"Terima kasih"

"Kau cantik sekali by the way" sambil terus tersenyum tipis. Yang membuat Jongin mau tidak mau juga ikut tersenyum dengan pipi yang merona.

"Replace"

Warn: Gs!Kai, Gs!Baekhyun, Typo(s)

Pair : Hunkai

Disclaimer : Cast(s) milik diri mereka sendiri

.

.

.

.

.

Seminggu berlalu setelah kejadian memijat kepala Sehun di cafe. Hubungan Jongin dan Sehun semakin membaik. Sehun sangat ramah dan baik pada Jongin yang entah mengapa membuat hari-hari Jongin terasa lebih baik.

Kalau pada umumnya bekerja adalah saat-saat yang tidak disukai dan dianggap melelahkan tapi berbeda dengan Sehun dan Jongin yang justru menanti-nantikan saatnya bekerja. Tidak jarang mereka berdua berangkat kerja pagi-pagi dengan penuh semangat hanya untuk tersenyum dan mengucapkan selamat pagi pada satu sama lain.

Tok tok tok.

"Masuk"

"Sajangnim ini laporan pengeluaran kantor bulan ini" kata Jongin sambil menyerahkan map pada Sehun.

"Letakkan saja di meja nanti akan ku periksa" kata Sehun.

"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu" pamit Jongin sambil tersenyum yang juga dibalas senyuman oleh Sehun.

"Jongin tunggu" kata Sehun buru-buru saat Jongin hendak membuka pintu.

"Ya?"

"Kenapa kau berpakaian seperti itu?" tanya Sehun sambil mengerutkan alisnya. Jongin menunduk dan melihat pakaiannya. Baju yang sama yang dipakainya seminggu lalu yang menyebabkan Jongin sakit hati minggu lalu. Dan lagi-lagi Sehun mengkritik pakaiannya itu. Walaupun berbeda dari minggu lalu. Kali ini Sehun bukan menghina tapi lebih seperti kecewa? Jongin tidak tau. Dia tidak bisa mengartikan tatapan Sehun.

"Maafkan saya sajangnim. Hanya ini yang saya punya" Jongin berkata sambil tersenyum menyesal. Sementara Sehun hanya terdiam. Sehun tau Jongin bukan dari kalangan berada tapi sampai segitunya kah?

"Apa jadwalku setelah ini?" tanya Sehun tiba-tiba.

"Eh? Tidak ada. Hanya akan ada rapat direksi setelah maka-"

"Batalkan" kata Sehun tegas.

"Apa? Kenapa?" Jongin menyahut spontan dan langsung membelalakkan mata dan menutup mulutnya saat menyadari ucapannya. Sehun terkekeh pelan melihat Jongin sebelum berbicara.

"Sudah yang penting batalkan saja dulu. Rapatnya bisa dilakukan besok atau lusa. Terserah padamu sesuaikan dengan jadwalku. Yang penting hari ini kosongkan jadwalku. Aku ada urusan" perintah Sehun.

"Eh? Baiklah kalau itu mau anda"

"Kosongkan juga jadwalmu" kata Sehun lagi.

"Saya?" Jongin menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi bingung.

"Iya. Kau Kim Jongin" kata Sehun sambil tersenyum, beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Jongin.

"Tapi kenapa?" Jongin bertanya pada Sehun yang sekarang sudah berada di depannya masih tetao tersenyum.

"Aku ada urusan dan kau ikut denganku" Dengan itu Sehun menarik tangan Jongin yang masih bingung. Dia menarik Jongin keluar ruangannya membuat semua pegawai menatapnya. Tapi tidak dihiraukan dia tetap menarik Jongin sambil memasang wajah datarnya.

Sementara Jongin yang dihadiahi tatapan dari rekan kerjanya yang seperti berkata 'Ada apa?' 'Kau mau kemana?' 'Kau diapakan sama dia?' sampai ada yang seperti 'Tolong jangan bilang kau dipecat' hanya bisa memasang wajah bingungnya yang jelas-jelas berkata 'aku tidak tau apa-apa'. Sesampainya di parkiran atau lebih tepatnya di mobil Sehun. Sehun melepaskan tangannya dari Jongin dan membukakan pintu penumpang untuk Jongin. Jongin hanya diam melihat pintu yang terbuka lalu melihat ke Sehun.

"Masuklah. Apa yang kau tunggu?" tanya Sehun. Jongin lalu mematuhinya masih dengan tampang bingungnya. Lagi-lagi membuat Sehun tersenyum geli sebelum masuk juga ke mobil dan menyetir mobilnya keluar kawasan perusahaannya.

"Kita mau kemana sajangnim?" tanya Jongin.

"Ke tempat noonaku"

"Wu Joonmyeon?" Sehun mengangguk.

"Kenapa?" tanya Jongin lagi semakin bingung.

"Kau akan lihat nanti" Mobil Sehun terus melaju sampai memasuki sebuah Butik yang sangat besar. Butik milik noona Sehun, Joonmyeon.

"Ayo keluar" Jongin hanya menurut dan berjalan di belakang Sehun. Mereka memasuki butik itu hingga membuat sang pemilik yang sedang menata beberapa baju disana menoleh.

"Hun? tumben kau kemari?" tanya Joonmyeon melihat Sehun dan seorang wanita? Siapa dia?

Mungkin.

Pacarnya Sehun?

Di bibir Joonmyeon langsung terbentuk senyuman penuh arti. Sehun yang sudah bisa menebak gelagat noonanya itu segera menyanggah sebelum terjadi kesalah pahaman.

"Sekertarisku" kata Sehun singkat. Senyum Joonmyeon langsung luntur dan bibirnye mengerucut.

"Ada apa kau kesini cadel?"

"Demi tuhan aku sudah tidak cadel noona. Berhentilah memanggilku cadel" protes Sehun merasa malu dipanggil cadel dihadapan ehemgebetan- coret sekertaris.

"Ya benar, Oh thehun"

"Dan kau nona?" tanya Joonmyeon memandang Jongin.

"Kim Jongin imnida. Saya sekertaris Oh Sehun sajangnim" Jongin menunduk sopan.

"Hai Jongin. Aku Joonmyeon. Wu Joonmyeon." Joonmyeon membalas sambil tersenyum ramah.

"Jadi apa yang bisa aku bantu?" tanya Joonmyeon pada kedua tamunya. Jongin hanya menggeleng tidak tau sementara Sehun malah mendudukan pantatnya disalah satu sofa disana

"Ubahlah Jongin noona" kata Sehun santai.

"Ubah? Apanya yang diubah? Kau ingin aku mengubahnya menjadi ultraman?"

"Ya ampun noona. Kau itu designer. Dan kita ada di butik. Tentu saja yang kumaksud itu penampilannya. Bajunya noona bajunya!" Sehun mengerang frustasi menghadapi noonanya. Sementara Joonmyeon sendiri tertawa melihat tingkah adiknya.

"Aku tau Hun. Aku hanya bercanda cadel"

"Ayo Jongin ikut aku" Joonmyeon menarik Jongin untuk memilih beberapa baju.

"Kau mau berapa pasang baju Hun" teriak Joonmyeon masih berkutat dengan baju-baju rancangannya. "Yang banyak" Jongin hanya patuh ditarik kesana-kemari mencoba baju ini-itu.

Mau protes tapi tidak bisa.

Setelah sesi memilih baju yang ternyata lebih lama dari yang Sehun bayangkan akhirnya mereka selesai.

"Sekarang sudah jam setengah 7. Nanggung kalau kembali ke kantor. Lebih baik kita pulang. Tunjukan dimana rumahmu biar aku antar" kata Sehun saat memasukkan tas-tas belanja Jongin di bagasi mobilnya.

"Kenapa?" tanya Jongin.

"Apanya?"

"Kenapa sajangnim melakukan ini untuk saya? Saya hanya sekertaris. Saya bahkan baru satu minggu bekerja"

"Karena aku ingin" kata Sehun menutup pintu bagasi mobilnya dan bersandar disana.

"Karena anda ingin? Itu bukan jawaban yang rasional sajangnim. Anda tidak bisa melakukan ini hanya karena semata-mata anda ingin. Bagaimana tanggapan karyawan-karyawan lain kalau mereka tau" Sehun paham kalau Jongin khawatir. Jongin merupakan salah satu pegawai yang brilian. Dia cantik pula. Tentulah banyak karyawan yang iri hingga membenci Jongin. Apalagi Jongin yang sekarang terkesan di 'anak emas'kan oleh Sehun. Yang sudah pasti akan lebih mengundang banyak kebencian bagi Jongin.

"Jangan pikirkan kata orang Jongin"

"Tapi sajangnim. Bagaimana saya bis-"

"Sstt" Sehun meletakkan jari telunjunya di bibir Jongin untuk menghentikan ocehan Jongin.

"Kau mau tau alasanku?" tanya Sehun, Jongin hanya mengangguk.

"Aku memang bukan penggemar seni. Tapi aku sangat menghargai keindahan. Maka dari itu aku tidak bisa menyia-nyiakan sesuatu seindah dirimu" Mendengar kata-kata Sehun membuat Jongin hanya diam dan mengedip-ngedipkan matanya. Otaknya sedang mencerna perkataan Sehun. Cukup lama dan Jongin masih diam. Sehun menghela nafas dan menarik tangannya yang masih berada di bibir Jongin untuk berpindah ke kepala Jongin dan mengelus pelan rambut halus Jongin.

"Berhentilah berpikir terlalu keras. Mari kita buat lebih muda, kau itu cantik sayang kalau tidak dimanfaatkan dengan baik"

"Kau mengerti kan maksudku?" tanya Sehun. Jongin hanya mengangguk.

"Baiklah ayo kuantar pulang, nona cantik" goda Sehun dan lagi-lagi pipi Jongin merona.


"Hoi Kim Jonghyun" sapa seseorang saat Jonghyun mau memasuki apartemennya yang ditempati dengan putrinya, Jongin.

"Apa maumu?" tanya Jonghyun singkat. Dia sudah sangat lelah sekarang karena dia kalah lagi. Kepalanya pusing memikirkan hutangnya yang semakin menumpuk.

"Putrimu Jongin. Apa kerjanya?"

"Entahlah. Sekertaris atau semacamnya. Kenapa?"

"Apa dia tidur dengan bosnya?" tanya tetangga Jonghyun lagi.

"Apa maksudmu?" tanya Jonghyun sambil mengerutkan alisnya.

"Well, tadi aku melihatnya pulang diantarkan mobil mewah dengan tas-tas belanjaan. Oh satu lagi. Yang mengantar terlihat seperti orang kaya. Maksudku benar-benar kaya" kata tetanggnya itu.

"Lalu kenapa kalau Jongin tidur dengan bosnya? Apa kau mau menjual putrimu juga" tantang Jonghyun pada orang itu.

"Aku tidak keberatan asalkan nominalnya besar" kata orang itu santai sambil menggendikkan bahunya.

"Dasar bajingan. Dan kau menyebut dirimu ayahnya" cibir Jonghyun.

"Jangan munafik kau. Menyuruh istrimu menjadi pelacur. Apa kau lebih baik dariku huh?" mendengar kata istinya disebut seketika membuat Jonghyun emosi. Walaupun memang benar yang dikatakan tetangganya itu. Dirinya juga seorang bajingan.

"Tutup mulutmu brengsek" dengan itu Jonghyun masuk kedalam apartemennya dengan membanting pintu. Disana dia melihat Jongin yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.

"Jongin?"

"Ya ayah?"

"Kau tidur dengan bosmu?"

"APA?! Tentu saja tidak! Bagaimana bisa ayah berpikiran seperti itu" protes Jongin tidak terima. Dia memang miskin tapi dia tidak serendah itu sampai menjual dirinya.

"Cih, kau bereaksi terlalu berlebihan. Lagipula bukannya bagus kalau kau tidur dengan bosmu. Uang akan lebih cepat datang daripada harus bersusah payah bekerja"

"Aku tidak akan melakukan hal seperti itu ayah" kata Jongin tegas. Dengan segera dia beranjak menuju kamarnya dan membaringkan tubuhnya. Jongin memikirkan perkataan ayahnya. Haruskah dia menjauhi Sehun?


Keesokan paginya Jongin memang memakai baju yang dibelikan Sehun. Mengundang banyak pujian dari rekan-rekan kerjanya. Tapi Sehun merasa aneh pada sikap Jongin. Ini hanya perasaannya atau memang Jongin menjauhinya?

Tidak benar-benar menjauh sih.

Hanya saja sikap Jongin jadi lebih kaku ke Sehun. Beberapa kali Sehun mencoba mendekat dan menanyakan ada apa pada Jongin tapi Jongin selalu menghindar dan mengatakan 'tidak ada apa-apa sajangnim'.

Sebulan berlalu dan hubungan mereka masih kurang baik. Jongin makin menghindari Sehun. Jongin sengaja berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam untuk menghindari Sehun. Menjadi sekertaris Sehun sudah cukup membuat intensitas bertemu dengan Sehun besar maka dari itu dia tidak ingin menambahnya lagi. Jongin sebisa mungkin menjauhi Sehun.

Bukan karena dia tidak suka dengan Sehun.

Bukan.

Dia suka.

Suka sekali malah.

Tapi kata-kata ayahnya benar-benar membuatnya merasa terbebani untuk berada di dekat Sehun. Selain itu Jongin takut.

Iya takut.

Dia takut jatuh cinta pada Sehun. Jongin tidak ingin jatuh cinta. Dan dia benci jatuh cinta. Apalah arti cinta itu? Jongin sendiri juga tidak tau. Gambaran tentang cinta telah lama memudar semenjak ibunya meninggal saat Jongin masih muda. Ibunya, satu-satunya orang yang mencitainya pergi. Pergi tanpa memberikan definisi yang pasti apa itu cinta. Tapi Jongin sadar dia tidak bisa menolak saat ada rasa aneh yang hinggap didadanya saat bersama dengan Sehun. Jangankan bersama, memikirkan Sehun saja sudah membuat rasa aneh itu tiba-tiba muncul. Rasa aneh yang orang sebut dengan cinta.

'Ya Tuhan berhentilah mempermainkan takdirku' batin Jongin frustasi. Semakin dia menjauh semakin pula rasa cinta itu memenuhi relung hatinya.

"Jongin"

"Ya sajangnim?" Jongin mengalihkan pandangannya dari komputer saat dirinya dipanggil bosnya.

"Tidak pulang?" tanya Sehun singkat.

"Sebentar lagi sajangnim" Jongin menghindari pandangan tajam Sehun dan kembali berkutat dengan komputernya mengacuhkan Sehun. Selalu begini selama hampir sebulan ini. Jongin selalu menghindarinya tanpa alasan yang pasti.

"Pulanglah Jongin" perintah Sehun mutlak. "Sebentar lagi sajangnim" jawab Jongin tetap bersikukuh dan membuat Sehun geram. Mati-matian Sehun menahan emosinya. Sebenarnya Sehun bukan orang yang emosional. Tapi entah kenapa emosinya gampang sekali meledak kalau menyangkut anak-anaknya.

Dan Jongin.

Sekertarisnya satu ini benar-benar menjungkir balikkan kehidupan Sehun.

Dengan langkah tegas Sehun menghampiri kursi Jongin. Memutar kursi itu sehingga menghadap kearahnya. Sehun memegang kedua pegangan disamping kanan kiri kursi Jongin sambil agak membungkuk memenjarakan tubuh sekertarisnya itu. Dengan wajah yang hanya berjarak pendek Jongin mematung karena kelakuan Sehun.

"Aku tidak mengerti kenapa kau menjauhiku. Datang pagi dan pulang larut seperti ini hanya untuk menghindariku. Apa aku melakukan kesalahan? Apa kau membenciku?" Sehun bertanya dengan wajah datarnya tapi tidak bisa dipungkiri didalam suara Sehun terselip rasa terluka? Jongin tidak tau pasti apa itu.

"Bu-bukan begitu sajangnim. Saya hanya..." Suara Jongin semakin lirih dibagian akhir dan suaranya menghilang. Jongin bingung mau menjawab apa.

"Sssttt. Jangan katakan kalau kau belum siap. Kau boleh menjauhiku, aku tidak akan melarang. Lagipula aku tidak punya hak untuk itu. Tapi aku mohon jangan menyiksa dirimu sendiri Jongin" kata Sehun sebelum bangkit dari posisinya yang menghimpit tubuh Jongin di kursinya.

"Kumohon pulanglah" pinta Sehun lembut pada Jongin.

"N-ne" Jongin segera membereskan barang-barangnya. Mereka berjalan ke depan bersama dalam diam. Rasa canggung menyelimuti perjalan mereka. Mereka memang berjalan berdampingan tapi seolah ada tembok tak kasat mata yang membatasi mereka. So close yet so far.

"Kalau begitu saya permisi dulu sajangnim" pamit Jongin pada Sehun.

"Mau ku antar?"

"Tidak sajangnim terima kasih. Saya permsi dulu. Hati hati di jalan" Jongin buru-buru angkat kaki sebelum Sehun memaksa mengantarnya pulang.

Sepanjang perjalanan pulang Jongin termenung. Dia galau memikirkan Sehun. Pikirannya terus melayang-layang sampai dia sampai di apartemennya. Siapa mereka? Kenapa mereka mengacak-acak apartemenku? Dan ayah? dimana ayah?

"AYAH?!AYAH?! Dimana ayahku?!" teriak Jongin panik memasuki apartemennya diobrak-abrik oleh beberapa orang yang berbadan kekar. Jongin memegang salah satu orang itu berniat untuk menghentikan mereka. Tapi naas tubuhnya malah terlempar ke dinding belakangnya. Ditengah rintihan kesakitannya Jongin ditarik paksa oleh orang berbadan kekar itu. Lengannya dicengkram dengan keras sampai membuatnya memberontak kesakitan.

"Lepaskan aku. Sakit. Lepaskan! Dan katakan dimana ayahku!" Air mata Jongin sudah mulai mengalir dari matanya.

"Hei tenanglah gadis kecil. Ayahmu ada bersama kami" kata salah satu orang itu.

"Apa yang kau lakukan padanya. Kembalikan dia padaku!"

"Eits tidak bisa begitu manis. Dia berhutang banyak pada bos kami sampai-sampai dia harus memberikan nyawanya untuk membayar" mendengar itu air mata Jongin semakin mengalir deras. Membayar dengan nyawanya? Apa itu berarti mereka akan membunuh ayahnya?

"Kumohon jangan lakukan itu. Akan aku bayar hutang ayahku tapi aku mohon jangan sakiti dia" Inilah Kim Jongin yang hatinya entah terbuat dari apa sampai bisa sebaik itu. Begitu beruntungnya si brengsek Kim Jonghyun itu memiliki putri seperti Jongin.

"Kau mau membayarnya? Dengan apa? Memang kau tau berapa banyak hutang ayahmu huh?" ejek salah satu rentenir.

"Be-berapa?" Rentenir itu hanya menyeringai lalu merendahkan tubuhnya sejajar dengan telinga Jongin dan dia membisikkan nominal hutang ayahnya membuat mata Jongin membelalak seketika.

Ya Tuhan sebanyak itu?

Bagaimana dia bisa melunasinya?

Cengkraman di tangannya terlepas membiarkan sosok tubuhnya yang lemas terjatuh dilantai masih dalam kondisi shock.

"Batas waktumu 2 hari nona. Jika kau tidak bisa melunasinya ucapkan selamat tinggal pada ayahmu"

"Atau kau bisa memberikan tubuhmu sebagai bayarannya"

Dengan tanpa berperasaan mereka meninggalkan Jongin yang berantakan. Apartemen dan dirinya yang berantakan. Perasaannya kacau. Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana bisa dia mencari uang sebanyak itu dalam waktu hanya 2 hari? Isakkan nya semakin menjadi-jadi merasakan kejamnya takdir. Haha. Jangankan uang untuk membayar hutang ayahnya tempat bersandar untuk menangis pun dia tidak punya. Jongin sendirian.

Tetangga-tetangga sekitarnya hanya mampu menatap Jongin dengan iba. Bisa apa mereka? Membantu membayar hutang ayah Jongin? Hah bahkan makan pun kadang mereka meminta pada Jongin yang dianggap berkecukupan karena pekerjaannya sebagai sekertaris. Yang bias mereka lakukan adalah megasihani Jongin yang sedang mengis tersedu-sedu sambil memeluk tubuhnya.


Mobil Sehun hendak beranjak dari kompleks apartemen lusuh milik Jongin. Sehun berada di kompleks apartemen Jongin? Ya dia berada disana. Dia membuntuti Jongin tadi 'hanya untuk memastikan Jongin sampai rumah dengan selamat' katanya pada dirinya sendiri. Setelah memastikan Jongin memasuki gedung apartemen itu dia hendak beranjak pergi, memutar kemudinya untuk menuju rumahnya. Namun, niatnya urung saat meliha kaca aprtemen Jongin dengan lampu yang menyala dan ada beberapa barang-barang yang terlihat terlempar didalam sana.

Beberapa saat dia menunggu, terlihat beberapa orang bertubuh kekar keluar dari gedung apatemen lusuh itu. Alisnya mengerut gelisah.

'Ada yang tidak beres' batinnya. Dia segera beranjak dari mobilnya memasuki lobi apartemen itu. Dia memandang sekitarnya, disana banyak orang yang terlihat ketakutan yang kini telah memandangnya dengan tatapan penuh kekaguman. Hell, bagaimana mereka tidak kagum di apartemen yang seperti sarang tikus ini didatangi oleh lelaki dengan perawakan yang sempurna, dengan wajah bak pahatan dewan yunaniyang sangat rupawan. Dan yang paling penting bagi sekelompok orang lusuh penghuni apartemen ini adalah setelan jas bermerek, sepatu kulit kualitas terbaik, dan jam tangan mahal yang bertengger di tangan kiri Oh Sehun lah yang menjadi focus mereka. Beberapa wanita murahan disana mulai memoles diri mereka mencoba menarik perhatian Oh Sehun. Cih, dasar murahan.

Beberapa orang yang turun dari tangga dan sambil membicarakan betapa kasihannnya hidup seorang Kim Jongin mengalihkan focus Sehun. Dengan segera Sehun menaiki tangga dengan langkah lebar berhenti di setiap lantai untuk mencari letak apartemen Jongin. Di lantai empat di melihat sekerumunan orang didepan sebuah kamar yang sedang bebisik-bisik. Mendengar nama Jongin disebut tanpa menunggu lagi dia langsung menerobos kerumunan itu mengabaikan beberapa protes dari orang-orang yang didorongnya.

Dan disanalah dia melihat wanita yang selama ini tanpa sadar mulai mengisi hatinya yang kosong sedang terduduk lemas di tengah apartemen yang berantakan dengan kondisi yang juga berantakan. Bajunya berantakan bahkan ada yang sobek, rambut acak-acakan, air matanya mengalir deras, Jongin memeluk tubuhnya sendiri seakan-akan mencegah tubuhnya dari kehancuran. Jongin terlihat sangatlah rapuh membuat hati Sehun bergejolak antara sedih, marah dan entahlah terlalu banyak rasa aneh yang tidak pernah dia rasakan.

"Jongin" sebuah suara memanggil namanya seiring dengan sebuah tepukan dipundaknya membuat Jongin mendongak. Dan terpaku sesaat. Benarkah itu Sehun? Tapi kenapa Sehun ada disini? Apa dia berhalusinasi?

Sehun langsung menarik tubuh Jongin dan memeluknya erat. Membuat Jongin merasa agak tenang. Kehangatan pelukan Sehun menyadarkan Jongin bahwa ini bukanlah halusinasi. Tanpa memperdulikan egonya yang menolak dipeluk Sehun karena perkataan ayahnya Jongin malah balas memeluk Sehun. Dia memeluk punggung lebar dan kokoh milik Sehun erat dan membenamkan wajahnya di dada bidang Sehun, membasahi jas mahal itu dengan air matanya. Sehun juga makin mengeratkan pelukannya pada tubuh Jongin mencium puncak kepala Jongin sayang guna menenangkan Jongin. Dia sebenarnya masih betah dalam posisi seperti ini tapi bisikkan-bisikkan para tetangga Jongin benar-benar mengganggunya.

'Siapa lelaki tampan itu? Kenapa dia memeluk Jongin seperti itu'

'Sebulan yang lalu aku pernah melihatnya mengantar Jongin dengan banyak tas belanja yang mahal'

'Dia terlihat lebih tua dari Jongin. Jangan-jangan Jongin simpanannya'

'Atau mungkin hanya one night stand. Kau tau kan anak muda zaman sekarang demi kehidupan yang mewah mereka rela menjual tubuhnya'

'Mengingat ibunya yang seorang wanita penghibur tidak kaget sih kalau Jongin juga seperti itu'

Sehun jadi geram mendengar ocehan tak bermutu mereka. Bagaimana bisa mereka membicarakan Jongin didepan matanya saat Jongin sendiri sedang dalam kondisi seperti ini. Sehun melempar tatapan tajam pada mereka membuat mereka menutup mulut seketika.

Dengan lembut Sehun melepas pelukan Jongin dan juga jasnya. Sehun membungkus tubuh Jongin dengan jasnya yang terlihat amat besar di tubuh Jongin. Setelah mengecup puncak kepala Jongin lagi dia mengangkat tubuh Jongin, menggendongnya bridal menuju mobilnya. Jongin sendiri diam saja, dia terlalu kalut untuk sekedar bertanya mau dibawa kemana dirinya.

Sehun membawa Jongin ke mobilnya. Dia berniat membawa Jongin kabur kerumahnya karena kondisi apartemen Jongin yang tidak memungkinkan untuk ditempati dan tentunya karena tetangga tetangga Jongin yang menjijikkan menurut Sehun.

Di perjalanan Sehun mengebut dia sudah tidak tahan untuk segera memeluk Jongin lagi yang sekarang bersandar lemah sambil memperhatikan keluar jendela dengan air mata yang masih terus mengalir walaupun isakannya sudah tidak terdengar lagi. Mereka memasuki rumah yang sangat besar jika Jongin sedang tidak dalam kondisi kacau sekarang sudah pasti dia akan berdecak kagum melihat kediaman milik CEO Oh Corp yang megah bak istana itu.

Dengan telaten Sehun menggendong lagi tubuh Jongin yang diam saja layaknya boneka. Beberapa maid sempat terlihat kaget melihat Sehun yang membawa pulang seorang wanita. Menuju ke lantai atas Sehun melirik sekilas ke kamar kedua buah hatinya. Sudah tertutup, pertanda Bakhyun dan Haowen sudah tertidur. Well, tentu saja ini sudah jam 10 lewat.

Sehun membawa Jongin ke kamar tamu yang terletak paling ujung dan mendudukkan tubuh Jongin di kasur King size dengan sprei putih bersih itu. Sehun berlutut dihadapan Jongin dan menggenggam tangan Jongin.

"Apa kau baik-baik saja Jong?" Hah pertanyaan bodoh memang. Sudah jelas Jongin tidak baik-baik saja masih ditanya. Jangan salahkan Jongin kalau dirinya hanya diam saja. Menghela nafas Sehun bangkit dan melepaskan genggaman tangannya ditangan Jongin.

"Aku akan mengambilkan sesuatu untukmu. Kau mandilah atau berendam dengan air hangat itu akan membantu menenenangkanmu" kata Sehun dan berbalik hendak mengambilkan segelas susu hangat mungkin? entahlah apapun yang ada di dapurnya.

Tapi langkahnya terhenti saat sebuah tangan halus menggenggam tangannya. Siapa lagi kalau bukan tangan Jongin.

"Sajangnim jangan..." Sehun menajamkan pendengarannya mencoba mendengar apa yang dikatakan Jongin. Akhirnya sekertarisnya ini buka suara setelah diam saja dari tadi.

"...pergi" lanjut Jongin lirih sambil menundukkan kepalanya. Bukannya Jongin bermaksud 'caper' atau apa tapi dia memang sedang butuh teman untuk bersandar sekarang.

"Aku tidak akan kemana-mana hanya mengambil minum sebentar lalu kembali. Aku berjanji. Sekarang tenangkanlah dirimu sejenak" kata Sehun lembut sambil mengelus rambut Jongin pelan. Setelah berhasil meyakinkan Jongin dia beranjak meninggalkan kamar itu. Dan turun kelantai bawah memanggil Bibi Lee. Kepala maid dirumahnya sosok wanita tua yang sudah merawat Sehun dari dia yang masih cadel sampai sudah memiliki 2 anak seperti sekarang. Bibi Lee bagaikan ibu kedua untuk Sehun.

"Bibi Lee?"

"Ya tuan? Ada yang bisa saya bantu?"

"Tolong buatkan apapun yang sekiranya cocok dimakan saat sedih. Dan juga susu." kata Sehun.

"Bagaimana dengan sup hangat?" tanya Bibi Lee lembut.

"Tentu"

"Apakah aku harus membuatkannya untuk anda juga atau hanya untuk nona tadi?"

"Dia saja. Aku tidak lapar Bibi Lee" kata Sehun.

"Baiklah akan saya buatkan"

"Bibi Lee satu lagi. Apakah kita punya baju wanita?" tanya Sehun yang mengingat Jongin yang sedang mandi.

"Jika nona Baekhyun terhitung wanita maka iya kita punya. Baju nona Baekhyun" kata Bibi Lee

Matilah kau Oh Sehun.

Jongin harus memakai baju apa kalau begini? mana mungkin Sehun memberikan salah satu seragam maidnya. Hell, Jongin itu tamu.

Dengan frustasi Sehun kembali kekamarnya dan membuaka lemari pakaiannya mencoba mencari pakaian yang kiranya sesuai dengan Jongin. Tapi nihil didalam pakaiannya hanya ada baju laki-laki. Menyerah akhirnya Sehun meraih salah satu piyamanya.

Sehun kembali ke kamar yang ditempati Jongin. Dia mendengar suara shower dari dalam kamar mandi. Dan samar-samar menangkap bayangan tubuh Jongin dari pintu kamar mandi yang memang terbuat dari kaca yang buram. Dengan langkah cepat Sehun meninggalkan kamar itu.

Sementara di dalam kamar mandi Jongin berdiam diri dibawah shower. Menikmati air hangat yang mengguyurnya mencoba melupakan masalahnya sejenak. Setelah di rasa cukup tenang dia mengeringkan badannya dengan handuk yang telah disiapkan. Lalu mengintip keluar kamar mandi dan benar saja sudah ada sepasang piyama berwarna abu-abu diatas tempat tidur.

Tubuh Jongin kurang cocok dikatakan mungil karena badannya memang tinggi dan berisi-di beberapa bagian maksudnya. Tapi kenapa piyama ini besar sekali. Celananya bahkan selalu melorot ketika dipakai. Menyerah akhirnya dia memilih tidak memakai celananya toh bajunya cukup panjang selain itu dia akan bersembunyi saja dibalik selimut.

Setelah menyamankan tubuhnya dibalik selimut pikiran Jongin melayang memikirkan ayahnya matanya kembali memamanas. Sia-sia sudah usahanya menenangkan diri, dia kembali sedih lagi sekarang. Ditengah tangis tak bersuaranya pintu kamar itu terbuka menampakkan sosok Sehun yang sepertinya juga barusan mandi terlihat dari rambutnya yang masih basah dan pakaiannya yang terlihat seperti pakaian tidur. Sehun datang sambil membawa nampan berisi makanan.

"Jongin makanlah dulu" kata Sehun mendudukkan tubuhnya dipinggiran tempat tidur dan meletakkan nampan yang dibawanya di meja nakas.

"Saya tidak lapar" kata Jongin menggelang lemah. Air matanya masih terus mengalir.

"Hei jangan menangis. Kau kenapa hmm? ceritakanlah padaku" kata Sehun lembut tangannya memegang pipi Jongin menghapus air mata yang tengah mengalir. Tanpa Sehun duga Jongin tiba-tiba memeluk dirinya membuat selimut yang dipakainya menyibak memperlihatkan kaki telanjang Jongin.

Di dalam pelukan Sehun Jongin menceritakan semuanya. Tentang ayahnya. Hutangnya. Dan para rentenir itu. Jongin meremat kaos putih polos yang dipakai Sehun, berpegangan erat seakan takut Sehun tiba-tiba menghilang.

"Aku akan membantumu Jongin. Aku berjanji" kata Sehun mengangkat wajah Jongin dari dadanya membuat mereka bertatap-tatapan.

"Ti-tidak sajangnim. Jumlahnya terlalu besar. Bagaimana aku bisa membayarnya nanti?" tolak Jongin sambil terus menatap lurus ke mata Sehun dengan matanya yang basah.

Entah bisikan setan dari mana melihat Jongin sekarang membuat sesuatu dalam diri Sehun berkobar. Sesuatu yang telah lama padam dalam dirinya. Tapi bukan cinta. Ini berbeda dengan cinta. Sesuatu yang tengah berkobar saat ini lebih passionate mungkin?

"Aku menginginkanmu Jongin" Dengan tak tau malunya kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Sehun. Sebut Sehun bajingan tapi dia benar-benar sudah buta sekarang. Logikanya telah mati melihat kondisi Jongin dihadapannya. Setengah telanjang dengan wajah sedih yang justru terlihat menggoda dimata Sehun. Bahkan pertahanan diri sekokoh tembok besar Cina milik Sehun pun ada batasnya bukan?

Jongin membeku mendengar ucapan bosnya. Jongin tau betul apa yang dimaksud 'menginginkan' oleh Sehun. Dirinya terpaku.

Di satu sisi dia menolak keras. Logikanya memberontak. Demi Tuhan dia bukan wanita murahan. Dia tidak bekerja keras menamatkan sekolahnya hanya untuk menjual dirinya. Dia ingin menunjukkan pada semua orang bahwa meskipun dia putri seorang pelacur dia bisa hidup tanpa harus menjadi pelacur juga. Ingin rasanya dia menampar dan memaki Sehun.

Tapi di sisi lain. Di sisi dimana jiwa wanitanya yang lemah berada hatinya meragu. Haruskah dia melakukannya? Demi ayahnya? Ayah yang bahkan tidak pantas disebut ayah. Haruskah dia mengingkari janjinya pada ibunya untuk menjaga miliknya yang paling berharga sebagai wanita dan hanya boleh diberikan pada orang yang dicintai? Tapi dia juga berjanji akan menjaga ayahnya apapun yang terjadi? Lalu janji mana yang harus ditepati? janji mana yang harus diingkari? Tidak ada jalan lain lagi.

Sehun kira dia akan mendapat tamparan dari Jongin. Tapi tidak. Jongin hanya diam disana dengan pandangan yang tersesat. Sehun brengsek dan dia tau itu. Ditengah kebingungan yang Jongin rasakan dia malah semakin menjadi. Dengan elusan lembut di pipi Jongin dia berkata dengan lirih.

"Percayalah padaku semua akan baik-baik saja" bibir manis Sehun mengeluarkan kata-kata yang mengoyak pertahanan Jongin.

"Kau percaya bukan kepadaku?" lanjut Sehun sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Jongin melihat tatapan mata pasrah Jongin.

Merasakan bibir tipis Sehun menempel dibibirnya Jongin menyerah. Dia memejamkan matanya dengan air mata yang menetes.

Malam ini Jongin kalah.

Dia mungkin akan menyesal nantinya. Tapi ayahnya yang terpenting sekarang.

Seiring dengan ciuman Sehun yang semakin dalam dan pelukan hangat Sehun membuat Jongin sadar. Tidak ada janji yang diingkari.

Dia menjaga ayahnya.

Dia juga menyerahkan miliknya pada orang yang dicintai.

Karena sekeras apapun Jongin menolak tapi jauh didalam lubuk hatinya dia mencintai Sehun.

Sangat.

.

.

.

.

.

TBC


A/N:

Aaaaah iya ini late update. saya tau T-T maafkan saya yang sedang sibuk dan kena wb ini T-T

Dan untuk mengganti kelate updatean saya chap ini saya buat agak panjang. 4k. Ya ampun ini chap tepanjang yang saya pernah tulis. Dan maafkan saya kalo dichap ini agak aneh. Entahlah. Saya ngerasa aja kalo chap ini kind of crappy(?) iya nggak sih?

Yang udah nungguin baekhyun sama haowen? tenang mereka muncul chap depan.

Sekali lagi saya seneng banget sama respon kalian :'3 dan maaf nggak bisa bales satu-satu :'*