Seiffer-chan : \^o^/ welcome dear ang arigatouu XD
ehh? GoM jadi seraph? Jawabannya : Ada yang iya, ada yang enggak, saya belum bisa spoiler siapa yang jadi seraph-siapa yang enggak, tapi dari chapter yang sekarang ketahuan kok 'beberapa' -ehem- lakonnya XD/

Vairne : LON TME O' SE VAVAAAA, okee sama-sama semangat ya superman pirang~ X3/

Here we go~ Happy reading~


Kuroko no Basket © Todatoshi Fujimaki

Seraph © aonyx

Rated : T

Genre (s) : Friendship | Supernatural

Cast (s) : Kagami Taiga | Kuroko Tetsuya


"Karena seraph tidak pernah gagal." Jawab Kuroko seolah pernyataan itu sudah sangat jelas.

"Tidak pernah?"

Kuroko terlihat ragu dalam sesaat, "Tidak pernah. Selama seabad ini."

Kagami memeluk gulingnya. "Dan jika saat ini—maksudku kau, itu gagal?"

Kagami tidak yakin apa maksud tarikan tiap sudut bibir Kuroko. Dirinya benar-benar menolak untuk menyebut itu sebagai senyuman. Tidak ada senyuman dengan taraf kesedihan seperti itu di mata seseorang, sepengetahuannya.

"Aku. Kau. Mati."


[ the only one who can see me ]

Hening.

"Kau bercanda Kuroko?"

Kuroko masih mengamati Kagami lekat. "Apa aku kelihatan sedang bercanda?"

"Kumohon katakan kalau perkataanmu tadi bercanda... Ya?"

"Oke, aku bercanda." Kata Kuroko dengan raut wajah kosong persis seperti tadi.

Kagami mendesah. Seraph ini tidak bercanda.

"Tapi." Kata Kuroko. "Memang benar kalau seraph utusan Tuhan untuk seorang manusia di Bumi tidak bisa mengerjakan tugasnya akan mati bersama manusia itu, tapi kau boleh tenang, karena pada dasarnya, kami selalu membawa kabar bagus—tidak gagal, saat kembali ke Surga. Hal seperti ini sudah biasa buat kami, seperti sumpah mati kalau dibilang." Kuroko memilin bulu sayapnya. "Kalaupun kita mati, paling hukumannya kita hanya direbus di panci besar Neraka." Lanjutnya.

Tenang. Gerutu Kagami. Kalaupun kau gagal, kau hanya akan jadi 'Kagami Rebus', lucu sekali.

Kuroko mencabut sebuah bulu sayapnya, ia mengucapkan sesuatu—yang Kagami sama sekali tidak mengerti ucapannya, dan bulu itu berubah bentuk.

Kagami menatap sebuah benda tipis berwarna putih dengan garis-garis di sepanjang tubuh benda itu. "Apa para seraph selalu melakukan sihir yang tidak berguna seperti mengubah bulu menjadi kertas?" Tanyanya.

"Apa kau ingin kujatuhkan dari atas gunung, Kagami-kun?"

Kagami memekik dan memeluk gulingnya makin erat. "eh—tidak!".

Apa seraph ini benar-benar ingin menolongku atau ingin sekali mendorongku ke neraka sih ..

Satu suara masuk ke dalam pikirannya. Mungkin keduanya, Kagami-kun.

Kagami memelototi Kuroko, ia jelas-jelas lupa kalau seraph di depannya ini bisa membaca dan membalas pikirannya. "Berhenti membaca pikiranku, Kuroko. Itu ... "

"Memalukan?" Tebak Kuroko. "Tapi walaupun aku tidak membaca pikiranmu, Kagami-kun, kepalamu memang sudah benar-benar transparan dari awal."

"Wha—APA MAKSUDMU DENGAN TRANSPARAN?" Bentak Kagami.

Kuroko melambai-lambaikan kertas kosong di tangannya, jelas-jelas tidak peduli. "Sekarang, ambil ini, dan tulis apapun hal yang ingin kau perbaiki di atasnya, Kagami-kun."

Kagami mengambilnya dan menatap kertas itu seolah-olah kertas itu akan meledak tepat di depan wajahnya. "Dengan apa aku menulis di kertas ini?"

"..."

"Kuroko?"

"Kagami-kun. Jangan bilang kalau kau tidak punya pulpen."

"Eh?" Kagami menyisir rambutnya dengan kelima jemarinya. "Kukira akan ada sesi pencabutan bulu sayap lagi lalu berubah jadi pulpen." Ujarnya.

"Apa sayapku mirip seperti toko buku, Kagami-kun?"

"Tidak?"

Kuroko menghembuskan napas kuat-kuat. "Kita menghabiskan waktu."

"Oke-oke." Kagami mengalah, memutuskan untuk meladeni saja apapun permainan seraph berwajah datar di depannya.

Baiklah. Mari kita lihat apa yang kuinginkan~

Cewek cantik

"Kagami-kun?" Kuroko mengintrupsi. "Bukankah sudah kubilang kalau hal yang harus kau tulis disitu adalah hal yang ingin kau rubah?"

Kagami memicingkan matanya, memberengut. "Jadi aku tidak dapat cewek cantik?"

"Tidak." Kuroko sepakat. "Kecuali kalau kita sudah menghilangkan sifat idiotmu, yang memang, maaf, mustahil."

Oh Tuhan.. Pikir Kagami. Bagaimana ada makhluk yang jelas-jelas menghina seseorang dengan nada datar, kata-kata sopan, dan wajah yang serata tembok seperti DIA?

Kagami memutar pulpennya dan mulai menulis lagi.

Gemuk

Pendek

Tidak punya otot

Tidak bisa bangun pagi

Tidak suka bersih-bersih

Tidak bisa memasak

Tidak bisa bersosialisasi

Kagami berhenti menulis. Ia dari dulu sudah mengingat-mengingat semua hal yang perlu di rubahnya semenjak beberapa tahun yang lalu dan dirinya yakin jika seandainya semua yang ia pikirkan saat itu kalau di cetak dalam kertas tebalnya akan mencapai satu buah kamus bahasa jepang.

Tapi saat mengaduk-aduk pikirannya lagi ditemani oleh tatapan kosong dari dua pasang mata berwarna biru muda, Kagami jelas tidak bisa berpikir dengan jernih.

Kagami tahu penyebabnya, lalu iapun mulai menulis lagi.

Bodoh

"Kemarikan pulpennya." Kata Kuroko.

Kagami mengoperkan pulpen yang sedang ia genggam tanpa bertanya.

Kuroko memiringkan kertas yang sedari tadi di tulis oleh lelaki gempal di sebelahnya sehingga ia bisa menulis sesuatu di atasnya. Seraph berambut biru itu mencoret satu kata yang baru saja Kagami tulis dan menulis kata baru dibawahnya.

Idiot

"Nah." Katanya puas. "Itu baru cocok."

Kagami memasang rupa yang seakan-akan ingin mencekik seseorang.

"Lanjutkan-lanjutkan, Kagami-kun."

Kagami harus sepuluh kali mengingat kalau lelaki bersayap di sampingnya nantinya akan merubah hidupnya menjadi jauh lebih baik, jadi ia mengubur dalam-dalam emosinya. Ia ingin berubah, jelas. Untuk itulah ia akan melakukan hal apapun yang memang harus di lakukannya untuk mencapai tujuannya itu.

"Pelan-pelan saja Kagami-kun." Kata Kuroko lagi, jelas-jelas membaca pikirannya. "Tidak ada satu perubahan yang bisa di capai tanpa kerja keras, kau tahu." Kuroko diam sebentar sebelum menambahkan, dengan suara yang serupa bisikan. "Kau mulai mirip seseorang."

Kagami mendengarnya, karena itulah ia bertanya. "Mirip siapa?"

"Bukan siapa-siapa."

"Kuroko—"

"Apa sudah selesai di bagian idiot?"

Kagami melemparkan pandangan ke kertas lagi. Percuma saja bertanya tentang suatu hal kepada Kuroko kalau makhluk di sampingnya ini tidak ingin membahasnya, lagi pula, jelas-jelas hal itu bukanlah urusannya.

Kembali ke si kertas, Kagami menelisik pikirannya lagi. Ada satu hal yang dari dulu sangat ia inginkan selain tentang rupanya-ataupun sifatnya, ia jelas-jelas ingin...

Tidak punya sahabat

Bahu kiri Kagami gemetar, jelas-jelas merasakan pandangan aneh dari Kuroko.

"Baiklah ... Lanjutkan." Kata Kuroko.

"Aku sudah selesai."

"Hanya itu?"

Kagami mengangguk. "Apa kau akan menggunakan tongkat sihir atau apalah Kuroko?"

Kuroko merentangkan tangannya dan menguap, benar-benar terlihat siap untuk tubuh ke lantai kapan saja. "Aku bukan ibu peri, Kagami-kun. Sekarang, kau..."

Kagami menelan ludahnya. "Y-ya?"

"...Tidur.."

Dan bruk, Kuroko jatuh ke lantai dan tertidur.

.

.

Begitu saja

Begitu saja

Begitu sa— "SERAPH SIALAN! SIAPA YANG BILANG KAU BOLEH TIDUR DI KAMARKU?!"


"Kagami-kun."

"Mmh.."

"Kagami-kun."

"Emgh.. " Kagami memutar tubuh dan memeluk gulingnya.

"Kagami-kun." Suara Kuroko sekarang terdengar lebih rendah.

"... Burger?"

Kuroko menggeleng-gelengkan kepalanya. Seraph bertubuh kecil ini meregangkan sayapnya dan mengepakannya sekali—cukup untuk membuatnya berada dalam posisi di atas si rambut crimson. Dan dengan sekali tarikan napas, ia menjejakkan kedua kakinya ke punggung Kagami, tentu saja bukan dengan cara halus.

Kagami menjerit dan Kuroko merasa puas melihatnya, tapi ia belum mempunyai niat untuk menurunkan dirinya dari atas punggung Kagami, ia malah, dengan sengaja, melompat-lompat sehingga menghasilkan bunyi bruk bruk dan aw sakit! Di akhirnya.

"Turun Kuroko! Aku bangun, aku bangun!"

Kuroko turun dengan setengah hati, terlihat jelas kalau masih ingin menikmati trampolin Kagami lebih lama.

Kagami merasakan kalau ia mendapatkan luka baru seukuran kaki seseorang yang tercetak di punggungnya. "Kau mau membunuhku." Komentarnya. "Sekarang hari libur, dan masih jam 5 PAGI, apa yang kau inginkan?"

"Joging."

Kagami menatapnya dengan pandangan: Apa kau baru saja menelan kaus kakiku?

"Aku sudah menyiapkan bajumu, tidak usah mandi, tapi yang jelas kau harus sikat gigi." Kata Kuroko. "Bau napas mu seperti singa herbivora."


"Hosh, hosh."

Kuroko melipat tangannya dari seberang lapangan.

"Kuro...ko. Sudah empat putar lapangan." Ujar Kagami di sela napasnya. "Mana burger ku?"

Kuroko menggeleng. "Sepuluh kali lagi."

Kagami mengangguk, hendak berlari lagi tapi berhenti. "Sep—APA? SEPULUH?"

Kuroko menaikkan tubuhnya sekitar sepuluh sentimeter dari atas tanah, menjejak-jejakkan udara di bawah kakinya dengan iseng. "Iya sepuluh, lalu Kagami-kun, kita masih akan melakukan sit up sekitar selusin kali dan push up lima puluh kali."

Psikopat. Pikir Kagami.

"Ah." Kuroko menapakkan kakinya di tanah. "Aku lupa memberi tahumu, kalau semua burger yang biasa kau makan ... Ku buang." Katanya dengan nada datar seperti biasa.

"Aku tinggal beli lagi."

"Akan kugandakan porsi jogingmu."

Benar-benar psikopat. Ralat Kagami. Dari mana makhluk ini belajar mengatur orang seperti ini?

Kuroko mengeluarkan secarik kertas yang sudah terlipat menjadi dua dari kantung mejanya, dari bentuknya, Kagami yakin kalau kertas itu adalah kertas yang dirinya tulis sebagai 'Keinginannya yang ingin dia rubah'. "Aku belajar dari seseorang." Gumamnya sambil menatap tulisan hitam yang diciptakan Kagami semalam.

Kagami baru bertemu Kuroko kemarin dan Kagami benar-benar bisa menebak, kalau seraph berkulit sebening kaca itu, tidak diragukan lagi, akan selalu membuat terkejut siapapun yang berada di dekatnya dalam radius tiga kilometer.

"Seseorang? Siapa?"

"Ada deh." Jawab Kuroko. "Kau pasti tidak akan pernah mau ketemu dengannya."

Kagami melakukan sit up semampunya. Setelah gagal mengangkat pinggangnya sebanyak empat kali, ia bersuara lagi. "Apa dia sejenis seraph pencabut nyawa?"

Kuroko terlihat menimbang-nimbang pernyataan itu. "Terkadang."

"Terkadang?" Kagami mengangkat kepalanya ke arah Kuroko yang sedang terbang rendah di atasnya. "Maksudmu ada seraph yang bebas membantu manusia atau mencabut nyawa menggunakan aplikasi pencabut nyawa semaunya?"

"Dia itu..." Nada Kuroko terdengar lebih rendah dari pada biasanya. "..Pengecualian."

Dari cara Kuroko mengatakannya, Kagami memutuskan untuk tidak akan pernah mau meminta alamat email ataupun alamat rumah seraph tersebut.

"Kau bahkan belum melakukan sit up sekalipun Kagami-kun."

"Diam. Aku sedang mencoba melakukannya."

Kuroko menguap. "Bangunkan aku kalau kau sudah selesai melakukannya ya."

Kagami membersihkan rumput yang entah dari mana bersarang di mulutnya. "KUBUNUH KAU KALAU KAU TIDUR LAGI KUROKOO!"

.

.

.

Dan, tentu saja, si seraph mengabaikannya.


Dua minggu sudah berlalu.

Dua minggu. Oke, ayo kita ralat. Dua minggu serasa neraka ala Kuroko untuk Kagami.

Seraph berambut biru itu jelas-jelas reinkarnasi dari iblis. Kuroko setiap hari dengan senang hati melompat-lompat diatas punggung Kagami untuk membangunkannya, menggandakan setiap porsi jogingnya setiap saat, dan tidak segan-segan membakar satu-satunya benda yang dicintai Kagami—Burger, menjadi debu.

Tapi berterima kasihlah untuk itu, karena tubuh Kagami sekarang...

"Whoa, Kagami, kau... tinggi sekali."

"Apa kau baru saja makan bambu, Kagami?"

"Demi shampoo milik Kise, apa itu Kagami?"

Kagami tidak tahu apa maksud pujian demi shampoo milik Kise, tapi biarlah, toh orang-orang itu kan sedang memujinya.

"Kagami-kun."

Kagami merasakan hawa dingin di punggungnya, ia berbalik dan menemukan ... sosok Kuroko yang tepat berada di matanya.

"GAH KUROKO! STOP MELAKUKAN HAL ITU!"

Kuroko menatapnya dengan ekspresi yang biasanya, ekspresi yang mengatakan-aku-sudah-memanggilmu-dari-tadi-dan-aku-sudah-disini-sejak-awal-idiot.


Di minggu-minggu awal, Kagami mulai memaksakan diri dengan kebiasaan aneh seraph penolongnya ini. Maksud kebiasaan aneh yang dibicarakan Kagami disini adalah : Menghilang lalu muncul lagi di segala tempat. Kagami sudah melakukan sebisanya dengan menghentikan reaksi yang paling sering di berikannya ketika mendapati Kuroko selalu seperti itu, teriak sekencangnya seakan baru saja melihat hantu di depannya.

Saat pertama kali menyadari kebiasaan Kuroko, ia baru saja selesai keluar dari kamar mandi dan melihat kalau seraph itu sedang berguling-guling ria di ranjangnya. Kedua tangan Kuroko terlihat sedang menggenggam sebuah buku tipis yang Kagami sadari merupakan majalah basket favoritnya. Kuroko berguling ke kanan sekali lagi sebelum berkata kepada kagami. "Basketball idiot yang enggak pernah main."

Kagami melemparkan handuk yang berada di tangannya sebagai bentuk protes. "Aku pernah bermain bodoh!"

Kagami mengabaikannya, berputar dan ...

Mendapati Kuroko tepat di depannya.

"Kok.. Bagaimana.. Tadi... Sejak kapan..."


Kagami mengangguk-angguk sendiri. Ya, sejak saat itulah ia tidak pernah bisa melewati satu hari pun tanpa mempunyai rutinitas kejut jantung gratis ala Kuroko.

"Kagami?"

Kagami menoleh dan melihat Furihata memandanginya.

"Kau tadi.." Furihata menoleh ke kiri dan ke kanan, seakan-akan takut kalau ada hantu kanibal yang sedang bersembunyi di kelasnya. "Berteriak untuk apa.. Dan, siapa itu Kuroko?"

Kagami mengangkat alisnya. "Kalian tidak bisa melihat dia?"

Hanya kau yang bisa melihatku Kagami-kun, Kata satu suara dalam pikiran Kagami.

Kagami mengabaikan tatapan aneh dari Furihata dan menoleh ke arah seraph biru yang hanya semeter darinya sekarang. Wajah Kuroko tanpa ekspresi seperti biasa, jadi akhirnya Kagami memutuskan untuk melakukan percakapan telepati satu arah untuk Kuroko.

Kenapa hanya aku?

Akan banyak masalah yang terjadi jika ada orang lain yang bisa melihat makhluk bersayap kan? Balas Kuroko. Lagi pula memang sudah aturan dari sananya seraph hanya bisa dilihat oleh manusia yang butuh pertolongannya.

Kagami menyapukan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Teriakannya tadi, tidak salah lagi, benar-benar memicu dirinya menjadi perhatian seluruh pasang mata di ruangan itu.

"Eh..ohya..." Kagami berkata dengan canggung saat semua orang menatapnya aneh. "Itu tadi... Aku.. Berhalusinasi ..haha."

Gema tawa canggung akhirnya menimpali Kagami. Paling tidak ia harus bersyukur untuk kali ini tidak dianggap orang gila karena berteriak sendiri.

Jadi, ada apa Kuroko?

Kuroko melebarkan sayapnya, anehnya Kagami benar-benar merasa terganggu ketika menyadari benda putih lembut itu ternyata sangat memakan tempat di kelasnya.

Hanya bosan di apartemenmu sendiri, Kata suara Kuroko. Ingin bolos?

Kalau saja Kuroko tidak mengatakannya disertai dengan tatapan mata bayi besar biru itu, Kagami pasti menolaknya.

Tapi.. ya sudahlah. Bolos beberapa sekali dalam seminggu juga tidak buruk.


Seorang pria tegap bermata crimson dan menyandang kantung plastik yang tidak di ragukan lagi isinya—burger dengan porsi yang bahkan dapat mengenyangkan satu pulau berisi lima miliar manusia, berjalan dengan malas di antara lalu lintas perkotaan.

Orang-orang yang melihatnya pasti mengira ia berjalan sendiri. Tapi tidak, ada sesosok malaikat yang melayang pelan di sampingnya.

Malaikat yang sedang meminum milkshake vanila. Pikir Kagami kalau seandainya semua orang bisa melihat Kuroko dengan jelas.

Benar. Dia Kuroko, dia seraph, dia bahkan tidak bisa terihat oleh manusia lain, dan DIA sedang minum milkshake vanila.

Ada apa dengan sistem seraph suka dengan minuman manusia ini?

"Wha—sebentar manis, iya-iya lima menit lagii~."

Kepala Kagami dan Kuroko berpaling bersamaan ke satu arah.

"Apa ada obral cowok tampan disana?" Gumam Kagami.

Jangan salahkan sistem otak Kagami karena berkata seperti itu, karena pada dasarnya, jauh di depan mereka sekitar sepuluh meter, sangat jelas terlihat segerombolan perempuan yang mengelilingi seorang cowok.

Kok Kagami bisa tahu kalau yang dikerubungi itu cowok?

Orang itu terlalu tinggi untuk dibilang perempuan, dan Kagami jelas-jelas bisa melihat pantulan sinar matahari di warna rambutnya.

"Artis, huh?" Kagami mendengus, tidak pernah terpikir olehnya kemungkinan sebentar lagi bakal ada banyak mayat bergelimpangan di jalan karena saling gencet. "Oi Kuroko, apa kau pikir ki—"

Kuroko tidak ada.

Ledakan dimulai dalam 1..2..3—

"MALAIKAT SIALAAAAANN!"


Kagami duduk di salah satu bangku kayu yang berada di Taman. Setiap orang yang lewat mengabaikannya, menganggapnya sedang beristirahat setelah berlarian di siang bolong. Orang-orang itu tidak pernah tahu kalau Kagami berlari-lari karena mencari seorang makhluk yang bahkan tidak bisa mereka lihat.

Kagami menempelkan punggungnya pada senderan kayu dan membuang tatapannya ke atas, ia bisa melihat sinar matahari yang menerobos jalinan daun hijau tua di atasnya. Ia menghela napas.

"Ne, hari yang melelahkan yah?"

Kagami merasakan sentuhan dingin cair di pipinya, ia menurunkan kepalanya dan menatap satu figur yang dipelototinya tiga puluh menit yang lalu. Warna rambut yang seakan-akan menantang teriknya matahari di atas, sorot mata yang begitu penuh dengan kepercayaan diri, dan sebotol soda.

Sebotol soda yang menempel di pipi Kagami.

"Um." Kagami membalas canggung sambil menunjuk botol itu di tangannya. "Untukku?"

Lelaki itu mengangguk. "Yup. Asal kau mau memberikan tempat duduk di sini~" Katanya riang. "Namaku Kise Ryota, kau?"

Kagami menggeser posisinya agar lelaki itu bisa duduk di sampingnya. "Kaga—Kagami Taiga."

Kise meneguk soda miliknya sebelum berbicara lagi. "Jadi, apa yang kau lakukan di tempat ini sampai kausmu seperti kehujanan itu?"

Entah karena apa, tiba-tiba langit yang satu menit sebelumnya terang benderang sekarang menjadi berawan hitam tebal. Pertanda hujan, sepertinya.

Kagami menyusun jawaban di kepalanya dengan lambat. "Aku... Sedang mencari seseorang."

Kise mengangguk antusias. "Temanmu? Ohh~ Senangnya bisa bermain petak umpet seperti itu nee~"

"Dia bukan—"

"Kalau begitu dia pacarmu?"

.

.

Membayangkan Kuroko menjadi pacarnya benar-benar membuat Kagami ingin memuntahkan semua burger yang ada di perutnya keluar.

Satu tetes air turun dari atas dedaunan yang menaungi Kagami, ia mendongak dan melihat serbuan tetes air lainnya.

"Kagami-kun."

Kise tidak mendengar, sekalipun dia mendengar, lelaki itu tidak menunjukkan buktinya. Tentu saja, sebab Kuroko hanya bisa dilihat Kagami seorang.

Kagami berlari ke arah Kuroko yang berada di pinggir lapangan, kehujanan. "Kuroko! Dari mana saja—"

Syut. Bruk.

"Apa kepalamu terbentur, Kagami-kun?"

Kagami menatapnya, ingin sekali dirinya menarik seraph itu agar jatuh ke genangan air sepertinya.

Kise berlari menghampirinya, benar-benar tidak peduli soal tubuh dan bajunya yang basah karena hujan, "Aa—Kagamicchi, kenapa kau tiba-tiba berlari ke luar? Apa kau tidak..." Kise berhenti beberapa meter jauhnya, tercengang. "...Apa?"

Kagami berdiri sambil menggumamkan aku tidak apa, dan berpaling ke arah Kuroko lagi.

Suatu hal pasti terjadi, karena wajah Kuroko sedikit menunjukkan kalau ia terkejut karena sesuatu.

Kagami berpaling ke Kise yang masih mematung di tempatnya. Otaknya perlahan-lahan bisa memahami apa yang sedang terjadi pada mereka berdua.

Enggak mungkin..

Ia ingat kalau dirinya bertemu Kuroko dalam keadaan hujan persis seperti ini.

"S-Siapa?" Kise mengacungkan telunjuknya ke daerah yang seharusnya tidak bisa dilihatnya.

Tuhan pasti melakukan kesalahan.

"Siapa makhluk bersayap itu?"


To be continued~


Preview next chapter :

"Aku berharap bisa seperti kalian, sungguh."

"Manusia tidak bisa memilih tempat ia dilahirkan, tapi apakah manusia bisa memilih tempat di mana ia akan mati?"

"IDIOT KAGAMICCHI! JANGAN KEMARI!"

"Kise-kun. Tentu saja, dengan senang hati."


\(..^o^/)

.

.

To be honest, - IM FREAKIN REALLY ENJOYABLE WHEN KUROKO START BULLIED BAKAGAMI OWAHAHA-oke stop, tapi emang bener, sekarang bener-bener seneng nulis di bagian Kuroko nge bully si Kagami X3

Chapter besok bakal lebih nonjol ke bagian Kise? Jawabannya : Iya
Penasaran kok Kise bisa 'ngeliat' Kuroko? Kise itu siapa?

Keep waitin for next chapter minnaa~ I love you all :3/