HAI! AKHIRNYA CHAPTER 3 UPDATE JUGA! XD
Maaf ya udah nunggu lama :D *maklum habis selesai Ulangan Semester*
Hehe sebelum itu, aku mau balas review dulu! XD
sasunaru4ever: Ini udah di update XD Hehehe btw, aku udah add fb kamu lho ya! Mksih confirmnya ;) Iya, Sasu punya penyakit pikun kali, makanya lupa :D #plak *bcnda* itu...err~ sayang banget di chap 3 ini soal itu belum di bahas ^^a
chielasu88: Thnkz udah RnR! Nih udah update XD hehe salam kenal juga ^^ Eh? Fic ini sweet? hehe mksih atas pujiannya :D ehm...Sasuke baru kali ini sekelas sama Naruto, kan mereka cuma ketemu waktu masih kls 1 SD, itupun mereka beda kelas :D
ayako: Nih udah update! mksih udah RnR :D Slm kenal ya Ayako-chan XD
Ashahi Kagari-kun: Mksih RnR nya Ashahi-chan XD *hug* #plak mksih banget ya coz selalu follow fanfic ini, maaf kalau nunggu lama :) Ini udah update! Kakashi memang mirip papa comblang di sini, dia merupakan kunci utama bersatunya SasuNaru XD *Soal hukum-menghukum Sasuke, cuma alasan aja hehehe*
YOSH! Kayaknya segini aja deh~ kalau gitu kita mulai ceritanya! XD
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
I Just Wanna Say I Love You © Uzumaki Shieru
WARNING: OOC, Shonen-Ai, Boy x Boy.
KALAU TIDAK SUKA, TIDAK USAH BACA, KALAU PERLU TEKAN TOMBOL BACK! ^^
XOXOXOX
.
Di SD Konoha yang damai.
14:00 pm
"SALAH DOBE!"
"Jangan berteriak teme!"
"Makanya serius, idiot!"
"Grrraah bisa tidak jangan mengataiku idiot setiap kalinya? BAKATEME!"
Err—mungkin suasananya tidak begitu damai bagi kedua bocah ini.
'Teme menyebalkan!' batin Naruto kesal.
Naruto tidak percaya bahwa orang di depannya itu adalah Sasuke. Kenapa bocah di depannya itu begitu pemarah dan tidak sabaran? Naruto tahu, pasti semua ini ada hubungannya dengan kejadian di malam itu. Di mana Naruto menyatakan perasaannya.
FLASHBACK
"Ada yang ingin aku katakan, Sasuke."
"Apa, dobe?"
"Aku...aku menyukaimu."
Hening..
'Bletak'
"Auch! Apa yang kau lakukan, teme! Sakit tahu!"
Naruto mengusap kepalanya yang sedikit...benjol.
"Jangan bercanda di saat seperti ini, dobe!"
"H-hah? Ta-tapi aku..."
Sasuke tiba-tiba menarik tangan Naruto. "Ayo, usuratonkachi! Angin laut sudah membuat otakmu beku bukan tambah encer!"
"APA KAU BILANG? COBA KATAKAN SEKALI LAGI, TE—"
"Shut up, dobe!"
Naruto terbungkam
"Ayo pulang!" Sasuke menarik tangan Naruto—lebih tepatnya menyeret.
Dan setelah itu, Naruto tidak bisa berkata apa-apa lagi. Seakan-akan pengakuannya hanya seperti angin lalu bagi Sasuke.
FLASHBACK END
"Menyedihkan..." gumam Naruto lesu
"Ulangi sekali lagi, usuratonkachi!"
Ck, Naruto ingin sekali menyumpal mulut Sasuke yang berisik itu. Apa ini kelakuan seorang Uchiha? Tidakkah seharusnya Sasuke bersikap lebih lembut seperti biasanya? Cara belajar seperti ini bukan membuat Naruto pintar tapi malah membuat Naruto tambah idiot.
"Kalau kau menyukaiku, setidaknya kau harus lebih serius memperhatikan pelajaranku, dobe!"
Perkataan Sasuke seketika membuat Naruto menghentikan kegiatannya.
"Atau sebenarnya kau itu...homo?"
'TWITCH'
"CUKUP TEME!" Naruto menggebrak mejanya—membuat Sasuke sedikit tersentak.
Wajah Naruto memerah, bukan karena tersipu ataupun malu. Ia geram—tidak terima dengan perkataan bocah raven di depannya itu!
"Kau marah, Naruto?" Sasuke memicingkan matanya.
"Setidaknya ada alasan kenapa aku bersikap seperti ini, Sasuke." ucap Naruto dengan nada tak biasa.
"Tentu saja ada alasannya dobe! Bukannya kau sendiri yang tidak serius belajar dari tadi? AKU LELAH DOBE!"
Naruto terbelalak.
"Kalau kau lelah kenapa kau masih mau saja meladeniku, teme!"
"Kau idiot atau apa hah? Ujian semester tingga beberapa minggu lagi! Aku tidak mau jika kau mendapat nilai jelek di sekolah! Kakashi-Sensei telah mempercayaiku untuk mengurusmu! SETIDAKNYA HARGAI AKU DOBE!"
"Aku sudah berusaha menghargaimu, teme! Tapi kau begitu keras mengajariku! Aku benci dirimu yang seperti itu!"
"Aku begitu demi kebaikanmu, dobe! Kalau kau benar-benar menyukaiku, SEHARUSNYA KAU BISA LEBIH SERIUS MEMPERHATIKANKU! AGAR AKU TIDAK BERSIKAP KERAS PADAMU!"
Nafas Sasuke dan Naruto sama-sama berderu tidak karuan setelah perdebatan tersebut. Keduanya bertatapan layaknya musuh. Tidak ada yang mau mengalah.
"Tch, lihat saja teme! Akan ku buktikan kalau aku tidak sebodoh yang kau pikirkan!" ucap Naruto sambil menunjuk Sasuke—berpose seolah-olah berkata, "aku ini hebat!"
Sasuke mendengus.
"Baguslah kalau begitu. Jadi aku tidak perlu repot-repot menghabiskan waktuku untuk mengajari seorang 'dobe' sepertimu."
Naruto terbelalak kembali mendengar perkataan Sasuke yang-mungkin-sangat menusuk itu. Entah kenapa dada Naruto merasa berdenyut, sesak rasanya.
"Baiklah teme. Mulai sekarang kau bebas. Aku tidak akan mengganggumu lagi!" ucap Naruto penuh penekanan.
Naruto menyambar semua peralatan alat tulisnya, memasukkan semuanya ke dalam ranselnya, dan mulai beranjak keluar kelas. "Dan satu lagi teme. Jangan percaya diri seolah-olah aku benar-benar menyukaimu." ucapnya membelakangi Sasuke. Dan setelah kalimat terakhirnya, bocah pirang itu benar-benar pergi dari hadapan Sasuke.
"Sial..." gumam Sasuke
"Kau bodoh Sasuke! Kenapa kau bersikap jahat padanya?" lanjutnya mulai merasa bersalah.
.
.
.
"Kau kenapa Otouto?" tanya seorang pemuda yang memiliki garis—semacam keriput di wajahnya.
"..." Sasuke tetap diam.
"Otouto!" seru pemuda tersebut—membuat Sasuke sedikit tersentak.
"Apa, Aniki?" tanya Sasuke.
Ternyata pemuda tersebut merupakan kakak kandung Sasuke—Uchiha Itachi.
"Cepat ambil tomat-tomat itu, Sasuke. Kau dari tadi melamun seperti orang bodoh," ucap Itachi.
Ya, dua bersaudara itu sekarang berada di supermarket, sedang membeli bahan-bahan untuk makan malam.
'TWITCH'
"Setidaknya jangan mengataiku bodoh, Aniki!" sembur Sasuke kesal.
"Salahmu sendiri, Otouto. Makanya jangan melamun." Itachi mulai berkacak pinggang.
Sasuke tertegun. Sadar atau tidak, perdebatan ini membuat Sasuke teringat kembali pada Naruto. Membuat Sasuke mulai di himpit rasa bersalah. Bocah raven itu menghela nafas.
"Kau tidak apa-apa, Sasuke?" tanya Itachi mulai sedikit khawatir. Heran dengan perubahan sikap adiknya itu.
"Aku tidak apa-apa, Aniki." jawab Sasuke pelan.
.
"Ah, sepertinya aku melupakan sesuatu!" seru Itachi saat perjalanan pulang. "Ayo kembali ke sana, Sasuke!" lanjutnya.
Sasuke hanya menggeleng. "Kau saja, Aniki. Aku mau lihat-lihat di sekitar sini dulu."
Itachi terlihat berpikir.
"Nanti Aniki bisa meneleponku." ucap Sasuke.
"Baiklah kalau begitu." ucap Itachi kemudian.
Sudah hampir lima menit Sasuke menelusuri toko-toko di perkotaan tersebut. Entah kenapa pemandangan di kota Konoha pada malam hari begitu terlihat indah di mata Sasuke—berbeda dengan suasana hatinya sekarang ini.
Sasuke berhenti berjalan di sebuah Kafe. Bocah raven itu terteggun melihat seseorang yang begitu ia kenal dari kaca Kafe yang tembus pandang itu.
"Naruto?"
Pemandangan itu membuat Sasuke tidak dapat menahan senyumnya. Ya, Kafe yang bersuasana tenang seperti itu memang cocok untuk tempat bersantai. Tapi Naruto? Sasuke tak menyangka bahwa bocah pirang itu sedang belajar di dalam sana.
Seketika rasa bersalah mulai muncul di hati Sasuke. Andaikan ia di sana, menemani Naruto.
Sasuke menggeleng pelan. Tidak, dirinya tidak boleh menemui Naruto di dalam sana apalagi sampai menemaninya. Nasi telah menjadi bubur, Sasuke benar-benar menyesal. Rasanya ia ingin sekali meminta maaf pada bocah pirang itu. Tapi saat ini waktunya belum tepat. Biarkan bocah pirang itu belajar sendiri, toh ini yang Naruto inginkan bukan? Huffft...lagi-lagi Sasuke menghela nafas. Siapa coba yang membuat Naruto seperti itu kalau bukan dirinya sendiri? Benar-benar bodoh kau Sasuke!
Dan pada akhirnya Sasuke pergi menjauhi kafe itu.
.
.
.
"Hoi Naruto! Kau tidak ke kantin?" tanya Kiba.
Naruto hanya menggeleng, "Aku tidak lapar, kau duluan saja." jawabnya.
"Oh, masih pusing dengan soal matematika tadi ya? Jangan terlalu serius Naruto, otak udangmu itu butuh istira—HEI!"
Lemparan buku tebal itu mengenai kepala Kiba.
"Jangan mengejekku seperti itu, Kiba! Dari pada kau? Baumu mirip anjing, pantas saja Hinata-chan menolakmu!" sembur Naruto mulai emosi.
"Err..." Kiba tak bisa berkutik.
"Pergi sana! Jangan ganggu aku!" Naruto mengibas-ngibaskan tangannya. Kiba hanya bisa pergi dengan wajah cemberut.
"Aah~ aku kan tadi salah bicara, maksudku kau terlalu menyiksa dirimu Naruto—ah bukan kau terlalu menyiksa otakmu yang terbatas itu," gerutu Kiba berbicara sendiri.
Naruto menghela nafas, tidak ada gunanya ia mengerjakan soal-soal yang tertera di buku tulisnya. Ia tak mengerti. Benar-benar tak mengerti! Ah—salah—ia tak mengerti karena otaknya tak henti-hentinya memikirkan sang bocah raven. Dua hari yang lalu, ia dan Sasuke bertengkar. Dan sampai sekarang ia tak berani berbicara pada Sasuke. Bukannya Naruto takut, mau di taruh di mana harga dirinya jika Naruto takut kepada Sasuke? Bukan itu...Naruto tidak ingin menjadi pengecut. Inilah keputusan Naruto, tak akan pernah mengganggu kehidupan bocah Uchiha meskipun sebenarnya ia sangat menyukai bocah raven itu. Naruto benar-benar menyukai Sasuke. Dan apa yang akan kau rasakan jika orang yang sangat kau sukai harus kau hindari dan kau jauhi? Apalagi jika orang itu bersikap dingin padamu? Sudahlah, tak perlu berbohong. Jawabannya mudah...Naruto merindukan Sasuke.
"Teme..." gumam Naruto merebahkan kepalanya di atas mejanya. Wajah bocah pirang itu terlihat ingin menangis.
Dan sepasang mata hitam kelam melihat keadaan itu.
.
.
.
"Ternyata di atas sini menyejukkan, pantas saja bocah Uchiha di hadapanku ini terlihat begitu betah."
Atap sekolah memang tempat yang cocok untuk bersantai. Baru saja Sasuke ingin memejamkan matanya. Suara pria paruh baya itu membuatnya harus membuka matanya kembali.
"Kakashi-Sensei?" Sasuke reflek bangun dari tidurnya.
'Mau apa Sensei mesum ini kemari? Ah, mungkin dia mau menghukumku karena aku lalai dari tanggung jawabku sebagai guru privat' batin Sasuke
Guru bermasker itu duduk di samping Sasuke.
"Sepertinya ada yang tidak beres antara kau dengan Naruto." kata Kakashi menghela nafas.
"Kau boleh menghukumku Sensei. Aku ini tak pantas menjadi pembimbing yang baik." ucap Sasuke.
Meskipun terdengar datar, Kakashi menyadari nada yang di keluarkan oleh murid kesayangannya itu. Nada yang menyiratkan rasa bersalah dan putus asa.
"Perasaanmu itu sama seperti Naruto." ucap Kakashi
Sasuke menaikkan satu alisnya, "Maksud Sensei?"
Kakashi hanya tersenyum di balik maskernya—tak menjawab pertanyaan Sasuke.
Kakashi mendongak ke atas, melihat langit. "Langit itu biru, tapi tak seindah mata biru Naruto."
Sasuke sedikit terkejut dengan perkataan Kakashi barusan. Seakan gurunya itu sedang berpikir macam-macam tentang Naruto. Dan entah kenapa hal itu membuat perasaannya mulai...panas.
"Ya kan Sasuke?"
Damn! Sasuke benar-benar ingin meninju wajah guru bermasker di sampingnya itu.
"Menurutmu...Naruto itu bagaimana?"
Pertanyaan itu membuat emosi Sasuke tertahan.
"Sejak kapan kau mengenalnya?"
Lagi-lagi pertanyaan itu membuat Sasuke menaikkan satu alisnya.
"Kapan kau bertemu dengannya?"
Pertanyaan terakhir membuat Sasuke tertegun.
So...Naruto itu bagaimana? Gampang kan? Naruto itu berisik, hiperaktif, tak mau mengalah, dan seenaknya saja.
Sejak kapan mengenalnya? Tentu saja saat pertama kali aku duduk di bangku kelas 5 SD—ya, saat ini.
Kapan pertama kali bertemu? Tentu saja baru-baru ini! Di kelas 5 SD kan? Saat Naruto berkata 'hai' dan menjabat tanganku penuh antusias.
Itulah jawaban dari batin Sasuke. Tapi...
"Naruto...dia ceria, penuh kejutan, meskipun ceroboh tapi hanya dia yang mampu membuatku merasa menjadi Sasuke apa adanya."
"Aku baru mengenalnya. Tapi aku seperti mengenalnya begitu lama."
"Tentu saja pertemuan pertamaku dengannya terjadi saat aku baru menjadi murid kelas 5 SD. Aku baru kali ini sekelas dengannya."
Itulah jawaban yang keluar dari mulut Sasuke—atau mungkin dari hatinya.
"Mungkin ini aneh...karena saat itu aku begitu dekat dengan Naruto." ucap Sasuke sambil membayangkan dirinya bersama Naruto di pantai Konoha.
Naruto yang ngambek karena dirinya...
Naruto yang belajar berenang bersamanya...
Naruto yang tersenyum padanya...
Naruto yang membalas gandengan tangannya...
Naruto yang...menyatakan perasaannya.
Sasuke tertegun.
"Ah, sepertinya aku ada keperluan. Maaf Sasuke sudah mengikutimu kemari." Kakashi langsung pergi meninggalkan Sasuke.
Damn!
Gara-gara guru bermasker itu, Sasuke tak sengaja malah curhat!
'Damn! KUSO!' Sasuke membatin
Sudahlah...tak perlu ada kebohongan lagi.
Sasuke juga merindukan Naruto.
.
.
TBC
Akhirnya Chapter 3 selesai juga! XD
Tapi Sorry masih bersambung ^^v
Nanti di Chapter 4 Semua bakalan terbongkar! Dari Sasuke yang lupa kenangannya, tentang perasaan Naruto, dan juga tentang mainan Naruto yang—agag aneh—untuk ukuran anak laki-laki. Ah, mungkin di Chapter 4 SasuNaru bakal baikan lagi :D
So...tunggu Chap selanjutnya ya! Maaf kalau nunggunya lamaaaa banget ampe belumutan~ coz aku emang Author lelet yang suka sibuk ke sana-kemari XD *di timpuk readers*
Oh iya, jangan lupa baca fic oneshoot terbaruku, yang judulnya 'aku menyukaimu' di situ Sasuke sama Naruto masih Gennin *belum versi Shippuden*
Hehe, kalau Chapter 3 ini rada-rada gag nyambung coz si Authornya ini emang rada-rada err...ya begitulah~ XP
YOSH! Mohon kritik dan sarannya ya! FLAME JUGA BOLEH! Terserah deh, yang penting membangun, agar fic ini selesai dan sukses :D *horeee* #ke-PD-an
Ya sutralah kalau begitu!
PLEASE REVIEW! \(^^)/
