Tiada Yang Mustahil
by: Shin Chunjin
Semua character asli KnB adalah milik Fujimaki Tadatoshi sensei.
Cerita "Tiada Yang Mustahil" adalah milik saya seorang.
Warning alert: typo, ooc, gaje
Enjoy~
Kepada yang mereview, kubalas via PM ya. Bagi guest, akan kurespon di sini~
To: syifa-sama
Makasih banyak semangatnya! Dukunganmu menghasilkan chapter tiga lho. Maaf kalau sedikit-sedikit, aku akan berusaha untuk menambahnya di chapter selanjutnya. Semoga suka sama cerita ini~
Selamat membaca!
.
.
Author's POV
Perkenalan mahasiswa baru berakhir, menandakan masa aktif perkuliahan akan segera dimulai. Hari Senin, hari pertama Akashi akan mulai belajar di Universitas Tokyo, diawali dengan pagi yang mendung. Karena tidak mau mengambil resiko terguyur hujan saat dalam perjalanan, Akashi pun berangkat pagi meskipun jam pertamanya adalah jam sepuluh. Yah, tidak ada salahnya datang pagi, bukan?
Setelah sampai di depan gerbang universitas, Akashi turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih pada supir yang mengantarnya. Fakultas sains ada di gedung Y, entah singkatan dari apa. Sepertinya menarik, gedung Y ini berisi fakultas sains, hukum, dan tata boga. Tampaknya Akashi akan sering bertemu dengan Aomine dan Murasakibara nanti. Sambil membaca buku panduan tentang universitas, Akashi mencari peta kampus untuk mencari letak gedung Y dan lapangan indoor untuk seleksi klub basket nanti sore.
Akashi menyusuri berbagai lorong dan aula dalam perjalanannya menuju gedung Y. Ada beberapa taman yang dipenuhi rumput dan bunga. Sungguh pemandangan yang menenangkan. Ketika hendak berbelok dan menaiki tangga, Akashi mendengar pantulan bola basket. Dia segera menoleh ke sebelah kanan dan melihat ada sport hall. Tempat itu seluas lapangan futsal dan ada beberapa ring basket di beberapa pilar. Sepertinya ini sport hall multifungsi, tidak mungkin dipakai khusus oleh klub basket. Karena penasaran Akashi pun mengalihkan langkahnya menuju sport hall.
Akashi's POV
Hari pertama kuliah yang sangat indah, pikirku sambil menghela nafas. Senin pagi yang mendung, cukup menggoda siapa pun untuk melanjutkan kembali tidurnya. Akashi sudah biasa bangun pagi sehingga cuaca mendung itu tidak mempengaruhi kebiasaannya. Setelah membasuh diri dan sarapan, aku bersiap untuk berangkat. Supir setiaku sudah bersiap di mobilnya. Tidak ada salahnya datang pagi di hari pertama, bukan?
Selama perjalanan aku membaca buku panduan tentang universitas. Ada beberapa gedung kuliah, yang pastinya ada banyak kelas. Aku yakin akan segera terbiasa dengan lingkungan baru ini. Untuk latihan klub basket, mereka menggunakan lapangan indoor fakultas pendidikan jasmani. Aku sedikit tak paham dengan fakultas itu, setelah lulus apa pekerjaan mereka nanti. Mungkin guru olahraga? Apapun itu, aku tak sabar dengan kegiatan klub nanti sore.
Melihat nama gedung di buku panduan, aku berusaha mengingat sedikit letak fakultas teman-temanku. Aku di gedung Y, Kise di gedung C, Aomine di gedung Y, Midorima di gedung B, Murasakibara di gedung Y, dan Kuroko di gedung K. Sepertinya gedung Y akan menjadi gedung teramai karena ada tiga fakultas sekaligus di situ. Sesampainya di pintu gerbang, aku berpesan pada supirku agar tidak usah menjemputku. Aku tidak tahu kapan kegiatan klub selesai, jadi ada baiknya aku pulang sendiri daripada membiarkan orang tua menunggu lama.
Setelah mengetahui letak gedung Y, aku berjalan sambil menikmati pemandangan taman yang indah. Perjalananku terhenti ketika mendengar pantulan bola basket. Siapa yang bermain basket pagi-pagi seperti ini, pikirku. Karena penasaran, aku berbalik untuk mendekati sumber suara itu. Ah, ada sport hall ternyata. Cukup luas dan bersih, namun kurang cocok untuk pertandingan basket karena ada gangguan angin. Sport hall ini bisa dibilang semi-indoor, karena tidak tertutup seluruhnya namun masih ada langit-langit yang melindungi.
Hal yang kulihat ketika sampai di pinggir sport hall adalah bola basket yang melayang tinggi dan masuk ke ring dengan sempurna. Tembakan yang sempurna, pikirku. Aku mengalihkan pandangan ke arah orang yang menembakkan bola tadi. Gadis berambut coklat waktu itu. Aku menyadari satu hal, dan semakin terkejut. Tembakan tadi itu-
"Ah! Kau rupanya! Ohayou!" Gadis itu berseru dan bergegas mendekatiku. Mendekati bola basket yang sudah tergeletak diam, lebih tepatnya.
"Ohayou," balasku.
"Sedang apa kau pagi-pagi sekali di kampus?" Tanyanya sambil memeluk bola basket. Tampaknya itu bola pribadi, karena aku tidak melihat keranjang berisi bola.
"Aku dapat menanyakan hal yang sama denganmu."
"Maa.. Aku ada kelas jam sepuluh, namun cuaca pagi ini mendung dan aku tidak mau berangkat kehujanan. Lebih baik aku datang pagi dan latihan sebentar," katanya sambil tersenyum.
"Dari jam berapa kau latihan basket?"
"Etto.. Jam setengah enam mungkin?" Jawabnya sambil menggaruk kepala.
Gadis gila. Terlewat rajin, dia pikir ini SMA apa? Aku menghela nafas, lalu menatapnya. "Apa kau mendaftar di klub basket juga?"
"Iya, aku mendaftar di berbagai unit kegiatan juga selain klub basket. Universitas ini hebat sekali, ada banyak macam kegiatan menarik! Sayang aku tidak bisa mengikutinya semua," jawabnya.
Aku menunduk dan terkekeh. Gadis aneh, pikirku. Namun, ada yang ingin kupastikan dan ketika aku mengangkat kepala, dia sudah tidak ada di hadapanku. Are? Ke mana dia? Kulihat sekeliling sport hall dan menemukan dia sudah ada di pinggir dan hendak keluar. Dia berbalik dan melambai.
"Sampai ketemu lagi nanti!" Gadis itu pun segera menghilang dari pandanganku. Aku tertawa, benar-benar gadis yang aneh.
.
.
Akhirnya jam pun menunjukkan pukul 09.45. Aku pun beranjak dari bangku taman dan bersiap untuk pergi ke kelas.
"Akashi-kun."
Aku menoleh ke arah orang yang memanggilku. "Oh, Kuroko. Sedang apa kau di sini?"
"Aku baru saja selesai kelas. Tadi aku ada kelas pagi," jawabnya. Kuroko menatapku dan bertanya, "Kau sendiri sedang apa di sini, Akashi-kun?"
"Aku membaca buku sambil menunggu kelasku dimulai. Perpustakaan belum buka tadi pagi, jadi aku memutuskan membaca di sini," kataku sambil memasukkan bukuku ke dalam tas.
"Baiklah kalau begitu, sampai ketemu nanti sore, Akashi-kun. Jaa." Kuroko pun pergi menuju perpustakaan.
Baiklah, sudah saatnya aku pergi. Setelah memastikan di mana ruang kelasku dari jadwal yang sudah kucatat rapi, aku pun mencari ruang kelas itu. Y-0501. Sepertinya kelasku ini ada di lantai lima? Aku memencet tombol naik lift dan menunggu. Ketika lift terbuka, aku pun masuk dan memencet angka 5. Aku penasaran bagaimana kesannya akan kuliah hari pertamanya ini. Lift terbuka di lantai dua, tiga, dan empat. Banyak sekali mahasiswa yang mau naik ke atas, pikirku. Akhirnya, lift pun terbuka di lantai lima dan aku melangkah keluar. Suasana cukup ramai di lorong, mungkin mereka baru selesai mengikuti kelas sebelumnya.
Tebakanku benar, ruang kelasku ada di lantai ini, ruangan nomor satu. Aku pun membuka pintu kelas dan masuk. Mataku mencari tempat duduk yang strategis untuk mengikuti kuliah. Seperti dugaanku, tempat duduk di deretan depan masih kosong. Aku memilih tempat duduk dan menaruh tasku di samping meja. Tak lama kemudian, pintu kelasku terbuka dan-
"Ohayou!" Seru seorang gadis dengan riangnya saat memasuki kelas. Gadis berambut coklat.
Ya ampun, aku tak menyangka kalau aku satu fakultas dengannya, terlebih lagi satu kelas. Aku berusaha memasang tampang tak peduli, berharap dia tidak mengenaliku. Cukup memalukan bertindak heboh seperti tadi di depan banyak orang, dan aku tak mau disangka bodoh oleh orang lain.
"Ah! Si rambut merah!" Sial. Dia mengambil tempat duduk di sebelahku. "Tak kusangka kita sekelas," katanya sambil duduk.
Aku diam, tak tahu harus merespon apa. "Oh iya, kita belum berkenalan. Siapa namamu?" Gadis itu menyodorkan tangan kanannya. Mau tak mau aku pun menyambut tangannya.
"Akashi Seijuurou."
"Souka.. Sei-kun ya. Panggil saja aku Shiki. Yoroshiku ne, Sei-kun!"
Aku membelalakkan mata. Sei-kun? Berani sekali gadis ini langsung memanggil namanya. Terlebih lagi, terdengar seperti panggilan sayang pada teman akrab. Belum ada orang yang pernah memanggilnya seperti itu selain mendiang ibunya. Aku tak terima! Namun, saat aku hendak membuka mulut, pintu kelas terbuka dan dosen pun masuk. Uh, timing yang buruk sekali!
.
.
Kuliah pertama ini rasanya berjalan sangat lambat, padahal hanya dua jam. Aku tak bisa berkonsentrasi karena gadis ini. Siapa tadi namanya? Suki? Chiki? Aku tak terlalu mendengarnya karena terkejut dengan panggilan 'Sei-kun' itu darinya. Aku harus memperingatkannya nanti. Ketika waktu kelas pertama ini berakhir, gadis itu segera merapikan bukunya dan memasukkannya ke tas.
"Ano ne, Sei-kun," katanya sambil menatapku. "Mungkinkah selama satu semester ini kita sekelas terus?"
"Jangan panggil aku seperti itu," tegasku.
"Ehh kenapa?" Tanyanya sambil cemberut. "Aku hanya ingin kita berteman baik."
"Jangan bercanda. Aku tidak suka mendengarnya," gerutuku sambil keluar kelas meninggalkannya. Benar-benar gadis yang bikin sakit kepala.
Aku melihat chat group di ponselku. Sepertinya mereka akan menghabiskan waktu istirahat di kantin gedung M. Gedung M adalah gedung fakultas pendidikan jasmani. Mungkin mereka ke sana sehabis melihat lapangan basket indoor-nya? Tanpa pikir panjang aku pun menyusul mereka. Sesampainya di kantin, aku mencari orang-orang yang mencolok mata itu. Butuh waktu sebentar untuk menemukan sekelompok orang berkepala seperti pelangi itu. Aku tersenyum sesaat dan menghampiri mereka.
"Yo, Akashi!" Seru Aomine.
"Konnichi wa, Akashicchi!" Kise menyapaku dengan penuh semangat.
"Akachin, kau terlambat," kata Murasakibara sambil mengunyah makanannya.
"Bagaimana kelas pertamamu, Akashi?" Tanya Midorima sambil menaikkan kacamatanya.
"Kami sudah menyisakan tempat untukmu, Akashi-kun," kata Kuroko sambil menunjukkan tempat kosong disebelahnya.
"Terima kasih, Kuroko," kataku sambil duduk disebelahnya. "Kelas pertamaku baik-baik saja, bagaimana dengan kalian?" Kurasa aku tak perlu menceritakan gadis aneh itu kepada mereka.
"Kelas pertamaku nanti dimulai jam satu," kata Aomine.
"Kelasku baik-baik saja, Akashi-kun."
"Tadi aku belajar tentang bagaimana membuat cookie, Akachin."
"Maa.. Kelas seni ternyata akan ada penjurusannya nanti-ssu! Tadi aku hanya sesi perkenalannya saja."
"Sepertinya hanya aku yang memiliki jadwal padat selama satu semester ini, nanodayo," Midorima menghela nafas.
"Meskipun begitu, jadwal kuliah kita semua tidak ada yang bentrok dengan jadwal latihan basket, bukan?" Tanyaku pada semuanya. Mereka semua menggeleng, menunjukkan bahwa jadwal kuliah semester ini tidak mengganggu jadwal latihan.
Aku tersenyum puas, "Jaa, ayo kita tunjukkan yang terbaik nanti sore."
-to be continue-
Hi minna... Chun's here! Terima kasih telah me-review, membaca, memfavorit, dan/atau memfollow ff pertama saya ini.
Mohon review ya.. Kritik dan saran apapun akan sangat berguna untuk memotivasi saya.. :D
Please don't be a silent reader.. Press the "Review" button and write what are you thinking about this story. Thank you~
Salam sejahtera,
Shin Chunjin
