Keluarga
By Rakshapurwa
Rate: T
Warning: Kumpulan drabble, Hintshounen-ai, Hint Incest dan OOC
Disclaimer: Osomatsu-san milik Akatsuka Fujio
'Cerita ini dibuat hanya untuk menyalurkan imajinasi semata.'
Enjoy
.
Chapter 3: Bosan (Karamatsu dan Osomatsu)
Siang itu kondisi rumah terasa sepi, hanya nampak Karamatsu dan Osomatsu di ruang tamu—sedangkan yang lain tak dapat dijumpai. Sebenarnya Osomatsu juga berniat tuk pergi keluar, tapi begitu melihat Karamatsu berdiam diri sambil menatap cermin—dan tentu kacamata hitamnya terpasang dengan sempurna—Osomatsu memilih menemani adiknya itu. Sekali-sekali dirasa tak apa, mereka jarang terlihat berduaan. Meski ya, sekarang pun tak ada percakapan yang terjadi di antara keduanya.
Salahkan Karamatsu yang terlalu sibuk menatap pantulan dirinya sendiri.
Dan membuat Osomatsu gatal tuk melempar cermin tersebut keluar jendela.
"Oi Karamatsu! Mau sampai kapan kau bercermin begit—"
"WAAAA—EEH? O-Osomatsu? Se-sejak kapan kau di situ?"
TWICH.
Sejak kapan katanya? Sedari tadi Osomatsu duduk dibelakangnya—apakah tak terasa? Jadi Karamatsu tak menyadari keberadaannya? Begitukah? Ayolah, hampir 15 menit ia berada di sana, tidak sopan sekali menganggap dirinya tak ada. Ingin rasanya Osomatsu membalik meja di ruang tengah. Ia hendak menyalurkan rasa kesal.
"Aku sudah lama duduk di sini Ka-ra-ma-tsu," Osomatsu menatap kesal, bibir sedikit dimajukan. "Kau saja yang terlalu sibuk dengan cerminmu."
"Ma-Maafkan aku Brother. Aku terlalu fokus pada ketampananku sampai-sampai tak menyadari dirimu didekatku." Karamatsu bersikap kikuk. "Aku sungguh saudara yang tidak baik, aku telah membuatmu kecewa. Aku benar-benar makhuk penuh dosa, aku pantas hidup dalam kesendiria—"
"Cukup Karamatsu! Kau hanya mengabaikanku, bukan menghamiliku. Tidak usah berlebihan begitu."
"EEEH—"
Karamatsu sedikit merona. Terkadang kakak tertuanya suka sekali tak menyaring perkataan yang dilontarkan. Lagipula bagaimana mungkin Karamatsu bisa menghamili Osomatsu, mereka berhubungan badan saja belum pernah. Bersentuhan pun hanya saat menggosok punggung—
—Tunggu, sepertinya bukan itu masalahnya.
"Oso—"
"Ne Karamatsu aku bosan."
Eh...Bosan, lalu?
"Hibur aku."
Err—Caranya?
Karamatsu kebingungan. Apa yang dapat memuaskan Osomatsu? Bermain game-kah? Menceritakannya sesuatu kah? Atau apa? Bernyanyi? Argh—Karamatsu tak tau harus melakukan apa—dan lagi Osomatsu yang terus menatapnya tak membantu sama sekali. Otaknya malah semakin tak membuahkan hasil.
"Kau mau aku melakukan apa, Brother?" Karamatsu memilih tuh bertanya. "Aku akan lakukan apa pun maumu."
"Hm...Terserah kau saja—"
"Tapi aku tak tau apa yang dapat menghiburmu!"
Ho.
Osomatsu kembali mengerucutkan bibirnya, Karamatsu langsung merasa tak enak. Ah, sebagai adik ia merasa gagal. Bagaimana bisa ia tak dapat memenuhi permintaan kakaknya. Lihat Osomatsu sekarang, ia nampak kecewa—dan itu semua karena ketidakbecusannya.
Ya.
Dan terus Karamatsu berpikir macam-macam—terkadang ia memang agak berlebihan.
"Kenapa kau yang murung Karamatsu?"
Sadar, Osomatsu memilih mendekat—mencoba mengelus surai Karamatsu perlahan. Bibirnya membentuk sebuah senyuman. Antara hendak tertawa dan tak tega melihat adik pertamanya memasang wajah nelangsa. Padahal Osomatsu tak akan menyalahkan Karamatsu, toh ia juga tak terlalu berharap Karamatsu dapat menghiburnya.
Lagipula apa yang dapat Karamatsu lakukan untuknya? Paling juga menyanyikannya sebuah lagu.
"Maafkan aku Osomatsu, aku mengecewakanmu."
"Masa? Aku tak bilang begitu."
Eh?
Karamatsu mengerjap, seraya mengangkat kembali kepalanya yang sempat tertunduk. "Sungguh?"
"Ya—" Untuk apa pula ia merasa kecewa, itu hanya akan membuang tenaganya. Lagipula jujur saja sebenarnya Osomatsu tadi hanya ingn membuka percakapan. Kalau dia memilih diam, pasti Karamatsu kembali menyibukkan diri dengan cermin ditangannya. Habis, daripada berbicara dengan pantulan diri lebih baik mengobrol dengan Osomatsu, bukan?
"Tapi tetap saja aku tak dapat memenuhi permintaanmu, Brother."
Lalu kau mau apa?
"Bagaimana kalau aku bernyanyi untukmu?"
Tuhkan benar. Pasti hal itu yang terlintas dipikiran Karamatsu. Inginnya sih menolak, tapi ya sudahlah. Sekali-sekali mendengarkan suara Karamatsu rasanya tidak salah. Asal lagu yang dinyanyikan jelas—dan bukan lagu norak yang penuh dengan kata-kata puitis menggelikan. Tubuh Osomatsu bisa-bisa tak kuat menahan sakit.
"Boleh saja."
"Kalau begitu aku akan mengambil sahabatku—gitarku—di kamar dulu. Brother, tunggulah barang sejenak. Aku tak akan tega pergi lama meninggalkanmu. Kau adalah saudaraku yang tak rela kusakiti—"
Ampun Karamatsu—cukup.
Rasanya beberapa tulang rusuk Osomatsu patah begitu mendengar kata-kata menyakitkan yang kau lontarkan.
.
Chapter 3 End
.
Terima kasih untuk semua yang sudah dan masih mau membaca fic ini, saya senang sekali hehe. Maafkan saya yang update terlalu ngaret *bows*
Ini chap 3 nya dan maaf kalau ceritanya mengecewakan *bows*
Sekian dari saya, Rakshapurwa undur diri.
