Chapter 3
Confession Of A Friend
Cast: Xi Luhan
Oh Sehun
Wu Yifan, etc.
Pairing: Hunhan
Rate: T
Disclaimer: Gender switch for uke!
.
.
.
.
Hari ini Luhan bertekad untuk meminta maaf kepada Sehun. Ia merasa telah keterlaluan menyentak Sehun di kedai kemarin. Ia telah bersiap untuk menemui Sehun dirumahnya. Yup, cukup dengan menyebrang ia sudah sampai di rumah Sehun.
"Selamat pagi Nona Lu." Luhan tersenyum sangat manis untuk membalas sapaan salah satu pelayan di rumah tersebut.
Luhan melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut. Ia sempat menengok ke kamar Sehun. Kamar itu masih tertutup. Menandakan sang empunya masih berada dalam mimpi indahnya. Ia lekas menuju dapur. Ia menaruh kotak yang ia bawa di atas meja. Ia mengambil nampan dan piring kemudian mulai menata makanan yang ia bawa di piring tersebut.
Puukk..
"Apa yang sedang kau lakukan Lu..?" Luhan berjengit kaget ketika seseorang menepuk bahunya. Ia kemudian berbalik dan menemukan nyonya Oh sedang terkekeh melihat keterkejutannya.
"Ah, eommonim mengagetkanku" ucapnya. Nyonya Oh melirik kearah meja dimana terdapat beberapa potong sandwich yang sudah tersusun cantik di piring. Ia menatap luhan, mengangkat alisnya.
Luhan seakan mengerti kebingungan eommanya Sehun ini kemudian berdehem. Cukup gugup tertangkap basah sedang membuatkan sarapan special. Memang bukan pertama kali ia menyiapkan makanan untuk Sehun, hanya saja entahlah.. saat ini mungkin pertama kalinya ia gugup.
"Umm... itu- itu eommonim, umm aku sedang menyiapkan sarapan untuk Sehun" ujarnya seraya menundukan kepalanya. Ia menggoyang-goyangkan badannya kekiri dan ke kanan tanda ia sedang malu.
"Kau ini, kenapa harus malu begitu. Biasanya juga kau akan langsung berlari dan masuk ke kamar Sehun ketika kemari. Bahkan terkadang kau juga memasak disini bersama eomma." Nyonya Oh terkekeh kembali melihat raut gugup Luhan. Ia senang menggoda rusa kesayangannya itu.
"Eommonim... berhentilah menggodaku." Uh.. bahkan saat ini ekspresi Luhan sangat menggemaskan. Bibirnya yang mengerucut dan pipi yang mengembung. Nyonya Oh tak tahan untuk tak mencubit kedua pipi Luhan.
"Arraseo.. arraseo. Sekarang bangunkan uri Sehunnie dan suruh dia sarapan."
"nde.. aku akan membawakan sarapan ini kekamarnya."
.
.
Sesampai di depan pintu kamar Sehun, dengan sedikit kesusahan dengan nampan yang ada di tangannya akhirnya ia bisa membuka pintu kamar itu. Dilihatnya sehun yang tidur begitu lelap dengan selimut yang hampir menutupi wajahnya. Ia simpan nampan itu di meja dekat ranjang. Ia berjalan menuju gorden kamar untuk membukanya. Membiarkan sinar matahari pagi memenuhi kamar.
Ia melihat Sehun yang sedikit mengernyit dalam tidurnya menandakan ia sedikit terganggu dengan cahaya yang masuk begitu saja kedalam kamarnya. Sedetik kemudia ia menenggelamkan seluruh kepalanya kedalam selimut.
Luhan mendengus dengan kebiasaan Sehun yang susah dibangunkan ini. Perlahan ia mendekati ranjang dan duduk ditepinya. Ia tarik selimut yang menenggelamkan Sehun hingga sebatas dadanya. Ia mencolek-colek pipi Sehun seakan itu dapat membangunkan pangeran yang sedang tertidur didepannya ini. Namun usahanya sia-sia.
"Sehunnie.. ireona..!" Kali ini ia bersuara dengan sedikit menggoyang-goyangkan tubuh Sehun. Sehun cukup terganggu dengan kegiatan Luhan, namun ia kembali menarik selimutnya dan menyamankan posisi tidurnya.
Luhan meniup poninya, merasa ia sudah mulai kesal dengan kebiasaan Sehun. Dengan kasar kembali menarik selimut itu hingga sebatas perut. Ia mencubit-cubit lengan Sehun tanpa ampun.
"Arrrgghh... aww.. appo geumanhae.. aww" begitulah rintihan Sehun. Sadar jika sang namja telah bangung, Luhan menghentikan kegiatannya. Sehun membuka matanya, sedikit mengernyit untuk menyesuaikan cahaya yang masuk pada kedua matanya.
Sehun berjengit cukup kaget dengan Luhan yang berada di depannya. Namun, sesaat kemudian ia dengan mudah mengendalikan raut wajahnya.
"Ada apa pagi-pagi seperti ini kau sudah mengganggu tidurku? Oh... bahkan di akhir pekan yang sangat kurindukan ini." Sehun berdengus, sedikit kesal memang. Mengingat ini akhir pekan dan biasanya ia habiskan untuk tidur dan bangun ketika waku makan siang telah tiba.
"Ish.. aku datang kesini untuk meminta maaf padamu. Aku mungkin sudah keterlaluan membentakmu kemarin. Aku hanya kesal karna kau tiba-tiba bersikap acuh padaku." Luhan menundukan kepalanya. Saat ini ia benar-benar merasa bersalah sekaligus kesal.
Saat ini Sehun matihmatian untuk menahan tawanya. Luhan benar-benar menggemaskan menurutnya. Di sisi lain, ia pun merasa bersalah pada Luhan. Ia tak bisa menahan emosinya. Luhannya tak salah. Luhan merasa kesal terhadap sikapnya.
Tangannya terulur untuk membelai puncuk kepala Luhan. Mendorongnya agar mau jatuh kedalam dekapannya. "Kau tak perlu minta maaf Lu..."
Luhan mendongak menatap Sehun. Sehun seakan tau kebingungan yang Luhan rasakan.
"Kau tak perlu meminta maaf Lu. Kau tak salah. Disini akulah yang bersalah. Maaf karna telah mendiamimu." Ia membelai Luhan dalam dekapannya. Menghirup aroma rambutnya.
"Iya.. kau mendiamiku. Kau tahu, aku sampai tak bisa tidur memikirkanmu"
"Jadi kau merindukanku huh..?" Uh.. godaan Sehun berhasil membuat wajahnya memerah. Entahlah, itu seperti membuat dadanya berdebar.
"Sehunnie... berhenti menggodaku !." Rajuknya. Ia mengembungkan pipinya dan langsung mendapatkan hadiah cubitan dari Sehun. Ia tertawa terbahak melihat Luhan yang semakin menggemaskan.
"Berhenti menggodaku. Sekarang makan sarapanmu. !" Luhan menyerahkan sarapan yang tadi dibawanya. Bukannya memulai sarapan, ia menatapi Luhan dengan tatapan memelasnya. Luhan kembali mendengus, kali ini karna Sehun yang mulai bermanja-manja padanya.
Luhan mengambil potongan sandwich itu dan menyuapkannya pada Sehun. "Kau ini manja sekali. Cepat habiskan sarapanmu. Aku ada janji."
"Kau mau pergi?" Pertanyaan Sehun hanya dibalas anggukan oleh Luhan.
"Kemana? Dengan siapa?" Tanyanya lagi.
"Aku pergi dengan kyungie. Dia memintaku menemaninya membeli hadiah untuk keponakan jongin." Kali ini, Sehunlah yang nampak mengangguk-angukan kepalanya. Luhan hendak beranjak setelah menyuapi Sehun, namun terhenti saat Sehun memegang tangannya. Luhan memandang Sehun seolah bertanya 'ada apa?'
"Eum...aku akan menunggumu di kedai jongdae hyung nanti sore."
"Baiklah. Nanti setelah selesai dengan kyungie aku akan langsung menemuimu di kedai. Aku pergi dulu."
Cup..
Satu kecupan mendarat di pipi mulus Sehun. Kali ini Sehun tak mampu menahan senyumnya. Luhan telah keluar dari kamarnya. Ia berencana untuk melanjutkan mimpi indahnya yang sempat terganggu.
.
.
.
.
.
"hadiah yang cocok untuk jimin apa ya?" Ya, sekarang Luhan dan Kyungsoo sedang berada di salah satu department store ternama di seoul. Mereka telah berkeliling untuk mencari hadiah yang cocok untuk lee jimin, keponakan jongin yang sekarang berumur 5 tahun.
Mereka telah berpindah dari satu toko ke toko lainnya. Dari mulai toko pakaian, sepatu dan saat ini mereka sedang berada di toko aksesoris. Namun belim ada satupun barang yang menarik perhatian mereka.
"Entahlah kyung, bahkan kita sudah memasuki banyak toko." Jawab Luhan. Ia terlalu lelah sekarang karna terus berkeliling.
"Eum.. Lu, bagaimana dengan ini?" Kyungsoo menunjukan kotak berwarna soft pink. Didalamnya berisi bando, ikat rambut dan jepitan rambut berwarna senada dengan kotaknya. Luhan memperhatikan kotak yang di tunjukan kyungsoo.
"Itu bagus kyung, umm.. cantik." Luhan menunjukan senyuman manisnya. mereka akhirnya lega karna telah berhasil menemukan hadiah cantik untuk keponakan jongin.
Mereka menghampiri salah satu cafe yang ada di departement store tersebut. Mereka memilih tempat duduk di pojok dekat dengan jendela.
Luhan mulai membuka percakapan diantara mereka. "maaf kyung, aku tak bisa lama-lama menemanimu disini. Aku ada janji dengan Sehun di kedai jongdae oppa." Ucapnya.
"Hemm.. tidak apa-apa Lu. Terimakasih telah menemaniku." ujar kyungsoo tulus. Luhan mengangguk dan tersenyum. Tak berapa lama pesanan mereka datang.
"Lu, apa kemarin kris sunbae jadi datang kerumahmu?" pertanyaan kyungsoo hanya dibalas anggukan oleh Luhan.
"Memang ada apa kris sunbae sampai datang kerumahmu?" Tanyanya lagi. Luhan sedikit menyeruput kopi yang ia menatap kyungsoo.
"Dia hanya ingin bercetita tentang tiffany eonni. Katanya, tiffany eonni sedikit berbeda terhadapnya." Luhan kemudian mengendikan bahunya acuh. Kyungsoo hanya menghela nafasnya.
"Apa kau bersungguh-sungguh menyukainya.?" Luhan mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan yang terlontar untuknya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Kali ini, kyungsoo yang mengendikan bahunya. Ia menyesap minuman dihadapannya.
"Sekarang kenapa kau menyukainya?" Tanyanya lagi. Luhan berpose seakan dirinya tengah memikirkannya. "Kau tau kyung, dia itu tampan, tenang, pintar dan oh.. ayolah kyung, dia ketua teater club. Bahkan dia sudah menyumbangkan beberapa piala untuk kampus kita."
Kyungsoo memangut-mangutkan kepalanya. "Kalau begitu siapa yang lebih tampan antara Sehun dengannya?" Luhan memutar bola matanya. Cukup jengah dengan pertanyaan kyungsoo yang menurutnya tidak bermutu.
"Oh ayolah kyunggie.. mereka sama-sama tampan."
"terus mengapa kau tak menyukai Sehun kalau begitu?"
"Karna aku menyayanginya bukan menyukainya. Sudahlah kyung, jika kau terus menanyakan pertanyaan seperti itu lagi aku pergi." Luhan memulai aksi kesalnya karna kyungsoo. Ia melipat kedua tangannya didepan dada. Kyungso hanya terkekeh dengan kelakuan Luhan yang menututnya kekanakan.
"Lu, dengarkan aku. Jika kau menyukai kris sunbae karna alasan yang kau ucapkan tadi, itu tandanya kau tidak benar-benar menyukainya. Kau hanya kagum pada kemampuan dan ketampanannya. Itu bukan rasa yang tulus dari hatimu Lu. Ketika kau mencintai seseorang tanpa sebab itulah cinta. itu berarti cintamu bukanlah dia."
Luhan ingin membantah apa yang dikatakan kyungsoo namun semua itu benar adanya. Dia memang punya alasan untuk menyukai Kris. Jadi apakah kris bukan cintanya? Bukankah ia hanya menyukai kris bukan mencintainya.
"Aku tidak bilang aku mencintai Kris gege kyung. Aku hanya bilang bahwa aku menyukainya." Bantahnya. Kyungsoo tersenyum. Ia tau reaksi Luhan akan seperti ini.
"kau tau, saat kau menyukai sesuatu maka itu akan menjadi obsesimu Lu. Kau memang tak akan melakukan hal bodoh mencapai obsesimu itu, tapi saat itu kau bisa saja kehilangan apa yang seharusnya menjadi milikmu." Jelas kyungsoo.
"Sesuatu yang harusnya menjadi miliku akan tetap menjadi miliku." Ucapnya keras kepala. Kyungsoo menghela nafasnya lagi. Ia hanya berusaha meyakinkan Luhan akan pilihannya. Sekarang memang Luhan dan kris hanya sebatas teman, atau hubungan kakak dan adik. Tetapi itu tidak akan menjamin apa yang akan terjadi nanti.
"Hah.. terserahmu saja Lu. Aku hanya memberitahumu. Aku tak ingin kau menyesal nanti." Luhan menanggapinya dengan senyuman. Ia tahu bahwa sahabatnya ini tengah menghawatirkannya.
Dari tempat mereka berada, terlihat seorang namja tampan yang berjalan mendekat mereka. Pemuda itu tersenyum kala orang-orang yang mereka cari sedang asik mengobrol. Ia menghampiri kyungsoo yang tengah tersenyum kearahnya.
"bagaimana acara berburu kalian?" Tanyanya seraya duduk tepat disebelah kyungsoo.
"Cukup sulit menemukan yang sempurna, sampai kita harus mengelilingi hampir seluruh toko di gedung ini." Jawaban Luhan membuat jongin dan kyungsoo terkekeh. Pasalnya, ia terlihat seperti anak kecil menurut mereka.
"Kau berlebihan Lu." Timpal kyungsoo. Luhan hanya mencibir keduanya. Ia mengambil tisu untuk membersihkan daerah bibirnya. Kemudin bangkit dari kursinya.
"Well, karna sekarang kau sudah disini, aku harus segera pergi." Jongin memperhatikan Luhan yang hendak pergi dari cafe tersebut.
"Kau mau kemana Lu?" Tanya jongin.
"Aku mau ke kedai jongdae oppa, Sehun sudah menungguku disana. Aku pergi.."
Jongin menatap heran kepergian Luhan. Ia menolehkan kepalanya kearah kyungsoo saat merasa sesuatu menyadar di lenganya. Ia elus kepala kyungsoo membuatnya nyaman.
Kyungsoo menyadari raut keheranan dari kekasihnya. "Mereka sudah berbaikan." Ujarnya. Jongin tersenyum. Ia membawa kyungsoo kedalam rangkulannya.
"Maaf tidak bisa menemanimu tadi." Sesekali jongin mengecup puncuk kepala kyungsoo.
"Hmm.. tak apa. Bukankah kau sedang mengerjakan projek? Bahkan aku yang harus meminta maafmu karna menyuruhmu datang kemari. Padahal kau asti sedang sibuk."
"Aku bisa menyelesaikannya kapan saja asal kau tahu. Kau adalah hal terpenting sekarang, karna waktu bersamamu itu sangat berharga."
Ucapan jongin sangat manis menurutnya, hingga mampu membuat perasaannya menghangat. Perlahan ia merasakan kedua pipinya menghangat. Jongin terkekeh melihat kyungsoo yang sedikit menundukan kepalanya.
"jangan menunduk seperti itu. Kau akan terlihat lebih manis saat merona." Kyungsoo sedikit gelagapan saat jongin mencoba menggodanya. Ia mendengar jongin yang terkekeh sedikit merasa sebal.
"Jangan menggodaku. Aku tidak merona." Ia menarik diri dari rangkulan jongin. "Aku tidak sedang menggodamu. Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku." Jongin tersenyum lembut kearah kyungsoo. Ia sedikit membelai pipi kyungso kemudian mengecupnya lembut. Kyungsoo tersenyum telah mendapat perlakuan manis jongin kemudian kembali kedalam rangkulannya.
.
.
.
.
.
Luhan sampai di kedai bubble tea favoritnya tiga puluh menit kemudian. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kedai tersebut. Ia tersenyum kala mendapati Sehun yang tengah tertidur dengan kepalanya yang ia simpan diatas meja. Ia mendekati meja di penjuru kedai tersebut. Sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Sehun.
Cup..
Satu kecupan manis di pipi Sehun mampu mengusik tidurnya. Ia sedikit membuka matanya dan menemukan Luhan yang sedang terkekeh. Ia mencoba bangun dan membenarkan posisi duduknya.
"Sejak kapan kau sampai Lu?" Tanyanya. Ia masih setengah sadar dari tidurnya.
"Aku baru saja sampai dan menemukan seorang pangeran yang sedang terlelap." ujarnya sedikit menggoda Sehun. "Maaf telah membuatmu menunggu lama." Tambahnya lagi. Sehun mengusak pelan rambut Luhan.
"Tak apa. Bagaimana acara berburu hadiah kalian?" Mendengar pertanyaan Sehun langsung membuat raut wajah Luhan berubah menjadi lebih bersemangat.
"Menyenangkan. Meskipun tadi aku kelelahan. Kau tahu, kami bahkan harus mengelilingi gedung itu. Aku dan kyungie bahkan sudah memasuki hampir seluruh toko pakaian dan sepatu. Akhirnya kami membeli satu set aksesoris rambut yang lucu. Pasti jimin akan menyukainnya.
Sehun terkekeh melihat cara Luhan menceritakan Hal yang telah dialaminya. Ia terlihat seperti bocah berumur lima tahun yang sedang bercerita pada ibunya. Amat sangat menggemaskan. Ia mencubit kedua pipi Luhan.
"Sepertinya kau sangat menikmatinya Nona Lu. Sekarang aku akan memesankan bubble tea untukmu."
Belum sempat Sehun beranjak, Luhan menarik tangannya. Luhan berdiri dari duduknya dan mendorong Sehun agar kembali ke kursinya.
"biar aku yang memesan. Kau duduk saja sehunnie." Luhan mengedipkan sebelah matanya pada Sehun dan berjalan kearah kasir. Sehun tertawa kecil melihat kelakuan rusa kecilnya. Kekanakan, tapi Sehun menyukainya.
Luhan melihat minseok yang saat ini ada di belakang meja kasir. Ia sengaja membiarkan dirinya memesan kali ini karna ia ingin sedikit berbincang dengan orang yang ia anggap eonninya itu. Melihat Luhan berjalan kearahnya tak mampu menahan senyuman minseok.
"Anyeong eonni." Sapa Luhan ceria.
"Hmm anyeong Lulu. Biar ku tebak, 2 bubble tea rasa coklat dan taro benar?" Luhan mengangguk membenarkan. Minseok terkekeh melihat Luhan yang terlihat ceria.
"Tunggu sebentar ne.." jawabnya.
Kim minseok adalah sunbae Luhan dan kawanannya di Universitas tempat mereka menimba ilmu. Dia adalah salah satu sunbae yang paling dekat dengan Luhan selain Kris dan Tiffany -kekasih kris.
Kenapa minseok ada di kedai milik jongdae? Bukan karna ia sedang bekerja paruh waktu, melainkan kedai ini bisa dibilang telah menjadi miliknya juga. Ya.. kim minseok dan kim jongdae telah menikah satu tahun lalu, tepat saat minseok berada di semester lima. Mereka memilih untuk mengelola kedai yang diberikan appa jongdae setelah dulu dikelola oleh appanya tersebut.
"Ini Lulu pesananmu." Minseok menyodorkan dua cup bubble tea yang di pesan Luhan.
"Gomawo eonni. Eoh.. eonni, kapan kau akam memulai skripsimu? " Tanya Luhan seraya membayar pesanannya. Sedikit mengobrol tak apalah, toh mereka jarang bertemu.
"Eumm.. mungkin semester depan Lu. ah.. bahkan sebentar lagi ujian akhir semester. memangnya Kenapa?" Luhan mengangguk mengerti.
"Cepatlah selesaikan kuliahmu dan segeralah membuat keponakan yang lucu untuku." Luhan sedikit tertawa setelahnya.
Minseok tersenyum mendengar ucapan Luhan. Tak dapat dipungkiri bahwa ia pun sangat ingin untuk memiliki momongan. Hanya saja ia menundanya terlebih dahulu sampai kuliahnya selesai.
"Hmm... Aku akan cepat menyelesaikannya dan memberimu keponakan yang kau inginkan baby Lu" Ia sedikit mencubit kedua pipi Luhan, kemudian mengusak kecil rambutnya. "Baiklah, aku pegang kata-katamu eonni-" ia mengedipkan sebelah matanya kearah minseok. "Aku kembali dulu pada Sehunnie ku"
Minseok terkekeh saat melihat Luhan mulai meranjak mendekati meja dimana sehun berada. Ia mulai menyibukan diri kembali setelah sedikit berbincang.
.
.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Sehun ketika Luhan telah sampai di meja mereka. Oh.. ternyata Sehun memperhatikan setiap pergerakan Luhan. Ia menerima bubble tea coklat yang disodorkan Luhan.
"Tidak ada. Hanya sedikit sapaan." Sehun membulatkan mulutnya membentuk huruf 'o'. "Sehunnie menginaplah di rumahku malam ini. Temani Lulu nonton. Lulu tidak mau kalau harus menonton sendirian."
Uh.. bagaimana Sehun bisa menolak jika saat ini Luhannya tengah menatap dengan binar rusanya. Salah satu kelemahan Sehun, tidak.. kelemahan semua orang tentunya. Ayolah.. siapa yang bisa menolak binar rusa yang indah dan menggemaskan milik Luhan. Jika ada, orang itu harus memeriksakan matanya.
"Apapun untuk putri rusa yang cantik ini." Luhan memekik kegirangan. Membuat Sehun mau tak mau menyematkan senyum yang menawan di wajah tampannya.
'Ah.. malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan' gumam Sehun.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
Chapter 3 udah hadir readers. Maaf kalo ceritanya terkesan maksa banget. Itu HunHan bakal jadian ko tenang aja. Tapi ga sekarang. Kemungkinan di pertengahan cerita.
Untuk update Chapter, aku akan usahain tiap minggu. Tapi waktunya ga bakal nentu. Thanks banget yang udah mau ngeriview. Itu sangat membantu untuk kelanjutan cerita.
.
.
See you in next chapter guys..
and Don't forget to Review this chapter. Bye ^_^
