Higanbana Rin Lidde-2011, presents

How I Made Your Son Pregnant

Pandora Hearts-2006 by Jun Mochizuki

Juno-2007 wrote by Diablo Cody

Humor/Family, semi-M *?*

Warning! MPREG, sho-ai, AU, OOCness, movie-based

.

Semuanya berawal dari sebuah sofa

.

#2: (Awal) Musim Dingin

.

Pandora High School, Musim Dingin.

Anak laki-laki berambut pirang itu berjalan dengan santainya, sementara orang-orang memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebenarnya anak laki-laki itu tahu, apa yang dilihat oleh mereka, tapi dia memilih untuk acuh saja. Sampai—

"Hei, Oz. Apa sehabis ini kau akan menyusui anakmu?" celetuk seorang anak laki-laki yang dilewatinya. Oz tidak menjawab, dia terus berjalan dan hanya mengangkat jari tengah-nya tinggi-tinggi.

.

"Aku tidak habis pikir, apa mereka benar-benar tidak pernah melihat orang hamil?" celoteh Oz di sela praktek Impuls Fisika.

"Yang pasti mereka tidak pernah melihat laki-laki hamil," jawab Alice sambil memainkan bola kasti yang dipakai untuk praktek.

"Tapi kan mereka bisa saja menganggapnya seperti perut buncit atau apa mungkin? Aku juga tidak mau berkeliaran di sekolah dengan perut sebesar ini!"

"Kau tidak menerima ideku, sih" kata Elliot sambil melempar bola kasti kuat-kuat.

Oz menekan stopwatch sambil menuliskan angka, "3,21 detik. Tidak akan! Itu ide yang jauh lebih buruk daripada mengakui kalau aku hamil!" Oz menyerahkan stopwatch-nya ke Alice dan bersiap-siap melempar.

"Hei, Oz! Bola yang mana yang kau lempar? Jangan-jangan kau melempar perutmu sendiri nanti!"

"Berisik!" bentak Oz sambil melempar bola kasti di tangannya kuat-kuat. Ironisnya, bola itu melayang tepat di depan muka anak yang menggodanya tadi. Sukses membuat anak itu kencing di celana dengan tragisnya.

"2,21" Alice menghetikan stopwatch.

.

Jam makan siang.

"Jadi, apa kalian berdua sudah menemukan orang tua asuh untuk anak itu?" kata Alice sambil menunjuk-nunjuk perut Oz dengan garpu.

Elliot menganggkat bahunya, "Berikan saja pada tetanggaku yang janda itu. Dia ditinggal suaminya karena tidak bisa punya anak,"

"Kenapa?" tanya Alice.

"Alat kelaminnya dipotong,"

"Kau mau memberikan anak ini pada seorang waria?" Oz membelak tidak percaya sambil menunjuk-nunjuk perutnya.

"Aku kan cuma memberikan saran!" Elliot membela diri.

"Bagaimana kalau kita cari di koran saja?" usul Alice.

"Setahuku di koran itu biasanya berisi iklan dari orang kaya yang mencari pembantu," kata Oz.

"Ayolah, ini negara bebas. Mencari anak lewat iklan koran itu bukan hal yang aneh,"

"Hm…" Oz nampak berfikir sejenak, lalu ia menoleh ke arah Elliot, Elliot mengangkat bahu dan menoleh ke arah belakang dan berterak, "Mi goreng-nya satu lagi, bu!"

"Elliot!" bentak Alice dan Oz bersamaan.

.

"Kita mencari koran di toko buku? Tepatnya toko buku yang ada di mall?" Oz menatap Alice dengan tatapan tidak percaya. Ini lebih buruk daripada berkeliaran di sekolah dalam keadaan hamil.

Alice menyeringai dengan tampang tidak berdosa, "Maksudku, setelah dari toko buku kita bisa singgah makan dulu,"

"Alice, kau baru saja makan dua porsi yakiniku sebelum kita kemari!" kata Oz.

"Percuma saja, di restoran fast food lantai lima ada menu daging baru," kata Elliot.

"Tapi masa aku harus berjalan keliling mall dengan perut seperti ini?" protes Oz.

Elliot dan Alice nampak berfikir sejenak, lalu keduanya saling bertatapan. Lalu, Elliot pun mendapatkan ide yang dianggapnya cemerlang

"Ah, aku punya ide! Kalian berdua tunggu disini sebentar,"

Dan lima menit kemudian, Elliot kembali sambil membawakan sebuah jepit rambut dengan hiasan berbentuk mahkota.

"Pakai ini," kata Elliot sambil menyodorkan jepit rambut itu pada Oz.

"Hah?" meski sebenarnya tidak mau dan tidak mengerti, Oz memasang jepit rambut itu di kepalanya. "Lalu?"

"Nah, Alice. Bagaimana menurutmu?" tanya Elliot.

"Hm…" Alice mengamati Oz dari bawah ke atas. "Ya, penyamaran sempurna. " Alice melakukan tos dengan Elliot.

"… hanya itu?"

.

Mereka bertiga lalu sampai toko buku. Begitu masuk, Oz langsung pergi ke deretan 'new release', mencari-cari kalau novel favortinya sudah ada atau belum. Sementara Elliot dan Alice mengambil koran. Mereka berdua lalu berjalan menuju kasir untuk membayar. Namun, terjadilah pertemuan tidak terduga.

"Gil?" panggil Elliot pada si kasir. Seorang pria berambut hitam dan bermata emas. Yang dipanggil langsung menoleh dan terkejut melihat Elliot.

"Hah? Sedang apa kau disini?" pria tinggi berambut hitam itu setengah berteriak saat melihat Elliot.

"Aku yang seharusnya bertanya, Gilbert!" balas Elliot.

"Kalian berdua saling kenal?" tanya Alice.

"Iya, ini kakakku. Setengah tahun yang lalu dia bilang dia mau pergi dari rumah dan membangun karirnya," Elliot mendelik ke arah Gilbert.

"Elliot, kehidupan orang dewasa itu tidak semudah yang kau pikirkan," ujar Gilbert dengan nada melankolis.

"Kalau begitu kenapa tidak pulang saja dan menikah? Cari pekerjaan lain!" kata Elliot.

"Mana bisa aku pulang? Image cool yang kubangun bisa runtuh!" tolak Gilbert.

"Memang karir yang ingin anda bangun itu apa?" tanya Alice. Gilbert tidak langsung menjawab, mukanya memerah, dia salah tingkah.

"Itu… Sebenarnya aku…"

"Dia ingin jadi—"

"Itu tidak penting! Tidak usah dibahas!" Gilbert dengan cepat langsung membekap mulut Elliot, dan dibalas Elliot dengn gigitan keras yang jauh lebih menyakitkan daripada digigit vampir.

Alice diam, menatap dengan tatapan heran sambil mengerutkan keningnya. "Aaa… Kalian akur, ya?"

"Akur darimana? Kau tidak lihat gigi taringnya runcing begitu? Mana bisa aku akur dengan orang yang seperti ini!" protes Gilbert sambil mengelus tangannya yang digigit. "Nah, kembali ke masalah awal, sedang apa kau disini, Elli?"

"Beli koran," jawab Elliot singkat.

"Sok sekali kau membeli koran di toko buku," balas Gilbert.

"Berisik," Elliot menyerahkan koran tersebut pada Gilbert.

Setelah melakukan transaksi dan membayar koran, Oz pun datang sambil membawa satu buah novel tebal.

"Wooho! Holy Knight edisi terbaru! Kalau sudah selesai baca, aku pinjam," kata Elliot sambil menepuk pundak Oz.

"Tidak bermodal," sindir Gilbert.

"Kasir diam saja ya!" balas Elliot.

Gilbert acuh, dan pura-pura tidak mendengar. Saat menyerahkan novel tersebut kembali pada Oz, mau tidak mau Gilbert melihat besarnya perut anak itu. Gilbert diam, tidak tahu harus bicara apa. Melihat suasana seperti ini, Alice jadi punya ide jahil.

"Perempuan itu adalah korban dari Elliot," kata Alice.

"HAH?" tiga orang itu serempak menoleh ke arah si brunette.

"Perempuan apanya? Aku kan—"

Belum sempat Oz melanjutkan kata-katanya, Alice sudah keburu memotong, "Ya, karena sudah terlanjur seperti ini, akhirnya Elliot mau tidak mau harus bertanggung jawab. Hh, Gilbert… Kau mempunyai adik yang sangat liar,"

"Lalu kau?" tanya Gilbert.

"Hoho, aku dan Elliot belum sempat melakukannya karena aku keburu mencampakkannya,"

"Kita bahkan tidak pernah dan tidak akan memulainya, dasar karnivora!" Elliot menarik tangan Alice dan Oz, lalu langsung pergi meninggalkan toko buku sebelum terjadi hal-hal gawat.

Sementara Gilbert hanya bisa memandang kepergian mereka dengan tatapan tidak percaya, "Aku dikalahkan kutu buku yang lebih muda tujuh tahun dariku…" desisnya.

.

"Apa maksudmu tadi, Alice!" Elliot menggebrak meja makan. Sementara yang dibentak hanya tertawa sambil menyantap pesanannya.

"Itu hanya filler karena penulis cerita ini kehabisan ide. Jangan diambil pusing," jawab Alice santai.

"Argh! Kalian berdua benar-benar sukses menghancurkan hidupku! Terima kasih!" kata Elliot sakarstik. Oz yang duduk disebelahnya langsung menyodorkan Cola dengan muka sebal.

"Halo, Elliot! Ini restoran, dilarang berteriak," katanya. Elliot mengambil Cola dari tangan Oz dan meminumnya dalam sekali teguk.

"Kau ini… Dari cara minum seperti itu, kau akan jadi pemabuk berat di masa depan nanti…" kata Oz.

"Berisik,"

"Ok,kembali ke masalah utama…" Oz mengeluarkan koran yang mereka beli tadi dan mulai mencari-cari kolom iklan. "Pasangan seperti apa yang harus kita cari untuk mengadopsi bayi ini?"

"Cari pasangan yang berwajah menarik," kata Elliot.

"Elli, tidak segalanya tentang wajah!" celetuk Alice.

"Loh, benar kan? Bayi itu pasti akan tumbuh menjadi orang yang cantik atau tampan. Lihat saja orang tuanya seperti ini," Elliot menunjuk mukanya kemudian menunjuk muka Oz.

"Yah… Kurasa itu bisa dipertimbangkan," Oz mengangkat bahunya. Dia mulai mencari-cari iklan yang cocok.

"Eh…'Pasangan sukses dan berpendidikan mencari anak untuk keluarga kami yang terdiri dari lima orang. Kau akan dibayar. Bantu kami menyempurnakan lingkarang cinta.' bagaiman dengan yang itu?" Oz membacakan salah satu iklan.

Alice langsung mengerutkan keningnya, "Hah? Lingkaran? Mereka seperti aliran sesat. Lagipula, lima anggota keluarga? Kalau bukan suaminya punya empat istri, itu artinya mereka sudah punya tiga anak. Jangan, mereka cuma serakah." katanya.

"Elliot, bagaimana menurutmu?" Alice menoleh ke arah Elliot.

"Tidak. Aku percaya anak ketiga dan seterusnya tidak akan mendapatkan warisan banyak, jadi sebisa mungkin cari yang belum mempunyai anak. Yah… Carilah keluarga yang sedikit modern," kata Elliot.

"Modern seperti di Modern Family? Atau modern seperti punya pekerjaan semacam hacker atau pembuat mesin waktu?" tanya Oz.

Elliot mengangkat bahunya, "Mungkin desainer grafis, pertengahan 30, berpakaian keren dan bisa main instrumen musik seperti gitar atau drum. Seperti itulah,"

"Kalau yang seperti itu?" Oz mengetuk-ngetukkan jarinya ke kaca di sampingnya lalu menunjuk ke arah bawah.

"Lihat perempuan yang ada di tempat bermain anak itu," Oz menunjuk ke arah tempat bermain anak yang berada di hall utama mall.

"Yang berkulit hitam, gendut, kontras dengan baju nanny berwarna pink dengan renda norak?" tanya Elliot.

"Bukan, yang kuncir kuda, rambut peach, pakai kacamata," ralat Oz. Mereka bertiga lalu memusatkan pandangan pada wanita yang terlihat sedang asyik bermain dengan anak-anak kecil disitu.

"Cantik. Lalu?"

"Ayolah, Elli! Maksudku, kalau ingin mencari orang tua adopsi yang pas untuk bayi ini, carilah yang seperti wanita dibawah itu. Dia cantik, kelihatannya keibuan, ditambah lagi sepertinya dia orang kaya," kata Oz.

"Dia terlihat seperti remaja yang tua sebelum usia. Kelihatannya dia tidak terlalu tinggi," kata Alice.

"Lihat siapa yang bicara," Elliot mengejek. "Tapi dia memang benar-benar wanita dewasa, hidup mapan dan sudah menikah," lanjutnya sambil membaca koran tadi.

"Kau cenayang?" tebak Oz.

"Bukan! Foto mereka ada di koran!" Elliot menunjukkan salah satu kolom pada Oz dan Alice.

"Wow, bahkan dalam foto pun mereka berdua tetap terlihat menarik," puji Alice.

"Pasangan suami istri ini sudah menikah selama dua tahun, belum dikaruniai anak. Wanita ini bekerja sebagai pengacara, dan suaminya adalah programmer," kata Oz sambil membaca kolom tersebut.

"Sepertinya kita menemukan orang tua yang cocok untuk bayi itu," Elliot menunjuk perut Oz.

"Karena kau, Elliot, belum memberitahu orang tuamu, biar ayahku saja yang mengatur pertemuan dengan mereka." Oz merogoh saku celananya dan mengirim email ke ayahnya.

Elliot mengangkat bahunya, "Terserah kau saja,"

"Ya, dan kalian berdua harus bisa meyakinkan mereka kalau bayi yang lahir dari rahim laki-laki itu bukan masalah,"

.

TBC

.

Wah, maaf lama. Saya lagi nggak ada mood nulis sih. =w= Dan sepertinya lanjutannya akan lebih lama lagi. Praktek Impuls Fisika yang disini terinspirasi dari praktek waktu saya kelas 11 dulu. Waktu itu cara mainnya, dipilih lima orang—yang kebetulan salah satunya saya- untuk melempar bola kasti sekuat-kuatnya ke dinding terus dihitung waktunya dengan stopwatch.

Yasud, review?