Sebelumnya, maaf karena aku membuat AN sebelum cerita berlangsung. Tapi ini sangat penting.
Terimakasih pada salah satu anonym reviewer yang menyadarkanku. Bahwa :
Aku lupa menulis cerita ini terinspirasi dari manaa!
Dan bodohnya, setelah aku mempublish chapter satu, aku tidak pernah mengecek tulisanku yang telah kupublish! Bahkan setelah aku mempublish chap duaa! Dx kalau saja aku cepat sadar, pasti aku akan tulis ini di chapter dua Dx
Jadi aku menulisnya sebelum chap tiga, agar pembaca tahu ini terinspirasi dari mana sebelum membaca endingnya. Nah, tebakan anonym reviewer itu benar. Ini terinspirasi dari salah satu episode di 'Oh ternyata'. Aku gak ngambil semua cuplikan '-' tapi tetep aja aku mengambil beberapa adegan. Ini murni kesalahan Author. Dan aku juga akan nulis 'inspirated by oh ternyata' di summary. Agar nantinya pembaca tahu asal-usulnya terlebih dahulu sebelum lanjut membaca. Oke, sekali lagi gomeeeennnn aku minta maaf bangeeettt ah, dan juga… silahkan menikmati chapter terakhir )
.
The Spinning World
.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
.
Pair : SasuxSaku
.
Warn : Ooc, bad diction, typo (s), read summary first then if you don't like don't read!
.
Enjoy~
.
.
.
Aku terus berlari tanpa arah. Shit! Aku baru ingat sekarang, aku tak tahu alamat Sasuke di mana! Aku terus menggerutu dalam hati seraya tetap berlari. Aku mengatur nafasku, tenang Sakura … aku pasti dapat menemukan rumah Sasuke. Tidak ada yang tak tahu di mana keluarga Uchiha tinggal –kecuali aku tentunya-.
Kepalaku kugoyangkan ke kiri dan ke kanan, mencari orang yang dapat membantuku untuk menemukan di mana alamat Sasuke. Entah mungkin karena takdir lagi-lagi jahat padaku, tak ada orang di sekitar tempatku berlari ini. Jalanan sangat sepi, entah ke mana orang-orang. Kurasakan betisku mulai kaku karena telah berlari cukup jauh, aku baru menyesal tak pernah berolahraga selama ini. Aku beristirahat sejenak, kuatur nafasku sedemikian rupa dan kemudian kembali berlari. Demi tuhan...! Ke mana semua orang? Kenapa tak ada satupun yang dapat kutemui di sini? Siapa … yang dapat membantuku sekarang?
Sejenak, aku dapat melihat bayangan wajah Sasuke. Langkah kakiku terhenti kala mengingatnya. Sasuke … dia telah membantuku. Penyesalan lagi-lagi kurasakan dari dalam lubuk hatiku. Aku sangat ingin meminta maaf padanya beribu-ribu kali. Aku sangat ingin memandang wajah Sasuke sekarang!
"Sa…" Aku berlirih pelan, bulir-bulir air mata lagi-lagi menghiasi mata emerald-ku. "-Sasukeeeeee!" Aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku tak peduli jika teriakanku membangunkan orang-orang yang telah tidur di sekitarku, aku tak peduli jika aku dianggap sebagai wanita gila, aku tak peduli jika-
"Berisik." Eh? Aku menengadahkan kepalaku saat mendengar sebuah suara familiar yang amat kurindukan. Emerald-ku dapat melihat seorang pemuda dengan t-shirt berwarna biru dongker yang diselimuti jaket hitam dan rambut raven yang tampak seperti pantat ayam, bebek, angsa, dan segala macam unggas lainnya (?).
"S-Sasuke?" Aku tercenggang kaget. Apakah ini mimpi? Sasuke di depanku … apakah hanya khayalanku saja? Apakah-
"Ternyata kau benar-benar wanita aneh." Suara baritone Sasuke menyadarkanku bahwa wujud yang kulihat di depanku ini nyata, bukan khayalan. Tanpa aba-aba, aku langsung mendekap tubuhnya. Aku dapat merasakan ia sedikit tersentak, namun aku tak peduli. Aku semakin mengeratkan dekapanku, menyesap aroma maskulin yang menguar dari dalam tubuh Sasuke.
"Maaf … maafkan aku…" lirihku pelan. Sasuke masih terdiam ; tak menunjukkan gerak-gerik apapun selain bernafas –tentu saja. "Mungkin … aku menyinggungmu tadi siang. Ternyata aku belum berubah, aku masih saja memperhitungkan segalanya dengan uang. Maafkan aku, Sasuke…" Sasuke masih tak bergeming, membuatku sedikit takut. Apa ia tak ingin memaafkanku?
"Bukan manusia jika tak melakukan sebuah kesalahan."
"Eh?" Aku mendongakkan kepalaku dan melihat Sasuke tersenyum tipis. Bebanku seketika runtuh, kelegaan memenuhi rongga hatiku saat ini.
"Ibuku memanggilmu," katanya pelan. Aku mengernyitkan alisku. Ibu Sasuke?
"Ibumu? Untuk … apa?" Sasuke mengedikkan bahunya.
"Saat kukatan bahwa aku mengenal seorang gadis aneh yang berasal dari keluarga Haruno, ia langsung memintaku memanggilmu. Karena itulah aku ada di sini." Aku menundukkan kepalaku, entah mengapa aku merasa kecewa dengan alasan ia berada di sini.
"Jadi kau ada di sini hanya karena permintaan ibumu?" lirihku. Sasuke terdiam sejenak, kemudian menjawab.
"Tidak." Aku mendongak sembari memasang wajah heran. Sasuke memandangku dalam kemudian melanjutkan, "tanpa permintaan ibuku pun, aku tetap akan ke sini." Tanpa sadar, aku tersenyum puas. Kelegaan luar biasa kurasakan dari dalam hatiku.
"Kenapa? Kau tak marah padaku?" Aku bertanya takut-takut. Sasuke mengalihkan pandangannya ke depan tanpa berbicara sepatah katapun, membuatku menunduk. Kami berjalan dalam diam di jalanan yang sepi ini.
~~~0~~~
"Okaeri, Tuan Sasuke…" Aku dapat melihat para maid membungkuk pada Sasuke. Aku tercenggang melihat jumlah maid-nya, apalagi rumah Sasuke yang tergolong seperti istana. Ehm, kuakui bahwa rumahku juga besar, tapi tidak sebesar dan semewah ini. Ternyata dulu aku memandang remeh keluarga Uchiha tanpa mengetahui kekayaan mereka yang sebenarnya. Entah kenapa aku merasa malu pada diriku sendiri yang membangga-banggakan diri tanpa mengetahui bahwa ada orang yang lebih daripada aku.
"Sakura?" Aku tersentak saat Sasuke memanggilku, dia telah berjalan jauh di depan. Aku segera berlari dan berjalan beriringan dengannya. Kami memasuki sebuah ruangan yang besar, dapat kutebak bahwa ini adalah ruang tamu. Terlihat seorang wanita cantik dan seorang pria duduk di sebuah sofa yang berada di ruangan itu. Jadi … dia ibu dan ayah Sasuke? Ibu Sasuke tampak tersenyum padaku, aku membalas senyumannya dengan senyuman canggung. Sasuke menduduki sofa, aku pun ikut duduk manis di sampingnya.
"Jadi, kau Sakura?" Aku mengangguk pelan. Ibu Sasuke semakin melebarkan senyum jelitanya dan menggenggam tanganku. "Kau tak ingat padaku? Aku bibi Mikoto…" Ia berkata dengan lembut. Bibi Mikoto? Sepertinya aku merasa familiar dengan namanya. Tapi seberapa keraspun aku mengingat, aku tak dapat melihat ibu Sasuke dalam memoriku.
"Jadi kau sudah lupa … haha, wajar saja, saat itu kau masih kecil." Ibu Sasuke melepaskan genggaman tangannya. Ibu Sasuke benar-benar seseorang yang 'hangat', tidak seperti Sasuke dan ayah Sasuke yang sedari tadi diam. "Baiklah, karena kau telah lupa, aku akan memperkenalkan diriku sekali lagi. Aku Uchiha Mikoto, dan ini suamiku, Uchiha Fugaku." Aku bermangut ria.
"Haruno Sakura." Aku tersenyum tulus, sebenarnya tak ada gunanya memperkenalkan diri, tapi sepertinya tak sopan jika tak membalas ucapannya dan hanya merespon dengan anggukan. Aku dapat melihat ibu Sasuke tersenyum sendu sejenak dan menatapku kasihan, kemudian wanita itu tersenyum. Aku tahu senyum itu ialah senyum yang dipaksakan. Mungkin ibu Sasuke merasa kasihan padaku. Tak tahu kah anda, wahai ibu Sasuke, bahwa aku adalah wanita jahat yang selalu menjahili Sasuke dulu?
"Aku turut berduka. Aku telah mendengar kabar tentang keluargamu yang dibantai…" Aku perlahan menunduk, mencoba untuk tetap tegar. Aku tak boleh terlihat lemah di depan ayah dan ibu Sasuke. Aku tak boleh terlihat lemah lagi di depan orang-orang! "Sebaiknya kau berhati-hati, Sakura-chan…" Ibu Sasuke menampilkan raut wajah serius, aku mengernyit heran. Berhati-hati? Untuk apa?
"Bisa saja pembantai itu turut mengincarmu." Ibu Sakura memandang Sakura dengan raut wajah khawatir seraya menggenggam punggung tangan Sakura. "Polisi belum menemukan orang itu, aku mohon kau berhati-hatilah…" Aku tertegun sejenak, ibu Sasuke benar-benar orang yang baik. Tanpa sadar, aku tersenyum lemah kemudian mengangguk.
"Hum!" gumamku dengan anggukan.
"Ah, baiklah. Sakura, silahkan masuk. Makan malam telah siap," perintah Fugaku ramah, walau tak menunjukkan senyumnya sedikitpun. Aku berdiri pelan dan melangkah menuju dapur rumah Sasuke. Sasuke mendorongku dari belakang, kubalikkan kepalaku padanya ; hendak mengajukan protes, namun niatku untuk protes terhenti saat aku melihat senyum Uchiha Mikoto yang berbeda dari senyumnya yang lain. Seperti senyum … bersalah?
.
.
.
"Tadaima!"
"Ah, okaeri, Itachi-kun…" Aku tercenggang saat melihat seorang pemuda berjas hitam memasuki ruangan dengan menjijing sebuah koper. Wajahku memanas saat menatapnya, pemuda itu sangat tampan! Siapa dia? Kakak Sasuke kah?
"Siapa dia?" tanya pemuda itu sambil melirikku.
"Dia Haruno Sakura. Sakura, perkenalkan, ini Itachi, kakak Sasuke." Tuh kan! Tebakanku benar! Hohoho…
"Haruno? Huh!" Eh? Aku tertegun saat kakak Sasuke memalingkan wajahnya. D-dia dingin sekali! Seketika, kakak Sasuke itu kembali memalingkan wajah ke arahku dan memandangku penuh arti seraya berkata, "aku yakin setelah mendengar semuanya, kau tak akan ke sini lagi, Haruno." …hah? Apa maksud ucapannya?
"Itachi!" Kulihat ibu Sasuke menegur kakak Sasuke dengan pandangan tajam namun gelisah. Ada apa ini? Tiba-tiba suasana menjadi kaku. Entah mengapa, aku merasa keberadaanku di sini adalah sebuah kesalahan.
"Kau belum tahu, heh? Uchiha telah berbuat jahat pada keluargamu!" Mataku membulat saat mendengar perkataan kakak Sasuke. Jahat? Bukankah Uchiha malah berbuat baik padaku-terutama Sasuke? "Kau berpikir Uchiha baik padamu, heh? Itu hanya topeng untuk menutupi kesalahannya!"
"Itachi! Cukup!" Kali ini, ayah Sasuke-lah yang bertindak. Aku melihat ayah Sasuke berdiri dan menghampiri Itachi. Aku terlonjak kaget saat ayah Sasuke menonjok wajah putra sulungnya. Sebenarnya ada apa ini?! Aku melihat ibu Sasuke yang memandangku khawatir dan gelisah. Demi apaaah! Apa yang terjadiiiii?!
"Apa aku salah? Apa perkataanku salah?!" Kakak Sasuke nampak tak terima saat wajahnya ditonjok. Aku berbalik ke arah Sasuke, aku harap ia dapat menghentikan semua ini. Namun Sasuke sama saja dengan ibunya, hanya saja ia memalingkan wajahnya. Aku tak dapat melihat matanya yang tertutupi oleh poninya, namun aku dapat melihat ia menggeretakkan giginya.
"CUKUUUP!" Aku berteriak kencang. Kesabaranku telah habis. Aku dapat melihat semuanya menatapku dengan pandangan terkejut. Namun aku tak peduli! "Aku butuh penjelasan!" tegasku. Aku memandang mereka dengan tatapan serius, sehingga ibu Sasuke menunduk kemudian mempersilahkanku untuk kembali duduk di sofa. Sedangkan kakak Sasuke mendecih pelan kemudian melangkah keluar dari ruangan ini. Sasuke juga ikut duduk di sampingku, ia sedari tadi diam tanpa kata, namun tatapanku lebih kufokuskan pada ibu dan ayah Sasuke yang menatapku serius.
"Kau … benar-benar ingin tahu, Sakura?" Aku mengangguk. Ibu Sasuke menghela nafas kemudian tersenyum lemah. "Baiklah, akan kuceritakan semuanya…"
"Aku, ibumu, ayahmu, dan ayah Sasuke adalah teman yang sangat akrab. Kami sering bersama mulai dari kami kecil, hingga tumbuh menjadi seorang anak remaja. Kami bahkan mempunyai cita-cita yang sama ; yaitu menjadi seorang direktur di suatu perusahaan yang kami rintis sendiri. Tapi…" Ibu Sasuke menunduk pelan, kemudian kembali bercerita, "kami tak tahu bahwa cita-cita itulah yang akan merusak persahabatan yang kami bangun. Saat kami menginjak masa-masa remaja, kami mulai berpasang-pasangan. Aku dan ayah Sasuke, serta ibumu dan ayahmu. Hubungan kami saat itu semakin renggang saat kami mulai berpasangan, tapi lama-kelamaan, kami mulai menyadari kerenggangan tersebut dan mencoba untuk kembali menyatukan diri…"
"…Saat kau dan Sasuke lahir, kami saling meminta maaf atas kerenggangan yang kami buat. Dan berniat untuk menjodohkanmu dengan Sasuke kelak…" Heeeeh?! Aku dan Sasukeee?! Dijodohkaaan?! "Namun saat kami mulai merintis bisnis masing-masing, kami kembali memisahkan diri. Bertahun-tahun berlalu, kami tak saling berkomunikasi. Sampai kami sadar bahwa ternyata perusahaan kami dan perusahaan ayah dan ibumu bersaing untuk menduduki perusahaan nomor satu di Jepang. Kami kaget, tentu saja. Saat kami berempat bertemu, rasanya seperti orang asing. Aku sadar, bahwa tak ada lagi persahabatan di antara kita…" Ibu Sasuke mengambil nafas sejenak. "Saat berbincang-bincang dengan mereka mengenai bisnis, pasti ujung-ujungnya selalu diakhiri dengan pertengkaran dan perdebatan. Tak ada yang mau mengalah di antara kami, dan saat itu pula, kami secara sah memutuskan persahabatan di antara kami."
"Beberapa minggu kemudian, aku mendengar kabar bahwa perusaahn Uchiha berhasil menduduki perusahaan nomor satu di Jepang. Kami senang, namun saat itu juga tersebar gosip bahwa keluarga Haruno merencanakan sesuatu yang licik untuk kami. Sejak gosip itu beredar, kami mulai diteror. Seperti Itachi yang tiba-tiba dikeroyok, surat ancaman, dan sebagainya."
"Tidak mungkin! Ayah tak seperti itu!" elakku. Aku tak dapat membayangkan sosok ayah yang selama ini menyayangiku dan mengajariku berbagai hal dalam bersikap baik seperti itu pada mantan sahabatnya. Sesak kurasakan pada dadaku, entah mengapa aku merasa kecewa pada beliau.
"Aksi teror itu berlangsung selama bertahun-tahun, Sakura … sehingga aku dan ayah Sasuke menyewa seseorang untuk menyelidiki keluarga Haruno." Aku menggeleng tak percaya. Tidak mungkin! Ayahku mana mungkin tega berbuat seperti itu! "Namun, setelah diselidiki, ternyata aksi teror tersebut bukan dari keluarga Haruno-tentu saja aku semakin kaget mendengarnya. Oleh karena itu, aku mengirim seseorang untuk meminta maaf, namun ternyata…" Air mata ibu Sasuke jatuh, membuatku mengerutkan alisku. "…orang yang kukirim adalah seorang pencuri. Keesokan harinya, aku mendengar kabar bahwa keluarga Haruno dibantai habis-habisan. Namun polisi tak menemukan mayat anak gadis keluarga Haruno. Sehingga aku menyuruh Sasuke untuk mencarimu dan merawatmu."
"Aku … sangat senang saat Sasuke memberitahuku bahwa kau sehat-sehat saja, aku sangat menyesal … kami sangat bersalah padamu, Sakura. Aku sangat menyesal … karena kami, karena kami … keluarga Haruno…" Ibu Sasuke tak sanggup lagi berkata-kata, ia terisak di bahu ayah Sasuke. Aku mengepalkan tanganku, jadi karena keluarga ini … karena dia…
"Maafkan kami, Sakura … kami akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahan kami…" Aku menggeretakkan gigiku, amarah kurasakan dari dalam diriku. Aku menoleh pada Sasuke yang kini menunduk, Sasuke…
"Aku mengerti," ucapku berusaha tenang. Ibu Sasuke dan ayah Sasuke menatapku heran. "Ini … bukan salah paman, ini karma bagiku." Aku berusaha tersenyum. "Aku yang dulu, selalu saja menindas seseorang yang lebih rendah dariku. Aku … bahkan lebih jahat daripada kalian. Namun, karena peristiwa ini, aku mempelajari banyak hal." Ibu Sasuke menatapku tak percaya, kemudian beliau menangis haru. "Tenang saja, paman, bibi. Aku tak akan marah pada kalian. Seharusnya kalianlah yang marah padaku, karena aku selalu saja menindas Sasuke…" Aku mencoba menyeringai. "Dengan ini … kita impas."
.
.
.
Syuuuu!
"Aku tak menyangka kau setegar itu." Aku tersenyum seraya menatap Sasuke. Aku tak menggubris ucapannya dan lebih memilih untuk mengelus-elus kedua lenganku. Angin berhembus kencang, saat ini aku dan Sasuke berada pada balkon lantai dua kediaman Uchiha. Aku dapat melihat taman rumah Sasuke dari sini. Taman tersebut indah karena telah dihiasi lampu-lampu taman dengan berbagai warna cerah.
"Tapi sungguh, aku minta maaf padamu, Sakura…" Aku tersenyum renyah.
"Untuk apa kau meminta maaf, Sasuke?" Sasuke tersenyum tipis.
"Aku yakin ayah dan ibumu bangga padamu." Sasuke mengacak rambutku pelan, membuat wajahku merona. Namun ketika teringat ayah dan ibuku, membuatku kembali menunduk sedih. Ayah dan ibu … andai saja mereka masih hidup, apakah mereka akan benar-benar bangga padaku? Kenapa aku tak berpikir untuk melakukan hal baik ketika mereka masih hidup?
Aku mengelap air mataku yang kembali jatuh. Aku benar-benar menyedihkan di depan Sasuke. Aku tak dapat menyembunyikan perasaanku di depannya. "Sasuke…" Aku berlirih pelan. Mungkin karena ia mengetahui situasi dan kondisiku saat ini, ia menarikku ke dekapan hangatnya. Aku kembali menangis di dada bidangnya. Aku benar-benar menyedihkan!
"Ayah … ibu … hiks, aku rindu mereka..." Sasuke mengelus lembut kepalaku demi menenangkanku. Tapi sayangnya aku terlalu merindukan sosok mereka, sosok ayah dan ibu yang sangat kusayang. "Aku akan melakukan apa saja untuk bertemu mereka! Aku ingin bersama mereka lagi!" amukku. Sasuke semakin mengeratkan pelukannya.
"Ssst…" bisiknya pelan. Karena bisikannya, aku kembali tenang, namun air mataku belum berhenti. "Sakura…" Ia melepas pelukannya dan menatapku dalam. "Kau ingin bertemu mereka?"
Tanpa perlu pikir panjang lagi, aku mengangguk lemah. Tentu saja aku ingin bertemu mereka lagi! Sasuke tersenyum tipis dan menarik tanganku dengan lembut menuju pagar balkon. Heeh?! Apa ini?! Apakah Sasuke ingin menyuruhku lompat dari lantai dua dan bertemu orang tuaku di surga sana?!
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Coba lihat ke bawah, dan temukan keajaibanmu." Aku menatapnya ragu namun kemudian menundukkan kepalaku ke bawah. Mata emerald-ku terbelalak lebar saat melihat ayah dan ibuku melambaikan tangannya dari taman. Heeh?! Aku mengucek mataku, tak percaya dengan semua ini. Apakah mereka hanya khayalanku saja?! Atau … mereka…
"Sakuraaa!" Kutepis segala keraguanku tentang khayalan. Mereka nyata! Suara mereka nyata! Apa-apaan ini?! Kenapa mereka ada di sini?! Tanpa pikir panjang, aku masuk ke ruangan dan langsung menuruni tangga, aku berlari menuju taman tempat orang tuaku 'berada'. Aku terus berlari tanpa memedulikan pegal pada kakiku. Sampai di taman, aku dapat melihat mereka dengan jelas. Ayah dan ibu yang tersenyum padaku. Mereka-
"A-Ayah … Ibu…" Aku langsung menghambur ke pelukan mereka. Ini … sosok yang sangat kurindukan!
"Maafkan kami Sakura, namun ini semua untuk kebaikanmu…" Aku mendongak. Kebaikan?
"Kami sengaja menyusun sandiwara ini untuk mengubah sikapmu." HAAAH?! APAAAHH?! Aku melotot tak percaya. Sandiwara? Sandiwara?! SANDIWARA?!
"T-tapi … mayat itu, yang diceritakan ibu Sasuke-"
"Tentu saja bohong." Aku menoleh pada asal suara, aku dapat melihat ibu Sasuke menyeringai seraya mengangkat tangannya yang membentuk tanda 'v'.
"Kami menyewa polisi untuk ikut bersandiwara, dan tentu saja mayat itu palsu. Itu adalah boneka kami, hebat 'kan? Boneka itu seperti tubuh asli! Aku bahkan takjub melihatnya. Kami juga menghubungi pihak sekolah dan mereka mau bekerja sama, para siswa dan siswi pun bekerja sama untuk bersandiwara. Bahkan sahabatmu, Karin dan Shion juga ikut turun tangan dalam sandiwara ini." Aku hanya bisa cengo mendengar penjelasan ibuku. Shion dan Karin?! Semua yang ada di sekolah?! Bahkan para polisi pun bersandiwara?!
"Hahaha! Aku berbakat jadi artis, iya 'kan, ibu?" Aku dapat melihat kakak Sasuke yang tertawa laknat. Sifatnya terbalik seratus delapan puluh derajat dari yang tadi!
"Aku juga berbakat! Hohoho…" Ibu Sasuke juga ikut tertawa.
"J-jadi, selama sandiwara ini berlangsung, kalian ada di mana?" tanyaku dengan sisa-sisa tenagaku pada ibu dan ayahku. Ibu dan ayah saling berpandangan, kemudian berseru dengan kompak.
"Kami dari liburan ke Hawaii. Kami juga mengajak semua pelayan untuk ikut." WUUAAT?! K-kalian…
"Kalian … jahaaaatt!" Aku berlari sekencang mungkin menuju kediaman Uchiha dan mengunci diriku pada salah satu ruangan. Aku tak percaya semua ini! Jadi selama ini … kehidupan sesaat ini … hanya sebuah sandiwara?!
.
.
.
"HWAAA!" Aku menangis sekencang mungkin. Mereka jahat! Tindakan kriminal! Mereka telah mempermainkan perasaanku! Apa mereka tak tahu bagaimana sedihnya aku?! Apa mereka tak tahu bagaimana terpuruknya diriku?!
"Sedang apa kau di sini?" Aku terperanjat kaget saat mendengar suara Sasuke. Kenapa dia ada di sini?!
"Kenapa kau ada di sini?!" tanyaku galak. Sasuke memandangku heran.
"Ini kamarku, seharusnya aku yang bertanya padamu. Aku sudah ada di sini dari tadi." Aku memalingkan wajahku, jadi aku masuk kamar orang tanpa izin?! Aaarrghh! Kacau! Perasaanku kacau balau! Dan Sasuke … apa sikap baiknya selama ini juga hanya sebuah sandiwara?! "Kenapa kau menangis?" tanyanya seraya mendekatiku. Aku sedikit mundur perlahan. Aku sekarang tak percaya dengan semua orang! Bahkan Sasuke!
"Kau … kebaikanmu padaku selama ini hanya sebuah sandiwara 'kan?! Kalian tega mempermainkanku! Jahaaaat! Jahat! Jahat!" Aku melampiaskan amarahku pada Sasuke dengan memukul-mukul pundaknya. Namun ia dengan gesit menangkap tanganku dan menurunkannya. Perilaku seperti ini membuat lututku lemas dan jatuh terduduk. Aku kembali menangis.
"Bukankah kau seharusnya senang karena orang tuamu masih hidup?" tanyanya padaku.
"Aku senang … tapi … aku kecewa pada mereka! Mereka mempermainkan perasaanku, mereka-"
"Mereka hanya ingin mengajarmu, Sakura…" Sasuke mengelap air mataku dengan lembut, membuatku sedikit tenang. "Bukankah karena semua ini, kau telah menjelma menjadi pribadi yang baik? Aku tahu ini keterlaluan, tapi, hanya inilah satu-satunya cara untuk membuatmu sadar."
"Tapi Sasuke-"
"Sekarang pasti mereka mengkhawatirkanmu yang sedang ngambek ini." Sasuke menyeringai.
"A-aku tidak ngambek!" Aku memalingkan wajahku yang merona hebat.
"Hn?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Menyebalkan! Sasuke menyebalkan! "Ah, tapi tidak semua yang dikatakan ibuku itu salah." Aku menaikkan alisku.
"Lalu bagian mana yang benar?" tanyaku penasaran.
"Tentang perjodohan kita." 1 … 2 … 3 … TING! Aku membulatkan mataku, perjodohan?! Dengan Sasuke?!
"Aa- itu-" Aku tergagap. Tanpa sadar, perasaan senang menyelimutiku saat ini.
"Tentu saja kau tak dapat menolak," ucapnya yang membuatku semakin heran.
"Kenapa?" tanyaku pelan.
"Karena … tak ada alasan bagimu untuk menolak." Aku tersenyum simpul.
"Dan jika aku menolak?"
"Itu tak akan terjadi," ucap Sasuke yakin. Aku menyeringai.
"Oh ya? Haruno itu selalu menang!" Aku hampir saja tertawa saat melihat wajah heran Sasuke. Namun seketika aku terkejut saat kurasakan bibir Sasuke mengecup bibirku dengan singkat.
"Hn? Jika Haruno selalu menang, maka-" Sasuke kembali menciumku, namun kali ini lebih lama. Aku membalas ciumannya seraya memejamkan mataku. Cukup lama kita berciuman sampai Sasuke melepasnya secara sepihak, kemudian menyeringai kecil dihadapanku.
"-Uchiha selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Termasuk dirimu, Haruno Sakura."
.
.
.
~The End~
Haaiii :3 ahaha, ending yang gaje, iya kan? Oh yaa, karena aku terlalu sibuk, aku tidak bisa membalas para reviewer, maaf tapi aku berterimakasih banget telah mereview chapter 1 dan :') yang telah fav cerita ini, yang follow, dan sebagainya, makasih banget :') oh ya, ini ada tambahan omake-nya :D semoga kalian suka :D
Dan … sampai jumpa di karyaku berikutnya! :D
OMAKE
"Sakuraaa! Akhirnya kau mau keluar juga, kami mengkhawatirkanmu…" Aku dapat melihat wajah khawatir ibu dan ayahku saat aku kembali ke taman. Aku membuang wajahku.
"Maafkan kami, Nak…" ucap ayahku. Aku memandang mereka kemudian memasang senyum licik.
"Aku akan memaafkan kalian, tapi dengan satu syarat…" Aku tetap memasang senyum licikku.
"Apa itu? Ayah janji akan memenuhinya!" ucap ayahku sungguh-sungguh. Membuatku tersenyum sumringah. Aku dengan cepat menarik lengan Sasuke, yang membuat pandangan penuh tanya terarah padaku.
"Nikahkan aku dengan Sasuke bulan depan!"
.
.
.
