasuke datang dengan satu nampan berisi satu set makan malam untuk perempuan di hadapannya. Ia duduk di samping perempuan yang masih menangis itu kemudian meletakkan nampan tadi di meja.

"Minum dan makan lah. Kau harus minum obatmu 'kan? Sebentar lagi jam sembilan," ucap Sasuke datar.

Ia tersentuh saat mendapat perhatian dari pria ini. Tanpa sadar wajahnya memanas. Bagaimana bisa ia tahu kalau Sakura belum makan apa-apa sejak siang? Soal obat hormonalnya ia sendiri bahkan lupa.

Sakura melirikkan matanya ke arah nampan tersebut, hening sesaat sebelum ia mengernyitkan kening , "Aku lebih suka susu cokelat dingin kalau malam hari. Kau tahu, yang baru dari kulkas."

Pria itu berpindah duduk, ia duduk di bawah kaki Sakura, mulai melepas sneaker merah milik perempuan itu. "Perut yang kosong akan lebih baik kalau diisi dengan yang hangat," jawabnya tenang.

Mungkin memang kepala Sakura dipenuhi tanda tanya kala Sasuke mulai melepas sepatunya tapi ia lebih memilih membiarkan pria itu. "Tapi tetap saja yang dingin lebih nikmat. Kau tahu, dalam kemasan minuman saja ada tulisan 'lebih nikmat disajikan saat dingin'. Lalu ... apa pula ini? Masa kau memberiku susu cokelat hangat dan bubur? Tidak cocok sama sekali, aku 'kan kurang suka yang lembek-lembek ..."

"Rumahku bukan warung atau restoran. Jangan bawel dan makanlah."

Sakura mulai menyendokkan bubur ke mulutnya sedangkan Sasuke melanjutkan pekerjaannya. Dia menggulung sedikit jins Lee Cooper yang Sakura kenakan sampai sebetis, setelah menginspeksi sedikit area yang membiru ia pun mulai mengompresnya dengan es batu. Ya, sementara ini hanya akan diberi balok dingin yang telah dikumpulkan dalam satu plastik itu, daripada tidak sama sekali.

Gadis itu terbatuk beberapa kali saat Sasuke tidak sengaja menekan ice pack di area terkilirnya, "I-ittai! Tolong pelan-pelan," pintanya setengah memelas.

Meski tak berkata apa-apa, Sasuke mengurangi tenaganya saat mengobati luka Sakura. Tak lama ia membangkitkan tubuhnya, "Sepertinya kakimu perlu dibebat."

Sakura mengangguk tegas, "Memang. Apa kau punya pembebat? Aku sih berencana untuk ke rumah sakit besok. Takutnya fraktur atau kenapa-napa."

"Ayo ke rumah sakit."

Kedua alis Sakura nyaris bertautan. Kalau saja ia tidak ingat sedang berada di rumah orang, bisa saja ia berguling-guling sambil berkata 'malas' pada ibunya. Sakura kembali bersuara, "Sekarang?"

"Tahun depan," balas pria itu dengan menyebalkan. Sasuke sudah memegang kunci mobilnya. Nampaknya pria ini benar-benar tidak peduli meski ini kali ke berapa dalam sehari ia ke rumah khusus orang sakit tersebut.

"Oh." Sakura kembali memakan buburnya dan menyingkirkan daun bawang di sana. Ya, dia benar-benar seorang pemilih. Well, tapi rasa bubur ini lumayan juga sih untuk ukuran seorang pria yang memasaknya.

Sakura menghentikan kegiatannya sejenak saat menyadari sepasang oniks menatapnya dengan pandangan menusuk. "Apa? Tahun depan 'kan?" lalu ia memamerkan deretan gigi putihnya, "Bercanda. Oke, aku bangun."

Sakura segera bangkit dari duduknya. Baru saja beberapa detik ia berdiri, seolah tersengat arus listrik pergelangan kakinya terasa kaku. Ia kembali terduduk di kursi. Keningnya dibanjiri peluh, "Ano ... sepertinya kita tidak perlu ke rumah sakit," ujung bibirnya ia tarik lebar-lebar, berusaha memformasikan seulas senyum.

Kening Sasuke berlipat, "Kau bercanda?"

Gelengan lemah mewakilkan mulutnya yang diam. Tak lama, ia membuka suara, "Sepertinya aku hanya perlu istirahat. Dua atau tiga hari juga sembuh."

Dusta. Sebenarnya semua ini hanya kebohongan belaka. Nafsu makannya sudah hilang sejak tadi. Tiga suap bubur tak mampu membuat asam lambungnya yang bertingkah menjadi lebih baik. Sakura memang punya maag dan biasanya setelah tidur, kondisinya akan membaik esok hari.

"Tidak. Ayo ke rumah sakit," ulangnya tegas.

Sakura menghela napas, "Sejujurnya, aku tak bisa berjalan sekarang. Akan lebih baik bila aku tidak membuang-buang energiku."

"Dan kakimu?"

Perempuan itu berpikir sejenak, "Aku membutuhkan beberapa obat, apa kau mau membelikannya?"

"Hn."

Jari telunjuk Sakura letakkan di atas dagu, kepalanya yang terasa berat tengah diforsir untuk berpikir. "Belikan aku obat apa saja yang mengandung ibuprofen dan parasetamol. Lalu ... ah! Antasida. Sementara itu saja dan jangan lupa untuk membelikanku elastic bandage, ya~."

"Hn."

Cengiran lebar lagi-lagi Sakura paksakan sebagai penghias wajahnya, ia mengacungkan jempolnya, "Oke! Akan kutunggu di sini. Hati-hati saat mengemudi dan jangan lama-lama."

Setelah menyaksikan punggung laki-laki itu menghilang dari pandangannya, Sakura mulai merebahkan dirinya di lantai beralaskan karpet. Ia menekuk badannya, kedua tangannya dipakai untuk memeluk perutnya. Keringat dingin lagi-lagi membanjiri tubuhnya. Jantungnya terasa berdebar-debar tak nyaman.

"Argh, sakit," ujarnya sambil mengerang tertahan. Ia memaksakan diri untuk mengambil ice packyang tadi Uchiha Sasuke gunakan untuk kakinya. Lagi, Sakura mengompres kakinya yang ternyata jauh lebih buruk dari dugaannya. Ia tahu betul kalau fungsi dari es yang seharusnya membuat kakinya menjadi lebih baik sekarang tak memiliki daya tersebut. Kakinya sudah terlalu lama berkontak dengan panas yang memperburuk kondisi terkilir itu sendiri. Ah, hari yang sangat sempurna.

Dosa besar apa yang ia lakukan di kehidupan sebelumnya sampai bisa nasibnya begini sial? Rangkuman kejadian sialnya hari ini, pergi ke rumah sakit lalu terkilir dan disangka dihamili oleh tersangka yang membuat kakinya seperti balon biru keunguan. Lalu belum makan dan kehujanan? Astaga, rasanya Sakura ingin mempercepat waktu liburnya dan pergi menjalankan internship sekarang juga.

Bibirnya ditekuk dalam-dalam, air mata yang dari tadi ditahan mati-matian menerobos keluar. Perasaannya hari ini ... sulit untuk dideskripsikan. Segalanya bercampur aduk dan bahkan mendadak kotak kecil di dalam hatinya terbuka.

Kotak berisi jutaan kenangan dengan sang ayah, pria nomor satu yang mengisi hatinya memenuhi kepalanya membuat rasa sakit itu bertambah parah. Dulu ... jika Sakura sedang dalam kondisi sakit seperti ini, ayahnya akan mengelus-elus kepalanya sambil merapal serangkaian mantra agar rasa sakit itu hilang. Sekarang ... siapa yang akan melakukan semua itu untuknya?

Kalau bukan karena insiden beberapa tahun silam ... kalau saja ayahnya tidak membelikan hadiah ulangtahun untuknya ... kalau saja ... kalau saja ia bisa memutar waktu.... Sayangnya, semua kalau saja itu hanya lah sebuah kata yang tak mungkin dapat terealisasi.

Dan malam itu, bersama dengan sejuta kenangan sang ayah, Haruno Sakura menangis bersama langit.


.

;;;;;

.


"Lho? Sasuke-kun? Kenapa kemari lagi?" tanya Karin begitu melihat sosok Uchiha Sasuke dengan beberapa kantung di tangannya. Pakaiannya masih sama dengan yang tadi siang, bedanya kemeja putih yang tadinya dipakai dengan apik menjadi sedikit acak-acakan dengan lengan yang digulung sampai siku.

Pria itu meletakkan sebuah kantung plastik di atas tempat tidur Karin, "Susu cokelat, minumlah sebelum dingin." Kemudian Sasuke menarik kursi, mendudukinya di sebelah tempat tidur Karin seperti biasa.

Sebuah senyum merekah, menghiasi wajah gadis bersurai merah itu, "Kau ke sini hanya untuk memberikanku ini?"

Dalam hati, Uzumaki Karin tentunya merasa senang. Laki-laki ini ... sudah sejak lama berada di sisinya. Laki-laki ini menopangnya, membantunya untuk bangkit kembali. Sejak ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, lebih tepatnya. Sasuke benar-benar menaruh perhatian lebih untuknya di saat mereka hanya teman satu sekolah dasar sebelum itu terjadi.

Entah kenapa, mendapat referensi dari mana ... Karin juga tak tahu, karena sejak saat itu Sasuke selalu membuatkan susu cokelat hangat untuknya setiap malam. Memastikan bahwa perempuan itu meminumnya sebelum tidur.

"Ya, sekalian membeli beberapa obat," jawab pria itu dengan datar.

Perubahan ekspresi kentara jelas pada raut sang lawan bicara, "Kau sakit? Apa itu serius?"

Bungsu Uchiha menarik sudut bibirnya, "Bukan aku."

"Siapa?"

Jeda sepersekian detik sebelum suara bariton milik Uchiha Sasuke kembali mengalun, "Hanya, seseorang."

Karin lebih memilih untuk menahan rasa penasarannya dengan ungkapan, "Ah, Semoga dia cepat sembuh kalau begitu."

"Hn."

"Dia pasti sudah menunggu obatnya sekarang. Bukankah lebih akan lebih baik jika kau bersegera?" suruh Karin kemudian. Memikirkan kalau ada orang lain yang sedang sakit sepertinya membuatnya turut merasa kasihan. Sakit itu tidak enak, apalagi jika harus menahan rasa tidak enak itu seorang diri.

Uchiha Sasuke meletakkan susu cokelat hangat kaleng tersebut di meja sebelah tempat tidur Karin. "Aku pamit. Besok aku akan kembali," tuturnya sebelum benar-benar meninggalkan perempuan itu sendirian.

Sekarang ini prioritasnya terpaksa terbagi menjadi dua. Pria itu tak bisa berbuat banyak karena keduanya merupakan wujud dari rasa tanggungjawabnya juga. Selama perjalanan kembali ke rumahnya, pikiran Sasuke bercabang ke mana-mana.

Soal takdir konyol juga tanggungjawab yang mendadak beranak. Sejujurnya, kepalanya terasa pening. Namun, sekali lagi ... ia tak bisa berbuat apa-apa. Tanggungjawab adalah sesuatu yang benar-benar harus ia lakukan sampai akhir.

Atau rasa bersalah akan terus menghantui.

Pria yang usianya mulai mendekati kepala tiga mengarahkan matanya untuk bekerja ke segala arah, begitu ia sampai di rumah. Sosok kepala merah muda lah yang ia cari. Kenapa perempuan itu tidak nampak di dapur mau pun ruang tengahnya, ya? Atau ia tidur di atas sofa?

Oniksnya pun ia pindahkan ke bawah. Helaan napas refleks ia lontarkan. Sosok itu sedang tidur di atas karpet dengan ice-pack cair yang sudah mulai membuat aliran kecil membasahi alas tersebut. Sasuke menggeleng pelan dan mulai mendekati perempuan itu. Biar bagaimana pun perempuan ini tidak boleh tidur begitu saja sebelum meminum obatnya.

Sasuke mulai menjulurkan tangannya, menyentuh pelan bahu perempuan itu. Tunggu. Kenapa wajah Haruno Sakura dibanjiri oleh keringat? Napasnya juga cepat dan pendek. Apa ia sesakit itu?

Tak lagi menunda, pria itu segera mengambil inisiatif untuk mengangkat tubuh gadis itu dan membawa ke kamarnya. Saat kontak fisik dilakukan, Sasuke tersadar bahwa ternyata suhu tubuh Sakura naik. Ia meletakkan gadis itu, memosisikannya agar nyaman dan mengencangkan selimut. Ia menekan speed dial nomor satu di ponsel pintarnya, hanya Karin lah yang dapat ia pikirkan saat ini karena Karin adalah dokter.

"Sudah tidur?" Ia menembak langsung, begitu suara dari seberang menyambut.

"Tentu saja belum, kau pikir siapa yang mengangkat teleponmu?" balasnya semi sarkastis tapi ia tetap menahan tawa. Biar bagaimanapun, suara Sasuke terlalu lucu. Pria itu terdengar panik.

"Ada seorang perempuan, usia mungkin dua puluh lima. Tadi pagi kakinya terkilir, dia telat makan dan sepertinya maagnya kambuh. Sekarang dia malah banyak berkeringat dan demam. Apa yang harus kulakukan?"

Wah, Uchiha Sasuke baru saja mencetak rekor. Barusan adalah ucapan terpanjangnya untuk hari ini.

Dari seberang, Karin nampak mengerutkan kedua alisnya. Banyak sekali pertanyaan yang berseliweran dalam kepala tapi perempuan itu berusaha untuk mengabaikannya. "Kalau dia belum minum obat, usahakan agar dia meminumnya. Untuk demamnya ... kompres saja dulu dengan air hangat. Saat terkilir tadi pagi, apa yang kau lakukan untuk meringankannya?"

Sasuke berpikir sejenak, memberi jeda sebentar sebelum kembali membalas, "Kami mengompresnya dengan es saat berapa puluh menit yang lalu."

"..."

"Halo?" Sasuke kira panggilan telepon terputus.

Helaan napas terdengar, "Bawa dia ke sini. Kurasa dia memang harus diperiksa dan ditangani secara benar."

Dan untuk ke tiga kalinya, Uchiha Sasuke kembali ke rumah sakit.


.

;;;;;

.


Tak ada satu pun makanan lagi yang tersentuh semenjak kepergian putra dan putri mereka. Atmosfer yang tercipta di meja ini tidaklah bagus. Uchiha Mikoto dan Uchiha Fugaku berulang kali menundukkan kepala mereka.

"Kami benar-benar meminta maaf atas apa yang terjadi..."

Haruno Mebuki yang tadinya sempat memindahkan fokusnya, kembali menatap sepasang suami istri di hadapannya. "Siapa yang bisa menduga hal ini akan terjadi." Senyum miris ia sunggingkan, "Sepandai-pandainya bangkai tikus disimpan pada akhirnya baunya akan tercium juga. Mungkin, ini lah saatnya untuk Sasuke mencium bau bangkai yang sudah mati sejak delapan belas tahun yang lalu itu, bukankah begitu?"

Mau ditampik sekeras mungkin juga, tak ada yang bisa dilakukan jika Yang di Atas sudah berkehendak. Fugaku dan Mikoto hanya diam tanpa kata, membiarkan kata-kata yang diucapkan oleh Mebuki menyayat mereka.

"Kami sendiri tidak bermaksud menyembunyikannya, Haruno-san. Kau tahu sendiri 'kan bagaimana kondisi Sasuke waktu itu ... kau juga punya seorang anak, 'kan? Kau juga—"

"—Apakah Anda juga pernah memikirkan bagaimana kondisi anakku waktu itu?" Mebuki mengalihkan pandangannya lagi. Matanya mulai berkaca-kaca karena topik yang kelewat sensitif ini. Single mother ini menarik napas, "Maaf, aku kelewatan. Nanti kita akan membicarakan soal pernikahan mereka lagi, aku pamit."

Pasangan Uchiha bangkit dari duduk mereka, memberikan ojigi yang rendah. Rasa bersalah yang membebani hati, bertambah banyak bobotnya hari ini. Tak pernah mereka sangka bahwa mereka akan dipertemukan dalam situasi yang seperti ini.

Mereka kembali duduk, sibuk tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Kukira, semuanya sudah selesai. Rupanya ... baru dimulai, ya?" Mikoto terlebih dahulu lah yang membuka suara.

Helaan napas lagi-lagi menyambut, "Hn."


.

;;;;;

.


"Jadi seharian ini dia menggunakan alas kaki berupa sneakers? Nah, kemungkinan masalahnya dari situ. Yang pertama, kakinya sudah dibiarkan terkilir sejak pagi. Seharusnya dia langsung membuka sepatunya karena suhu yang panas akan memperburuk kondisi dari terkilir tersebut. Kakinya juga ternyata mengalami sedikit luka yang kemungkinan memicu demamnya sebagai reaksi dari infeksi tersebut." Sang dokter Unit Gawat Darurat yang bertugas pada malam itu menjelaskan panjang lebar.

Sasuke melirik perempuan yang saat ini masih belum sadarkan diri. "Maag-nya?"

"Itu tidak ada hubungannya dengan kakinya yang terkilir. Mungkin karena Haruno-san terlambat makan," jelasnya kembali. "Ah iya, karena demamnya lumayan tinggi dan kondisi kakinya tidak cukup baik jadi Haruno-san perlu di-monitor selama beberapa hari."

Tadi ... perlu di-monitor, katanya? Anak dari keluarga Uchiha itu pun mengangguk tegas. Biar bagaimana pun, yang terjadi hari ini merupakan tanggungjawabnya. Namun, sebelum benar-benar mengurus ke administrasi, Sasuke perlu menemui Karin terlebih dahulu. Untuk apa?

Ia mengetuk ringan pintu kamar tempat Uzumaki Karin dirawat. Begitu ia membuka pintu kamar rawat inap tersebut, pemandangan Karin yang sedang membaca novel lah yang menyambut indera visualnya.

Kilat binar mata dari perempuan berambut merah terang ini nampak dari balik kacamata. Seulas senyum manis ia sunggingkan kala melihat sosok Uchiha Sasuke di ambang pintu. "Ah, Sasuke-kun?"

Sasuke melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur Karin. "Kenapa belum tidur?" tanyanya singkat. Ia segera menekan remot pengatur kasur otomatis tersebut untuk menurunkan bagian atas yang dinaikkan untuk menyangga punggung Karin.

Perempuan itu mengerutkan alisnya, "Aku masih membaca, lho."

Diambilnya novel—racun yang membuat Karin belum tidur—dari tangannya lalu Sasuke meletakkannya di atas meja kecil di sebelah kasur. "Kau butuh banyak istirahat."

Kekehan kecil meluncur bebas dari mulut Karin, "Iya, iya. Ah, bagaimana dengan seseorang yang sakit tadi?" tanyanya tiba-tiba.

"Dia harus dirawat di sini."

Air muka Karin menunjukkan kekhawatiran yang berarti, "Tapi ia baik-baik saja, 'kan?"

"Hn." Sasuke menjawab seadanya.

Karin tersenyum maklum. Ia mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. Dijulurkannya tangannya ke samping, ia meraih kepala raven Uchiha Sasuke, mengelus anak-anak rambutnya perlahan. "Kau pasti lelah. Kau sering sekali menyuruhku untuk beristirahat tapi kau sendiri melupakan waktu istirahatmu," ucapnya sembari menggerakkan tangannya di atas kepala pria tinggi itu.

"Bagaimana menurutmu jika seseorang yang sakit itu dirawat satu kamar denganmu?" Sasuke mengambil kesempatan untuk mengutarakan ide yang tadi muncul di kepalanya. Penyebab utama datangnya kembali ia ke kamar Karin.

Kenapa Sasuke bisa memberikan solusi tersebut? Jawabannya simpel. Membuat Sakura dan Karin dirawat satu kamar akan mempermudahnya dalam melakukan ini-itu. Selain itu, Karin jadi mendapat teman sehingga ia tidak akan kesepian.

Jujur saja, sebenarnya Karin merasa tidak nyaman jika harus berada dalam satu kamar dengan orang yang tidak dikenal tapi ... tidak. Ia tidak boleh begini, ia harus menghargai Sasuke. Maka dari itu, lagi-lagi senyum manis lah yang ia lukiskan di wajah. "Tentu saja tidak masalah."

"Hn, terima kasih," responsnya seadanya. Kemudian Uchiha Sasuke pamit undur diri dan bersegera untuk mengurus administrasi juga hal-hal lain yang berkenaan dengan Haruno Sakura.

Karin menatapi punggung Sasuke yang semakin menjauh samai menghilang dari balik pintu. Tanda tanya menggantung dalam kepalanya.


.

;;;;;

.


Kedua mata Haruno Sakura mengerjap beberapa kali. Rasa remuk di seluruh badan menyambut awal harinya. Jika biasanya orang lain disambut oleh sinar mentari yang hangat, ia justru malah disambut oleh rasa nyeri. Sungguh hebat, ia 'kan eksklusif, haha. Apa sih.

Ia mengedarkan emerald-nya ke sekitar, kenapa ia berada di kasur rumah sakit? Keningnya membentuk lipatan. Lho? Sejak kapan kakinya di gips? Eh? Tangannya diinfus larutan NaCl 0,9%? Lho? Kenapa...?

Agak sulit, ia pun membangkitkan badannya. Ia mengumpulkan kekuatan untuk memijak lantai keramik putih di bawahnya hanya dengan menggunakan satu kaki. Wah, berhasil. Setelahnya—dengan pincang—ia membuka tirai yang mengelilingi kasurnya tadi.

Irisnya membulat begitu melihat sesosok dengan rambut merah terang sedang membaca novel di atas kasur. Begitu pandangan mereka bersirobok, Sakura menyunggingkan senyum awkward. "Ohayou gozaimasu," sambutnya dengan cengiran lebar.

"Ohayou." Karin balas menyunggingkan senyum, "Bagaimana kondisimu sekarang?"

"Aku sudah merasa lebih baik. Tinggal kakiku yang masih bertingkah," jawabnya santai. "Ah, iya, aku belum memperkenalkan diriku. Aku Haruno Sakura." Perempuan itu, dengan kakinya yang digips sebelah berusaha memberikan ojigi.

"Aku Uzumaki Karin, dan jika kau bingung kenapa kau bisa berada di sini, kau bisa bertanya padaku."

Bingo! Uzumaki-san di hadapannya menembak tepat pada sasaran. "Benar! Aku bingung. Terakhir yang aku ingat ... aku masih berada di ruang tamu." Sakura merotasikan matanya, berpikir dengan keras.

"Sasuke-kun, dia menemukanmu tak sadarkan diri tadi malam dan yeah, kau tahu 'kan selanjutnya ia membawamu ke sini. Ah! Jika kau heran kenapa kita bisa berada di satu kamar yang sama, itu juga karena Sasuke-kun. Semoga kau tidak terganggu, ya, Sakura-san," jelas Karin panjang lebar.

"Sakura, saja, Nee! Sepertinya kau seumuran dengan Sasuke-san, kalau umurku sih masih dua puluh empat."

"Benar sekali, Sakura, kami memang seumuran. Omong-omong, kalau boleh tahu ... apa hubunganmu—"

Cklek.

Suara pintu yang dibuka berhasil mengalihkan atensi Sakura dan Karin secara bersamaan. Appearance dari seorang wanita paruh baya berambut pirang sebahu plus tampang galak menyambut.

"Sakura!" panggil Mebuki ganas seperti ingin menerkam mangsa.

"Kaasan, ini rumah sakit. Tolong bicara pelan-pelan," seru Sakura dengan suara yang berusaha direndahkan. "Lagipula ini masih pagi, jangan marah-marah dong."

Haruno Mebuki menghela napas berusaha mengalah, "Bagaimana keaadaanmu sekarang? Apa masih ada yang sakit?" Wanita itu mengelus bahu Sakura pelan.

Sementara Haruno Sakura melakukan konversasi dengan ibunya, Karin yang masih duduk di atas kasurnya hanya mampu menatap keduanya dengan pandangan iri. Ah, enak sekali bukan ... masih memiliki ibu yang juga sangat mengkhawatirkanmu.

Karin tahu, sangat tahu kalau yang ia lakukan adalah salah. Ia sendiri lah yang mencari rasa sakit tersebut. Ia sendiri lah yang memerintahkan matanya untuk melihat sepasang ibu dan anak itu. Ia sendiri lah yang kemudian me-recall kenangan bersama ibunya.

Pikiran Karin yang sempat melayang ke mana-mana berhasil kembali kala sebuah tangan menjulur tepat di hadapannya dengan satu rantang berisi kue.

"Ambil ini, Nak. Aku yang membuatnya. Lihat, kau kurang makan," kicau single parent itu—Haruno Mebuki—yang tiba-tiba sudah berada di depan kasurnya.

Karin menatap obasan itu sejenak sebelum mengambil sepotong cake coklat dari tempat makan itu. "Terima kasih banyak, Obasan," ucapnya sembari menggigit kue tersebut.

Enak. Kue ini sangat enak. Apalagi dibuat langsung dengan tangan seorang ibu. Karin sendiri bahkan lupa kapan terakhir kalinya ia memakan masakan seorang ibu, bukan makanan instan dari minimarket.

"Enak, 'kan, Karin-nee?" tanya Sakura yang sudah kembali berada di atas kasurnya.

"Pasti enak, karena aku yang buat," interupsi Mebuki kilat, wanita itu menyilangkan kedua tangannya di atas dada penuh dengan rasa percaya diri.

"Cih," ledek Sakura sedikit mengerucutkan bibirnya.

"Sudah, diam saja dan makan lah yang banyak. Anak dalam kandunganmu 'kan butuh nutrisi. Awas saja kalau anakmu sampai kurang berat badannya." Mebuki memalingkan wajah dengan sok dramatis.

Dalam hati Sakura sangat gemas ingin berteriak kalau ia tidak hamil. Astaga, drama ini kapan berakhirnya, sih?

"Ibu, dengar—"

"—Wah, kau sedang hamil, Sakura?" Karin menyela dengan pancaran mata yang berbinar-binar.

Demi Dewa pencipta seluruh alam, galaksi, dan seisinya. Ya Tuhan, dalam kehidupan lampau, dosa besar macam apa yang pernah ia lakukan? Kenapa membela dirinya saja Haruno Sakura tidak bisa, sih? Bencana apa yang memasuki kata, 'Aku tidak hamil. Ini hanya salah paham.' sehingga sulit sekali terucap?

"Ano, Ibu, Karin-nee, begini. Aku ini—"

Cklek.

Bagus sekali, Tuhan. Bagus, bagus. Kenapa sekarang Uchiha Sasuke malah datang di saat yang tidak tepat?!

"Pas sekali timing-nya. Begini, anakku memang sedang hamil dan ini ayahnya, Uchiha Sasuke." Mebuki memperkenalkan Sasuke yang baru datang. Pria itu nampak sedikit mengerutkan alisnya, belum paham akan apa yang terjadi.

Sementara dari kasurnya, lagi-lagi Uzumaki Karin menelaah baik-baik ucapan Obasan ini. Tadi apa katanya? Haruno Sakura yang hamil ... dan Uchiha Sasuke adalah ayah dari anaknya? Ini pasti bercanda.

Ini lelucon, 'kan?

Seketika Uzumaki Karin merasa dunia di sekitarnya runtuh. Tenggorokannya tercekat dan rasanya ia ingin menangis.

Kalau bukan Uchiha Sasuke, siapa lagi yang akan menopangnya? Jika Uchiha Sasuke pergi dari sisinya ... bagaimana bisa ia melanjutkan hidup?

"Apa sih, Bu. Sudah, katanya tadi kau buru-buru 'kan? Mari kuantar," interupsi Sakura yang sekarang menarik paksa tangan ibunya. Dengan jalan yang terpincang ia meraih pintu kamar. "Aku mengantar Okaasan dulu, ya. Ayo, Bu."

Sedangkan Mebuki menembakkan deathglare yang mungkin saja bisa mengeluarkan laser ke arah Uchiha Sasuke. Wanita itu menyipitkan matanya, "Cih," desisnya sarkastis. Ia mengubah pandangannya kala menatap Karin, senyuman bak angel diukir di wajah, "Semoga cepat sembuh, ya. Aku pamit, jaa." Setelah memberikan ojigi, wanita paruh baya dengan rambut pirang itu keluar kamar bersama anak gadisnya.

Sementara Sasuke baru menyadari arti dari tatapan menusuk yang dibuat oleh wanita tadi. Astaga, demi apa pun kenapa dia bisa membiarkan Haruno Sakura—yang bahkan untuk sekedar melangkah saja tidak bisa—mengantar ibunya?

Pria yang usianya mulai mendekati kepala tiga itu secara refleks melangkahkan kakinya untuk menyusul sepasang ibu dan anak tadi. Namun, pergerakannya terhenti kala pergelangan tangannya dicengkeram oleh perempuan berambut merah yang sedari tadi belum bersuara di atas kasurnya.

"Sasuke-kun," panggilnya lirih. Karin berusaha menelan ludahnya guna menahan air mata yang siap lolos. "Apa benar kau akan menikah? Tadi ... Sakura-san sedang mengandung anakmu, begitu?"

Helaan napas secara refleks keluar dari mulut Sasuke, "Ini hanya—"

"—Kenapa kau tidak pernah mengatakan apapun padaku, Sasuke-kun? Kau sendiri tahu 'kan, aku tidak bisa melakukan apa-apa tanpamu. Aku bahkan tak bisa berdiri sendiri tanpamu yang menopangku. Kalau kau pergi ke sisi orang lain, aku ... aku..."

Uchiha Sasuke hanya mampu menatapi Uzumaki Karin yang sekarang sudah berlinang air mata. Sejak kapan semuanya begini...? Kenapa tanggung jawab yang dipikul Sasuke kian hari kian berat?

Dulu, dulu sekali pria itu berjanji akan terus menjaga Karin. Dulu, dulu sekali pria itu berjanji akan menopang Karin sampai perempuan itu bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Dulu, dulu sekali pria itu berjanji tak akan membiarkan perempuan itu susah karenanya. Dulu, dulu sekali...

Tidak. Sampai sekarang pun ia masih menjalankan penuh tanggung jawab yang satu itu. Sejak kapan ia membiarkan tanggung jawab ini menggerogoti dirinya secara perlahan? Sejak kapan tanggung jawab yang satu itu memiliki jerat tak kasat mata yang menahan setiap pergerakannya? Sejak kapan tanggung jawab yang satu itu menahan hatinya, kebebasannya?

Sasuke tak pernah sadar. Bumi berotasi selama tiga ratus enam puluh hari dalam satu tahun. Bertahun-tahun terlewati sudah, sampai saat ini pun nyatanya Uzumaki Karin belum bisa berdiri sendiri. Lantas apa saja yang telah ia lakukan selama ini? Bukannya berdiri sendiri perempuan itu malah menjadikan Sasuke sebagai tumpuan utama dalam hidup.

Iris jelaga milik laki-laki itu menantang sepasang mata layu di balik kacamata, "Karin," panggilnya lirih. "Maaf." Hanya kata itu lah yang lolos dari mulutnya. Ini berat, sangat berat.

Ia pun membalikkan badannya, kaki panjangnya dilangkahkan dengan gerakan lambat bagai digantung beban berbobot puluhan kilo. Sebelum ia berhasil sampai ke pintu kamar, pintu itu terbuka lebih dulu. Lalu disusul dengan penampakan perempuan yang identik dengan musim semi di ambang pintu.

Haruno Sakura baru saja memasuki kamarnya dengan jalan yang terpincang dan ia sudah disambut oleh sepasang oniks yang terlihat ... sendu? Atau meminta pertolongan? Emerald gadis itu menangkap sosok Karin yang menyembunyikan wajah di balik kedua tangan. Bahu perempuan yang lebih tua beberapa tahun itu bergetar naik turun.

Pria itu tetap melangkah maju mendekati Sakura yang masih termangu di tempat. Gadis itu hendak menyingkir karena ia merasa menghalangi pintu keluar tapi serangan mendadak yang dilancarkan oleh Uchiha Sasuke membuatnya membeku. Sasuke merengkuh perempuan itu ke dalam pelukannya.

Sakura benar-benar tidak bisa berpikiran jernih. Jantungnya memacu dengan kecepatan di atas normal. Perutnya terasa menggelitik. Tanpa sadar ia menahan napas tatkala hembusan napas Sasuke membelai leher dan telinganya. Jarak mereka terlalu dekat.

Perempuan usia dua puluh empat itu siap mendorong dada Sasuke tapi pria itu benar-benar merengkuhnya dengan kuat. Sakura hanya bisa mengunci mulutnya rapat-rapat. Dan detik selanjutnya, laki-laki itu malah membisikkan serangkaian kata singkat yang sulit diterima oleh akal sehatnya.

"Menikahlah denganku."

.

.

.

.

.

tbc

.


a/n: Hai, tahun sudah berganti dan aku baru muncul lagi. Ini murni kesalahanku, mohon maaf yang sebesar-besarnyaa ;-; saat ini aku tetep berusaha mencoba ngelanjutin fic yang belum selesai dengan kecepatan siput :") mohon maklumi, ya. Ujian-kuliah-praktikum dan tetek-bengeknya masih menghantuiku, nih :")

Btw ... WKWK OOC ya :(( ngeliat Karin yang biasa strong harus kunistakan jadi aneh sendiri :") maafkan aku, Karin. Maafkan aku, Sasu m(_)m /oy. Hmm, harapanku sih semoga untuk chapter ini feel-nya nyampe, yaa x")))

Teruuus, aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya buat yang masih nunggu fiksi ini sampai sekarang. Yang nagih juga makasih banyak akunya udah diingetin x")) Pokoknya untuk yang baca, fave, follow, dan lainnya. Makasih banyak yaa~! *love*

.

.

Special thanks for reviewers chapter 2:

Bougenville, Uchiha Nozomi, Harun0 Laily, Ozora-Chan, Nami-swan, Uchiha Javaraz, Babyponi, yazura, setyanajotwins, Aoi Yukari, echaNM, SaSaSarada-chan, syahidah973, Ryouta Kouyuki, zarachan, sakura sweetpea, Jamurlumutan462, kHaLerie Hikari, UchiHarunoNanda31, LVenge, Kirara967, undhott, kakikuda, nuniisurya26, hinagiku, , suket alang alang, yudi arata, UchihaHakun, nekonade, Arashasha, Guest 19/02/16, 5a5u5aku5ara, gita zahra, NolNol, Hinamori Hikari, Delevingne, arisahagiwara chan, vitri, aitara_fuyuharu1, Northern Rays, Uchiha Jidat, saradaya, onamae, Yukihiro Yumi, Guest 16/04/16, Dyn Adr, Kucing genduttidur, TehUchihaSakura1, Nurulita as Lita-san, Rena-chan, joruri katsushika, eka, Sparkyu, Mutiarayi, narutolovers21, Hime Luvchubby, Guest 09/11/16, Park Ashel, alfireindra, Sasusaku2328, eka (2), Key Ikarus, DCherryBlue, Jeyhwasukasasu23.

Terima kasih banyak, semuanyaa. Sampai ketemu di next chapter x))