^^Bad Marriage^^

Chapter 2 : Ini pernikahan bodoh!

Main Pair : ChanBaek

Other Pair : Seiring berjalannya cerita

Genre : Romance and Humor

Rated : T

Dicslaimer : FF ini asli milik saya

Summary : Park Chanyeol yang mengaku normal harus menikah karena perjodohan gila orang tuanya. Ia di jodohkan dengan Byun Baekhyun, si namja cantik yang sedikit berandalan sekaligus teman sekelasnya. bagaimana kehidupan setelah mereka menikah? ternyata, ada satu rahasia yang tak pernah diketahui Baekhyun tentang dirinya sendiri. apakah itu?

Warning : GaJe, Shounen-ai, Typos, Bahasa Menyesuaikan, EYD berantakan.

.

.

.

^^BerryKyu^^

.

.

.

Presents

.

.

.

^^BerryKyu^^

"Pernikahan bodoh…"

10.15 PM

"Kau tidur di sofa!" Kata Baekhyun seenak jidatnya. Chanyeol memelototinya, namun lelaki cantik itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya.

Chanyeol menyentil dahi Baekhyun dengan penuh perasaan membuat sang empu mengaduh sakit.

"WAE?!" Teriak Baekhyun tak terima. Ia mencondongkan wajahnya ke depan seraya berkacak pinggang, menantang Chanyeol.

"Ini adalah rumahku! Jadi kau yang harus tidur di sofa!" Cetus Chanyeol yang juga menantangnya. Baekhyun tertawa tak enak. Orang kaya memang suka seenaknya.

"Ya sudah, kita tidur seranjang saja"

BRUGH

Baekhyun menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Chanyeol memandangnya cengo.

WHAT THE...

Hei! Dengan santainya ia bilang seranjang? SERANJANG?!

Chanyeol berfikir, mencari alasan agar lelaki cantik itu tidak mau tidur satu ranjang dengannya. Kemudian, setelah mendapat suatu ide yang -menurutnya- cemerlang, ia menyeringai tipis.

"Oke, baiklah!" Chanyeol berbaring di samping Baekhyun. Salah satu tangan besarnya merayap di perut Baekhyun.

Semburat merah tomat terpampang jelas di wajahnya. Namun, untung saja pencahayaan di sana temaram, jadi Chanyeol tidak bisa melihat rona merah itu.

"Yak! Lepaskan aku!" Baekhyun meronta. Bukannya melepaskan pelukan mautnya, Chanyeol malah semakin mengeratkannya.

"Yakh! Akuh tidak bisa ahh bernafas"

Chanyeol membalikan tubuh Baekhyun supaya berhadapan dengannya. Lalu, ia membenamkan kepala Baekhyun di dada bidangnya, tangannya masih sibuk bertengger di pinggang ramping Baekhyun, sedangkan kakinya sibuk mengunci pergerakan kaki Baekhyun.

"Kau tampak sangat cantik, Baekhyun sayang" bisik Chanyeol seduktif tepat di depan telinganya, lalu meniup daun telinga Baekhyun.

Baekhyun kembali merasakan bulu tengkuknya berdiri sempurna. Ia meronta-ronta, mencoba melepaskan diri dari Chanyeol.

"Sialan kau, lepaskan aku!" Umpat Baekhyun kelewat kesal.

"Shhhh... Cara berbicaramu kasar sekali, sayang" Keluh Chanyeol dengan nada yang di buat semanis mungkin.

"Yak! Park Chanyeol, lepaskan aku! Tidur sana di sofa!" Usir Baekhyun kasar. Namun, lelaki tampan itu masih tetap mempertahankan posisinya.

"Ah, kau yang menginginkan kita untuk seranjang, 'kan? Sudahlah, cepat tidur!" Ujar Chanyeol lembut dan semakin mengeratkan pelukannya.

Baekhyun tidak tahu warna apa yang terlihat di pipinya. Mungkin kah warna merah muda itu sudah berubah menjadi warna merah pekat atau apa, yang jelas ia hanya tahu pipinya semakin bertambah panas seiring detak jantungnya.

Seseorang bisa menamparnya untuk menyadarkannya? Asal kalian menamparnya dengan lembut saja.

Chanyeol menunggu kembali reaksi dari Baekhyun. Sebentar lagi Baekhyun akan tidur di sofa dan dia tidur di ranjang akibat perlakuannya itu. Namun, setelah sekian lama menunggu, ia hanya mendengar dengkuran halus dari mulut cerewet itu.

"Astagah, bukannya awalnya aku ingin membuatnya tidak betah? Nah loh, kenapa jadi dia yang keenakan tertidur? Ah molla!"

Chanyeol menggerutu sepanjang malam, ia tidak bisa memindahkan tubuh yang sedang ia peluk ini, walaupun sekedar melepaskan tangan yang menjadi bantal Baekhyun dengan alasan yang tidak di masuk akal -menurut otaknya-.

Ia melihat wajah cantik itu tengah tertidur pulas, hazel caramel indah berbentuk seperti bulan sabit itu tertutup rapat. Bibir tipis itu mengeluarkan dengkuran halus, mau tidak mau Chanyeol tersenyum melihat wajah cantik yang tampaknya sangat polos itu.

PLAK

Chanyeol menampar pipinya dengan keras, ia meringis kesakitan di buatnya. Biarlah untuk kali ini ia memenangkan suara batinnya dari pada suara pikiran logisnya.

Ia terlalu lelah untuk kembali berfikir. Lagi pula, esok ia harus kembali sekolah. Dan ia tidak mau terlambat karena hal sepele seperti ini.

^^BerryKyu^^

6.30 AM

Baekhyun mengerinyitkan dahinya saat mentari pagi mengenai wajahnya. Ia mendengar bising dering alarm ponselnya, tangan lentiknya meraba-raba meja nakas dengan susah payah karena sebuah tangan besar tengah memeluknya.

Tunggu!

Tangan?

Mata bak bulan sabit itu membulat besar saat menemukan Chanyeol masih tertidur sambil memeluknya. Dengan kesadaran yang masih setengah, ia menendang tubuh Chanyeol kuat.

BRUGH

"ARGHHHH!"

"Hehehe Sorry, kaki ku terpeleset..."

^^BerryKyu^^

06.45 AM

"Yak! Berhentilah, mulut cerewet! Kau membuat telingaku sakit dengan omelan tak jelasmu itu!" Tandas Chanyeol yang tengah berkonsentrasi dengan jalanan di depannya.

"Apa kau bilang?! Gara gara kau, kita akan terlambat!" Tudingnya tak terima. Chanyeol mendengus kesal mendengarkan tudingan sang calon istri.

"Diamlah! Kita masih memiliki sepuluh menit untuk sampai di sekolah!" Ucap Chanyeol dingin dan datar. Awalnya, nyali untuk kembali mengomeli Chanyeol menciut, namun setelah itu ia kembali mengomeli Chanyeol.

Untung saja ayahnya tadi sudah mengembalikan seluruh fasilitasnya, dan Luhan sudah kembali mengambil mobilnya kemarin.

Sepanjang perjalanan, Chanyeol menulikan pendengarannya. Dari pada, telinganya terkena infeksi karena omelan Baekhyun yang tidak ada batasnya itu.

^^BerryKyu^^

Dan disinilah pasangan terfenomenal kita, di temani dengan rak-rak besar yang bersusunkan buku-buku tebal.

Hanya karena mereka terlambat selama 10 detik, mereka mendapat hukuman dari Kim Seonsaengnim yang terkenal dengan kedisiplinannya.

"Kenapa memandangku seperti itu? Mau menyalahkanku lagi?" Tebak Chanyeol, ia mendapati si preman cantik itu tengah menatapnya -yang sedang kembali menyusun buku yang berantakan di meja- dengan tatapan kesalnya.

Baekhyun yang ketangkap basah hanya bersungut-sungut. Ia kembali mengemasi buku-buku yang berantakan di atas meja baca itu.

Entah mengapa perpustakaan jadi sepi seperti ini, penjaga perpustakaan juga kemana? Ah, memikirkan hanya mereka berdua disini membuat pipi Baekhyun kembali merona merah. Tanpa ia ketahui, Chanyeol tersenyum tipis di sela pekerjaannya menyusun buku-buku yang menurutnya sangat nista itu.

PLAK

Chanyeol menampar pipinya kembali, senyuman yang tadi sempat bertengger manis pun hilang sudah. Baekhyun mengerinyitkan dahinya bingung.

"Dasar orang gila!" Gumamnya mengatai Chanyeol.

"Kau bilang apa tadi?" Tanya Chanyeol merasa Baekhyun mengatakan sesuatu.

"T-tidak" Jawab Baekhyun dengan terbata-bata. Ah, bahkan ia terlihat seperti wanita yang sedang kasmaran.

"Ya sudah" Tanggap Chanyeol acuh, lalu kembali ke pekerjaan masing-masing.

Suasana tiba-tiba saja berubah menjadi canggung. Jam besar yang terletak di ujung perpustakaan berdenting pelan. Namun, jam dinding itu masih kalah cepat dari ritme bunyi jantung mereka. Mereka hanya membiarkan jantung mereka bergerak semaunya.

'Jantungku berdetak cepat begini. Jangan-jangan aku menyukai... Byun Baek Hyun?'

'Kata orang, jika kau merasakan jantung mu seolah-olah berdetak cepat, saking cepatnya kau merasa jika jantung itu akan keluar dari rongganya ketika kau bersama orang yang kau sukai. Jadi, aku menyukai... Park Chanyeol?'

Mata mereka membesar, tak percaya dengan apa yang batin mereka katakan. Wah! Sepertinya ada benih-benih cinta disini

^^BerryKyu^^

"Ahh~ akhirnya selesai juga!" Seru Baekhyun seraya mengulet, merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.

Yah, ia baru saja menyelesaikan hukumannya. Sedangkan, Chanyeol sudah sedari tadi selesai dan ia sekarang tengah duduk di kursi yang di sediakan untuk membaca. Baekhyun pun tidak mengerti, mengapa Chanyeol duduk di sana, kenapa tidak kembali ke kelas?

Apa Chanyeol tengah menunggunya? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Untuk apa Chanyeol menunggunya.

Hei! Apa dia tidak salah lihat? Chanyeol sekarang berjalan menghampirinya! Apa lelaki tampan pemilik tubuh tinggi bak tiang listrik itu salah minum obat atau apa?

"Apa kau sudah selesai?" Tanyanya dengan nada yang terdengar er... perduli?

"Hmm.. Ne, aku sudah selesai" Jawab Baekhyun malu-malu. Ia merutuki rona merah yang terus saja muncul di pipinya itu. Baekhyun memalingkan wajahnya, takut Chanyeol mengetahui rona merah itu tengah menggerogoti pipinya dengan seenak jidatnya.

"Ayo, kita kembali ke kelas" Ajak Chanyeol dengan senyuman di bibirnya. Ah, Baekhyun tidak tahu harus mengatakan apa. Yangbjelas, Chanyeol terlihat sangat tampan jika tersenyum seperti itu.

Owh~ kemana jiwa premanmu, cantik?

Dan, akhirnya suara pikiran logisnya pun berbicara. Rona merah itu seketika hilang dari pipi chubbynya. Tapi, tadi kata pikiran logisnya apa? Cantik? Sepertinya ia memang benar-benar gila sekarang.

"Pergi saja sendiri. Aku duluan" Baekhyun langsung pergi dari sana, meninggalkan Chanyeol yang menatapnya bingung.

"Eh? Kenapa aku mengajaknya yah?" Tanyanya entah kepada siapa. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung sendiri dengan apa yang baru saja ia lakukan.

Lalu, ia menyusul Baekhyun yang sudah dahulu meninggalkannya ke kelas.

^^BerryKyu^^

Teng~

Suara lonceng pulang telah terdengar di EXO High School, para pelajar di sana mulai berhambur keluar. Membuat sesak area koridor panjang sekolah.

Sedangkan, Baekhyun masih di dalam kelas sendiri ah tidak sendiri juga, disana juga ada Chanyeol yang menemaninya. Ia tidak mau berdesakan di antara para siswa yang memenuhi koridor, ia mengeluh saat bau keringat dari siswa-siswa itu masuk ke hidung mungilnya.

Dan, Tentu saja, ia tidak mau di tinggal pergi dan harus menggunakan bus untuk pulang ke rumah barunya.

"Cepatlah, siput! Kau lambat sekali!" Ejek Chanyeol kepada Baekhyun yang masih sibuk mengemasi buku-buku di atas mejanya.

"Diamlah, tiang listrik!" Ucap Baekhyun malas. Ah, mengingat kejadian tadi pagi membuat badannya terasa lemah. Aish! Mengapa ia masih mengingat kejadian pipinya di buat merona habis-habisan oleh Chanyeol.

Oh, tolong lupakan itu!

"Kajja!" Tanpa Baekhyun sadari ia menarik tangan Chanyeol. Chanyeol yang masih bingung dan terkejut hanya menerimanya dan mengikuti langkah Baekhyun di depannya.

Baekhyun mengerinyitkan dahinya, ada yang aneh. Ia melirik tangannya yang menggengam tangan Chanyeol. Mata bak bulan sabit itu mengerejap-rejap imut, mencerna apa yang sedang ia lakukan.

Untung saja, di koridor sudah sepi, jadi tidak ada yang melihat moment langka dari kucing dan tikus yang tak pernah akur ini.

"Kenapa kau memegang tanganku?! Tsk..." Decih Baekhyun segera melepaskan kaitan tangan mereka. Tangan cantik lainnya mengusap tangan yang tadi di genggam oleh Chanyeol dengan usapan angkuhnya.

"Kau menyebalkan, siput sipit!" Geram Chanyeol. Baekhyun berpura-pura terkejut.

"Eoh? Benarkah? Siput sipit? Dari pada kau tiang listrik jelek dan karatan! Mehrong~" Baekhyun segera lari, Chanyeol mengejarnya dengan cepat tidak membiarkan si preman cantik itu lepas.

"Yak! Siput! Kembali kau!"

^^BerryKyu^^

07.30 PM

"Cepatlah. Perutku sudah berbunyi" Ujar Chanyeol tidak sabaran. Baekhyun hanya mendengus kecil seraya mengangkat soup yang berada di mangkuk besar itu ke meja makan.

"Dasar tak sabaran!" Gumam Baekhyun, namun bisa di dengar Chanyeol. Chanyeol terkekeh, yah dia memang orangnya tidak sabaran.

"Selamat makan~" Seru Baekhyun dengan senyum yang terkembang di bibirnya. Mereka segera melahap habis makanan yang penuh di meja makan itu.

"Kau ternyata pandai memasak?" Baekhyun mengangguk sebagai jawabannya, karena di mulutnya masih penuh dengan nasi.

"Aku kira kau hah hanya siput malas yang hanya bisa tidur dan makan saja"

UHUK

Hujan nasi tampak terjadi pada Baekhyun. Chanyeol membulatkan matanya, ia segera mengambil air putih dan memberikan air tersebut kepada Baekhyun.

"Gwaenchana?!" Tanya Chanyeol memastikan. Lihatlah, wajahnya terlihat sangat khawatir. Seberapa khawatirnya kau padanya?

Baekhyun menganggukan kepalanya, masih dalam mode batuk-batuknya. Tiba-tiba saja, sekelebat ide ingin mengerjai Chanyeol muncul di otaknya.

"Uhuk! Akhh Chanyeol uhuk aku tidak bisa bernapas uhuk!" Chanyeol menyangga kepala Baekhyun dengan lengan kanannya. Sungguh, baru kali ini Chanyeol merasakan kekhawatiran yang berlebihan seperti ini.

"Baekhyun-ah! Yak! Jangan bercanda!" Chanyeol memekik ketakutan. Sedangkan, Baekhyun tertawa dalam hatinya.

"C-Chanyeol-ah! Aku akh..." Baekhyun berpura-pura pingsan. Ah, tidak kah kau tahu bahwa lelaki tampan yang menyangga kepalamu dengan lengannya itu tengah khawatir berat padamu?

Chanyeol memencet ujung hidung Baekhyun. Dan segera memberikan nafas buatan untuk Baekhyun. Terlihat, lebai sekali permisah.

Tunggu!

Nafas buatan?

NAFAS BUATAN?!

Berarti...

Mata Baekhyun seketika terbuka, membulat besar saat bibir mereka saling bertabrakan.

'HUWAAAAA CIUMAN PERTAMAKU!'

Chanyeol menarik wajahnya saat melihat mata Baekhyun yang membulat besar.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Chanyeol memastikan, masih terdapat nada kekhawatiran di sana.

"Kau..." Baekhyun mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah tampan Chanyeol.

"... Berani menciumku?" Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ah, Baekhyun pasti sangat terkejut dengan 'aksi spontan' nya tadi.

"Maaf, itu juga untuk menyelamatkanmu" Chanyeol berdalih. Kesadaran Baekhyun belum sepenuhnya kembali, mata itu mengerejap-rejap imut.

Baekhyun menyentuh bibirnya yang terasa basah. Chanyeol menciumnya sampai basah? Yang benar saja?! Lelaki tinggi itu memang minta di hajar olehnya!

Tapi, pipi Baekhyun malah memerah sempurna, dia tidak marah, tapi, salahkan jantungnya yang terlalu cepat memompa darahnya hingga membuat rona merah di pipi chubbynya.

"Aishhh! Aku bisa gila!" Rutuk Baekhyun meringis sendiri. Chanyeol masih berada di tempatnya, kepala Baekhyun masih bertengger manis di lengannya.

Baekhyun mengerinyitkan dahinya, merasakan bahwa posisinya sangat aneh sekarang. Ia mendongak, dan pandangan mata mereka saling bertemu.

ingin rasanya, Baekhyun langsung saja bangkit lalu menghajar wajah tampan itu. Tapi, saat ini ia pergerakannya benar-benar terkunci hanya dengan menatap onyx kelam itu.

Chanyeol pun merasakan hal yang sama. Entah, dapat keberanian dari mana tangannya sekarang telah bermain-main di pipi chubby itu. Tidak ada penolakan dari sang empu, ia tampaknya juga menikmati sentuhan yangi berikan oleh Chanyeol.

Wajah Chanyeol mendekat ke wajah Baekhyun. Baekhyun perlahan mengikuti alur, menutup matanya, menunggu bibir mereka saling bertabrakan.

"EHEM!" Sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka. Seakan sadar dengan apa yang sudah mereka lakukan, Chanyeol segera bangkit, membuat Baekhyun yang belum siap, terjungkal ke belakang karena 'bantalan' kepalanya itu langsung melepaskannya tanpa memberitahu.

"Ayah! Ibu! Sejak kapan kalian disini?!" Tanya Chanyeol terkejut melihat dua paruh baya yang tak lain adalah orang tuanya itu sedang berdiri 5 meter dari tempatnya dan Baekhyun.

"Melihat perkembangan hubungan kalian" Jawab sang ibu dengan santainya. Mereka mndudukan diri di kursi lainnya yang terdapat di meja makan.

"Sejak kapan kalian berdiri di sana?" Kini Baekhyun yang sudah kembali nyawanya bertanya.

"Hm... yah... sejak kau terbatuk-batuk kemudian pingsan, lalu..."

"STOP!" Teriak Chanyeol seraya menutup telinganya dengan kedua tangannya. Ahhh, kalian tahu kan? Dia yang menolak perjodohan ini dan dia juga tampak menikmatinya? Sangat munafik sekali, bukan?

Chanyeol langsung masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Baekhyun bersama kedua orang tuanya.

Baekhyun menatap geram pintu kamar yang di tempati olehnya dan Chanyeol itu.

"Aish! Bocah itu belum berubah juga" Kepala Tuan Park menggeleng-geleng prihatin.

"Ah, ya, Baekhyunnie" Panggil Nyonya Park yang langsung menyadari Baekhyun dari kegeramannya pada Chanyeol.

"Eh? Iya, bi." Baekhyun tersenyum lebar membuat matanya membentuk bulan sabit. Terlihat sangat manis sekali.

"Jangan memanggil kami seperti itu. Panggil saja Ibu dan Ayah" Ucap Nyonya Park lembut. Ia mengelus surai kelam Baekhyun yang sangat lembut itu. Mau tak mau, Baekhyun tersenyum menerima perlakuan lembut orang yang akan menjadi mertuanya ini.

Sudah lama sekali ia tidak menikmati sentuhan lembut dari seorang ibu. Apalagi, saat senyuman lembut dari Nyonya Park menyejukan hatinya yang sempat panas karena ulah dari Chanyeol tadi.

Sudahlah, mengapa alurnya terlihat suram. Mari kita fokus ke Chanyeol dulu.

Lihatlah, ia sedang mondar-mandir di depan lemari kaca-nya. Saat matanya bertemu dengan cermin yang memperlihatkan dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki, ia berhenti di depannya.

"Yak! Kau kenapa?!" Tanya Chanyeol kepada bayangan di depannya yang tak lain adalah bayangannya sendiri.

"Ini juga kenapa?!" Chanyeol memegang dada kirinya yang terasa ingin meledak.

"Kau sepertinya marah pada kami karena tidak dapat melanjutkannya." Sebuah suara dari arah pintu mengejutkannya. Ia menoreh ke asal suara dan menemukan sang ayah tengah menyender pada pintu seraya melipatkan kedua tangannya di dada.

"Ayah! Sejak kapan kau disana?"

^^BerryKyu^^

"Jadi bagaimana sikap Chanyeol kepadamu, Baekhyunnie?" Tanya Nyonya Park dengan lembut.

"Dia sangat baik, Bu." Jawab Baekhyun membalas senyuman tulus dari calon mertuanya itu.

"Kau tidak berbohong, 'kan?" Mata Nyonya Park memicing, mencoba mencari kebohongan di mata jernih Baekhyun. Namun, tidak ada.

"Aku tidak berbohong, Bu. Chanyeol sangat baik padaku. Tadi saja, aku pura-pura pingsan dia sangat khawatir seperti itu." Baekhyun mengingat kejadian lucu tadi. Ia ingin tertawa saat mengingatnya, namun ia ingin juga menangis setelah mengingat kejadian setelah itu.

Ciuman pertamanya...

Di renggut oleh Chanyeol

"Ibu belum pernah melihat Chanyeol se-khawatir seperti itu kepada seseorang selain kami" Baekhyun menatap Nyonya Park bingung. Belum pernah?

"Belum pernah?" Tanya Baekhyun memastikan. Nyonya Park tersenyum, lalu menganggukan kepalanya.

"Kau tahu, 'kan, Baekhyunnie, Chanyeol itu pribadi yang dingin dan jutek?" Baekhyun mengangguk, mengiyakan perkataan Nyonya Park. Memang kenyataannya seperti itu, 'kan?

"Yah, itu salah satu kenapa Ibu menjodohkan kalian?" Alis Baekhyun bertaut bingung. Salah satu? Berarti banyak alasan dari orang tua Chanyeol untuk menjodohkan mereka?

"Salah satu? Tapi, apa hubungannya kepribadian diriku dan Chanyeol?" Nyonya Park mengelus kembali surai kelam nan halus itu. Entah mengapa, ia sangat suka ketika tapak tangannya bertemu dengan surai lembut baekhyun.

"Karena kepribadianmu yang berisik dan ceria dapat membuat Chanyeol sedikit berubah." Benarkah? Si tiang listrik itu berubah karena dia? Perasaan bangga pun menyelimutinya.

Rona merah itu kembali muncul dari pipinya, dan Nyonya Park menyadari akan hal itu. Baekhyun merutuki dirinya yang sudah seperti wanita saja.

"Apa hanya itu alasan klian menjodohkan kami?" Pancing Baekhyun agar Nyonya Park mmberitahunya lebih alasan mereka menjodohkannya dengan Chanyeol.

"Tentu saja tidak!" Jawab Nyonya Park tegas.

"Alasan terbesar kami menikahkan kalian adalah karena kau..." Nyonya Park menggantungkan kalimatnya. Baekhyun memandangnya tak sabaran.

"Karena kau memilikirahim seperti wanita, Baekhyunnie" Baekhyun membulatkan matanya terkejut sekaligus tak percaya. Benarkah? Ia memiliki rahim?

Jemari lentik itu menyentuh perut ratanya. Di dalam sana, nantinya akan ada sebuah kehidupan, Buah cintanya dan... Chanyeol?

'Aishhh! Apanya yang 'Buah Cinta'? Kami saja tidak saling mencintai.' Memikirkan itu membuat Baekhyun muram. Mengapa hatinya sakit saat suara pikiran logisnya berbicara seperti itu. Entahlah, ia juga tidak mengerti.

"Itu alasan terbesar kami, Baekhyunnie" Nyonya Park kembali tersenyum, ia menatap wajah Baekhyun yang ekspresinya berubah-rubah itu.

"Tapi, aku adalah seorang lelaki, Bu. Kenapa tidak dengan perempuan saja?" Tanya Baekhyun lirih, namun masih terdengar oleh Nyonya Park.

"Jika kami menjodohkannya dengan seorang perempuan, kami takut kalau pergaulan Chanyeol semakin rusak. Kau tahu, 'kan? Gadis di Korea ini sangat berbahaya?" Baekhyun mengangguk mengerti. Tanpa ia sadari, Nyonya Park tengah tersenyum penuh arti.

'Itu memang alasan terbesar, Baekhyunnie. Namun, ada lagi alasan yang paling besar'

^^BerryKyu^^

"Kau mencintainya, 'kan?" Tuding sang ayah sembarangan. Chanyeol menatap horror ke arah ayahnya itu. Ayahnya itu memang suka berbicara semena-mena.

"Tidak! Siapa bilang? Menyukainya saja tidak pernah, apalagi mencintainya" Bantah Chanyeol dengan nada suara yang agak di tinghikan membuat ayahnya sedikit berjengit.

"Tsk... Sampai kapan kau terus menghindari perasaanmu sendiri, hah?!" Chanyeol menunduk. Kedua tangannya menggenggam erat pagar pembatas.

Sekedar info, saat ini mereka tengah menikmati angin malam di balkon kamar yang di tempati Chanyeol dan Baekhyun.

Chanyeol bingung dengan perasaannya, dia tidak tahu perasaan apa yang muncul ini? Apakah cinta? Suka? Atau kasihan?

"Sebentar lagi kalian akan menikah. Seharusnya kalian sudah dapat menentukan perasaan kalian sendiri." Ucap sang ayah tegas. Ayahnya ini bukannya mencari solusi, malah menceramahinya.

Tapi, Solusi untuk apa? Ah~ dia juga tidak tahu apa yang sedang di pikirannya. Hanya wajah polos Baekhyun yang membayangi pikirannya sedari tadi.

'Ah~ kenapa wajah siput lambat itu yang memenuhi kepalaku?!'

^^BerryKyu^^

Ruang keluarga tiba-tiba saja terasa sunyi, walaupun ada empat nyawa disana. Entah mengapa, Chanyeol dan Baekhyun merasa canggung dengan suasana seperti ini.

"Kami melihat hubungan kalian semakin bagus..." Sang ayah pun mencairkan suasana aneh -menurut ChanBaek- itu. Namun, perkataannya tergantung.

"Jadi, kami dan paman bibi Uri Baekhyunnie sepakat..." Nyonya Park melanjutkannya, tetapi masih menggantung. Chanyeol memutar bola matanya malas.

"Memajukan hari pernikahan kalian..." Chanyeol dan Baekhyun menganggukan kepala mereka bersamaan, tapi tidak berselang lama, anggukan itu di ganti dengan mata yang membelalak tak percaya.

"MWO?!"

"Kami tahu kalian sangat senang, maka-nya kami memajukan hari pernikahan kalian." Ucap Nyonya Park seraya tertawa kecil. Chanyeol menatap horror ke arah ibunya yang seenaknya menyimpulkan reaksinya.

"Jadi, hari pernikahan kalian akan di adakan tiga hari lagi." Ujar Tuan Park merangkul bahu Nyonya Park dengan senyum yang merekah di bibirnya.

"MWO?!" Entahlah, sudah berapa

'MWO' yang mereka keluarkan sejak bersama.

"Tapi, itu terlalu cepat, Bu." Sanggah Baekhyun, Chanyeol menimpalinya dengan anggukan.

"Hahaha tentu saja tidak." Sahut Nyonya Park. Baekhyun memasang wajah nelangsa, Ia tidak bisa membantah orang tua.

"Tapi, Ibu, kami, 'kan..."

"Tidak ada penolakan, Chanyeol-ah!" Peringat sang ayah memotong perkataan Chanyeol. Chanyeol memandang Baekhyun, meminta bantuan dari lelaki cantik itu, namun lelaki cantik itu malah memunduk.

'Oh, Astaga, ini membuatku pusing. Yak! Siput lambat, tolonglah aku!'

^^BerryKyu^^

Chanyeol dan Baekhyun terduduk diam di atas ranjang mereka. Sorot mata mereka menunjukan kekosongan.

"Baekhyun..." Panggil Chanyeol, Baekhyun tidak meresponnya, lelaki cantik itu masih mempertahankan posisinya.

"Kita harus bagaimana?" Tanya Chanyeol dengan nada frustasi. Baekhyun menghela nafas berat.

Setelah memberitahukan hal tadi, Ayah dan Ibu Chanyeol berpamitan kepada mereka untuk pulang. Tiga hari lagi? Bukankah itu terlalu cepat? Para orang tua memang gila -menurut ChanBaek-.

"Kita tidak akan bisa melawan kehendak mereka, Chanyeol" Respon Baekhyun setelah Chanyeol lama menunggu responannya.

"Aku tahu untuk hal itu," Balas Chanyeol semakin muram. Chanyeol menorehkan ke palanya ke samping, Baekhyun pun ikut menorehkan kepalanya. Sehingga, pandangan mata mereka bertemu.

Dengan segera, Baekhyun melarikan wajahnya yang mulai merona. Chanyeol mengerinyitkan dahinya heran. Ada apa dengan si preman cantik itu?

"Yak! Tolong aku mencari solusi!" Bentak Chanyeol dengan suara yang sedang, jadi tidak mengagetkan si preman cantik itu.

"Solusi? Solusi apa?" Tanya Baekhyun yang kembali menorehkan kepalanya ke Chanyeol.

"Solusi agar pernikahan kita di undur" Jawab Chanyeol seraya meremas rambutnya. Kepalanya terasa mau pecah, asal kalian tahu.

"Tetap saja kita akan menikah, Chanyeol!" Balas Baekhyun tidak kalah frustasinya. Ia membaringkan dirinya, sebelum itu ia mengambil selimutnya lalu menyelimuti dirinya hingga ke puncak kepalanya.

"Yak! Jangan tidur dulu! Byun Baekhyun!" Protes Chanyeol. Tidak ada tanggapan dari balik selimut.

"Yak! Park Baekhyun!"

Owh, sepertinya Chanyeol mulai berani yah...

"Jangan merubah margaku seenak telinga lebarmu, Chanyeol!" Geram Baekhyun dari balik selimutnya. Chanyeol yang mendengarnya pun melanjutkan aksi balas dendamnya.

"Oh, Park Baekhyun, ku pikir kau sedang merona di sana kekeke" Kekeh Chanyeol. Tangan besarnya, melingkar di pinggang Baekhyun dari luar selimut. Hidungnya berada di rambut Baekhyun, ia dapat mencium aroma strawberry yang segar.

'Aroma shampoo-nya wanita sekali. Tapi, memabukan... ada apa denganku?'

Baekhyun menyumpahi Chanyeol karena sudah membuat wajahnya merona hebat seperti sekarang ini.

"Park Baekhyun, ayolah istriku sayang~" Goda Chanyeol yang berusaha menyingkap selimut Baekhyun, namun lelaki cantik itu menahan selimutnya.

"Sialan kau, Park Chanyeol!" Umpat Baekhyun menggeram marah. Sedangkan, Chanyeol tertawa keras hingga menggelegar keluar kamar mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Oke, ini FF aneh bin gaje banget yahh... maaf kalau kurang memuaskan yaaahhh... tapi, seenggaknya aku udah update hahaha... maaf kalau pendek lagi yahh hehe... maaf juga kalau membosankan banget ya dan maaf untuk typo yang ada