What Is The Meaning Of Love?

Disclaimer Tadatoshi Fujimaki

Enjoy this last chapter~


Dua minggu sudah berlalu sejak kau marahan dengan Ogiwara. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar datimu mau pun Ogiwara. Saat kendo juga seperti itu. Kau juga sudah menceritakan ini kepada Akashi. Tetapi reaksi Akashi hanya tersenyum tipis. Untuk informasi, tinggal dua minggu lagi kau menjalani tantangan ini.

Kemarin ada seleksi untuk lomba kendo. Tentu saja kau dan Ogiwara lolos dari seleksi. Salah Satu peraturan jika lolos seleksi harus selalu datang saat latihan. Jika tidak, bisa didiskualifikasi. Tentu saja kalau dengan izin yang terbukti benar itu tidak berlaku.
Kau menyusuri koridor yang menuju tempat klub kendo. Kau ragu akan datang atau tidak karena sedang bermasalah. Sedangkan kau sangat ingin mengikuti lomba.
Kau berhenti ketika melihat Ogiwara yang baru sampai di koridor ini melewati tangga. Menyadari kehadiranmu yang hanya berjarak 1 meter, Ogiwara berhenti dan menatapmu sebentar.

Kau menundukkan wajah sambil mengatakan, "Shige…"

Kau mempererat tautan kedua telapak tanganmu yang kau lipat. Yang kau sembunyikan di balik tubuhmu.

"Sepertinya… aku… izin dulu untuk hari ini…–"

"Jangan kau sembunyikan!"

Belum selesai mengatakannya, Ogiwara langsung menghampirimu, menyambar pergelangan tangan kananmu, lalu menuju UKS.

Ogiwara menyuruhmu untuk duduk di kasur. Ah, sudah ketahuan soal luka yang ada di kedua telapak tanganmu.

Ogiwara mengambil peralatan sebelum menyuruhmu untuk mencuci luka.

"Memangnya apa yang mereka perbuat padamu?" Tanya Ogiwara yang sedang memerban telapak tangan sebelah kanan dengan tekun.

"Mereka tiba-tiba memojokkanku lalu langsung saja mereka menggores kedua telapak tanganku dengan cutter mereka masing-masing." Ogiwara menghela napas.

"Kenapa tidak kau lawan?"

"He he…"

Mendengar jawabanmu Ogiwara malah jengkel.

"Dasar, bagaimana mau menang kalau tidak berani melawan."

Kau hanya terkekeh.

"Lalu, bagaimana dengan latihannya? Bolos?"

"Iya." Jawab Ogiwara singkat.

"Lalu kalau didiskualifikasi bagaimana?" Tanyamu panik.

"Jangan khawatir. Kau tahu sehebat apa aku dalam kendo, bukan? Mereka tidak akan mendiskualifikasiku. Sekarang yang terpenting…

Ogiwara berdiri setelah selesai memerban kedua tanganmu.

sembuhkan tanganmu itu." Ucap Ogiwara sambil menepuk pelan puncak kepalamu.

Menyadari sesuatu, kau tersenyum.

"Shige."

"Ya?"

"Bukankah saat itu kau bilang untuk tidak saling memedulikan?"

Ogiwara memalingkan wajahnya.

"I… iya." Jawabnya jujur.

"Tapi yang kau lakukan sekarang?" Kau menaikkan sebelah alismu dan berkata seperti orang jail.

"Urusai!" Ogiwara makin memalingkan wajahnya tetapi sekarang dengan sedikit semburat di pipinya.

"Haha. Tidak apa kok. Aku suka Shige yang seperti ini." Kau tersenyum manis.

Mendengar ucapanmu barusan saja sudah membuat Ogiwara tambah memerah, ditambah lagi dengan senyuman manis yang Ogiwara lihat dari ekor matanya.

Aku suka Shige yang seperti ini. Shige saat ia khawatir padaku. Tatapan kekhwatirannya serta sentuhan saat ia mengkhawatirkanku selalu membuatku senang, nyaman, dan… berdebar.

Dan hari ini, kalian dinyatakan sudah baikan. Tentu saja tali persahabatan kalian menyambung lagi.


Dua minggu sudah berlalu. Kelompok kendo Teiko kouko juga dinyatakan menang telak. Berarti sekarang juga hubungan palsumu dengan Akashi juga sudah berakhir. Orang yang dua bulan lalu menembakmu juga sudah merelakannya.

Dan sekarang ini kau sedang pulang dari sekolah bersama Akashi–sebagai teman. Bukan kekasih palsu.

Saat melewati sungai, Akashi berhenti berjalan lalu turun ke tepi sungai melalui tangga. Kau mengikutinya.

"Hei, Akashi-kun." Kau kembali memanggil nama keluarganya.

"Iya?"

"Kenapa… kau bersedia menjadi kekasih palsuku?"

Akashi menduduki tangga tersebut sementara kau tetap berdiri.

Akashi terkekeh pelan.

"Sebelum aku menjawab, aku ingin minta maaf soal penggemarku. Aku hanya ingin menebus kesalahanku." Ucapnya sambil tersenyum.

"Kesalahan apa? Bukankah Akashi-kun tidak pernah barbuat salah padaku? Justru aku yang merepotkan Akashi-kun." Ucapmu keheranan.

Lagi-lagi Akashi kembali terkekeh pelan.

"Bukan padamu. Tetapi pada Ogiwara. Ogiwara Shigehiro. Sahabatmu." Manikmu melebar.

"Eh?"

"Kau tahu kejadian tahun lalu kan? Saat kami dengan sengaja merenggangkan pertahanan dan melakukan gol bunuh diri?" Senyum Akashi kini penuh dengan rasa bersalah.

"Kau yang selalu berada dan bersamanya mengerti apa yang Ogiwara rasakan saat itu, bukan?"

"Hn."

"Maksud menebus kesalahanku adalah aku ingin membuatnya cemburu. Kau menyukai Ogiwara, kan?"

"E-eh?" Semburat merah langsung terhias di pipimu.

"Kau akan senang kalau dia cemburu kan?"

"Ah… ah…"

Dalam diam, Akashi gemas serta sweatdrop sendiri. Dasar, gak peka.

Dan jangan lupa dengan seseorang yang sedari tadi membututi kalian sedang menahan kecemburuannya di balik pohon.

"Begitu… tetapi Shige itu gak peka…"

"Kamu yang gak peka!" Sahut seseorang dari belakang kalian. Yang nyatanya itu adalah Ogiwara Shigehiro.

"Shi… shi… shige!" Kau kelabakan sendiri.

Sudah menganalisis apa yang akan terjadi berikutnya, tanpa disadari kedua orang tersebut, si rambut merah meninggalkan kalian dengan menahan tawa.

"Kamu yang gak peka, [Name]." Sahut Ogiwara lagi sebelum melanjutkan, "Aku suka sama kamu dari dulu. Tetapi kamu aja yang tidak peka!"

"Bu-bukankah Shige… Ah, itu tidak penting. Yang penting aku juga menyukai Shige."

Deg deg Deg deg Deg deg Deg deg

Debaran itu terdengar jelas di antara kalian. Aliran darah semakin banyak menuju ke atas. Membuat wajah masing-masing semakin memerah.

"Jadi… persahabatan kita memang sampai di sini ya." Ucap Ogiwara yang masih kaku.

"I…i…iya."

Dan hari ini kalian dinyatakan sebagai sepasang kekasih. Bukan palsu. Tetapi asli.


Apa yang dimaksud dengan cinta?

Banyak orang yang berpendapat tentang cinta.

Aku juga tidak terlalu mengerti soal cinta.

Tetapi menurutku, cinta terjadi ketika kita merasa nyaman, selalu ingin bersamanya, merasa berdebar, merasa senang hanya dengan melihatnya,

Dan yang pasti cinta itu bukan sesuatu yang dipaksakan.

Jika aku berpacaran dengan laki-laki dua bulan lalu, itu percuma. Aku tidak merasakan apa pun tentang cinta.

Sama juga dengan Akashi-san. Tetapi dengan Shige...

Aku merasakannya. Sesuatu yang disebut dengan cinta.


End


Akhirnya...

Udah jelas kan?

Bye...

Tunggu fic aku yang selanjtnya ya...

Thank you for all readers, likers, follower, reviewers, etc.

Just three words for you

I LOVE YOU.