Kyahahaha…! Thanks buad review dan comment dari kalian ya! Senang rasanya tahu kalau ceritaku sudah membuat kalian senang. Chapter 3 updated now! Kali ini mereka udah sampai di Suna. Spoiler sedikit nih, aku sudah membuat original character. Namanya Kimouchi Masanobu dan dia akan muncul di chapter ini! So, enjoy and give me review ok? Have a happy time reading!
ARRIVING IN SUNA
Midnight, somewhere in the land of shinobi…
Angin malam yang dingin berhembus kencang. Menerpa segala yang ada di jalannya. Tupai kecil yang berani berdiri melawan angin malam pun akhirnya tunduk. Ia kedinginan dan kemudian kembali meringkuk di liangnya. Angin malam masih berhembus dengan kencang. Sampai akhirnya angin malam berhadapan dengan tubuh seseorang.
Orang tersebut berdiri dengan mantap di atap berbentuk setengah lingkaran. Bangunan itu tampak seperti kubah jika terlihat dari jauh. Angin malam tak menggentarkannya sedikitpun. Tubuhnya yang bisa dibilang sudah separuh baya, sudah pernah mengalami yang lebih parah dari ini. Wajahnya tertutup cadar yang tebal. Begitu pula seluruh tubuhnya yang tertutup kain yang tebal sekali. Memang angin malam tidak masalah, tapi sinar matahari di siang hari masih tetap membakar tubuhnya. Untuk itulah pakaian tebalnya berguna.
Orang tersebut mendecak kesal. Ia melihat ke bulan untuk ke sekian kalinya. Posisi bulan sudah mulai condong. Sebentar lagi akan pagi. Tapi kemana orang itu? Selalu saja terlambat!! Umpatnya kesal dalam hati. Kalau dalam beberapa saat lagi orang yang ditunggunya tak segera datang, dia akan angkat kaki dari tempat ini.
Tapi kemudian, ia mengurungkan niatnya. Sebuah pekikan dari langit menghentikan langkahnya. Ia mendongak, dan menemukan sumber suara tersebut. Seekor burung gagak dengan ukuran super besar terbang di atasnya. Berputar rendah dan akhirnya mendarat di depannya. Burung gagak tersebut mengedipkan matanya dan menelengkan kepalanya.
"Ck," kata orang tersebut. "Kau selalu terlambat, Karasuma."
Gagak tersebut membuka sayapnya lebar-lebar. Kemudian butiran-butiran uap air mengelilinginya, membuatnya bercahaya dengan bantuan bulan. Dan saat butiran-butiran tersebut lenyap, gagak tersebut telah berubah wujud menjadi seorang pemuda berbadan tegap. Ia tidak memakai cadar, namun ia mengenakan semacam penutup kepala yang membuat ia sedikit sulit dikenali…
"Maaf deh. Malam ini dingin sekali soalnya tahu."
Pria paruh baya mengangkat alisnya, "Apa hubungannya? Kalau buat alasan apa tidak bisa lebih nyambung?"
Karasuma hanya mengangkat bahunya. "Yah, sudahlah. Bukan untuk itu kan kita bertemu malam-malam begini? Kau mau laporanku atau tidak?" katanya acuh.
Pria paruh baya menghela nafas. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran shinobi muda di depannya ini. Sambil menggelengkan kepala dia berkata, "Lalu, bagaimana hasilnya?"
"Peringatan sudah disampaikan. Tinggal bagaimana para shinobi Konoha itu menanggapinya. Para ningyo-ku sudah melakukan tugasnya dengan baik. Kau yakin aku tak perlu membunuh mereka? Mereka bisa jadi masalah untuk kita…"
"Jangan, kita sudah diperingatkan untuk tidak menyentuh mereka. Belum saatnya kita menghabisi mereka. Kita ikuti rencana Ketua dulu untuk sementara. Lagipula, kau sendirian, dan mereka satu tim, bisa-bisa malah kau yang dihabisi," kata pria paruh baya sambil menatap Karasuma tajam.
"Huh, apa mereka mampu menandingi aku? Anak emas dari klan Karasuma? Alasan mengapa Ketua memilihku adalah karena aku tak terkalahkan. Tapi, perkataan Ketua adalah mutlak bagiku. Aku akan menurutinya sepenuh hati. Jadi, hanya segitu saja kan? Aku ingin segera bertemu dengan Ketua," kata Karasuma. Ada perasaan rindu dalam perkataannya.
"Yah, sudah. Kau bisa langsung bertemu Ketua dari sini. Pergilah."
Karasuma kemudian membuat suatu gerakan ditangannya. Dalam sekejap mata, ia sudah berubah menjadi gagak raksasa kembali dan melesat menuju suatu tempat yang ia rindukan. Pria paruh baya itu kembali sendirian. Ia kembali menatap bulan. Sebentar lagi, semuanya akan selesai. Rencana mereka akan terlaksana. Demi pemimpin baru yang mereka elu-elukan. Demi Ketua…
--
Hinata terkesima ketika mereka sampai di Sunagakure. Saat mereka baru sampai saja sudah disuguhi gerbang karang yang terlihat amat kokoh dan tak tergoyahkan. Dan tak hanya sampai disitu, pemukiman di dalam gerbang ternyata lebih mengesankan lagi. Bangunan-bangunan tinggi terbuat dari, sepertinya, tanah liat menjulang. Hinata merasa sangat kerdil di antara semua kebesaran itu.
"Hehe, kaget ya Hinata? Suna tidak buruk, kan?" Naruto berkata sambil nyengir. Hinata mengangguk tanpa henti-hentinya melihat-lihat sekeliling dengan tatapan takjub. Mereka bertiga sedang dalam perjalanan menuju kantor Kazekage. Kantor Gaara sangat mudah ditemukan. Bangunan di tengah kota, yang paling besar dan paling tinggi dengan sebuah lambang "kaze".
Disana, ternyata Temari, Kankurou, dan Gaara sudah menunggu. Sang Kazekage duduk di belakang meja kerjanya sementara kedua saudaranya mengapitnya. Hinata—dengan sangat mudah—menjadi gugup di dekat Gaara. Karena bagaimanapun juga, inilah pertama kalinya ia bertemu kembali dengan Gaara setelah ujian chuunin dan kali ini Gaara sudah menjadi Kazekage-sama, orang yang sangat penting. Hinata juga dengan mudah menyadari kalau kepala Kazekage terbalut dengan perban. Ia terluka lumayan parah.
"Oy! Gaara! Hisahiburida!" sambut Naruto semangat.
"…um," adalah balasan singkat dari Gaara. Ia memang sedari dulu tidak banyak bicara.
"Apa kau tidak akan menyapa kami??" Temari pura-pura kesal.
Naruto nyengir lebar dan kemudian tertawa sambil berkata, "Hehehe, hanya bercanda kok, Temari, Kankurou. Ogenkidesuka?"
"Genkidesu," balas Temari dan Kankurou bersamaan.
"Oy!" Kakashi-sensei menyapa ketiga anak padang pasir tersebut. Kankuro membalas dengan lambaian, Temari balas menyapa dan Gaara hanya mengangguk sopan.
"…" Gaara terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu. "… tidak ada," katanya.
"Eh? Apanya?" kata Temari sambil menoleh ke adiknya.
"Gadis berjidat lebar, berambut merah muda."
"Ooooh!! Sakura-chan ya maksudmu?" tanya Naruto. Gaara mengangguk pelan. "Dia sedang sial kali ini. Dia tidak mendapat misi untuk kali ini. Sekarang aku dan Kakashi-sensei ditemani Hinata. Eh, Hinata, ayo majuan sedikit, jangan merapat ke belakang gitu!" Naruto menarik lengan Hinata supaya Gaara bisa lebih jelas melihat. Semburat merah muncul di wajah Hinata. Entah mana yang membuatnya lebih merasa malu, ditarik oleh Naruto-kun—cinta lamanya—atau dihadapkan langsung kepada sang Kazekage.
"Uuumh… uum…" Hinata gugup dan gak tahu harus bicara apa sambil terus menatap ke lantai. Kebiasaan lamanya muncul kembali, memainkan jari-jarinya. Dan ia harus sekuat hati menahan keinginannya untuk menggigiti kuku jarinya. Gaara hanya menatapnya dan kemudian berkata, "Aku ingat kau. Ikut ujian chuunin juga kan waktu itu?"
Hinata mengangguk singkat.
"… biasa sajalah. Aku tidak seistimewa itu kok," kata Gaara. Hinata mendongak kaget. Ba-bagaimana Kazekage-sama bisa berkata seperti itu? Tepat sasaran sekali… Gaara kemudian tersenyum—sesuatu yang jarang sekali—dan kemudian berkata, "Senang bertemu denganmu, Hyuuga."
Tidak ada yang bergerak. Semua cukup kaget dengan sambutan Gaara yang seperti itu karena sebelumnya sang Kazekage muda ini tidak banyak bicara dengan tamu-tamunya. Yah, mungkin karena kali ini yang datang adalah Naruto, seorang yang pernah menyelamatkannya dulu? Tapi kenapa yang disapa malah gadis Hyuuga?
"Ehem," Kakashi-sensei memecah keheningan. "Jadi, bagaimana dengan misi kami di sini? Apa yang harus kami lakukan untuk membantu kalian?"
Gaara menoleh pada saudarinya. Temari mengangguk. "Baiklah, kurasa Hokage-sama sudah memberitahu bahwa kami sudah kemalingan sesuatu yang sangat berharga. Mutiara Matahari Sunagakure. Semua ini bermula dua hari yang lalu. Kami sedang mengadakan festival tahunan kami, Rebibaru no matsuri. Pada acara itu, Mutiara Matahari akan diarak menuju alun-alun kota oleh Kazekage dan kemudian akan diletakkan di atas monumen desa ini. Tepat pada saat Gaara akan meletakkan Mutiaranya, pencuri itu datang.
"Pencuri tersebut membawa lari Mutiaranya keluar perbatasan desa. Gaara, aku, Kankurou serta seorang shinobi yang lainnya mencoba mengejar. Namun ternyata pencuri itu tidak sendirian, aku dan Kankurou harus terpisah dengan Gaara dan melawan lima orang sekaligus. Sementara itu Gaara dan shinobi itu masih mengejar pencurinya. Namun tampaknya pencuri tersebut sangat kuat karena begitu aku dan Kankurou bisa menyusul, Gaara dan shinobi itu sudah terkapar pingsan. Sementara Mutiaranya hilang," Temari mengakhiri ceritanya.
"Eto…" Hinata mencoba bersuara. Semua kepala menoleh padanya. "S-sebenarnya, apa tujuan kalian mengadakan Rebibaru no bunka? Apa ada hubungannya dengan begitu pentingnya Mutiara Matahari bagi kalian?"
Temari tersenyum lebar, "Kamu pintar sekali, Hyuuga-san!"
"Mutiara tersebut," Gaara berbicara(kejutan!) "Adalah penyokong kehidupan Sunagakure."
"Ya, sebenarnya, daerah tempat Suna berdiri sekarang adalah pasir yang sangat rapuh dan mudah sekali untuk hancur. Dahulu, jangankan membangun desa seperti ini, menginjakan kaki saja, sudah akan terhisap ke dalam pasir yang rapuh ini. Tapi, hanya di sinilah terdapat sumber air satu-satunya," kata Kankurou.
"Lalu, bagaimana kalian bisa membangun Suna seperti sekarang ini?" Naruto bertanya, tidak habis pikir bagaimana bisa sebuah peradaban bisa berdiri di atas daerah yang amat rentan seperti ini.
"Mutiara Matahari itulah jawabannya. Dulu Kazekage-sama kami yang pertama menghimpun seluruh kekuatannya sehingga pasir di bawah kota bisa tertahan. Tepat sebelum ia meninggal, ia memindahkan kekuatan terakhirnya ke dalam Mutiara Matahari sehingga bahkan setelah ia pergi, Suna akan tetap berdiri kokoh. Namun, semakin lama, kekuatan Mutiara Matahari semakin melemah. Untuk itulah Rebibaru no matsuri di adakan. Setiap tahun, Kazekage akan menyalurkan sebagian kekuatannya untuk memperbaharui kekuatan Mutiara Matahari. " Kankurou mengakhiri.
"Namun, waktu itu Gaara belum sempat menjalankan ritualnya dan Mutiaranya sudah keburu dicuri. Dan semakin parah dengan hilangnya Mutiara tersebut, Suna semakin lama semakin terhisap oleh pasir yang mulai rapuh
Hinata, Naruto dan Kakashi-sensei saling melirik. Mereka akhirnya mengerti dengan apa yang dimaksud 'pasirnya tak akan bertahan lama' oleh penyerang mereka tempo hari.
"Lalu, sejauh ini apa saja yang sudah kalian lakukan untuk mencari Mutiara tersebut?" tanya Kakashi-sensei.
"Yah, sebenarnya untuk itulah kami meminta bantuan dari shinobi Konoha. Kami tahu bahwa ada satu klan di Konoha yang mempunyai kekuatan untuk melihat aliran energi baik dari manusia maupun makhluk hidup lain. Mutiara Matahari mempunyai suatu keunikan, setiap ia dibawa pergi dari tempatnya, Suna, ia akan meninggalkan jejak yang khas," Kata Temari.
"Aliran cakra," jawab Kakashi-sensei pelan.
"Jadi itulah mengapa kalian meminta bantuan dari Neji-nii-san? Karena dia berasal dari klan Hyuuga? Yang bisa menggunakan Byakugan dan dapat melihat aliran cakra??" tanya Hinata.
"Tidak tepat kalau dibilang hanya Neji saja yang kami mintai bantuan. Tepatnya kami meminta pada klan Hyuuga dan Konoha sendiri. Jadi, kami mohon kerja sama dari kalian semua," kata Temari.
"Nee, sebelumnya kalian bilang ada satu shinobi lain yang membantu dalam pengejaran terhadap Mutiara tersebut?? Kenapa dia tidak di masukkan ke dalam tim pencarian saja?" Tanya Naruto.
Temari dan Kankurou saling beradu pandang kemudian tertawa kecil.
"Haha, boleh juga idemu Naruto," kata Kankurou.
"Itu cukup masuk akal. Hihihi…" Temari terkikik.
"Hei! Apanya yang lucu sih?"
"Shinobi tersebut," kata Gaara, "Sudah otomatis masuk ke dalam tim ini. Karena dia adalah muridku."
"NANI?! Kau punya murid?!" Tiga ninja Konoha menjerit terkejut. Oke, sebenarnya gak mungkin Hinata ngejerit-jerit gitu, tapi tetap saja dia terkejut. Padahal umurnya sama, tapi sudah jadi Kazekage dan sekarang dia juga sudah punya murid pula!
"Masuklah, Masanobu," Kata Gaara.
Pintu ruangan terbuka dan seorang pemuda masuk. Ia tinggi dan tegap, sama seperti Naruto. Rambutnya berwarna hitam legam dan sedikit terlihat berantakan dan mencuat kemana-mana(mungkin karena angin gurun yang kencang). Matanya sendiri juga berwarna hitam dan bulat besar. Wajahnya mempunyai lesung pipit di sekitar daerah mulut yang membuatnya seakan selalu tersenyum. Dan Hinata, sedikit malu mengakuinya, menganggap orang ini cukup tampan. Ia memakai jubah panjang sampai ke lututnya yang berwarna senada dengan pasir di luar dan terlihat sedikit lusuh dan anehnya, dia tidak memakai alas kaki. Di telapak tangannya terlihat banyak bekas luka. Bekas dari latihan yang berat.
"Sensei memanggil?" katanya sopan.
"Ya, seperti yang kau lihat, kita telah kedatangan shinobi Konoha. Perkenalkan dirimu."
"Hajimemashite. Namaku Kimouchi Masanobu," Masanobu langsung membungkuk di hadapan Naruto dan yang lain. "Aku murid Gaara-sensei. Mohon bantuannya untuk mencari Mutiara Suna yang berharga."
"Aaah! Tidak usah terlalu formal begitu Masanobu-san!" Kata Kakashi-sensei.
"Benar! Aku jadi merasa pegal! Biasa sajalah. Berapa umurmu Masanobu?" tanya Naruto
Masanobu bangkit dan menjawab sopan, "15 tahun sama dengan kalian kukira?"
"Benar! Wah, wah, kupikir kita bisa jadi teman baik, Masanobu."
Masanobu hanya tersenyum.
"Yah, kurasa untuk sekarang hanya itu yang bisa kami katakan," kata Temari. "Kami akan bawa kalian ke monument kota, tempat Mutiara tersebut dicuri dan kalian bisa memulai pencarian. Tapi, kurasa kalian pasti lelah dari perjalanan jauh. Mau kuantar ke penginapan kalian?"
"ASYIK! TIDUR!!" Jerit Naruto. Hinata hanya tersenyum geli. Dasar Naruto-kun. Kalau tidak makan ramen, atau latihan pasti tidur.
"Ano, Temari-san, kurasa aku saja yang akan mengantar mereka. Merupakan suatu kehormatan sendiri bagiku," Kata Masanobu sambil membungkuk ke arah Temari. Temari mengangguk kepada murid adiknya tersebut.
"Mari, saya antarkan," kata Masanobu sambil membuka pintu keluar dan mempersilahkan ketiga ninja Konoha tersebut keluar. Naruto dan Hinata sudah berjalan keluar sementara Kakashi-sensei masih berdiri di tempatnya.
"Sensei?" Panggil Hinata. "Tidak ikut?"
"Kalian duluan saja. Aku masih mau menanyakan beberapa informasi," jawab Kakashi-sensei.
--
Hinata, Naruto dan Masanobu sedang berjalan di jalan utama Suna yang penuh sesak ketika Naruto tiba-tiba bertanya.
"Jadi, bagaimana tepatnya kamu bisa menjadi murid Gaara, Masanobu?"
"Awalnya Gaara-sensei menolak ketika aku mengajukan diri menjadi murid. Katanya dia tidak mau melakukan hal yang sia-sia dengan mengajarkan orang biasa cara mengendalikan pasir. Dia juga mengatakan bahwa dia bisa mengendalikan pasir karena dulu mempunyai Shukaku dalam tubuhnya, tidak seperti aku. Tapi setelah tahu kemampuanku yang sebenarnya, Gaara-sensei akhirnya menerimaku menjadi murid."
"Jadi, kau bisa mengendalikan pasir sekarang? Bahkan tanpa shukaku?" tanya Naruto takjub.
Masanobu tersenyum. "Ya, tapi aku bisa mengendalikan pasir semenjak aku lahir."
"Nani?!"
"Hai, aku berasal dari klan yang bisa mengendalikan pasir. Bahkan menurut sejarah yang kubaca, klanku adalah penduduk asli di padang pasir ini jauh sebelum Kazekage pertama datang. Sejak Kazekage pertama datang, beliau kemudian bersahabat dengan nenek moyang klan kami dan mendirikan Suna. Gaara-sensei kaget saat aku mengendalikan pasir dengan mudahnya di depan matanya. Setelah melihat kemampuanku itulah, ia mau menerimaku menjadi murid. Katanya, setidaknya aku tidak terlalu bodoh dalam mengendalikan pasir. Jadi, begitulah awalnya aku menjadi murid Gaara-sensei," Masanobu mengakhirinya dengan sebuah senyum sederhana.
"Eto, Masanobu-kun… kenapa kau tidak pakai alas kaki?" tanya Hinata.
Masanobu tertawa renyah. "Temari-san juga menanyakan hal yang sama ketika pertama kali ia berjumpa denganku. Sepertinya dimana-mana anak gadis itu sama ya? Yah, supaya aku bisa lebih menyatu dengan pasir yang ada di sini. Aku suka dengan sensasi ketika pasir menyentuh telapak kakiku. Dan berkat latihan keras yang diberikan klanku semenjak aku masih kecil, telapak kakiku menjadi ultra sensitif.
Aku bisa merasakan semua getaran yang ada di pasir lewat telapak kakiku. Lewat getaran itulah aku bisa mengetahui apa atau siapa yang bergerak dalam radius yang cukup luas selama kaki mereka masih menginjak tanah dan pasir."
Naruto dan Hinata hanya melihat teman baru mereka dengan takjub. Kekuatan yang dimiliki Masanobu sangatlah hebat. Dalam hati, mereka mensyukuri kenyataan bahwa Masanobu bukanlah musuh mereka.
Sisa perjalanan mereka dilewati dengan saling mengobrol satu sama lain. Sampai mereka menyadari sesuatu…
"Hinata?! Hinata hilang!" kata Naruto ketika menyadari bahwa teman Hyuuga-nya tidak ada di sampingnya.
"Nani? Adduh! Dia pasti terpisah dengan kita akibat keramaian ini. Pantas rasanya dia semakin diam saja. Ayo kembali lagi, kita cari dia!"
"OSH!"
--
"Apa kalian punya bayangan tentang pelaku pencurian ini?" Tanya Kakashi-sensei. "Akatsuki, mungkin?"
Gaara menggeleng. "Pakaian mereka tidak seperti Akatsuki. Dan caranya juga berbeda. Akatsuki biasanya akan terang-terangan dalam berbuat."
"Apa ada pihak yang dendam pada Suna?"
"Entahlah," giliran Temari yang menjawab. "Hubungan diplomatik kami dengan negara lain, baik negara kecil maupun besar, bisa dibilang baik-baik saja. Yang bisa kami perkirakan adalah orang dalam Suna yang ingin menjatuhkan Gaara dari posisi Kazekage dan menggantikannya."
"Temari-san dan Kankurou-san, bisa kalian jelaskan bagaimana kalian menghadapi lima orang teman pencuri tersebut?" tanya Kakashi-sensei lagi.
"Ah! Ya! Sebenarnya ada yang aneh dengan para penyerang tersebut. Ketika aku dan Temari sedang bertarung, mereka tidak pernah membalas serangan kami, yang mereka lakukan hanyalah menghindari serangan dan menghalang-halangi kami untuk pergi ke tempat Gaara dan Masanobu. Tak lama, kelima orang tersebut berubah menjadi pasir begitu saja," papar Kankurou.
"Apakah ada kertas mantra yang kalian lihat setelah mereka berubah menjadi pasir? Lima buah?" tebak Kakashi-sensei.
"Ya! Bagaimana kau tahu?" tanya Temari kaget.
"Karena kami juga diserang makhluk yang sama. Mereka adalah—"
"Ningyo. Jadi perkiraanku benar," kata Gaara memotong. "Kalian berdua tidak mau percaya padaku," kata Gaara dongkol sambil mendelik kesal kepada Temari dan Kankurou.
"Ah, ya, anda benar Kazekage-sama," Kakashi-sensei membenarkan. Temari dan Kankurou hanya nyengir kepada adiknya tersebut.
"Jadi, sepertinya ini perbuatan satu pihak tertentu yang menginginkan jatuhnya Gaara-sama sebagai Kazekage atau menginginkan kehancuran Suna," Kakashi-sensei menarik kesimpulan.
"Atau keduanya," kata Temari.
"Apapun alasannya," kata Gaara sambil bangkit dari duduknya. "Aku akan melindungi Suna biarpun harganya adalah nyawaku. Karena aku adalah Kazekage Sunagakure."
Temari, Kankurou dan Kakashi-sensei hanya memandang pemuda tersebut dengan penuh kekaguman. Sikap wibawanya menunjukan kualitas yang membuat ia pantas menjadi pemimpin Negara pasir ini.
--
Naruto panik. Ia kelabakan mencari Hinata. Begitu pula Masanobu. Bagaimana tidak? Ia sudah diberi kepercayaan untuk mengantarkan tamu gurunya sampai ke penginapan mereka. Kalau ada apa-apa pada shinobi Konoha, ia yang akan dipersalahkan.
Kedua pemuda tersebut celingukan mencari gadis dengan rambut panjang berwarna hitam, bermata putih.
Naruto melompat ke atas(tidak mungkin ia melompat ke atap bangunan, tidak akan sampai karena atap bangunan di Suna sangat tinggi) sekedar untuk mendapat pengelihatan yang lebih luas. Dan ketemu! Itu dia Hinata. Dikelilingi orang-orang. Wajah Hinata terlihat ketakutan.
Gawat, Hinata dikelilingi orang yang gak baik gelagatnya. Sebaiknya aku cepat ke sana.
Sementara Hinata sendiri juga sedang panik. Tadi ia terpisah dari Naruto dan Masanobu dan sekarang ia terjebak dengan sekumpulan lelaki sangar dan menggodanya.
"Wah, aku belum pernah melihatmu, nona muda. Kau bukan berasal dari sini ya?" kata seorang dari mereka. Yang paling besar dan kelihatannya pemimpin mereka.
"B-bukan, aku dari luar Suna," kata Hinata mencoba sopan. Matanya mencari bantuan dari orang sekitar. Tapi sepertinya banyak orang yang tidak melihatnya. Atau sengaja tidak memperhatikannya? Mereka lewat begitu saja dan membiarkan dirinya terkepung oleh preman-preman ini. Kalaupun mereka menangkap pandangan minta tolong dari Hinata, mereka langsung buru-buru pergi.
"Wah, mau makan bareng dengan kami? Aku yang akan bayar," si besar menawarkan kepada Hinata.
"T-tidak usah. Aku tidak lapar. Permisi, aku harus pergi," kata Hinata sambil berjalan pergi. Namun lengannya ditarik oleh pria besar tadi.
"Kau tidak akan kemana-mana, nona muda," katanya mengancam.
"Jangan buat aku melukaimu," kata Hinata sambil mengaktifkan Byakkugannya.
"Memangnya kau bisa apa, nona kecil?"
"Jyuuken!!" Hinata melayangkan pukulannya ke bagian bawah jantung pria tersebut. Hinata tidak mau membunuh orang. Pria tersebut terpental dan jatuh dengan bunyi berdebam yang sangat keras. Wah, keras juga ya pukulannya??
"K-kau, kau ninja, ya?" kata salah seorang dari preman tersebut. Hinata menunjukan ikat kepalanya dengan tanda Konoha yang dari tadi tersembunyi di balik kerah jaketnya.
"Huh, tapi bukan berarti kau bisa meremehkan kami. Serbu dia!"
Dalam sekejap, preman-preman tersebut menyergap Hinata. tapi itu bukan masalah bagi Hinata. Dia adalah pewaris dari klan Hyuuga, menghadapi preman kecil seperti ini bukanlah masalah baginya. Satu, dua, tiga, empat orang sudah dia buat rubuh dengan Jyuukennya. Namun, ketika ia tidak menyadarinya, datang satu jurus yang menyapu habis sisa orang-orang tersebut.
"RASENGAN!"
Seiring dengan teriakan tersebut, hembusan angin menghempaskan semua preman tersebut. Rupanya Naruto.
"Naruto-kun?" kata Hinata tak percaya. Sungguh lega ia bisa menemukan Naruto.
"Kau curang Hinata-chan! Masa berantem tidak ajak-ajak aku sih?" canda Naruto. Hinata mau tak mau tertawa kecil. "Kau tidak apa-apa, kan Hinata-chan? Mereka tidak melakukan apapun kepadamu kan?"
Hinata mengangguk. "Aku baik-baik saja kok Naruto-kun."
"Orang Konoha ya rupanya kalian," kata si pria besar yang sudah bangkit kembali. "Sombong sekali kalian. Kalau Kazekage-sama tahu kalau kalian bikin ulah—"
Ucapan pria tersebut terpotong karena mulutnya sudah dibekap oleh pasir yang tiba-tiba melesat dan menutup mulutnya. Naruto dan Hinata menoleh ke belakang. Rupanya Masanobu. Tangannya teracung ke arah pria besar tersebut. Dialah yang melempar pasir tersebut.
"Beraninya kalian memfitnah tamu Kazekage-sama. Dasar parasit!" katanya marah.
Kawanan preman yang tidak terima pimpinannya dibekap oleh pasir langsung menyerbu Masanobu. Tapi percuma saja, karena kubah pasir telah melindungi Masanobu. Para preman tersebut terpental ke mana-mana. Ketika Masanobu membuka pelindung pasirnya, ada satu orang yang masih bandel dan mencoba menyerang Masnobu lagi. Masanobu mengangkat tangannya ke udara dan pasir di bawah kakinya langsung terangkat dan mencekik penyerangnya yang bandel itu. Masanobu mengangkat tangannya lebih tinggi dan pasir tersebut mengangkat preman itu sampai kakinya menggantung di udara. Ia terlihat kehabisan nafas.
"Jangan paksa aku untuk meremukkan leher kalian. Pergi dari sini dan akan kuampuni kalian. Jika kalian masih mengganggu tamu kehormatan Kazekage, aku tidak segan membunuh kalian. Sekarang enyah dari sini!" Masanobu membanting orang tersebut ke tanah. Ia dan sisa kawanan preman termasuk si pimpinan langsung kabur. Tak ada kemungkinan bagi mereka untuk menandingi Hinata, Naruto dan Masanobu.
"Maaf, ya. Kadang Suna bisa menjadi sangat keras dan jahat seperti tadi," Masanobu meminta maaf sambil membungkuk.
"Tidak apa, Masanobu-kun," Kata Hinata.
"Ya, benar. Tidak apa-apa. Lagipula berkat itu aku jadi bisa lihat kemampuanmu. Kau sehebat Gaara! Dan tadi kau mau menggunakan Sabaku Sou Sou ya? Apa tidak berlebihan?" kata Naruto.
"Oh, aku hanya gertak saja. Supaya mereka tidak mendekati kalian lagi. Tapi kurasa kemampuanku masih di bawah Gaara-sensei. Ayo, kita ke penginapan. Kali ini, jangan sampai terpisah lagi, ya" Masanobu menggoda Hinata.
Wajah Hinata langsung jadi merah. Melihat itu, baik Naruto dan Masanobu langsung tertawa geli.
--
Headquarter, Later that night…
"Jadi," kata sesorang dengan suara yang berat, berwibawa dan sedikit menakutkan. "Kau sudah mengintai para shinobi Konoha kan, Karasuma?" Ia berbicara sambil duduk dengan nyaman di singgahsananya sambil melihat ke seorang pemuda yang sekarang berlutut di hadapannya.
"Ya, Ketua," Jawab Karasuma sambil tetap menundukan kepalanya. Ruangan tempat ia dan 'ketua'nya berbicara tidak terlalu terang. Hanya diterangi beberapa lilin saja.
"Dan kau sudah mengirim peringatannya, kan?" tanya Ketua lagi.
"Sudah, Ketua," Jawab Karasuma lagi. Sungguh ingin rasanya ia melihat wajah Ketua. Wajah yang sudah dua minggu ini tidak ia jumpai. Wajah yang ia rindukan. Wajah yang menyelamatkannya.
Ketua bangkit dari tempatnya dan berjalan ke Karasuma. Ia mengelus kepala pemuda tersebut.
"Kau sudah bekerja dengan baik, Karasuma. Yang perlu kau lakukan hanya bersabar sedikit lagi. Dengan Mutiara Matahari di tangan kita, kita akan segera membangun Suna yang lebih baik. Seperti dulu, ketika nenek moyang kita masih menguasai padang pasir ini. Kita akan berkuasa di seluruh padang pasir ini!"
Karasuma hanya diam untuk sesaat. Kemudian ia mengangguk. "Ya, benar. Itu benar, Ketua," katanya pelan. Pemerintahan yang lebih baik. Yang tidak akan mengabaikanku. Pemerintahan yang akan mengembalikan status bangsawanku. Kazekage dan Sunagakure harus membayar mahal akan apa yang mereka lakukan terhadap aku dan klan-ku!
Yay! Akhirnya Kiss bisa memberikan chapter 3 kepada kalian semua. Maaf ya lama, karena ada masalah dengan ujian kenaikan kelas juga acara kenaikan kelas. By the way, akhir-akhir ini Kiss baca fanfic bhs inggris, dan di situ, Naruto memanggil Sasuke dengan akhiran –teme. Ada yang tahu itu artinya apa??
Tadinya, Kiss mau bikin Masanobu dengan imej seperti Toph. Tau kan? Gadis buta yang menjadi gurunya Aang dalam Earth bender di kartun Avatar. Tapi batal. Masanobu gak Kiss bikin buta. Hanya kakinya yang tidak pakai alas saja yang sama dengan Toph.
Okeh, jadi, jangan lupa review ya!!
