White Lies © ddideubeogeo17
.
.
.
Hana
Dul
Set
Enjoy it~
.
.
.
"Andwae. . ."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
DUK
DUK
DUK
"Andwae. . ."
Mingyu benar-benar terkejut, ia merasakan pipinya basah oleh air mata. Tangannya mengusap air mata dengan perlahan, jantungnya masih berdebar dengan begitu kencang.
DUK
DUK
DUK
Mingyu tersentak kaget, ia menolehkan wajahnya ke samping dan,
"UWAHHHHH! YA TUHAN!" Mingyu segera menurunkan kaca mobil sisi kanan,
"Yak! Apa yang kalian lakukan? Jangan begitu lagi!"
'Apa-apaan menempelkan wajah di kaca mobil begitu, mengejutkan saja!' rutuk batin Mingyu namun tangannya membukakan kunci pintu.
Dua sosok yang masih terkekeh pun masuk dan duduk dengan wajah tanpa merasa bersalah sedikitpun, lelaki manis berkulit putih duduk tepat di samping pengemudi sedangkan anak lelaki yang berusia paling muda diantara ketiganya duduk di bangku belakang. Mereka berdua melakukan high five penuh kemenangan.
Mingyu masih merutuk, ia benar-benar merasa sebal.
"Aigoo kau kenapa? Habis menangis?"
"Eoh? Siapa yang menangis?"
"Itu appamu, Minwoo-ya."
"Woah, jinjja?! Ahahaha wae~? Apa terlalu merindukan kita atau karena kita mengejutkannya eomma?"
"Entahlah." Dengan acuh, lelaki manis tersebut mengendikan bahunya tak peduli dan mulai menyalakan radio.
"Hei, kenapa tidak jalan?"
"Aish! Kau bicara seolah-olah aku ini supir kalian!" mood Mingyu benar-benar sudah hancur ternyata. Ia memasang wajah cemberutnya, dimana justru hal itu malah menimbulkan ledakan tawa dari sosok yang dipanggil Minwoo tadi.
"Ahahaha appa kenapa sih? Kok sentimen sekali?"
". . ."
Namun bukannya menjawab, Mingyu malah memilih mengabaikan pertanyaan anak semata wayangnya yang sudah menginjak usia enam tahun tersebut.
"Appa?" tanya bocah lelaki itu. Ia heran, sebab ia dan appanya bisa dibilang partner in crime dalam melakukan berbagai lelucon, dan menjahili appanya sesekali seperti barusan tentulah bukan hal yang keterlaluan.
"Minwoo-ya?"
"Ne eomma?"
"Tidur saja ya? Kan acara berkemah semalam membuat Minwoo kurang tidur karena mengikuti segala kegiatan yang ada, nanti jika sudah sampai rumah eomma akan bangunkan. Oke?"
"Oke, eomma." tanpa bertanya apapun, Minwoo mengikuti perintah sang eomma.
Karena memang ia baru saja melakukan kegiatan berkemah selama tiga hari dua malam, tentu sang ibu ikut menginap karena bagaimanapun juga kegiatan itu hanya sekadar untuk mengenalkan alam bebas pada anak-anak sejak usia dini. Bukan seperti acara pramuka anak remaja yang mengharuskan pesertanya menjadi anak mandiri.
Nyatanya kegiatan itu cukup melelahkan, terbukti baru beberapa menit berlalu sudah terdengar deru napas teratur dari Minwoo yang menandakan pemiliknya sudah terbang ke alam mimpi.
Lelaki yang berperan sebagai eomma di mobil tersebut pun mematikan radio yang sedari tadi menyala, membuat mobil dalam sekejap diliputi keheningan.
Tangan rampingnya mengusap bahu hingga lengan kanan atas Mingyu, "Ada apa, hm? Maaf jika kau merasa kesal akan sikapku dan Minwoo. Kami tidak bermaksud begitu, Mingyu-ya."
Mobil mereka berhenti di persimpangan jalan saat lampu lalu lintas berwarna merah, sebelah tangan Mingyu menggenggam tangan lawan bicaranya dan mengecupnya lembut. Mereka saling diam hingga akhirnya Mingyu menolehkan wajah, memaku pandangannya pada wajah manis sosok tersebut, "Maaf Wonwoo hyung, sebenarnya aku tidak benar-benar kesal. Hanya saja–"
TIN TIIINNNN
Mingyu berdecak kesal saat melihat lampu sudah berpindah warna menjadi hijau, dan orang-orang yang tidak sabaran di belakangnya sudah membunyikan klakson.
Melihat Mingyu seperti itu, Wonwoo pun mengelus lembut tangan Mingyu, "Lanjutkan di rumah saja, oke appanya Minwoo?" ujarnya disertai senyum lembut yang begitu manis.
Kalau sudah begitu, tentu saja Mingyu langsung luluh. Dengan berat hati ia melepaskan genggamannya dan mengembalikan fokusnya pada setir mobil.
Tak butuh waktu lama mereka pun tiba di sebuah rumah yang begitu megah. Mingyu turun dari mobil dan membuka pintu bagian penumpang. Dengan perlahan ia menggendong putra tunggal kesayangan hasil buah cintanya bersama sang istri tercinta.
Tentu saja kesayangannya, buktinya di hari kamis yang jelas-jelas masih hari kerja begini Mingyu rela absen dari kantornya untuk menjemput dua orang tercinta dalam hidupnya. Tidak masalah sebenarnya, toh ia CEO dari perusahaan yang didirikannya sendiri.
Dengan perlahan Mingyu menapaki anak tangga menuju lantai dua, membuka pintu kamar sang anak dan meletakannya dengan perlahan di atas ranjang. Mengusap rambutnya pelan dan mengecup dahinya lama. "Appa menyayangimu Minwoo-ya. Saranghae jagoan appa."
"Ehem."
Mendengar deheman seseorang, Mingyu menolehkan wajah dan mendapati Wonwoo yang tengah bersandar di pintu berjalan menghampirinya. Lalu Wonwoo melepaskan dasi, kaos kaki, dan berbagai atribut di tubuh sang putra, hanya menyisakan baju atasan dan celana seragam. Ia pun merunduk dan mengecup wajah Minwoo, "Eomma juga sangat menyayangi Minwoo. Tidur yang nyenyak, ne?"
Setelahnya sepasang orangtua muda itu pun berlalu dan menuju kamar mereka. Jam sudah menunjukan pukul 5 sore, masih tersisa dua jam sebelum masuk waktu makan malam.
"Apa tidak apa-apa Minwoo tidur dengan masih mengenakan seragam begitu?" tanya Mingyu, khawatir jika anaknya tertidur dengan memakai pakaian kotor. Takut jika anaknya tidak nyaman dan tidak menutup kemungkinan bisa saja terserang penyakit.
"Tidak apa, ia baru ganti dengan seragam itu. Sebelum pulang tadi anak-anak memang mandi terlebih dahulu."
"Oh, begitu."
"Aigoo appanya Minwoo sangat protektif eoh?" kekeh Wonwoo sambil mencubit sebelah pipi Mingyu. Mingyu hanya mendesah pelan, "Tentu saja, memangnya tidak boleh?" sewot Mingyu sambil mengelus tangan Wonwoo yang masih mencubit pelan pipinya.
Wonwoo tidak merespon apa-apa, ia masih sibuk mencubiti pipi suaminya.
"Ish hyung sudaaahhh~" rengek Mingyu. Ia pun memilih mendudukan dirinya dan bersandar di dashboard ranjang, tangannya memeluk pinggang ramping Wonwoo dan memangku tubuh ringan istrinya.
Karena tidak nyaman dengan posisi duduk miring, Wonwoo pun mengangkat sebelah kakinya hingga ia berhadapan dengan Mingyu –masih dalam posisi dipangku.
Wonwoo memeluk leher Mingyu dengan kepalanya terkulai di bahu kanan sang suami. Ia menyenderkan sebelah pipinya hingga mendapatkan posisi ternyaman.
"Jadi ada apa denganmu tadi, hm?"
Mingyu tidak segera menjawab, tangannya mengeratkan pelukan pada tubuh Wonwoo dan mengelus punggung pasangan hidupnya. Mencari ketenangan dan meresapi kehangatan yang melingkupi keduanya, sebelum akhirnya ia menarik napas dan berkata, "Aku tadi bermimpi."
"Eoh? Pasti mimpi buruk ya?"
Mingyu mengangguk pelan.
"Seburuk itu kah?"
"Yeap, amat sangat buruk."
"Tentang apa?"
"Tentangmu."
"Aku? Memangnya di mimpimu, aku kenapa?"
Mingyu menggunakan sebelah tangannya mengusap kepala Wonwoo yang masih bersandar di bahunya dan sesekali mengecupi surai halus Wonwoo yang terasa begitu harum dan mampu menyaluran ketenangan.
"Kau. . ."
"Apa Mingyu-ya? Katakan saja." Jawab Wonwoo, tangannya yang masih melingkari leher Mingyu dialih fungsikan, ia mengusap sayang belakang kepala lelaki berkulit tan itu.
"Aku bermimpi saat masa pertemuan pertama keluarga kita, kau menolak ku lalu melarikan diri. Dan terjadilah insiden dimana kau tertabrak mobil,"
Mingyu memberi jeda pada kalimatnya, terasa berat melanjutkan. Matanya terasa memanas membayangkan isi mimpinya tadi, "Tu-tubuhmu penuh dengan darah. Aku, aku hanya mampu memangku tubuhmu tanpa bisa berbuat banyak. Dan da-darahmu itu memenuhi pakaianku, sangat banyak. Aku–"
Wonwoo mengusap air mata Mingyu yang entah sejak kapan sudah menganak sungai, "Lalu?"
". . ." Mingyu ingin menjawab namun entah hilang kemana suaranya, tenggorokannya benar-benar tercekat.
"Jika sudah tidak sanggup, sudah ya. Tidak usah diceritakan." Wonwoo pun memeluk erat Mingyu.
"Aku menunggu di koridor rumah sakit, berdoa setulus hatiku pada Tuhan. Berharap kau selamat dan– hiks Ya Tuhan kenapa aku cengeng sekali!" rutuk Mingyu di sela cerita dan tangisnya.
Wonwoo hanya terkekeh, sudah hafal tabiat kekanakan Mingyu yang hanya ditujukan pada keluarganya saja.
"Dan di mimpimu aku tidak bisa diselamatkan, begitu kan?"
"Hm. Bagaimana kau tahu?" Mingyu sibuk dengar air matanya sendiri, ia merasa sangat sesak mengingat isi mimpinya tadi.
"Hanya menebak, itu seperti cerita klasik. Kim Mingyu, sekarang lihat aku." Wonwoo menangkup kedua pipi Mingyu dan mengusap air matanya perlahan. Sepasang matanya yang begitu tajam tepat mengunci netra Mingyu, membuat yang ditatap tidak bisa berkutik.
"Bersyukurlah itu semua mimpi, oke? Hanya bunga tidur, sudah jangan menangis lagi. Tidak malu pada Minwoo, hm?"
Mingyu masih terdiam, belum ada niatan untuk menjawab.
"Tapi membicarakan tentang itu, aku jadi merasa sebal lagi padamu tahu!" ketus Wonwoo.
Bola mata Mingyu sontak melebar, ia langsung menggenggam sepasang tangan kurus Wonwoo yang masih berada di kedua pipinya.
"Hyung maaf! Sungguh, apa kau masih memendam rasa marah padaku?" tanya Mingyu dengan memasang wajah memelas.
.
.
.
Ya, memang mimpi Mingyu berasal dari kejadian nyata, hanya berbeda di akhirnya saja.
Pertemuan pertama Mingyu dan Wonwoo memang karena sebuah insiden, dimana Mingyu yang tengah melarikan diri dari para pengawal orangtuanya tanpa sengaja menabrak sosok lelaki manis. Karena panik, tanpa pikir panjang otak Mingyu dengan spontan membuat skenario yang bahkan tidak pernah terbayang akan dilakukannya.
Meskipun ekspresi wajahnya datar tetapi Wonwoo sebenarnya merupakan lelaki lugu yang begitu baik, tidak heran jika ia menelan bulat-bulat bualan Mingyu saat itu.
Sesungguhnya bukan maksud Mingyu untuk berbohong pada Wonwoo dengan berpura-pura menjadi lelaki tunanetra, itu semua ia lakukan demi kebaikan.
Karena Mingyu pikir, 'Jika aku mengakui siapa diriku yang sebenarnya, lalu dia tahu aku anak seorang pengusaha sukses, tidak menutup kemungkinan nantinya dia akan memanfaatkanku, kan? Dan pasti dia akan mencari keuntungan dariku.' batinnya berprasangka buruk.
Sebab jika bersembunyi di hotel, villa, atau tempat semacam itu keberadaannya pasti mudah dilacak, jadi satu-satunya jalan yaitu menumpang sementara di tempat tinggal Wonwoo.
Mingyu memang sedang dalam masa pelarian, ia tidak ingin dijodohkan oleh kedua orangtuanya. Sekalipun orangtuanya berkata jika calon pasangannya itu merupakan anak dari sahabat keduanya dan bisa menjamin kebahagiaan untuk Mingyu, namun ego Mingyu yang begitu tinggi jelas saja memberontak, menolak segala penjelasan bahkan enggan melihat foto calon pasangan yang akan ibunya perlihatkan.
Sedangkan Wonwoo, ia sesungguhnya anak dari salah satu pebisnis tersukses di Korea Selatan, namun tidak seperti anak konglomerat pada umumnya yang seringkali hidup dengan gaya hedon, Wonwoo justru hidup dengan penuh kesederhanaan.
Dan dengan pikiran naifnya Wonwoo berharap akan mendapatkan sosok yang mencintai ia apa adanya, meskipun Wonwoo hanya lelaki yang tinggal di flat sederhana dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Cinta bisa muncul karena terbiasa, kan?
Dan itulah yang terjadi pada Wonwoo, ia mulai terbiasa dengan kehadiran Mingyu dan tanpa sadar bunga-bunga mulai tumbuh mekar di paru-parunya. Wonwoo menyukai sensasi itu sebab tidak hanya di paru-parunya, tapi hampir seluruh organ di tubuhnya bersatu padu membuat sensasi asing nan menyenangkan yang baru kali ini Wonwoo rasakan dan itu hanya berlaku pada Mingyu.
Sedangkan Mingyu?
Sejak pertama kali melihat Wonwoo, ia memang sudah jatuh cinta. Bahkan ia menertawakan dirinya sendiri yang kerap kali meremehkan kisah romansa klasik khususnya istilah 'Love at The First Sight', karena nyatanya sekarang ia terkena karma dan merasakan sendiri hal tersebut.
Sebenarnya Wonwoo sudah mengetahui jika Mingyu hanya berpura-pura, sejak ia membuang sampah di belakang café pada malam hari itu. Bisa dilihatnya dengan jelas Mingyu yang tengah berjalan santai sendirian tanpa alat bantu apapun dan melangkah dengan penuh keyakinan.
Wonwoo kecewa, sangat. Namun ia adalah sosok yang berpikiran dewasa, membuatnya berpikiran jernih dan positif. Ia yakin Mingyu pasti memiliki alasan yang kuat, Wonwoo pun menunggu penjelasan Mingyu. Namun sayangnya sosok tersebut tidak juga jujur padanya.
Saat larut dalam kekecewaan, Wonwoo justru mendapat telepon dari ibunya dan lagi-lagi ia dipaksa untuk menghadiri jamuan makan malam. Padahal Wonwoo yakin itu hanya modus ibunya untuk menjodohkan ia dengan anak sahabat orangtuanya. Wonwoo akhirnya menyetujui saja, ia bertekad akan menolaknya.
Dan. . .
Takdir Tuhan siapa yang tahu, benar kan?
Jika dikatakan kebetulan, memang begitu klise. Hampir menyerupai kisah-kisah di novel yang pernah Wonwoo baca. Dimana ternyata sosok yang akan dijodohkan dengannya adalah Mingyu, dan Mingyu sendiri memang menyetujui untuk datang setelah ia membuka pesan dari ibunya dan melihat foto calon pasangannya.
Terkejut?
Jelas.
Tapi lebih dari itu, Mingyu menyesal.
Sangat menyesal.
Kenapa tidak dari awal saja ia melihat foto itu karena pasti detik itu juga ia akan langsung menyetujui rencana perjodohan yang dibuat orangtuanya. Namun mengingat kebohongannya pada Wonwoo, ia yakin lelaki berhati malaikat itu pasti akan kecewa berat padanya.
Tapi memang pada dasarnya Mingyu itu pantang menyerah, ia pun bertekad akan meluluhkan hati Wonwoo bagaimanapun caranya.
Ia hanya mau Jeon Wonwoo yang menjadi pasangan hidupnya hingga ajal menjemput.
Dan benar saja tebakannya, Wonwoo pada awalnya terlihat akan menolak namun setelah para orangtua memberi usul untuk melakukan pendekatan dan keputusan akhir tergantung keduanya, Wonwoo pun menerima usulan itu.
Hingga pada saat jamuan makan malam itu akan berakhir, Mingyu membeberkan kebohongannya dan meminta maaf yang sebesar-besarnya.
"Ehem, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Eoh? Katakan saja, Nak." kata ayah Wonwoo ramah. Mingyu menelan ludahnya, berusaha menguatkan diri. Ia berdiri dan membungkuk dalam,
"Aku, Kim Mingyu, meminta maaf yang sebesar-besarnya karena sebenarnya sebelum ini aku sudah mengenal Jeon Wonwoo bahkan menumpang tinggal di tempatnya. Aku berpura-pura menjadi lelaki tunatetra dengan nama Lee Mingyu. Aku benar-benar sudah berbuat bodoh dan membuat kesalahan fatal dengan memanfaatkan kebaikannya. Aku mohon maaf."
Para orangtua disana sontak terbelalak, bahkan Mingyu langsung mendapat pukulan bertubi-tubi dari sang ibu dan ucapan tajam dari sang ayah. Kedua orangtua Mingyu pun ikut meminta maaf pada keluarga Jeon yang duduk tepat di depan mereka.
Wonwoo hanya merespon seadanya karena masih terkejut dengan keadaan yang baru saja dialaminya. Sementara Tuan dan Nyonya Jeon mengangguk pelan, masih mencerna ucapan Mingyu.
Mental breakdown.
Istilah yang tepat untuk menggambarkan suasana hati orangtua Wonwoo, sementara sang anak hanya terdiam. Namun berkat kegigihan putra tunggal keluarga Kim tersebut, pada akhirnya Wonwoo si baik hati pun luluh dan memberi kesempatan pada lelaki tinggi bernama Kim Mingyu itu.
.
.
.
Wonwoo pun mengusap kedua pipi Mingyu yang tanpa sadar sudah dialiri air mata. Dengan lembut dikecupnya kedua mata basah sang suami, "Ujujuju~ Jangan menangis. Sudah ya? Jeonsan disini, di depan mata Mingyunie dalam keadaan sehat jadi lupakan mimpi buruk itu, arrachi?"
Air matanya masih berlinangan namun tak dapat dipungkiri bibirnya melengkung membentuk senyuman lebar saat mendengar perkataan manis Wonwoo.
"Aiiiing~ baby Mingyunie uljimarayo~"
"Ahahaha hiks"
Wonwoo tergelak melihat Mingyu yang tertawa sambil menangis, benar-benar seperti bocah seumuran Minwoo.
"Cengengnya appa Minwoo. Tidak malu jika dilihat anaknya, hm?"
"Ah hyuuung~" Mingyu memeluk Wonwoo erat dan menenggelamkan wajahnya di leher Wonwoo. Wonwoo sendiri hanya terkekeh dan memeluk balik Mingyu.
"Hyung, maaf atas semua perbuatanku dulu. Kau harus tahu jika aku mencintaimu, amat sangat mencintaimu." Mingyu mengecup bibir merah Wonwoo, berawal dari sekadar menempelkan dua pasang belahan daging kenyal itu, hingga berlanjut ke ciuman yang lebih intens dan begitu intim.
"Eunghhh~ Minghmmppp"
Desahan Wonwoo sukses menaikkan libidonya, membuat hormon Mingyu seketika melonjak aktif dan ia makin gencar memperdalam ciumannya. Lidahnya sudah mendominasi milik Wonwoo, menyesap rasa manis yang sudah begitu familiar sejak beberapa tahun terakhir.
"Minghmmpp sud-eunghhhh!"
Wonwoo refleks mengerang keras saat tangan nakal Mingyu mulai meremas bokongnya, sepasang suami istri itu begitu sibuk dengan kenikmatan yang keduanya rasakan hingga,
TOK
TOK
TOK
"EOMMAAAAA APPAAAAA"
"Minghmmpp"
TOK
TOK
"EOMMA? APPA? PINTUNYA DIKUNCI TIDAK? MINWOO MASUK YA?!"
PLAK
"Eoh? Ne? Tunggu sebentar Minwoo-ya." Wonwoo dengan gerakan super cepat segera menyingkir dari pangkuan Mingyu setelah memukul bahunya, dan ia siap menyambut sang jagoan.
"Aigoo Minwoo sudah bangun lagi, hm? Eomma kira Minwoo akan tertidur hingga jam makan malam." ujar Wonwoo dengan senyum manis tersemat di bibirnya.
Sedangkan Mingyu jadi sebal sendiri karena merasa jika kegiatan menyenangkannya dengan Wonwoo harus diinterupsi oleh sang anak. Ia benar-benar merajuk.
Minwoo mendekati kedua orangtuanya, menaiki ranjang dan duduk dipangkuan Mingyu, lalu ia memeluk leher Mingyu. Posisinya persis seperti Wonwoo tadi.
Sontak saja hal itu membuat kedua orangtuanya saling bertatapan heran, karena meskipun Minwoo anak tunggal, pada kenyataannya ia sangat pintar dan mandiri.
Jadi bertingkah manja seperti ini termasuk hal yang langka, belum lagi ditambah sikapnya yang terkadang tsundere, tidak jauh berbeda dengan ibunya meskipun secara fisik gen sang ayah yang mendominasi.
"Iya eomma, Minwoo terbangun dan saat terbangun Minwoo teringat appa."
"Eoh? Appa? Kenapa?" tanya Mingyu sambil merengkuh erat tubuh putranya. Runtuh sudah rasa sebalnya, bagaimanapun juga Mingyu tidak akan bisa mengabaikan si tampan cilik kesayangannya.
"Minwoo rindu appa, sudah dua malam tidak mendapatkan cium dan peluk dari appa sebelum tidur." ujar Minwoo dengan begitu lugu.
"Aigoo pantas kemarin Minwoo membicarakan appa terus." ujar Wonwoo sambil mengelus sayang kepala sang buah hati.
"Eoh? Minwoo bicara apa?"
"Sssttt eomma kenapa mengadu pada appa~?" rengek Minwoo.
"Jadi coba eomma tolong jelaskan pada appa, si little Kim ini bicara apa saja?" tanya Mingyu, berniat menggoda Minwoo.
"Tiap ada kesempatan pasti Minwoo akan berkata pada teman-temannya 'Appaku sangat tampan dan ia jago memasak makanan yang Minwoo suka, rasanya juga sangat enak. Kalian harus mencobanya!' atau 'Appa Minwoo sangat baik, pokoknya appa juga asik diajak bermain!' Hmm apalagi ya? Terlalu banyak appa, eomma tidak ingat." jawab Wonwoo menggoda putranya juga.
Ia tahu jika sifat anaknya setipe dengan dirinya, terlihat jelas dengan kepalanya yang menyusup di leher Mingyu, dan terdengar gerutuan kecil. Tentu saja si tampan Minwoo itu tengah menyembunyikan rasa malunya.
"Omona! Jagoannya appa, kenapa begini hm? Hahaha jangan malu, hei sini lihat appa." Mingyu menarik lembut bahu sang putra guna memberi jarak bagi keduanya, Mingyu mengusap sayang poni Minwoo.
"Appa juga sangat sangaaattttt merindukan Minwoo. Minwoo masih beruntung bersama eomma dan teman-teman Minwoo, bagaimana dengan appa yang ditinggal sendiri tanpa si manis eomma dan si tampan cilik ini, hm? Coba bayangkan, appa sangat kesepian. Bahkan setiap harinya saat bekerja pun appa selalu merindukan eomma dan Minwoo, jadi Minwoo tidak usah malu, ne? Appa sangat menyayangi Minwoo. Saranghae~" Mingyu menutup kalimatnya dengan memberi kecupan manis diseluruh wajah putranya, dan menyematkan ciuman terlama di dahi. Menyalurkan kehangatan dan kasih sayang tulus seorang ayah.
"Minwoo juga sangat menyayangi dan mencintai appa!" Minwoo menekan kedua pipi sang ayah hingga mengerucut lalu menyematkan popo singkat dan kemudian menyembunyikan –lagi– wajahnya di ceruk leher Mingyu.
"Jadi tidak ada yang menyayangi eomma ya?" Wonwoo pun mengerucutkan bibirnya, merajuk.
Tentu saja itu hanya akting semata, sebab pada kenyataannya hatinya justru terasa menghangat melihat interaksi kedua sosok di depannya.
Mingyu dan Minwoo saling lirik, lalu mereka saling melempar senyum jahil sebelum pada akhirnya,
"Ahahaahahaha yak ahaha sud-ahaha sudah! Aigoo haha jeb-ahaha-jebal!"
Terdengar pekikan tawa dari tiga sosok di atas ranjang pada petang itu. Mingyu dan Minwoo menggempur Wonwoo dengan kelitikan di bagian sensitif tubuhnya seperti leher, perut, dan telapak kaki.
Jarum jam terus berotasi, terdengar sisa-sisa tawa dari ketiganya. Mereka tengah berbaring berdampingan dimana Wonwoo berada di tengah, dan tiba-tiba saja pipi kanan dan kirinya mendapat ciuman sayang dari Mingyu dan Minwoo. Membuat Wonwoo terkejut dan tersenyum tulus saat mendengar keduanya berkata,
"Kami mencintaimu eomma~" Wonwoo terkekeh saat merasakan pelukan erat dari kedua orang tersebut melingkar di perutnya.
"Eomma juga mencintai kalian~" ucap Wonwoo tersenyum begitu manis hingga menimbulkan kerutan yang begitu lucu di hidungnya.
.
.
.
Mingyu sangat menyesali perbuatan bodohnya yang pernah melakukan kebohongan besar.
Meskipun ia tidak bermaksud buruk,
namun tetap saja suatu kebohongan pasti akan menimbulkan kebohongan lainnya.
Melalui mimpi buruk,
Mingyu merasa sangat bersyukur pada Tuhan sebab kisahnya tidak berakhir dengan tragis.
Karena pada kenyataannya sebagian besar kebohongan akan berujung pada kesengsaraan,
meskipun kebohongan tersebut diselimuti dalih 'demi kebaikan'.
Maka tentulah pilihan bijak jika kita menggunakan opsi jujur –sepahit apapun itu.
.
.
.
.
.
THE END
*Yoohooo kkeut! Esvi ga pernah bosen-bosennya bilang makasih buat semua yang udah baca, fav, follow, apalagi yang nyempetin review /deep bow/
**Mind to RnR –again? Gomawo^^
BIG THANKS TO :
nikeagustina16 | jeononu | Rizki920 | Firdha858 | Park RinHyun-Uchiha | seira minkyu | itsmevv | kono Ouji sama ga inai | Yeri960 | Snowzy . Meanie | tfiiyy | 7D
