TEREEEENGGG... I'm back! Hi readers! Sorry lama banget updatenya! Why? Banyak banget test yang harus author lakuin yang entahlah gunanya apa. Kegiatan ekskul yang makin padat juga bikin author lama bikinnya. Tapi sebenarnya udah disusun kok alur cerita ini dari pertama bikin. So please read this and give me some reviews.

.

.

.

Aku sampai di taman belakang sekolah, tempat yang hampir tidak pernah ada yang mengunjunginya. Aku menangis kencang dibalik pohon besar di situ. Dan...

DUAAKK!

Aku yang kaget menghentikan tangisku, dan mencari sumber suara tersebut. Belum menemukan sumber suaranya, aku mendengar namaku dipanggil.

"Do Kyungsoo?"

Aku membalikkan badanku agar bisa melihat orang yang memanggilku dan ternyata...

Dia...

"O-Oh Sehun?"

Chap 2: 4th Floor, 4 O'Clock.

Pairing: Kaisoo / Sesoo

Cast:

Jongin a.k.a Kai

Kyungsoo

Sehun

.

.

.

MAMPUS GUE! DEMI APAH GUE NANGIS ADA ORANG DISINI? MANA GITU SEHUN LAGI YANG LIAT GUE NANGIS! NAE KUDU OTTOKEH?!

"A-aah! Sehun sunbae. Sedang apa disini?'

"Tidur. Tapi tadi aku dengar suara tangisan. Kamu nangis?" Sehun mendekat padaku.

"A-ani sunbae! Itu hanya nada dering handphoneku! Iya! Nada deringku emang gak jelas semua sunbae!" ucapku sambil melangkah mundur. Sehun menghentikan langkahnya, tetapi ia menatapku seakan aku pembunuh bayaran yang ketangkap basah.

"Benarkah?" tanyanya menyelidik

"Iya! Aku mau ke kelas dulu ya sunbae! Dadaah!" aku langsung berlari ke kelas.

SEHUN POV

"Kenapa kau menangis Soo-ya?" ucapku lirih

FLASHBACK

Hari ini benar-benar melelahkan. Pelajaran tambahan dan rapat OSIS memang rutinitasku setiap hari. Tapi entah kenapa hari ini jauh lebih melelahkan dari sebelumnya. Saking lelahnya, aku lupa membawa tas sekolahku yang masih ketinggalan di ruang OSIS. Sekarang aku sudah di lantai dasar, dan tas ku di lantai empat. Berarti aku harus naik lagi! Sebetulnya ada lift untuk para siswa di dekat Ruang Tata Usaha, tapi dimatikan karena sudah lewat dari jam sekolah. Jadi aku harus naik tangga lagi ke lantai 4 dan turun lagi.

"Aissh! Kenapa bisa-bisanya aku lupa bawa tas sih?" keluhku sesampainya aku menginjakkan kakiku di lantai 4. Aku berjalan ogah-ogahan ke ruang OSIS yang letaknya di paling ujung lantai 4.

"Modu jamdeuneun bame honja udukeoni anja. Dajina beorin oneureul bonaeji motagoseo kkaeeoiseo," kudengar samar-samar seseorang bernyanyi.

"Nugul gidarina ajik al riri namaiseotdeonga
Geugeotdo animyeon doragago sipeun geuriun jarireul tteoollina," seseorang bernyanyi dan bermain piano di ruang ini, ruang musik.

"Mureupeul bego nuumyeon na aju eoriljeok geuraetdeon geotcheoreom meorikareul neomgyeojwoyo
Geu joeun songire kkamuruk jami deureodo jamsiman geudaero dueoyo
Kkaeuji marayo aju gipeun jameul jal geoyeyo" (IU-Knee)

Lagu ini, suara ini, menghilangkan segala jenuh dan lelah yang tadi ku pikul. Suara yang indah, bening dan lembut. Siapa yang bernyanyi di ruang musik pada pukul 4 sore sendirian? Ya tuhan! Dia berbalik! Aku segera menyembunyikan diriku dibalik dinding. Aku melihatnya! Dia memiliki paras sederhana namun kesederhanaan itu membuatnya cantik. Namanya...

.

Do

.

Kyungsoo?

.

.

Semenjak hari itu, aku terus ke ruang musik pada jam 4 sore. Mendengarkannya bernyanyi bisa mengangkat semua bebanku. Tak hanya itu, melihat punggungnya saja membuatku senang. Memang aku seperti anak perempuan yang malu mengakui perasaanya. Tapi aku menganggap bahwa ini semua terlalu cepat untuk mengatakan ini adalah cinta. Jadi aku tetap menjalankan kebiasaan ini. Mungkin kebiasaanku bertambah, yaitu merekam ia bernyanyi dan mendengarkannya sebelum tidur.

Beberapa minggu ini, aku selalu tersenyum. Tentu ini membuat teman-temanku heran, bahkan ada yang mengatakan aku gila. Mungkin aku memang gila, gila karena seorang Do Kyungsoo. Mereka memaksaku menceritakan apa yang membuatku begitu bahagia, jadi ku ceritakan saja semuanya. Aku terus tersenyum sampai aku melihat suatu hal yang sangat tidak ku inginkan. Kyungsoo dekat dengan namja lain. Mereka bertengkar, tetapi mereka terlihat... Akrab. Aku... Inikah yang dinamakan cemburu?

.

.

Beberapa hari ini, aku tidak fokus belajar. Karena yang ada di pikiranku hanyalah Do Kyungsoo. Aku sudah mencoba mengingatkan diriku bahwa Do Kyungsoo akan menyukaiku bila aku pintar. Tapi tetap saja yang menempel di otakku adalah kejadian itu. Ingin kusingkirkan namja itu, tapi aku tak tahu bagaimana. Apa yang harus ku katakan bila aku bertemu dengannya? "Hai! Aku Sehun, si Ketua OSIS" atau "Hai! Aku Sehun, orang yang selalu mengintip kau bernyanyi pada jam 4 sore di ruang musik" yang terakhir memalukan. Entahlah apa yang harus ku katakan! Aku pasrah saja, tapi tunggu.

"Bukankah itu Kyungsoo? Dan namja-namja itu siapa? Apa yang ingin mereka lakukan padanya? Jangan bilang..." aku segera melangkahkan kakiku, tapi segera ku berhentikan. Kenapa berhenti? Lihat saja. Seorang yeoja imut sepertinya bisa menendang wajah namja besar yang berwajah sangar. Aku tak tahu yang satunya kenapa, tetapi dia sudah meringkuk di tangan memegangi 'itu'nya. Jangan-jangan... Kyungsoo menendangnya? Benar-benar yeoja yang tak terduga. Aku hanya menggelengkan kepalaku sembari terkikik pelan.

Aku sedang menuju ruang guru sembari tersenyum-senyum. Siapa lagi yang dapat membuatku tersenyum kalau bukan Kyungsoo? Mengingat wajahnya saat tertawa yang mirip Miranda Kerr, cantik. Saat aku sedang menikmati lamunanku, tiba-tiba mataku menangkap sesuatu. Kyungsoo! Segera aku bersembunyi di dalam kelas yang kosong. Iya, itu Kyungsoo. Tapi ia bersama seseorang di sebelahnya, Kim Jongin. Mereka deka... Ah tidak. Sangaaat dekat! Aku tahu mereka bersahabat, semua orang di sekolah ini tahu itu. Tapi mengapa...

Kenapa rasanya sakit sekali?

FLASHBACK OFF

KYUNGSOO POV

Aku berjalan di trotoar dekat sekolah, melangkahkan kaki ke arah terminal bus. Kenapa aku di sini dan bukan di lab bahasa? Karena aku sedang malas untuk melakukan apapun. Jadi aku ijin ke wali kelas untuk pulang dengan alasan 'tidak enak badan'. Untungnya ia segera meng-iyakkan, jadi aku cepat pulang. Dan kenapa aku tidak naik mobil bersama pengawal-pengawal besar itu? Karena aku mengusir mereka semua dan menyuruh mereka pulang.

Sesampainya aku di dalam bus, aku memilih tempat duduk di dekat jendela. Banyak sekali yang kupikirkan saat ini. Rasanya kepalaku ingin pecah! Tugas-tugas yang menumpuk, mimpiku untuk masa depanku, dan yang paling mendominasi saat ini yaitu...

Kai

Kenapa kepalaku hanya dipenuhi dengan namanya sih? Akhirnya ku ambil earphone, mendengarkan 'Dear Santa English Ver.'- TTS. Tanpa ku sadari, aku ikut bernyanyi dibagian awalnya. Bagian yang paling kusuka, bagian yang memerlukan jangkauan nada yang tinggi dan teknik bernyanyi yang baik. Ya, untungnya suaraku 'lumayan bagus' jadi tidak terlalu sulit menyanyikannya.

Tak kusadari aku tersenyum sambil bersenandung kecil. Saat-saat inilah yang dapat membuat stres ku hilang. Tetapi mengingat orang tuaku yang menentang mimpiku, senyum itu menghilang. Kalau santa itu memanga ada, aku berharap semuanya berjalan baik.

Berharap santa bisa meyakinkan orang tuaku bahwa menjadi penyanyi tidak seburuk yang mereka kira.

Berharap Kai melihatku barang sekali saja.

Tanpa sadar, aku menitikkan air mata. Aku segera menghapus air mataku. Entah kenapa, aku membayangkan bila ada pengawal-pengawalku saat ini mungkin bus ini akan gaduh. Gaduh oleh pengawalku yang panik setengah mati melihatku menangis dan menyalahkan satu sama lain. Aku yang membayangkannya tertawa kecil.

Walaupun begini, aku masih bersyukur diberikan kebahagiaan. Pengawal-pengawal yang aneh, ibu dan ayah yang walaupun menentangku masih menyayangiku, dan teman-teman yang gila (Kai termasuk teman yang paling gila dan tidak tahu diri). Lagi-lagi aku meneteskan air mataku sambil terkekeh pelan. Sekarang aku merasa diriku seperti orang gila (?)

Saat aku ingin turun dari bus, tiba-tiba " DUAAAARRR!" (itu suara petir). Aku memekik keras, dan sepertinya orang-orang didalam bus menertawakanku. Sambil mempoutkan bibirku, aku turun dari bus dan ternyata... Langsung hujan deras. Sekarang aku harus apa? Menerobos hujan?

.

.

.

Mungkin itu ide yang bagus. Lagipula, Chanyeol pernah bilang padaku kalau main hujan bisa meredakan stres (?). Agak aneh sih, tapi aku pernah membaca ensiklopedia kalau air bisa menenangkan. Hujan juga air kan? Jadi menurutku itu jawaban yang logis.

Aku berjalan pelan di trotoar sambil menikmati hujan yang sudah membasahi seluruh tubuhku. Dingin? Tentu saja! Tapi jujur, ini mengasyikkan. Seakan-akan pikiran mu dibawa oleh air hujan. Aku terus berjalan pelan sambil sesekali meregangkan tanganku, mencoba menangkap tetesan-tetesan air hujan.

Aku sudah melihat rumah *coret* mansionku dengan pagar menjulang. Seiring kakiku melangkah, aku merasa tubuhku semakin berat. Aku baru ingat, tadi siang aku tidak jadi makan dan sekarang aku main hujan. Aku mulai mengutuk rumahku karena jarak gerbangnya begitu jauh. Aku merasa lemas, tidak punya tenaga, dan akhirnya jatuh di trotoar. "KYUNGSOO!" aku merasa badanku terangkat. Setelah itu pusing kembali menyerangku dan pandanganku menggelap.