Pertama-tama, maaf banget atas terlambatnya chapter 3 yang entah ditunggu atau tidak oleh para Reader sekalian.

Kedua, kembali maafkan saya kalau Chapter 3 ini dirasa kurang panjang, kurang seru atau apapun.

Ketiga, pada chapter 2 saya lupa memberikan keterangan untuk beberapa perlengkapan kendo yang dipakai Mikasa, karena itu saya masukkan dichapter 3 ini.

Dan terakhir, selamat membaca dan terima kasih...

Ziemon

Disclaimer : SnK selamanya tetep punyanya HAJIME ISAYAMA

Brother or Sister?

Chapter 3.

Eren bersyukur Grisha tidak pulang cepat hari ini. Jadi, dia tak perlu menjelaskan tentang luka didahinya pada sang ayah, mengingat ayahnya itu adalah tipe orang yang cukup cerewet.

"Dasar cebol sialan, beraninya dia memperlakukanmu seperti ini." mulut Mikasa terus sibuk menggerutu dengan sumpah serapahnya, begitu juga tangannya yang ikut sibuk mengganti perban didahi Eren.

Oh jangan lagi, sudah sejak pulang sekolah tadi Mikasa terus saja mengomel tentang kejadian hari ini, dan ini sudah yang keberapa kalinya Eren mendengarnya.

Jadi, Eren lebih memilih diam daripada harus berdebat dengan Mikasa yang kini dalam mood terburuknya, bisa-bisa dia nanti ditebas oleh gadis garang itu.

KRYUKK

Mikasa menghentikan gerutuannya, pandangannya beralih ke Eren kemudian tertawa kecil.

"Kau lapar?" Eren diam tidak bisa menjawab karena malu, "Aku juga sepertinya lapar, apa kau mau kumasakkan sesuatu?" tanyanya lagi.

Eren terdiam sebentar, Mikasa memasak? Firasatnya buruk. Ingatannya kembali ketika dia memakan makanan buatan Mikasa yang berakhir dengan empat hari menginap dirumah sakit karena diare akut. Seseorang, tolong Eren.

"Eren." jemari tangan Mikasa melambai-lambai didepan wajahnya, menyentaknya dari nostaligia mengerikan.

Buru-buru Eren menggeleng dan berterima kasih dengan tawaran dari Mikasa untuk membuatkannya sajian makan malam, untungnya Mikasa terlihat tidak tersinggung. Selesai mengganti perban Eren, Mikasa melangkah menuju lantai dua meninggalkan Eren yang terduduk kelelahan disofa ruang keluarga.

Mendadak bunyi telepon rumah menggema didalam rumahnya yang sepi, rasa lelah membuatnya sangat malas hanya untuk mengangkat dan mengatakan halo pada sang penelpon. Eren terus membiarkan telepon itu terus berdering panjang dan seketika berhenti berbunyi.

Kini dia tidak punya pilihan saat giliran Handphone dikantung celananya yang berbunyi, memaksanya memandang kelayar handphone.

'Tou-san jelek'

"Moshi-moshi, kenapa Tou-san?" tanyanya malas.

"Apa kau sudah pulang? Ayah tadi menelpon kerumah, tapi tidak ada yang menjawab dan apa kalian punya sesuatu untuk dimakan saat makan malam?"

Pertanyaan terus dilontarkan Grisha pada anak lelakinya, Eren mendesah berat.

"Kami baru pulang dan tidak punya makanan untuk nanti." hening tercipta cukup lama, hingga Grisha berbicara dengan seseorang diseberang sana yang Eren tidak tahu siapa.

"Baiklah Eren, kau jangan kemana-mana. Tunggulah sebentar bersama Mikasa dirumah."

Teleponpun diputus sepihak dari Grisha, Eren menaikkan alisnya bingung. Tapi ya sudahlah, mungkin ayahnya bermaksud segera pulang dengan membawa makan malam.

Tak lama Mikasa turun dari lantai dua, dia terlihat mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Dia pun berjalan mendekati Eren, "Siapa yang menelpon, Eren?"

"Tou-san, dia bilang tunggu dia dirumah dan jangan kemana-mana." jelasnya tanpa berpaling keMikasa.

Gadis oriental itu mengambil tempat disamping Eren duduk, dan menyalakan televisi didepannya.

"Sebaiknya kau mandi, kau terlihat sangat berantakan. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu." ujar Mikasa, membuat Eren tersenyum senang dan tak lupa berterima kasih pada saudaranya itu.

Dengan cepat dia melepas semua yang melekat dikulitnya, kemudian menenggelamkan tubuh hingga dagu. Punya saudara seperti Mikasa memang menyenangkan, dia kadang tahu apa yang diinginkan Eren. Tapi mendadak Eren teringat calon kakaknya, Rivaille. Apa pemuda beriris kecil itu akan seperti Mikasa yang melindunginya atau melakukan sesuatu untuknya.

Eren terkekeh pelan, pemikiran yang bodoh kalau Rivaille mau melakukan apa yang Eren minta. Mungkin nanti dialah yang akan melayani sang ketua OSIS itu, mengingat betapa besarnya aura kekuasaan yang menguar dari pemuda berperawakan kecil itu.

Saking lelahnya, Eren hampir saja tertidur didalam bak kalau saja suara Mikasa yang terdengar marah tidak menusuk gendang telinganya. Bergegas dia menyudahi mandinya, dan keluar kamar mandi hanya bermodalkan sehelai handuk membalut pinggang hingga lututnya.

"Mikasa ada apa ini, apa Tou-san pulang?" gadis bermarga Ackerman itu agak merona mendapati Eren yang tampil tanpa baju didepannya.

"Oi, bocah pakai bajumu saat menyambut tamu." Eren reflek menengok sosok yang berdiri dibelakang Mikasa.

"Ri-vai_"

"Pakai bajumu bodoh, kau mengotori mataku dengan tubuhmu yang kurus itu." wajah Eren berubah masam, enak saja dia menyebutnya kurus. Bentuk tubuh Eren cukup bagus walaupun beberapa ototnya tidak dilatih secara rutin.

"Jangan mengejekku, Senpai. Kau bicara begitu seakan tubuhmu itu bagus saja." celetuknya.

"Aku tidak peduli, sekarang beritahu aku dimana letak dapurnya." Eren dan Mikasa saling tukar pandang, apa maksudnya Rivaille bertanya letak dapur.

"Hanji dan Grisha memintaku memasak untuk kalian yang sedang kelaparan, jadi aku kemari." katanya, seraya mengangkat kantung plastik berisi bahan makanan ditangannya, seakan tahu apa yang dipikirkan kedua saudara angkat itu.

"Kata siapa kami lapar, cebol!"

KRIUKK/KRUUKK

Rivaille mendengus geli mendengar suara perut yang berbunyi bersamaan, "Kali ini kalian tidak bisa berdebat denganku." tanpa permisi pemuda minim ekspresi itu beranjak memasuki rumah, mencari sendiri ruangan yang disebut dapur dikediaman keluarga Jaeger itu, meninggalkan dua calon adik yang dirundung malu.

Brother Or Sister?

Eren berlari menuruni tangga dengan cepat saat bau asing menusuk penciumannya. Eren mengikuti baunya hingga menuju dapur, sesaat langkahnya terhenti saat dia berpapasan dengan Mikasa yang juga menuju dapur.

Keduanya setuju menuju sumber bau dan hanya tercengang melihat Rivaille memasak, ternyata dibalik penampilannya yang dominan kearah yakuza, Rivaille punya bakat dalam pekerjaan rumah tangga. Eren teringat saat makan malam bersama, Hanji juga mengatakan Rivaille hebat dalam urusan rumah tangga dan dia kini menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.

Tapi yang lebih mencengangkan lagi, Rivaille kini memakai apron besar milik Grisha dibalik seragamnya. Bagian bawah apron biru tua itu menjuntai hingga lututnya karena ukuran tubuh Rivaille yang terbilang pendek.

Eren terpana, mulutnya megap-megap, "Senpai kau lucu." tapi seketika tangannya bergerak menutup mulut, menahan puji-pujian untuk Rivaille saat pisau dapur menodong wajahnya.

"Katakan sekali lagi jika kau ingin pisau ini menancap dikepalamu." Eren langsung diam ditempat, Rivaille pun melanjutkan acara memasaknya.

"Itu milik Tou-san, kenapa kau memakainya?" tanpa menolehpun Rivaille tahu itu adalah pertanyaan yang dilontarkan musuh bebuyutannya, Mikasa Ackerman.

"Kebersihan selalu diutamakan." jawabnya singkat. "Sekarang bantu aku, atau kalian tidak dapat makan malam." lanjutnya, tanpa menjawab lagi keduanya pun berhamburan memasuki dapur.

Eren menyiapkan gelas berisi air dan sumpit. sedang Mikasa menyendokkan nasi kedalam mangkuk. Setelah masakan Rivaille matang ketiganya pun duduk dikursi masing-masing.

"Itadakimassu."

Dua dari mereka makan dengan tenang, berbeda dengan Eren yang terlihat sibuk mencomot udang tempura dan chicken katsu buatan Rivaille dengan lahap.

"Hati-hati makannya Eren, kau akan tersedak." Mikasa mengingatkan, tapi Eren terus makan dengan cepat.

"Kau akan mati tersedak kalau makan seperti babi, bocah." Eren tersedak mendengar celetukan Rivaille yang cukup sadis baginya, buru-buru Mikasa memberikannya air putih.

"Setelah ini kau akan pergi kan?" pertanyaan atau tepatnya pengusiran secara halus dari Mikasa Membuat Rivaille menghentikan makannya sejenak, tapi kemudian melanjutkannya.

"Tapi kurasa tidak apa kalau Senpai ingin lebih lama disini, Mikasa." pernyataan Eren membuat Mikasa mempelihatkan wajah tidak rela, seakan Rivaille akan menghancurkan rumah mereka jika dia tinggal lebih lama disini.

"Aku akan pergi setelah ini, lagipula aku tidak ingin menjadi pengasuh dua bayi besar." mata Mikasa melirik tak suka, Tapi hey Mikasa yang duluan membuat masalah.

"Kalian berdua sudahlah." Eren mencoba melerai keduanya dari perang dingin.

"Seharusnya kita berterima kasih pada Senpai, Mikasa." Mikasa tidak dapat bicara lagi dan mengalihkan pandangannya dari keduanya.

"Terserah." gumamnya.

Setelah selesai dengan makan malam, Rivaille kembali berkutat dengan perkerjaan rumah tangga, tapi kali ini Eren dan Mikasa membantunya atau tepatnya dipaksa olehnya.

Kini dia sedang mencuci piring-piring bekas makan malam, ditemani Mikasa yang terpaksa membantu karena Eren sedang membersihkan meja makan.

Hening cukup lama tercipta diantara keduanya, hingga Mikasa memutuskan membuka suara, "Terima kasih atas makanannya hari ini, Rivaille." pemuda bersurai pendek itu menghentikan kegiatannya sejenak hanya untuk memastikan pendengarannya tak salah.

"Pendengaranmu tidak bermasalah, chibi." ejek Mikasa. Rivaille hanya mendecih kesal, baru saja gadis itu berterima kasih padanya kini dia kembali mengejeknya.

"Mulutmu terlalu kasar untuk ukuran seorang gadis, Ackerman. Apa aku perlu mendisiplinkanmu seperti Eren?" tanyanya, "Lihat betapa patuhnya dia sekarang." ujung dagunya bergerak mengarah kearah bocah tampan itu.

"Bukan urusanmu, dan jangan harap aku menurut padamu seperti Eren." Mikasa menyalurkan kemarahannya pada sendok kotor didepannya hingga salah satu perlengkapan makan itu patah menjadi dua.

"Hei, kalian sepertinya asyik sekali, membicarakan apa?" Eren datang mendekat karena tertarik dengan gumaman kecil dari kedua insan berperangai agak kejam itu.

"Hanya membicarakan bocah sembrono yang selalu mendapat hukuman, Eren." sahut Rivaille.

"Bocah? Siapa?" tanyanya lagi, Rivaille dan Mikasa hanya menghela nafas. "Bukan apa-apa Eren." kini giliran Mikasa yang menyahut.

"Heh?" Eren memiringkan kepalanya, menaikkan sebelah alisnya, dan tanpa sengaja membuat ekspresi polos.

DEG

'Manisnya' teriak keduanya kompak dalam hati.

Brother Or Sister?

"Terima kasih atas makan malamnya yang enak Senpai." Eren membungkukkan badannya berulang-ulang saat mereka mengantar kepulangan Rivaille. Mikasa hanya memutar matanya melihat Eren yang menurutnya terlalu berlebihan.

"Bukan masalah." Rivaille berpaling menuju pintu, meraih kenopnya dan,

JDERRRR

Ketiga orang itu mematung ditempat mendengar bunyi petir yang sangat nyaring, Eren saja agak gemetar tapi bukannya dia takut petir ya.

"Ano Senpai, apa sebaiknya kau disini dulu sebentar." ujar Eren, wajahnya berpaling menatap lawan bicaranya, "Kenapa, kalian takut petir?" ejeknya.

"Ti-dak, hanya saja sepertinya hujan akan turun." bantahnya. "Kalau kau tidak mau ya bagus, tapi jangan mengejek Eren." bentak Mikasa.

Pemuda bermata mengantuk melangkah keluar rumah, tak tertarik berdebat dengan keduanya.

BLAM

Pintu pun tertutup dari luar dengan keras, tapi tiba-tiba saja_

ZRASSSHHHHH

Pintu kembali terbuka menampakkan Rivaille yang basah kuyup, kepalanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang agak memerah.

"Aku akan meminta Hanji menjemputku saat dia pulang." ucapnya.

Eren langsung berlari kekamar mandi dan kembali dengan handuk untuk Rivaille ditangannya, sedangkan Mikasa berdiri angkuh sekaligus memasang seringaian remeh diwajahnya, membuat Rivaille bernafsu mematahkan lehernya.

Setelah membersihkan dirinya, Rivaille berjalan menuju ruang keluarga dimana Eren dan Mikasa duduk menikmati tontonan malam mereka. Eren terpaku sesaat, ketika melihat penampilan Rivaille dengan rambut basah yang berantakan, baju yang agak longgar, dan celana jeans yang juga agak kepanjangan hingga dia harus melipatnya dibagian ujung kaki.

"Sepertinya baju itu bisa kau gunakan sebagai piyama." kata Mikasa sambil tertawa remeh, Eren juga ikut tertawan mendengar celetukan Mikasa. Rivaille mendengus sebal, memilih menjitak Eren untuk menghilangkan kekesalannya.

"Ittai."

Mikasa langsung mengusap kepala Eren, membuat gerakan pergilah sakit yang entah bekerja atau tidak. Matanya menyipit tajam kearah pelaku pemukulan, Rivaille hanya mengedikkan bahu tidak peduli.

"Maaf Senpai, kau mau duduk?" tawar Eren. Rivaille tak langsung duduk, dia malah memandang dengan alis mengkerut pada tempat duduk yang ditawarkan Eren, pasalnya tempat yang dimaksud Eren ada disamping Mikasa yang terlihat mengeluarkan aura tidak nyaman, yang dia yakin membuatnya tidak akan kerasan jika duduk disana.

Eren yang juga ikut merasakan aura bernama pergi-kau-dari-sini dari Mikasa berinisiatif beralih menuju tengah kursi membuat Mikasa beralih kebagian ketepi bagian kiri.

Eren menepuk tempat kosong disampingnya, mengisyaratkan Senpainya itu untuk duduk.

"Eren, kenapa?" Mikasa bingung. Setelah tahu maksud Eren, Mikasa mengerucutkan bibirnya sambil melipat tangannya didada. Dia merasa Eren tidak adil dan lebih memperhatikan Rivaille daripada dia, saudara resminya.

Perhatian Rivaille teralih pada Mikasa yang terlihat cemburu dengannya, ya dia tahu perasaan Mikasa lebih dari sekedar saudara pada Eren. Tapi ya memang Erennya yang agak lemot dan tidak peka. Poor Mikasa.

Sofa merah itu kini terisi tiga orang, dengan posisi Rivaille disebelah kanan, Eren ditengah dan Mikasa disebelah kiri.

"Kalian ingin menonton sesuatu?" tanya Eren pada keduanya, tapi karena keduanya tidak menjawab Eren akhirnya menekan remote televisi secara acak dan mencari saluran channel yang menurutnya menarik. Kini yang terdengar hanyalah suara hujan dan televisi yang terus berganti gambar.

"Ah aku lupa anime kesukaanku." Eren menepuk jidatnya dan segera mengganti saluran keacara kesukaannya, lalu menontonnya dengan antusias.

"Lihat Senpai dianime ini ada karakter yang mirip denganmu, nama Levi." teriak Eren dengan telunjuk terarah ketelivisi yang menampilkan karakter yang dimaksud Eren.

Sepertinya Rivaille agak penasaran dengan karakter yang dimaksud Eren, dia terus mengikuti anime itu hingga scene pengadilan, dimana tokoh utama diadili didepan banyak orang.

"Apa yang membuatmu yakin dia mirip denganku, bocah?" Rivaille agak heran, kenapa bocah Jaeger itu menyebut karakter ini mirip dengannya, mungkin wajahnya agak sama tapi bagaimana dengan sifatnya.

Tapi sedetik kemudian mata Rivaille terbelalak saat Eren menunjuk adegan dimana karakter yang dikatakan Eren mirip dirinya, memberikan pukulan bertubi-tubi pada tokoh utama hingga menyebabkan giginya copot.

"Nah, itu yang membuatmu mirip dengannya Senpai."

"Oi,oi, maksudmu aku orang yang kasar?" tanyanya kesal, simbol perempatan tercetak jelas didahinya, Eren hanya tertawa canggung dan takut.

"Tepatnya berperangai kasar dan kejam." Mikasa ikut bersuara, dengan mata tetap tertuju pada televisi. "Aku tidak minta pendapatmu, Stranger." sahut Rivaille tidak mau kalah. Keduanya pun memulai kembali berdebat dengan Eren yang menjadi titik tengah diantara keduanya.

Brother Or Sister?

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit, tapi hujan masih saja turun dengan derasnya.

Tiga orang yang menonton televisi sejak dua jam lalu itu mulai merasa bosan. Beberapa kali Eren terlihat menguap hingga matanya agak berair. Mikasa pun kini menyenderkan kepalanya dikepala sofa sambil sesekali menutup matanya, tapi membuka kembali sambil melirik Eren sesekali. Sepertinya dia takut Rivaille melakukan sesuatu pada Eren jika dia tertidur.

Rivaille yang sedari pulang sekolah tidak istirahat, ditambah harus memasakkan dua kurcaci kecil Grisha itu mulai dilahap rasa kantuk. Cuaca yang dingin yang nyaman ikut membuainya untuk segera memasuki alam mimpi, dia mencoba terjaga kalau-kalau Hanji dan Grisha pulang sebentar lagi.

Tapi rasa kantuk mengalahkan ketiganya. Mikasa menjadikan paha Eren sebagai bantal, Rivaille menyenderkan kepalanya kepundak Eren, sedangkan Eren sendiri menumpukan kepalanya kepucuk kepala Rivaille. Tangannya terkulai lemah kebahu Mikasa seolah memeluknya. Mereka pun tertidur ditemani suara hujan dan televisi yang terus menyala.

Setelah dua jam barulah Hanji dan Grisha pulang, keduanya tersenyum sumringah mendapati ketiganya tertidur bagaikan bayi dengan posisi saling melindungi satu sama lain.

Hanji merogoh handphonenya, menyetting kameranya agar tidak bersuara dan mengambil gambar ketiganya dari berbagai angle.

Grisha yang tadi keluar, kini kembali dengan tiga selimut ditangannya. Dengan penuh rasa kasih dia menyelimuti mereka penuh kelembutan, tanpa berniat membangunkan ketiga malaikat mereka itu.

"Ah, sepertinya Rivaille benar-benar kelelahan hari ini."

"Memangnya kenapa Hanji?" tanya Grisha.

"Biasanya saat dia tidur, Rivaille tetap waspada pada apapun. Tapi sekarang dia benar-benar lelap, situasi yang langka." jelasnya.

Grisha manggut-manggut mendengar penjelasan Hanji, menurutnya Rivaille tertidur karena cuaca yang dingin dan suasana yang tenang. Begitu juga Mikasa yang kini sangat lelap dan agak mendengkur. Kalau Eren tidak usah dipikirkan, dia bisa dibangunkan jika wajahnya disiram dengan air dingin.

"Kuharap mereka bisa terus seperti ini, bisa saling melindungi meskipun saling membenci terutama Mikasa dan Rivaille." Hanji tertawa kecil mendengar kata bijak Grisha.

"Itu sudah tentu, karena sebentar lagi mereka akan menjadi saudara." setelah mengatakan itu, keduanya beranjak keluar ruang keluarga, dan tanpa mereka sadari alis Rivaille berkerut, decihan kesal keluar pelan dari bibirnya.

Dengan gerakan pelan Rivaille menenggelamkan kepalanya dilekukkan leher Eren, sekaligus menyesap aroma manis dari pemuda bermanik emerald itu. Perbuatan Rivaille membuat Eren mengerang pelan, tapi rasa kantuk menguasainya dan membuatnya kembali tertidur.

Begitupun Mikasa yang sudah terbangun dari tadi, tetapi memilih untuk diam dan mengeratkan genggamannya pada selimut yang menutupi tubuhnya.

Malam itu Mikasa dan Rivaille hanya bisa menyimpan beban didalam hati masing-masing karena sebuah ikatan yang akan menghalangi keduanya mendapatkan sesuatu yang berharga bagi keduanya.

"Eren." lirih keduannya pelan, mata mereka kembali menutup menyembunyikan binar manik yang memiliki kesedihan yang sama, berharap ikatan yang akan mereka sandang hanyalah mimpi yang terus mempermainkan hati mereka.

Bersambung..

Kote : sarung tangan atau kote berfungsi sebagai pelindung tangan mulai dari ujung jari sampai bagian tangan dibawah sikut. Kote ini terbuat dari kulit berisi kain, sehingga dapat meredam pukulan keras yang mengenai tangan, namun demikian kote harus terasa lunak sehingga jari-jari dapat bergerak.

Hakama : terbuat dari kain dengan bahan katun berfungsi sebagai celana.

Keiko-gi : Baju kendo terbuat dari katun berwarna hitam, biru tua atau putih. Keiko-gi harus longgar dan bebas agar dapat memudahkan bergerak terutama bagian bahu.

Terima kasih pada semua yang mendukung fic ini, Read and Review ya..

Dan terima kasih juga untuk kritik dan sarannya, karena itu sangat membantu saya yang pemula ini..

Ziemon.