catatan: mostly dialogue. format didapat dari kumcer selama kita tersesat di luar angkasa. awalnya buat lanjut cerita suatu percakapan di angkasa di fp tapi nggak jadi hihi
spiritual — canon divergence: in which jean and sasha died during the battle of trost
Malaikat itu mengetuk pulpen ke clipboard-nya.
—Jean Kirschtein, benar?
Lelaki itu mengangguk. Tangan kanannya berada di pangkuan, tulangnya lepas dari pertemuan antartulang di bahu, memegang wajah bagian kanan dengan erat.
Sang malaikat tidak bergeming, hanya menulis sesuatu di kertas yang ada di clipboard.
—Bisa ceritakan cara kematian Anda?
—Haruskah aku mengatakan soal itu padamu? Kukira malaikat bisa melihat segala hal yang terjadi di dunia ini.
—Hanya Tuhan dan malaikat tertentu yang dapat melihat apapun terjadi di Bumi. Sisanya tetap berada di sini untuk bekerja dan mendapat informasi dari malaikat-malaikat yang singgah di Bumi.
—Jadi kerjamu apa?
—Saya bekerja sebagai pendata.
—Kalau begitu, apakah kau tahu kenapa Titan ada?
—Saya tahu.
—Bisakah kau menceritakan itu padaku?
—Sama sekali tidak. Hal itu dirahasiakan oleh Tuhan sampai kiamat menjelang.
—Di sana kiamat sedang terjadi!
—Itu bukanlah kiamat.
—Kami, manusia, merasa bahwa raksasa sialan itu adalah kiamat.
—Itu sama sekali bukan kiamat. Itu hanya bencana besar yang berlangsung selama beberapa tahun. Tidak lebih. Entah apa yang ada di dalam pikiran Tuhan, tapi kami tidak akan mempertanyakannya.
—Lebih tepatnya, kalian tidak bisa mempertanyakannya. Kalian hanyalah anak buah seperti kami yang menjadi budak militer agar semua orang di dalam Dinding Sina selamat sentosa menikmati anggur dan roti dan semua makanan sialan itu.
—Kami punya akal, tapi kami tidak punya hasrat apapun untuk mempertanyakan tindakan Tuhan.
—Tidakkah kau mengerti keadaan kami?! Oh, Eren idiot itu benar mengenai fakta bahwa kami adalah hewan ternak. Apakah Tuhan memang membuat kami dengan tujuan kami dimakan oleh Titan?
Sang malaikat menggerakkan pulpennya. Mungkin membentuk suatu garis. Turus?
—Anda tak bisa mempertanyakan pilihan Tuhan.
—Itu berarti aku bisa mempertanyakan pilihanku sendiri.
—Apa Anda bermaksud untuk menyesali pilihan Anda menyelamatkan Sasha Braus?
Lelaki itu terdiam. Sang malaikat menulis sesuatu di kertasnya.
—Mungkin ya, mungkin tidak. Aku tidak tahu. Apa aku mengalami kematian yang heroik?
—Ya. Saya rasa begitu. Anda dengan gagah berani menghadapi raksasa itu, melawannya sekuat tenaga sampai darah terakhir menetes dari nadi Anda.
—Kalau begitu, apakah aku berhasil menyelamatkan dia?
—Sayangnya tidak. Dia ada di ruangan lain, sedang diwawancarai seperti Anda saat ini.
—Ah.
Lelaki itu meregangkan kedua tangannya.
—Kurasa aku butuh air.
—Maaf. Anda sama sekali tidak membutuhkan air di sini. Lagipula tenggorokan dan kerongkongan Anda hanya ada setengah, jadi memang sebenarnya tidak perlu untuk meminum air.
—Sayang sekali.
—Maafkan kami. Kami tak pernah mendapatkan orang yang baru meninggalkan dunia fana yang mendambakan hal-hal berbau fana. Kurasa Anda adalah salah satu manusia yang unik.
—Tak usah memujiku. Aku baru saja mati.
—Baiklah kalau begitu. Saya tidak akan memuji Anda lagi.
—Apa Braus kecewa karena aku tak behasil menyelamatkannya?
—Saya tidak tahu. Bukan tugas saya untuk mencari tahu soal emosi manusia.
—Bagaimana ia mati?
—Sama seperti Anda, dimakan oleh raksasa itu.
—Adakah bagian tubuhnya yang hilang?
—Tidak ada. Entah mengapa raksasa itu memakannya bulat-bulat.
—Oh, baguslah. Setidaknya ia tidak mati sepertiku.
—Anda masih terlihat tampan.
—Dengan wajah tinggal setengah? Jangan bercanda. Aku benar-benar sensitif soal penampilanku.
—Saya minta maaf. Tapi saya menganggap semua manusia merupakan makhluk yang begitu indah. Begitu sempurna. Saya rasa Anda tidak perlu merendahkan diri mengenai penampilan Anda meski tidak sesempurna dulu.
—Jiwa lebih penting dari penampilan, huh?
—Itu benar. Jiwalah yang mengantar kalian ke dunia, menjalani kehidupan fana, sampai pada akhirnya membawa kalian menuju tempat ini. Bukan penampilan.
—Kukira kau perlu mendataku, bukan menceramahiku.
—Saya rasa datanya sudah cukup. Lagipula, waktu saya mendata Anda sudah mau habis. Sudah ada prajurit lain yang telah diangkat jiwanya ke kursi di luar ruangan.
—Mati dimakan?
—Benar. Faktanya, ratusan jiwa sudah mengantri setiap ruangan dan mereka mati bukan karena sakit atau usia tua.
—Aku sudah tahu fakta itu.
—Saya tahu Anda sudah mengerti keadaan yang terjadi di sana.
—Tentu saja aku mengerti. Orang macam apa yang tidak mengerti situasi mengerikan itu?
—Orang yang menolak kenyataan.
Lelaki itu menutup mulutnya. Terasa seperti selamanya, tapi tidak begitu juga. Hanya tiga puluh detik sebelum mulut lelaki itu membuka kembali, merangkai pertanyaan.
—Apa Braus sudah pergi?
—Saya rasa belum. Setiap malaikat punya waktu beberapa menit untuk mendata orang-orang yang baru jiwanya baru digiring ke sini. Anda datang lebih awal, jadi kelak Anda juga pergi lebih awal.
—Kalau begitu, sampaikan saja padanya bahwa aku minta maaf.
—Tentu saja. Kami akan mengirimkan pesan Anda kepadanya. Saya juga mendoakan agar permohonan maaf Anda diterima oleh gadis itu.
—Rencananya dia akan dimasukkan ke mana? Surga atau neraka?
—Saya tidak tahu. Itu adalah kehendak Tuhan. Tugas kami hanya mencatat hasrat Anda, lalu memberikannya kepada Tuhan.
—Hasrat akan apa?
—Surga atau neraka. Apa kalian berharga untuk mendapatkan tempat di firdaus kami atau menjadi kayu bakar di neraka?
—Orang macam apa yang menyukai neraka?
—Iblis.
Suara jam dinding keras sekali.
—Waktu Anda sudah habis. Jadi, Jean Kirschtein, Anda mendambakan apa? Surga atau neraka?
Lelaki itu membuka mulut. Dua suku kata. Begitu kudus.
