Mianhae Umma….!

Changmin sangat senang akan kedatangan Kyuhyun, Jonghyun,dan Minho. Ia sangat merasa berati kali ini.

"Apa itu cakit?" tanya Minho menujuk jarum infus di tangan Changmin, Jonghyun dan Kyuhyun menunggu jawaban Changmin.

"Cakit, tapi kata Ajuchi ini bial Min cepet pulang."

"Minnie Chwang, tadi kami dengal, kamu cakit tumol, tumol itu apa?" tanya Kyuhyun penasaran.

"Tumol? Ga tau."

"Tadi Yoona cocaengnim kaget pas Ajuchi Min bilang tumol. Cepeltinya itu cakit banget ya?" kini Jonghyun yang bertanya, Changmin pun terdiam. Yoochun pun datang menghampiri keempat bocah tersebut.

"Sudah waktunya kembali ke Sekolah, ayo, nanti Ajushi di marahi guru kalian." Ujar Yoochun tersenyum.

"Cepat cekali ya, ya cudah Minnie Chwang cepet cembuh ya. Aku cayang Minnie Chwang." Kyuhyun pun mengecup kening Changmin, memang kebetulan Kyuhyun sedari tadi duduk di kasur Changmin, Changmin pun tersenyum.

"Ahhh Changminnnie cama Kyunie kaya olang pacalan." Ujar Minho, Yoochun terkekeh melihat tingkah bocah tersebut. Wajah Kyuhyun sudah memerah saat ini. Yoochun pun mengangkat Kyuhyun untuk turun. Changmin pun melambaikan tangannya saat ketiga temannya pergi. Changmin tersenyum riang. Yoochun mengembalikan ketiga bocah tersebut ke Taman Kanak-kanak tepat sebelum jam 11:00, mereka sangat senang karena bertemu Changmin, mereka tau, setelah ini akan sulit untuk bertemu dengan Changmin.

.

Jaejoong bersikap Profesional, ia tak pedulikan agency milik siapa ini. Ia hanya mementingkan karir dan cita-citanya selama ini. Jaejoong melakukan beberapa pemotretan, memang cukup letih tapi ini yang ia inginkan. Junsu menghampiri Jaejoong.

"Hyung, Changmin di rawat. Kau tidak ingin temui dia? Dia menanyakanmu dari malam." Ujar Junsu, Jaejoong hanya terdiam. Junsu ingin sekali mengatakan Changmin sakit, dan entah sampai kapan ia bertahan, tapi ia ingat ucapan Yoochun melarang untuk memberitahukan pada Jaejoong.

"Aku sudah menyuruh Yoochun mengantarkan anak itu pulang malam ini. Anak itu paling hanya masuk angin karena kemarin aku mengurungnya di kamar mandi." Tangan Junsu mengepal. Ia mencoba mengontrol emosinya.

"Changmin sangat takut kegelapan hyung. Lain kali jangan mengurungnya di tempat gelap."

"Begitu? Baguslah, hukumanku kemarin berati tepat." Jaejoong selalu menjawab santai setiap ucapan Junsu. Ingin rasanya Junsu berkata 'Ibu macam apa, Jaejoong ini.' . Tapi tidak bisa.

"Changmin menyayangimu hyung, kau segalanya untuknya. Perlakukan dia dengan baik, dia itu a-.." Ucapan Junsu terpotong saat Jaejoong mengisyaratkan berhenti.

"Jangan bahas anak itu lagi. Moodku sudah hancur sejak pagi. Semakin kau bela anak itu, semakin aku membencinya." Jaejoong berdiri meninggalkan Junsu, Junsu hanya terdiam dan menunduk, air matanya mengalir mengenang nasib Changmin.

.

Yoochun sudah kembali ke Rumah sakit, ia kembali menemani Changmin, Kini Yoochun sedang menyuapi Changmin. Changmin makan dengan lahapnya, Yoochun tersenyum senang, ia pun mengusap lembut kepala Changmin. Yoochun sangat menyayangi Changmin, begitu pun Junsu. Changmin seperti malaikat kecil untuknya yang Tuhan kirimkan. Dokter tidak mengizinkan Changmin keluar dari Rumah Sakit, Yoochun pun akan coba jelaskan pada Jaejoong, Changmin tidak bisa ia antarkan malam ini.

Dokter menyarankan Yoochun untuk melakukan pengobatan rutin pada Changmin, tapi ini sangat menyakitkan untuk Changmin, jangankan Changmin yang balita, orang dewasa pun tak sanggup untuk melakukan pengobatan ini. Yoochun benar-benar dalam posisi bimbang. Yoochun selalu berharap ia bertemu Ayah kandung Changmin, dengan begitu ia bisa melakukan tindakan. Bagaimana pun benar kata Jaejoong, dia lah yang berhak atas Changmin. Orangtuanya yang berhak, bukannya Yoochun.

.

Jaejoong yang mendapat pesan dari Yoochun tentang Changmin tidak di perbolehkan pulang dari Rumah Sakit pun sangat marah, ia segera keluar dari gedung tersebut dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju Rumah Sakit dimana Changmin di rawat. Junsu tidak mengetahui hal ini. Tak butuh waktu lama Jaejoong telah sampai di Rumah Sakit, ia pun menanyakan kamar rawat Changmin, dengan mudah pula Jaejoong menemukan kamar tersebut. Kini ia lihat Yoochun sedang menyuapi Changmin.

"Ummaaaaa." Ujar girang Changmin. Jaejoong menatap kesal Yoochun dan Changmin.

"Jae?"

"Aku tidak peduli anak ini sudah boleh kembali atau tidak! Changmin harus pulang sekarang juga." Jaejoong pun menghampiri Changmin, Yoochun sangat tau apa yang akan Jaejoong lakukan, ia pun segera meletakan piring dan menghalangi Jaejoong.

"Apa yang mau kau lakukan Jae? Changmin masih lemah."

"Diam kau!" Jaejoong pun menyingkirkan Yoochun yang menghalanginya. Jaejoong melepaskan infus pada tangan mungil Changmin, ia mengangkat Changmin turun. Changmin hanya diam, tangannya perih, tapi ia diam.

"Jae, mengertilah Jae, Changmin masih harus di Rumah sakit."

"Yoochun, kau itu bukan siapa-siapa anak ini, jadi berhentilah baik padanya." Changmin hanya melirik Jaejoong dan Yoochun yang sedang ribut, ia pun menunduk, tak lama Jaejoong menarik kasar tangan Changmin, langkah kecil itu berusaha mengikuti langkah Jaejoong, nyaris tersandung pun Changmin alami, tangannya sakit di tarik kasar Jaejoong.

"Cakit Umma."

"Diam!" Jaejoong pun membentak Changmin, Changmin terkejut, ia terdiam dan menuruti Jaejoong. Changmin pun masuk pada mobil Jaejoong, Changmin tidak berani bicara apapun, Jaejoong segera melajukan mobilnya dengan sangat kencang.

"Umma jangan kecang-kencang, Min takut." Jaejoong bukan memelankan laju kendaraan tersebut, ia malah melajukan mobil itu lebih cepat.

"Jangan ngebut Umma hiks, nanti Umma kenapa-kenapa." Jaejoong hanya memutarkan bola matanya. Jaejoong sudah tiba di rumahnya kini, ia kembali menarik Changmin dengan kasar. Changmin sudah berada di kamarnya kini.

"Jangan keluar jika aku tidak suruh. Hari ini tidak ada makan malam untukmu karena kau berani pergi dari rumah." Pergi? Itu bukan keingianan Changmin Jae, sadarlah. Changmin pun mengangguk patuh. Jaejoong keluar dari kamar tersebut. Salah satu maid pun menghampirinya.

"Tuan muda sudah kembali?" tanyanya.

"Ya, jangan beri makan malam untuknya. Biarkan dia sendiri. Aku kembali bekerja." Jaejoong pergi dengan angkuhnya, para maid lagi-lagi menggeleng tidak menyukai perlakuan Jaejoong. Changmin menaiki kasurnya, Mangdong pun menghampiri Changmin, Changmin tersenyum riang.

"Mangdongieeee."

"guuukkkkk."

"Min kangen, cemalem Min tidul di lumah cakit. Mangdongie kangen Min?" tanyanya, anjing kecil itu kembali menggonggong. Changmin kembali merasakan nyeri di kepalanya, ia meremas kepalanya dengan tangan mungilnya.

"adduuhhh cakit lagi, hiks, cakit banget." Changmin terus meronta-ronta menahan sakitnya, para maid yang mendengar ringisan Changmin, penasaran dan ingin menemuinya, tapi, sayangnya pintu itu terkunci. Changmin kembali pingsan.

.

.

Malam pun tiba, Jaejoong sudah pulang dari aktivitasnya, tak ada suara dari kamar Changmin, awalnya ia tidak peduli, tapi ia sangat penasaran, ia membuka pintu tersebut. Jaejoong melihat Changmin yang tertidur, fikirnya. Jaejoong menghampiri Changmin perlahan.

"Ummaa." Jaejoong pun melirik Changmin yang mengiggau.

"Min cuka itu, acikkkk, Min cayang banget Umma." Jaejoong terus memperhatikan igauan bocah manis tersebut, ternyata ia mimpi indah tentangnya dan Jaejoong. Jaejoong pun membangunkan Changmin.

"Hei bangun!" ujar Jaejoong, tetapi Changmin enggan untuk bangun, Jaejoong pun mulai menggerakkan tubuh Changmin, tapi Changmin tidak terbangun juga. Panas. Itu yang Jaejoong rasakan pada tangannya. Tubuh Changmin sangat panas, ia pun meraba kening Changmin.

"Astaga, panas sekali."

"Changmin, bangun. Jangan buatku takut." Dengar? Jaejoong memanggil nama Changmin, dan kalian tau? Ini pertama kalinya. Jaejoong terus membangunkan Changmin, tapi itu nihil. Jaejoong akhirnya mengangkat tubuh Changmin yang mengurus kini. Pertama kalinya Jaejoong menggendong Changmin. Catat ini pertama kalinya. Jaejoong menggendong Changmin dengan begitu erat, hatinya berkecamuk saat ini. Nafas Changmin pun terasa lemah. Panas yang Jaejoong rasa pada matanya, ia seakan ingin menangis saat merasakan tubuh panas Changmin. Jaejoong kembali membawa Changmin ke Rumah Sakit dengan cepat.

.

Di lain tempat, Yunho merasa tak nyaman pada hatinya, seakan ada hal buruk yang akan terjadi. Yunho segera ke kamar Kyuhyun, memeriksa kaadaan anaknya tercinta, Kyuhyun sedang tertidur dengan nyenyak. Yunho mengusap lembut rambut coklat Kyuhyun. Hatinya masih tidak nyaman. Ia pun menghubungi Ayahnya, tapi tak terjadi apapun. Ayahnya baik-baik saja. Yunho mencoba menenangkan hatinya dengan sulitnya.

.

Jaejoong sudah tiba di Rumah Sakit, Dokter yang kemarin kembali menangani Changmin. Tak lama dokter itu keluar.

"Sudah saya peringati bukan, Changmin tidak boleh keluar dari Rumah Sakit. Ia masih butuh pengobatan. Jika masih tidak mengerti juga, nyawa Changmin akan terancam." Jaejoong pun menyeritkan dahinya tak mengerti.

"nyawa?"

"Ya, Tumor ganas di otak Changmin. Penyakitnya semakin parah." Jaejoong seakan tertikam mendengarnya, tubuhnya pun bergetar hebat. Dokter kembali ke ruangannya, Changmin segera di bawa ke kamar rawat.

"Pergi! Pergi sejauh mungkin, sejak kau hadir hidupku selalu sulit, karena kau Appaku mati! Mengapa bukan kau saja yang mati bodoh!"

"Huuweeeeee hikss hiksss." Changmin menangis, Jaejoong hanya memandangnya kesal.

"Diam!"

.

"Umma cakit ya? Min pacti lawat umma." Tangan mungil Changmin meletakan handuk basah untuk mengopres Jaejoong, Jaejoong tau perlakuan Changmin, tapi ia tetap memejamkan matanya.

"Min cayaaaangg Umma, cepet cembuh." Changmin mencium pipi Jaejoong setelahnya.

"Tuhan, cembuhin Umma ya, kalau mau kacih cakit, bial ke Min aja."

Jaejoong mulai terisak, ia menutup mulutnya, tubuhnya pun terperosot lemas. Semua kenangannya pada Changmin membuat hatinya ngilu, selama 4 tahun lebih Jaejoong memperlakukan buruk Changmin, anak kandungnya sendiri.

"Hiks, Min-nie, hiks." Jaejoong sungguh tidak sanggup menerima kenyataan. Tuhan mengabulkan semua sumpahnya. Jaejoong tak pedulikan orang-orang melihatnya, kakinya sangat lemas untuk menompang tubuhnya saat ini. Jaejoong kembali berdiri. Ia menemui Changmin yang saat ini masih memejamkan matanya. Air mata itu kembali terjatuh. Jaejoong mengambil tangan mungil Changmin yang tertancap jarum infus.

"Jangan menyentuhku! Aku jijik kau sentuh!"

"Hiks.." hanya isakan yang keluar dari mulut Jaejoong saat ini, perlahan Jaejoong mendekati Changmin dan mencium kening Changmin. Jauh dalam hatinya Jaejoong tidak mau kehilangan Changmin, bagaimana pun Changmin ada dalam tubuhnya selama 9 bulan. Wajah Changmin memang begitu mirip Yunho, tapi sifat Yunho tidak ada pada Changmin bukan? Changmin sudah sangat tersiksa.

.

Yoochun dan Junsu mendapat kabar Changmin kembali dilarikan ke Rumah sakit, mereka dengan cepat segera kesana. Alangkah terkejutnya Yoochun dan Junsu saat Jaejoong membelai lembut kepala Changmin yang sedang tertidur. Junsu mencengkram lengan Yoochun dan tersenyum. Yoochun membalas senyuman tersebut dan mengangguk. Mereka tidak mau mengganggu moment itu, Yoochun dan Junsu kembali keluar.

.

.

Mianhae Umma.!

.

.

Pagi pun tiba, Changmin sudah tersadar. Changmin melihat sekeliling.

"Min kok di lumah cakit lagi?" gumannya, Jaejoong pun masuk kamar tersebut, Changmin pun menunduk, ia masih ingat kejadian kemarin Jaejoong marah karena Changmin tidak pulang.

"Sudah bangun hn?" tanya Jaejoong.

"Cudah, Min ga kecini kok Umma, Min kaget pas bangun Min dicini. Benelan." Ujar Changmin takut. Jaejoong tau Changmin takut padanya, ia pun segera menghampiri Changmin. Ia duduk pada bangku dekat kasur Changmin.

"Umma yang membawa mu." Changmin menatap Jaejoong kini, baru pertama kali Changmin dengar Jaejoong menyapa dirinya 'Umma' pada Changmin bukannya 'Aku'. Jaejoong tersenyum dan membelai lembut rambut Changmin, tangannya gemetar saat banyak rambut Changmin yang rontok di tangannya. Changmin terus menatap tidak percaya Jaejoong.

"Apa Minnie sayang Umma hn?" tanya Jaejoong, Changmin pun mengangguk.

"Min cayang banget Umma."

"Sembuh buat Umma, jangan sakit. Janji." Changmin tersenyum dan mengangguk, Jaejoong tersenyum dan merangkul tubuh kecil Changmin, hangat yang Changmin rasakan. Inilah yang Changmin nantikan, pelukan hangat Jaejoong. Air mata Jaejoong sudah kembali mengalir.

"Tetap bertahan Minnie, Umma pasti menyembuhkanmu." Ujar Jaejoong, ini telat? Tidak. Jaejoong masih bisa menunjukan kasihnya pada Changmin mulai dari detik ini juga. Jaejoong pun harus kembali bekerja, hari ini ada pemotretan untuk Iklan. Jaejoong mengecup bertubi-tubi wajah Changmin, ia takut Changmin kenapa-kenapa saat ia tidak ada. Jaejoong menitipkan perawat agar memantau Changmin dengan baik. Jaejoong pergi kemudian. Saat keluar Rumah Sakit Jaejoong pun tidak sengaja berpapasan dengan Yunho bersama anak kecil. Jaejoong menatap sinis Jaejoong kemudian melirik bocah yang Yunho tuntun.

"Kau? Sedang apa di sini? Sudah waktunya kau pemotretan." Ujar Yunho, Jaejoong hanya menatap malas.

"Ada yang lebih penting dari pada pekerjaanku." Ketus Jaejoong, Jaejoong pun pergi kemudian. Yunho kembali melanjutkan perjalanannya. Yunho menjenguk Ayahnya, perasaannya semalam tidak tenang,maka dari itu Yunho ingin memastikan semua baik-baik saja. Yunho menuju kamar rawat ayahnya kini. Kyuhyun pun tau ini Rumah Sakit tempat dimana Changmin di rawat,ia meminta izin Yunho untuk bermain ke taman dengan alasan kyuhyun tidak suka aroma obat. Yunho mengizinkannya. Kyuhyun tersenyum riang. Ia segera berlari ke kamar rawat Changmin, Yunho melanjutkan perjalanannya ke kamar rawat Ayahnya.

Kyuhyun pun masuk ke kamar Changmin. Ia tersenyum senang dan berlari ke arah Changmin.

"Minnieee Chwaangggg."

"Kyunieeeee." Changmin tersenyum senang melihat kedatangan Kyuhyun kembali.

"Kok dicini?"

"Iya, Appa lagi jenguk Boji. Minnie Chwang mumpung aku di cini kita main kelual yuk." Ajak Kyuhyun, Changmin ingin sekali, tapi tangannya masih di infus. Kyuhyun pun melihat infusan tersebut.

"Kok tangan Minnie Chwang macih di tucuk jalum? Yah ga bica main dong?" Kyuhyun menunjukan wajah sedihnya, Changmin yang melihat Kyuhyun bersedih, sangat tidak tega. Changmin membuka paksa Infusan tersebut. Ia turun dari ranjangnya.

"Cudah beles, ayo." Ajak Changmin, Kyuhyun tersenyum girang. Mereka keluar dari kamar tersebut tanpa ada perawat yang tau. Changmin dan Kyuhyun bermain di taman Rumah Sakit, mereka bermain dengan sangat riang, Changmin sangat terhibur dengan kunjungan Kyuhyun. Changmin melupakan rasa sakitnya, ia benar-benar lepas saat ini. Kyuhyun berlari dengan begitu cepatnya.

"Kyuniiieee jangan lali nanti jatuh." Belum selesai Changmin berucap, Kyuhyun pun terjatuh.

"Huwwwweeeeeeeeeeeeeeeee." Kyuhyun menangis, lututnya pun terluka, Changmin menghampiri Kyuhyun yang menangis.

"Beldalah kan, aku bilang jangan lali." Changmin mengusap luka di lutut Kyuhyun dengan bajunya, Kyuhyun terus saja menangis.

"Cakitttt Minnieee."

"Allaacoo." Tak lama, tubuh Changmin di tarik kasar.

"Kau lagi!" itu Yunho, Yunho segera menggendong Kyuhyun. Changmin yang merasa tidak bersalah pun berdiri dan melihat Yunho.

"Tadi Kyunie teljatuh, Min cuma nolongin aja."

"Kau fikir aku percaya omonganmu anak nakal? Jangan ganggu Kyuhyun. Dosa apa yang orangtuamu perbuat sampai memiliki anak sepertimu." Changmin pun tertunduk takut.

"Pergi!" bentak Yunho membuat Changmin terkejut, Changmin segera berlari kembali ke kamarnya. Yunho segera menghubungi seseorang setelah itu.

"Cari info tentang keluarga anak bernama Changmin, buat sulit keluarganya." Kyuhyun yang mendengar itu pun terdiam, Changmin mendapatkan kesulitan lagi karenanya. Yunho segera membawa kyuhyun pulang. Changmin berlari karena takut dengan Yunho. Makian Yunho lebih menyeramkan dari pada Jaejoong fikirnya. Changmin terus berlari sampai ia tertabrak dengan lelaki tua di kursi roda.

"aduuuhhh." Pekik Changmin saat bokongnya menyentuh lantai.

"Hati-hati." Ujar Pria tua tersebut. Changmin tersenyum dan membungkuk meminta maaf.

"Maaf, Min bulu-bulu tadi. Halaboji ga telluka kan?" ujar Changmin, lelaki tua itu tersenyum.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kau sedang apa? kau pasien? Kamar mu dimana?" tanya lelaki tua itu beruntun.

"Aduuhhh peltanyaannya catu-catu, Min bingung. Min bulu-bulu coalnya takut pelawat tau Min pelgi. Kamal Min di cana." Changmin menunjuk area pasien penyakit serius.

"Di-di sana? Kau sakit apa? area sana bukan untuk sembarang pasien sayang."

"Ga tau, kata temen Min pas dengel Yoochun Ajuchi bicala, katanya Tumol, tumol itu apa boji?" Lelaki tua itu terkejut mendengarnya, anak semanis ini sudah mengalami penyakit yang cukup menyiksa.

"a-a apa ya? Ya sudah tidak usah di bahas. Namaku Jung Jihoon. Siapa namamu hn?"

"Changmin." Ujar Changmin dengan tersenyum riang.

"Margamu?"

"Ga punya. Min ga punya malga, tapi tenang aja Halaboji Min anak baik kok." Jihoon tersenyum dan terkekeh melihat tingkah polos Changmin. Jihoon membelai kepala Changmin.

"Aku tau, ya sudah. Kembali sebelum perawat tau." Changmin mengangguk riang dan meninggalkan Jihoon, Jihoon tersenyum senang, wajah Changmin begitu mirip dengan putranya.

.

Di tempat lain Kyuhyun sedang menjelaskan semua yang terjadi pada Yunho, tapi Yunho tetap tidak mempercayainya. Yunho sangat melarang Kyuhyun berdekatan dengan Changmin, Kyuhyun hanya diam kesal karena sikap Yunho. Yunho mengantarkan kyuhyun kembali pulang, setelah itu Yunho kembali menuju kantornya.

.

Perawat kembali memasangkan Changmin infus.

"Cakit, kapan Min bica lepasin ini?" tanya Changmin. Perawat itu tersenyum.

"Jika dokter sudah bolehin."

"kapan? Tangan Min cakit lama-lama."

"Nanti Minnie sayang, sudah. Jangan lepasin lagi ya. Kalau mau sembuh." Changmin mengangguk mengerti. Perawat pun meninggalkan kamar Changmin, tak lama setelah itu Yoochun mendapat kabar bahwa pihak Rumah Sakit tidak mau untuk menampung Changmin. Pihak Rumah sakit hanya mengetahui keluarga Changmin itu Yoochun dan Junsu. Maka dari itulah pihak Rumah Sakit mengabari Yoochun. Yoochun pun bingung apa masalahnya, semua Adminitrasi sudah beres. Pihak Rumah Sakit bungkam akan hal ini. Siang itu Yoochun pun membawa Changmin pulang karena Rumah Sakit sudah tidak bertanggung Jawab. Yoochun menghubungi Junsu, Junsu pun terkejut mendengarnya.

.

Jaejoong menghampiri Junsu yang nampak bersedih.

"Kau kenapa?" tanya Jaejoong

"Changmin hyung." Wajah Jaejoong berubah cemas mendengar nama Changmin.

"Changmin kenapa?"

"Pihak Rumah Sakit tidak mau menangani Changmin, sekarang Yoochun sudah membawa Changmin pulang." Jaejoong pun terduduk lemas mendengarnya, apakah Tuhan benar-benar meminta Changmin, hingga semua di persulit? Jaejoong pun mulai terisak, Junsu mencoba menenangkannya.

Di tempat lain Yunho sedang menerima kabar dari seseorang di telepon.

"Beres tuan Jung, anak itu sedang sakit. Kami meminta pihak Rumah Sakit memberhentikan perawatannya."

"Baguslah. Anak itu selalu mengganggu anakku."

"Tapi tuan, apa ini tidak terlalu kejam? Anak itu sepertinya sakit serius."

"Aku tidak peduli, dia bukan anakku ini." Yunho pun mematikan ponselnya, ia tersenyum senang. Yunho sudah berada di kantornya kini, sebelumnya ia mengantarkan Kyuhyun kembali ke Rumahnya. Yunho melihat Jaejoong dari kejauhan, senyum pun kembali terukir dari bibirnya.

"Selalu mempesona." Guman Yunho.

.

.

Mianhae Umma!

.

.

Malam tiba, Jaejoong pun bergegas kembali pulang dengan cepat, Yoochun sudah tidak ada di rumah, dengan kata lain Changmin sendirian di rumah. Para maid memang tidak ada jika hari Sabtu dan Minggu. Jaejoong tidak menyadari Yunho mengikutinya dari belakang. Jaejoong melajukan mobilnya dengan begitu cepat, sampai tiba di rumah mewahnya.

Jaejoong segera berlari masuk ke dalam, Yunho pun segera berlari mengikuti Jaejoong, Yunho tau kondisi rumah Jaejoong saat ini. Sepi. Jaejoong mulai menyadari dirinya diikuti, Jaejoong pun menengok, ternyata benar. Yunho tersenyum di bealakangnya kini.

"Kau?!" Jaejoong pun terkejut.

"Ya, rumahmu sedang sepi ya? Kebetulan sekali." Yunho terus berjalan mendekati Jaejoong, Jaejoong melangkah mundur.

"Apa maksudmu?! Jangan mendekat!"

"Sudah lama kita tidak bersenang-senang sayang." Yunho terus saja maju hingga Jaejoong terjatuh di Sofa, wajah Jaejoong sudah sangat ketakutan. Yunho semakin mendekatinya dan mengunci tangan Jaejoong dengan tangannya.

"Siapapun Tolloong akuuu!" teriak Jaejoong. Yunho hanya tertawa mendengarnya.

"Bodoh, tidak ada orang di rumahmu setiap Sabtu dan Minggu sayang." Jaejoong membulatkan matanya, dari mana Yunho mengetahuinya. Yunho pun mulai mendekati wajah Jaejoong dan menciumnya paksa, Jaejoong terus saja memberontak.

.

Changmin terbangun saat mendengar suara berisik, ia segera keluar dan turun. Changmin terkejut saat melihat Ummanya di sakiti seseorang, Changmin berlari dan memukuli Yunho.

"Lepacin Umma, hiks, jangan cakitin Umma Min." karena merasa di ganggu, Yunho pun mendorong kasar Changmin hingga kening Changmin terbentur meja, Yunho terkejut melihat wajah anak tersebut. Jaejoong yang melihat Changmin terluka pun berdiri menghampirinya.

"A-astaga Changmin."

"Umma ga apa-apa kan?" tanyanya kemudian mata Changmin pun terpejam, Yunho melihat bingung ini semua, Changmin anak Jaejoong? Siapa itu Changmin? Yunho menghampiri Jaejoong, Yunho hendak menyentuh Changmin tapi Jaejoong menepis kasar tangan Yunho.

"Jangan sentuh anakku! Kau menyakitinya!"

"A-anak? Apa kau hamil karena kejadian itu?" tanya Yunho takut. Takut kenyataan yang sebenarnya.

"Karena mu aku menderita, dan sebagai pelampiasannya aku menyiksa Changmin, jadi aku mohon dengan sangat, jangan ganggu dan sakiti anakku! Sudah cukup yang ia rasa." Yunho pun seperti mendapat tamparan. Changmin anaknya, anak kandungnya.

"Diam! Jangan ganggu Kyuhyun lagi, atau aku menyuruh pihak sekolah mengeluarkanmu, aku tidak peduli siapa orang tuamu." Tubuh Changmin bergetar hebat, matanya sudah berair, Yunho menggendong Kyuhyun masuk kedalam, sementara Changmin hanya menatap mereka dengan raut wajah sedih.

.

"Kau lagi!" Yunho segera menggendong Kyuhyun. Changmin yang merasa tidak bersalah pun berdiri dan melihat Yunho.

"Tadi Kyunie teljatuh, Min cuma nolongin aja."

"Kau fikir aku percaya omonganmu anak nakal? Jangan ganggu Kyuhyun. Dosa apa yang orangtuamu perbuat sampai memiliki anak sepertimu." Changmin pun tertunduk takut.

"Pergi!" bentak Yunho membuat Changmin terkejut, Changmin segera berlari kembali ke kamarnya. Yunho segera menghubungi seseorang setelah itu.

"Cari info tentang keluarga anak bernama Changmin, buat sulit keluarganya." Kyuhyun yang mendengar itu pun terdiam, Changmin mendapatkan kesulitan lagi karenanya.

.

"Beres tuan Jung, anak itu sedang sakit. Kami meminta pihak Rumah Sakit memberhentikan perawatannya."

"Baguslah. Anak itu selalu mengganggu anakku."

"Tapi tuan, apa ini tidak terlalu kejam? Anak itu sepertinya sakit serius."

"Aku tidak peduli, dia bukan anakku ini."

Yunho pun mengalirkan air matanya, anak yang seharusnya ia sayangi, selalu saja ia persulit. Yunho menatap Changmin yang sedang Jaejoong peluk erat.

"Kita bawa Changmin ke Rumah Sakit, ayo Jae." Jaejoong pun menatap Yunho.

"Di sini hanya 1 Rumah Sakit, ada pun sangat Jauh, tadi siang Rumah sakit tidak mau menangani Changmin." Yunho semakin sakit mendengarnya.

"Akan aku tangani semuanya." Jaejoong pun mengangguk dan berdiri dengan menggendong Changmin yang sudah tidak sadarkan diri. Yunho dan Jaejoong pergi bersama ke Rumah sakit tersebut, Yunho melajukan mobilnya dengan cepat, hatinya sangat kacau kini. Sesekali ia melirik Changmin yang berada di dekapan Jaejoong.

"Maafkan Appa sayang, maaf." Batin Yunho.

Yunho dan Jaejoong sungguh berharap atas keselamatan Changmin saat ini. Mereka tidak ingin Changmin kenapa-kenapa. Kedua orang ini saling di liputi rasa bersalah, apa Tuhan mengizinkan mereka perbaiki semuanya?

TBC

Makasih Riviewnya