LIMIT

Plum Peach

Kenyataan yang sesungguhnya ada di antara mereka hanyalah sebatas kenangan semu. Seperti sebuah kebenaran yang tersembunyi di balik pantulan air yang murni —The Cut Scene from DAYDREAM, LIMIT. Third Chapter —Limit of Truth /ALWAYS BAD SUMMARY/ Pairing: Always_SasuNaru


LIMIT

The Cut Scenes from DAYDREAM

Terkadang aku bersikap tak peduli akan apapun

Tapi seseorang pernah berkata pada ku:

"Terkadang orang yang bersikap tak pernah peduli pada kita itulah yang sebenarnya sangat peduli pada kita"


Tanah yang basah, berlumpur dan dipenuhi dengan tumpukan daun yang berguguran membuat setiap langkah Naruto yang sedang berlari menjadi agak tersendat–sendat karenanya. Pemuda blonde itupun tampak hampir terjatuh beberapa kali, jika saja dirinya bukanlah seseorang yang memiliki refleks yang bagus di saat tatapan matanya harus tetap terfokus pada sosok yang dikejarnya saat itu.

Senja mulai berubah menjadi malam, ditambah dengan air hujan yang tiada henti–hentinya jatuh dari langit membuat pemuda bersurai pirang itu sedikit meringis begitu merasakan gejala penyakitnya yang mulai kambuh.

Jantungnya terasa berdegup semakin kencang, di kala sosok wanita yang diikutinya itu terlihat semakin jauh dari jangkauan matanya yang mulai kehilangan fokus. Manik sapphire milik pemuda itu mulai tertutup perlahan oleh kelopak matanya yang terasa semakin berat, bersamaan dengan tubuhnya yang juga mulai kehilangan keseimbangannya, sebelum akhirnya pemuda itu limbung dan langsung terperosok ke samping kanannya yang ternyata adalah dataran tanah yang cukup landai dan curam.

'Uso!' —batin Naruto, kaget, sebelum dirinya benar–benar kehilangan kesadaran dan jatuh berguling–guling ke dasar lembah.

.

"Sraak! Krosaak!"

Suara gemerisik dari arah depan membuat Sasuke segera mengalihkan pandangannya ke sepenjuru arah, waspada, sorot matanya tampak memicing tajam begitu menangkap sekilas sesuatu yang tampak memantulkan cahaya rembulan ke arahnya dari balik tumpukan dedaunan sana.

Tanpa disadari oleh pemuda raven itu, hari sudah beranjak malam dan menjadikan daerah sekitarnya gelap gulita, jika saja malam ini bukan malam bulan Purnama. Hujan baru saja reda, menyisakan sedikit awan kelabu yang terkadang menutupi keindahan dari sinar lembut rembulan yang sesekali membias di antara dedaunan basah di hutan itu.

Diiringi dengan suara–suara makhluk malam yang sepertinya baru saja keluar dari persembunyiannya, Sasuke mulai berjalan perlahan menuju sesuatu yang sempat menyilaukan matanya tadi. Sedikit membungkukkan badannya, pemuda raven itu tampak mengulurkan tangannya, memungut sesuatu yang ternyata adalah sebuah kalung dengan Kristal biru muda berbentuk prisma unik sebagai bandulnya.

Sasuke tampak menaikkan kalung itu, mengarahkan bandulnya yang menggelantung bebas pada cahaya rembulan yang mulai terlihat dari balik awan, membuat Kristal biru muda itu kembali bersinar lembut begitu dipandang oleh onyx kelam miliknya, memantulkan bayangan dirinya dalam Kristal itu.

Sedikit bergumam kecil, sang raven yang merasa tidak asing dengan kalung itu mulai memperhatikan Kristal itu dengan seksama,

"Ini—"

"Cepat—" sebuah lantunan suara lembut seseorang mulai terdengar, membuat sang raven agak berjengit, terkejut bersamaan dengan manik onyx miliknya yang menangkap sosok seseorang yang tampak sedang berdiri di belakangnya dari pantulan Kristal yang dipegangnya,

"Cepatlah, jika kau memang ingin menemukannya—"

.

Kosong.

Hanya angin yang berhembus pelan terasa menusuk tulang yang menyambut sang raven yang tampak jengah ketika membalikkan badannya ke belakang, setetes keringat dingin tampak meluncur dari pelipis kanannya, membuat nafasnya yang sempat tidak teratur mulai berubah tenang. Sasuke dengan cepat memasukkan kalung itu ke dalam saku mantelnya, sambil memastikan sekali lagi jika ia hanya sendirian di tempat itu.

Halusinasi —batinnya, sebelum Sasuke yang mulai melangkahkan kaki jenjangnya itu tampak kembali terkejut, seketika onyx miliknya membulat begitu melihat apa yang telah diinjaknya, sebuah syal orange—syal milik seseorang yang sangat ingin dijaganya saat ini, Uzumaki Naruto.

"Kuso!" suara rutukan sang raven pada dirinya sendiri terdengar sekilas sebelum tangannya menyambar syal itu, memungutnya, lalu berlari dengan cepat ke arah tempat dirinya meninggalkan sang blonde sendirian tadi, terus berharap jika Naruto akan baik–baik saja di sana.

.

.


Plum Peach

Itcha Meguri S.A. Honokaa Sagami

Present

A SasuNaru Fanfiction for nothing, really?

LIMIT

Disclaimer: NARUTO (manga/anime/chara) ©Masashi Kishimoto–sensei

Genre: Drama, Romance!Picisan, Mystery!Gaje and other…

Rating: T

Pairing: Always_SasuNaru4ever

––– WARNING –––

Summary yang kagak nyambung dengan cerita yang tidak jelas, Shonen-ai or Yaoi kah? (Slash! Pokoknya Boys love! Yay!), AU, OC plus OOC, Kosa-kata absurd(?!), Typo(s) bergentayangan? and OTHER WARN because this is my 4.5th fiction~

Cerita ini hanya berisikan kosa kata absurd penulis yang memang ndak punya ide menarik dan berakhir dengan kebingungan mau buat apalagi selain cerita ndak mutu seperti ini karena penulis terlalu suka menggunakan EYD+2P (Ejaan Yang Diinginkan+Pemikiran ala Penulis) yang baik dan benar~

––– WARNING –––

NOT LIKE MY STORY? PLEASE DON'T READ FOR SAFETY~

BUT "THANKS" TO ALL OF YOU THAT WANNA READ AND LIKE THIS STORY

PLEASE DON'T BLAME THE CHARA/ PAIRING/ OTHER IN ORIGINAL MANGA 'CAUSE THIS WORST FIC OF MINE ^_^


.

LIMIT

Third Chapter Limit of Truth

Lihatlah kebenaran itu melalui perasaanmu

Apakah dia pernah berbohong?

Ataukah dirimu sendiri yang selalu membohongi perasaanmu itu?

.

.

Sasuke tampak cukup kepayahan hanya untuk mengejar sosok wanita bergaun hitam yang dilihatnya tadi.

Sedikit demi sedikit kaki jenjangnya membawa dirinya semakin memasuki hutan di lembah Utara Kota Konoha, tanpa sadar, di saat yang bersamaan juga membuatnya semakin menjauh dari kerumunan orang–orang yang paniknya bukan main di jalanan sana.

Beberapa kali pemuda bersurai hitam itu berbelok, melewati satu pohon lagi, tetap terfokus untuk mengikuti wanita itu sebelum akhirnya langkahnya terhenti begitu manik onyx miliknya menangkap sosok seseorang yang tampak sedang bersandar pada pohon yang tidak jauh darinya.

.

"Ohayou, Uchiha Sasuke–sama. Apa kau menikmati harimu?" suara seorang pemuda tampaknya menyapa indera pendengaran sang raven, membuat Sasuke yang terdiam mulai membaca situasi yang sedang dihadapinya itu.

"Siapa kau?" tanyanya kemudian, manik onyx sasuke tampak menicing tajam, ketika dirinya mencoba untuk mendekati sosok pemuda yang ternyata memiliki ciri fisik yang cukup mirip dengannya itu, walaupun pemuda itu bisa dikatakan lebih manusiawi dibandingkan sang raven dengan surai hitamnya yang tampak polos.

.

"Yare yare~ Apakah aku harus menjawab pertanyaan dari seseorang yang sudah mati sepertimu, hm?" balas pemuda itu, santai, sembari mempermainkan senyumannya yang mengganjil.

"Apa maksud perkataan mu itu, hn? Lalu darimana kau tahu nama ku? Walaupun aku tak bisa mengingat apapun sebelum ini tapi aku cukup yakin tak pernah mengenalmu!" nada sengit dari sang raven membuat pemuda itu sempat ingin tertawa, sebelum akhirnya mereka berhadapan dalam jarak yang cukup dekat hanya untuk saling menatap lawan bicaranya.

"Hmm… Mungkin tidak apa–apa kalau aku memberikan sedikit clue padamu." gumam pemuda itu, terlihat sedikit menimbang–nimbang keputusannya untuk melanjutkan pembicaraan mereka, "Baiklah! Namaku Sai, aku adalah Shinigami eits, aku akan menjadi pemandu mu mulai hari ini, jadi selamat datang dalam dunia antara kehidupan dan kematian, Uchiha Sasuke!" Ucap pemuda bernama Sai itu lagi, sedikit terdengar aneh dalam setiap perkataannya.

"Hah? Maksudmu"

"Tugasku di sini hanya memandumu untuk menemukan 'alasan' kematianmu."pemuda itu tampak melanjutkan ucapannya, menghiraukan ekspresi sang raven yang sempat kebingungan, sebelum akhirnya Sasuke bersikap stoic lagi, kembali mendengarkan penjelasan Sai yang sebenarnya tak masuk di akal itu.

"Kau punya batas waktu 1001 hari terhitung hari ini. Selama itu juga kau akan ditugaskan menjadi scheduler —penjadwal waktu bagi orang–orang yang akan meninggalkan dunia fana ini. Sebelum batas waktu berakhir, ingatanmu tidak akan dikembalikan seperti sebelumnya, selain itu aku juga tidak diperkenankan untuk menjelaskan lebih lanjut padamu, jadi cukup sampai di sini."

.

Hening seketika di antara dua pemuda itu.

.

"Jadi aku sudah mati?"

"Hmm… Sebenarnya kau sedang koma sekarang, jadi lebih tepatnya kau itu 'setengah hidup, setengah mati', Uchiha."

"Hn. Lalu apa maksudmu dengan 'alasan' kematian, huh? Ku rasa aku tidak pernah menginginkan kematian seperti ini, jadi kenapa aku harus melewatkan 1001 hariku terbelenggu dalam takdir konyol seperti ini?"

"…"

"…"

"Kau bodoh."

.

Ucapan Sasuke tampaknya membuat pemuda di hadapannya itu berubah drastis, memperlihatkan ekspresi seriusnya yang cukup membuat sang raven tak bergeming, sedikit pun, "Ku pikir seorang Uchiha Sasuke adalah seseorang yang masih bisa berpikiran lebih baik walaupun dalam situasi aneh seperti ini…" jeda sesaat, pemuda itu tampak memperlihatkan ekspresi meremehkan, membuat Sasuke menatap tajam ke arahnya, "Ternyata aku salah besar, huh?" ucap Sai kemudian, mulai berbalik pergi meninggalkan sang raven.

"Walaupun kau adalah seseorang yang tak bisa menghargai takdir, sebagai pemandu mu aku akan tetap mengunjungi mu setiap akhir minggu, jadi kau tak perlu khawatir jika mengalami kesulitan selama 1001 hari ini!"lanjutnya lagi, sedikit menoleh ke arah Sasuke yang tampaknya cukup lega begitu mendengar ucapannya itu.

Pemuda itu pun mulai melangkahkan kakinya lagi, tampak tersenyum ganjil, sebelum menghilang dan mengatakan—

"Ku sarankan kau mencari 'Uzumaki Naruto' terlebih dahulu, Uchiha! karena dia kunci takdirmu; Kau hidup maka dia juga akan tetap hidup, mengerti?"

.

.


Ada rasa yang selalu mengganggu bila ku ingat tentang dirimu

Saat pertama ku pandang pesona di wajahmu

Ku rasa saat itulah hatiku terperangkap dalam jeratan benang merah takdir bersamamu


.

.

Cahaya lembut rembulan tampaknya berhasil membuat Naruto terbangun, tidak seperti biasanya, pemuda bersurai pirang itu tertidur dengan jangka waktu yang cukup pendek —hanya sekitar dua jam lamanya. Gemerisik dedaunan terdengar samar–samar oleh sang blonde, di saat dirinya yang masih dalam kondisi setengah terjaga itu merasa bahwa tubuhnya mengapung di udara, hangat.

Perlahan–lahan manik sapphire miliknya terlihat dari balik kelopak matanya yang mulai terbuka, memandang ke arah pepohonan dan semak belukar yang ada di sebelah kirinya yang tampak bergerak ke belakang, seketika membuat Naruto menyadari bahwa dirinya sedang di gendong oleh seseorang saat ini.

.

"—Sasuke?"

Suara Naruto yang terdengar setengah berbisik membuat sosok pemuda yang sedang menggendongnya itu berhenti sejenak, mencoba menoleh ke arahnya yang masih merasa betah untuk menumpukan dagunya pada pundak sang raven. Tangan tan miliknya yang sejak tadi menggelantung di depan dada Sasuke terasa sedikit kaku, membuat pemuda blonde itu mencoba merenggangkannya sebelum memeluk leher pemuda raven itu, erat.

"Hn. Bagaimana tidurmu, Naruto?" suara Sasuke terdengar seperti lantunan lullaby yang indah, sedikitnya membuat Naruto menggelengkan kepalanya di balik punggung sang raven, pelan, hanya untuk menghilangkan rasa kantuk yang memaksanya untuk kembali memasuki alam mimpi.

"Umm… Kita mau ke mana?" sang blonde mulai bertanya, tetap dengan suara berbisiknya, begitu merasa yakin dirinya sedang berada di belakang punggung tegap 'penjaganya' yang hangat, nyaman, di saat pemuda itu sepertinya berjalan semakin memasuki hutan —bukan pulang ke rumahnya.

Sasuke tak bergeming sedikit pun, tak menjawab pertanyaan sang blonde, membuat Naruto yang memang merasa cukup kelelahan akhirnya memilih untuk berdiam diri dengan menenggelamkan wajahnya di balik punggung Sasuke dan semakin mempererat pelukkannya pada sang raven.

.

"Krosaak! Grosak! Gaakk! Gaakk"

"…?!"

Suara gemerisik dari pepohonan serta suara–suara makhluk malam terdengar tiba–tiba, menyisakan hembusan angin dingin yang sempat menyapa kulit kedua pemuda itu, berhasil menghentikan langkah Sasuke seketika dan membuat Naruto terkejut hingga hampir mencekik sang raven.

Hening. Hanya suara angin malam yang berhembus pelan yang terdengar.

.

"Hn. kau takut, Naruto?" suara sang raven mengintrupsi keheningan malam, begitu menyadari sang blonde di belakangnya masih gemetar, sepertinya sedang ketakutan, hingga pelukan Naruto pada lehernya agak melonggar.

"E— eh? Tidak! Aku tidak takut, Teme!" elak pemuda bersurai pirang itu, wajahnya tampak memerah, hangat, begitu menyadari Sasuke sedikit melirik ke arahnya dengan senyuman tertahan.

"Hei, jangan memanggilku 'Teme'! Kalau kau takut bilang saja padaku, kita pulang sekarang."Balasan Sasuke membuat Naruto seketika mengembungkan kedua pipinya, cemberut, sedikit mulai memberontak dari gendongan sang raven hingga mereka berdua hampir terjatuh jika saja Sasuke tidak kuat menahan beratnya.

"Yak! Kau yang duluan memanggilku 'Dobe' sebelum menghilang tadi!" ujarnya, masih mengomel ria, "Memangnya kau mau mengajakku ke mana? Kalau kau benar–benar mau mengajakku ke sana, ya kesana! Kalau tidak, ya tidak! Baka Teme~!" Teriakkan Naruto membuat Sasuke mulai gemas, hingga pemuda bersurai hitam itu menurunkan sang blonde dari gendongannya.

"Kau benar–benar berisik Dobe!" Sasuke terlihat kesal, membuat Naruto semakin menatapnya sengit tanpa menyadari seulas senyuman jahil sempat menghiasi paras rupawan sang raven.

.

"Teme —eits!"

"GUBRAK!"

"…"

"…"

Suasana hening kembali menghampiri keduanya, di kala sang blonde langsung terjatuh dengan posisi tengkurap dengan wajah yang mencium tanah basah di bawahnya terlebih dahulu. Manik onyx Sasuke tampak membulat seketika begitu mendapatkan pemandangan konyol yang sangat langka di hadapannya itu, hingga akhirnya sang raven tidak bisa menahan tawa mengejeknya lagi.

"HmpftHahahahahaha!"

"…"

"Hahaha— Hn. kau benar–benar Dobe, Naruto!" tanpa disadarinya, Sasuke tampak terus tertawa mengejek, menampilkan sisi lain dirinya yang sangat berbeda, sangat arrogant dan santai, mengabaikan sang blonde yang mulai bangun dari posisi mirisnya dan langsung duduk terdiam, menatap sang raven dengan dua manik sapphire miliknya yang tampak sembab.

"Hiks. hiks— hiks… Hwaaaaaa~" suara tangis Naruto akhirnya pecah, membuat Sasuke seketika menghentikan tawa OOCness yang sejak tadi dikumandangkannya, segera menghampiri sang blonde yang masih terduduk beralaskan dedaunan yang masih basah akibat hujan sore tadi.

"Whoa! Dobe— ish, Naruto? Kau tidak apa?!"tanya Sasuke, kelimpungan.

Air mata pemuda pirang itu tampak mengalir membasahi kedua pipi chubby miliknya, membuat sang raven menatapnya iba. Tangan berbalut kulit putih pucatnya langsung mengusap air mata itu, mempertemukan kulit alabasternya yang dingin dengan kulit tan hangat milik sang blonde, membuat Naruto yang masih menangis terisak itu agak terkejut, walaupun akhirnya ia membiarkan saja tangan pucat milik pemuda raven yang tampak berlutut di hadapannya itu tetap menyentuhnya, lembut.

"Hiks— Jahat! Kau benar–benar Teme, Sasuke!" ujar sang blonde diantara isak tangisnya, berhasil membuat Sasuke merasa sangat bersalah padanya.

"Hn. Aku memang brengsek karena sudah meninggalkan mu sendirian tadi… Maafkan aku, Naruto." Ucapan maaf terlontar dari bibir pucat Sasuke, seketika menghentikan tangisan Naruto yang tampaknya kembali terkejut, "Apa kakimu terasa sakit?" sang raven kembali bertanya, tampak khawatir sembari tangannya beralih ke kaki kiri sang blonde, melepaskan sepatunya.

"Waktu aku menemukanmu tadi, kau pingsan di dekat sungai sana." sesaat telunjuk kanan sang raven menunjuk ke arah berbeda, membuat Naruto mengalihkan pandangan matanya yang sembab, sesaat ke arah yang ditujukan olehnya, "Ku rasa kakimu terkilir, makanya kau terjatuh tadi." Kali ini Sasuke tampak mengeluarkan syal orange milik sang blonde dari saku mantelnya, membebatkannya pada pergelangan kiri Naruto yang tampak agak membengkak itu.

.

Onyx dan Sapphire bertemu di kala remangremang cahaya rembulan malam itu menerangi mereka, membuat waktu seolah terhenti bagi salah seorang pemuda itu begitu ia menyelami mata lawannya, sesaat menemukan kehangatan yang mendalam di sana.

.

Sasuke yang sudah menyelesaikan pekerjaannya itu langsung mengalihkan pandangan matanya ke arah Naruto, yang tampaknya sedang melamun sejak tadi, membuat sang raven kembali tersenyum tertahan, chuckled, "Hn. Pulang nanti, ingatkan aku untuk membuat es batu untuk kakimu yang bengkak ini, mengerti?" ucapnya sambil mengelus surai pirang milik pemuda di hadapannya itu, pelan, membuat Naruto sedikit tersentak, mundur.

"Huh?" Naruto yang sepertinya sudah tersadar dari lamunannya tampak salah tingkah, segera menepis pelan tangan sang raven, sebelum menganggukkan kepalanya lalu memalingkan wajahnya yang tampak bersemu merah dari hadapan Sasuke.

"Aa— Aku mengerti." Ucap Naruto akhirnya, sebelum pemuda berurai pirang itu menutup bibirnya yang tampak bergetar dengan punggung tangannya, malu, walaupun tetap mencuri pandang ke arah Sasuke yang sedang menatap teduh padanya.

.

.


Indahnya rembulan di malam itu seakan menyatu dengan keinginan ku untuk memiliki cintamu

Cinta yang takkan pernah kau ucapkan


.

.

Seulas senyuman tulus masih terpatri jelas pada paras rupawan seorang Uchiha Sasuke di saat dua pemuda berbeda yang sejak tadi mendengarkan ceritanya hanya bisa terdiam tanpa menyela sedikitpun, begitu mereka menyadari pandangan teduh sang Uchiha bungsu yang terpancar jelas dari kedua onyx miliknya selama sang raven bercerita.

"Ck. kalau kau sebegitu menyayangi adikku hingga tak mau melihatnya terluka lagi, kenapa kau berbohong seolah kau tidak mengenalnya saat sudah terbangun, huh?" suara berat Kyuubi terdengar mengintrupsi helaan nafas Sasuke, bersamaan dengan kedua manik ruby miliknya yang menatap pemuda raven itu, bingung.

"Hmph— lalu setelah itu apa? Kau pikir dengan membuatnya semakin dekat denganku akan jauh lebih baik sebelum aku membuangnya ketika waktu ku untuk 'pergi' tiba?" sahut sang raven, getir, "Kau tau? Waktu yang tersisa tak lebih dari lima puluh hari lagi, dan aku masih belum menemukan alasan ku untuk menghindari 'kematian' itu!"

"Tapi Otouto—"

"Jangan bercanda! Cukup saat aku meninggalkannya waktu itu aku membuat satu kesalahan konyol dengan mengatakan rasa 'sayang' ku padanya!" suara Sasuke terdengar naik satu oktaf, membuat suasana di antara mereka kembali menjadi semakin tidak nyaman, terlebih bagi sang raven yang langsung merasa serba salah pada dirinya sendiri,"Sekarang, aku tak ingin membuatnya membalas perasaan itu…. Aku tak ingin membuatnya lebih terluka daripada ini." lirihnya kemudian.

.

Matahari sudah tenggelam sejak tadi di balik kaki langit —horizon barat, lebih tepatnya di balik dataran yang cukup tinggi di ufuk barat sana, didominasi oleh pepohonan cemara yang berbaris rapi, menjulang cukup tinggi, berlatarkan langit senja berwarna biru keunguan.

Udara dingin mulai berhembus, menusuk tulang, membuat sang raven agak menggigil kedinginan walaupun dirinya tak bergeming sekalipun hanya untuk menatap kakaknya ataupun kakak dari orang yang disukainya, Sasuke tetap menundukkan kepala dalam diam.

.

"TAP!"

Sebuah tepukan hangat cukup terasa di atas surai hitam sang raven, hingga membuat pemuda itu cukup terkejut dan langsung mendongakkan kepalanya hanya untuk menemukan seulas senyum penuh pengertian terlukis jelas pada sosok kedua pemuda yang saat ini sedang menepuk puncak kepalanya pelan.

"Jujur saja, aku tak tahu harus marah atau senang kalau mengingat kau itu hanya seorang bocah arrogant yang mencoba menyayangi adikku dengan caramu sendiri." gumam Kyuubi, berhenti menepuk sang raven yang tampaknya masih terdiam, bersamaan dengan Itachi yang mulai beranjak dari tempatnya duduk.

"Nah, Kyuu! Ku rasa kita perlu mencari Naru–chan sekarang." seru Itachi, meninggalkan Kyuubi yang masih berpikir, mencerna perkataan si Sulung Uchiha sebelum melangkahkan kaki menuju pintu, "Sepertinya dia tersesat sampai–sampai tidak kembali ke sini, hm?" ucap Itachi dengan nada sok khawatir, membuat Kyuubi membatu seketika dengan wajah yang terlihat pucat pasi, hingga akhirnya si Sulung Uzumaki dengan sikap protective supernya itu berlari keluar ruangan untuk mencari adik satu–satunya itu.

Itachi tampak terkekeh kecil begitu melihat tindakkan Kyuubi yang menurutnya terlalu over protective, sebelum akhirnya pemuda Uchiha itu memilih untuk segera keluar dari ruang perawatan adiknya.

.

"Aa! Sasuke"

Suara pemuda berkuncir satu itu kembali terdengar dari balik pintu kamar yang baru setengah tertutup, membuat sang raven yang sedang menatap jauh keluar jendela langsung mengalihkan pandangan sejenak padanya, "Ku rasa kau sudah cukup bijak untuk menentukan pilihan hidupmu sendiri, jadi hanya satu saranku padamu; Jangan sampai kau menyesali jalan yang sudah kau pilih itu, Otouto." Ucapnya kemudian,

"Terkadang di saat kau berpikir untuk menyembunyikan semuanya, berpura–pura tak mengerti, hingga semua kesalah–pahaman terjadi, merasa lebih baik untuk tersakiti sendirian, kau itu sebenarnya terlalu naïve…"

Sasuke tampak tetap mendengarkan setiap perkataan sang kakak, walaupun tatapan matanya sudah kembali teralihkan keluar jendela, menatap kumpulan burung–burung gagak yang tampak berterbangan di langit malam, "Hmph mungkin tak seharusnya aku berkata begini tapi; Apa kau tidak merasa kalau kau sedang membuang waktu berhargamu yang tersisa untuk bersama Naruto hanya karena semua kebohongan ini, Sasuke?"

Perkataan Itachi yang terakhir bersamaan dengan suara pintu kamarnya yang sudah tertutup sempurna membuat sang raven bertopang dagu, menerawang tentang hal–hal yang bisa saja terjadi selanjutnya dalam kehidupannya kini.

.

.

"To Be Continue" or "HIATUS"? #plak!


A/N: Yak! Cerita ini semakin menjadi ngawurnya~ #duagh!

Padahal Itcha milih judulnya "LIMIT" karena bagi Itcha waktu SasuNaru dalam cerita ini sangat terbatas, makanya Itcha ingin menjelaskan sebaik mungkin bagaimana mereka melewati waktu yang 'terbatas' itu bersama, hingga akhir… #tapi ceritanya malah semakin absurd begini TTATT *failed*

Gomenasai… *menunduk dalam*

Hontou ni Gomenasi… karena cerita ini semakin membingungkan dan merepotkan minnasanUntuk masalah membedakan yang mana flashback dan mana yang bukan, Itcha sebenarnya juga bingung untuk memisahkannya –w– #gampared! Jadi maaf kalau kesannya makin menjadi cerita flashback dalam flashback…. Sulit dibedakan~ #maksud? O.O #plak! PLAK!

.

Special Thanks to:

Haraguroi Yukirin; dhearagil; mifta cinya…

and you who read this fanfic 'til the end!

"Arigatō Gozaimasu!"and still, "Mind to review, minna–san?" ^^