SAAT mereka sedang asyik berbincang di sebuah jalan yang sepi, segerombolan berjubah hitam beraksen merah, berdiri menghadang Kagami dan Tetsuya. Tudung hitam yang mereka kenakan membuat wajah mereka hanya terlihat bagian hidung, bibir, dan dagu. Melihat kulit mereka yang pucat, membuat Tetsuya memasang posisi siaga untuk lari.

"Siapa kalian?" tanya Kagami, angkuh. Tidak suka jalannya dihadang seperti ini.

"Kagami-kun, mereka berbahaya! Lari!" teriak Tetsuya, sembari menarik lengan kekar milik Kagami dan putar balik dengan kecepatan penuh.

.

.

.

Merah dan Hitam-Setengah Hidup Kita

By Mizuki Rae Sichi

Kuroko No Basuke by Fujimaki Tadatoshi

T+

AkaKuro slight KagaKuro & many more

Romance—Supernatural

KALAU TIDAK SUKA, JANGAN GUBRIS MACAM-MACAM OK?

.

.

.

Chapter 3

SAYANGNYA kecepatan Kagami dan Tetsuya masih kalah dengan kecepatan salah satu dari makhluk bertudung itu yang kini sudah berdiri di hadapan Tetsuya. Terlihatlah sebuah seringaian yang lebar hingga ikut menampilkan dua taring panjang.

Tetsuya berjengit dan secara reflek menghidar saat makhluk bertudung itu hendak mencakarnya dengan kuku tangan yang sangat panjang.

"Kuroko!" jerit Kagami, panik. Ia hendak melangkah mendekati si Surai Biru, namun terhenti karena si Surai Biru mendadak berteriak.

"Kagami-kun lari saja! Cepat!" instruksi Tetsuya, sembari terus menghindari cakaran tersebut. Tentu saja dengan kecepatan tinggi. Dan karena Tetsuya sudah kehabisan tenaga, ia segera bersalto ke belakang.

Si Pencakar terkekeh, merasa gerakan salto Tetsuya pernah terjadi. Buah yang jatuh memang tidak jauh dari pohonnya.

Kagami sempat terkesima dengan aksi Tetsuya. Benar-benar tidak menyangka melihat seorang anak yang di sekolah sangat payah dalam bidang olahraga, namun di sini bertarung dan berakrobat dengan indah. Ingin sekali Kagami tetap di sana. Sayangnya tatapan Tetsuya yang seolah menyuruhnya pergi terus menghujam. Kagami mendecih sembari mengepalkan kedua tangan. Ia merasa menjadi pecundang, dengan lari seperti ini.

Namun belum beberapa meter Kagami melarikan diri, mendadak salah satu makhluk itu kini berdiri di hadapannya. Makhluk itu mempunyai tubuh yang besar dan sangat tinggi. Kagami langsung melihat ledakan kilat di penglihatannya—terpental saat tangan besar makhluk itu menamparnya.

Tetsuya yang melihat itu secara reflek menghentikan aksinya dan justru panik, "Kagami-kun!" dan detik berikutnya ia juga melihat ledak kilat di penglihatannya. Saat Tetsuya membuka mata, ia melihat tubuh kekar milik Kagami sedang di cengkram dengan satu tangan oleh makhluk yang tadi membuatnya pingsan.

Kagami tercekat kesakitan saat makhluk yang bahkan ukuran tubuhnya setara dengan Tetsuya itu mencekik hingga tubuhnya mengambang di udara. Rasanya seperti terbalik. Tangan kekar milik Kagami seolah tidak ada apa-apanya ketika berusaha memberontak dari tangan kecil itu.

Dengan wajah yang berdarah-darah, Tetsuya terus merangkak mendekati makhluk yang sedang mencekik sang sahabat, "Hen... hentikan!" teriaknya dengan nada yang menciut. Racun dari cakaran makhluk itu benar-benar melumpuhkan tubuh Tetsuya hingga ke organ dalam. Namun Tetsuya tidak menyerah. Kedua matanya terpejam sangat kuat untuk memanggil monster dalam tubuhnya. Dan Tetsuya langsung membuka mata saat kekuatan ghoul-nya bangkit.

Tangan Kagami mengambang seolah ingin meraih Tetsuya yang masih merangkak di tanah. Untuk kesekian kali, ia terpesona oleh sisi ghoul pemuda bersurai biru. Hingga akhirnya matanya terasa berat oleh titik-titik hitam di penglihatannya dan telinganya berdengung.

Aura merah pekat menguar dari tubuh Tetsuya, "Hentikan... HENTIKAN!"

Tetsuya melesat untuk memisahkan makhluk itu dari Kagami. Lalu berbalik arah untuk menghajar makhluk itu dengan kalap.

Makhluk itu terkekeh senang. Membuat Tetsuya muak.

Tetsuya berjengit saat makhluk itu mendadak menghilang dari pandangannya. Ketiga makhluk lainnya pun menghilang. Namun saat Tetsuya berbalik untuk melihat Kagami, para makhluk itu ada di sana. Sebuah dinding tidak terlihat membuat tubuh mungil milik Tetsuya terpental jauh—seperti kubah bening yang menyengat bila disentuh.

Kekehan makhluk itu mengudara saat ia meraih pergelangan tangan Kagami dan menancapkan taring di sana.

"JANGAN!" Tetsuya menjerit kesetanan. Tanpa menyerah terus menghajar dinding itu walau tubuhnya terus-menerus terpental dan membentur tanah.

Sosok yang menggigit Kagami itu menyeringai ke arah Tetsuya. Bibir dan taringnya dihiasi darah yang sangat segar. Sementara Kagami berteriak kesakitan. Tubuh kekarnya mengelijang karena merasa terbakar oleh gigitan vampir di pergelangan tangan. Tentu saja itu membuat Tetsuya sangat marah. Tetsuya kembali mengumpulkan kekuatan untuk menabrakkan diri ke dinding tidak terlihat itu. Dan kali ini berhasil. Dinding itu pecah. Itu tidak disia-siakan oleh Tetsuya. Kaki pemuda bersurai biru muda itu melesat menuju vampir keparat yang menyeringai.

Tetsuya melayangkan kaki pada wajah sosok itu, namun sialnya itu berhasil ditangkis. Tidak menyerah, Tetsuya melayangkan tinju berkali-kali dan lagi-lagi semuanya ditangkis dengan mudah. Sosok vampir itu justru menjerat Tetsuya dalam pelukan dan mendadak menancapkan taring di leher sang Ghoul.

KHAP!

Tetsuya memekik kesakitan sembari terus meronta. Tidak punya cara lain, akhirnya Tetsuya melayangkan tinju pada wajah yang kini berada di pundaknya.

Untuk mencari aman, akhirnya Tetsuya mundur karena emosinya yang tidak stabil dapat merusak fokus. Pemuda bersurai biru muda itu memapah tubuh besar Kagami—yang kini sedang tidak sadarkan diri, dengan satu tangan. Walau ia terus meringis kesakitan akibat gigitan itu.

Sosok vampir itu bergeming sembari menjilati darah Tetsuya yang masih berlumuran di bibir. Detik berikutnya ia terkekeh girang.

Tetsuya merasakan sesuatu yang aneh akan terjadi. Tanpa mengurangi kecepatan, ia terus berlari tergesa-gesa—yang seolah melesat. Rasanya untuk mencapai jalan raya itu sangat panjang. Kedua kaki itu seolah hanya berjalan di tempat. Tetsuya menatap langit malam bertabur bintang dengan mata ghoul-nya. Benar-benar indah, namun ironis karena itu tidak mendukungnya saat ini. Tetsuya benar-benar sedang dalam darurat!

BRUK!

Mendadak rasa sakit dalam tubuh Tetsuya kambuh, membuatnya limbung dan jatuh bersamaan dengan tubuh Kagami. Tetsuya berusaha membuka kedua matanya walau sangat berat. Sosok vampir itu semakin mendekat. Dengan sekuat tenaga, pemuda bersurai biru muda itu bangkit walau hidungnya kini mengeluarkan darah. Tetsuya benar-benar marah karena penyakitnya kambuh di saat yang tidak tepat. Ya, tubuh manusia Tetsuya tidak bisa menahan sisi ghoul-nya. Otomatis sejak lahir, ia selalu lemah dan mimisan.

Tubuh Tetsuya yang sempoyongan mencoba mengangkat tubuh Kagami lagi. Sayangnya ia tidak cukup kuat karena tubuhnya sangat lemas seperti jelly. Sementara sosok vampir itu sudah berdiri di hadapan Tetsuya. Tangan berkuku panjangnya terulur pada si Pemuda Ghoul, seolah menawarkan bantuan untuk bangkit.

Tetsuya menatap vampir itu dengan tajam. Sementara si Vampir terkekeh.

Tangan pucat milik Tetsuya menepis tangan berkuku panjang itu dengan kasar. Ia berusaha berdiri walau tremor menyerang kedua kakinya. Mengabaikan sang Vampir yang terkekeh makin keras—menertawai si Ghoul yang sudah tidak punya daya kali ini. Tetsuya benar-benar tidak peduli. Ia benar-benar harus kabur dari vampir berbahaya itu walau harus mengesot di tanah sekali pun.

Si Vampir juga tidak menyerah untuk menggoda si Ghoul. Vampir itu berjongkok dan tangan pucatnya terus-menerus mencoba untuk meraih pipi mulus itu untuk mencuri ciuman. Wajah baby-face Tetsuya tetap berusaha menghindar dari tangannya. Hingga saat mendadak si Vampir mencengkram kedua sisi wajah si Ghoul dengan erat lalu menempelkan kedua bibir.

Tetsuya terbelalak. Ia memekik saat mendadak vampir itu menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Sangat terasa ketika vampir itu menghisap dengan kuat luka yang berdarah. Tetsuya mengerang kesakitan dan terus mendorong sosok yang lebih kuat darinya. Namun lukanya justru semakin melebar karena taring panjang itu masih menancap di bibir bawah. Pendengaran Tetsuya sudah berdengung dan kedua matanya sungguh berat. Ada titik-titik hitam di penglihatannya. Hingga semuanya menjadi gelap dan Tetsuya tidak tahu apalagi yang terjadi.

Si Vampir melepaskan gigitannya pada bibir Tetsuya. Ia menangkap tubuh mungil yang kini pingsan. Dan seolah datang kesempatan, Tetsuya yang pingsan mudah sekali untuk dimonopoli. Leher yang lemas itu terbuka lebar—memamerkan betapa putih dan bersih, siap untuk dijamah walau luka bekas gigitan sebelumnya ikut menghiasi. Si Vampir terkekeh sembari mendekatkan bibir dan hidung mancung pada permukaan leher jenjang yang lembut serta memiliki aroma khas vanila. Menciumi dengan sensual setiap incinya. Ah, begitu memabukan.

"Kita pergi, Seijuurou! Kurasa sebentar lagi akan ada yang datang, nanodayo." Celetuk salah satu dari sosok-sosok bertudung itu.

Sosok vampir yang diketahui bernama Seijuurou itu berhenti menciumi leher pemuda di pelukannya, "Ah." Jawabnya, setuju. Dengan mudah ia bangkit dan segera menggotong tubuh ringkih itu layaknya menggotong pengantin.

"Eh? Kita akan membawanya ssu?"

Seijuurou menyamankan posisi menggendongnya, "Aku ingin menikmati satu malam dulu dengan Tetsuya sebelum kumanipulasi ingatannya. Dan setelah itu, akan kupastikan dia akan jatuh cinta padaku."

"Lalu bagaimana dengan manusia ini?" sahut suara malas.

Kedua mata berbeda warna iris milik Seijuurou mengerjap. Lalu dengan mudahnya ia menendang kepala bocah manusia yang sedang pingsan itu dengan keras.

"Cukup kumanipulasi ingatannya seperti ini. Dengan begitu ia akan tersadar dengan ingatan bahwa ia pingsan karena kelelahan dan membentur tanah." Gumam Seijuurou.

"Seijuuroucchi selalu hebat ssu!"

"Yahh, walau rasa bocah itu lumayan juga. Rasanya segar sekali. Tapi Tetsuyaku lebih nikmat dan rasa darahnya begitu lembut beraroma vanila." Komentar Seijuurou, sembari memandangi pemuda bersurai biru yang sedang ia gotong.

.

.

.

Aku tidak tahu di mana aku sekarang...

Yang kutahu kini aku sedang terduduk di bangku meja makan di sebuah rumah yang hangat dan nyaman. Bersama ayah yang kini sedang duduk di seberangku sembari membaca koran dan ibu yang kini sedang menenggelamkan diri pada urusan dapur. Sesekali ayah mengeluh karena kopi yang dibuatkan oleh ibu rasanya aneh.

Aku menatap makanan yang tersaji di hadapanku. Ada satu mangkuk nasi putih hangat, semangkuk sup miso, dan sebuah piring berisi satu telur mata sapi, beberapa sosis goreng berbentuk gurita, juga rebusan brokoli, wortel, kacang polong, dan jagung serut. Kedua alisku mengernyit heran. Makanan yang tersaji di hadapanku terlihat begitu enak. Namun...

"Mama... a-apa yang terjadi?" gumamku, sembari menatap wanita bersurai pink yang memakai apron oranye.

Wanita itu tersenyum lembut, "Kau ini bicara apa, Tetsu-kun? Cepat makanlah! Nanti itu menjadi dingin dan tidak enak!"

"Ta-tapi... bukankah aku ini adalah... ghoul? Aku tidak bisa memakan ini. Lagipula... kalian... kenapa bisa ada di hadapanku?"

Ayah dan ibu mengerjap heran menatapku. Detik berikutnya ayah tertawa geli, "Kau ini bicara apa, Tetsu? Cuci muka dulu sana! Sepertinya Kau masih bermimpi."

Aku menatap ayah dengan horor, "Eh?"

Ibu menghampiriku dan mengusap rambutku dengan sayang, "Ghoul ataupun monster itu hanya ada dalam cerita fiksi, Sayang."

Aku masih bergeming. Menerima semua ini rasanya sangat membuatku kacau.

Mendadak orang lain datang menghampiri kami dan duduk di sampingku.

"Oh, Kau sudah bangun, Akashi? Bagaimana tidurmu, nyenyak?" tanya ayah.

Untuk beberapa saat aku lupa cara bernapas. Yang duduk di sampingku ini adalah orang yang telah membunuh ayah!

Dengan sekuat tenaga, kugerakan bibirku dan kukeluarkan suaraku, "S-siapa dia?"

"Dia ini menjadi bodoh atau amnesia?! Oii Akashi! Apakah "sodokanmu" terlalu dahsyat tadi malam hingga menyebabkannya seperti ini? Kurasa aku memang harus menyiramnya dengan kopi panas." Gerutu ayah, gusar.

"Jangan, Dai-chan! Lagipula ucapan macam apa itu? Kau ini sangat tidak sopan! Kita sedang makan!" cegah ibu. Ia lalu menatapku dengan lembut, "Kau ini bagaimana, nak? Dia ini adalah suamimu! 'Masa Kau lupa?"

"Suami?" gumamku, hampa. Aku menatap Akashi di sebelahku dengan pandangan horor. Sementara Akashi hanya menyeringai ke arahku.

"Selamat pagi, Istriku."

Aku terhenyak kaget sekaligus merinding. Akashi mengamit tanganku dan mencium punggung tanganku dengan lembut.

"Oii, oii kalian! Mentang-mentang pengantin baru! Jangan berbuat seenaknya di hadapanku, Keparat!" sindir ayah.

"Aku minta maaf, Papa." Gumam Akashi, dengan penuh kharismatik.

"Akashi-kun, ini sup tofu kesukaanmu!"

"Ah, terima kasih, Ma. Aku merasa seperti di rumah sendiri."

"Kau ini bicara apa? Ini juga adalah rumahmu sekarang!"

Aku benar-benar tidak mengerti! Semuanya terasa aneh! Nasi yang kumakan terasa sangat lembek seperti bubur. Telur mata sapi di piringku terasa manis sementara sosis gorengnya berbau hangus. Sayuran yang kumakan pun masih renyah. Dan sup misonya terasa asam manis pahit. Mungkin inilah yang dikatakan orang-orang sebagai rasa yang enak. Aku tidak perlu tersiksa dengan daging manusia ataupun darah. Namun, jika ini adalah kenyataan aku akan sangat senang. Dan jika ini adalah mimpi, kuharap aku tidak akan pernah bangun.

Sungguh indah...

.

.

.

Kuroko Tetsuya terbangun di pagi hari yang cerah. Kedua wajahnya merona saat mengingat mimpi semalam yang baginya sangat terlihat nyata. Ia bermimpi berada di sebuah tempat yang sangat indah. Dan entah kenapa teman yang baru menjadi siswa di sekolahnya datang dengan kuda putih. Dalam mimpi itu si Teman Baru bernama Akashi mengulurkan tangan pada Tetsuya bagai seorang pangeran yang menjemput tuan putri. Tetsuya kali ini benar-benar mempertanyakan orientasi seksualnya.

Jam weker di bufet sudah menunjukan pukul enam. Saatnya bersiap ke sekolah. Walaupun mungkin kali ini ia akan merasa canggung untuk bertemu dengan Akashi. Ah, Tetsuya benar-benar tidak habis pikir. Padahal kemarin sore ia dan Akashi masih baik-baik saja. Mereka dengan asyiknya pergi berjalan-jalan ke taman hiburan. Dan tidak lupa, Akashi telah memperkenalkannya pada vanila kocok yang enak di Maji Burger. Kalau boleh, Tetsuya ingin mengulang waktu kembali ke saat itu.

Tetsuya bangkit dari kasur empuknya. Namun mendadak suara dering ponsel menahan langkahnya. Ia segera membuka ponsel bermodel engsel itu dan menemukan gambar surat. Tanda ada e-mail. Dan di permukaan tertera tulisan "Kagami-kun". Tetsuya segera membuka pesan tersebut.

"Kuroko, aku izin tidak masuk sekolah. Aku tidak enak badan."

Kedua mata Tetsuya menyipit keheranan. Ia pikir Kagami adalah sosok yang tahan banting.

Kegiatan pagi Tetsuya dimulai. Mandi, berpakaian dengan rapi, menerima makanan dari seorang wanita paruh baya baik hati yang tinggal di dekat rumahnya, dan membuang makanan itu kecuali untuk segelas susu. Hidup sendirian selama ini memang membuat pemuda itu terpaksa menerima rasa iba dari orang-orang. Orang tuanya menghilang entah ke mana sejak ia kecil. Saat itu Tetsuya hanya hidup di hutan dengan memakan manusia yang lewat. Hingga suatu hari ia ke kota dan ditemukan oleh seorang wanita paruh baya.

Saat Tetsuya sedang memakai sepatu, ponselnya mendadak berdering tanda ada panggilan masuk. Dan dengan segera ia menekan tombol hijau untuk mengizinkan panggilan tersebut tanpa melihat siapa penelpon di pagi hari ini, "Moshi-moshi?"

"Kapan Kau selesai?"

"Are?" pekik Tetsuya. Ia segera melihat layar ponselnya. Detik berikutnya jantungnya berdebar tidak karuan dan wajahnya memanas. Dengan ragu, ponsel tersebut kembali ditempelkan ke kuping kanan, "A-Akashi-kun?"

"Aku sudah menunggu sejak tadi di depan rumahmu, lho."

"Eh?"

Dengan kalap, Tetsuya berlari untuk membuka pintu. Dan tampaklah seorang pemuda bersurai merah yang sudah berpenampilan rapi. Sedang berdiri dengan aura kharismatiknya—dengan ponsel merah yang ditempelkan di telinga kanan. Pemuda bersurai merah itu menatap Tetsuya dan tersenyum dengan menawan.

"Selamat pagi, Tetsuya."

'Rasanya ini pernah terjadi! Tapi kapan?' batin Tetsuya.

"Sudah siap 'kan? Ayo berangkat!" ajak Akashi.

"T-tapi kenapa Akashi-kun menjemputku?" tanya Tetsuya, gugup. Masih tidak mampu menahan rasa tidak karuan akibat mimpi aneh semalam. Akashi dengan kuda putih dengan pakaian ala pangeran dan menjemputnya itu sangat luar biasa. Dan sekarang justru terjadi. Bedanya, di dunia nyata, Akashi menjemputnya dengan sebuah limousin hitam yang mewah.

Akashi tersenyum gagah, "Tidak boleh, ya?"

"B-bukan begitu. A-aku hanya kaget."

"Simpan rasa penasaranmu itu karena kita harus bergegas kalau tidak ingin terlambat." Ucap Akashi. Ia berjalan dan membuka pintu mobil bagian belakang, "Masuklah."

Untuk beberapa saat Tetsuya melupakan cara bernapas.

.

.

.

Lelaki bersurai hijau lumut yang kini memakai kacamata itu hanya mampu bergeming. Duduk di atas bangku berlapis busa empuk dan kain beludru di sebuah ruangan yang remang-remang. Matanya menyala redup seperti senter yang tidak mempunyai daya baterai yang cukup. Menunduk, menatap kuman-kuman yang berjalan di atas permukaan meja kayu berlapis kaca. Menghiraukan suara keributan tidak penting yang muncul dari beberapa laki-laki lainnya di ruangan itu. Dan sesekali mengerang kesakitan karena sebuah sengatan tajam menusuk matanya dari dalam.

"Sebegitu nyerikah?"

Si Surai Hijau langsung menoleh ke sumber suara bariton yang muncul dari sebuah ruangan gelap, "Akashi..."

"Jangan panggil aku dengan nama manusia selagi kita di sini, Shintarou. Aku tidak suka." Gumam laki-laki bersurai merah itu. Ia lalu mengambil posisi duduk di seberang si Surai Biru bernama Shintarou. Kedua tangan pucatnya saling bertaut untuk menopang dagu, "Coba ceritakan bagaimana rasa sakitmu!"

Sosok yang dipanggil Shintarou itu menunduk lirih, "Kurasa aku harus terus menatap anak itu sebelum luka di mataku bertambah parah."

"Luka?"

"Ah." Jawab Shintarou, pelan. Ia melanjutkan. "Jiwa Daiki yang biasanya terlalu kuat di mataku dan terus memberontak, mendadak berubah ketika kedua mataku ini menatap anak itu secara langsung." Jelasnya. Mendadak matanya kembali bereaksi, membuatnya memekik pelan dan secara reflek melepas kacamatanya lalu memegangi matanya yang sakit, "Aku harus menatap anak itu lagi!"

Bukannya merasa iba, sosok bersurai merah itu justru menyeringai girang, "Hee? Menarik sekali. Memang hebat si Mantan Ketua Ghoul Sialan itu."

Shintarou meremas bagian matanya dengan kuat, "Tapi ini benar-benar menyakitkan, Seijuurou!"

"Tenanglah sedikit. Tetsuya pasti jadi milikku! Dan rasa sakitmu akan hilang permanen jika Kau mengonsumsi darahnya."

Perlahan rasa sakit pada mata Shintarou menghilang. Namun ia masih tetap menunduk, "Aku ini basilisk. Bukan konsumen darah sepertimu! Aku mengonsumsi jiwa."

Seijuurou terkekeh, "Aku tahu. Tapi itu terserah padamu. Aku hanya mencoba meringankan beban."

Lalu untuk beberapa saat keduanya tenggelam dalam keheningan hingga si Basilisk membuka mulut,

"Oii Seijuurou."

Kedua mata berbeda warna milik Seijuurou mengerjap dan menatap Shintarou dengan serius, "Ya?"

"Apa yang akan Kau lakukan jika nanti ingatan anak itu akhirnya kembali lagi? Kau menginginkannya, bukan? Kau sangat terobsesi."

"Entahlah. Mungkin akan kupaksa dia untuk melihat kenyataan bahwa dia adalah pasanganku nanti. Aku mutlak! Dan aku selalu benar!"


Huwaaaaa maaf, minna-san! Lagi-lagi melenceng dari DL (jauhhh nyaris 2 tahun) bahkan diriku udah lupa kalo masih punya fanfik multichap yang belum selesai. Bener-bener minta maaf! Dan mengetahui hal itu saya langsung selesaikan ini secepatnya.

Oke segitu aja, see u next chap!

~Rae

3 Mei 2017