Nyaaaa!~ Chapter 3 update! Saya sudah seelsai UN! Tinggal menunggu hasilnya! Oke, mari kita balas review dulu!
Li-kuro. lily:
Gak apa 'kok! Saya sendiri senang, karena Li-san menyukainya!
Jujur, saya gak suka kalau akhir ceritanya sad ending, makanya saya buat Len ketemu Rin lagi! :D
Gomen, lama update. m(_ _)m
Ai:
Sungguh?! *.*
Oke, chap ini untuk request dari Ai!
Saya tahu lagunya 'kok! Tapi, linknya tak bisa dibuka. Jadi, saya cari sendiri videonya di youtube. Kebetulan, saya ketemu yang project diva-nya. Jadi, kalau saya salah video mohon maaf 'ya. :o
Maaf, lama updatenya.
djokore:
Makasih pujiannya! :D
Namikaze Kyoko:
Oke, saya lanjut. Maaf, lama. :D
Kuro 'Kaito' Neko:
Gak apa 'kok! Saya juga kelas 3 SMP dan sudah selesai UN! XD
Iya, lagunya galau. Itu lagu kesukaanku pas galau. ._.
Penasaran? Saya update 'kok! Maaf, lama 'ya. :D
air phantom zala:
Itu juga lagu kesukaan saya! XD
Maaf, lama updatenya 'ya. m(_ _)m
Disclaimer:
Vocaloid punya Yamaha dan Crypton Future Media.
Warning:
Typo, OOC dan lainnya.
Happy Reading!
Pemuda berambut honeyblonde itu tengah menatap langit biru dari atap sekolahnya. Suasana yang sangat disukainya, ketenangan.
Sesekali, ia memejamkan kedua kelopak matanya untuk menikmati semilir angin di pagi hari itu. Ini adalah tempat kesukaannya.
BRAAAAK
Pemuda itu langsung menoleh ke arah pintu dengan wajah kesal, karena ketenangannya terganggu. Tapi, ekspresinya langsung melembut saat tahu siapa yang mendobrak pintu.
Ternyata hanya seorang gadis.
Setidaknya, ia tak perlu terlalu keras atau sampai memarahinya. Jika yang mendobrak adalah lelaki, pasti langsung dihajarnya. Tapi, beda ceritanya jika wanita yang mendobrak.
Gadis berambut honeyblonde dengan seragam agak berantakan itu berjalan menghampiri pemuda yang tengah memegang pagar pembatas di atap sekolahnya itu.
Entah kenapa, pandangan gadis itu seakan tak bisa lepas dari pemuda yang terlihat menikmati semilir angin yang berhembus dan memainkan poninya yang berantakan. Tanpa disadarinya, pipinya menjadi memerah secara perlahan.
Pemuda yang bernama Len Kagamine itu hanya bisa melirik gadis di sampingnya melalui ekor matanya. Jujur saja, ia sama sekali tak kenal dengan gadis di sampingnya itu. Tapi, gadis itu membuatnya sedikit tertarik.
"Kenapa lihat-lihat?" tanya Len dengan pandangan sinis.
Gadis itu tersentak saat mendengar Len yang berbicara. Ia hanya bisa menggaruk belakang kepalanya dengan gugup.
"E-etto… A-aku… murid baru…! Dan, aku… tersesat…"
Len membulatkan kedua matanya saat mendengar jawaban dari gadis di sampingnya yang masih terlihat gugup dan malu.
"Murid baru? Kelas berapa?" tanya Len lagi.
"Kelas 3-2!" jawab gadis itu cepat.
Manik Len kembali membulat saat medengar jawaban gadis di hadapannya. Kelas 3-2, yang berarti kelasnya. Mereka sekelas.
Sudah satu bulan berlalu sejak kedatangan gadis itu ke kehidupan Len. Selama itu mereka terus menjalin suatu hubungan persahabatan. Dan selama itu pula, Len selalu memendam perasaannya.
Entah sejak kapan, Len sudah menyukai gadis itu. Menurutnya, perasaannya muncul sejak ia pertama bertemu dengan gadis itu di atap sekolah.
Tapi, perasaannya itu justru membuat Len semakin tersiksa. Ia semakin merasa bersalah memiliki perasaan itu. Pasalnya, sudah beredar kabar kalau gadis itu sudah menyukai seorang pemuda yang entah siapa orangnya.
Len sedikit berharap untuk melupakan perasaannya itu pada gadis itu. Tapi, hal itu sangatlah sulit. Mengingat dirinya yang selalu bertemu dengan gadis itu setiap saat.
Pemuda bersurai honeyblonde itu langsung mengacak-acak poninya yang sudah berantakan, dengan gerakan cepat. Dia benar-benar depresi sekarang.
Bel pulang sudah berbunyi sedari tadi. Dan sekarang, ia harus pulang sendiri karena gadis itu ada kegiatan tambahan.
Mengingat perasaannya pada gadis itu, membuat Len makin terpuruk jauh dari kesadarannya sekarang ini.
Langit sore hari itu membuat perasaannya makin memburuk. Ya, suasana saat itu sangat cocok untuk menggalau. Tapi, Len sangat membenci yang namanya 'galau'.
"DOOOOR!~"
Len langsung tersentak kaget saat merasakan dorongan dari belakangnya dan suara melengking itu. Ia sangat mengenal betul suara itu. Suara gadis itu.
"Rin! Jangan mengagetkanku!" pekik Len dengan nada marah.
Gadis itu, Rin, yang mendengarnya langsung menundukkan kepalanya dengan menyesal.
"Maaf… Tadi, aku hanya ingin membuatmu tersenyum… Habis, selama di sekolah, kau terlihat murung 'sih…" gumam Rin pelan. Namun, masih bisa didengar oleh Len.
"Hah… Kalau begitu, aku juga minta maaf karena sudah membentakmu," balas Len dengan helaan nafas.
"Kalau begitu, kau temani aku liburan di pantai akhir musim panas nanti 'ya!~"
Langit yang cerah dan cuaca yang mendukung. Sangat bagus untuk berselancar, bukan?
Yang pasti, kali ini Rin dan Len sedang menaiki sebuah parasut yang ditarik oleh jet ski yang melaju di laut.
Keduanya terlihat sangat menikmati pemandangan dari atas sana. Walau, pandangan Len selalu tertuju pada Rin yang menaiki parasut warna merah muda dengan bikini.
Sebenarnya, Len sangat tak suka liburan atau pun jalan-jalan. Tapi, mengingat ia juga harus tampil di pertunjukkan nanti malam, jadi ia ikut dengan Rin. Sekalian refreshing.
Selama seharian itu mereka habiskan untuk bermain di pantai. Main air, membuat istana pasir, berjemur, minum es bersama dan lainnya.
Entah kenapa, Len jadi makin menyukai Rin setelah kejadian di hari itu.
Saat jam tujuh malam. Rin dan Len berada di bibir pantai sambil menyalakan kembang api kecil yang dibeli oleh Rin.
Len yang melihat cahaya dari kembang api itu jadi menyadari suatu hal. Rin sama dengan kembang api itu. Begitu indah dan sangat dikenang oleh yang melihat. Tapi, sangat mudah menghilang dan rapuh.
Tanpa menyadari tindakannya, Len masih terus memandangi Rin yang masih asyik memainkan kembang api di tangannya itu.
Sepertinya, Len benar-benar jatuh cinta dengan Rin…
Sekarang, Len sedang tampil dinaungi oleh bintang di atas panggungnya. Ia tengah menyanyikan sebuah lagu dengan diiringi musik dan beberapa penari.
Ia menggunakan kaus berwarna oranye, celana pendek biru, headphone dan wristband merah. Ia terus menyanyikan lagunya dengan semangat.
Sedangkan Rin, hanya bisa menonton di tengah penonton yang rata-rata gadis remaja. Jujur saja, jadwal manggung Len kali ini, sangat mengganggu bagi Rin.
Hingga tiba di penghujung acara konsernya, Len memutuskan untuk menyanyikan lagu barunya. Lagu yang dibuatnya beberapa waktu yang lalu.
Fire Flower.
Len mulai menyanyikannya sesuai dengan iringan musik dan penari latar yang mengikutinya. Beberapa penonton perempuan mulai berteriak histeris. Berbeda dengan Rin yang hanya menontonnya dengan wajah datar.
Setiap hentakkan yang dibuat oleh Len, berhasil menyulut teriakan para fans. Kecuali Rin yang badmood.
Hingga lagu itu hampir selesai, air mata Rin jatuh. Karena Len menyanyikan kalimat terakhir dari lagunya untuk dirinya.
"Saisho kara kimi o suki de irarete yokatta" nante sora ni utau n da.
Rin menutupi mulutnya dengan air matanya yang mengalir. Ia sangat terharu dengan lagu itu.
Rupanya, Len sengaja mengakhiri bermain kembang apinya terlebih dahulu untuk membuat lagu itu. Rin merasa menyesal sudah memarahi Len karena selesai terlebih dahulu. Rin benar-benar menyesalinya.
Len menuruni panggung setelah acaranya diakhiri oleh lagu Fire Flower dan kembang api yang diluncurkan dari belakang panggung bersamaan dengan berakhirnya lagu itu.
Beberapa penonton sudah bubar. Jadi, untuk mencari Rin yang menguncir satu rambutnya sangatlah mudah.
"Rin!"
Yang dipanggil pun langsung menoleh ke arah Len yang berlari menghampirinya sambil melambaikan tangannya.
Len mengatur nafasnya setelah tiba di depan Rin. Ia sedikit membungkuk untuk beristirahat sejenak. Sebelum ia kembali mendongak, karena merasakan sebuah jitakan pelan di kepalanya itu.
"Kenapa kau memukulku?! Sakit tahu!" bentak Len dengan nada marah.
Rin menggembungkan kedua pipinya. Sepertinya, sifat tsun-tsun'nya kambuh.
"Habis, lagu tadi…"
"Kenapa dengan lagu tadi?"
"Kau membuatnya tadi 'kan?"
Len hanya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal dengan manik sapphirenya yang mengarah ke langit malam. Dengan enggan, ia pun mengangguk mengiyakan terkaan Rin.
"Buat siapa?" tanya Rin penuh selidik.
"Kau pasti tahu, Rin," ucap Len dengan sedikit kesal.
"Siapa? Aku gak tahu!" bujuk Rin.
"Argh! Udah jelas buat kau, masih tanya!" bentak Len yang udah gak sabaran.
Rin hanya memandangnya dengan smiling, setelah Len menjawab pertanyaannya itu. Dan hal itu membuat Len bingung di tempat.
"Berarti, kita pacaran!"
Len langsung diam membatu setelah Rin mengatakan dua kata terakhir dengan entengnya. Padahal, jarang ada wanita yang bisa mengatakannya dengan mudah.
'Dia emang beda…'
A/N: Yup! Chapter 3 selesai! Maaf kalau gak sesuai dengan video yang dikasih. Soalnya, link yang dikasih gak bisa dibuka, jadi saya cari-cari referensi di youtube. Maaf kalau ada salah-salah kata. Dan maaf untuk keterlambatan update. Jika berkenan, silahkan review!
