Chapter 03.

"A-aah!" Mendadak Armin panik sendiri.

"Kau kenapa, Armin?" Tanya Connie yang kaget.

"A-aku baru sadar….kita harus cepat menyusul Eren!" Kemudian Armin

langaung saja berlari menuju aula dan membuat Mikasa dan Connie refleks ikut berlari.

"Armin, memangnya kenapa kita harus cepat-cepat menyusul Eren?" Ujar Mikasa sambil berlari disebelah Armin yang terlihat panik.

"Eren dalam bahaya, karena—"

.

.

.

"Eren dalam bahaya karena..pelakunya sedang mengincarnya saat ini!"

"Ja-jadi memang ada orang lain selain kita di dalam sekolah ini!?" Teriak Connie sambil terus berlari mengikuti Armin dan Mikasa.

"Tidak, sejak awal memang hanya ada kita di dalam sekolah ini." Jelas Armin

"Armin..apa maksudmu..pelakunya adalah…" Ujar Mikasa setengah tidak percaya.

"Iya…pelakunya adalah…"

.

.

.

"Mmmhh! K-kau..apa yang—" Eren yang mulutnya ditutup menggunakan saputangan oleh sang pelaku, terus berusaha lepas supaya dia bisa kabur dan memperingati sahabatnya, namun seperti itu tidak akan berhasil karena saputangan yang digunakan sang pelaku telah diberi kloroform yang mengakibatkan Eren mulai pingsan.

"Si-sial…aku harus memberitahu mereka kalau..pelakunya.." Eren yang hampir tidak sadarkan diri, perlahan berhenti berontak dan terkulai lemas di atas lantai.

Sesaat sebelum sang pelaku berniat mencelakakan Eren, Armin, Mikasa, dan Connie akhirnya sampai di aula.

"Tunggu! Akhirnya kami sadar kalau kau pelakunya..jangan mengelak lagi, Rivaille-sensei."

Benar sekali. Dialah memang menghilang, karena dialah pelaku sebenarnya. Dan dialah yang menyebabkan Marco dan Jean mati.

Hanya ada satu pertanyaan yang terus bergema di dalam kepala Eren dkk : "kenapa?"

"…Kenapa kau berpikir kalau aku adalah pelakunya?" Ujar Rivaille dengan wajah datarnya seperti biasa.

"Karena..kami menemukan jam tangan milik Sensei saat kami pergi ke toilet untuk mencari Marco."

"Jam tanganku?" Rivaille sedikit mengerutkan dahinya.

"Iya, saat aku mengambil jam tangan Sensei dan memperhatikannya dengan seksama..aku menemukan bercak darah dipermukaan jam tangan ini." Jelas Armin sambil memperlihatkan jam tangan milik Rivaille yang memang memiliki bercak darah.

"Kalau jam tangan itu memiliki bercak darah, bukan berarti aku pelakunya, bukan?" Rivaille mengelak sambil berjongkok didekat Eren yang terkulai lemas di lantai.

"JANGAN SENTUH EREN, DASAR PEMBUNUH!" Saat Mikasa berteriak seperti itu, Armin dan Connie shock karena tidak pernah melihat Mikasa semarah itu.

"Pembunuh..katamu?" Rivaille merespon dengan (sangat)datar—lagi.

"MEMANGNYA AKU HARUS MENYEBUTMU APA!? KAU INI MEMANG PEMBUNUH, BUKAN!?" Mikasa berteriak sekali lagi sambil mulai mengeluarkan air mata. Namun itu bukanlah air mata kesedihan, melainkan air mata kemarahan.

"Mi-Mikasa, kau harus tenang—"

"BAGAIMANA BISA AKU TENANG DISAAT SEPERTI INI, ARMIN!?"

"Makanya disaat seperti ini kita harus tetap tenang, tahu! Kendalikan dirimu, Mikasa!" Teriak Connie kepada Mikasa yang sudah naik darah dan siap melempar Rivaille dan lantai empat sekolah.

"Rivaille-sensei…aku hanya akan bertanya sekali lagi : apa benar Rivaille-sensei yang membunuh Jean dan Marco?" Ujar Armin dengan agak ragu.

Hening.

"Tolong jawab, Rivaille-sensei."

Masih hening.

"Hmph, kalau memang benar aku yang membunuh mereka berdua..apa yang akan kau lakukan? Melapor ke polisi?"

"Tidak..aku yakin kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik—"

"Heh, aku terkesan kau bisa berkata seperti itu setelah kau berpikir kalau akulah…yang membunuh Jean Kirschtein dan Marco Bodt." Jawab Rivaille sambil memasang senyum iblis di wajahnya yang tadinya datar.

Suasana mencekam.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Bisakan kau bayangkan kalau kau menemukan bukti yang membuatmu berpikir kalau wali kelasmu sendiri yang membunuh dua teman baikmu dengan cara yang paling tidak diinginkan?

"Tapi aku masih bertanya-tanya, kenapa kau bisa berpikir kalau akulah pelakunya?"

"Karena..saat kami berlari di lorong, kami menemukan ini." Ujar Armin sambil memperlihatkan sebuah jas biru tua yang dibagian ujung lengannya terdapat bercak darah, dan jas itulah yang tadi dipakai oleh Rivaille sebelum dia menghilang.

"Itu tidak cukup untuk kau jadikan bukti."

"Memang..tapi kalau jam tangan, sarung tangan, dan ujung lengan jas ini digabungkan…" Lanjut Armin sambil menggabungkan semua benda yang tadi dia sebut "Corak darah yang ada di ketiga benda ini akan saling tersambung dengan sempurna."

"Hanya karena barang-barang milikku dan sarung tangan itu memiliki corak darah yang sama, kau menuduhku sebagai pelakunya? Bisa saja darah itu ada karena aku sempat berkelahi dengan pelakunya, bukan?"

"Di-dia benar juga, Armin…" Connie mulai panik.

"Walaupun Rivaille-sensei berkelahi dengan pelakunya, tidak mungkin meengeluarkan darah sebanyak ini, karena Rivaille-sensei kelihatannya baik-baik saja. Kalaupun ini darah si pelaku, berarti dia sudah terluka sangat parah dan harusnya Rivaille-sensei sudah memberitahu kami kalau pelakunya sudah terluka parah, bukan?" Jelas Armin dengan nada bicara meyakinkan.

Hening.

"… Aku tidak menyangka kau bisa membaca perbuatanku sampai sejauh ini…" Lanjut Rivaille sambil mengangkat poni Eren dengan kasar sehingga wajahnya terlihat jelas "Apa kau akan melaporkanku kepolisi? Lakukanlah jika kau ingin melihat anak ini mati dengan cara yang tidak menyenangkan untuk dilihat." Rivaille memperlihatkan tatapan seorang pembunuh yang tidak pernah dia perlihatkan selama mengajar di kelas.

"JANGAN COBA-COBA UNTUK MELAKUKAN SESUATU KEPADA EREN, KAU PEMBUNUH!" Mikasa kembali lepas kendali.

"Benar…aku adalah pembunuh. Dan sepertinya anak bernama Marco Bodt mengetahui kalau akulah pelakunya. Karena itu, aku harus menyingkirkan semua saksi mata yang ada…termasuk kalian!" Jawab Rivaille dengan nada bicara agak marah.

"Rivaille-sensei…apa kau bisa memberitahu..alsan kenapa Rivaille-sensei melakukan ini semua!?" Teriak Armin sambil berusaha menahan Mikasa.

"Alasan..? baiklah..akan kuberitahu alasannya..2 tahun yang lalu—"

.

.

.

-Flashback-

"Rivaille! Selamat pagi!" Ujar seorang perempuan berambut orange sebahu sambil melambaikan tangannya kepada seorang pemuda yang baru keluar dari rumahnya.

"Petra? Ada apa kau pagi-pagi datang ke rumahku?" Jawab pemuda itu dengan ekspresi dan nada bicara datar.

"Kok malah 'ada apa'? aku datang untuk menjemputmu."

"Menjemput?"

"Iya, mulai hari ini kita akan masuk ke sekolah yang sama, jadi aku sangat senang!" Kemudian gadis yang dipanggil Petra itu langsung saja berjalan mendahului pemuda yang ia panggil Rivaille tersebut sambil tersenyum ceria, membuat Rivaille memperlihatkan sedikit semu merah di kedua sisi pipinya.

Benar sekali. Rivaille sebenarnya menyukai Petra sejak lama.

Rivaille dan Petra adalah teman sedari kecil dan sering bermain bersama karena rumah mereka berdekatan. Namun sepertinya Petra tidak menyadari perasaan Rivaille kepadanya.

"Eh..? Kau menyukai kakak kelasmu..?" Tanya Rivaille sambil sedikit membulatkan kedua matanya.

"Iya, aku berencana akan mengungkapkan perasaanku kepadanya sepulang sekolah nanti." Ujar Petra dengan ekspresi berbinar-binar.

"Begitukah..semoga berhasil…"

"Terima kasih, Rivaille!" Ujar Petra yang kemudian pergi meninggalkan Rivaille yang menunduk lemas sendirian di dalam kelas.

"mengungkapkan..perasaan..? tidak akan kubiarkan..Petra, kau adalah milikku..selamanya.." Batin Rivaille sambil berjalan keluar kelas dan membuntuti Petra.

Saat Petra sampai di belakang sekolah tempat dia memiliki janji bertemu dengan kakak kelasnya, Rivaille mengendap-endap di belakang Petra—

"Rivaille? Apa yan—"

Dan memukul kepala Petra dengan menggunakan sekop.

Tubuh Petra yang sudah tidak bernyawa terbaring di atas tanah dengan kepala yang mengeluarkan banyak darah, diseret oleh Rivaille dan ia memasukkannya kedalam sebuah karung besar.

"Petra…sekarang kau mengerti bukan? Kalau kau adalah milikku..selamanya."

-End of Flashback-

.

.

.

"Ja-jadi yang membunuh Petra-senpai dan menyimpan mayatnya selama ini adalah..kau, Rivaille-sensei!?" Teriak Connie dengan wajah yang menunjukkan ekspresi tidak percaya.

"Benar sekali..itu karena dia tidak menyadari kalau aku mencintainya…jadi aku memberinya pelajaran supaya dia tidak menjadi milik orang lain." Jawab Rivaille dengan wajah pembunuh.

"Aku tidak percaya..jadi Marco dan Jean..dibunuh oleh orang yang sama dengan orang yang membunuh Petra-senpai..!?" Armin yang shock, langsung saja duduk lemas di lantai aula sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"Kau..bukan hanya melukai Eren, kau juga membunuh Jean dan Marco..pembunuh sepertimu..SEHARUSNYA TIDAK PERNAH DILAHIRKAN!" Teriak Mikasa yang tiba-tiba saja berlari menuju Rivaille yang masih memegangi Eren dengan kasar.

"Mikasa! Tunggu! Jangan bertindak gegabah!" Teriak Connie yang gagal menahan Mikasa.

Tapi saat Mikasa ingin memberi Rivaille pelajaran, Rivaille dengan cepat mengeluarkan pisau lipat dari kantung celananya dan menusuk perut Mikasa.

"Tidak pernah dilahirkan? Kau harus memperbaiki cara bicaramu, bocah. Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun oleh orang tuamu? Tapi tidak perlu khawatir..karena aku yang akan mengajarimu."

"K-kau…bukan manusia…ghh—" Mikasa, dengan perutnya yang bersimbah darah, terus saja menyumpahi Rivaille dan akhirnya kehilangan kesadaran.

"Mikasa..ti-tidak..TIDAKKK!" Armin yang melihat temannya dilukai seperti itu, hanya bisa berteriak putus asa. Sedangkan Connie hanya bisa membeku sambil memasang ekspresi yang seakan mengatakan 'ini tidak mungkin terjadi padaku'.

"Kalian sudah tidak punya jalan keluar lagi..ini sudah seperti GAME OVER bagi kalian." Ujar Rivaille sambil menghampiri Armin dan Connie yang sudah seperti tidak memiliki tujuan hidup lagi.

"Ini..belum GAME OVER!"

"Hah—ugh—" Tiba-tiba saja, Eren yang tadinya tidak sadarkan diri, sekarang sudah menerjang Rivaille dari belakang, membuat Rivaille terjatuh ke lantai, dan terus memukuli orang yang tadinya dia anggap sebagai gurunya itu.

"Selama kami terus berjuang untuk hidup, tidak akan ada yang namanya GAME OVER di dalam kehidupan ini!" Teriak Eren sambil terus memukuli Rivaille.

"Eren…"

Sambil menahan pukulan dari Eren, Rivaille dengan perlahan mulai bangun dan menjauh dari Eren.

"JANGAN KABUR!" Teriak Eren sambil siap menerjang Rivaille sekali lagi.

"Diam di tempatmu, bocah," Lanjut Rivaille sambil mendekati Mikasa yang masih sekarat "Atau aku tidak akan segan-segan untuk mengakhiri hidup anak ini dengan tanganku sendiri."

"Ghh..DASAR PENGECUT!"

"Diam kau, aku hanya tidak ingin ada GAME OVER di dalam hidupku, itu saja."

"Itu saja, katamu!? Demi bertahan hidup, kau rela membunuh orang lain!?" Eren makin naik darah.

"Memangnya apa salahnya membunuh untuk bertahan hidup? Aku lebih memilih membunuh daripada dibunuh."

"Walaupun kau tidak ingin ada GAME OVER di hidupmu, suatu saat GAME OVER itu akan datang dengan sendirinya." Ujar Armin sambil perlahan berdiri kembali.

"Apa maksudmu?"

"Mungkin kau sudah menyadarinya sedari tadi, tapi..aku sudah merekam semua perkataanmu di handphoneku," Lanjut Armin sambil memperdengarkan rekaman suaranya sekali lagi "Dan ini adalah bukti yang kuat dan cukup untuk menangkapmu, Rivaille-sensei—ah, bukan—Rivaille."

Hening.

Setelah hening sebentar, Rivaille melepaskan Mikasa dengan perlahan dan berjalan pelan menuju jendela aula yang berukuran cukup besar.

"JANGAN COBA-COBA UNTUK KABUR!" Eren yang berniat memukuli Rivaille lagi, langsung dihentikan oleh Armin.

"Tu-tunggu, Eren—"

"Arlert, tadi kau bertanya kepadaku…kenapa aku melakukan semua ini, bukan?" Ujar Rivaille sambil membuka jendela tersebut dan menatap ke bawah.

"Eh..?"

"Aku memang menjawab kalau aku melakukan ini semua karena aku mencintai Petra, tapi sepertinya itu bukan jawaban yang tepat."

"Jadi…apa jawaban yang menurutmu benar?" Ujar Armin dengan nada bicara serius.

"Soal itu…aku juga tidak tahu. Aku juga jadi berpikir.." Lanjut Rivaille sambil menjatuhkan dirinya dari jendela aula yang terletak di lantai empat sekolah.

.

.

.

"Kenapa aku melakukan ini semua?"

.

.

.

"Ri..RIVAILLE-SENSEEIII!"

.

.

.

"GAME OVER."

.

.

.

Rivaille, orang yang membunuh Petra Ral, Jean Kirschtein, dan Marco Bodt, tewas karena bunuh diri dengan lompat dari lantai empat sekolah.

Keesokan paginya, polisi setempat menyadari kalau Eren dkk terjebak di dalam sekolah dan berusaha untuk menghubungi penjaga sekolah.

Mayat dari Petra Ral di temukan di rumah Rivaille dalam keadaan sudah membusuk, sedangkan mayat Jean dan Marco dibawa untuk dimakamkan dengan layak.

.

.

.

"Eren, kau sudah siap?" Ujar Armin kepada Eren yang sedang berdiri termengung di depan tiga buat batu nisan.

"Iya…akhirnya hari ini Mikasa bisa keluar dari rumah sakit."

"Ayo, dia pasti menunggu kita." Kemudian Armin berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Eren yang melihat kearah ketiga batu nisan itu sebelum akhirnya dia pergi.

Di batu nisan pertama dan kedua, terukir nama Marco Bodt dan Jean Kirschtein, sedangkan di batu nisan terakhir, terukir sebuah nama yang sebenarnya ingin Eren dkk lupakan : Rivaille.

Walaupun sudah beberapa bulan sudah terlewatkan sejak kejadian di sekolah, mereka pasti tidak akan lupa, bahwa mereka telah melihat seseorang mengakhiri hidupnya sendiri dan berkata kalau hidupnya sudah sampai di titik 'game over'.

Tapi suatu saat, saat mereka sudah dewasa, mereka pasti akan bisa melupakannya.

Dan semua manusia pasti akan menemui titik 'game over' di dalam kehidupan.

-OWARI-

Yo minna~ Alice desu~

Ini dia ending dari fic "Why Did I Do This?"~

Sebenernya batin Alice gakuat untuk bikin ending dimana 'Rivaille-mati-bunuh-diri-lompat-dari-lantai-empat '(?) tapi Alice usahakan demi para readers yang setia membaca fic ini dari awal sampai akhir~

Dan oh iya, setelah ini, Alice akan kembali kepada kebiasaan lama : MEMBUAT FIC YAOI RIVAREN *tebar kolor Eren* *epic Hallelujah sound effect*(?)

Harap kalian puas dengan fic-fic yang Alice buat, mohon maaf kalau ada banyak typo dll,Arigatou Gozaimasu~

Kurosawa Alice.