Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo

Rating : T

Genre : Romance/Humor

Warnings : AU,OOCness, jayus. Don't like don't read…


Scandalous Proposal

Chapter 3 : Strategy One, Bet


Kurosaki Ichigo

Current Status : Angker mode level 3

Cause : digodain cowok (?)

Ichigo menggerutu, mengacuhkan sikap orang-orang yang berubah kepadanya. Dulu mereka bersikap seakan dia adalah malaikat pencab-er… setan pencabut nyawa. Sekarang mereka bersikap seakan dia adalah setan kehilangan jubah yang menutupi tubuh indahnya (?). Apapun itu, itu membuat dirinya tidak nyaman. Dulu mereka akan lari terbirit-birit jika meihatnya, sekarang mereka malah menggodanya.

"Cowo, godain kita dong!" seru beberapa anak laki-laki disertai siutan. Ichigo mengirimkan deathglare paling mengerikan sedunia. Mereka langsung merasakan si Setan oranye mengoyak jiwa dan raga mereka. Seketika, tubuh mereka lemas.

Beberapa anak lain yang sempat berniat menggoda Ichigo segera membatalkan niatnya sebelum nyawa mereka terancam setelah melihat kejadian itu. Ichigo melanjutkan langkah- dan gerutuannya.

Sejak berita itu keluar kemarin semua orang memandangnya sebagai orang lain. Kemarin siang sepulang sekolah dia sempat menjebloskan kepala anak kelas satu ke tong sampah yang bergosip ria tentangnya –mereka mengatakan sebenarnya dia banci dan itu sebabnya dia mengecat rambutnya jadi oranye. Bah, mereka mulai mengarang-ngarang cerita tentangnya dan semuanya berhubungan dengan jenis kelamin. Bayangkan betapa muaknya dirinya sekarang.

"Ichigo!" suara yang familiar terdengar. Ichigo menoleh. Seperti flashback, Renji dan Sado berlari ke arahnya. Terus terang Ichigo bersyukur, mereka tidak terpengaruh seperti yang lain.

Mereka berhenti dua meter darinya, sepertinya jaga jarak. Ichigo mengernyit. Ternyata mereka juga terpengaruh-meskipun sedikit.

"Apa?" tanya Ichigo galak.

"Er… nggak ada apa-apa," Renji menjawab dengan ragu-ragu.

"Kalau kalian percaya sama berita kemarin itu terserah," Ichigo melangkah meninggalkan mereka. Renji dan Sado untuk sesaat mangap, tapi detik kemudian mereka menyusul Ichigo.

"Ichigo, nggak kita nggak percaya dengan berita itu," kata Renji. Ichigo menoleh ke mereka, semi percaya semi tidak karena pada nyatanya mereka masih jaga jarak.

"Lantas kenapa kalian jaga jarak begitu?" balas Ichigo.

Renji dan Sado saling berpandang-pandangan sesaat kemudian mereka maju dua langkah mendekati Ichigo.

"Gerah, kalo mepet-mepet kan panas," jawab Renji dengan wajah penuh dusta. Ichigo tersenyum sesaat tapi balik ke mode angker dua detik kemudian, jaga wibawa.

"Kalau begitu bantu aku untuk menghapus berita itu dari muka bumi," ujar Ichigo sembari melanjutkan langkahnya. "Bantu aku buat rencana untuk menghentikan Kuchiki Rukia dan berita konyolnya."

"Apa-apa?" Renji dan Sado mengapitnya, siap buat rencana. Ichigo sadar bahwa orang-orang di sekitarnya sudah was wes wos melihat Ichigo diapit dua cowok.

"Ehem kalian berdua, tolong agak jauh."

Renji dan Sado masing-masing geser satu langkah, tahu maksud Ichigo. Mereka berdua tentu tidak mau terseret dalam berita miring. Cewek saja belum punya dan mereka yakin tak mau punya cowok.

"Bantu aku menghentikan Kuchiki Rukia ini, dia super duper ultra mega keras kepala!" ujar Ichigo. "Apa yang bisa membuatnya merubah keinginan?"

"Cewek tipe seperti itu nggak bisa diancam," kata Renji bijaksana seakan dia telah hidup seribu tahun dan mengawasi perkembangan cewek dari tahun ke tahun. "Kamu harus memintanya halus-halus, lembut, lemah gemulai."

Ichigo mengirimnya tatapan –apa-kamu-edan-. "Apa? Begitu? Nggak mungkin!"

"Percaya sama aku, itu pasti ampuh!" Renji tetap pede.

"Sado bagaimana?" Ichigo menoleh ke Sado.

"Er… Abarai-kun benar aku rasa," Sado hanya setuju-setuju saja. Maklum, selama ini dia tidak pernah didekatkan dengan topik 'perempuan'.

"Terus aku harus gimana? Ndeketin dia gitu?" Ichigo tampak kebingungan.

"Pastinya, tapi pelan-pelan," lanjut Renji. "Kalau kamu tiba-tiba berubah sikap dia pasti tahu maksudmu apa, dia Kuchiki dia pintar!"

"Aku tahu itu," Ichigo memotong Renji yang banyak bacot. "Sekarang beritahu caranya!" dia mulai tampak frustasi.

"Ya pokoknya deketin dia pelan-pelan!" ulang Renji. Sado hanya mengangguk-angguk. Ichigo mulai tampak frustasi.

"Memang nggak ada rencana yang lebih spesifik gitu?"

Kedua sahabatnya saling berpandang-pandangan sesaat lalu menggeleng.

---

Ngomong-ngomong tentang rencana, kubu satunya juga mengalami situasi yang sama…

"Gaaah, gimana caranya!!?" Grimmjow muring-muring sendiri, mondar-mandir di depan Ulquiorra yang seperti biasa baca buku tebal di atas sofa tanpa suara. Rambut birunya semakin acak-acakan padahal biasanya dia sisir paling tidak sepuluh kali satu jam.

"Ulquiorra, bantu mikir!!" seru Grimmjow. Ulquiorra tetap tak bergeming dari majalah fashion bacaannya (?).

"Dekatkan Kuchiki dan Kurosaki," ucap Ulquiorra datar.

"Gimana?! Aku culik mereka terus ikat jadi satu di ruangan yang sama!? Lihat sendiri kemarin, Kurosaki ditendang berapa meter oleh Kuchiki!?" Grimmjow mengoyak-oyak sebuah gombal yang sengaja disiapkan untuk meluapkan kemarahan. Dalam satu detik gombal itu sudah menjadi abu (?).

Ulquiorra mendongak. "Buat rencana."

"Apaaa..!!?" Grimmjow siap mengoyak benda lain. "Aku mikir itu dari tadiii!!"

"Terus apa rencanamu?"

"…" Grimmjow menahan sekuat diri untuk tidak mengoyak majalah fashion Ulquiorra.

Ulquiorra menghela napas. "Ikut aku, aku tidak mau kau mengganggu rutinitas membacaku," Ulquiorra bangkit dan berjalan keluar dengan dingin. Sebenarnya Grimmjow sangat kesal, tapi dia tidak punya pilihan lain karena satu-satunya yang punya rencana adalah Ulquiorra.

Mereka berdua berjalan menyusuri koridor. Sama seperti yang terjadi di Ichigo, Grimmjow juga menerima 'godaan-godaan' dari anak-anak lain. Banyak dari mereka yang tampaknya berwasweswos ria, siap menciptakan pairing baru yaitu UlquiGrimm.

Grimmjow mengernyit menahan amarah. Tapi begitu ada seorang anak kelas satu yang menabur kembang tujuh rupa seperti yang dilakukan di pesta pernikahan, Grimmjow langsung meledak.

"APA-APAAN KAMU!?" Grimmjow melemparkan sapu dengan sekuat tenaga. Sapu itu telak mengenai anak malang tersebut di wajah. Hidungnya langsung berdarah hebat, dia roboh dan tubuhnya berasap. Orang-orang di sekitar lari langsung mengambil 10000 langkah.

"Tch, orang-orang menyebalkan," Grimmjow menggerutu sembari melanjutkan langkahnya mengikuti Ulquiorra yang tak bergeming dari mode coolnya. Mereka menuju ke kelas 3-B, kelas Ichigo.

"Mau apa kita ke sini?" tanya Grimmjow. Ulquiorra tidak menjawab alih-alih menggeser pintu kelas tersebut.

Di dalam, keadaan kelas hiruk pikuk tapi langsung sunyi tanpa suara begitu mereka melihat Ulquiorra dan Grimmjow di depan pintu. Anak-anak perempuan langsung mojok sejauh mungkin, anak laki-laki juga menjauh tapi ada yang terkikik begitu melihat Grimmjow. Grimmjow langsung mengiriminya deathglare.

"Di mana Hisagi Shuuhei, Madarame Ikkaku, Ayasegawa Yumichika dan Kira Izuru?" tanya Ulquiorra dingin ke salah seorang gadis yang tak terpengaruh dengan kedatangan mereka, Arisawa Tatsuki. Gadis berambut cepak itu mendongak dengan tatapan sinis.

"Nggak tau, tapi mereka biasanya ada di dekat kantin, memang ada apa?" tanya Tatsuki ketus. Dia adalah teman baik Ichigo jadi Ulquiorra dan Grimmjow juga seperti musuh baginya.

Ulquiorra tidak mengucapkan apa-apa dan beranjak ke tempat itu. Grimmjow yang masih belum tahu apa rencana Ulquiorra hanya mengikutinya.

"Cih, menyebalkan sekali," Tatsuki mendengus begitu mereka keluar ruangan.

"Ulquiorra, sebenarnya kamu mau apa? Kenapa kita harus berurusan dengan tikus-tikus tersebut?!" tanya Grimmjow dengan soknya. Ulquiorra tidak menjawab dan terus berjalan.

Kantin ramai. Anak-anak saling berdesak-desakan untuk mendapatkan makanan. Keadaan berubah begitu Grimmjow dan Ulquiorra lewat, mereka diam dan menatap mereka dengan berbagai macam tatapan. Grimmjow bersumpah banci yang kemarin dia tonjok menatapnya penuh harap dengan wajah dibalut perban, hanya matanya yang kelihatan.

Ulquiorra pergi ke salah satu sudut kantin di mana sebuah meja besar dengan empat pemuda mengelilinginya. Makanan yang mereka beli cuma snack dan minuman kecil-kecilan. Mereka bercakap-cakap dan tertawa terbahak-bahak tanpa rasa sungkan. Sungguh tidak elit.

Tawa mereka yang over berhenti mendadak begitu Ulquiorra dan Grimmjow berhenti di depan mereka. Sunyi sesaat..

"Ada apa?" tanya seorang pemuda berambut spiky dan bertato 69 di pipinya, dia adalah Hisagi Shuuhei. Bajunya acak-acakan dan terus terang agak dekil.

"Pagi," jawab Ulquiorra, menyeret sebuah kursi dan duduk. Grimmjow mangap, dia tidak percaya bahwa Ulquiorra baru saja mengucapkan salam, terlebih lagi ke orang-orang yang tidak begitu dikenalnya.

"Apa urusan orang seperti kalian dengan kami?" tanya seorang pemuda botak dengan efek cahaya dramatis dari kepalanya yang memantulkan sinar. "Pasti kalian ada sesuatu."

Ulquiorra mengangguk. "Kalian tahu berita kemarin, tentang dia kan?" Ulquiorra menunjuk Grimmjow yang mengiriminya deathglare padanya karena membuka aibnya.

Keempat pemuda itu menatap Grimmjow sesaat dan meledak tertawa. Ulquiorra tetap cool sementara Grimmjow mengoyak-oyak sapu tangan pink (?) dalam kantongnya karena sangat kesal.

"Aih, berita kemarin yang ciuman sama Kurosaki itu kan?" ujar Yumichika sambil berdandan ria. "Eike tahu kok," tambahnya. Karena ada unsur-unsur kebancian padanya Grimmjow yang trauma kabur. Lagipula dia tidak ingin dirinya dipermalukan lagi. Melihat Grimmjow menjauh sebetulnya ini memudahkan Ulquiorra dalam bernegosiasi.

"Dia marah," ujar Ulquiorra dingin. "Aku rasa dia malu karena hubungannya dengan Kurosaki terungkap," tambahnya garing, kering, dengan nada dan muka datar.

"Benar, aku masih tidak percaya," Hisagi terbahak-bahak sambil menyeruput teh kotaknya. "Terus apa tujuanmu ke sini?"

"Aku cuma mampir, kalian juga dalam organisasi sekolah kan? Aku cuma mampir dan mau membicarakan tentang hal itu," ujar Ulquiorra. Keempat pemuda di depannya mengangguk.

"Ulquiorra-san bendahara kan? Mungkin Ulquiorra-san bisa jadi ketua tahun ini," kata Kira.

"Bisa, tapi aku tidak berniat," jawab Ulquiorra dingin. "Lagipula aku pasti kalah dengan Kuchiki Rukia."

Hisagi mengangguk. "Ya, Kuchiki punya kemungkinan besar jadi ketua OSIS tahun ini apalagi dengan artikel berskandal kemarin."

"Lagipula reputasinya baik, dia tidak takut pada kalian, banyak yang menyukainya," tambah Yumichika – belum beralih dari cerminnya. "Dia pasti menang."

"Ya, kemarin aku lihat dia menendang Ichigo keluar dari kantornya," ucap Ikkaku. "Baru aku lihat Ichigo babak belur begitu apalagi dengan gadis yang tubuhnya kecil."

"Kurosaki dan Kuchiki… mereka lumayan dekat," celetuk Ulquiorra mulai masuk pada jalur tujuannya.

Hisagi tertawa. "Dalam hal berantem-berantem. Anehnya Ichigo selalu kalah."

"Hanya dengan Kuchiki kan?" Ikkaku menoleh ke Hisagi.

"Hanya dengan Kuchiki, biasanya dia dingin sama perempuan," tambah Yumichika.

"Benar, mereka bisa dikatakan seimbang," kata Kira.

Ulquiorra melipat kedua tangan di depan dadanya. "Berkelahi terus mereka itu, apalagi sehabis artikel itu, pasti Kurosaki mengintimidasinya terus untuk memulihkan imagenya," keempat pemuda di depannya fokus kepadanya, tertarik. "Mereka jadi tambah dekat pasti bisa-bisa… timbul gosip," nada bicara Ulquiorra bertambah serius.

Keempat pemuda di depannya saling berpandang-pandangan sesaat. Kemudian Ikkaku tertawa.

"Gosip seperti mereka jadian begitu? Itu lebih berskandal, Ichigo tidak mungkin punya hubungan dengan gadis, dia sudah punya Grimmjow!"

"Terus terang, aku masih ragu akan hal itu," Yumichika tiba-tiba jadi serius. "Benar jika Grimmjow-Ichigo ciuman, tapi aku pikir itu nggak sengaja."

"Benar juga sih, kita sudah kenal Ichigo dari lama," jawab Ikkaku, berpikir. "Kayaknya nggak mungkin berita itu benar, mungkin Kuchiki cuma nggak sengaja ngambil gambar mereka yang nggak sengaja ciuman."

Hisagi, Kira, dan Yumichika mengangguk.

"Tapi tetap saja berita itu sudah keluar, Kurosaki sekarang mungkin sedang melakukan pendekatan dengan Kuchiki agar Kuchiki menarik balik berita itu," kata Ulquiorra. Umpan sudah dia lemparkan, sekarang tinggal menunggu sampai itu terkait dengan mereka.

"Haha, pendekatan, paling lagi adu mulut," komentar Ikkaku. "Coba bayangkan kalau Ichigo-Rukia benar-benar jadian, pasti setiap hari mereka berantem," Hisagi, Kira, dan Yumichika tertawa.

Bingo! Umpan sudah terpasang. Kini saatnya menariknya.

"Mau taruhan?" Ulquiorra mengeluarkan dompet mewah mengkilapnya.

"Ha?" empat sekawan itu tertarik. Apalagi karena ada sesuatu yang berhubungan dengan uang.

"Taruhan, apa menurut kalian Ichigo-Rukia bisa jadi pasangan?" Ulquiorra mengipas-ngipaskan uangnya. Empat sekawan yang terkenal bokek langsung tergoda. "Menurutku tidak, mereka kurang cocok."

Ikkaku, Yumichika, Hisagi, dan Kira langsung melakukan rapat dadaka. Mereka melingkar membelakangi Ulquiorra dan berbisik-bisik.

"Kalo kita menang kita bisa dapat banyak uang!" bisik Ikkaku.

"Tapi gimana kalo nggak, kita bokek," balas Hisagi. "Dia kaya sekali."

"Bentar, aku tanyakan dulu," Kira keluar dari lingkaran. "Berapa taruhannya?"

"Entah, tergantung kalian 10.000 yen, 20.000 yen, aku pasti terima," jawab Ulquiorra datar. Kira langsung kembali ke lingkaran.

"Sepuluh ribu saja, kita bisa patungan!" bisik Kira. "Aku yakin kita bisa menang, Ichigo-Rukia menurutku lumayan cocok."

Yumichika hanya mengangguk. "Kita cuma tinggal menumbuhkan benih cinta di antara mereka, romantis," ucap Yumichika dramatis.

"Oke, kita terima, yosh!" seru Hisagi. Mereka berempat kembali menghadap ke Ulquiorra.

"Kita terima taruhannya, kalau beneran Ichigo-Rukia jadian berarti kita menang 10.000 yen!" seru Hisagi semangat. Tiga orang gengnya mengangguk. Ulquiorra juga mengangguk.

"Oke, batas waktu bulan depan, sepuluh ribu yen," Ulquiorra beranjak dari kursi dan meninggalkan mereka berempat. Empat sekawan itu langsung melingkar lagi, sepertinya susun rencana.

Ulquiorra berjalan menyusuri koridor tapi tiba-tiba seseorang menyambar kerah bajunya. Grimmjow berdiri di depannya, dengan tampang angker dan tatapan membunuh lebih seram dari biasanya.

"Kamu ngapain tadi?!" geramnya penuh emosi. Ulquiorra dengan dinginnya menampik tangan kasar Grimmjow.

"Kau sudah dapat bantuanmu," kata Ulquiorra tenang, dan dia meninggalkan Grimmjow yang mangap karena tidak tahu apa-apa. Grimmjow segera mengejar Ulquiorra.

"Maksudnya apa?" lagi-lagi Grimmjow menyambar baju Ulquiorra. Mungkin dia memang gemar menyambar baju orang lain…

"Empat orang itu, mereka akan bantu menyatukan Ichigo-Rukia, sekarang kamu tidak perlu khawatir dan tinggalkan aku dengan tenang," jawab Ulquiorra dingin. Dia lantar berjalan ke tempat mangkalnya biasa, ruang organisasi siswa.

Grimmjow kembali mangap. Dia tidak tahu bagaimana caranya Ulquiorra bisa membuat mereka melakukan itu. Masa bodoh, bebannya berkurang banyak. Sekarang tugasnya hanya mengawasi empat orang itu untuk melancarkan rencananya.

Jam pulang sekolah, kembali ke Kurosaki Ichigo yang masih kalang kabut…

Ichigo mondar-mandir di depan kelas 3 A, kelas Rukia. Dia masih belum yakin dengan ini. Mendekati Rukia (apalagi dengan lemah lembut) bukan keahliannya. Keahliannya yang utama adalah meneror orang dan ini benar-benar kebalikannya. Tapi dia sudah menyaksikan sendiri program terornya gagal total begitu sasarannya Rukia. Mungkin kali ini berhasil.

"Kuchiki-san, ayo pulang!" Inoue keluar dari kelas bersama Rukia. Ichigo langsung ambil ancang-ancang begitu sasaran utama keluar.

Rukia menggeleng dan berkata, "Maaf, aku masih ada perlu di ruang redaksi."

"Bukannya kemarin sudah dibereskan? Padahal habis ini Kuchiki-san mau kumasakkan sesuatu," ujar Inoue, tampak kecewa. Kata-kata Inoue yang akhir-akhir semakin menguatkan niat Rukia untuk pergi ke ruang redaksi majalah.

"Eh, maaf tapi ada yang ketinggalan di sana kemarin," Rukia tersenyum ke Inoue. "Maaf ya."

"Tidak apa-apa, aku duluan Kuchiki-san!" Inoue berjalan pergi. Rukia melangkahkan kaki menuju ke ruang redaksi sekolah. Ichigo dari belakang diam-diam membuntuti.

Suasana sekolah sudah mulai sepi. Anak-anak kebanyakan sudah pulang. Sepanjang koridor hanya langkah kaki Rukia yang terdengar. Ichigo mengintip dari balik tembok dan mengikutinya dengan langkah kaki nyaris tak terdengar ala ninja.

Rukia tiba-tiba berhenti. "Mau apa Kurosaki?" tanyanya tanpa berbalik. Ichigo yang sedang sembunyi di balik tembok terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Rukia bisa mendeteksinya semudah itu. Perlahan-lahan, Ichigo menunjukkan sosoknya. Rambutnya yang oranye semakin terang karena terkena cahaya matahari sore.

"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Ichigo sok cool.

"Aku profesional," Rukia berbalik dengan senyum yang membuat Ichigo kesal. "Ada apa? Kamu mau lempar-lempar kursi lagi?"

Ichigo membuang muka, "Tch, nggak."

Rukia hanya diam, begitu juga Ichigo. Jadi mereka diam-diaman.

"Bilang saja kamu mau minta aku untuk menarik berita itu," Rukia memecah keheningan. Ichigo meliriknya penuh gengsi tapi dia hanya diam.

"Benar kan?" Rukia kembali tersenyum dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Maaf saja, aku nggak akan menarik berita itu."

Ichigo tidak menjawab, dia diam.

"Aku ke sini tidak minta kamu untuk menarik berita itu," ujar Ichigo. Rukia sedikit terbelalak, terkejut.

"Lantas apa?"

Ichigo menatap Rukia. "Aku minta alasan kenapa kamu begitu benci aku?"

Kini giliran Rukia yang terdiam. "Dugaan darimana Kurosaki? Aku menerbitkan berita itu bukan berarti aku ada dendam pribadi dengan kamu."

"Aku bisa tahu itu," potong Ichigo. "Jawab saja."

Rukia terdiam sejenak. Dia membuang muka. "Aku yakin aku punya alasan untuk tidak mengatakannya sama seperti aku yakin kamu punya alasan untuk melakukan semua itu. Melempar anak masuk tong sampah, got, gerobak, dan lain-lain," kini giliran Ichigo yang terbelalak. "Aku tidak tanya kamu, kenapa kamu harus tahu alasanku?" Rukia menatapnya balik.

"Berarti benar kamu benci aku?"

Rukia tidak menjawab.

"Kalau begitu katakan kenapa dan kita akhiri semua ini!" seru Ichigo. "Tidak perlu menyerang dari belakang begitu!"

"Tidak," jawab Rukia dingin. Dan Rukia pergi meninggalkan Ichigo. Ichigo mengawasi sosoknya yang menghilang di ujung koridor. Dia tidak mengejarnya karena tahu bahwa itu sia-sia.

"Dasar, keras kepala."

-to be continued-


Author's note : owh lala, update cepet… kemajuan buat saya –digeplak- well, belum ada interaksi IchiRuki yang berarti. Mungkin di chapter depan, apalagi sejak ada tim baru IchiRuki fanboy –gyaa-

Oke, please review..

Saya butuh pendapat, kritikan, dan saran kalian.

Teken ijo… er.. biru-biru di bawah ini dengan semangat!