Well cerita abal-abal dan OOC pastinya datang lagi.. melanjutkan dua chapter sebelumnya.. maap abis hibernasi XD
Jadi, saya selaku pengobrak-abrik cerita minta reviewnya XD mohon kritik dan sarannya untuk newbie yang unyu ini*apa maksudnya?* oke, review yak ^^ bales salam dulu :3
raralhas: Aduh.. maaf abis hibernasi XD * padahal pulsa modem habis :P
wandering man: Hmm... wkwkwk bayangkan itu terjadi.. conan akan mengalami stress dengan kedua istrinya XD
Renesmee: eum.. makasih ^^ nanti saya beratin*eh
well, untuk harga spesial(?) saya usahakan chapter berikutnya bisa lebih cepet ^^
WARNING! banyak Typo ( mungkin)
Disclaimer: detective conan punyanya paman aoyama gosho. saya hanya mengacaukan sedikit XD
Well, lanjut aja yak ^^
Chapter 3
" Hh.. Jadi diri sendiri itu memang menyenangkan!" Shinichi menghempaskan badannya di sofa. Proffesor hanya tersenyum melihat tetangga sekaligus sahabatnya ini sudah kembali ke sosok aslinya. Seorang detektif muda yang berbakat.
" Oh ya, dimana Haibara?" Shinichi berusaha memutar(?) kepalanya untuk mencari sosok wanita dingin itu.
" Oh, dia ada di ruang bawah tanah." Jawab Proffesor.
" Apa? Lusa kita akan menyerang dan dia belum keluar dari 'kamar'nya itu?" Shinichi mengambil gelas dan beranjak ke dapur untuk mengambil segelas air.
" Ya, kudengar dia akan meminnumnya setelah membeli beberapa pakaian." Jawab Proffesor Agasa. Shinichi memutar-mutar gelas ditangannya dan meminum airnya, lalu beranjak menuju ruang bawah tanah.
" Kalau begitu, dia harus mendapatkannya dariku." Ujar shinichi dalam hati. Dia menuruni tangga dan membuka pintu ruang bawah tanah.
" Haibaa..ra?" Shinichi menurunkan intonasinya saat melihat gadis kecil itu tengah tertidur didepan sebuah tape recorder. Dikepalanya bertengger(?) sebuah headphone. Tape recorder itu masih menyala. Tandanya gadis itu tertidur saat mendengarnya. Shinichi tersenyum sekilas dan melepas headphone ditelinga Ai. Lalu menggendong gadis kecil itu dan merebahkannya diatas kasur disudut kamar itu.
" Mungkin nanti saja. Sepertinya dia lelah." Shinichi pun hendak keluar dari ruangan itu saat menyadari bahwa tape recorder itu belum ia matikan. Diapun kembali melangkah mendekati tape recorder itu. Disebelahnya beberapa kaset tergeletak tak beraturan.
"Hmm… sepertinya dia mencari kaset yang ada dalam tape ini. Memang apa sih isinya? " Shinichi mengeluarkan kaset yang ada didalam tape. Ada sebuah tulisan dibagian kiri kaset tersebut.
17-18 (2)
Shinichi segera menyadari bahwa itu adalah kaset-kaset yang dia dan Proffesor temukan saat mencari barang yang disembunyikan akemi -kakak ai- ketika bertamu kerumah teman ayahnya saat dia masih hidup. Ya. Kaset dari elena, ibu Ai. Shinichi tersenyum memandangnya. Kemudian dia memasukkan kaset itu kembali dan memakai headphonenya.
Play
Shinichi mengangkat alisnya karena tak satupun suara yang dia dengar. Tangannya bergerak untuk memencet tombol stop saat sebuah suara mulai terdengar.
" Hei Shiho.. adikku yang keras kepala! Ya.. maaf membuatmu kecewa. Kau pasti berharap suara ibu yang akan kau dengar. Iya kan? Tapi kau malah mendengarkan suara kakakmu yang bawel ini.
Shiho, bagaimana kabarmu? Aku selalu berharap kau akan dilindungi oleh malaikat. Yang tidak akan membiarkanmu tersakiti walau hanya sehelai rambut saja. Entah kenapa aku ingin membuat rekaman ini. Entah kenapa pula saat Gin mengatakan bahwa kau akan dikarantina di special room agar kau focus dalam pembuatan obat itu, aku merasa.. takut. Aku takut tidak bisa melihatmu lagi, Shiho.. aku takut kau tak akan pernah keluar dari ruangan itu. Aku takut tidak bisa melihat senyumanmu lagi.
Shiho, aku ingin kau berhenti melakukan itu. Riset tentang obat terkutuk tidak tahu kenapa aku punya firasat buruk. Dan, aku berjanji kita akan segera keluar dari organisasi ini. Kau terlalu berharga untuk menjalankan tugas kotor ini, Shiho.. dan tentang detektif itu, Shinichi Kudo..-"
" Kudo-kun.." Shinichi yang merasa ada gerakan dibelakangnya sontak melepaskan headphone itu tepat saat Akemi menyebut namanya. Dia menoleh dan menemukan Ai mengerjapkan matanya.
" Apa yang kau lakukan disini?" Ai mengernyitkan matanya.
" Oh? Err.. tidak apa-apa. Aku hanyaa..-"
" Kau… tidak mendengarkannya kan?" Tanya Ai dengan tatapan penuh selidik.
" Eh? Oh.. ini? Tentu saja.. tidak." Jawab Shinichi
" maafkan aku, Haibara." Ujar shinichi dalam hati.
" Baguslah. Jadi, ada apa kudo-kun?" Tanya Ai
" Kau, kenapa tidak meminum penawarnya? Bukankah lusa sudah deadline penyerangan?" Tanya Shinichi. Ai menguap dan menatap Shinichi dengan malas.
" Hmm? Sejak kapan kau peduli?" Jawab Ai dingin.
" Oi..oi.. kau tidak berpikir untuk menyerang dengan sosok Ai Haibara kan?" Tanya Shinichi
" Hmm.. ide yang menarik." Jawab Ai sambil mematikan Computer. Lalu berjalan keluar ruangan.
" Dasar wanita aneh!" Batin Shinichi
" Hei, Haibara! Bisakah kau menemaniku untuk membeli beberapa pakaian?" Pinta Shinichi. Ai yang sudah mengalungkan handuknya menoleh kearah Shinichi.
" Kenapa kau tidak mengajak pacarmu saja?" Tanya Ai
" Mmm.. kurasa, aku akan bertemu dengannya ketika kita selesai menyerang." Jawab Shinichi. Ai tersenyum mengejek.
" Bodoh! Kau belum tentu keluar dari sarang mereka hidup-hidup, detective!"
" Hahaha, aku sudah sering mengatakannya padamu, Haibara.. aku tidak akan mati semudah itu." Shinichi berkata meyakinkan. Ai terdiam mendengar jawaban Shinichi.
" Jadi? Kau mau kan?" Tanya Shinichi.
" Ya.. jangan lupa dompet terbaru yang kemarin diluncurkan oleh Fusae's Brand." Ai melangkah memasuki kamar mandi.
" Dasar! Padahal Lusa kita akan menyerang dan dia masih bisa memikirkan dompet itu." Gerutu Shinichi pelan.
" Tapi… apa ya kira-kira yang akan dikatakan akemi tadi?" Shinichi memainkan dagunya. Mencoba menerka-nerka.
" Nah, bagaimana dengan yang ini?" Tanya Shinichi sambil menunjukkan sebuah dress berwarna hijau muda.
" Hhh.. entahlah. Sudah kubilang kan, lebih baik kau pergi bersama pacarmu itu." Ucap Ai sarkastik. Shinichi hanya memandangnya kesal.
" Setidaknya kau kan tau mana yang cocok untuknya." Ujar Shinichi. Ai memperhatikan Dress itu sekilas. Lalu tersenyum.
" Kau terlalu merepotkan dirimu sendiri Kudo-kun. Kau pilih saja sesukamu. Aku yakin dia akan senang-senang saja memakainya." Ujar Ai. Shinichi tertegun mendengar penuturan Ai.
" Menurutmu begitu?' Tanyanya meyakinkan. Ai mengangguk pelan.
" Hmm.. baiklah kalau begitu. Baju ini manis. Kurasa, Ran akan sangat cocok jika memakainya." Ujar Shinichi.
" Baiklah Haibara, aku akan memilih pakaian untukku. Kau tunggu saja disana. Dan jangan beranjak dari kursi itu." Shinichi menunjuk ruang sebelah yang Nampak dari pintu kacanya. Sebuah Café.
" Sepertinya sekarang ada yang sedang mencoba mengatur seorang gadis kecil ya? Dan sepertinya aku juga harus terpaksa menuruti kemauannya. Baiklah detektif, jangan salahkan aku jika ternyata diruangan itu ada bom dan aku tidak beranjak dari kursiku." Ujar Ai sambil berjalan menuju café. Shinichi melepas kepergiannya dengan pandangan 'Oi..oi..'nya.
" Baiklah, sekarang apa yang akan kau rencanakan?" Tanya Shinichi sambil menyeruput tehnya. Haibara mengangkat sebelah alisnya.
" Rencana? Rencana apa?" Tanyanya tidak faham.
" Tentu saja penyerangan lusa." Jawab Shinichi
" Hmm.. aku tidak melihat kita perlu rencana. Bukankah kita hanya mengikuti instruksi dari FBI?" Jawab Ai. Shinichi menghela nafasnya berat.
" Jadi, kau akan pergi ke tempat itu dengan tubuh kecil ini?" Tanya Shinichi sambil mengacak rambut Ai. Ai hanya menatapnya kesal lalu membetulkan letak(?) rambutnya. Kemudian dia tersenyum mengejek. Melihat senyuman itu, Shinichi menelan ludahnya. Bad News!
" Ow kenapa kau jadi begitu khawatir, Kudo-kun? Sepertinya kau tak sabar melihat diriku dalam wujud remaja. Kau tidak sedang bertengkar dengan pacarmu kan?" Ujar Ai.
" T…tent..Tentu saja tidak!" Jawab Shinichi dengan wajah kesalnya. Tapi mukanya memerah. Ai tersenyum puas melihatnya.
"Hmm… lalu kau akan memberikan hadiah itu setelah penyerangan?" Tanya Ai melihat tas belanjaan disebelah Shinichi.
" Hmm? Tidak.. aku akan mengirimnya kurasa." Jawab Shinichi. Sesaat suasana hening diantara keduanya.
" Bodoh! Bagaimana kau bisa bersikap seperti ini, Kudo." Umpat Ai dalam hati. Dia sungguh tak habis pikir dengan rencana bodoh Shinichi mengenai mengirim hadiah itu. Dia menatap Shinichi dalam.
" Dasar detektif tak peka! Gadis itu mencintaimu, bodoh! Bagaimana bisa kau dengan santainya berkata seperti itu? Apa kau tak pernah membayangkan bagaimana dia akan menangis jika kau ternyata tak selamat nanti! Entah apa yang ada dipikiran orang bodoh sepertimu, Kudo!" Ai menggertakkan giginya untuk menahan umpatannya tumpah.
" Mm? ada apa… Haibara?" Tanya Shinichi. Ai tetap menatapnya dalam. Lalu menghela nafasnya
" Entahlah.. aku tidak tau kau bodoh atau jenius." Jawab Ai. Shinichi menatapnya kesal sambil melemparkan pandangan ' apa maksudnya itu' pada Ai. Ai hanya diam tak menanggapi tatapan Shinichi.
" Hmm? Sebaiknya kita pulang, Kudo-kun. Aku harus memasak untuk Proffesor." Ujar Haibara begitu melihat warna senja mulai menerpa pipinya. Shinichi diam.
" Hei… Kudo-kun?" Ai memiringkan kepalanya. Tetap tak ada respon. Ai menggeleng pelan.
" Wah, sepertinya kaubegitu shock karena taka da mayat yang mengikutimu hari ini, magnet mayat!" Ujar Ai tersenyum mengejek. Mendengar itu, Shinichi segera sadar dan menatap Ai dengan .
" Oh, baiklah… tunggu sebentar aku akan membayar minumannya." Shinichi beranjak sambil sedikit menggerutu.
" Dasar! Dia hanya terlihat waras dihadapan mayat dan kasus." Gumam Ai.
Shinichi POV-
" Huh! Mengganggu saja!" Gumam Shinichi. Tak lama dia terdiam. Kemudian ia menarik garis bibirnya membentuk senyuman.
" Aku tidak tau kenapa. Tapi ternyata dia bisa terlihat manis juga." Ujar Shinichi dalam hati. Pikirannya kembali melayang. Pergi kebeberapa menit yang lalu. Saat moment indah itu terjadi. saat terpaan warna senja itu menerpa wajahnya.. dan rambutnya. Rambut itu.. terlihat memerah. Indah. Shinichi kembali tersenyum mengingatnya. Namun senyum itu lenyap setelah pikirannya memberikan satu opini.
" Apa rambutnya seperti itu karena percobaannya juga?" Shinichi memegang dagunya sembari berpikir. ( tabok shinichi XD)
" Err, tuan. Ini kembalinya." Sebuah teguran dari kasir membuyarkan lamunannya.
" Oh, ya. Terimakasih." Ujar Shinichi. Kemudian dia berbalik dan segera berjalan kearah pintu. Disana, sosok anak kecil berambut coklat itu tengah berdiri sambil mengamati jamnya. Sesekali dia terlihat menguap.
" -_- ternyata memang tidak bisa semanis Ran." Gumam Shinichi
Ai POV
" Oi Haibara." Suara Shinichi terdengar dibelakang saat aku hendak membuka pintu. Aku menoleh dan mendongak.
" Hm?" Jawabku. Dia terdiam
" Baiklah.. kenapa lagi dengan detektif ini? Kenapa dia suka sekali mempermainkan orang?"
" Mm.. tidak.. terimakasih bantuannya. Dan.. selamat malam." Ujarnya sambil tersenyum. Aku mengangkat sebelah alisku.
" Hmm.." Jawabku. Aku membuka pintu dan baru saja akan melangkah masuk ketika suara itu kembali memanggilku.
" Mmm.. Ai.." Terdengar sedikit keraguan. Aku terkejut.
" Oke, kali ini, hatiku sedikit berdesir."
" Ada apa lagi? Dan sejak kapan kau kuizinkan memanggilku dengan..-"
" PUK" Sebuah tas mendarat tepat di kepalaku. Aku mengambilnya dan menemukan Shinichi sedang tersenyum. Aku hanya menatapnya tak mengerti.
" Aku sudah mengambil tasku. Jadi kenapa kau masih 'memukulku' dengan tas lain? Dan menariknya aku tau seleramu seperti apa, kudo-kun." Jawabku sambil menyodorkan tas kertas itu. Shinichi memandangku kesal
" Hei.. sekali-kali kau harus mempunyai tas kertas. Jangan tas bermerk saja yang kau punya. Siapa yang tahu tas seperti ini akan menjadi legenda." Jawabnya asal. Sebenarnya aku ingin sekali tertawa melihatnya kesal untuk kesekian kalinya hari ini. Kurasa, aku memang diciptakan untuk itu. Iyakan, Tuhan?
" Dan, kau akan segera meninggalkan Ai Haibara kan? Jadi apa susahnya membiarkanku memanggil nama depanmu?" Tanya Shinichi.
" Wah… tadi, ingin segera melihatku berubah wujud. Sekarang ingin memanggil nama depanku. Sepertinya ada yang aneh dengan detective bodoh ini." Jawabku. Entahlah.. aku ingin melihat wajah kesal itu.. lebih lama… lebih sering… sampai aku puas.. bukankah sebentar lagi aku tak akan bisa melihatnya?
" Ha..haibara!" Tegurnya masih dengan muka merahnya. Aku tersenyum mengejek. Lalu membuka ta situ dan mengeluarkan isinya. Aku hanya bisa terkejut mengetahui isinya.
" Yah, maaf saja jika tidak sesuai dengan selera fashionmu itu. Anggap saja itu hadiah terakhir dari Conan." Ujarnya sambil memamerkan sederet giginya yang rapi. Aku hanya bisa terdiam memandang baju yang ada ditanganku.
" Baiklah, Ai.. aku pulang. Sampaikan salamku pada Proffesor." Ujarnya. Dia berbalik dan hanya membiarkan mataku menatap punggungnya menjauh. Aku tersenyum.. Hadiah terakhir dari Conan?
" Hei, Conan-kun." Aku memanggilnya. Sedikit berteriak karena saat ini dia sudah diujung pagar. Dia menoleh.
" Terimakasih, Conan-kun." Entah karena apa, otakku berhasil membuat senyuman langkaku ini keluar.
Normal POV-
" Terimakasih, Conan-kun." Ujar Ai tersenyum. Senyum yang berbeda. Jika kemarin kalian melihatnya tersenyum dengan senyum malaikat nerakanya, kali ini dia benar-benar tersenyum seperti malaikat. Terlihat indah dan menyilaukan ( Author agak mabuk XD). Shinichi hanya bisa tercengang dengan pemandangan itu. Itu kedua kalinya dia beruntung bisa menyaksikan senyuman malaikat milik Ai.
" Dan, semoga kau… benar-benar tidak akan mati semudah itu." Senyuman Ai kini berubah menjadi seringaian yang tadi terpesona seketika langsung mengubah cara pandangnya. Namun sejurus kemudian, dia mengeluarkan senyum andalannya.
" Ya. Aku berjanji Ai.. aku tidak akan mati semudah itu." Jawabnya. Ai tertegun mendengarnya.
" Aku juga berharap begitu, Shinichi.."
" Bodoh! Kenapa kau berjanji padaku? Harusnya kau berjanji pada pacarmu." Jawab Ai. Shinichi hanya tersenyum lalu melambaikan tangannya dan segera menghilang dari pandangan Ai.
" Proffesor! Kau bisa membenarkan kacamata ini kan? Kurasa ada yang salah. " Shinichi memasuki rumah professor dan untuk kesekian kalinya… tanpa izin.
"Eh? Kau masih mau pakai kacamata itu? Kau kan bukan conan lagi." Tanya Proffesor.
" Yah.. memang. Tapi aku masih membutuhkan kacamata ini untuk besok. Oh ya… sepatuku sudah jadi belum?" Tanya Shinichi. Proffesor agasa mengangguk.
" Ya.. semua alat-alat conan sudah kumodifikasi. Jadi kau tetap bisa memakainya." Jawab Proffesor sambil membolak-balikkan kacamata 'conan'. Shinichi duduk di sofa dan menyalakan televisinya.
" Oh ya Proffesor, mana Haibara?" Tanya Shinichi. Matanya mencari-cari sosok anak kecil berambut cokelat itu.
" Oh, kurasa dia ada diruangannya." Jawab Proffesor.
" Ruangannya? Hei.. dia masih melakukan penelitian? Penelitian apalagi?" Tanya Shinichi.
" Entahlah. Yang jelas dia masih disana sampai tadi malam. Dan kulihat dikamarnya juga sudah tidak ada tadi pagi. Tapi sudah ada sarapan dimeja." Jawab Proffesor. Shinichi yang sedang memainkan remote tiba-tiba tertegun mendengar penuturan Proffesor.
"Jangan-jangan dia.."
"Proffesor, apa kau sudah melihat ruang bawah tanah?" Tanya Shinichi sedikit panik.
" Eh, err.. belum. Selama ini Ai-chan sangat tidak suka diganggu jadi..-" Shinichi sudah tidak mendengar lagi. Dia berlari menuruni tangga. Menggapai handel satu-satunya pintu.
" Haibara!" nama itu yang langsung diteriakkan saat pintu terbuka. Dan.. dia tak dapat menemukan sosok itu disudut manapun. Dia kembali berlari menaiki tangga.
" Proffesor! Haibara..haibara tidak ada!" ujar Shinichi panik.
" Wah..wah.. aku tersanjung kau mengkhawatirkanku, tuan detektif!" Sebuah suara yang familiar terdengar ditelinga Shinichi. Dia mengangkat kepalanya dan melihat sebuah bayangan didapur. Dia segera melangkah menuju dapur. Disana!
" Ha..Haibara?" Shinichi menatap sosok yang sedang mencuci buah didepannya. Bukan.. itu bukan sosok Haibara yang dikenalnya. itu bukan sosok gadis kecil berambut cokelat. Bukan gadis yang warna rambutnya selalu mempesona disetiap waktu..
" Hei, sampai kapan kau mau berdiri dengan tatapan bodoh itu?" Tanya Ai.
" Ha..Haibara.. kau?" Shinichi masih kehilangan kata-kata. Ai hanya menatapnya malas lalu duduk di sofa sambil mengganti chanel televisi. Shinichi masih disana. Merasa diperhatikan, Ai menoleh kearahnya
" Mau apel?" ujarnya sambil menyodorkan apel ditangannya. Shinichi menggeleng pelan. Gadis itu duduk disana. Rambutnya sedikit lebih panjang dari yang diingat Shinichi. Shinichi yang sudah mulai pulih segera berjalan dan menghempaskan dirinya di sebelah gadis itu. Matanya sesekali mencuri pandang pada gadis disebelahnya. Keadaan yang aneh.
" Jadi, bisakah kau berhenti menatapku seakan aku adalah tersangka kasus pembunuhan, tuan detektif?" Ai yang sudah merasakan hawa tak nyaman sejak 20 menit yang lalu itu akhirnya kesal. Shinichi terlihat kaget lalu kmenggaruk kepalanya.
" Kau.. memakainya!" kata Shinichi sambil tersenyum.
" Apa?" Tanya Ai.
" Hadiah terakhir dari Conan." Jawab Shinichi. Ai hanya mengangkat alisnya dan kembali focus pada televisi didepannya.
" Jadi, darimana saja kau Haibara?" Tanya Shinichi.
" Sejak kapan kau peduli,eh?" Ai balik bertanya.
" Oi.. kan aku yang Tanya duluan.. tidak bisakah kau menjawabnya?" Tuntut Shinichi.
" Aku hanya keluar sebentar." Jawab Ai singkat.
" Kemana?" Tanya Shinichi penuh selidik. Ai menoleh kearahnya
" Bisakah kau tidak ikut campur urusanku?" Jawab Ai dingin.
" Aku kan hanya ta..-" Omongan Shinichi kembali terputus. Handphonenya bergetar.
" Halo? Oh.. kau. Hmm? Eh? Kenapa? Hmm.. ya sudahlah. Sepertinya memang harus begitu. Baiklah.. kuharap tidak ada perubahan lagi." Shinichi mengakhiri percakapannya.
" Sial! Penyerangan besok gagal." Shinichi menggerutu pelan.
" Setidaknya kita akan tetap menyerang kan?" Tanya Ai.
" Ya. Lusa. Hmm.. semoga tidak ada perubahan rencana lagi." Shinichi beranjak dari duduknya.
" Baiklah Proffesor, Haibara.. kurasa aku pulang saja." Ujar Shinichi.
" Hei tunggu!" Cegah Ai. Shinichi menoleh.
" Bisakah kau membantuku?" Tanya Ai. Shinichi menatapnya penasaran.
Ai POV-
" Haibaraaaa… rencana bodoh apa ini?" Shinichi menghentakkan tanganku. Dengan cepat aku meraih tangannya.
" Justru semua rencanamu itu yang bodoh, detektif!" Aku menarik tangannya. Dia menoleh kearahku.
" Kau… baiklah… apa yang salah? Apa yang salah dengan mengungkapkan semuanya sekarang atau tidak sama sekali! Sekali-kali, pekalah pada perasaanmu sendiri! Apa kau masih mau percaya diri bahwa kau tidak akan mati semudah itu? Ayolah Kudo-kun… kau bukan tuhan yang abadi!" Aku menariknya. Shinichi hanya diam.
" Kau.. kenapa kau begitu peduli?" Tanyanya tiba-tiba. Aku terdiam. Terkejut dengan pertanyaan tiba-tibanya.
" Entahlah.. tanyakan saja pada jiwa detektifmu!" Jawabku. Aku mengambil sebuah kotak kecil berisi kalung dengan liontin cincin.
" Kau hanya perlu memberikan ini dan memberitahukan perasaanmu padanya nanti. Setidaknya dia harus tau perasaanmu, Kudo.."
" Ba..bagaimana aku mengatakannya nanti?" Tanya Shinichi gugup. Aku menoleh dan tersenyum geli.
" Dasar Bodoh! Kalau kau benar-benara mencintainya, kau akan tau bagaimana caranya." Ujarku. Matanya mengarah kearah pintu masuk taman. Dilihatnya seorang gadis berambut panjang sedang mengedarkan pandangannya. Mencari seseoraang.
" Baiklah, dia sudah datang. Kurasa aku harus pergi. Dan.. maafkan aku." Aku melangkah menjauh dari Shinichi.
" Hei, kenapa kau minta maaf?" Tanya Shinichi heran. Aku menghentikan langkahku. Sedikit menghela nafas, aku berbalik. Entah bagaimana, aku tersenyum. Benar-benar tulus.
" Kau akan tau sendiri. Oh ya.. aku mencabut janjimu untuk melindungiku.. jadi kau bebas dariku sekarang." Ujarku.
" Tidak.. kita bahkan belum melakukan penyerangan itu. Jadi kau bisa memutuskan kontrak itu setelah kita menang." Jawabnya. Mendengar itu membuatku kembali tersenyum
" Terserah kau saja." Jawabnku.
NORMAL POV-
Dan Sore itu, semua berjalan sesuai rencana Ai. Terlihat jelas bagaimana gadis berambut panjang itu terlihat terkejut dan dengan segera memeluk Shinichi. Terlihat jelas bagaimana Shinichi memakaikan kalung itu.. dan disana, gadis itu tersenyum getir. Memandangi kenyataan yang bertumpu dihadapannya. Tidak.. tidak ada yang terasa berat dihidupnya. Karena hidupnya sendiri sudah terlalu berat.
"Drrttt…drtt.." Getar handphone disaku jaketnya membuyarkan sensasi warna senja yang menyedihkan itu. Sebuah pesan masuk.
" Besok, kita harus berangkat pagi. Kau.. sudah siap? Rencanamu sudah berjalan mulus kan? Aku heran kenapa kau sama bodohnya dengan kakakmu. Tapi aku lega karena itu berarti kau benar-benar adiknya.. adikku, Shiho." Ai tersenyum membacanya.
" Ya. Rencanaku sukses. Tenang saja, aku akan tiba besok. Pastikan Agen Jodie benar-benar tidak membuka rahasia ini pada detektif bodoh itu."- Send. Ai menghela nafas. Mencoba menikmati wajah tenang yang bahagia itu.
" Maaf Shinichi, seharusnya sudah sejak lama kau memiliki senyum itu. Tapi, aku akan membayarnya besok." Gumam Ai sembari berbalik dan pergi.
Chapterr 4
Ai berjalan menyusuri kota beika malam itu. Nampak beberapa tas belanjaan ditangannya. Mulutnya bersenandung kecil. Senyum menyedihkan itu lagi.
" Kakak.. apa mati itu.. sakit?" Gumamnya. Sejenak dia berhenti dan mendongak menatap langit.
" Tidak. Dia tidak akan merasakan sakit." Sebuah suara dingin terdengar ditelinga Ai. Ai menoleh dan menangkap sosok yang sudah tak asing dibelakangnya.
" Wah, sepertinya setelah resign dari organisasi kau jadi punya kekuatan tambahan untuk berbicara dengan makhluk yang sudah mati ya, Rye? Bisa kau ajari aku?" Jawab Ai. Shuichi hanya mendengus kesal mendengar jawaban 'adiknya' itu.
" Dia yang mengatakannya." Ujar Shuichi. Ai menoleh.
" Maksudmu?"
" Dia yang mengatakannya…' mati itu tidak akan menyakitkan jika dengan itu kita akan membuka jalan baru yang membuat masa depan orang yang disayangi baik.' Aku tidak tau apa dia berhasil mati seperti itu." Jawab Shuichi sedikit murung. Ai tertegun sejenak mendengarnya. Lalu melempar tatapan dinginnya.
" Ternyata memang laki-laki sejenis kalian itu aneh dan labil. Baru sedetik lalu kau mengatakan kalau kakakku tidak akan merasakan sakitnya. Itu berarti dia berhasil kan?" Jawab Ai dingin. Shuichi diam.
" Atau kau masih tak menemukannya?" Tanya Ai. Shuichi tersenyum sinis.
" Entahlah. Mungkin saja. Karena Akemi, aku..-"
"Bodoh. Kalau kau menyayangi kakakku, bantu dia untuk berhasil! Berhenti mencintain kakak! Kakakku akan tenang kalau kau begitu." Potong Ai. Shuichi terkejut mendengarnya. Kemudian pikirannya melayang dan menemukan sosok wanita yang amat dicintainya itu. Tersenyum riang seperti biasanya. Namun bayangan itu hilang. Malah sekarang telinganya mendengar beberapa suara.
" Kau masih suka minum kopi kaleng dan tak tidur, Shuu?"
" Setidaknya kau memberitahukan rencanamu padaku, Shuu!"
" Shuu…"
" Shuu sudah kuduga kau masih hidup!"
Shuichi seperti tersadar akan sesuatu. Kemudian dia tersenyum. Matanya melirik kearah gadis 18 tahun yang sedang menatap dingin ke jalan didepannya.
" Hmm.. Baiklah, kurasa kita harus berpisah disini." Ujar Shuichi. Ai mengangguk kecil. Keduanya sudah saling memunggungi saat Ai mendengar Shuichi memanggilnya. Ai menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Menunggu apa yang akan dikatakan 'kakak'nya.
" Dan kusarankan kau tidak akan pergi semudah itu dari hadapan detektif bodohmu itu. Karena kakakmu tak akan menyukainya." Ai tersenyum mendengarnya.
" Tidak akan. Aku tak sepertimu." Jawab Ai membuat Shuichi menoleh kesal. Ai tetap tak menoleh dan melanjutkan perjalanan pulangnya.
" Proffesor, makan malam sudah siap." Ai sedikit berteriak dari ruang makan.
" Ya, Ai-Chan dan malam ini Shinichi akan.." Proffesor menghentikan kata-katanya melihat menu beragam yang muncul dimeja makannya.
" Kau tidak membuat salad Ai-Chan?" Tanya Proffesor heran. Menu yang tertata rapi dimeja itu terlihat sangat lezat. Menu yang tak akan diberikan oleh Ai.
" Hmm? Sepertinya kau lebih menyukai salad. Akan kubuatkan sekarang." Ai melempar tatapan mengejeknya.
" Eh, tidak usah Ai-chan, kau pasti lelah." Proffesor mendorong Ai dan memaksanya untuk duduk di kursi. Ai tersenyum.
" Jadi, kapan Kudo-kun datang?" Tanya Ai.
" Hmm.. tadi dia bilang masih ada dirumah Ran. Mungakin sepuluh menit lagi dia akan tiba disini." Proffesor kini sudah duduk di depannya. Ai menopang dagunya dengan kedua tangannya. Dipandangnya sosok tua namun bersemangat itu. Sosok yang sudah menyelamatkannya. Yang rela menanggung bahaya deminya. Ai tersenyum samar.
" Proffesor.." Ai menggumam pelan. Dia beranjak dari duduknya dan berdiri dibelakang Proffesor Agasa. Kemudian dia mengalungkan tangannya di leher Proffesor agasa. Memeluknya dari belakang. Proffesor Agasa sedikit terkejut. Namun tak lama dia tersenyum… sama menyedihkannya dengan Ai. Seakan dia bisa merasakan dinginnya hidup gadis dibelakangnya.
" Proffesor, besok aku akan pergi.. jangan pernah menungguku untuk pulang ya? Jangan menyiapkan apapun untuk menyambut kedatanganku.. jangan sering-sering makan makanan yang kularang. Dan kuharap kau akan selalu makan salad. Jangan terlalu lelah.." Dan Proffesor menangis mendengarnya. Mendengar 'jangan-jangan' lainnya yang terucap dari mulut Ai.
" dan satu lagi, jangan beritahu Kudo-kun tentang ini." Jawab Ai. Proffesor tersentak.
" Kau akan pergi sendirian? Kau sudah gila?"
" Tidak Proffesor, aku akan bersama agen FBI lainnya. Aku hanya tak ingin melibatkannya terlalu jauh setelah aku berhasil mengembalikannya ke tubuh semula. Dia juga tak berhak ikut. Dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan dariku. Jadi taka da ruginya kan kalau aku ternyata harus mati besok." Jawab Ai.
" Tapi Ai-chan, Shinichi pasti akan marah. Dia selalu marah kalau kau tiba-tiba menghilang." Jawab Proffesor.
"Tentu saja.. karena tanpaku dia tak akan kembali ke tubuh asalnya. Dan sekarang dia sudah mendapatkannya. Jadi, dia tak akan seperti itu lagi." Ai tersenyum.
" Tidak akan Proffesor.. tidak akan." Jawab Ai. Proffesor kembali menangis.
" Ai-chan.. panggil aku ayah." Pinta Proffesor. Ai tertegun mendengarnya. Lalu tersenyum haru.
" Iya, Ayah.." Proffesor tersenyum. Sesaat kemudian terdengar bunyi bell. Ai melepas pelukannya. Proffesor Agasa segera menghapus airmatanya.
" Aku yang akan membuka pintunya." Ujar Ai. Proffesor hanya mengangguk.
" Hai, Haibara." Sapa sosok laki-laki dihadapannya. Ai menatapnya dengan tatapan dingin.
" Dan kusarankan kau tidak akan pergi semudah itu dari hadapan detektif bodohmu itu. Karena kakakmu tak akan menyukainya." Ucapan Shuichi tiba-tiba melintas di kepala Ai. Haibara menunduk sesaat. Membuat Shinichi bingung. Tak lama…
" Masuklah, kami sudah menunggumu." Ucap Ai sambil tersenyum. Shinichi sedikit terkejut melihatnya.
" Wah, kau belajar dari siapa, Haibara? Sepertinya kau sudah berhasil menjadi 'wanita' ya?" Ujar Shinichi. Berniat menggodanya. Ai hanya diam dan menoleh kearah Shinichi sambil memasang senyumnya.
"
