You are a my girl

Pairing : Eren Jaeger X Annie Leonhartd

Rated : T

Disclaimer : Hajime Isayama

Alur : Gaje , Typo , Maju dan Mundur

Genre : Romance

Happy read ^^

Chapter 3

Hahhhhhhhhhhhh…. Aku bosan sekali. Kenapa selama tiga hari berturut-turut pelajaran setengah aktif. Atap sekolah menjadi alternatifku untuk menghilangkan kebosanan. Hoamm…. Sudah ratusan kali aku menguap karna kantuk. Tapi mataku sungguh tak mau terpejam, kedua mataku sangat merindukan buaian langit dan awan yang cantik. Kak mikasa dengan nistanya meninggalkanku dan pergi keliling sekolah dengan pacarnya,jean. Armin dia sangat sibuk karna termasuk anggota OSIS dan ketua klub sastra. Dan aku seorang pengangguran.

"hahaha… Ren dipipimu ada bekas coklat" tawa seseorang memecah keheningkan yang barusan aku ciptakan. Aku bangkit dan menoleh ke sumber suara, dibelakang sebuah tabung air. "Hoi Annie lihat mulutmu berpelepotan krim" seru seseorang lagi. Sepertinya aku kenal suara itu. "Reiner, pipimu sangat parah" kata seseorang kali ini dia lebih tenang dan dewasa. Aku mengernyit. Dengan cepat aku bangkit dari duduk dan pergi menuju kesuara itu berasal. Tepat dibelakang tabung aku melihat 3 orang. 2 pirang dan satu berambut hitam.

"Reiner. Kau harus lebih hati2 kalo makan coklat" kata sosok berambut hitam itu dengan kalem sambil membersihkan noda dipipi si Pirang. "kau juga annie kue itu memang manis, tapi kau harus makan dengan tenang" katanya lagi kali ini membersihkan bibir sipirang yang satunya sambil tersenyum kalem. "hahaha.. salahkan Ren" tawa gadis pirang itu sambil menunjuk si pirang didepannya yang hanya dibalas cengiran oleh pirang. *agak ribet*

Aku tertegun, Dia tertawa? Tertawa lepas? Si sombong itu tertawa lepas. Annie Leonhartd itu tertawa lepas ini diluar nalar manusia, bahkan nalar hewan pun akan sulit mempercainya. Aku merapatkan tubuhku ke tabung air, terus memperhatikan ketiga insan itu yang kini kukenali sebagai teman sekelasku Bertolt, Reiner, dan Annie. "Annie.. aku mau gurita itu, kau jangan makan sendiri donk" kata reiner dengan beringas menyerbu kotak yang dipegang Annie. "Bert, liat si Ren. Hajar aja" kata Annie sambil menatap melas ke arah bertolt yang hanya dibalas seringaian manis darinya lalu, ketiganya tertawa bersama.

Eh,entah perasaanku saja atau memang Annie sangat berbeda dari biasanya?

~O~

Kutelusuri jalan setapak dibelakang gedung sekolah, pikiranku melayang mengingat kejadian di atap. Sumpah.. sampai sekarang kejadian itu sangat terngiang ngiang dibenakku. Annie tersenyum. Itu sangat langka. Entah kenapa senyumnya membuatku merinding, senyuman yang sangat manis iya manis… baru kali ini aku terpesona oleh seorang wanita (kedua kali mungkin , aku pernah terpesona sama kakak ku sendiri).

BRUKKK…

"Eh.." aku tersadar dari lamunanku dan menengok kearah suara tadi. Kanan… kiri… tidak ada siapa2.

"Ittee.. te " rintih seseorang yang terdengar dari arah bawah. Aku menundukkan kepalaku dan..

"Ehh… maaf maaf . aku tidak sengaja" kataku panik sambil membantunya berdiri.

"iyaa.. tidak apa2" katanya sambil membersihkan roknya dari tanah.

Gadis itu bertudung hijau, dia menunduk dan mengambil beberapa buku yang dia bawa tadi. Tunggu….. tudung hijau?.

"maaf, permisi" katanya sambil membungkuk dan berjalan melewatiku. Aku termenung, diam berdiri kaku.

"Eh tungg-" dia sudah jauh.. tak bisa di gapai lagi. Aku telah mati *author muntah*

Aku merutuki diriku yang terbengong tadi, dan aku mengutuk otakku yang tidak bisa bekerja cepat. Sial… gadis itu.. gadis yang selalu aku harapkan kehadirannya. Ck.. aku menjejakkan kakiku melampiaskan kekesalan. CTEK…. Aku menginjak sesuatu, apa ini? .. sebuah name tag. Bertuliskan HANA FRANZO. Itu dia. Aku akan mencarinya besok.

"Eren…" seseorang mengagetkanku dari belakang, aku menoleh dan segera menyembunyikan name tag itu. Mengingat seseorang itu adalah kakak ku.

"Aku mencarimu" katanya dengan sebuah senyuman manis. "ayo pulang" sambungnya kali ini dengan nada memerintah.

~O~

"Eren…" panggil neechanku sambil menggoyang2 kan jarinya tepat didepan wajahku. "Hm." Aku membalasnya singkat. Sekarang yang terpikirkan olehku hanya lah gadis yang kutabrak tadi, dan aku menyimpulkan gadis itu lah yang kutemui 2 tahun lalu, tepat saat aku kelas 3 SMP.

"Eren.. kau kelihatan gelisah?" kali ini neechan memegang tanganku serta pipiku, dan menghadapkan wajahku kewajah cantiknya yang mampu membius siapa saja yang melihat.

"tidak, nee. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Bukan hal yang penting" kataku sambil memalingkan wajahku.

"sukurlah" neechan tersenyum manis, aku membalasnya dengan cengiran khas dari bibirku.

Aku dan neechan berjalan dalam diam. Kami terhanyut dalam pikiran masing2. Sampai suara sapaan "hallo" membuyarkan lamunan kami. Kulihat sosok tinggi itu mendekat, bersama dua orang dibelakangnya. "Hallo" balas neechanku dengan mengembangkan senyum simpul.

"mikasa, aku perlu bantuanmu. Ada soal fisika saat kita kelas satu dan aku belum mengerti sepenuhnya" kata sosok tinggi itu, yang ternyata adalah Bertolt.

"Oh, oke aku akan mengajarimu. Tapi, aku mau naik bis. Kau tidak bawa motor?" balas neechanku dengan muka datar.

"Tidak, aku akan naik bis bersamamu. Aku mau kesuatu tempat dengan Annie, kafe didekat rumah kalian. Sekalian bareng" tandas bertolt sambil menoleh kearah Annie dan tersenyum kalem. Neechanku hanya mengangguk.

Tak lama setelah itu sebuah bis berhenti tepat dihalte depan sekolah. Neechan menarik Bertolt dengan kasar agar sang 'pangeran' (bertolt adalah anak paling kaya, dia anak pemilik sekolah yang kami tempati) bisa cepat naik bis. Sementara aku dan Annie menyusul mereka berdua dengan langkah normal.

Yahh .. seperti yang kuduga Annie segera menempati tempat duduk favoritnya, tempat duduk gadis yang selama ini kucari dan kupuja. Karna neechan pasti duduk dengan Bertolt akhirnya aku memutuskan untuk duduk bersama Annie. Reiner tak ikut naik bis karna kemungkinan besar dia akan menunggu seorang 'teman' untuk pulang bersama.

Neechanku dan bertolt secara otomatis tenggelam dalam percakapan rumus2 fisika. Annie hanya memandang keluar jendela, cuek. Seakan akan aku tidak ada disampingnya. Aku memandangi wajahnya sejenak, wajah suram didepanku ini yang tadi tersenyum dengan penuh keriangan. Senyum yang sangat sangat manis sekali. Tapi, kenapa sekarang dia memasang wajah seperti itu lagi. Begitu dingin dan ah, entahlah. Sulit sekali untuk menjelaskan.

Bis berjalan hampir setengah perjalanan kerumahku, tampaknya bertolt dan neechan berhenti berceloteh. Mungkin hal yang belum diketahui bertolt sudah terselesaikan dengan selamat. Setiap 5 menit sekali bertolt dan neechan menengok kearah kami. Aku juga tidak tau kenapa, tapi karena hal itu membuatku jengah dan tak nyaman.

"Nee.. Annie, kau merasa tidak bertolt dan mikasa selalu melihat kearah kita tiap 5 menit sekali?" tanyaku membuka kegaringan yang tercipta diantara aku dan Annie.

"Betsuni." Jawabnya singkat, padat, dan jelas. Seolah-olah dia mengatakan 'aku tidak peduli' .

Aku mendengus kesal, merutuki betapa cuek dan dingin cewek disampingku. Dengan begitu kepercayaanku bahwa dia adalah gadis popular setelah mikasa menjadi berkurang. Kemudian, sesuatu terlintas dibenakku untuk bertanya, kenapa dia sangat suka duduk disini.

"Naa, Annie.. setiap naik bis kau selalu duduk disebelah sini. Dekat pintu dan pasti menghadap jendela. Kenapa?" tanyaku dengan nada riang. Kali aja dia tau gadis bertudung yang selalu menari-nari dibenakku.

"jika ada kecelakaan, aku bisa dengan mudah menyelamatkan diri" jawabnya singkat dan disambung dengan kalimat "apa masalahmu, jaeger? Jangan urus masalah orang lain kalau kau tidak becus pada masalahmu sendiri" dengan nada dingin, cuek dan menusuk. Jlebb…. Yah silahkan panggil ambulans untukku.

~O~

"Mikasa terima kasih. Kau memang benar2 bintang sekolah" kata Bertolt dengan berbinar-binar sambil menunujukkan senyum cool nya yang bisa membuat cewek seluruh sekolah terbius.

"Hai'… belajar yang rajin, bert. Kau aku dan Reiner akan selalu jadi Rival" Balas neechanku dengan tenang sambil menepuk bahu bertolt.

"Naa.. Annie mau mampir kerumah? Kau juga bertolt?" tawarku, yah berbasa-basi sedikit taka pa lah.

"Aku ada urusan" jawab Annie singkat. Sedangkan bertolt hanya tersenyum dan menunjuk annie dan dirinya.

"Kau sangat sulit didekati Annie. Oke , hati2 ya" kata neechanku sambil merangkul annie, setelah itu dia berdadah dadah ria kearah mereka berdua yang mulai berjalan menjauhi kami.

"Nee.. mikasa" kataku membuka percakapan. Kalo tidak ada orang atau tidak dirumah aku selalu memanggil neechanku dengan namanya. Karna yah alasannya logis seklai. Neechanku tidak mau kelihatan tua (dasar cewek *Author ditebas*)

"Aku hampir menemukannya, gadis bertudung itu. Aku bertabrakan dengannya disekolah, dia ada disekolah kita. Tapi sayang, aku tak tau wajahnya. Tapi , aku menemukan ini" aku menunjukkan name tag yang aku temukan tadi. Mikasa menatapku, lalu memelukku.

"Eren..maaf. selama ini kukira kau hanya bohong masalah gadis itu. Tapi ternyata kau benar2 suka padamya ya?" mikasa bergumam sambil mengelus kepalaku. Sontak wajahku memerah.

"apa2 an sih ." kataku sambil melepaskan pelukannya dengan kasar.

"Eren…. Kau sudah dewasa ya" katanya menggoda sambil menoel pipiku.

"hah… sebentar lagi aku akan memiliki adik ipar" ujarnya lagi kali ini pipiku memanas setingkat dari yang tadi.

"jean pasti akan senang jika aku punya saudara perempuan" dia masih berceloteh dengan riang tanpa peduli dengan rona wajahku yang hampir menyamai sosis panggang.

"oh.. iya Eren, buatkan aku adik perempuan juga loh ya" kali ini dia sudah keterlaluan.

"MIKASAAAA AKU MASIHH KELAS 2 SMAAAA…" jeritku frustasi dan dibalas mikasa dengan tawa cetar membahana.

~O~

"ibu.. aku akan dapat adik perempuan lohh… " malam saat makan malam , mikasa kembali berulah dia sedang bergelanjut manja dilengan ibu dan mengatakan hal2 yang mampu membuatku malu setengah mati.

"ibu akan punya cucu" ibu ku malah ikut2 an . ayahku hanya tersenyum menanggapi 2 orang perempuan itu sedang menggodaku tanpa berinisiatif membelaku.

"AKU MASIH KELAS DUA SMA" jeritku lagi sambil berbalik menuju kamar.

"Eren… mukamu sangat merah,nak" ayahku bersuara dan sukses membuatku tambah Bt. Arrrrrrrrggggggggggghhhhhhh…

BLUM…..

Aku menutup pintuku dengan keras dan mulai merasakan betapa panasnya wajahku. Aku menidurkan tubuh lelahku karanjang dengan kasurku yang empuk. Membenamkan wajah dengan malas. Jantungku masih berdetak kencang, sialan mereka bertiga.

Kurogoh sakuku dan memandang benda yang ada disana. Name tag bertuliskan Hana Franzo itu kutatap dengan penuh kegembiraan. Akhirnya aku menemukanmu… Gadis bertudung dengan bulu mata yang letik. Kukecup dengan senang name tag itu dan memeluknya erat sekali.

TBC

Yahh… udah dulu chap 3 nya. Etto.. gimana menurut kalian? Aneh sekali kan. Hah… saya juga tidak tau karna saya ngetik tanpa pikir panjang. Apa yang ada diotak saya, saya ketik dengan kecepatan tinggi (?) .. ada yang kurang puas? Mohon kripik nya.. yang pedas yang manis atau rasa penyemangat juga boleh.

Dan terima kasih buat yang sudah review ^^ yang kasih masukan, terima kasih ya kak ^^ . saya akan memperbaiki penulisannya dan juga tetap menulis ^^.

Lanjut kok sampai tamat *nyengir* ikutin terus yaa … *senyum maksa*

PM juga boleh kok ^^

Review dan PM ditunggu.. jangan lupa ya ^^

Salam *Shizuka_kun*