WARN: AU, TYPO, OOC

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Ohayou minna-san! ;D ini chapter terbarunya sudah tiba^^ pertama-tama saya mau bales review dulu

Ichikonut22: ini chapter 3 nya silakan dibaca maaf baru bales review kamu di chapter 3. Keep read :D

Yuki Kanashii: terimakasih mau menunggu fanfic abal ini^^ maaf saya bales review kamu dari sini, soalnya PM saya sedang bermasalah. Keep read ne

Alex: halo alex ^^ ini sudah dilanjut kok. Umur saya? Masih 16 tahun xD. Semoga gak kecewa sama chapter ini ya ;)

Mochii: iya-iya ini udah dilanjut. Aduh kamu review nya sampe banyak bgt gitu:3 saya sampe bingung mau bales yang mana :p tapi gapapa saya senang kok. Keep read ya^^

Yoshikohamano: hallo yoshi (boleh panggil begitu?:D), terimakasih ya, sampe review dua kali=D suka sama NejiTen? Berarti kita sehati dong=D iya sama saya juga penasaran, tunggu aja kelanjutannya ya^^

Lady Hanabi: ini udah dilanjut Hanabi-chan^^ semoga gak bosen ya bacanya

Momoi: terimakasih sudah review, silakan dibaca kelanjutannya

Miya-chan: ceritanya unik? Waduh *bingung. Unik gimana ya maksudnya :D hehe. Silakan dibaca^^

: ini kelanjutannya wahh kamu buat saya pusing deh ;D hehe tapi terimakasih sudah review^^ maaf saya bales dari sini, PM saya sedang error-_- keep read*

Hime0307: ini sudah dilanjut Hime-chan^^sampe review dua kali malah ;D jangan bosen baca ya walau ceritanya jelek:D

Ten-chan: halo^^ terimakasih sudah review. Ini kelanjutannya

Oke, semua review sudah dibales, jadi langsung aja dibaca kelanjutannya ya! Happy Read^^

STEP SISTER Ch.3 by yumeiko21 fumasaki

Tenten menguap malas untuk yang kesekian kalinya. Matanya memang memperhatikan barisan angka di papan tulis yang ditulis oleh Asuma-sensei. Tapi pikirannya melayang-layang entah kemana. Aritmatika merupakan salah satu pelajaran yang kurang disukai Tenten, ditambah lagi pelajaran membosankan itu ada di jam pelajaran terakhir. Sudah dapat ditebak bagaimana keadaan siswa didalam kelas Tenten. Untunglah Asuma-sensei bukan tipe guru yang kejam, ia masih bisa memaklumi tingkah laku muridnya asalkan belum melewati batas-batas dan norma-norma negara (?).

Tenten meremas sebuah kertas menjadi gumpalan kecil dan melemparkan pada salah satu temannya yang duduk di pojok kelas paling belakang. "psst! Kiba!" panggil Tenten pada Kiba Inuzuka yang awalnya sedang asyik berkirim surat-surattan pada Ino. Kiba tampak celingukan mencari orang yang memanggil namanya. Tenten melambai kecil.

"ayo bertukar tempat duduk" gumam Tenten ketika Kiba sudah melihatnya.

"apa? Ah, tidak terimakasih" tolak Kiba dengan halus dan kembali sibuk dengan kegiatannya. Tenten memutar bola matanya sebal.

"benarkah? Dua hari lagi akan ada ulangan fisika, kau yakin tidak mau bertukar tempat duduk denganku?" tanya Tenten dengan santai.

Kiba tertawa canggung. "haha. Begitukah? Bawalah tasmu, Tenten. Untuk seterusnya duduk disini pun tidak apa-apa". Tentu saja Kiba merasa Takut, Tenten adalah satu-satunya orang yang bisa dimintai jawaban ketika ulangan fisika tiba. Tidak ada teman lain yang mau membagi jawaban ulangan mereka secara cuma-cuma kecuali Tenten.

"tidak-tidak. Hanya untuk kali ini saja" respon Tenten. Gadis itu hanya ingin tidur. Lokasi tempat duduk Kiba memang sangat strategis, siapapun yang duduk disana bisa melakukan apapun tanpa diketahui oleh guru. Tenten mengendap-endap dan bertukar tempat duduk dengan Kiba. Setelahnya, gadis itu menyenderkan kepala diatas meja dengan tangan sebagai bantalannya. Satu menit kemudian, Tenten sudah terjun ke alam mimpinya.

Tugas Aritmatika dari Asuma-sensei benar-benar menguras otak! Tenten terus mencoret-coret kertas dan berusaha menemukan jawabannya. Satu buah soal malah bisa menghabiskan hingga dua lembar timbal balik kertas sele-sele. Salahnya sendiri kenapa ia tidur selama jam pelajaran Aritmatika dan menunda-nunda mengerjakannya hingga pukul 11 malam. Bukannya menunda-nunda, hanya saja Tenten barusan meminjam kaset film horror dari Ino. Dan Ino bilang kasetnya sudah harus dikembalikan besok, jadi sedari siang tadi Tenten langsung menonton sampai 5 film sekaligus. Sialnya lagi film-film itu baru selesai ditonton pukul 11 malam. Akhirnya Tenten tertidur pukul 2 pagi dengan meja belajar yang masih berantakkan, untungnya tugas Aritmatika itu terselesaikan juga, karena besok pagi-pagi sekali tugas itu harus segera dikumpulkan pada Asuma-sensei.

"Tenten! Bangunlah. Apa kau tidak pergi ke sekolah?"

"Diamlah! Ini masih pukul 2 pagi! Bagaimana mungkin aku bisa pergi ke sekolah?"

"dasar baka. Ini sudah pukul 6.45 pagi"

"APAA!?" mata Tenten yang semula terasa berat dan kantuk, kini melotot dengan lebarnya.

"Neji-nii kenapa kau tak membangunkanku!?" teriak Tenten yang secepat kilat langsung menyambar handuknya dan pergi ke kamar mandi.

"sudah kulakukan sedari tadi" balas Neji santai dan singkat. Selagi Tenten menyiapkan diri di kamar mandi, Neji merapikan tempat tidur dan meja belajar Tenten. Alisnya terangkat ketika melihat sebuah buku tugas pelajaran aritmatika yang telah selesai. Banyak kertas-kertas yang penuh berisi coretan soal-soal tugas tersebut.

'Jadi karena ini makanya sampai telat'. Batin Neji

Neji tahu adiknya itu sangat ceroboh, dia pasti akan melupakan tugasnya. Bahkan gadis itu belum mengganti roster pelajaran hari ini. Jadi Neji memasukkan buku tugas aritmatika Tenten kedalam tasnya dan menyusunkan roster pelajarannya. "Aku pergi!" teriak Neji pada Tenten yang masih belum keluar dari kamar mandi. Tenten tidak sempat untuk mandi lagi, jadi ia hanya membasuh mukanya dan menyikat giginya lalu dengan kecepatan kilat langsung memakai seragam sekolahnya. Ia menyambar tasnya yang terletak diatas meja belajar dan pergi keluar kamar. Tidak ada waktu untuk sarapan. "pagi Kaasan" Tenten mengucap salam pada Shion yang sedang sarapan pagi . gadis itu meminum susu yang tersedia dimeja dengan sekali teguk dan mencomot sehelai roti panggang. "pagi" balas Shion singkat. Sebelum Tenten berlari keluar, ia sempat mendengar omelan ibunya "dasar gadis aneh".

Ketika Tenten membuka pintu gerbang depan, sebuah mobil putih terparkir disana. Tenten tahu persis mobil siapa itu. Si pengemudi mobil menurunkan kaca mobilnya.

"Nii-san? Sedang apa kau ?" tanya Tenten kebingungan

"cepat naik" jawab Neji dengan datar.

Tenten memberinya tatapan aneh, lalu gadis itu mengalihkan pandangannya kearah lain sambil berkata, "tidak-tidak. Kaasan akan marah jika ia mengetahui hal ini".

"kau tidak ingin terkunci dilluar gerbang sekolahmu kan?" Neji bertanya lagi. Kali ini dengan sorot mata tajam dan mengintimidasi. Tenten mencoba mengabaikannya.

"tak apa, aku bisa membujuk satpam penjaga untuk membuka gerbangnya" jawab gadis itu.

"apa salah jika seorang kakak hendak mengantar adiknya ke sekolah? Bukankah itu merupakan hal yang wajar?" balas Neji mengernyitkan dahinya.

"secara umum itu memang hal yang wajar. Tapi bagi keluarga kita, ini berbeda Nii-san" lirih Tenten sambil melangkahkan kakinya meninggalkan mobil Neji. Pemuda itu tidak tinggal diam, ia menginjak pedal gas mobilnya dan memblokir akses jalan yang dilalui Tenten.

"berhenti bicara omong kosong. Dan naik ke mobil. Sekarang" tandas Neji. Gaya bicaranya tegas, dan terdengar sangat bossy. Seakan-akan perkataannya adalah mutlak dan tidak ada yang boleh menolak.

Tenten memutar bola matanya. "ck. Nii-san!" gadis itu mendecak sebal, tapi pada akhirnya ia menurut juga. Toh pada jam-jam seperti ini tidak lagi bus yang biasa dinaikinya sampai ke sekolah. Sepertinya mulai besok, Tenten harus menaiki sepedanya lagi seperti dulu.

"kau tidak perlu mengantarku sampai sekolah. Dari sekolahmu, aku akan mencari taksi atau bis" gumam Tenten tanpa melihat kearah Neji.

"apa kau mengatakan sesuatu?"

"kau mendengarku dengan sangat jelas Nii-san! Jadi berhentilah membuatku kesal!" Omel Tenten sambil mengerucutkan bibirnya. Neji hanya menanggapinya dengan tertawa.

"aku akan mengantarmu sampai depan gerbang sekolahmu" kata Neji cuek, pandangan mata fokus pada jalanan didepannya.

"tidak perlu Neji-nii. Sekolahku lebih jauh. Jika aku tidak terlambat, maka kau yang akan terlambat. Kaasan bisa marah besar" ujar Tenten dengan serius. Neji tidak menjawab dan pura-pura tidak mendengar.

"didepan, berhenti saja" sambung Tenten lagi ketika melihat gedung sekolah Neji yang terletak diujung jalan.

Neji berusaha memutar otaknya untuk tidak menuruti kekeraskepalaan Tenten. Hingga sebuah ide jahil terlintas di kepalanya yang jenius. Neji mengambil jalan pintas menuju sekolah Tenten. Ia membelokkan mobilnya ke gang sempit agar mereka tidak melewati sekolahnya dan Tenten tidak akan memaksa untuk diturunkan didepan sekolahnya.

"N-neji-nii! Apa yang kau lakukan?" tanya Tenten mengerjap-ngerjapkan matanya. Mulutnya terbuka dan membentuk huruf O.

"dengan begini, maka sekolahku lebih jauh dari sekolahmu" ujar Neji dengan santai. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum tipis tanda bahwa ia merasa telah menang.

"apa yang sebenarnya ada dalam otak jeniusmu itu!? Sekolahmu ada didepan hidungmu tapi kau malah memilih jalan yang lebih jauh!? Neji kita dalam masalah besar!" Tenten mencak-mencak di kursinya sementara Neji hanya memasang raut wajah tanpa dosa seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Istilah kerennya Innocent.

"Tenten. Kau hanya perlu duduk manis di tempat dudukmu" Neji menanggapi dengan nada datar. Sangat datar. Tenten sweatdrop dibangkunya. Gadis itu melemaskan tubuhnya dan menghela nafas kuat-kuat.

"baiklah, terserah kau saja" katanya pasrah.

Setelah kurang lebih semenit tenggelam dalam suasana hening, tiba-tiba Tenten teringat pada sesuatu. Sesuatu yang sangat penting dan merupakan alasan utama gadis itu berada dalam situasi ini: terjebak bersama kakaknya yang berwajah datar. Tenten buru-buru menegakkan kembali tubuhnya. Dilihatnya kakaknya masih fokus pada jalanan di depannya tanpa menyadari perubahan air muka Tenten.

"oh tidak-tidak! Ini bencana. Aku pasti akan mati!" racaunya sambil menangkup kedua pipinya sendiri dan menekannya kuat-kuat. Sebelum Neji sempat menanggapi, gadis itu sudah menyela dengan ketus, "Nii-san aku lupa tugasku!" . Neji tetap tidak mengalihkan fokusnya dari jalanan. Tapi pemuda itu hanya menanggapi dengan santai "sudah berada dalam tasmu, beserta roster pelajaranmu hari ini" .

Dengan tergesa-gesa Tenten segera membuka kancing tasnya dan mendapati buku tugasnya beserta buku-buku pelajaran lainnya yang telah tertata rapi. Gadis itu menghembuskan nafas lega. "oh terimakasih! Kau memang belahan jiwaku!" seru Tenten dengan mata berbinar-binar. Lalu tanpa diduga-duga, ia bergerak mendekat dan, CUP.

Sebuah kecupan singkat berhasil mendarat dengan mulus di pipi kiri Neji. Walaupun Tenten sudah sering melakukannya, tapi untuk sesaat, pemuda itu lupa bagaimana caranya bernafas hingga,

"Hati-hati Neji-nii!" suara nyaring Tenten menembus gendang telinga Neji dan menyadarkannya bahwa ia kehilangan fokus dan hampir menabrak seorang pengendara sepeda di pinggir jalan. Untunglah Neji berhasil menstabilkan stir kemudi dan tabrakan itu berhasil dihindari. Jika tidak, maka dapat dibayangkan judul besar yang akan menghiasi halaman pertama koran Daily Konoha: 'Neji Hyuga, pewaris Hyuga Corp menabrak pengendara sepeda karena mendapat kecupan dari adiknya'. Neji mengabaikan skenario yang melintas di kepalanya dan melirik sekilas kearah Tenten yang sedang memegangi dadanya seakan-akan ia barusan terkena serangan jantung.

"apa kau sudah gila!? Kau membuatku terkena serangan jantung!" seru Tenten.

'Bagaimana mungkin orang yang terkena serangan jantung bisa mengomel seperti itu? Seharusnya kau memberiku aba-aba terlebih dahulu jika mau melakukannya. Yang ada malah aku terkena serangan jantung' batin Neji OOC.

Mobil yang dikendarai Neji melambat dan berhenti di depan sebuah sekolah umum sederhana. "gerbangnya sudah ditutup" Neji mengernyitkan dahinya, tapi Tenten tidak peduli dan langsung berlari keluar menuju gerbang sekolahnya. Sepeninggal Tenten, Neji mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya. Sedari tadi ponsel itu terus saja bergetar-getar menandakan ada yang menelepon. Namun Neji tidak menghiraukannya.

'15 panggilan tidak terjawab dari kaasan' batin Neji tanpa merasa bersalah. Dengan cuek ia menonaktifkan ponselnya dan melemparnya ke jok belakang mobil.

"ojii-san!" seru Tenten sambil mengguncang gerbang sekolahnya yang terbuat dari besi. Satpam yang berjaga itu keluar dari posnya, ia memicingkan mata dan memandangi Tenten dengan serius.

"oh! Kau, Tenten" ujar si satpam kemudian. Gadis itu mengangguk-angguk cepat.

"tolong bukakan pintunya jii-san" pinta Tenten sambil memasang wajah memelas, berharap agar pak satpam dengan segera membukakan pintu gerbang. Namun satpam itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"maaf, Tenten. Tapi kau sudah terlambat 30 menit. Peraturannya: siswa masih diperbolehkan masuk paling lambat 15 menit setelah bel" ujar satpam dengan wajah turut bersedih. Tenten menghela nafas pasrah. "begitukah? Baiklah kalau begitu. Tapi tolong antarkan ini ke kelasku ya baa-san" gadis itu buru-buru mengeluarkan tugas aritmatika dan kaset DVD Ino dari dalam tasnya. Sang satpam tampak berpikir-pikir sejenak sampai akhirnya mengangguk dan menerima barang titipan Tenten. Setelah mengucap terimakasih, gadis itu berbalik dan berniat pulang kerumah. 'pasti kaasan akan sangat marah jika aku bolos sekolah seperti ini. Atau ia malah tidak peduli seperti biasanya? Akkh Kami-sama tolong aku!' racau Tenten didalam hatinya. Batinnya bergejolak. Hingga mata Tenten melihat mobil Neji yang masih terparkir didepan sekolahnya.

"apa yang kau lakukan? Kenapa kau tak pergi ke sekolah?" tanya Tenten sambil mengetuk kaca mobil Neji dari luar. Pemuda itu memberinya tanda isyarat untuk masuk kedalam mobil.

"apakah nona yang percaya diri ini tidak berhasil membujuk satpam penjaga gerbang?" tanya Neji menghiraukan pertanyaan Tenten. Gadis itu memutar bola mata bosan.

"jawab saja pertanyaanku Nii-san".

"jika gerbangmu saja sudah ditutup, apalagi aku" ujarnya sambil mengangkat bahu dan melajukan mobilnya. Tenten menatapnya tidak percaya. "kita akan mendapat masalah besar" gumam gadis itu pada dirinya sendiri. Neji tidak merespon perkataan Tenten, sebagai gantinya ia bertanya "kau mau kemana? Kita tidak bisa pulang. Para pelayan Kaasan pasti akan mengadukan kita".

"j-jadi, kita membolos?" tanya Tenten tidak percaya

"seperti yang kau lihat".

Tenten tampak berpikir-pikir sebelum memutuskan. Gadis itu bergerak-gerak gelisah ditempat duduknya. Neji benar. Mereka tidak bisa kembali kerumah saat ini. Mungkin tidak apa-apa jika ia memutuskan untuk pergi kesebuah tempat, lagipula mereka bisa kembali ketika jam pulang sekolah seperti biasa. Tidak akan ada yang tahu. Well, sepertinya ia sudah siap menanggung resiko yang akan didapatnya. Gadis itu sudah terlanjur basah, jadi mengapa tidak hanyut saja sekalian?

Senyumnya terkembang, "umm, ada satu tempat yang selalu ingin ku kunjungi".

..

Shion memegangi ponselnya sambil mondar-mandir diruang tamu. Perasaannya berkecamuk antara khawatir, kesal, marah dan takut. Pasalnya ia baru saja mendapat telepon dari sekolah Neji (saya nonton film korea, kalau ada siswa sekolah elite yang tidak masuk sekolah 1 hari saja tanpa keterangan, maka pihak sekolah akan langsung menghubungi orangtua siswa atau pihak-pihak yang bersangkutan XD) yang mengatakan bahwa Neji tidak masuk sekolah. Padahal tadi pemuda itu pamit hendak pergi ke sekolah seperti biasa. Shion juga sudah menghubungi ponsel Neji berkali-kali, awalnya pemuda itu tidak mengangkat ponselnya, dan sekarang ponselnya sudah tidak aktif lagi. Sebagai seorang ibu, wajar saja jika Shion khawatir, ia sampai tidak pergi ke kantor gara-gara anak kesayangan satu-satunya itu.

'semoga Neji-kun baik-baik saja' batin Shion harap-harap cemas.

...

"Karnaval?" Neji mengernyitkan dahinya dengan heran. Ia tidak tahu bahwa adiknya selalu ingin pergi ke tempat-tempat umum seperti ini. Tenten sendiri memang tidak pernah keluar atau bersenang-senang dengan temannya. Sepulang sekolah ia langsung pulang kerumah dengan alasan takut dimarahi ibunya. Tenten memang gadis penurut, tapi Neji benar-benar tidak tahu bahwa adiknya itu diam-diam selalu ingin pergi ke tempat hiburan. Ia jadi merasa bersalah.

"benar! Aku dengar dari Sakura dan Ino, pemandangan di malam hari akan lebih bagus lagi. Banyak lampu-lampu yang menyala dan menghiasi wahana-wahana disini. Tapi kita tidak mungkin bisa lama" Tenten berkata dengan riang, matanya berbinar-binar dan memancarkan kebahagiaan. Neji hanya tersenyum tipis, seperti ada tangan abstrak yang menyentuh hatinya dan meremasnya. Mula-mula terasa aneh, selanjutnya terasa sangat menyakitkan dan membuat sulit bernapas.

"kita bisa datang di malam hari jika kau mau" ujar Neji menawarkan

"tidak, tidak perlu. Datang kesini saja aku sudah merasa senang kok" balas Tenten sambil memasang senyum lebarnya. Tapi Neji tahu, dibalik senyum menawannya seperti biasa, Tenten ingin melihat karnaval itu dimalam hari.

"ayo kita naik wahana itu saja Nii-san!" ajak Tenten sambil menunjuk sebuah wahana Roller Coaster, seperti anak kecil yang meminta mainan baru pada ayahnya. Neji hanya mengangguk dan mengikuti. Seharian itu mereka berdua habiskan dengan jalan-jalan, makan siang, jalan-jalan lagi, menaiki berbagai macam wahana permainan, photoshop, dan jalan-jalan lagi. Jika mereka berdua adalah seorang robot, maka bisa dipastikan saat ini mereka dalam keadaan Low-battery. Tapi Tenten tidak menyesal, ia tahu takkan bisa lagi bermain-main seperti kejadian ini hanya akan terjadi sekali. Begitupula Neji, yang merasa menjadi seorang kakak yang baik, yang bisa mengukir senyum manis dan tulus di wajah adik perempuannya. Adik perempuannya,eh?

TO BE CONTINUED

Tadaa! Menurut saya ini udah panjang lho! Kalau belum terasa juga romancenya, tolong jangan pojokkan saya, saya maunya tuh supaya moment romantisnya gak dibuat-dibuat dan mengalir dengan alami hehe. T_T saya sudah berusaha semaksimal mungkin supaya cerita ini bikin greget :# dan kalau ada typo yang masih nyelip disana-sini, ini juga bukan murni kesalahan saya (jadi salah siapa? -_-) karena saya pribadi udah baca berulang-ulang loh! Mungkin konflik dan kejadian sebenarnya akan saya ungkap di chapter depan, Insya Allah. Sejujurnya saya sudah menyiapkan plot untuk chapter selanjutnya, jadi hanya tinggal edit dan menyempurnakan bahasa saja Oke, Bye! See You On Chapter. 4 :P inget! Jangan lupa reviewnya *ngarep XD