Nakama (Friends)

Author: SheilaLuv

Summary: Bagi Kakashi, selalu ada cara untuk menunjukkan rasa cinta, bahkan dalam diam. Namun, di suatu sore yang cerah lama berselang, Minato Namikaze mengajarkannya sesuatu tentang cinta dan harapan yang melintasi generasi hingga sekarang. Tim 7-sentris. Yah, gimana lagi, saya mencintai Naruto karena tim 7, they are the core of Naruto, and they will always be.

Pairing: Subtle NaruSasu, SasuSaku, NaruSasuSaku. Argh, can't decide. They're just too beautiful to be parted, because team 7 is love.

Disclaimer: Naruto is a property of Masashi Kishimoto. Saya cuma meminjam karakter-karakter kreasinya dan menggerakkan mereka dengan seutas benang yang tak tampak.

Terima kasih banget bagi Anda semua yang udah review chapter sebelumnya. Whoa, those reviews really brighten my day! Saya terharu lho, migrain yang menyerang ditahan demi chapter ini. Yosh, sekarang silahkan baca chapter 3. Sekedar peringatan, kadar shounen-ai yang mulai meninggi harus diwaspadai! –cackles- Selain itu, sedikit angst bisa menarik kita dari hingar-bingar kehidupan dan mulai untuk merenung. Seperti biasa, kejutan ada di akhir chapter. Saran dan kritik tetap ditunggu lewat review, lho. Enjoy!


Chapter 3

Yang Pergi dan Kembali

-

Kembali pulang kala malam menjelang, seiring nyala bintang

Tubuhnya berdiri menjulang, pengembara yang lelah bertualang

Rindu bertemu kepingan mozaik hatinya yang tak pernah hilang

Secercah harapan melintasi relung jiwa, menyinari semua asa

Menghapus duka hingga keraguan sirna, mengalirkan bahagia

Karena kini nurani telah sadari, cinta selalu ada untuknya di hati mereka

-Sasuke no Shi- (Syair Sasuke)

-

Entah sudah berapa tahun dia meninggalkan tempat ini. Tempat di mana waktu dan peristiwa ikut menggoreskan sebagian besar masa kecilnya, yang masih dapat teringat dengan jelas, seakan tidak ada rentangan masa yang memisahkan satu dan lain hal. Sasuke kembali merasakan perasaan itu ketika dia melangkahkan kaki menuju kediaman Uchiha yang telah beberapa tahun ditinggalkannya. Deretan bangunan, rumah, dan barisan pepohonan yang memagari tetap tegak, kukuh berdiri sekalipun digerus oleh waktu.

"Aku pulang, ayah, ibu," gumamnya pelan.

Tak bisa dicegah, hatinya pun ikut berbisik,"Aku pulang, Kakak…"

Dan, seolah menyambutnya, angin yang tadi enggan bangkit mulai bertiup pelan, membelai-belai pelipisnya dan menerbangkan helaian rambut hitamnya yang sedikit lebih panjang dari sebelumnya. Dedaunan ikut menari indah di udara, sejenak menciptakan rantai melingkar yang melayang-layang.

Lingkaran waktu yang tak pernah terputus. Simbol yang menjalin kuat ikatan yang tercipta bahkan sebelum bibir bisa berkata, memutuskan semua penghalang, hingga yang ada hanyalah kenangan yang tidak luntur oleh rayap kesedihan.


Di saat-saat seperti ini, setelah pulang berlatih dengan tubuh penuh luka, Sasuke meringkuk nyaman di lindungan punggung Itachi yang kokoh namun hangat. Melingkarkan tangannya di sekitar leher Itachi, menikmati hentakan naik turun yang terasa menenangkan saat tubuhnya berada begitu dekat dengan kakak laki-laki yang dikaguminya.

Itachi biasanya berbicara padanya tentang macam-macam hal, dan Sasuke tidak bosan untuk terus mendengar. Yang dia tahu, dia suka dengan kebersamaan seperti ini. Pantulan sinar keemasan memancar dari lapisan air sungai yang mengalir jernih di sela-sela kaki pepohonan di kanan-kiri jalan setapak. Derak air yang melompat di celah-celah bebatuan menciptakan harmoni yang hanya bisa ditandingi oleh keindahan matahari senja yang mulai terbaring pasrah, tunduk pada siklus alam yang menggiringnya ke balik bukit.

"Kak, aku bersyukur dilahirkan di desa ini," ucap Sasuke suatu kali saat mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah,"Begitu damai dan indah."

"Begitu," balas Itachi, dalam suaranya yang menenangkan,"Kalau begitu, apa kau mencintai desa Konoha ini, Sasuke?"

"Tentu saja, kak!" tandas Sasuke bersemangat, bola matanya berbinar-binar dalam nyala tekad,"Aku mencintai Konoha, dan semua orang-orang di dalamnya. Klan Uchiha—ayah, ibu, kakak dan semua penduduk desa ini."

Senyum tipis Itachi terbentuk seiring merekahnya sudut bibirnya. "Kalau begitu, kau juga harus ikut memikirkan cara untuk menjaga keutuhan desa ini suatu hari nanti. Karena semuanya ada di dalam satu."

Kening Sasuke berkerut. Penjelasan Itachi tampaknya terlalu abstrak bagi dirinya di usia itu. "Maksud Kakak?"

Itachi menghela napas. Menengadahkan kepalanya ke atas, sehingga sebagian rambut di belakang kepalanya bersentuhan dengan pipi Sasuke. "Semua adalah satu. Dan satu ada di dalam semua. Konoha bagaikan sebuah pohon yang besar. Mempunyai elemen-elemen pendukung agar tetap berdiri, ibaratnya seperti akar, batang, dan daun pada pohon itu sendiri. Hokage sebagai akar penyokong, hukum sebagai batang penyangga."

Sasuke mengangguk kecil. "Kalau begitu, siapa yang berperan sebagai daun?"

"Kau dan aku. Juga semua shinobi yang berjuang mempertahankan kekukuhan pohon agar tetap tegak berdiri sekalipun diterjang badai. Daun-daun melambangkan jiwa-jiwa penuh tekad yang dimiliki oleh shinobi Konoha itu sendiri," jelas Itachi.

"Jadi, setiap helai daun mewakili satu shinobi? Melambangkan satu jiwa?" Sasuke menegaskan.

"Benar," angguk Itachi. "Setiap satu nyawa melayang, sehelai daun gugur. Biarpun begitu, asal memiliki fondasi yang kuat, pasti akan melahirkan lebih banyak daun baru yang siap untuk mempertahankan eksistensi pohon itu sendiri. Begitulah siklus kehidupan."

Mereka berdua sejenak membiarkan keheningan mewarnai kata-kata yang belum terucap.

"Beritahu aku lebih banyak lagi, kak," pinta Sasuke cerah,"Aku ingin tahu sebanyak-banyaknya, hingga suatu saat nanti bisa menjadi shinobi yang pantas dibanggakan oleh desa ini."

Perubahan intonasi yang kentara saat Sasuke berbicara rupanya sanggup menggerakkan Itachi untuk berkata lebih banyak. "Kau benar-benar berkeinginan seperti itu? Itu tidak mudah, Sasuke."

"Jalan menjadi seorang shinobi yang agung memang sulit. Tapi, kita semua pasti bisa, asalkan terus mengingat orang-orang yang berharga di dalam hati kita," balas Sasuke. Balasan yang polos sekaligus murni, yang membuat Itachi tersenyum menanggapinya.

"Baiklah. Apa kau tahu satu hal lagi? Konon pada setiap lembar daun yang jatuh saat seorang shinobi gugur, tertulis setiap memori hidupnya, yang hanya bisa dimaknai oleh alam dan orang-orang yang ada di hatinya saat dia menutup mata."

"Maksudnya, hanya orang-orang tertentu yang bisa mengerti dan merasakannya, ya? Mungkin karena alam selalu menunjukkan pertanda," Sasuke menyimpulkan. Ekspresinya menjadi lebih serius.

"Bisa saja begitu. Alam selalu berisyarat, hanya manusia yang mengabaikannya. Tapi, kau tidak akan tahu bagaimana rasanya, setidaknya untuk saat ini. Karena kematian belum datang mengetuk pintu hidup kita."

Sasuke mengeratkan rangkulannya. "Kakak jangan ngomong seolah-olah bakal berpisah denganku sebentar lagi," katanya khawatir. "Aku ingin kita terus bersama."

Pandangan mata Itachi sesaat meredup. "Aku tidak bilang begitu, Sasuke. Hanya saja, kalau saat itu tiba, kau akan segera tahu lewat bahasa yang disampaikan oleh dedaunan yang gugur."

Apa yang kau ukir di dedaunan yang mulai luruh itu? pikir Sasuke, hatinya pilu. Apakah kesedihan? Penyesalan? Atau harapan yang belum terwujud?

Dia tidak pernah tahu. Yang dia tahu sekarang, dia ingin menata ulang hidupnya, dan dia ingin memulai kembali semuanya dari awal. Begitu banyak hal yang tersia-sia, begitu banyak hal berarti yang dulu diabaikan karena dia tidak menganggapnya penting, tapi pengalaman telah mengajarinya banyak hal. Bahwa sekeras apa pun dia berbohong, nuraninya tidak akan berhenti mengatakan kebenaran. Kalau dia merindukan tempat ini. Kalau dia merindukan Konoha, terutama orang-orang yang tidak pernah berhenti merelakan hati mereka untuk menunggunya.

"Sasuke?"

Terdengar suara Naruto memanggil. Ah, tentu saja dia tidak kembali sendirian kali ini. Naruto tampak khawatir, melihat langkah kaki Sasuke sedikit terhenti. Dia melihat sahabatnya mengamat-ngamati pemandangan di sekelilingnya dengan tatapan dalam penuh kerinduan, seolah dia tidak ingin beranjak dari semua itu. Dirasakannya genggaman Sasuke di punggungnya menguat, dan selama beberapa detik, Naruto melihat kilatan kesedihan hadir di kedua bola mata hitam pekat milik Sasuke.

"Tidak ada apa-apa. Ayo, kita jalan terus," ucap Sasuke menenangkan.

Sakura, yang ikut memapah Sasuke di sisi kiri, mengangguk pelan. Dia mengisyaratkan kepada Naruto untuk terus berjalan. Dalam hati, gadis itu memaklumi kalau Sasuke pasti terkenang akan semua yang pernah mengisi hari-harinya sebelum klannya terbunuh. Ada saja hal-hal yang tidak dapat dihapus, bahkan oleh waktu. Dia tidak ingin bertanya apa pun untuk saat ini.

Ketiga sahabat itu terus berjalan hingga tiba di rumah yang pernah ditinggali Sasuke. Keadaaannya nyaris sama persis, hampir tidak ada yang berubah. Walau debu tebal menyelimuti setiap permukaan sehingga hentakan kaki mereka teredam. Naruto dan Sakura mendudukkan Sasuke dengan hati-hati di ruang tengah yang dilapisi tatami. Setiap elemen penyusun rumah cuma diam menanti, menunggu reaksi 3 orang asing yang sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki mereka bertahun-tahun di sini.

Ini pertama kalinya mereka berdua menginjakkan kaki di rumah ini, sekaligus melihat seperti apa tempat Sasuke tumbuh dan dibesarkan. Sasuke lebih banyak diam, membiarkan dirinya tenggelam sekali lagi dalam keheningan. Sakura, yang menyadari hal ini dari jauh-jauh hari, bahkan sebelum Sasuke meminta dirinya untuk pulang, sudah menyiapkan rencana spesial untuk kembali mencerahkan suasana. Itulah sebabnya dia meminta bantuan serta Naruto dan Kakashi. Kakashi memang sudah memberitahu kalau dia akan datang selepas menjalankan misi, namun Naruto setuju untuk ikut bahkan seandainya Sakura tidak meminta.

"Nah!" Sakura membuka percakapan, menepukkan tangannya dengan ceria. "Sasuke-kun, kami sudah memutuskan. Kalau kau ingin kembali ke rumah, sangat tidak sehat untuk membiarkannya tidak terurus seperti ini. Karena itu, sekarang kau tunggu di sini, kami akan mulai membereskannya dan merestorasinya hingga kembali bersih seperti semula."

"Benar," jawab Naruto bersemangat. "Kalau terus dibiarkan, kondisinya bisa lebih buruk. Kau tidak boleh membiarkan hal seperti ini melemahkan dirimu. Selanjutnya, serahkan pada kami!"

"Apa? Tidak perlu sampai begitu—," Sasuke memprotes, namun Naruto sudah mengambil ancang-ancang.

Dengan kecepatan mengagumkan, kedua tangannya mulai membentuk segel. "Tajuu Kage Bunshin no Jutsu!"

Dalam kilatan waktu, tempat itu sudah dipenuhi ribuan klon bayangan milik Naruto, berjejal hingga memenuhi sudut-sudut tengah bahkan sampai berdesakan, tumpah ruah hingga ke ruangan-ruangan yang berikutnya. Sasuke yang masih terduduk menggelengkan kepalanya dengan pasrah, sementara Sakura tersenyum bangga.

"Cara yang praktis dan cepat—benar-benar metodenya Naruto," katanya puas, kedua tangannya bersedekap.

Tentu saja, dengan cakra sebesar itu, Naruto mampu melakukannya tanpa banyak usaha.

"Bereskan semuanya dengan baik, Naruto," komando Sakura.

Naruto mengangguk patuh. Penuh tekad, Naruto mengangkat tangannya untuk menekankan isyaratnya dan dengan sorot mata berapi-api memberi perintah pada klon yang telah diciptakannya,"Oke, semua! Kalian harus membersihkan seluruh bagian rumah ini sampai tuntas, mengerti? Jangan sampai ada satu pun yang terlewat! Itu juga berlaku untuk seluruh kediaman Uchiha ini!"

Mata Sasuke melebar tidak percaya. Seluruh kediaman Uchiha? Itu artinya, tidak hanya rumahnya, namun seluruh bangunan yang termasuk dalam wilayah klan yang sangat luas. Mereka berdua rupanya benar-benar berniat menyambut kepulangannya.

"Tenang saja," Sakura berkata, seolah menyahuti pertanyaan yang ada di dalam kepala Sasuke. "Semuanya pasti beres."

Naruto nyengir. "Ayo, lakukan!" perintahnya.

Klon-klon itu langsung melesat, berpencar secepat bayangan menuju lokasi pembersihan yang diperintahkan Naruto. Ruang tengah kembali tenang setelah barisan berwarna orange mencolok itu menjauh pergi. Kini hanya ada mereka bertiga kembali.

"Berikutnya, rencana kedua," kata Sakura senang. Dia menggumamkan lagu bernada ceria, lalu bertanya,"Sasuke-kun, bisa tunjukkan di mana dapurnya?"

"Di bagian belakang rumah, setelah ruang keluarga di dekat taman," jawab Sasuke cepat. "Kenapa?" tanyanya penasaran.

"Bagus, sekarang aku akan melakukan sesuatu di sana," ucap Sakura, lalu pergi ke dapur tanpa berkata apa-apa lagi. Senandungnya masih menggema di sepanjang lorong, berpadu dengan derap langkah lembut saat kedua kakinya menapak.

"Apa yang akan dia lakukan?" Sasuke bertanya pada Naruto. "Dia tidak memberitahumu?" Kepalanya terangkat, mata hitamnya bertemu mata biru langit Naruto, menuntut jawaban.

Naruto mengangkat bahu. Dia melingkarkan kedua tangannya untuk menyokong kepala dan menjawab,"Nggak tahu, tuh. Bagaimana kalau kita lihat saja?"

"Ya sudah," Sasuke mencoba bangkit berdiri dari posisi duduknya. Dia mencoba bertumpu pada tangan kanannya yang masih berbalut perban, sambil berusaha mencari titik tolak di kedua kaki untuk menopang tubuhnya.

Dia hampir berhasil—setidaknya kalau tidak dihalangi oleh satu hentakan yang lumayan menyakitkan; tiba-tiba menyengat pundaknya hingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Refleks, pemuda itu menyambar lengan baju Naruto yang berdiri tepat di sebelahnya. Naruto yang kala itu berdiri santai langsung terhuyung, hingga mereka berdua sama-sama jatuh menghantam lantai berlapis tatami yang dingin dan keras.

"AAAARRGGH…!"

Sesuatu yang menyusul kejadian seperti itu sudah pasti suara pekikan dan debum saat tubuh mereka menyentuh lantai. Naruto nyaris berhasil menindihnya, namun kedua lengannya yang mendarat di sisi kanan kiri Sasuke bisa menahan benturan dan menyelamatkan keadaan. Kini Sasuke terbaring telentang berlandaskan tatami, ekspresi wajahnya tidak terduga. Napasnya masih memburu menahan sakit.

Naruto, terjungkal di atasnya, bertumpu pada lengannya. Kulit wajahnya yang berwarna cokelat tampak sedikit lebih gelap ditingkahi bias cahaya redup yang berhasil menembus lewat celah-celah ventilasi. Hidung mereka hanya berjarak sehembusan napas. Seandainya bergerak sedikit saja, pasti akan beradu. Bahkan barisan rambut pirang Naruto luruh di dahi Sasuke dengan satu desisan lembut. Perpaduan dua warna yang bertentangan; gelap dan terang yang begitu mencolok, kontras. Tapi memikat.

Dada Naruto naik turun tak beraturan, kombinasi antara kekagetan dan kekesalan yang makin memuncak. Intensitas di sorot mata Sasuke malah semakin menantangnya untuk memekik,"Apa-apaan yang tadi itu, bodoh? Aku kaget!" dia meledak. Suaranya kembali menyambangi, bergaung di rongga telinga Sasuke.

Jadilah dua shinobi muda itu meledakkan adegan pertengkaran kekanak-kanakan yang biasa terjadi manakala keduanya melakukan sesuatu yang sama-sama kelihatan bodoh. Tapi, untuk saat ini tidak ada yang peduli untuk menahan diri. Hebatnya lagi, mereka berdua tidak peduli dengan posisi yang pasti janggal sekali kalau dilihat. Belum lagi ditambah kenyataan bahwa dua orang ini sama-sama keras kepala, yang berarti perdebatan tidak akan berhenti dengan cara biasa.

"Aku tidak sengaja!" Sasuke membela diri. "Lagipula, salahmu sendiri. Dengan keseimbangan tubuh yang seperti itu kau bisa bangga menyebut dirimu shinobi?"

"Heh, sebelum memprotes, coba lihat dirimu dulu!" balas Naruto, tak kalah keras. "Aku jadi begini karena kau menyeretku jatuh!"

Seringai kemenangan tipis menghiasi wajah Sasuke, membuat sudut-sudut bibirnya terangkat. "Kalau hanya dengan satu hal sekecil itu membuatmu goyah, bagaimana kalau sesuatu yang lebih gawat terjadi, hmm?" tambah Sasuke. Alisnya terangkat sebelah, pertanda tindakan menantang.

Satu pertanyaan menggoyahkan yang membuat Naruto kehilangan jejak untuk meneruskan permainan kecil mereka.

"Kau…," Naruto kehilangan kata-kata, dia hanya bisa terus merutuk dalam hati. Sialan, pikirnya. Selalu saja, aku tidak pernah menang berdebat dengannya!

"Nah, setidaknya aku juga bisa bertanya padamu. Walaupun seperti ini, akhirnya kau tetap akan menarikku, sekalipun aku ikut terjatuh bersamamu. Kenyataannya, bahkan kau juga bergantung padaku, kan?" tanyanya balik, retoris. Sebenarnya, jawaban dari pertanyaan semacam itu sudah ada di hati mereka masing-masing.

Kata-kata Sasuke terbungkam. Kini giliran Naruto yang mengguratkan senyum kemenangan yang merekah manis dari sudut bibirnya.

"Pada akhirnya, kaulah yang harus diselamatkan…olehku, Sasuke," simpulnya sederhana.

Ditatapnya wajah dari tatahan pahat tak bercela itu, mengamati setiap konturnya. Rambut hitam pekat Sasuke yang membingkai wajahnya laksana gelap malam, alis yang rapi, kedua bola mata yang dalam, dahi yang tinggi, hidung yang mancung, rahang yang keras dan kokoh, dan bibir yang melekuk indah di setiap sudutnya—walau dari situ jugalah terkadang meluncur perkataan yang sangat membuat pedih, maupun ucapan penuh makna yang hanya dikatakannya di waktu tertentu saja. Naruto bisa mengingat semua kenangan yang terlukis di sana hanya dengan sekali lihat, layaknya kanvas yang menyerap sempurna setiap belaian kuas aneka warna yang meluncur halus di permukaannya.

"Masih berani berkata seperti itu juga?" desah Sasuke dengan suara rendah setelah keheningan menguasai mereka beberapa lama.

Naruto mengangguk. Kali ini, tanpa nada pahit maupun getir yang tersirat di suaranya, dia berkata,"Ya, karena sampai kapan pun, bagiku kau adalah… kau."

Selama sepersekian detik, sorot mata Sasuke melembut. Menampilkan keteduhan yang memukau siapa saja yang melihatnya.

Bunyi kelontang dan dentingan peralatan dapur membuat koneksi keduanya teralih. Suara itu berasal dari dapur di bagian belakang. Pastilah Sakura sedang sibuk dengan proyeknya, mengerjakan entah apa. Yang jelas, apa pun itu, kegiatan yang berlangsung di sana cukup untuk menimbulkan kehebohan jika tidak segera dicegah.

"Aku… maksudku—kita—harus segera menyusul Sakura," putusnya jengah,"Entah apa yang dilakukannya di dapur sekarang."

"Oh, iya, benar juga," Naruto menyetujui. Pertengkaran mereka untuk sementara ini berhasil tersegel rapat. Menyadari bagaimana posisi mereka sekarang, Naruto beringsut cepat dan bangkit dengan terburu-buru. Dia tertawa kecil. "Yah, aku nggak tahu bagaimana jadinya kalau dapurmu meledak," candanya. Dia merendahkan postur tubuhnya sedikit dan mengulurkan tangan untuk membantu Sasuke berdiri.

"Idiot," gumam Sasuke pelan dari sudut bibirnya, namun dia perlahan bangkit dengan menyambut uluran tangan Naruto. Kehangatan jemari yang kokoh karena ditempa oleh latihan keras dan panjang itu langsung terasa saat kulit coklat dan kulit putihnya beradu.

Kemudian, yang memapah dan dipapah pun berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong menuju dapur. Lengan Sasuke terlingkar di bahu Naruto, sementara jemari mereka bertaut kuat.


"Sakura, apa yang kau lakukan?"

Wajah Sakura bersinar dengan kegembiraan ketika melihat keduanya berjalan melewati ambang pintu dapur. Asap yang berasal dari panci yang berisi rebusan makanan mengepul di belakang punggungnya. Bau harum bumbu kare menguar di udara. Berbagai bahan makanan seperti sayuran, daging, buah, dan bermacam peralatan dapur berderet rapi di konter. Hampir semua dari bahan makanan itu sudah dicuci bersih dan dipotong-potong sesuai ukuran. Sakura memasukkan racikan bumbu, daging, sayuran, dan mengaduk-ngaduknya sambil sesekali mencicipi untuk mengetes ketepatan rasanya.

Ketel air panas bersiul-siul melengking. Sakura buru-buru mematikan api, dan sambil menunggu desisan ketel mereda, dia memeriksa apa nasi sudah tanak. Dia menyendok nasi yang masih hangat mengepul dalam mangkuk, momotong-motong buah, dan sebagai sentuhan terakhir, mengatur susunan meja sedemikian rupa sehingga tampil lebih bersih dan memikat.

"Ah, Sasuke-kun, Naruto," sapanya cerah,"Lihat, aku sudah memasak semua ini untuk makan siang kita."

Dia bergumam pelan sambil menunjuk-nunjuk bahan-bahan yang tersedia, kemudian berkata,"Ah! Ada bahan yang kurang…sayang sekali kalau dibiarkan begitu saja!" desahnya kecewa.

Terdengar ketukan pelan di jendela dapur. Kakashi berdiri, satu tangannya menggenggam satu bungkusan, senyumnya mengembang di balik topeng.

"Yo! Kelihatannya semua berjalan baik. Klon-klonmu benar-benar sukses melakukan tugasnya, Naruto. Setiap jengkal kediaman Uchiha sekarang sudah kembali seperti semula!"

Bersamaaan dengan itu, terdengar bunyi pop pelan, yang berarti semua klon sudah selesai bertugas dan kembali menghilang.

Kakashi melesat masuk dan berkata,"Nih, aku sudah beli bahan-bahan yang kurang. Kelihatannya kau melakukan semuanya dengan baik, Sakura."

"Terima kasih, Kakashi-sensei," kata Sakura.

"Yah, sama-sama. Aku langsung ke sini setelah melaporkan hasil misi di kantor Hokage. Bagaimana keadaanmu, Sasuke?"

"Sudah membaik," balas Sasuke.

Tidak sampai setengah jam kemudian, makanan lezat sudah tersedia. Keempat orang itu duduk di meja rendah selutut yang biasa digunakan Sasuke ketika bersantap bersama keluarganya. Hanya saja, kali ini orang-orang yang dulu duduk di situ telah berganti, karena Fugaku, Mikoto dan Itachi sudah pergi meninggalkannya. Sasuke tahu itu, hanya saja kali ini dia tidak ingin tenggelam dalam penyesalan. Betapa hidup telah menunjukkan kalau arti keluarga itu bisa hadir lewat orang-orang yang memang berarti, itu saja sudah cukup baginya.

"Ayo, mulai!" ajak Naruto, sumringah sekali. Matanya berbinar-binar. Dia menggosok-gosokkan tangannya penuh harap. Dari tadi bunyi keroncongan perut sudah menginterupsi jalannya akal sehat. "Baru kali ini kita bisa merasakan masakan buatan Sakura-chan!"

"Oke, oke," sahut Sakura. Dia mengatupkan kedua tangannya dan bergumam,"Itadakimasu!"

Naruto dan Sasuke serentak melirik Kakashi. Jonin jenius itu dengan santai membuka topengnya, dan menampakkan topeng hitam yang lain, namun kali ini topeng itu sedikit terbelah di bagian bawah hidung sampai bibir, sehingga memberi celah untuk menelan makanan.

Mereka bertiga berusaha menahan diri untuk tidak tersedak dalam tawa. Kakashi cuma nyengir dan mengatupkan kedua tangannya dengan khidmat,"Itadakimasu!"

Sasuke dan Naruto mengikutinya. Mulailah mereka menyumpit makanan yang tersaji. Sakura berusaha menahan gugup, berharap kalau rasa masakannya tidak mengecewakan. "Bagaimana?" tanyanya, ketika makanan sudah dikunyah.

Naruto dan Kakashi terdiam. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Sakura. "Naruto? Kakashi-sensei? Sasuke-kun?"

"UWAAAAA!"

Secepat kilat, tangan Naruto dan Kakashi meraih segelas air dingin dan meneguknya terburu-buru. Wajah keduanya yang sejak tadi memerah mulai kembali ke rona asalnya. Bahu mereka naik turun karena napas yang terengah-engah. Bahkan sorot mata Kakashi yang biasanya kuyu pun kini melebar karena kaget sampai agak berair. Kontras dengan semua itu, Sasuke dengan kalem tetap menyumpit makanannya dan tidak berkomentar apa pun.

"Pedassss…pedas banget, Sakura-chan!" Naruto mengibas-ngibaskan tangan dengan panik di depan mulutnya, dan tidak sampai beberapa detik, mulai menenggak air dingin lagi. Kakashi mengusap-ngusap bibirnya dengan punggung tangan.

"Eh?" alis Sakura berkerut heran. "Sepertinya, tadi komposisi bumbunya wajar-wajar saja, kok..." suaranya merendah karena bingung.

"Enak, kok," sela Sasuke. Ekspresinya puas. "Menurutku rasanya pas. Tidak ada masalah," katanya membela.

"Benarkah?" Wajah Sakura kembali berbinar gembira. "Aku senang, Sasuke-kun!"

"Pas apanya?" sentak Naruto tidak percaya pada Sasuke. "Pedasnya kelewatan begitu!" Sedetik kemudian segumpal awan gelap muncul menghantui ekspresi Sakura. "Eng—maksudku, mungkin agak sedikit nggak pas dengan lidahku, ya, Sakura-chan?"

"Soalnya okaa-san biasa masak seperti ini, jadi aku sudah terbiasa," imbuh Sasuke tenang, sekarang meniup-niup sesendok kare yang masih panas,"Lagipula, sudah lama aku tidak makan makanan seperti ini."

"Eh? Maksudmu, kau jarang makan nasi kare?" tambah Naruto penasaran. "Itu kan sajian yang umum. Jadi selama ini kau biasa makan apa saja, sih, Sasuke?"

Sasuke sejenak terdiam. "Onigiri dengan tuna," jawabnya ragu-ragu, bagai anak kecil pemalu yang tentatif untuk menyatakan hal-hal yang disukainya. Setelah menelan, dia menambahkan,"Juga tomat."

Bibir yang tadi terkatup kini setengah terbuka. Sakura dan Kakashi tersenyum geli, sementara Sasuke mengelak,"Apa? Memangnya salah?" Rona merah mulai menjalar di sepanjang wajahnya yang seputih pualam.

"Hmmmphh… ng—nggak juga, sih, tapi, aneh juga rasanya, hehe…" Shinobi berambut pirang itu tergelak.

"Setidaknya masih lebih baik daripada adiksimu terhadap ramen," potong Sasuke.

"Apaaa?" protes Naruto. Dia mengacungkan sumpitnya ke arah Sasuke,"Itu jelas beda! Ramen adalah segalanya, penopang hidup dan sumber tenaga bagi seorang shinobi seperti aku!"

"Padahal riset jelas membuktikan kalau asupan gizi yang didapat dari ramen itu tidak seberapa dibanding makanan sehat seperti tomat—"

Sakura menggelengkan kepala, tahu apa yang akan terjadi. Kakashi cuma meneruskan menyuap makanan dan menanggapinya dengan santai,"Beberapa hal memang tak pernah berubah."

Semburat keemasan sore hari sudah mulai muncul di sela-sela awan, membentuk alur-alur tipis bagai benang emas yang merantai kesinambungan siklus alam. Pagi digantikan siang, siang bersambung dengan sore, dan kemudian malam datang menghampiri, mengungkung semua cahaya kecuali sinar temaram rembulan dan pijar bintang.

Keempat orang itu sedang duduk melepas lelah di sebuah ruangan yang sejuk di sisi kanan taman belakang. Desau angin menyelip di antara suara riuh rendah yang mewarnai ketenangan sore itu. Ronde keempat permainan kartu sudah dimulai sejak 2 jam yang lalu dan mulai menunjukkan peningkatan tegangan antar 4 otak yang beradu.

"Lihat, lihat!" seru Sakura ceria, memamerkan susunan kartunya,"Royal straight flush!"

"Awww… sial sekali hari ini," keluh Naruto suram, menatap susunan kartunya.

"Tamat, kau, Naruto," ucap Sasuke dengan nada penuh kemenangan.

"Baiklah, cukup sampai di sini saja," kata Kakashi puas,"Karena begitu kalian lihat kartu-kartuku, semuanya akan habis."

Belum sempat Kakashi membeberkan penutupan permainan ini, seekor elang dengan sayap yang terentang lebar memekik, memecah setiap rangkaian kata yang belum sempat terucap. Keempat orang itu mendongak saat elang pembawa pesan itu menukik turun dan mendarat di atas bahu Kakashi, menjulurkan paruhnya yang bengkok dan tegar, sebuah pesan terkepit di paruhnya.

Kakashi kembali melepaskan elang itu setelah mengambil selembar kertas berisikan pesan rahasia.

Raut wajah Kakashi berubah drastis saat membacanya. Jejak-jejak keletihan dan kelelahan yang sudah terhapus mendadak kembali hadir dengan intensitas dua kali lipat.

"Kakashi-sensei?" Naruto angkat bicara.

Kakashi bangkit dari duduknya. "Maaf, semua, aku harus segera pergi. Ini menyangkut kelangsungan restorasi tim 7."

"Eh? Sepenting itu?" ucap Naruto kaget. "Kakashi-sensei tidak boleh pergi sendirian!"

"Kakashi-sensei, izinkan kami untuk ikut juga. Kami juga ingin ikut memperjuangkan posisi Sasuke-kun!" kata Sakura.

Sasuke cuma menatap Kakashi tajam. "Aku sadar kalau semua masalah ini disebabkan olehku, dan aku tidak ingin lari lagi. Aku akan ikut sekarang juga."

Kakashi sontak mencegahnya. "Jangan, kalian bertiga tunggu di sini saja. Pertemuan ini khusus untuk golongan elit Konoha."

Melihat ketiga muridnya tetap muram, dia menepuk bahu mereka dan berkata,"Jangan khawatir. Aku yang akan membela kalian. Tidak akan kubiarkan kalian terpisah lagi."

Dengan tempo satu kedipan mata, Kakashi telah menghilang. Yang tersisa hanya kepulan asap dan ceceran kartu-kartu yang berserakan di lantai.


Kepala Sai tengadah ke langit, mengamati pemandangan yang sedang berlangsung di udara lewat jendela. Sejak tadi arus pergi dan kembali dari burung-burung elang pembawa pesan terus membelah angkasa. Pesan yang menyatukan semua yang termasuk kalangan elit Konoha untuk berkumpul di ruang sidang khusus. Sai juga diundang, sebagai syarat pembebasannya yang masih diperdebatkan oleh Tsunade dan Danzou.

Sudah waktunya, pikirnya. Ini yang telah diberitahukan oleh Hokage-sama. Kemungkinan besar Danzou-sama juga pasti hadir. Tidak, pasti hadir, aku yakin. Ini pertemuan yang mempertaruhkan segalanya.

Kata-kata pahit dari Danzou masih terngiang jelas.

"Tidak, Sai. Aku menolak pengunduran dirimu. Di organisasi Ne ini, kita sudah sepakat untuk menolak segala bentuk ketundukan terhadap sesuatu yang ada hubungannya dengan paham moderat. Entah itu pengampunan atau belas kasih, semuanya omong kosong. Yang ada hanyalah hukum, dan orang-orang yang tidak mengikuti standar itu adalah pengkhianat."

"Tapi—Danzou-sama, sudah tidak ada gunanya lagi kita meneruskan rencana ini. Sasuke Uchiha sudah kembali ke Konoha dan Orochimaru sudah dilenyapkan, setidaknya sebagian tujuan dari misi sudah tercapai."

"Belum, Sai. Walaupun Orochimaru sudah mati, Sasuke Uchiha tetap menjadi ancaman besar bagi kelangsungan Konoha yang aku cita-citakan,"terang Danzou, otot-otot di rahangnya mengeras.

Sai tahu, hanya ada dua pilihan baginya. Bertahan, atau berbalik membela apa yang dia yakini. Dua pilihan yang sama-sama memberikan resiko besar.

"Aku tidak ingin mengatakannya berulang kali, tapi hukuman yang pantas bagi seorang pengkhianat adalah… kematian."

Suatu ketukan pelan terdengar merayap di lantai. Sai dapat mendengarnya walau samar-samar. Dia mencabut kunai, berbalik, dan langsung beradu senjata dengan 3 orang utusan dari Ne. Semuanya mengenakan topeng putih dengan sapuan kuas berwarna merah di sekitar bagian wajah.

Terdengar denting kunai yang beradu dan hantaman tubuh yang saling berusaha menjatuhkan. Sai berusaha mengelak, dan meskipun dia berhasil, keadaan kamar sudah porak-poranda. Beberapa lukisan di atas kanvas yang baru diselesaikan Sai jatuh berserakan di lantai. Satu diantaranya patah ketika Sai membanting salah seorang penyergap itu ke lantai, mengunci kedua tangannya. Botol-botol tinta dan kuas jatuh dari meja, membuat lantai dilumuri sapuan aneka warna.

"Ada apa, senior?" tanya Sai dingin, nyaris tanpa ekspresi. "Sungguh mengherankan datang saat situasi begini."

"Kau bermaksud pergi ke sidang khusus itu, bukan begitu, Sai?" salah seorang dari mereka bertanya tanpa melepaskan genggaman kunainya yang masih beradu ketat dengan kunai milik Sai.

"Ya. Kali ini, aku bertindak atas keputusanku sendiri."

"Cih," cela seorang lagi. "Perasaan pribadi itu hanya sesuatu yang tidak penting. Bukankah itu prinsip kebanggaan Ne? Tapi tampaknya kau sudah mulai membelot dari tuntunan hukum organisasi kita. Kami tidak akan segan-segan lagi."

Walau tanpa kuas dan botol tinta yang bisa diraihnya, Sai mencoba melawan. Sai mengarahkan lemparan kunai yang nyaris mengiris leher salah satu utusan kalau saja dia tidak mengelak. Tendangan dan pukulan bertubi-tubi mendarat di sekujur tubuh Sai, dan di tengah kesadarannya yang mulai menipis karena hantaman keras di belakang kepala, Sai berhasil membuat salah seorang dari penyusup itu jatuh. Dua orang lagi melancarkan serangan mematikan secara bersamaan ke arahnya.

"Aku tidak ingin ada campur tangan dari siapa pun. Ini urusanku dengan Danzou-sama!" tegas Sai di sela-sela pertarungan.

"Kami adalah tangan dan kaki Danzou-sama. Kau melukai kami, di saat yang sama kau juga berkhianat pada Danzou-sama!" pekik mereka berdua.

"Omong kosong!" bantah Sai keras. Dia menjatuhkan satu orang ke lantai, memitingnya. "Jangan paksa aku untuk—ARRRGHH!"

Satu tusukan menyakitkan di bagian belakang leher Sai membuat semua gerakannya lumpuh total. Kunai yang digenggamnya sebagai alat pertahanan terakhir jatuh dengan bunyi denting keras membentur lantai. Keseimbangan tubuhnya menurun. Sejurus kemudian, Sai sudah jatuh layu, tubuhnya tergolek tidak berdaya, gemetar hebat.

Sai menggigit bibirnya kuat-kuat dalam usahanya menahan sakit. Paru-parunya berkonsentrasi sebaik mungkin untuk menghirup udara banyak-banyak—rasa sesak mulai membekap rongga dadanya. Pandangan matanya tak lagi fokus, mengabur detik demi detik. Saat mencoba bicara, hanya rintihan lemah yang terdengar.

"A… aku… be… lum… me… nye … rah…"

Pemuda itu pun terkulai lemas.

Serentak dengan menutupnya kelopak mata Sai, semuanya gelap dan hening.

"Bawa dia," perintah utusan Ne yang tadi menusuk Sai, sebilah jarum beracun yang tipis namun keras masih tergenggam di tangannya.

Rekan satunya menyeret tubuh Sai dan seorang utusan yang masih pingsan, dan mereka berempat menghilang diiringi letusan asap.

Kamar Sai porak-poranda, kosong. Sebagian besar lukisan karyanya rusak parah, dan lantai kamar diceceri tinta. Sebuah maha karya yang dilukisnya kemarin juga terkena efek dari kekacauan yang terjadi.

Lukisan di kanvas besar yang berjudul Nakama telah tercoreng.


Author's note: Nyahahahaha… puas banget setelah selesai nulis chapter 3! Kalau ditotal, 7 jam juga saya ngerjain chapter ini. Gomen kalau update-nya lama, saya memang penulis yang sangat dipengaruhi mood dan rada angin-anginan. Tapi, saya menebusnya dengan chapter yang lebih panjang dari biasanya, jadi semoga kalian semua nggak kecewa. Lagi-lagi, chapter 3 dibuka dengan puisi, yang kali ini saya buat dan dedikasikan untuk Sasuke.

Kayaknya semenjak chapter 2, saya jadi keranjingan ngebuat puisi untuk tiap karakter, ya. Syukurlah sampai sekarang nggak ada yang protes soal itu. Sedikit tambahan, adegan NaruSasu itu awalnya nggak masuk rancangan plot. Saya sedang frustasi di depan komputer, nggak bisa tidur, padahal udah tengah malam. Saya masih ngerjain fic ini dan ide untuk scene Naruto dan Sasuke pun timbul. Nggak jauh beda, adegan Itachi dan Sasuke itu juga nggak ada di rencana plot awal, tapi entah kenapa semenjak baca manga Naruto chapter 400, saya kepikiran terus soal relationship mereka dan adegan itu pun muncullah, daripada sampai kebawa mimpi, ya nggak? Haha, saya memang author yang suka ngambil ide-ide spontan yang tiba-tiba muncul.

Saya sadar fic ini masih banyak kekurangan, karena itu mohon kritik dan saran lewat review, ya. Kita bakal ketemu lagi di chapter 4 yang bakal penuh intrik… ja matta ne!