Kuroko no Basuke Fanfiction
"The World Between Light and Darkness"
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Rating : T
Warning : AU, Angel&Devil, Maybe OOC and some typo
Pairing : AkaKuro, hint AoKi & MuraHimu
A/N : Chapie 2 akhirnya selesai XD Setelah menyerecokin beberapa pihak, akhirnya author mendapat ide buat cerita kedepannya, semoga author bisa menulis cerita selanjut-selanjutnya dengan lancar ya (/w\) Ganbarimasu!
Special Thanks for all review, fav, follow and all silent Readers. Author akan menunggu ripiu kalian (^w^)/
Happy Reading all,
With Love,
Zelvaren Yuvrezla a.k.a renchanz
The World Between Light and Darkness
~Second Phrase~
Hari itu, saat aku menemukan seorang Angel mungil beriris Baby Blue, aku telah mengikhlarkan janji pada diriku. Bahwa apapun yang terjadi aku akan melindunginya, bahkan hingga sekarang. Pilihan terbaik untukku dan dirinya sekarang adalah pergi, agar tidak ada diantara kita maupun teman kita yang tersakiti. Karena kutukan itu nyata. Bukan berarti aku meninggalkanmu karena aku membencimu.. tetapi karena aku sangat menyayangimu.
"Ada baiknya bila kau menuruti apa kata sahabatmu itu, Tetsuya"
Mulut Kuroko seakan tercekat, sosok yang ia cari sungguh berbeda dari apa yang selama ini berada dalam memorinya. "A..kashi-kun, kau kah itu?"
Pemuda berambut Scarlet itu tertawa sinis "Kenapa? Kau sudah mengingatku lagi? Ohh~ Ingatanmu belum sepenuhnya kembali ternyata" katanya sambil mengusap pipi Kuroko.
Dingin.
Tangan yang diusapkan oleh Akashi saat itu terasa sangat dingin, sampai-sampai ia merasa sentuhan itu menusuk kulitnya.
"Apa..maksudmu, Akashi-kun?" Tanya Kuroko sambil memandang wajahnya.
Sosok tersebut kini tersenyum dengan arogannya, ia mendekat ketelinga Kuroko lalu berbisik "Karena bila ingatanmu seutuhnya kembali, kau akan membenciku" katanya dengan suara yang sangat dingin dan menekankan suaranya pada kata benci.
Bulu kuduk Kuroko berdiri.
Ia takut.
Takut dengan sosok yang berada dihadapannya saat ini.
Bukan! ini bukanlah Akashi, bukan Akashi yang ia cari.
"Hey, Tetsuya" katanya sambil bermain dengan helaian rambut Kuroko.
"Bagaimana bila kau ikut denganku? Kau menyukaiku, kan? Kita bangun dunia baru kita bersama" katanya sambil memandang tajam wajah Kuroko.
Kuroko terdiam.
"Kau..kau bukan Akashi-kun, Akashi-kun yang kukenal tidak seperti ini, kau bukan dia" kata Kuroko langsung mundur beberapa langkah, menjauhkan dirinya dari sosok yang berada di hadapannya ini.
"Ah~ begitu? Kau sudah menyia-nyiakan kesempatanmu" jawab Akashi yang tidak lepas dari wajah dinginnya "Kalau kau tidak mau bergabung denganku, itu berarti kau akan menjadi musuhku mulai dari sekarang, dan aku akan membunuh setiap musuh yang menghalangiku" katanya sambil melangkah ke depan.
Kuroko menelan ludahnya, Pemuda yang berada di hadapannya ini jelas sangat berbeda, kata-katanya terkesan sangat dingin, ditambah lagi tatapannya yang seakan menembus kulit itu membuat Kuroko agak takut kepadanya.
"Tetsu!/Kurokocchi/Kuro-chin/Kuroko!" teriak gabungan suara tersebut dari belakang, mereka keluar dari semak-semak dan menemukan sosok Kuroko yang berada ditengah danau. Nafas mereka pun masih tersengal karena berusaha mencari keberadaan Kuroko.
"Tck.. Pengganggu" Desis Akashi dengan suara yang kecil.
"Kurokocchi! Apa yang..! Astaga..Akashicchi.." Kise langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya melihat sosok Akashi Seijuurou yang terpantul tepat dihadapan Kuroko Tetsuya.
"Mau apa yang kemari, Akashi!" teriak Aomine yang buru-buru mendekat kearah Kuroko dan berdiri didepannya.
Kini pandangan mata Sapphire dan Heterochrome bertemu.
"Ah~ Daiki. Ya, tampaknya kau tidak sepenuh hati saat menghapus ingatan Tetsuya, bukan begitu?"
Kuroko langsung memandang kearah Aomine sambil menunjukkan ekspresi yang kaget.
"Itu bukan urusanmu, itu kelengahanku semata" kata Aomine dengan wajah yang tak kalah dingin.
Akashi mengendus kecil, kemudian melihat kearah sekitar "Tetsuya, Daiki, Ryota, Atsushi, Tatsuya" katanya dengan suara yang dingin dan tegas "Karena kita berkumpul dalam reuni kita yang manis ini, aku akan mengampuni nyawa kalian. Tapi ingat—" katanya kemudian menggelarkan sayap hitamnya, matanya memandang tajam setiap individu yang berada disana.
"Akashicchi..sayapmu.." Kise melihat kearah Akashi dengan mata yang melebar, diikuti oleh Murasakibara dan Himuro yang sama-sama menatap Akashi dengan pandangan yang menunjukkan raut wajah tidak percaya.
"Dipertemuan selanjutnya, aku akan menjadi musuh kalian, akan kubunuh kalian semua" lanjut Akashi, katanya sambil tertawa.
"Aka-chin! Kenapa kau membiarkan 'dia' memasukimu! Padahal kau berjanji menunggu sampai aku dan Muro-chin kembali!" teriak Murasakibara setelah ia berhasil keluar dari rasa terkejutnya.
"Atsushi..Percuma kita berbicara padanya sekarang" kata Himuro sambil melangkah kedepan. "Aku terima deklarasimu itu, Akashi. Tidak akan kubiarkan salah satu diantara kami yang akan meninggal ditanganmu, karena aku akan melindungi semua dengan kekuatanku"
"Hahaha! Kau, menantangku, menantang seorang Akashi Seijuurou? Kau tahu aku absolute" Kini pandangannya menatap tajam Himuro. Dengan perlahan Akashi langsung mengangkat tangannya, ia menunjuk kearah Himuro "Menarik, kalau begitu, dipertemuan kita selanjutnya, kaulah orang pertama yang akan kuhancurkan"
Hening.
Apakah wujud yang dihadapannya ini adalah seorang Akashi Seijuurou yang pernah mereka kenal dahulu?
Berbeda, ini terlalu berbeda!
"Aka-chin" Murasakibara mulai berbicara, ia menatap wajah Akashi dengan serius "Meskipun kau Aka-chin, kalau kau sampai melukai Muro-chin, aku tidak akan memaafkanmu" katanya dengan nada yang serius dan terdengar agak menakutkan.
"Atsushi~" Kata Akashi tersenyum sinis, ia memandang kearah Murasakibara dengan tampang yang merendahkan "Kau berani menantangku? Kau tahu pada pertarungan kita sebelumnya bahkan kau kalah telak dariku . ?"
Beberapa bola air kini melayang kearah Akashi, namun dengan segera Akashi langsung melayang kebelakang, menghindari serangan yang baru dilancarkan.
"Daiki" kata Akashi sambil memandang tajam pemuda berambut Navy.
"Bila kau mau perang, aku terima perangmu itu, tapi JANGAN USIK SALAH SATU DIANTARA KAMI! AKU TAHU KAU BUKAN AKASHI, MAKA DARI ITU AKU TIDAK AKAN SEGAN LAGI PADAMU!" Katanya sambil berteriak.
Akashi menutup matanya, lalu tertawa dengan keras "Bila itu yang kau mau, kalau begitu sampai kita bertemu di pertemuan selanjutnya, di medan perang"
"Akashi-kun! Tunggu!" Pinta Kuroko yang mencegahnya untuk pergi.
Akashi kini terdiam sebentar, namun ia tidak menoleh kebelakang untuk menatap seorang Kuroko Tetsuya.
"Salahkah..? Salahkan bila aku masih mencintaimu?"
Senyum kecil kini terukir dibalik wajah Akashi, lalu ia menghadap kebelakang "Ya, Kau salah, karena aku bukanlah Akashi Seijuurou yang dulu" katanya sambil memegang dadanya. "Kini aku membencimu, Tetsuya."
Perkataan itu seolah menusuk hati Kuroko. Ia terpaku disana, hanya memandang tanpa bergeming saat melihat sosok yang disukainya kini pergi semakin menjauh. Kuroko langsung terjatuh, ia tidak peduli bahkan bila pakaian yang ia kenakan basah, ia tidak mau memikirkan apapun saat ini.
"Oi, Tetsu" kata Aomine sambil memegang pundaknya "Akan kuceritakan bila kita kembali"
Kise yang sedaritadi diam kini berjalan yang menghampiri Kuroko "Ayo kita pulang Kurokocchi, kau bisa sakit bila tetap berada di air ini"
Kuroko hanya mengangguk kecil, ia membiarkan dirinya dituntun oleh Kise menuju rumah mereka.
"Muro-chin, aku tidak suka ini.. Lalu apa usaha kita selama ini, selama 2 tahun ini bila Aka-chin telah berubah" kata Murasakibara sambil menundukkan kepalanya.
Pemuda berambut Raven disebelahnya kini membiarkan tangannya membingkai pipi Murasakibara "Kita tidak boleh menyerah, mungkin di buku yang Akashi minta, salah satunya terdapat pemecahan masalah ini"
-xXx-
Semua telah berkumpul di ruang tengah, Kuroko telah mengganti bajunya. Perapian kecil menyala di ujung ruangan, memberikan kehangatan pada tubuh mereka yang agak membeku karena angin malam yang sangat dingin.
Himuro kini membuatkan coklat hangat untuk mereka semua, setelah ia kembali dari dapur, lalu dimulailah pembicaraan diantara mereka semua.
"3 bulan lalu, kau dan Akashi datang menemuiku" kata Aomine memecahkan keheningan "Kalian memintaku untuk menghapus sosok Akashi Seijuurou dari ingatanmu, Tetsuya"
"Kenapa? Aku.. meminta hal itu?"
"Itu karena Akashicchi mulai menyadari, bahwa sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya. Ia sadar bahwa ia sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi"
"Kau ingat, kakek dan nenek moyang kita dulu pernah bercerita, bahwa 1000 tahun lalu, sosok Roh Jahat tersegel disuatu tempat, dan saat segel itu melemah, ia akan mencari sosok medium atau 'vessel' yang tepat untuk ia rasuki"
"lalu..sosok yang tepat itu, Akashi-kun?"
"Akashi pernah memintaku dan Atsushi untuk mencari beberapa buku tentang segel dan Roh Jahat itu, makannya kami pergi selama 2 tahun. Semenjak 2 tahun lalu, Akashi pernah mengatakan bahwa perasaannya sangat tidak enak, ia tahu sesuatu berada dalam dirinya, namun sesuatu itu belum terbangun dari tidurnya"
"Ia tidak memberitahu apapun padaku tentang ini"
Aomine lalu menggelengkan kepalanya "Ia telah memberitahumu, Tetsu, pada ingatan yang belum kau bangkitkan, sisa ingatan yang terpenting. Dan aku tidak bisa mengembalikannya secara paksa dengan kekuatanku" kata Aomine.
"Bila kau tidak mengetahuinya, kupikir kau dan Akashicchi tidak akan meminta Aominecchi untuk menghapus ingatanmu, Kurokocchi"
Kuroko lalu terdiam. Seperti apa kata Akashi sebelumnya, ia bilang bahwa ingatannya belum seutuhnya kembali.
"Apakah ada cara untuk menyelamatkan Akashi-kun?" Tanya Kuroko memandang wajah Himuro dan Murasakibara.
"Selama perjalanan menuju kemari, kami membaca beberapa bagian dari beberapa buku ini. Kami mengetahui bahwa Roh jahat itu adalah 'Emperor'. Menurut buku ini, 'Emperor' adalah Roh yang sangat menakutkan, 1000 tahun lalu ia membantai hampir semua ras Angel, ia mengumpulkan seluruh ras Devil yang kuat, bahkan ia nyaris turun ke Bumi"
"Lalu fakta yang makin mengejutkan, bahwa 'vessel' atau medium yang dijadikan korban oleh 'Emperor' saat itu adalah bebuyutan dari Aka-chin"
Semua terdiam. Ternyata sang 'Emperor' telah memperhatikan calon benih yang luar biasa, benih yang kuat dan memiliki kompeten yang baik dalam segi fisik dan pengetahuan, bahkan kemampuan Akashi untuk beradaptasi dan mempelajari sesuatu tergolong sangat cepat. Tentunya keturunan keluarga Akashi adalah 'vessel' yang tepat sebagai korbannya.
"Lalu, bagaimana cara kita mengeluarkan sosok 'Emperor' dari tubuh Akashi-kun?"
Murasakibara lalu menutup matanya.
Himuro memandang kearah temannya dengan agak ragu "Cara membebaskan jiwa 'Emperor' itu, hanyalah menusuk jantung sang 'vessel' dengan "Sword of Zenith Light" tapi.. di buku ini tidak diceritakan bagaimana kondisi sang 'vessel' setelah pedang itu berhasil menembus jantungnya"
"Itu..artinya.." Kise kini memandang wajah Himuro yang mengangguk kecil.
"Kemungkinan Akashi akan hidup atau meninggal adalah 50%-50%"
Kuroko mengeratkan pegangannya pada gelas yang sedari tadi ia pegang, tidak peduli sepanas apa gelas tersebut.
Apa katanya? Kemungkinan Akashi untuk hidup adalah 50%?
"Tetsu.." Aomine melihat dengan jelas bagaimana reaksi tubuh Kuroko, ia tahu bahwa sahabatnya kini sedang menyembunyikan emosinya.
"Apa kalian semua tega untuk melawan Akashi-kun? Ia memakai sosok sahabat kita. Apakah kita akan tega untuk membunuhnya saat di medan perang nanti?"
Satu pertanyaan itu berhasil membuat semua terdiam.
"Kurokocchi.. semua yang berada disini tentu tidak ingin menyakiti Akashicchi.. tapi demi permohonan terakhirnya, kami akan memenuhi permintaannya. Karena kami adalah sahabatnya, maka dari itu harus salah satu diantara kita yang menyelesaikan semuanya, Kurokocchi"
"Karena rasa sayang Aka-chin terhadapmu, Kuro-chin, ia ingin agar kau melupakannya, agar tidak ada luka yang membekas dihatimu kelak ketika melawannya"
"Ia memutuskan untuk menghapus ingatanmu bukan karena ia membencimu, tetapi karena ia sayang terhadapmu, Kuroko.."
"Aku..aku tidak bisa kalau harus membunuh sosok Akashi-kun" kata Kuroko dengan suara bergetar.
Aomine kini menepuk pundak Kuroko "Biar aku yang melakukannya bila saat itu tiba. Karena setengahnya adalah kesalahanku ketika aku tidak seutuhnya membulatkan tekad saat menghapus ingatanmu"
"Aomine-kun.."
"Maafkan aku, Tetsu.. Maaf telah membuatmu menjadi menderita seperti ini.."
-xXx-
Sosok pemuda berambut Icy Blue tengah memandang kearah langit, ia sibuk memikirkan dan mencerna semua ucapan dan kebenaran yang ia ketahui.
Apakah aku akan tega menyerang Akashi-kun?
Ia melihat kearah kamarnya, memandang kembali surat yang ia tulis sebelumnya.
"Akashi-kun, aku.."
Masih dirumah yang sama, dilantai 1, kini terlihat Aomine dan Kise yang sedang membuka-buka halaman dari buku yang telah Himuro dan Murasakibara bawa. Kise melirik kearah Aomine sebelum ia menutup bukunya.
"Aominecchi"
"Hm?"
"Umnn..tidak jadi-ssu" katanya sambil membuka kembali buku yang ia baca.
Tangan Aomine kini menghentikan pandangan Kise dari buku yang ia baca "Kau mau mengatakan sesuatu, kan?"
"Aku..Cuma ingin agar Aominecchi tidak menyalahkan diri Aominecchi-ssu" kata Kise sambil menunduk kebawah "aku tidak ingin melihat sahabatku yang lain ikut terluka"
Aomine tersenyum kecil, tangannya lalu menuju keatas dan mengusap kepala Kise.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Hora, Jangan menangis seperi itu dong" Aomine menutup matanya, ia mengelus kepala Kise dengan lembut, menenangkan sahabatnya yang tidak kuasa menahan tangisnya itu.
"Ha..habisnya.. ini semua terlalu kejam-ssu! Aku..aku tidak tega melihat Kurokocchi harus menderita seperti ini" katanya sambil terisak-isak "La..lalu Aominecchi..ju..juga harus.."
"Sttt" Tangan Aomine kini membingkai pipi Kise dengan lembut. "Semua akan baik-baik saja, bila ada orang yang harus disalahkan kelak, mungkin aku adalah satu-satunya orang yang menyandang jabatan itu"
"Tapi!"
"Tidak ada tapi, Kise. Demi permohonan terakhir Akashi, aku akan membunuhnya" kata Aomine dengan muka yang serius. "Demi Akashi, demi Tetsu, demi kau, demi kita semua.."
- xXx -
"Khuhuhu… Seijuurou yang malang" Sosok Akashi kini sedang terduduk didepan cermin, tempat yang sama seperti tempat sebelumnya, tempat dimana cermin yang ia pecahkan, namun perbedaannya, cermin itu hanya tersisa sebagian, dengan beberapa pecahan yang berada di sisi Akashi.
Dibalik cermin itu, terlihat sepasang manik Deep Crimson yang menatapnya dengan tajam.
"Ah~ Jangan memandangku dengan penuh kebencian seperti itu, Seijuurou~"
'Kau berjanji tidak akan menemui Kuroko!'
"Hmn? Apa aku pernah berjanji seperti itu padamu?"
'Dan kau berjanji tidak akan mengusik teman-temanku!'
"Itu karena mereka akan menghalangiku, Seijuurou~" Manik Deep Crimson kini seakan siap menyambar sosok yang berada didepannya.
"Karena semua yang menghalangiku, akan kubunuh! Kau tidak tahu bahwa perintahku itu adalah suatu keutuhan? Tidak ada yang akan melanggarnya, dan semua akan patuh terhadap kuasaku!"
'Kau salah! Ambisimu selama ini salah! Tidak ada suatu kebahagiaan yang kau dapat dari rasa bencimu untuk membalas dendam!'
"DIAM! Bukankah kau juga membenci mereka? Mereka yang telah menghujat keluargamu, Mereka yang telah membantai keluargamu selama ini, hm? Bukankah kau juga menaruh benih benci yang sama denganku?"
'Tidak, karena sebelum benih itu bertumbuh, aku telah mengenal sebuah kasih sayang, sebuah perlakuan yang membuatku bisa memaafkan tindakan mereka'
"Naif.. kau terlalu naïf, Seijuurou. Bila itu karena seorang Kuroko Tetsuya, akan kubunuh ia ketika aku bertemu dengannya lagi"
'Jangan kau berani-!'
"Oh, tentu saja aku berani, bila sosok Kuroko Tetsuya masih hidup, ia akan menjadi satu-satunya alasan bagimu untuk tidak membenci kaum mereka, bukan?"
'Kau..!'
"Kau hanya perlu menuruti titahku, Seijuurou" Katanya dengan nada yang marah, ia langsung memukulkan telapak tangannya ke pecahan kaca yang berserakan dilantai, sehingga tangannya kini mengeluarkan darah.
'Arghh!'
"Ah, sakit? Kau mengerti, kan? Bila kau menentangku, akan kusiksa kau secara perlahan, Seijuurou. Maka dari itu, bersekutulah denganku" katanya sambil tersenyum sinis.
Akashi Seijuurou kini memandang 'Emperor' dengan tajam.
'Bila kau melakukan sesuatu terhadap Kuroko, aku tidak akan tinggal dia' Katanya sambil menunjukkan wajah yang serius.
"Menakutkan~ bahkan untuk mengambil alih kuasa tubuhmu sendiri saja kau tidak bisa!" katanya sambil tertawa "Sungguh menyedihkan" lanjutnya dengan pandangan dingin dan nada meremehkan.
Sesaat, ambang pintu yang menutupi kamar gelap itu dengan ruang lainnya kini terbuka dengan perlahan. Angin berhembus dengan perlahan memasuki ruangan tersebut. Ujung mata Akashi kini melihat ke ambang pintu yang berada di ujung kamar tersebut.
"Oi, Akashi, sampai kapan kau mau berdiam didepan cermin?" Sebuah suara kini membuyarkan percakapan mereka. Sosok 'Emperor' dengan manik Heterochrome kini terpantul didepan cermin, menghilangkan manik Deep Crimson yang berada didepannya sedari tadi.
"Shintarou, kah?" katanya dengan nada yang dingin.
"Anggota lainnya sudah menunggumu, nanodayo. Dan aku tidak mau menunggu lebih lama lagi"
Akashi lalu mengendus kecil.
"Kalau begitu, bagaimana bila kita mulai pertunjukkan kita?"
Dan dalam kegelapan saat itu, terlihat senyum arogan yang berasal dari Akashi 'Emperor'. Dibelakang Midorima, yang ternyata bersekutu dengan 'Emperor' kini terlihat beberapa orang, atau lebih tepatnya 4 orang didalam bayang-bayang yang juga bersekutu dengan 'Emperor' untuk menjalankan ambisinya.
~TBC~
