Oda Sakunosuke, 10 Januari, 23 Tahun.
"Aku sudah tidak bisa menulis sebuah cerita lagi
Aku tersungkur dengan sisa emosi didalam diriku. Dadaku terasa sesak seperti ingin meledak, sama dengan mobil didepan sana.
Sejak Ango menghilang, aku menjadi seorang yang lebih banyak khawatir dan melamun. Aku tahu ada yang salah, namun keterlambatanku dalam bertindak meluluhkan semua yang aku miliki.
Bukan berarti aku tidak peduli dengan rekan-rekanku, bukan berarti aku tidak peduli dengan anak-anak itu, bukan pula berarti aku tidak peduli dengan kesehatan mental Dazai.
Aku ingin berbalik jika bisa, tapi karena aku sulit menjadi diri sendiri, maka aku tidak bisa berbalik. Emosi didalam diriku masih terbakar, aku merasa marah dan frustrasi dalam satu waktu. Meski aku berteriak sekuat tenaga, semua yang sudah pergi tidak bisa ditarik kembali. Satu detik berlalu dan semua leyap. Wajahnya, suaranya, tubuhnya. Semuanya.
Teriakan frustrasiku hanyalah sebuah luapan emosi yang tidak tertahan. Rasanya mataku perih, sesuatu yang tidak biasa terjadi. Aku menangis, untuk mereka. Untuk keterlambatanku dalam bersikap.
Aku ingat, ketika senja pertama datang dibulan Januari. Ketika aku menemani Dazai dan partnernya menyelesaikan misi, tiba-tiba Dazai berkata padaku.
"Aku ingin dewasa seperti dirimu, Odasaku."
Saat itu aku hanya tersenyum ringan dan menepuk punggungnya. Bagaimana bisa aku berkata kalau aku bukan orang dewasa keren yang bisa dia contoh —tidak— aku bahkan belum dewasa. Rasanya munafik jika aku berkata seperitu.
Umur tidak bisa dijadikan alasan orang tersebut sudah dewasa atau belum. Aku harap masa depan Dazai lebih baik.
Tapi maaf... aku tidak bisa berjanji untuk membantu dalam prosesnya. Aku harap dia bertemu dengan orang-orang yang lebih baik dariku, orang yang bisa membimbingnya, orang yang akan menyadarkannya dan terus menuntunnya.
Aku mendekat pada Dazai dan Chuuya, lalu merangkul pundak mereka.
"Ayo makan kari." Dazai menghela nafas kasar, sedangkan Chuuya hanya menatap bingung padaku.
Kilas balik kembali menghantamku. Seandainya aku tahu perkataan Dazai dibar saat itu menjadi hari dimana kami—Aku, Dazai, dan Ango dapat berkumpul bersama.
"Ayo berfoto sebagai pengingat."
End.
A/N:
Singularity (kb) -keistimewaan (memories) , keanehan, keganjilan.
HYYH: Hwa Yong Yeon Hwa (Hangul: 화양연화) (Chinese: 花樣年華), yang artinya "the most beautiful or happiest time of one's life."
Padahal itu ff ga ada happynya samsek. :"v LOL
Lama tidak nulis gaes..jadilah ini ff ganyambug maafkeun atuh.
Maaf banyak typo :(( ga diperiksa dulu soalnya. Tulis langsung up.
#Side Story#
Hujan dibulan Januari adalah yang terburuk—menurutku. Hari ini aku berdiri dilorong rumah sakit selama para dokter masih berusaha didalam.
Air masih menetes dari ujung rambutku, campuran air keringat dan air hujan. Aku berlari kemari tanpa pikir, aku tahu aku salah. Dan aku tidak sepantasnya berada disini, menunggunya.
Bagaimanapun dia terluka karena aku terlibat. Tetapi perasaan dimana aku masih berharap dia ada, adalah hal yang membuat tubuhku bergerak kemari. Dazai sudah pergi setelah memukulku.
Aku tahu dia marah. Aku juga, aku marah pada diriku sendiri.
"Tolong urus pemakamannya segera. Dan bereskan semua yang terlibat didalamnya." Seseorang berkata demikian, dan aku masih berdiri ditempat yang sama, menunduk dibalik dinding lorong rumah sakit.
Ketidak percayaanku bahwa kini dia sudah tiada membuat dadaku terasa berat dan sesak.
Saat aku memutuskan untuk kembali ke apartemen, dan langsung menjatuhkan tasku secara kasar, beberapa benda keluar, ada senapan, tali dan sebuah buku catatan yang terbuka. Menampakan coretan tangan yang familiar.
"You don't have to say sorry, you did well and do your best. I know it better than anyone. Because i'm your friend."
Aku ingat Odasaku-san menulisnya dilembar buku catatanku saat pertama kali aku melakukan kesalahan dalam bekerja. Seandainya aku lebih mengerti arti pertemanan sejak awal. Odasaku-san.. tolong maafkan aku, pada akhirnya aku masih terus membuat kesalahan dan melibatkan dirimu.
–Sakaguchi Ango, 22 Tahun, 10 Januari.
Oke siippp END
Sebenernya masih agak bingung sih sama Ango, dia ini baik atau sebaliknya. Tapi yoweslah. Yang diatas hanyalah pemanasan setelah sekian lama tidak menulis/haalah/
--Gini.. 10 Januari itu tanggal kematian Odasaku :')
Thanks for your reading~~
