I'm Mama and You're Papa
Title :
I'm Mama and You're Papa
Genre :
Hurt, romance, family
Rate :
G
Main Cast :
- Jung Yunho
- Kim Jaejoong
Supporting Cast :
- Kim Dong Wan (SHINHWA)
- Kim Yeon Ji (SeeYa)
- Kim Hyun Joong (SS501)
- Jung Ji Hoon ( Rain)
- Jung Yoon Hye (Rainbow)
- Jung Soo Yeong (Jessica SNSD)
- Boa
- Hyo Ahjumma
- Jo Mi-Hye (Miryo Brown Eyed Girls)
Warning :
GenderSwitch! Ceritanya ini diadaptasi dari manga "Nan Eomma Nun Appa" karangan Hwang Mi-Ri. Saya disini hanya menjadikannya sebuah FF, ada beberapa bagian yang saya kurangi maupun tambahkan. Sesuai dengan keperluan cerita. Saat saya membaca ini, saya malah ngebayangin jika itu Yunho dan Jaejoong, jadilah saya membuat FF ini. hehe.
.
ps : ada yang review tentang tokoh Tn. dan Ny. Jung... karena disini mereka adalah ayah dan anak, bukan sepasang suami istri. Jadi, saya mengganti nama Ny. Jung menjadi Ny. Yoon Hye, sesuai dengan nama aslinya. Sedangkan untuk kakeknya Yunho tetap memakai nama Tn. Jung, atau lengkapnya Jung Ji Hoon. Semoga tidak bingung ya. Jika masih ada kata , maafkan saya, berarti saya khilaf.
Yang mau baca silahkan, yang nggak juga silahkan. Yang protes, ya silahkan. :3
But, I hope you like it ~
.
.
Chapter 3.
.
"Tuan Kim Dong Wan, silahkan masuk." Suster menyilahkan Tn. dan Ny. Kim untuk memasuki ruang dokter.
"Ya, tentu saja." Mereka segera mengikuti suster itu. "Bagaimana hasilnya dokter? Apakah dia ayah dari cucuku?"
"Silahkan Anda duduk terlebih dahulu."
"Baiklah, mari kita duduk." Ia mengajak Ny. Jung untuk duduk.
"Oke." Mereka berdua pun segera duduk, dan berhadapan dengan dokter.
Setelah mereka duduk, dokter memberikan mereka sebuah kertas. Hasil dari test DNA itu. "Inilah hasilnya."
"Ah ya." Tn. Kim tersenyum senang.
"Seperti yang Anda lihat dari contoh DNA dari lelaki itu, jika hasilnya tidak sama dengan cucu Anda, Tuan." Dokter menjelaskan kepada mereka.
Tn. dan Ny. Kim terlihat kaget dengan hasil dari test DNA itu. Kini tak ada senyum di wajah mereka.
"Bagaimana bisa seperti ini? Kami yakin jika ayah dari cucu kami adalah Jung Yunho!" teriak Ny. Kim tidak terima dengan hasil test itu.
"Test ini sudah sangat akurat, Nyonya. Sepertinya anak Anda bingung dengan siapa ayah dari anaknya itu. Sebaiknya Anda bicarakan lagi hal ini pada anak Anda."
"Tidak ada sesuatu yang anehkah dengan test ini?" tanya Tn. Kim sarkatis, ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan test itu.
Sesaat Dokter Noh, terlihat kaget dengan perkataan Tn. Jung.
…
Ting.. Tong..
"Kalian datang di waktu yang tepat. Makan malamnya sudah jadi," sahut Jaejoong dengan riang ketika ia melihat orang tuanya telah tiba di rumah.
"Siapa dia?" Ny. Jung berjalan kearah Jaejoong, dan memukul perempuan itu cukup keras.
"Kau kenapa, Eomma?" Jaejoong tidak terima dengan perilaku ibunya itu.
"Aku bertanya padamu, siapa dia?" Tn. Kim membuang kertas itu ke lantai dengan kasar.
Jaejoong menatap kedua orang tuanya dan kertas itu secara bergantian. Ia terlihat bingun dengan sikap mereka yang datang dan langsung marah padanya.
"Dia bukan anaknya Jung Yunho." Tn. Kim menatap tajam kearah Jaejoong.
"Apa?"
"Dia bukan ayah dari anakmu! Siapa ayah dari anakmu sebenarnya? Jadi, dengan siapa kau berbuat hal itu! huh?" Ny. Kim sudah tidak bisa memendam amarahnya. Ia menggoyangkan tubuh Jaejoong.
"Eomma…"
"Kami membesarkanmu bukan untuk melakukan hal seperti itu! Bagaimana mungkin seorang gadis melakukan hal-hal seperti itu!" Ny. Jung masih kesal dengan Jaejoong.
Kini, Jaejoong menatap kedua orang tuanya dengan tajam. "Bagaimana cara kalian membesarkanku? Dan, apa yang telah kalian ajari padaku?"
"Bagaimana mungkin dia berbicara seperti itu pada kita? Jangan pernah berpikir untuk keluar dari ruangan itu!" teriak Tn. Kim.
Jaejoong membanting kasar pintu kamarnya. Ia tidak memedulikan apapun yang dikatakan orang tuanya lagi. Tiba-tiba anaknya menangis karena mendengar suara pintu di banting dengan keras.
"Ah.. kau terbangun?" Jaejoong segera menenangkan anaknya. Ia memberikan botol susu padanya, tetapi sang bayi tidak juga mau meminumnya.
'Aku benci untuk mengakuinya, tetapi lelaki itu adalah yang pertama dan terakhir bagiku. Adakah yang salah dengan test ini? Ataukah ada sesuatu untuk menjelaskan tentang test ini,' batinnya. Tanpa terasa air matanya mengalir.
Sang bayi masih saja menangis dengan cukup nyaring. "Ada apa denganmu, sayang? Kau tidak lapar?"
"Hua.. hua.. hua.."
"Badanmu sangat merah." Ia memegang kening sang bayi. "Ya ampun, badanmu sangat panas, sayang."
Jaejoong segera keluar kamar. "Eomma, ada yang salah dengan Lucky. Badannya demam dan ia muntah terus. Dia sakit."
"Terus kenapa?" sahut Ny. Kim acuh.
Jaejoong mengapit lengan Ny. Kim. "Lihatlah dulu, Eomma. Mana obatnya? Kita harus membawanya ke rumah sakit."
Ny. Kim langsung melepaskan tangan Jaejoong di lengannya. "Tidakkah kau lihat kami sedang makan?" Jaejoong sedikit terpental. "Suara tangisannya sangat kencang. Diamkan dia atau bawalah dia keluar dari sini." Teriak Ny. Kim. "Seharusnya kau segera membawanya ke rumah sakit. Seorang ibu harus lebih perhatian pada anaknya," lanjutnya lagi.
Jaejoong sudah tak dapat lagi menahan air matanya. "Baik. Akan aku lakukan sendirian." Ia berjalan menuju kamarnya.
"Mari kita ke rumah sakit. Sabar ya, aegy. Kau pasti sembuh." Ia menggendong anaknya dan keluar dari rumah. Hatinya begitu miris ketika ia melihat orang tuanya seolah tidak peduli pada cucunya.
Ia segera mencari taksi untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Tak berapa lama, ia telah sampai di rumah sakit.
…
"Eomma, apa yang terjadi dengan hasil test itu?" tanya Soo Yeong saat ia sedang makan malam bersama dengan ibu dan kakaknya itu.
"Ah itu.. Bayi itu tidak ada hubungannya dengan keluarga kita."
"Aku mengerti, lagipula mereka adalah orang yang kasar." Ia mengalihkan pandangannya ke Yunho. "Oppa, maaf telah mencurigaimu," sahutnya manis.
"Apa kau tahu, ini membuatku khawatir. Jika kau benar-benar menjadi seorang ayah. Dilihat dari sikapmu yang seperti itu, berhati-hatilah." Ny. Yoon Hee menasihati Yunho, seraya membersihkan mulutnya.
"Nyonya, Anda mendapat telepon dari Hyun Joo," ucap bawahannya.
"Baiklah, aku akan berbicara dengannya. Kalian tetaplah makan, Eomma akan kembali." Ny. Yoon Hee beranjak dari duduknya menuju ke kamarnya.
"Oppa, apa kau tahu dengan Lee Soon Kyu? Ia pernah bertemu denganmu sekali. Dia sangat cantik dan dari keluarga yang baik." Soo Yeong sedang mencoba menjodohkan kakaknya itu dengan temannya. "Dia selalu menggangguku untuk mengenalkannya padamu. Menyerahlah untuk mendapat cinta Junsu unnie. Dia tidak pernah menganggapmu, berapa lama kau akan bertahan dengan cinta yang tak berbalas itu?" Soo Yeong masih saja meracau sampai gelas yang dipegang Yunho di letakkan dengan keras di meja makan.
Suara perpaduan antara gelas dan meja membuat Soo Yeong terdiam.
"Bukankah seharusnya kau diet?" Yunho mencoba mengalihkan pertanyaan yang diberikan Soo Yeong seraya beranjak dari duduk.
"Aku akan melakukannya mulai besok," teriaknya.
…
Yunho melangkahkan kakinya menuju luar rumah. Ia mengeluarkan rokok dari kotaknya.
"Kau punya korek?" tanyanya pada pelayan yang kebetulan ada disana.
"Ada, Tuan." Pelayan itu menyerahkan korek pada Yunho.
"Terimakasih." Ia menyerahkan korek itu kembali. Ia juga menyerahkan selembar uang pada pelayan itu. "Panggilkan aku sebuah taksi." Pelayan itu mengangguk dan segera menelepon taksi.
Yunho mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. "Ini aku. Panggil beberapa gadis, mari kita bermain," ucapnya.
…
"Itu penyakit infantile pyloric stenosis. Dimana katup yang membawa makanan ke perut telah menebal, menghalangi lorong untuk memasukinya. Itulah sebabnya mengapa ia terus memuntahkan segala sesuatu yang Anda masukan ke dalam mulutnya. Dan, ia tampaknya telah kedinginan. Jadi, kita perlu mengoperasinya," ujar dokter menjelaskan panjang lebar tentang penyakit yang di derita oleh sang bayi.
Jaejoong terlihat kaget mendengar perkataan terakhir sang dokter. "Di operasi?"
"Ya. Jangan khawatir, Nona. Operasi ini hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam dan operasi ini tidak terlalu berisiko sehingga Anda tidak perlu untuk terlalu khawatir."
"Anda bilang ia akan baik-baik saja, saat di operasi? Jadi aku mohon, lakukan yang terbaik padanya agar ia cepat sembuh."
"Jadi, kami akan meminta informasi tentang anak ini terlebih dahulu. Siapa namanya dan berapa nomor jaminan sosialnya?"
"Dia tidak memiliki nomor itu, karena kami belum mendaftarkannya," lirih Jaejoong.
"Dimana orang tuanya?" tanya sang dokter, karena ia terlihat bingung dengan perkataan Jaejoong ini.
"Aku adalah ibunya." Sang dokter dan suster saling bertatapan saat mendengar perkataan Jaejoong.
"Saya tahu, Anda pasti menyadari ini. Tidak semua orang yang sakit dapat segera di operasi. Dan biaya operasi tidaklah murah." Sang dokter terlihat ragu, apakah bayi itu akan segera di operasi atau tidak. Terlebih ketika mengetahui ibu dari sang bayi yang masih muda, ia tidak terlalu yakin apakah Jaejoong memiliki banyak uang untuk membayar biaya operasi itu.
"Jangan khawatir, ini bukan masalah! Aku mohon Anda segera mengoperasinya dan aku akan membayarnya setelah itu." Jaejoong sangat berharap pada sang dokter.
"Coba Anda telepon orang tua Anda. Seharusnya ada orang dewasa bersamamu."
"Tidak adakah cara lain?"
"Saya tidak yakin," sahut sang dokter seraya berlalu.
"Mengapa semua seperti ini?" Jaejoong menatap anaknya yang sedang tertidur.
'Eomma akan menyembuhkanmu, sayang.'
Jaejoong segera menelepon ibunya. "Halo Eomma, ini aku. Lucky harus melakukan operasi dengan segera. Datanglah kerumah sakit dengan Appa."
'Lihatlah rumah ini! Kau menyebut dirimu seorang wanita?' terdengar suara Tn. Kim di seberang sana.
'Mengapa kau memecahkan barang-barang ini?' Kini giliran suara Ny. Kim.
"Eomma, apa kau mendengarkanku? Aku membutuhkan uang untuk operasi. Datanglah kemari dengan segera."
'Uang untuk operasi? Apa kau gila? Biarkan saja anak itu mati.' ujar Ny. Kim.
'Lihatlah anakmu itu sama seperti ibunya, sama-sama merepotkan.'
'kenapa hanya aku? Kau juga seharusnya bertanggung jawab.'
'Mengapa balik memarahiku? Kau ingin mati, huh?' teriak Tn. Kim pada sang istri.
'Apa? Kau ingin akan memukulku lagi? Silahkan!'
Terdengar suara tamparan disana dan kemudian telepon terputus. "Eomma."
"Bagaimana mungkin seorang halmonie menyuruhku untuk membiarkan anakku mati? Ini terlalu berlebihan," dengus Jaejoong kesal dengan perkataan ibunya itu.
Ia segera menelepon sahabatnya, Boa. Dan tak berapa lama Boa datang ke rumah sakit.
"Jaejoong-ah." Teriak Boa. "Apa yang terjadi pada Lucky? Mengapa ia bisa sakit? Apa kau tahu, aku kaget ketika kau meneleponku." Ia menghapus peluh yang berceceran dari keningnya.
"Akhirnya kau datang, Boa -ah. Aku sangat berterimakasih. Hmm. Apakah kau memiliki uang? Aku membutuhkan 20rb won."
Boa terlihat kaget dengan perkataan Jaejoong. "Untuk apa? Untuk membayar biaya rumah sakit?"
"Jung Yunho. Aku harus ke rumahnya. Lucky… harus operasi," lirih Jaejoong.
"Operasi?" Boa menyerahkan dua lembar duit 10rb won. "Apa ini cukup?"
"Ya. Terimakasih. Aku akan mencoba kembali secepat mungkin. Selama itu, maukah kau tetap disini menjaga Lucky?"
Boa mengangguk. "Jangan kahawatir tentang bayi ini dan kau pergilah. Segera." Jaejoong segera berlari untuk mencari taksi. "Kasihan, Jaejoong," lirih Boa menatap sedih kepergian Jaejoong.
…
Tak berapa lama, Jaejoong sampai di kediaman keluarga Jung. Ia segera memencet bel rumah tersebut. Tetapi tak ada jawaban, ia mencobanya beberapa kali.
"Siapa?" tanya seorang ahjumma padanya.
"Apakah aku dapat bertemu dengan Eomma-nya Jung Yunho?" Jaejoong menundukkan badannya beberapa kali. "Aku harus bertemu dengan dia. Tolong, biarkan aku bertemu dengannya."
"Ah, kau perempuan muda yang membawa bayi itu, kan?" tanya ahjumma itu lagi. "Sayang sekali, malam ini sedang tidak ada siapa-siapa di rumah ini kecuali saya."
"Baiklah, aku akan menunggu mereka. Mereka akan kembali malam ini, 'kan?"
"Tapi, maaf.. saya harus segera pergi sekarang. Jika kau ingin menunggu, kau harus menunggu di luar," ucap ahjumma itu.
"Kalau begitu, tolong beritahu aku nomor ponsel mereka." Ia memegang tangan ahjumma itu seraya terus memohon.
"Sekali lagi, saya minta maaf. Saya tidak bisa memberikan nomor mereka. Saya akan mendapat masalah jika saya memberikan nomor mereka." Ahjumma berjalan menjauhi Jaejoong yang masih termangu di depan pintu rumah keluarga Jung.
"Tuhan, tolonglah aku." Ia berjongkok dan menundukkan kepalanya, air matanya melaju dengan deras. Ia sangat memikirkan anaknya itu.
Tak berapa lama sebuah mobil berhenti di depan pagar. Tn. Jung segera keluar dari mobil. Melihat Tn. Jung, Jaejoong segera menghampirinya.
"Mengapa kau…" belum selesai Tn. Jung berbicara, Jaejoong segera berlutut padanya.
"Harabeoji, aku mohon tolonglah anakku. Ia sedang sakit dan saat ini ia perlu di operasi." Jaejoong masih menangis, kini tangisannya cukup kencang.
"Mengapa kau memberitahukan hal ini padaku? Ini tidak ada hubungannya denganku, jadi, pergilah." Ia mengusir Jaejoong.
"Itu tidak benar. Test itu salah. Dia adalah cicit Anda. Anak dari cucu Anda." Jaejoong tetap berusaha untuk menjelaskan semuanya pada Tn. Jung.
"Hasil test sudah keluar. Dan mengapa kau masih berbohong?"
"Harabeoji! Percayalah padaku." Ia memohon pada Tn. Jung seraya menyentuh lengan Tn. Jung, menahannya agar ia tidak masuk ke dalam rumah.
"Mengapa kau tetap gigih? Aku bilang pergilah!" Ia menyentak tangan Jaejoong yang masih memegang lengannya.
"Soo Man-ssi. Terimakasih, dan sekarang kau bisa kembali ke rumah." Sang supir menundukkan kepalanya seraya berlalu dari sana.
Tn. Jung bersiap membuka pintu pagar rumahnya.
"Harabeoji! Tolong…" lirih Jaejoong. Tetapi Tn. Jung telah masuk ke dalam rumah. "Harabeoji! Harabeoji! Harabeoji" panggilnya berulang kali. "Dia berada di Seoul Hospital, aku mohon jangan mengacuhkan dia." Tangis Jaejoong semakin menjadi.
…
Tn. Jung menghela napas sesaat. Ia mengambil selembar kertas yang ada di dalam laci. Sejenak ia teringat kejadian tadi siang dimana ia menyuruh Mi-Hye untuk berbohong.
Tn. Jung menyerahkan 2 lembar plastik dengan beberapa helai rambut di dalamnya kepada Mi-Hye.
"Orang-orang mungkin akan mengambil ini, jadi pergilah ke rumah sakit."
"Mengapa ada 2, Tuan?" tanyanya.
"Yang satu milik Soo Man, dan yang warna hitam milik Jung Yunho. Ketika di depan mereka, kau perlihatkan rambut yang dimiliki oleh Soo Man."
"Bolehkah saya bertanya, mengapa Anda ingin melakukan dua test yang berbeda?"
"Jika Anda hanya menggunakan satu jalur, maka akan mengalami kemacetan di tengah jalan. Jadi, Anda memiliki cara lain yaitu menggunakan jalur kedua."
"Anda ingin memiliki jalur alternatif lain, bukan begitu?"
"Mungkin mereka tidak akan datang kerumah sakit. Tetapi, dalam beberapa kali, orang-orang seperti itu akan melakukannya. Aku tidak akan mengungkapkan kepada mereka jika anak itu benar anaknya Yunho."
Tn. Jung meneliti kembali kertas hasil test DNA itu. Disana jelas tertulis tentang kebenaran jika Yunho merupakan ayah dari anaknya Jaejoong.
'Hasil tes telah menunjukkan bahwa rambut lelaki yang telah diuji itu memiliki DNA yang cocok dengan sang bayi. Lebih jauh lagi, hasil ini menunjukkan jika bahwa lelaki itu adalah ayah dari bayi tersebut. Keakuran dari test ini menunjukkan angka 99,98373234%'
Tn. Jung terlihat mendesah, ia melepaskan kacamatanya dan meletakkannya diatas kertas itu. Pikirannya terbayang akan perkataan Jaejoong tadi, bahwa cicitnya sedang sakit dan butuh di operasi.
Ia segera menelepon Mi-Hye. "Sekretaris Jo, tolong telepon ke Seoul Hospital segera dan periksa mengenai anak dari Kim Jaejoong. Dan, jika ia butuh di operasi, segera suruh melakukannya. Beritahu mereka bahwa aku penyelamat mereka."
Setelah mengatakan itu, Tn. Jung segera menutup teleponnya.
…
Jaejoong masih menunggu Tn. Jung untuk membantunya, ia benar-benar tidak memiliki uang untuk biaya operasi anaknya itu. Hanya itu cara satu-satunya, memohon pada keluarga Jung. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar.
"Ya, Boa. Ada apa?"
'Jaejoong-ah. Cepatlah kembali ke rumah sakit sekarang.'
"Ada apa? Apa sesuatu terjadi pada Lucky?"
'Mereka bilang akan segera mengoperasi Lucky. Mereka akan melakukannya.'
"Benarkah? Mengapa tiba-tiba?"
'Aku tidak tahu mengapa. Cepatlah datang kemari. Dia akan segera di operasi, mereka bilang harus ada ibunya disampingnya.'
"Baiklah."
.
.
.
to be continued
.
review please ~
.
.
nb : bagaimana ceritanya? semakin seru atau semakin membosankan? aku hanya mengikuti cerita dari manga tersebut. hanya sedikit yang aku tambahkan atau aku kurangi.
.
.
- Guest1 : pendek ya? ini ngikutin manga-nya, disitu pendek sih chapnya. hehe.
- Chubykyu : ini sudah di lanjur. iya. menyebalkan semua. tapi paling menyebalkan Yunho. huhu
- .96: sama. saya juga sebel sama merekap plus keluarganya jaejoong.
- Anggunyu: iya, nggak inget. soalnya mereka melakukan itu saat mabuk. lagipula mereka ketemu saat melakukan itu saja, setelahnya mereka nggak pernah ketemu. sampai anak mereka lahir dan jaejoong memutuskan memberi tahu yunho.
- leeChunnie : entahlah, seharusnya begitu. mungkin karena dia punya banyak teman wanita?
- park: sama-sama. iya sangat melas.
- Guest2 : hei, siapapun kamu, sarannya sangat-sangat bermanfaat, terimakasih banyak. *bow
- Ai Rin Lee: lanjut!
- jaejae : kalo penasaran baiknya baca manga-nya saja terus bayagin tokoh itu adalah yunjae. hehe :)
- geelovekorea: kasarnya sih gitu,. saya juga masih bingung sifatnya jae disini, nggak terlalu dijelasin detail di manga-nya. yang jelas dia baik kok, dan sayang banget sama anaknya itu.
- : iya, nggak apa-apa. hmm. beneran nggak ya.
.
.
