A/N: oke... kita lanjut lagi... hahaha... ah ya balas review dulu...

blossom and scarlet
Author: i-itu... ah... itu bukan salah ku... itu salah web... ah... padahal aku sudah mainin gamenya tapi tetap salah... ukh... *drop*Asthor: sudah ku bilang kau memang bukan Author yang bak... *tepuk punggung Author*
Author: sialan... kau bulan ini tak akan ku gaji... *pegang krah baju Asthor*
Author: emang aku di gaji...
Author: aku terlalu miskin untuk menggajimu... ukh... *drop lagi...*
Asthor: yay... aku menang... oke blossom... thanks dah review...

Yuuki moon chan
Asthor: gak masalah kok kalau buat ribut mah... hahahaha...
Author: woi... jangan mentang-mentang aku lagi...
asthor: diam... Author tak becus...
Author: ukh... *lagi lagi drop*
Asthor: oke thanks dah review...

Asthor: nah minna-san... chap 2 hajimaruyo... ah iya sebelumnya...

Disclaimer: semua karakter dalam fic ini punya KOEI... yang Author punya cuma OC ama fic ini...

Warning: dalam fic ini bakalan ada OOC yang munkin gak ngenakin pembaca jadi mohon maaf...


Di hari yang direncanakan...

" siapa kau? Aku belum pernah melihatmu?" ucap Sun Ce begitu melihat seorang pria berambut panjang yang diikat.

" aku Zhou Yu, aku di tugaskan ayahmu untuk menjagamu…" ucapnya.

" hoo… menjagaku? Hahahaha… itu memang ayah… hmm… ah aku perkenalkan ini adalah jendral kepercayaanku… namanya Xian Li" ucapnya sambil menunjuk salah satu jendral utamanya

" aku Zhou Yu senang berkenalan denganmu… mohon kerja samanya…" ucap Zhou Yu mengulurkan tangannya pada Xian Li.

" aku juga… mohon kerja samanya…" ucap Xian Li menerima jabatan tangan Zhou Yu.

Ketika sedang berjabat tangan, Zhou Yu terus memandangi muka Xian Li…

" mmm… tuan kenapa anda terus memandangi saya?" Tanya Xian Li yang merasa risih terus di perhatikan.

" eh!? Tidak… aku merasa heran itu… pantat bebek itu kenapa ada di kepalamu?" ucapnya menunjuk kepala Xian Li

" pantat bebek… *muncul simpang empat merah* INI BUKAN PANTAT BEBEK… INI GAYA RAMBUT MASA DEPAN… WAAAAA… NGAJAK BRANTEM HAH!" teriak Xian Li begitu mendengar ucapan Zhou Yu.

Author: hahahaha… pantat bebek… emang pas… hahaha

Xian Li: diam kau Author brengsek… *tusuk Author*

Author: gah… *melayang*

" hahahaha… sudah lah Li… itu sudah biasakan… setiap orang yang pertama kali melihatmu pasti bilang itu pantat bebek… hahahaha… aku pun begitu dulunya" celetuk Sun Ce terbahak melihat tingkah Xian Li

" itu memang benar tuan tapi tetap saja…" ujar Xian Li tertunduk.

" ah… maaf aku hanya menganggap itu sedikit aneh… maafkan aku…" ucap Zhou Yu dengan menahan ketawa.

" huh sudahlah… ukh…" ujar Xian Li kembali ketempatnya.

" mmm… Sun Ce dia kenapa? Apa begitu terus?" ucap Zhou Yu berbisik pada Sun Ce.

" hmm…? hahaha… tenanglah… dia memang sedikit aneh… tapi di medan pertempuran dia orang yang bisa diandalkan…" ujar Zhou Yu beranjak.

Lalu Zhou Yu pergi kedepan semua pasukannya untuk memberi beberapa kata pemberi semangat.

" baiklah semua kita akan menghancurkan kekuasaan Zhang Jiao… jangan ada yang setengah-setengah… hancurkan semua…" ucap Sun Ce.

" OOOOOUUUUUU…" teriak semua prajurit saat Sun Ce mengangkat kepalan tangannya.

" baiklah Xian Li aku akan kearah barat daya dan kau bantu Cao Cao di barat…" ucap Sun Ce.

" lalu tuan bagaimana?" Tanya Xian Li.

" aku ingin melihat ketangguhan orang yang di suruh ayah untuk menjagaku…" ucap Sun Ce sambil mengarahkan jempolnya ke Zhou Yu.

" baiklah tuan…" ucap Xian Li memberi hormat.


Lalu Xian Li berangkat menuju arah barat daya, disana ia bertemu dengan Zhang He dan Cao Cao.

" tuan saya akan membantu tuan…" ucapnya begitu berhasil menyusul Cao Cao.

" hmm… apa yang bisa di lakukan oleh anak muda sepertimu? Kau memang hebat membuat rencana tapi tubuhmu kecil…" ucap Cao Cao tak percaya Xian Li bisa menolong.

" saya hanya bisa membantu tuan tidak lebih… itu pun kalau tuan tidak keberatan…" ucap Xian Li tenang.

" hahahaha… aku suka dengan gayamu… baiklah tapi jangan sampai kau menggangguku…" ucap Cao Cao kembali melakukan penyerangan.

" hmm… kamu punya rambut yang aneh… apa itu pantat bebek?" Tanya Zhang He.

" mmm… ini bukan pantat bebek tuang Zhang he… ini gaya rambut masa depan…" ucap Xian Li tenang.

" sialan… aku harus tenang… jika aku menyerang banci ini saat ini… Wu bisa kena masalah karena aku…" ucap Xian Li dalam hatinya.

Lalu mereka melakukan penyerangan pada semua benteng pertahanan yang ada di barat daya. Mereka berhasil memporak-porandakan setiap benteng yang mereka temui. Setelah itu mereka kembali bergabung dengan pasukan lain. Lalu mereka segera menuju kearah utara, karena disanalah Zhang Jiao berada. setelah beberapa pertempuran dalam benteng utama, akhirnya Zhang Jiao mati di tangan Cao Cao.


Beberapa hari setelah pertempuran dengan Zhang Jiao, pasukan gabungan akan menyerang benteng Dong Zhuo. Sun Ce dan pasukannya berada di timur laut, mereka akan menghancurkan gerbang disana.

" kalian kira kami akan membiarkan kalian menghancurkan gerbang yang telah di serahkan pada kami?" ujar Wei Xu yang menjaga gerbang timur laut.

" huh… kau kira kami akan minta izin pada kalian hah?" ucap Sun Ce.

" sudah tuan… tidak usah meladeni mereka…" ucap Xian Li turun dari kudanya lalu maju.

" apa yang akan kamu lakukan pan… eh Tuan Xian Li?" ujar Zhou Yu yang ikutan maju.

" hmm… tak ada… hanya ingin menyingkirkan ranting yang menghambat jalan…" ucap Xian Li mengeluarkan pedangnya.

Author: hahaha… Zhou Yu mau bilang pantat bebek tuh…

Zhou Yu: aku tidak bilang apa-apa… tuan Xian Li Author bilang pantat bebek tuh…

Author: aku gak bilang gitu kok…

Xian Li: Author awas kau… habis perang ini akan ku gantung kau di pohon tauge…

Author: yah pohon tauge mah gak sakit…

Xian Li: ya sudah akan ku gantung kau di pohon manga di depan kerajaan… *smirk*

Author: *pale*

" beraninya kau meremehkan kami…" ucap Li Meng ikut mengeluarkan pedangnya.

Xian Li dan Zhou Yu maju tanpa berkata apa-apapun, Li Meng, Wei Xu, Li Ru dan Gao Shun maju untuk membunuh Xian Li. Dimulai dengan Li Ru, ia menerjang Xian Li dengan gerakan lurus, tapi hal itu tak berarti apa-apa bagi Xian Li, ia dengan mudah menghindar ke kanan lalu menusuk pinggang Li Ru, hingga darah Li Ru muncrat ke muka Xian Li. Ketiak darah Li Ru mengenai mukanya ia merasakan hal yang aneh pada tubuhnya...

" ada apa ini… tubuhku memanas… ini tak pernah terjadi sebelumnya" ujar Xian Li dalam hatinya, ia merasa ada suatu kesadaran lain yang menghinggapi dirinya.

Lalu Li Meng dan Gao Shun menyerang Zhou Yu bersamaan tapi dengan gerakan yang indah Zhou Yu menghindari semua serangan mereka dan mengerahkan serangan yang mematikan pada mereka berdua. Melihat rekan-rekannya telah terkapar bersimbah darah, Wei Xu merasa hidupnya juga akan berakhir, maka ia mohon ampun pada Xian Li yang datang menghampirinya.

" huh… kalau aku tak masalah tapi, kau sebaiknya minta pada tuan Sun Ce, karena dia adalah komandanku…" ucap Xian Li tapi anehnya tangannya kirinya menusuk jantung Wei Xu.

" Xian Li… ada apa? Bukankah dia sudah menyerah?" Tanya Sun Ce yang datang dari belakang, ia heran melihat tindakan Xian Li.

" ukh… aku tak tau tuan… tangan kiriku bergerak dengan sendirinya…" ucap Xian Li yang memegang tangan kirinya.

" hmm… apa…" perkataan Sun Ce terhenti begitu mendengar gerbang sebelah tenggara telah terbuka tapi ternyata disana sudah ada Lu Bu.

" sial ada Lu Bu, penyerangan kita bisa gagal…" ucap Zhou Yu yang telah naik kembali ke kudanya.

" jadi kita harus bagaimana?" Tanya Sun Ce ikut kebingungan.

" tuan… tuan maju saja… saya akan menhentikan Lu Bu…" ucap Xian Li melihat pada Sun Ce.

" tapi… tak ada yang bisa menghentikan Lu Bu selama ini…" ucap Sun Ce cemas.

" tak apa tuan… saya tidak berniat menahannya sampai saya mati… saya hanya akan menahannya sampai Dong Zhuo mati… lalu saya akan mundur" ucap Xian Li naik ke kudanya.

" baiklah… karena ini adalah perkataan darimu… aku mempercayaimu… AYO SEMUA HANCURKAN GERBANG INI…" teriak Sun Ce berpaling dari Xian Li dan menuju gerbang di timur laut. " ingat Xian Li kau adalah jendral yang ku percayai seperti saudaraku… jangan sampai mati…" ujar Sun ce.

" terima kasih tuan…" ucap Xian Li dengan suara kecil lalu pergi menuju gerbang tenggara, ketika sedang berkuda menuju Lu Bu, Xian Li meihat bahwa Diao Chan sedang dihajar habis-habisan oleh Cao Cao.

Author: wah… itu cowok apa bencong? Napa mukul cewek ampe segitunya yah?

Asthor: ntahlah… tapi itukan scenario yang kamu buat…

Author: iya yah… ya sudahlah…

Melihat itu, Xian Li segera bergerak kearah Cao Cao.

" tuan bisakah tuan menghentikan serangan tuan pada nona Diao Chan" ujar Xian Li menahan Cao Cao.

" beraninya kau menahanku anak muda…" ucap Cao Cao berontak.

" bukan begitu tuan… semakin tuan berlama-lama disini Lu Bu akan segara datang kesini, dan kemunkinan kita berhasil mengalahkan Dong Zhuo akan menipis… tolong serahkan masalah nona Diao Chan padaku… aku bisa menggunakannya untuk menahan Lu Bu." Ujar Xian Li menjelaskan.

" memang apa hubungan wanita ini dengan Lu Bu?" Tanya Cao Cao heran.

" ini hanya sebuah hipotesis… tapi aku harus membuktikannya dahulu…" ucap Xian Li melepaskan Cao Cao.

" hmm… aku tak tau sehebat apa hipotesismu… tapi aku akan menyerahkan padamu… mengingat kita harus menghancurkan Dong Zhuo…" ucap Cao Cao beranjak.

" terima kasih tuan…" ucap Xian Li memberi hormat, lalu ia beranjak ke arah Diao Chan.

" apa maumu?" ucap Diao Chan dengan terengah-engah.

" tak apa nona… tak usah takut… walaupun nona musuh tapi saya tak akan menyakiti nona… jadi tolong tenang…" ucap Xian Li berjongkok, lalu ia mengangkat Diao Chan.


Setelah itu ia menaikkan Diao Chan keatas kudanya, setelah itu ia yang naik. Segera setelah ia merasa sudah oke di atas kuda, ia memacu kudanya kearah Lu Bu yang tengah di tahan oleh Huang Gai.

Author: wah asik… bisa gendong-gendong Diao Chan…

Xian Li: diamlah… aku sedang serius…

Author: oke… *thumb up*

" Tuan Lu Bu… tolong berhenti sebentar…" ucap Xian Li begitu sampai di dekat Lu Bu.

" siapa kau? Beraninya kau menghentikanku…" ucap Lu Bu melihat kearah Xian Li dengan tatapan yang tajam, ia melihat Diao Chan yang tengah pingsan berada di pangkuan Xian Li. " apa yang kau lakukan pada Diao Chan?" ujarnya marah.

" saya Xian Li dari Wu… saya datang untuk menyerahkan nona Diao Chan…" ucap Xian Li.

" woi pemuda dari Wu… apa yang kau pikirkan dengan keberadaan Diao Chan sebagai Sandera kita bisa membuat Dong Zhuo menyerah…" ujar Huang Gai yang merasa tak suka dengan apa yang Xian Li lakukan.

" tuan Huang Gai… apa anda tau bagaimana sifat Dong Zhuo? Dia bukanlah orang yang mau menyerahkan kekuasaanya demi seorang dayang seperti nona Diao Chan, kalau dia mau dia akan menghadapi kita dengan kekuatannya sendiri bukan dengan minta bantuan pada tuan Lu Bu, sebaiknya tuan menolong tuan Liu Bei serahkan tuan Lu Bu pada saya…" ucap Xian Li.

" apa yang bisa kau perbuat… jangan sombong… bahkan aku kesusahan menghadapi Lu Bu…" ucap Huang Gai.

" saya punya rencana tuan… silahkan tuan maju…" ucap Xian Li, mendengar ucapan Xian Li entah kenapa Huang gai merasa percaya dam beranjak dari tempat itu.

Author: iya yah semua yang bicara dengan Xian Li merasa percaya padanya…

Asthor: lho? Bukannya kamu yang membuat karakternya yah?

Author: aku aja bingung… sudahlah… kita balik lagi…

" tuan Lu Bu silahkan anda mengambil nona Diao Chan…" ujar Xian Li.

" huh…" ucap Lu Bu yang mendekati Xian Li lalu mengambil Diao Chan dari pangkuan Xian Li.

" apa maumu? Apa kau pikir dengan menyerahkan Diao Chan padaku aku akan berhenti menghentikan kalian membunuh Dong Zhuo? Tak akan…" ujar Lu Bu serius.

" tidak saya tidak mengharapkan pertukaran yang sepele seperti itu…" ucap Xian Li.

" lalu apa yang ingin kau ingin kan? Tahta? Harta?" ucap Lu Bu heran.

" bukan… saya sudah senang dengan keadaan saya di Wu… permintaan saya mudah… cukup bertarung dengan saya hingga saya mati…" ucap Xian Li mantap.

" hahahha… tak pernah aku temui orang sepertimu… hahaha tapi permintaanmu itu mudah bagiku…" ucap Lu Bu.

" baiklah tuan ayo kita mulai…" ucap Xian Li.

" maaf Ce sepertinya aku tak bisa kembali… terima kasih sudah mempercayai aku…" ucap Xian Li dalam hatnya.

Lalu pertarungan Lu Bu dan Xian Li dimulai… mereka bertarung cukup lama, tapi pertarungan itu nampak sekali berat sebelah. Lu Bu sangat mendominasi pertarungan itu. Pertarungan itu hampir berakhir begitu mereka sampai di sebuah tebing.

" huh… bagaimana? Apa kau tetap ingin mati?" ucap Lu Bu menghunuskan pedang berbentuk shurikennya pada Xian Li.

" ya… saya siap mati… karena saya sudah berhasil menarik anda sampai sini… walaupun anda kembali ke tempat Dong Zhuo saya yakin Dong Zhuo sudah mati…" ucap Xian Li tersenyum.

" hahahaha… kau pikir aku tidak tau rencanamu? Dari awal aku memang tak berminat untuk menyelamatkan Dong Zhuo aku hanya ingin bertempur dengan orang kuat…" ucap Lu Bu terbahak.

" begitu… terima kasih secara tak lansung, ucapan anda telah memuji dan menganggap saya sebagai orang yang kuat…" ucap Xian Li denan hormat.

" hahaha… ya aku mengakuimu… tapi kau belum cukup kuat untuk melawanku… dan aku akan memenuhi keinginanmu terlebih dahulu yang ingin berperang denganku hingga mati… selamat tinggal…" ucap Lu Bu menendang Xian Li hingga ia jatuh ke jurang dan Xian Li hanya tersenyum. " semoga kau selamat dan datang lagi padaku anak muda… aku sudah lama menunggu kedatangan orang kuat sepertimu…" ucap Lu Bu lalu ia beranjak dari jurang itu dan berangkat menuju kerajaannya.


Beberapa hari kemudian nampak seorang gadis yang berambut hitam panjang yang tengah membaca buku di bawah sebuah pohon dan seorang gadis berambut cokelat serta seorang pria paruh baya yang tengah bersenda gurau di dekat sungai…

" ayah lihat ada orang mati…" ucap gadis berambut cokelat menunjuk kearah Xian Li yang hanyut hingga Jian Ye.

" hah…!?" ucap seorang pria paruh baya segera mendekati Xian Li yang hanyut dan mengangkatnya ke daratan.

" dia tidak mati adik… dia hanya pingsan…" ucap gadis berambut hitam, ia berhenti membaca dan merasa aneh melihat pria yang diselamatkan ayahnya.

" bagaimana kakak tau…" ucap gadis berambut cokelat.

" lihatlah… dia tidak pucat… walaupun sedikit dadanya nampak bergerak naik turun…" ujara gadis berambut hitam.

" sudahlah, kita bawa dia kerumah dulu…" ucap pria paruh baya itu.

Lalu mereka membawa Xian Li kerumah meraka dan memanggil seorang dokter. Lalu dokter menyebutkan nyawa Xian Li tidak dalam keadaan bahaya hanya beberapa luka akibat sabetan pedang dan beberapa patah tulang iga, namun ia akan pingsan selama beberapa hari jadi mereka tak perlu cemas.


~TBC~

Asthor: oke... makasih dah baca... maaf sedikit panjang soalnya kata Author dia buru-buru mau nunjukin Pairnya yang gak begitu amat...

Author: woi... kau sudah kelewatan... 2 bulan aku mikirin buat ngebikin Pair ini... kau bilang gak segitu amat... SHIINE... *bacok Asthor*

Asthor: ukh... *pale*

Author: dasar... Asthor sialan... oke minna-san tachi... makasaih dah baca... mohon reviewnya... :)