Complicated

Another Day

AU! OOC/ No Magic/ Modern Timeline

Summary : Malfoy Manor, rumah besar milik keluarga bangsawan Malfoy selama ini selalu tampak tenang dan teratur. Apa yang terjadi ketika seorang pelayan baru yang datang disana mampu merubah semuanya. Suasana baru, dan tentunya … perasaan baru. Semuanya menjadi lebih rumit dan kompleks. Dimana sebenanrnya perasaannya berlabuh? Untuk kekasihnya atau…. Pelayan baru itu?

Author note : Cerita ini FULL AU . NO MAGIC. Modern Timeline. Dan hampir semua OOC. Typo(s). DM (22) HP (18). Pairing H/?. etcetera dan etcetera. Read & Review! Xie xie! ^^. Maaf atas keterlambatan updatenya -_-v

-0-

Grimmauld Place No. 12, London, Inggris.

"Hera, I'm home!" seru pria muda berambut hitam sambil melepas jas kerjanya.

Regulus Arcturus Black, atau biasa dipanggil Regi, pewaris tunggal keluarga Black setelah Sirius, kakaknya meninggal tiga tahun silam itu tampak bahagia ketika memasuki rumah yang ia tempati sejak ia kecil. Tas hitam berukuran sedang tersampir dibahunya ditambah beberapa map ditangannya diletakkan di meja ruang tamu dengan asal.

"Di dapur, dear!" suara perempuan terdengar samar dari arah dapur rumah besar tersebut. Setelah melepas sepatunya, pria itu langsung menyusuri koridor menuju sumber suara.

Disana, tepat di depan meja makan, seorang wanita dikisaran pertengahan tiga puluh tahun adalah Heralia Martha Black, istrinya sejak sepuluh tahun lalu. Meski sudah hampir kepala empat, kecantikannya tak berubah sama sekali dimata Regi. Rambutnya coklat-kemerahan yang hampir sewarna tanah basah, mata biru cemerlang yang penuh ketenangan serta postur tubuhnya yang agak kecil justru tampak sempurna dimata Regi. Tak ada penyesalan sedikit pun dalam hidupnya menikahi sahabatnya sejak di universitas.

Dan jika ada yang menyaingi kebahagiaan Regi, tentunya Hera sendiri. Siapa sangka pada akhirnya ia akan menikah dengan Prince Charming sekaligus anak bungsu keluarga Black tersebut? Pria yang tetap tampan, bahkan mungkin makin tampan diusianya yang ketiga puluh tujuh. Rambut hitam keluarga Black, ditambah sepasang iris abu-abu penuh misteri itu sudah memikatnya sejak pertama kali bertatapan mata.

Pribadinya yang agak tertutup justru menjadi suatu tantangan tersendiri untuk seorang Hera yang notabenenya punya keingintahuan besar. Ditambah saat itu statusnya sebagai "reporter" sekolah sempat membuatnya harus mewawancarai murid-murid berprestasi disekolah, dan Regulus termasuk satu diantaranya.

Dibalik ketenangannya, tersembunyi sejuta cerita tentang dirinya dan almarhum Sirius yang tumbuh besar dalam keluarga yang taat aturan dan menuntut kesempurnaan. Membuatnya menjadi pribadi yang agak tertutup dan berpikiran jauh dari remaja sepantarnya.

"Hera, sweetie? Kau baik-baik saja? Apa ada masalah?" tanya Regi khawatir melihat istrinya yang terdiam ketika melihatnya.

Hera yang tersadar dari lamunannya berkedip beberapa kali, menghilangkan sisa-sisa jaring khayalannya sebelum tersenyum menatap Regulus.

"Aku tidak apa Regi, hanya melamun sebentar. Kau tak perlu khawatir seperti itu, aku tak mau kau cepat tua dan beruban karena terlalu mengkhawatirkanku," katanya berusaha serius. Meski ia tau tak ada gunanya karena Regi selalu mampu membacanya seperti buku terbuka.

Tapi, bukan Regi namanya jika tak membalas pernyataan istrinya tersebut. "Memangnya kau mau punya suami tua dan beruban, Hera? Oh, aku tak tau seleramu malah yang seperti itu. Aku terluka Hera. Perasaan ku selama ini ternyata tak berarti apa-apa dimatamu," balas Regulus sambil menyentuh jantungnya, layaknya orang kesakitan.

Mendapat reaksi demikian, topeng serius yang Hera bangun susah payah pada akhirnya berantakan juga,"Oooh sussh! Biarpun kau nanti tua dan beruban, aku tetap sayang padamu Regulus Arcturus Black. Percayalah padaku, ok?" dan Hera pun menghampiri Regi dengan puppy-eyesnya sambil merangkul pinggang Regi.

Regulus memasang ekspresi berpikir sambil mengusap dagunya seperti kakek tua sebelum balas memeluk istrinya itu."Ehhmm, bagaimana ya? Aku perlu bukti atas ucapanmu itu Mrs. Black. Dan aku butuh bukti nyata, kau tau sendiri kan keluarga Black selalu mencari bukti terkuat atas suatu pernyataan?"

Sambil berjinjit, Hera mengecup bibir Regulus lembut hingga ia merasakan pria itu tersenyum dalam ciumannya. Mungkin hanya beberapa detik, tapi Hera tau itu cukup,"Apa itu cukup membuktikan kata-kataku Mr. Black?" Hera menatap Regulus dengan sebelah alis dinaikkan.

"Kurasa itu cukup, untuk saat ini. Aku masih harus menghukum-mu Mrs. Black karena telah meledekku," balas Regi dengan seringainya yang disambut pipi bersemu oleh Hera. Oh, betapa senangnya ia melihat Hera bersemu seperti itu.

Ia baru hendak melanjutkan candaannya dengan Hera andai suara tak menyenangkan dari perutnya muncul lebih dulu. Hera yang mendengarnya terkikik geli sambil melepaskan pelukannya dari pinggang Regi.

"Kurasa ada yang lapar, eh? Ayo makan dulu, aku buatkan makanan kesukaanmu."

Keduanya menikmati makan malam yang cukup tenang sambil sesekali bercerita kegiatan hari ini. Pekerjaan keduanya yang sama-sama sibuk membuat mereka jarang bisa menghabiskan waktu bersama. Regulus, pemilik usaha furniture keluarga selalu berangkat tepat jam tujuh pagi. Disiplin tinggi yang diterapkan keluarga seakan menyatu dengan pribadinya, ditambah dengan posisinya yang kini menjadi pemilik tunggal usaha itu makin meningkatkan kerja kerasnya. Dan Hera, pekerjaannya sebagai editor majalah ternama membuatnya meninggalkan rumah satu jam setelah Regi berangkat. Karena itu keduanya jarang bertemu dihari biasa. Jadi, saat makan malam seperti ini biasanya mereka habiskan untuk mengulur waktu sebanyak mungkin sebelum tidur dan menghadapi hari sibuk lainnya.

"Apa sudah ada kabar dari Harry? Sudah hampir dua minggu kan dia kerja disana?" tanya Regi sambil menyisip kopi dari cangkirnya.

Hera tersenyum mendengar kekhawatiran Regi pada anak baptis mereka. Biarpun Harry tak sepenuhnya anak mereka, tapi keduanya sudah mengenal Harry sejak kecil. Tepatnya, sejak sebelas tahun silam

"Tadi dia menelepon dari Manor, sejauh ini pekerjaannya lancar-lancar saja. Biarpun kata Harry dia masih masa percobaan, tapi aku yakin dia bisa. Apalagi pekerjaannya hanya mengurus peliharaan pribadi anak majikannya. Ku harap Harry tidak ceroboh dan lupa istirahat, aku tak mau dia-

"Hera, Hera darling kau mulai meracau lagi," sambar Regi setiap kali istrinya mulai bicara dalam tempo kelewat cepat. Matanya berbinar melihat pipi istrinya kembali merona.

Hera melempar tatapan tajam pada Regi, meski ia sendiri masih kesulitan menghilangkan rona merah diwajahnya,"Apa salah aku mengkhawatirkan anak baptisku sendiri? Anak baptis yang ku kenal selama sebelas tahun, heh?!" tantangnya

"Hera sayang, Harry sudah besar ia pasti tau mana yang baik untuknya. Kalau kau sudah mengenalnya selama ini, percayakan semua padanya. Ia pasti bisa, ok?"bujuk Regi sambil mengusap bahu Hera lembut.

Mendengar bujukan sang suami, Hera hanya bisa menghela nafas pasrah. Memang Harry sudah besar, ia juga sudah cukup umur dan ditambah masa kecilnya yang dihabiskan bersama keluarga Black pasti sudah membentuk pribadinya. Tapi, apa salah ia khawatir padanya? Mungkin, ini yang dinamakan insting keibuan?

Lagi-lagi Regi mendapati pasangannya itu terdiam. Selalu seperti ini setiap berhubungan dengan Harry. Harus diakuinya, sosok Harry selalu punya tempat khusus dihatinya serta Hera. Tempat yang sama spesialnya seperti kedua orangtua dan juga Sirius. Hanya saja, ia tak pernah mengira sedemikian besar rasa sayang Hera pada anak angkat tak resminya itu.

"Ku rasa tidur satu-satunya cara untuk mengalihkanmu dari Harry, eh? Kalau itu cara yang tersedia, mungkin aku harus sering melakukannya supaya tidak tersaingi oleh anak itu. Ckckck, come on Dear! Aku yakin kau pasti lelah sepulang kerja, karena aku juga merasa begitu. Let's sleep! Dan tak ada bantahan Mrs. Black" sambar Regi begitu melihat Hera membuka mulut untuk membantah.

"Baik, baik Tuan Regi. Kau tau, kadang kau itu lebih cerewet dibanding Sirius," Dan Hera pun bangkit dari sofa menyusul suaminya yang lebih dulu masuk kamar.

-0-

Bulan sabit masih menggantung di langit malam, tampak anggun dikelilingi beberapa bintang disisinya. Pagi masih terlalu dini untuk datang, dan malam pun masih lama sebelum berlalu. Suara-suara hewan malam, dan desau angin dingin khas musim gugur diantara dedaunan seakan menina bobokan para penghuni Malfoy manor.

Hampir tak ada aktifitas sama sekali di manor yang biasanya sibuk itu, hampir. Karena diantara kesunyian yang meliputi rumah itu, satu diantara penghuninya masih terjaga. Sesosok pria muda, yang menghuni manor itu kurang dari sebulan masih asik menatap langit malam dari teras belakang kediaman itu.

Ia, Harry Potter, selalu memilih keluar rumah untuk menikmati keindahan malam ketika insomnianya menyerang. Ada suatu ketenangan, kedamaian dan perasaan bebas yang ia rasa setiap kali berdekatan dengan alam, khususnya di waktu malam hari. Disaat orang lain terlelap, saat semua kebisingan mesin-mesin kendaraan itu menyusut drastis, adalah waktu favoritnya. Disaat hanya ada dirinya, langit hitam kelam yang di percantik ribuan berlian bernama bintang, suara-suara binatang malam dan segala hal yang hanya ditemui saat mentari terbenam merupakan harta yang tak terhingga bagi Harry.

Dengan jaket dan selimut tebal guna menghangatkan badannya, Harry duduk tenang, menikmati hembusan angin malam diwajahnya dan mendengar suara dedaunan bergesekan sambil menikmati secangkir coklat hangat.

Dikejauhan, ia masih dapat melihat siluet Orion –burung hantu elang milik Draco- terbang dengan bebasnya. Lokasi Malfoy manor yang berdekatan dengan Savernake Forest memberi keuntungan tersendiri bagi Orion untuk berburu. Harry melihatnya, terbang tinggi, berputar sebelum akhirnya menukik tajam dan kembali membawa seekor tupai kecil diantara kakinya.

"Tangkapan bagus, Orion." Kata Harry begitu Orion mendarat disisinya. Meletakkan tupai itu dibawah cakar tajamnya agar tidak melarikan diri.

Burung hantu itu seolah mengerti saat dipuji langsung mengusap-usap puncak kepalanya ke selimut Harry sebelum menikmati santapannya. Harry yang melihat tingkah Orion hanya tersenyum, keistimewaannya yang bisa "berkomunikasi" dengan binantang turut membuatnya lebih memilih menghabiskan waktu berbaur dengan alam bebas dibanding bersama sesamanya.

"Kau tau Orion? Kadang aku berharap aku bisa terbang sepertimu." Harry berkata sambil memandang Orion yang sibuk membersihkan bulu hitam kecoklatannya dengan paruh tajamnya.

"Rasanya pasti menyenangkan bisa melihat tempatmu tinggal dari ketinggian. Merasakan angin bebas menerpa wajahmu di atas sana tanpa perlu memikirkan maslaah yang menunggumu saat kau turun ke daratan. Oh yes, I wish I can fly," Harry terus bicara layaknya dengan orang sungguhan.

Ia meletakkan cangkir coklatnya sebelum mengambil buku yang ia bawa saat keluar tadi. Tak perlu menunggu lama, ia pun tenggelam dalam dunia lain yang disuguhkan lewat buku dihadapannya. Sama sekali tak sadar bahwa ia bukan lagi satu-satunya orang yang terjaga di saat itu.

-0-

Draco Malfoy sedang tidak senang. Sangat tidak senang. Diantara pekerjaan yang sedang menggila dan klien yang luar biasa sulit ditangani, masalah komunikasinya dengan sang kekasihnya yang paling memperburuk mood sang Tuan Muda.

Serta pola tidurnya yang pasti terganggu saat dirinya banyak pikiran. Mungkin ini hal yang wajar, tapi, kalau harus terjaga sepanjang malam padahal besok paginya kau ada rapat penting pasti bukan hal yang bagus kan? Dan itulah yang saat ini dirasakan Draco.

Ketika sekujur tubuhnya menjerit minta beristirahat, otaknya, media berfikirnya justru terus bergerak seperti atom berkecepatan tinggi yang tak bisa diam. Menyebalkan. Melelahkan. Ia hanya ingin tidur, paling tidak satu atau dua jam sebelum pagi datang. Ia harus berangkat lebih pagi dari biasanya untuk pergi ke London. Dan saat ini, jam tiga dinihari, ia masih belum bisa tidur!

"Arrrgghhh! Bloody mind!" Draco mengumpat kesal sambil meninju bantalnya entah untuk keberapa kalinya. Selimutnya sudah tergantung lunglai di sisi ranjang menunggu jatuh.

Kesal karena tak juga bisa tidur, Draco memilih keluar kamar dan membuat coklat hangat. Mungkin, sambil mengelilingi manor akan membuatnya lelah dan bisa tidur. Mungkin.

Draco menggengam mug coklat panasnya yang masih beruap dengan kedua tangannya. Meski tak seberapa, rasa hangat yang ditawarkan minuman digenggamannya lebih dari cukup untuk memperbaiki moodnya yang memburuk. Meski, rasa kantuk itu belum juga datang.

Kakinya terus melangkah tanpa disadari kemana arahnya. Kalaupun aku nyasar, aku masih di rumahku sendiri, batin Draco. Ia benar-benar tak memperhatikan kemana kakinya membawa tubuhnya, selama rasa kantuk itu belum datang ia belum mau berhenti.

"- tau Orion? Kadang aku berharap aku bisa terbang sepertimu." Draco terpaku ditempatnya ketika mendengar suara seseorang. Suara itu asing, tapi, kenapa ada Orion disana?

Orion kan burung hantu peliharaannya. Mana mungkin ada yang bicara pada binatang, iya kan? Tanya Draco pada dirinya sendiri.

Kecuali orang itu gila, baru ada ,balas suara lain dari pikirannya.

Diamlah kau. Bisa saja itu justru pencuri.

Aku kan pikiranmu bodoh. Jangan-jangan orang gilanya itu kau sendiri Draco.

Eh, iya ya. Kenapa aku malah menyuruhmu diam? Kau kan pikiranku sendiri.

Itu karena kau bodoh, Malfoy.

Draco mencubit lengannya cukup kencang hingga memerah guna mengembalikan kesadarannya. "Bodoh, aku benar-benar seperti orang idiot bicara sendiri," gerutunya kesal.

Ia berusaha mengintip dari balik pintu teras yang terbuka ke sumber suara. Disana, di pinggir teras tempatnya duduk beberapa jam yang lalu, ada seorang pemuda berambut hitam duduk dengan selimut tebal menyelimuti tubuhnya didampingi Orion, burung hantu elang kesayangannya. Yang jelas, anak itu salah satu pelayan manor, tapi siapa dia? Disini ada tiga pelayan laki-laki berambut hitam, Dawson, Snape dan… Potter. Dawson dan Snape tak mungkin keluar saat cuaca dingin begini, berarti tinggal tersisa satu kandidat.

Potter? Apa yang ia lakukan diluar malam-malam begini?

" - bisa melihat tempatmu tinggal dari ketinggian. Merasakan angin bebas menerpa wajahmu di atas sana tanpa perlu memikirkan masalah yang menunggumu saat kau turun ke daratan. Oh yes, I wish I can fly,"

Draco melihatnya bicara pada Orion seolah burung itu adalah manusia sungguhan. Tak ada rasa canggung berada di dekat binatang yang notabenenya jarang berinteraksi dengan manusia itu. Kalau boleh terus terang, Draco justru mendapati Potter seolah sudah biasa berhubungan dengan binatang seperti itu. Bukan suatu hal yang umum.

Tapi, Potter kan memang aneh. Pertama Alpha, sekarang Orion, apa nanti dia malah punya hubungan spesial dengan Rosier?. Lagi-lagi pikiran melantur masuk ke otaknya tanpa basa-basi. Kali ini, ia gantian menampar pipinya dengan harapan tidak melantur lagi. Sepertinya otaknya sudah lelah, jadi mulai mengarah ke hal-hal konyol begini.

Bukannya kembali ke kamar supaya bisa tidur dengan nyaman, Draco justru memilih duduk di tempat persembunyiannya untuk mengamati sosok Harry yang kini asik berkutat dengan bukunya. Sama sekali tak perduli dengan keadaan disekitarnya. Terlena dalam dunia milinya sendiri yang tak terjamah siapa pun. Dan harus Draco akui, ia iri. Kadang ia ingin bisa seperti itu. Tapi, tak perduli sekeras apapun ia mencoba, tetap ada satu atau dua orang yang bisa masuk dalam hidupnya dan turut campur dengan keputusannya, dengan dunianya.

Ia tak sadar berapa lama ia duduk disana, atau tepatnya berapa lama ia tertidur disana. Hal terakhir yang diingat Draco hanya ia sedang berusaha membuat dirinya mengantuk dan berakhir di pintu teras sambil mengamati Potter. Pintu yang sama yang sekarang sudah tertutup rapat. Dan ya, ia mengamati Potter meski ia sendiri berusaha membantahnya.

Tapi, ia ingat ia tak membawa selimut. Ia keluar kamar hanya memakai sweaternya dan secangkir coklat hangat –yang sekarang sudah dingin- dan tanpa selimut. Jadi, kenapa saat ia bangun ada selimut yang menutupi badan bagian depannya. Ia tak tau itu selimut milik siapa, hanya saja perpaduan wangi pine dan tanah basah yang tercium samar dari selimut itu mampu menenangkan jantung Draco yang berdegup kencang ketika terbangun tadi.

Matanya menatap nyalang koridor yang masih tampak sepi. Berarti semua masih tertidur di kamarnya, dan tentu sebuah keuntungan untuknya. Bukan hal yang menyenangkan kalau sampai salah satu pelayan melihatnya tertidur di koridor. Ia bangkit dari posisinya sambil menggengam selimut itu, menyampirkannya ke punggung agar lebih mudah dibawa. Dari sela tirai jendela yang terbuka, ia melihat fajar mulai menyingsing, pertanda ia tidak kesiangan. Baru saja ia bangkit untuk mengambil cangkirnya ketika matanya menangkap secarik kertas yang diletakkan dibawah cangkir itu.

Mungkin, anda bisa membawa selimut sendiri jika ingin tidur di luar lagi Tuan Muda. Angin musim dingin bukanlah angin yang bersahabat pada tubuh. Lebih baik mencegah dibanding mengobati kan?


Seperti biasa RnR ^^

Fen