Wiew... fic ini udah serasa berabad nggak dicolek2. =='
Oke ni apdetannya. Gomen lama n mungkin chap ni akan sama boring-nya dengan chap sebelumnya.
Hope u enjoy it…
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning:
OOC maybe, typo(s), shoot gun, sho-ai, dll.
Ah yeah, don't like don't read!
"Demi Tuhan… suruh orang-orang itu menyingkir!"
Dengan memasung ekspresi geram dan kartu pengenal teracung ke depan, sesosok pria berambut hitam dan bermata selaras malam, berjalan melewati petugas-petugas yang tengah berusaha menjaga ketertiban; mencegah kerumunan warga yang mencoba untuk menerobos yellow lines yang dipasang mengelilingi daerah TKP di lingkungan Konoha ini.
Padahal hari sudah beranjak gelap, namun kondisi tersebut tak menyurutkan keinginan orang-orang itu untuk melihat dengan jelas peristiwa yang sedang berlangsung.
Perpaduan cahaya kuning dari lampu penerang jalan dan lampu-lampu sirene yang menyambar-nyambar terlihat menyirami kerumunan orang yang berjumlah sekitar tiga puluh hingga empat puluh orang; melingkupi mereka dalam warna orange tak wajar.
Uchiha Itachi─sang pria berambut hitam hanya membuang napas keras, menahan gejolak otot-otot lengannya untuk merogoh pistol yang tersemat di kantong celana panjangnya dan menembakkannya ke udara; menghadapi keributan yang terjadi di depan mata.
Ia sungguh tak habis pikir. Bagaimana jalan pikiran orang-orang itu? Apa batas rasio antara realita dan hiburan semata sudah begitu samar? Hingga mereka menganggap hal seperti ini sama halnya dengan tontonan reality show yang kebanyakan mereka saksikan di depan layar kaca.
"Apa yang kita dapatkan?" tanya Itachi ketika langkahnya terhenti di depan seorang pemuda berambut hitam dan bermodel seperti nanas yang terlihat menggerakkan pena di atas notebook-nya. Sebelum sang detektif dari Konoha itu sempat membalas, kedua oniks Itachi teralihkan pada serangkaian garis-garis putih melengkung yang membentuk siluet di atas aspal jalan dan tak ketinggalan dengan bercak-bercak liquid berwarna merah yang belum mengering sepenuhnya; suatu indikasi jelas bahwa pernah ada seseorang yang tergeletak dan bersimbah darah di sana.
Detektif itu beranjak dari posisinya dan menyerahkan dompet milik victim kepada Itachi. "Korban bernama Kakuzu. Umur 40 tahun. Direktur Utama Bank of Konoha," jelasnya. "Dua saksi mata telah mengkonfirmasi adanya suara tembakan. Namun, mereka tak melihat siapa pelakunya." Detik berselang, ia berucap lagi, "Perkiraan: ditembak antara pukul tujuh hingga tujuh tiga puluh."
Itachi melirik melalui sudut mata ketika didapatinya sang detektif yang tanpa sungkan-sungkan menguap lebar dan menggumam 'mendoukusai' di akhir kegiatannya.
Berjuang mati-matian untuk tidak memasang wajah 'sweatdrop' menghadapi trend-mark sang detektif jenius dari Konoha tersebut, Itachi berkata, "Ada hal lain lagi yang bisa anda kemukakan, Shikamaru-san?"
"Um, yeah. Ditinjau dari detail kematian korban dan identifikasi selongsong peluru yang digunakan…" Shikamaru melihat Itachi dengan raut serius. "…saya bisa menarik konklusi bahwa; pembunuhan ini dilakukan oleh orang yang sama."
Itachi mengeraskan ekspresinya. Instingnya tengah berspekulasi mengenai siapa dalang di balik semua rentetan pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini.
"Ahh, ya… satu lagi bukti authentic; benda troublesome yang selalu ditinggalkannya," Shikamaru menimpali. Raut serius itu memudar dan bertransisi dengan wajah malas kembali. Setelah melakukan 'rutinitasnya' ─lagi ─, sang detektif yang diketahui Itachi─belakangan ini karena menghadapi kasus yang sama─menyandang marga Nara itu melanjutkan perkataannya yang sempat tertunda, "You knew it so well, Itachi-san."
Pemuda Nara tersebut mengerling pada salah seorang anggota tim forensic yang terlihat memasukkan suatu benda ke dalam kantong bukti.
Itachi menggerakkan manik kelamnya pada sosok itu. "Tunggu sebentar!" cegah Itachi seraya mengenakan sarung tangan.
"Ya, Itachi-san."
Sosok yang merasa diseru menolehkan perhatiannya dan segera menyerahkan satu-satunya evidence yang telah didapat di tempat kejadian; mengerti akan air muka sang Inspektur yang seakan mengatakan, "Tolong berikan benda itu."
Benda terbungkus plastic itu diamatinya secara seksama; sebentuk benda familiar yang acapkali didapatkannya di setiap kasus pembunuhan yang tengah ditanganinya saat-saat ini. Sebentuk benda yang tengah memperlihatkan jati dirinya pada Itachi; melemahkan harga dirinya yang berpredikat sebagai polisi, yang seakan tengah mengolok-oloknya dengan membiarkan sang pelaku masih berkuasa bebas dengan dua sayap terbentangnya. Sebuah benda yang memberi Itachi satu hal pasti; determinasi.
"Kitsune… jangan harap kau bisa lepas dariku."
Sound of Phoenix
Part 3: Leading to the Target
Suara jari yang beradu dengan tombol-tombol keyboard menguasai keheningan di sebuah ruangan berpenerangan lampu kuning; ruangan yang seperti sel tapi tak berjendela yang mengucilkan areal ini dengan dunia luar. Sementara sang mata tak lepas dari berderet-deret kumpulan data virtual yang terpapar di layar yang ditekuninya saat ini. Bahkan gema tapak kaki yang berbenturan dengan anak tangga yang berjarak sekitar lima meter tepat di samping kirinya itu tak sanggup mengenyahkan focus yang dibangun sel-sel otaknya terhadap data yang dianggapnya sangat urgen.
"Hn… sepertinya kau sedang sibuk, Kakashi?" sang pemilik resonansi tapak kaki itu telah berada di tangga akhir.
Mengerti benar dengan sapa yang mengalun, pria berambut perak dengan wajah tertutup masker itu melayangkan pandang sekilas pada sosok berbalut mantel panjang yang tengah berjalan ke arahnya. "Ah, Kitsune-sama… saya hanya sedang me-rekap data." Jari Kakashi menekan tombol 'Enter' ketika layar di hadapannya menampilkan sebuah box bertuliskan "Mission: succeed" dengan background hitam di sekelilingnya. Seketika tampilan baru muncul; foto seseorang dengan tanda silang merah besar dan di pojok kiri bawahnya tertera "Recap this on file" lalu meng-klik "OK".
"A…" jawab sosok itu singkat. Tanpa melepas mantel hitam panjang yang dikenakannya dan segala kamuflase yang merungkup dirinya, ia pun menggeser kursi dan segera mendudukinya. Dengan berbantalkan jari-jari tangan yang tersimpul di belakang kepala, lekas direbahkan punggungnya pada senderan kursi; memposisikan dirinya senyaman mungkin. Wajah berselimut topeng itu menengadah; menerawang jauh menerobos langit-langit ruangan. Sesekali dilihatnya sang sosok pria yang masih terlihat asyik dengan rutinitasnya.
Menyadari aura vakum yang tengah melanda, Kakashi melabuhkan pandangannya pada sosok yang bergeming tepat di sebelahnya. "Anda pasti lelah. Mau saya buatkan sesuatu, Kitsune-sama?" tawar Kakashi.
Sosok yang sedari tadi bungkam dan hanya menyaksikan pergulatan jari-jari piawai pria berumur tak lebih dari tiga puluh tahun itu, membalas, "Hm… Tak perlu repot, Kakashi… Cukup dengan memandang wajah-wajah laknat yang sarat ketakutan itu, rasa lelahku telah menguap." Sang Kitsune melirik dari balik penyamar parasnya. "Kurasa… kau juga sudah tahu tentang hal ini 'kan?"
Kakashi sedikit mencelos tatkala untaian nada dingin itu menyusup gendang telinganya. Ia tahu benar bagaimana tabir masa lalu telah merentas sesosok hiperaktif dan penuh canda tawa menjadi makhluk dingin berlumuran dosa. Rasa sesal dan amarah mengubah paradigma yang selalu dipahatnya dalam setiap langkah; berharap suatu hari sosok itu bisa mengikuti jejak sang pemberi arah.
Kakashi bisa pahami itu. Rasa kehilangan itu. Rasa bersalah itu. Tak mudah memusnahkan memory terpahit yang pernah tersulam di kehidupan yang telah lalu. Dan ia, sudah bertitah pada dirinya sendiri untuk terus mendedikasikan diri pada sosok itu. Setia berada di sisinya dan melaksanakan tugas yang diletakkan di atas pundaknya sampai hembusan napas terakhirnya di dunia. Ya, itulah hal terkecil yang bisa ia lakukan saat ini.
"Saya tahu, Kitsune-sama… dan saya tak pernah sekalipun meragukan kemampuan anda."
"Hn… lalu, bagaimana dengan data-data yang lain?"
"Saya sudah menelusurinya. Mengidentifikasi beberapa orang yang terlibat dengan organisasi itu."
Sang Kitsune menyimak dengan intens. Tubuh setengah terbaring itu menegak perlahan.
"Sejauh ini ada tiga orang yang berhasil saya lacak identitasnya. Mengingat bahwa ketiga orang ini merupakan kunci pemegang kuasa tertinggi dalam organisasi. Menurut informasi yang saya dapatkan: mereka mengadakan konspirasi di jalur bawah tanah; memungkinkan transaksi dan aksi illegal yang mereka selenggarakan tak terendus pihak kepolisian."
Kakashi mengembalikan perhatiannya pada layar monitor lalu mengetik beberapa tombol di keyboard dan seiring dengan itu sederet tulisan tercetak di layar.
"Namun, terasa ada yang janggal…" Kakashi menghentikan kegiatannya.
Sebelah alis sang Kitsune terangkat di balik topeng rubah yang dikenakannya.
"Terjadi beberapa hari yang lalu. Transaksi senjata illegal dilancarkan di sebuah pelabuhan di pesisir utara kota Konoha. Hal yang terasa aneh jika aktifitas sebesar itu luput dari pengawasan para tangan-tangan hukum; mengingat betapa ketatnya inspeksi yang dilakukan terhadap barang ekpor maupun impor yang dikirim via jalur perhubungan laut terbesar itu." Kakashi melayangkan sebelah matanya yang tak tertutup masker pada sosok yang tengah bergeming menunggu penjabarannya. "Saya curiga: Apa mungkin ada konspirasi lain yang terjalin dengan salah satu oknum kepolisian? Jika benar teori probabilitas yang saya kemukakan, maka tak ayal jika belut-belut licin itu selalu terbebas dari jerat aktivis hukum."
Sang Kitsune tampak terdiam sebelum kemudian mengendikkan bahu. "Hm… itu bukan sesuatu yang mustahil untuk terjadi. Ada banyak permainan dan tangan-tangan tak bertanggungjawab di dalamnya. Kalau sudah begitu… sungguh, sebentuk kepercayaan merupakan hal abstrak yang sulit untuk didapatkan. Kawanpun bisa menjadi lawan atau bahkan sebaliknya." Kakashi mengulum senyum menanggapi jawaban subyektif tersebut.
"Dan itu… salah satu alasan yang membuatku tak mau berada di jalur yang sama dengannya, Kakashi…" Nada itu terurai sendu dan mungkin air muka sosok itupun begitu. Kakashi mengerti benar, siapa yang dimaksud dan apa yang tengah bercokol di dalam pikiran sang atasan saat ini. "…Selain modus operandi mereka yang terkesan lamban; banyaknya prosedur dan regulasi yang membelenggu setiap ruang gerak. Kau sendiri tahu 'kan? Aku tak suka dikekang seperti itu."
Ingatan Kakashi kembali ke masa lalu; bagaimana keras kepalanya sosok yang ada di hadapannya ketika bawahan-bawahan majikannya berusaha membujuknya─kalau tidak ingin disebut memaksa─untuk memasuki akademi kepolisian selepas lulusnya dari pendidikan seniornya, guna meneruskan profesi yang tengah digeluti sang ayah. Penolakan mentah-mentah─tentu saja dan lebih memilih cara seperti ini sebagai media realisasinya.
Sang Kitsune menghempaskan napas. "Hhh, aku heran kenapa orangtua itu masih bertahan di posisinya sampai saat…"
Kakashi memotong ketika sang Kitsune mengambangkan penuturannya di permukaan, "Apa anda masih menyalahkan diri anda, Wachan?"
Sang Kitsune berjengit mendengar kata terakhir yang disebut oleh Kakashi.
"Hentikan itu, Kakashi! Aku bukan bocah lima tahun lagi," sungut sang sosok. "Aku tak habis pikir; kenapa orangtua bodoh itu memberi panggilan aneh pada putra kandung satu-satunya."
Sang asisten yang merangkap sebagai pengasuhnya itu kembali merentas senyum di balik maskernya. Ternyata tingkah kekanakan itu belum luntur sepenuhnya dari diri sang tuan muda. Walaupun yang kerap mendominasi paras kecoklatan itu adalah topeng artifisial yang selalu ditunjukkannya untuk menyembunyikan jati diri sesungguhnya.
Namun, ketika benaknya menelaah kembali pertanyaan yang─terdengar seperti pernyataan─digubah lidahnya, ia sadar, frasa sederhana yang diucapkannya tadi tepat secara frontal menusuk hati sang atasan─ terlihat dari keheningan yang kali ini lebih lama berselang.
Sosok itu mengalihkan tatapan intimidasi sang asisten lalu terpekur diam.
"Maafkan kelancangan saya. Saya hanya berharap, anda tidak terlalu larut dalam penyesalan. Itu bukan sepenuhnya kesalahan anda. Saya─"
"Aku bisa mengatasinya, Kakashi. Kau tak perlu membebani pikiranmu dengan hal sepele seperti itu…" senyum miris terkembang. "Tugasmu… hanya mencari dan menginformasikan data yang kuinginkan."
Kakashi membuang napas pelan mendengar siratan yang terluncurkan.
"Sekarang… beri tahu aku: siapa target selanjutnya?"
.
.
.
To be continue
Thank's for reviewers. Maaf ya, kalau jadinya abal. Ini Zura sempetin nulis. Yah, otak Zura cuma mampu diperas sampai sini aja.
Saa, Mind to RnR?
Jaa… ^^
