Disclaimer : Detektif Conan merupakan milik Gosho Aoyama.


Ruang Rindu

Cinta yang Tulus

By Enji86

Sore itu Shinichi berkeliling dengan mobilnya. Tidak ada lagi yang bisa dikerjakannya di kantor hari ini sehingga dia memutuskan untuk menelusuri jalanan Hokkaido. Ketika melewati suatu taman, Shinichi tidak sengaja melihat Suzuna yang sedang bermain bola di taman itu bersama dua temannya. Shinichi segera memarkir mobilnya dan berjalan menghampiri mereka. Shinichi tidak bisa menahan senyum di bibirnya ketika melihat kepiawaian Suzuna melakukan juggling.

"Halo, apa kalian masih ingat padaku?" tanya Shinichi.

Ketiga anak perempuan tersebut segera menoleh ke arah Shinichi.

"Om inspektur kan?" Suzuna balik bertanya.

"Oh iya benar, om inspektur yang di bawah jembatan itu" ucap Sakura.

"Yang tidak bilang apa-apa walaupun sudah kita tolong" ucap Nanako.

"Oi, oi! Mereka benar-benar mirip dengan anggota Shonen Tantei" pikir Shinichi.

"Yah, karena itulah aku ke sini untuk mengucapkan terima kasih karena berkat bantuan kalian, aku bisa mengalahkan penjahat itu" ucap Shinichi.

"Yay, kita mendapat pujian dari om inspektur. Kita memang hebat" ucap Sakura senang.

"Oh ya, kita belum kenalan. Nama kalian siapa?" tanya Shinichi.

"Aku Suzuna" jawab Suzuna.

"Aku Sakura" jawab Sakura.

"Aku Nanako" jawab Nanako.

"Baiklah, Suzuna-chan, Sakura-chan dan Nanako-chan, sebagai tanda terima kasih, bagaimana kalau aku mentraktir kalian es krim?" tanya Shinichi.

"Tentu saja" ucap ketiga anak perempuan itu serempak.

"Kalau begitu kita berangkat sekarang" ucap Shinichi.

"Eh, sekarang aku tidak bisa. Ibuku akan menjemputku sebentar lagi" ucap Sakura sambil melihat jam tangannya.

"Aku juga" ucap Nanako.

"Bagaimana kalau besok saja, om inspektur. Kita bisa pergi jam 3 sore" ucap Suzuna.

"Baiklah, besok saja kalau begitu" ucap Shinichi sedikit kecewa.

Tak lama kemudian ibu Sakura dan Nanako muncul untuk menjemput anaknya sehingga Suzuna hanya tinggal berdua dengan Shinichi.

"Apa ibumu telat menjemputmu hari ini?" tanya Shinichi.

"Oh, tidak. Ibuku tidak akan menjemputku karena ibuku baru pulang kerja ketika hari mulai gelap. Aku biasanya pulang sendiri" jawab Suzuna.

"Hmm, kasihan sekali. Kalau Suzuna tidak punya ibu, pasti dia sudah kuadopsi" pikir Shinichi.

"Memangnya apa pekerjaan ibumu?" tanya Shinichi.

"Ibuku seorang dokter" jawab Suzuna.

"Ooh, pasti ibumu sangat pintar ya?" ucap Shinichi.

"Tentu saja. Ibuku adalah wanita paling cantik dan paling pintar di dunia" ucap Suzuna dengan mata berbinar-binar.

"Sepertinya Suzuna sangat menyayangi ibunya. Aku jadi ingin bertemu dengan ibunya" pikir Shinichi.

"Hei Suzuna-chan, jika om ada waktu senggang, boleh nggak om menemanimu bermain di sini sampai ibumu pulang?" tanya Shinichi.

Suzuna kelihatan terkejut tapi kemudian dia tersenyum.

"Tentu" ucap Suzuna.

Lalu mereka berdua bermain bola bersama. Setelah mengobrol dengan Suzuna, Shinichi jadi tahu bahwa Suzuna saat ini duduk di kelas 2 SD dan Suzuna juga suka membaca Sherlock Holmes walaupun yang sudah dia baca hanya sedikit. Shinichi benar-benar merasa menjadi ayah Suzuna karena mereka berdua sama-sama suka sepakbola dan Sherlock Holmes. Mereka benar-benar cocok satu sama lain.

XXX

Shiho dan Suzuna sedang duduk di depan TV sambil makan malam.

"Ibu" panggil Suzuna.

"Apa sayang?" sahut Shiho.

"Akhir-akhir ini, aku senang sekali karena om inspektur hampir tiap hari menemaniku bermain sambil menunggu ibu pulang. Aku jadi tidak kesepian lagi" ucap Suzuna.

"Ooh, jadi itu sebabnya gadis kecilku ini kelihatan sangat gembira akhir-akhir ini?" tanya Shiho.

"Ya, begitulah. Om inspektur itu ahli melakukan juggling dan dia juga suka Sherlock Holmes" ucap Suzuna berseri-seri.

"Kok om inspektur itu terdengar familiar ya, seperti seseorang yang kukenal" pikir Shiho.

"Kalau begitu, kau harus mengajaknya makan malam kapan-kapan, sebagai ucapan terima kasih karena sudah menemanimu" ucap Shiho.

"Baiklah, nanti kutanyakan. Aku ingin sekali dia menjadi ayahku. Apa ibu mau menikah dengannya?" tanya Suzuna.

Shiho tidak bisa menahan senyum di bibirnya mendengar pertanyaan Suzuna.

"Kau ini ada-ada saja, Zuzu. Bertemu saja belum pernah, kau sudah menanyakan itu" ucap Shiho sambil geleng-geleng kepala.

"Ini sungguh ironis, di satu sisi Mizuki sangat tidak suka dengan inspektur itu, di sisi lain Suzuna sangat menyukai inspektur itu. Benar-benar aneh" pikir Shiho.

"Jadi kalau ibu sudah bertemu dengannya, ibu mau menikah dengannya?" tanya Suzuna.

"Hmm, bagaimana ya? Kita lihat saja nanti" ucap Shiho dengan senyum misterius. "Sekarang lebih baik habiskan makananmu, gadis kecil. Kau kan masih harus mengerjakan PR setelah ini"

Suzuna hanya mengangkat bahu dan meneruskan makan malamnya.

XXX

Sore itu, seperti biasa, Shinichi pergi ke taman untuk bermain dengan Suzuna, Sakura dan Nanako. Ketika Sakura dan Nanako sudah dijemput oleh ibunya, Suzuna juga ikut pamit.

"Maaf om inspektur, ibuku pulang telat hari ini karena ada operasi dan tidak sempat belanja sehingga ibuku memintaku belanja. Jadi aku harus pergi sekarang" ucap Suzuna.

"Kalau begitu, om akan menemanimu belanja, bagaimana?" tawar Shinichi.

"Hmm, baiklah" ucap Suzuna.

Mereka berdua berjalan menuju toko swalayan yang tidak jauh dari taman. Ketika Suzuna akan membayar, Shinichi menahannya.

"Biar om saja yang bayar" ucap Shinichi sambil mengeluarkan dompetnya.

Dompet itu tidak sengaja jatuh di dekat kaki Suzuna sehingga Suzuna memungutnya dan melihat foto seorang wanita berambut panjang berwarna hitam yang terlihat baik hati. Suzuna langsung bertanya-tanya dalam hati siapa wanita yang fotonya tersimpan di dompet om inspektur itu. Sepanjang perjalanan, Suzuna hanya diam saja dan ini membuat Shinichi menjadi bingung.

"Suzuna-chan, ada apa? Kok dari tadi diam saja?" tanya Shinichi sesampainya di depan pagar rumah Suzuna.

"Wanita yang fotonya ada di dompet om tadi itu siapa?" tanya Suzuna.

"Oh, itu istri om. Sekarang dia tinggal di Tokyo" jawab Shinichi.

"Begitu ya" ucap Suzuna.

Air mata mulai membasahi pipi Suzuna dan hal ini membuat Shinichi menjadi panik. Hatinya terasa sakit melihat Suzuna sedih dan menangis.

"Ada apa Suzuna-chan? Kenapa menangis?" tanya Shinichi.

"Kalau om sudah punya istri berarti om tidak bisa jadi ayahku" ucap Suzuna sambil terisak-isak.

"Suzuna-...chan..." ucap Shinichi.

"Aku benci om" seru Suzuna kemudian dia berlari masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Shinichi yang berdiri mematung karena syok. Dunia seperti sudah kiamat.

"Suzuna-chan bilang dia membenciku. Jadi selama ini dia mengharapkan aku menjadi ayahnya sama seperti aku mengharapkannya menjadi anakku? Tapi aku tidak bisa. Aku sudah punya istri yaitu Ran. Maafkan aku Suzuna-chan. Maaf. Tolong jangan bilang kau membenciku, jangan membenciku, Suzuna-chan, aku mohon" ucap Shinichi dalam hati.

Setelah berdiri mematung selama beberapa saat, akhirnya Shinichi menyeret kakinya menuju mobilnya yang terparkir di dekat taman. Setelah itu dia menyetir kendaraannya kembali ke rumah.

XXX

Malam itu, Suzuna menangis di pangkuan ibunya.

"Dia tidak bisa jadi ayahku. Dia sudah punya istri. Aku benci sekali padanya, Bu. Aku benci" ucap Suzuna.

Shiho hanya menghela nafas mendengar ucapan Suzuna. Waktu Taka meninggal, Suzuna juga bilang bahwa dia benci pada Taka karena telah meninggalkannya. Namun setelah beberapa hari, Suzuna sudah kembali tenang sehingga Shiho bisa membuatnya mengerti mengapa ayahnya harus pergi meninggalkannya. Jadi sekarang, Shiho hanya tinggal menunggu beberapa hari sampai Suzuna tenang sehingga Shiho bisa memberi pengertian padanya.

"Aku tidak mau bertemu dan bicara dengannya lagi" ucap Suzuna.

Shiho mengelus rambut Suzuna dengan sayang. Gadis kecilnya sedang patah hati dan sebagai ibunya, Shiho harus berusaha membuatnya tenang.

Setelah lelah menangis, Suzuna tertidur di pangkuan Shiho. Shiho menggendong Suzuna dan membawanya ke kamarnya, menyelimutinya dan mencium keningnya.

"Sweet dream, Zuzu" ucap Shiho kemudian melangkah keluar kamar Suzuna dan menutup pintunya.

XXX

Hari-hari selanjutnya, Suzuna tidak mau lagi bicara atau menatap Shinichi. Hal ini benar-benar membuat Shinichi sedih. Ketika Ran datang pada akhir pekan, Shinichi tetap murung sehingga membuat Ran bingung.

"Sayang, kau kenapa? Kau kelihatan tidak senang? Apa kau tidak suka aku datang ke sini?" tanya Ran.

"Tentu saja tidak. Hanya ada sedikit masalah pekerjaan" jawab Shinichi.

"Begitu? Mungkin kau bisa cerita padaku biar kau lega" ucap Ran.

"Ah, bukan masalah besar kok. Jadi tidak apa-apa" ucap Shinichi.

Karena Shinichi tidak mau cerita, Ran berusaha menghibur Shinichi dengan cara yang dia tahu tapi semuanya gagal dengan sukses. Shinichi hanya tersenyum sekilas pada usahanya kemudian kembali murung. Akhirnya Ran pulang ke Tokyo dengan berat hati.

XXX

Shiho memutuskan untuk bicara dengan Suzuna beberapa hari kemudian karena dia sudah tidak tahan dengan Suzuna yang murung setiap hari.

"Zuzu, bisa kita mengobrol sebentar?" tanya Shiho.

"Tentu" jawab Suzuna.

"Kenapa akhir-akhir ini kau murung terus?" tanya Shiho.

"Tidak. Aku tidak murung kok" jawab Suzuna sambil memperlihatkan senyumnya yang paling manis sehingga Shiho tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum juga.

Shiho menarik Suzuna ke dalam pelukannya.

"Zuzu sayang, mana yang lebih kau sukai, merasa bahagia atau merasa sedih?" tanya Shiho.

"Tentu saja merasa bahagia" jawab Suzuna.

"Terus kapan kau merasa bahagia, ketika bermain dan mengobrol dengan om inspektur atau ketika kau menjauhinya?" tanya Shiho lagi.

Suzuna diam sejenak sebelum menjawab.

"Aku rasa saat aku bermain dan mengobrol dengan om inspektur" jawab Suzuna.

"Kalau begitu kau harus berhenti menjauhinya dan bermain dengannya lagi" ucap Shiho.

"Tapi dia tidak bisa jadi ayahku. Lagipula aku sudah memutuskan untuk menjauhinya" ucap Suzuna.

"Zuzu sayang, dalam hidup, kau harus mengambil keputusan yang benar. Keputusan yang benar itu adalah keputusan yang membuatmu bahagia. Kalau keputusanmu membuatmu sedih, berarti keputusan itu salah. Kau ingat kan pesan ayahmu untuk mencintai orang lain dengan tulus tanpa pamrih. Dan kalau cintamu tulus, kau akan tetap menyayangi dan bermain dengan om inspektur walaupun dia tidak bisa jadi ayahmu" ucap Shiho.

"Aku ingat pesan ayah. Aku akan berusaha mencintai om inspektur dengan tulus dan mengambil keputusan yang benar" ucap Suzuna.

"Bagus kalau kau mengerti dan kau juga harus berhenti murung, oke? Ibu tidak suka melihatnya" ucap Shiho.

"Roger, Bu" ucap Suzuna kembali ceria.


Catatan Penulis :

Salam ide untuk cheeky, amelia, 4869, kiara, Nachie-chan, shirayuki nao, Toksin bodoh, RunaRin, Meiko Hoshina, reno, kazumi sii ankatsu, edogawafirli!

cheeky : trims buat idenya, aku tampung dulu tapi mungkin idenya kupakai untuk cerita selanjutnya coz plot cerita ini aku buat sesederhana mungkin. Atau mungkin ingin kamu tulis sendiri? Ayo menulis!

amelia : semua pertanyaanmu akan terjawab di chapter-chapter selanjutnya so staytune!

4869 : cekidot di chapter-chapter selanjutnya!

kiara : Gimana? Sudah akrab kan? Mau tahu yang selanjutnya? Keep reading!

Nachie-chan : Fic ini kubuat se-white mungkin jadi kalaupun ada perselingkuhan, cuma slight aja. He he he.

shirayuki nao : lewat PM.

Toksin bodoh : Wah, benar-benar penuh konflik. Trims untuk idenya, tapi karena ini white fic, perselingkuhannya cuman slight, nggak bold. Dan aku pribadi emang nggak suka sama yang selingkuh-selingkuh gitu. He he he. Atau mau ditulis sendiri? Ayo menulis!

RunaRin : Dijamin makin penasaran (narsis mode on).

Meiko Hoshina : Shinichi emang egois kok. Kalau tentang tanda baca, maaf beribu maaf, aku masih belum bisa ngubah kebiasaanku itu. Tolong maklumi penulis aneh satu ini.

reno : wah, ikut main tebak-tebakan juga? Kalau mau tahu jawabannya, baca terus chapter-chapter selanjutnya, oke?

kazumi sii ankatsu : Usulmu yang nomer dua sudah dikabulkan di chapter ini. Usul yang lain? Who knows?

edogawafirli : I won't tell you. Just read the story. He he he.

Hmm, karena sepertinya para pembaca sudah pada nggak sabar Shinichi dan Shiho ketemuan, gimana kalau chapter depan aku mempertemukan mereka? Tapi gimana caranya ya? Yah, selamat berjuang otakku tersayang!