Cast : Shim ChangMin dan Cho KyuHyun

Genre : Romance, Angst, Drama

Rating : M

Warning : TYPO(S), ngebosenin, YAOI, OOC, NOT CHILDREN!

.

Yeiy! Akhirnya update chapter 3! Saya bersyukur ada banyak waktu luang dan ide mengalir lancar. Saya mohon maaf jika chapter kemarin typo berserakan. Atas segala perhatiannya untuk chapter kemarin, terima kasih..

Selamat membaca!

.

Chapter 3

.

.

ChangKyu

.

.

Kyuhyun mengerjapkan matanya saat sinar matahari dari sela-sela tirai menerpa matanya. Dia segera membuka matanya saat menangkap ruangan yang asing di sekelilingnya. Kyuhyun mencoba bangun tapi tubuhnya tertahan oleh sesuatu yang melingkari pinggangnya. Dia segera menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan melihat benda apa itu. Kyuhyun melihat tubuh atasnya yang naked dengan sebuah tangan yang memeluknya dari belakang. Dengan takut-takut dia mencoba melihat ke belakang.

"KYAAAAAA…! Argh!"

Kyuhyun berteriak saat melihat ada seorang namja di belakangnya. Kyuhyun refleks menggerakkan tubuhnya. Tapi, dia merasakan pinggangnya terasa ingin patah. Rasanya sakit sekali.

"Aw… Appo…" desis Kyuhyun mengernyit kesakitan.

Tampaknya suara teriakan Kyuhyun mengusik namja di belakangnya. Namja tersebut membuka matanya perlahan menyesuaikan dengan cahaya di sekelilingnya. Mengetahui sumber suara berasal dari namja manis di pelukkannya, dia hanya mendesah maklum, lalu mengeratkan pelukannya, bersiap melanjutkan tidurnya.

"Hei! Lepaskan tanganmu dari tubuhku!" teriak Kyuhyun saat mendapati namja tersebut kembali tidur.

"Tidak mau," jawab namja tersebut.

Kyuhyun merengut kesal dengan jawaban yang didapatkannya.

Namja tersebut adalah Changmin, namja yang mengajaknya berkenalan di dalam club. Kyuhyun masih mengingatnya dengan jelas. Tapi bagaimana dia bisa berakhir dengan keadaan seperti ini bersama Changmi? Dia agak mengingat kejadian tadi malam. Memikirkannya membuat tubuhnya terasa panas. Kyuhyun yakin wajahnya pasti memerah sekarang.

"Hei, bangun! Sesak tahu!"

Kyuhyun belum menyerah, tangannya yang bebas mencoba melepaskan pelukan Changmin. Merasa tidurnya tak lagi nyaman, Changmin segera membuka matanya dan melepaskan pelukannya. Setelah merasa bebas, Kyuhyun segera bangun dari tidurnya

"Aw! Hiks, appo…." teriak Kyuhyun kesakitan.

Kyuhyun kembali jatuh ke tempat tidur sambil mengusap pinggang dan belakang tubuhnya yang terasa sangat sakit. Kyuhyun terisak dengan masih mendesis kesakitan.

Changmin segera beranjak dari tidurannya dan melihat keadaan Kyuhyun.

"Apa sakit sekali?" tanya Changmin sambil kedua tangannya mencoba mengusap pinggang Kyuhyun.

Kyuhyun merasa tubuhnya mengirimkan rangsangan yang aneh saat Changmin menyentuhnya. Dia segera menepis tangan Changmin yang menyentuhnya.

"Singkirkan tanganmu!" pekik Kyuhyun sambil tangannya menghalangi tangan Changmin menyentuhnya.

Changmin mengernyit heran, sesaat kemudian dia menyeringai.

"Terserah, tapi kau akan butuh bantuanku,"

Changmin beranjak dari tempat tidur mengambil pakaiannya yang berserakan. Kyuhyun memalingkan wajahnya saat melihat namja tampan tersebut naked. Wajahnya memanas melihat tubuh proporsional Changmin yang tentu menggodanya. Changmin yang melihat reaksi Kyuhyun, hanya tersenyum sekilas.

Changmin berjalan mendekati Kyuhyun yang masih terbaring tak berdaya di tempat tidur. Kyuhyun beringsut pelan, bersikap waspada dengan gerakan Changmin. Namja tampan itu duduk di tempat tidur.

"Aku mau mandi. Ikut tidak?" tanya Changmin bersikap santai.

Kyuhyun melebarkan matanya mendengar pertanyaan Changmin yang dianggapnya konyol.

"Percaya diri sekali dirimu! Aku-tidak-mau!" jawab Kyuhyun kesal sambil menekankan kata-katanya.

Changmin hanya menggeleng pelan dengan sikap Kyuhyun. Dengan masih duduk di samping tempat tidur, Changmin mengambil smartphonenya di nakas dan sibuk dengan telepon genggamnya itu.

Kyuhyun mendecih kesal melihat sikap santai Changmin. Dia pun mencoba beranjak dari tempat tidur sambil mengernyit kesakitan. Dia ingin ke kamar mandi untuk mandi. Dia merasa tak nyaman karena tubuhnya terasa lengket. Tapi, tubuh bagian bawahnya terasa sangat sakit saat digerakkan. Tapi dia mencoba mengabaikannya dan menahan kesakitannya.

BRUK!

"Argh!"

Changmin mengalihkan perhatiannya ketika mendengar benda jatuh. Dia kembali mengelengkan kepalanya, melihat Kyuhyun jatuh di bawahnya. Kyuhyun tampak kesakitan sekali. Akhirnya Changmin bersimpuh di samping Kyuhyun. Dia menyelipkan tangan kanannya di bawah lutut Kyuhyun, Sedangkan tangan kirinya memeluk punggung Kyuhyun. Changmin mulai mengangkat tubuh namja manis tersebut tak peduli dengan segala protes serta makian yang ditujukan padanya.

.

.

ChangKyu

.

.

Kyuhyun masih merengut kesal dengan tindakan seenaknya dari namja di sampingnya. Changmin hanya tersenyum ringan tak menganggap masalah dengan semua yang dilakukan untuk Kyuhyun. Saat ini mereka berdua ada di dalam mobil Changmin.

Tadi mereka mandi bersama, hanya mandi. Setelah mandi Changmin kembali menggendong Kyuhyun dengan bridal style dan mendudukkan namja manis tersebut ke tempat tidur. Setelah itu memberikan pakaian Kyuhyun dan menawarkan namja manis tersebut untuk mengantar pulang. Tapi tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Kyuhyun. Tapi, Changmin tak akan pernah mendengar penolakan Kyuhyun. Changmin kembali menggendong Kyuhyun menuju mobilnya yang terparkir di basement gedung. Setelah agak memaksa, Changmin akhirnya mendapatkan alamat rumah namja manis tersebut.

"Kita sudah sampai," kata Changmin. Dia menoleh melihat Kyuhyun yang masih menatap lurus ke depan dengan ekspresi kesal.

Changmin mengedikkan bahunya. Dia tahu Kyuhyun tak akan menanggapinya. Dia pun keluar dari mobil kemudian berjalan mengitari mobil. Membuka pintu mobil di samping Kyuhyun, dan tanpa Kyuhyun duga, Changmin kembali menggendongnya.

"Yak! Apa-apaan kau?!" pekik Kyuhyun dengan tindakan Changmin. Dia berusaha berontak. Tapi, Changmin bersikap seolah tuli.

Kyuhyun melipat tangannya di depan dada. Kembali merengut kesal.

Setelah membuka pintu rumah yang ternyata tidak dikunci, Changmin menurunkan Kyuhyun di sofa ruang tamu. Dia memasukkan tangannya ke saku celana untuk mengambil seseuatu.

"Ini. Punyamu, kan?"

Kyuhyun melihat apa yang disodorkan Changmin padanya. Benda di tangan Changmin adalah smartphonenya. Kyuhyun segera mengambilnya dan mengecek smartphone tersebut. Dia mendesah kecewa ketika tak ada satu pun panggilan atau pesan masuk.

"Kenapa?" tanya Changmin heran dengan reaksi Kyuhyun barusan.

"Bukan urusanmu!" jawab Kyuhyun ketus.

Changmin menaikkan sudut bibirnya. Dia pun menunduk untuk menyejajarkan wajahnya pada wajah namja manis di depannya. Kyuhyun memundurkan tubuhnya. Tapi tubuhnya tertahan oleh sofa yang didudukinya. Kyuhyun mencoba menahan Changmin dengan tangannya, tapi tangannya segera ditangkap Changmin.

Changmin menahan tangan Kyuhyun di sisi-sisi tubuh Kyuhyun. Changmin menyeringai dan semakin mendekatkan wajahnya.

"Mau apa kau? Lepaskan aku!"

Kyuhyun berusaha berontak tapi pergerakannya terkunci oleh tubuh Changmin. Sekarang Changmin menahan dua tangan Kyuhyun dengan satu tangannya. Sedangkan tangannya yang lain bergerak meraih dagu Kyuhyun, agar namja manis tersebut fokus menatapnya.

Kyuhyun melebarkan kedua mata bulatnya, saat Changmin dengan seenaknya kembali mencium bibirnya. Changmin memberikan kecupan berulang-ulang sebelum melumatnya. Changmin mengulum bibir bawah Kyuhyun dengan lembut. Sesekali menjilatinya pelan. Kadang menghisapnya seolah menyesap rasa manis dalam bibir Kyuhyun.

Kyuhyun berusaha menutup belahan bibirnya menolak ciuman Changmin. Tapi Changmin hanya menyeringai dalam ciumannya. Tangannya yang semula memegang dagu Kyuhyun bergerak ke bawah.

"Argh-mmpp!"

Kyuhyun memekik tiba-tiba saat Changmin mencubit nipplenya dari balik baju. Changmin menggunakan kesempatan ini untuk melesakkan lidahnya ke dalam mulut Kyuhyun. Lidah Changmin segera meraih lidah Kyuhyun. Sesekali lidahnya membelai atau membelit lidah Kyuhyun.

Kyuhyun akhirnya menyerah. Ciuman Changmin sungguh membuatnya lemas. Dia tak sanggup melawan lagi. Akhirnya dia memejamkan matanya, menikmati ciuman Changmin.

Changmin melepaskan tangannya yang menahan kedua tangan Kyuhyun, setelah yakin namja manis di depannya menikmati ciuman mereka. Sekarang kedua tangan Changmin berpindah memeluk pinggang namja manis itu dan makin memperdalam ciumannya. Kyuhyun secara otomatis melingkarkan tangannya ke leher Changmin, seolah membalas pelukan Changmin pada tubuhnya. Changmin hanya tersenyum dalam ciumannya.

Sekarang ciuman mereka lebih lembut. Mereka saling melumat dan bergantian angel berciuman. Changmin melepaskan ciumannya setelah dirasanya cukup. Tampak seutas saliva menghubungkan ke dua bibir mereka.

Kyuhyun masih memejamkan matanya dengan mulut terbuka. Tampak terengah-engah dengan ciuman panas yang baru saja dilakukannya. Sedangkan Changmin tampak menikmati ekspresi namja manis di pelukannya. Wajah manisnya memerah bagai tomat matang, apalagi pipi chubbynya. Bibir kissable Kyuhyun yang terbuka dan sekarang tampak membengkak merah. Itu sungguh menggoda. Changmin berpikir dia bisa saja mulai memakan namja manis ini lagi. Tapi, sungguh dia harus menahannya. Dia sadar, mereka sekarang di mana dan dia masih banyak urusan setelah ini.

Changmin memberikan kecupan pada bibir Kyuhyun, kemudian melepaskan pelukannya. Kyuhyun membuka matanya dan menatap Changmin yang tersenyum di depannya.

"Baiklah, Baby… Aku rasa cukup hari ini. Aku pamit pulang dan- sampai jumpa,"

Changmin beranjak dari tempatnya dan mulai melangkah menuju pintu.

"Aku tak akan mau bertemu lagi denganmu!" teriak Kyuhyun kesal.

Changmin hanya tersenyum dengan kata-kata Kyuhyun. Tepat saat dia akan menutup pintu, Changmin melihat Kyuhyun yang masih tampak lemas di sofa, "Coba saja, jika kau bisa,"

Kyuhyun melihat pintu yang ditutup Changmin. Dia segera melampiaskan rasa kesalnya dengan memukul-mukul sofa yang didudukinya. Dia merutukinya dirinya yang gampang sekali terbuai dengan apa yang dilakukan Changmin padanya.

"Dasar namja mesum menyebalkan!"

Sepeninggal Changmin, Kyuhyun mencoba berdiri dan melangkah menuju kamarnya. Dia berjalan sangat kesulitan sebenarnya. Tapi dia mencoba menahannya. Setelah sampai di kamar. Dia akan mengurung diri di kamar dan tidur seharian. Untungnya ini hari Minggu, jadi sekolah libur. Dia tak perlu bersusah-susah membolos.

Sambil berjalan Kyuhyun mengamati sekeliling rumah dan memutar bola matanya bosan ketika mendapati rumah dalam keadaan kosong seperti biasa. Kyuhyun menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecut.

'Memangnya apa yang aku harapkan? Hyung di rumah? Impossible!' gumamnya dalam hati.

.

.

ChangKyu

.

.

Jaejoong tampak memasuki rumahnya. Dia menggelengkan kepalanya mendapati kebiasaan sang adik yang lupa menyalakan lampu saat malam hari, ketika adiknya itu sudah asyik mengurung diri di kamar. Dia kemudian berkeliling rumah dan menekan saklar lampu di segala penjuru ruangan yang dianggapnya penting untuk dinyalakan lampunya. Dia melirik sekilas jam dinding di ruang tengah yang menunjukkan pukul sepuluh malam.

Jaejoong melihat sekilas lantai dua untuk mengecek adiknya ada di rumah atau tidak. Setelah memastikan adiknya ada di kamarnya, melalui lampu yang menyala di sela-sela pintu masuk, dia segera beranjak menuju kamarnya di lantai bawah dekat tangga. Setelah meletakkan tas dan mantelnya, dia segera duduk di king-bednya dan mulai sibuk dengan smartphone putihnya, mengecek jika ada panggilan atau pesan masuk selama dia berkendara. Dia mendapati hanya pesan masuk atau email-email konfirmasi klien.

Tepat ketika dia meletakkan smartphone putih itu, ada nada dering panggilan dari smartphonenya yang lain. Smartphone khusus untuk kehidupan pribadinya. Suaranya berasal dari saku mantelnya. Dia segera meraihnya dan mengangkat panggilan untuknya.

"Yeoboseyo,"

"Yeoboseyo, Boojae…" terdengar suara bass yang di line seberang.

"Ada apa Yunnie-ya?"

"Hmm…hanya mencoba mengurangi kerinduan seorang namja kesepian di sudut kota Tokyo,"

Jaejoong tersenyum mendengar kata-kata kekasihnya.

"Ada seseorang yang kesepian ternyata,"

"Tentu saja. Kau tahu, Boo? Aku sangat ingin bertemu denganmu sekarang. Tapi sepertinya keinginanku harus tertunda lagi," adu namja yang merupakan kekasih dari Jaejoong, Jung Yunho.

"Bukankah lusa kau akan pulang ke Korea? Aku masih stay di Korea sampai lusa,"

Terdengar helaan nafas dari line seberang. Jaejoong mengernyitkan alisnya heran, ketika Yunho tidak segera menjawab pertanyaannya.

"Itulah masalahnya. Aku telah berusaha menyelesaikan pekerjaan di sini secepat mungkin. Tapi, tiba-tiba investor dari Kyoto ingin membicarakan tender yang aku ajukan pekan lalu besok lusa dan dia tidak menerima pengajuan hari. Hahh…. Aku merasa sangat kesal! Bagaimana ini, Boo?"

Terdengar rajukan dari namjachingunya. Jaejoong hanya tertawa geli mendengar rajukan tersebut.

"Berarti lusa kau tidak jadi pulang ke Korea?" tanya Jaejoong sambil mencoba merebahkan tubuhnya yang lelah setelah beraktivitas seharian.

"Ani, aku baru bisa pulang lima hari lagi. Aish! Aku benar-benar merindukanmu. Rasanya aku ingin memelukmu dengan erat!"

"Hahaha…gwenchana, Yunnie… Kita bisa bertemu lain kali, kan?" sahut Jaejoong mencoba maklum dan menenangkan namjachingunya.

"Iya. Tapi kapan? Setelah lusa kau akan terbang ke Berlin, kan? Tidak bisakah kau menundanya? Ya? Ya?"

Sekali lagi Yunho merajuk agar Jaejoong membatalkan keberangkatannya ke Berlin. Tapi, jaejoong hanya mendesah putus asa. Dia tak mungkin membatalkan keberangkatanya.

"Aniyo, Yunnie. Aku harus pergi. Akhir pekan depan adalah puncak fashion shownya. Aku perlu melakukan banyak persiapan. Ini adalah salah satu debutku yang penting di Eropa. Setelah ini aku bisa mendapatkan akses ke fashion show Paris musim depan. Kau tahu, kan bisa membawa hasil desainku ke Paris adalah cita-citaku? Mianhe…"

Jaejoong mencoba menjelaskan agar namja tampan di line seberang dapat memahaminya. Memang rasanya berat dan lelah harus terus-terusan berselisih waktu untuk bertemu seperti ini. Dirinya yang seorang designer fashion memang kerap diundang atau menghadiri fashion show di beberapa acara dalam negeri atau kadang ke luar negeri. Apalagi sekarang dia mulai merintis karirnya di Eropa, setelah sukses dengan pasar Asia. Sedangkan Yunho juga sibuk mengurus perusahaan besar keluarganya, yang sekarang memang telah diserahkan padanya secara penuh. Hal itu membuat Yunho juga hampir kesulitan mencari waktu bertemu Jaejoong.

Jaejoong dapat mendengar Yunho mendesah kecewa. Dia merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi?

"Arraseo, aku mengerti. Mau bagaimana lagi, kan?"

Jaejoong memanyunkan bibirnya ketika mendengar nada kecewa dari Yunho.

"Yunnie, kau marah? Mianhe…." sekarang gantian Jaejoong yang merajuk.

"Hahaha…tidak, Boo… Tenang saja,"

"Jeongmal?" tanya Jaejoong tak percaya.

"Jeongmalyo…"

Jaejoong menghela nafas lega.

"Aku berharap nanti akhir pekan depan bisa menyusulmu ke Berlin,"

"Semoga! Aku pasti senang sekali!" seru Jaejoong senang. "Tapi kau tak perlu memaksakan diri jika memang sibuk," lanjutnya buru-buru tidak ingin menyusahkan Yunho.

"Gwenchana, Boo…"

"Gomawo, Yunnie-ya…"jawab Jaejoong pelan. Tiba-tiba dia menguap. Rasanya sudah sangat mengantuk.

"Hmm…sepertinya kau butuh istirahat. Tidurlah," kata Yunho yang sepertinya tahu Jaejoong kelelahan.

"Ne, mian tidak bisa bicara banyak denganmu,"

"Sudahlah, tak apa. Oh, ya titip salam untuk adik ipar, ne?"

"Ya! Sembarangan! Sejak kapan Kyuhyun jadi adik iparmu? Kau dan aku saja belum menikah!"

Jaejoong berseru pura-pura kesal. Tapi sebenarnya dia malu dengan perkataan tersirat Yunho.

"Makanya, cepat tuntaskan urusanmu. Setelah itu aku akan melamarmu,"

"Yunnie…" rajuk Jaejoong lagi. Sungguh dia malu sekali sekarang. Yunho hanya tertawa mendengar Jaejoong merajuk.

"Hehehe, oke, jaljayo. Semoga mimpi indah, ne…. Saranghae, Boo"

"Nado saranghae, Yunnie,"

Setelah memastikan teleponnya berakhir, Jaejoong pun beranjak dari tempat tidur untuk segera berganti piyama bersiap tidur.

.

.

ChangKyu

.

.

Kyuhyun hanya memandang datar ocehan Eunhyuk sedari tadi. Sahabatnya itu dari tadi mengomelinya yang tiba-tiba hilang dari club Sabtu malam kemarin. Sahabatnya itu tidak tahu saja dia hilang karena dimangsa seorang namja mesum. Memikirkan malam itu, membuatnya membayangkan kembali wajah Changmin. Kyuhyun pun segera menggelengkan kepalanya kencang untuk menghilangkan pikiran-pikiran tentang Changmin.

"Hei! Kenapa kau menggelengkan kepalamu?" tanya Eunhyuk heran.

Kyuhyun melihat Eunhyuk yang sekarang menatapnya dengan pandangan menyelidik.

"A-aniyo…" jawab Kyuhyun terbata yang justru semakin mengundang kecurigaan Eunhyuk. Sahabatnya itu justru memicingkan matanya melihat reaksi Kyuhyun.

"Jangan-jangan telah terjadi sesuatu, ya? Ayo mengaku Kyuhyunnie…"

Eunhyuk berkata pelan namun tajam. Kyuhyun hanya memutar bola matanya jengah. Tepat saat dia akan membalas perkataan Eunhyuk, smartphonenya berdering. Eunhyuk mendecih kesal karena kegiatannya menginterogasi Kyuhyun terusik. Sedangkan Kyuhyun hanya tersenyum mengejek.

Kyuhyun melihat siapa yang meneleponnya. Dia mengernyit heran mendapati nama hyungnya di screen smartphonenya. Kyuhyun pun segera mengangkatnya.

"Yeoboseyo,"

"Yeoboseyo, Kyunnie… Hyung tidak mengganggu, kan?" tanya Jaejoong memastikan adiknya sedang tidak dalam waktu efektif pelajaran.

"Ani, ada apa, hyung?"

"Sebelumnya hyung minta maaf. Keberangkatan hyung ke Berlin diajukan hari ini. Ehm, dua jam lagi pesawatnya take-in. Jadi hyung pamit lewat telepon, ya? Jeongmal mianhe,"

Kyuhyun terdiam dengan penjelasan hyungnya. Dia memejamkan matanya sejenak, berusaha menahan rasa kecewa dalam hatinya.

"Gwenchana, Jae hyung. Hati-hati, ne? Jangan lupa oleh-oleh," jawab Kyuhyun berusaha agar suaranya tidak bergetar.

"Benar? Tidak apa-apa?" tanya Jaejoong memastikan. Dia sungguh merasa bersalah belum bisa bertemu secara langsung dengan adiknya.

"Ne, tidak apa-apa,"

Kyuhyun dapat mendengar helaan nafas lega dari hyungnya. Berbanding terbalik dengan dirinya yang merasa sangat kecewa dengan hyungnya.

"Baiklah. Kau minta oleh-oleh apa, heum?"

"Apapun yang hyung bawakan aku tak akan menolak,"

"Hahaha… okay, okay. Oh, ya… hyung sudah memenuhi kulkas dengan bahan-bahan makanan,"

"Gomawo, hyung,"

"Ne,"

Kyuhyun menghirup nafas sejenak untuk bertanya pada Jaejoong, "Hyung berapa hari di Berlin?"

"Sekitar satu minggu,"

Kyuhyun kembali harus menelan kekecewaan. "Oh…o-okay, hyung. Jaga kesehatan, ne? Jangan terlalu memaksakan diri,"

"Tentu saja, Kyunnie. Kau juga, jangan lupa makan. Nah, hyung tutup dulu ya teleponnya? Hyung harus segera mempersiapkan busana-busana yang nanti hyung bawa ke Berlin. Anyeong,"

"Anyeong,"

Kyuhyun menutup teleponnya dan menatap sendu smartphonenya.

'Aku bahkan belum melihatmu hampir satu bulan, hyung. Kapan kau ada waktu bertemu denganku? ' Kyuhyun mendesah sangat kecewa dalam hati.

.

.

ChangKyu

.

.

Sejak menerima telepon dari hyungnya tadi siang membuat mood Kyuhyun memburuk. Dia meratapi dirinya yang lagi-lagi harus di rumah sendirian. Selama seminggu? Kyuhyun berpikir ini sangat tidak menyenangkan. Dia sungguh merindukan hyung satu-satunya itu. Tapi, seperti yang harus Kyuhyun selalu maklumi, hyungnya sibuk luar biasa.

Kyuhyun mendesah kecewa kembali. Keinginannya sekarang adalah pulang dengan selamat dan bisa tidur. Kyuhyun menundukkan kepalanya sambil sesekali menendang-nendang kerikil.

Kyuhyun menghentikan langkahnya tepat di samping gerbang sekolah ketika seseorang dengan beraninya menghalangi langkahnya. Kyuhyun mengamati sepatu orang tersebut. Seorang namja? Dia pun mengangkat kepalanya.

"KAU?" teriak Kyuhyun spontan dengan jari menunjuk tepat di hidung seorang namja di depannya.

Bagaimana Kyuhyun tidak berteriak saat mendapati seseorang yang tidak ingin dia temui selamanya. Namja mesum menyebalkan yang telah merenggut harga dirinya. Sedangkan namja tersebut hanya memamerkan seringai yang menurut Kyuhyun sangat menyebalkan. Namja itu pun menurunkan tangan Kyuhyun dari depan wajahnya.

"Jangan sentuh-sentuh! Dasar namja mesum!" pekik Kyuhyun kesal.

"Siapa yang kau sebut namja mesum? Aku punya nama. Shim Changmin, kalau kau lupa. Ah… tapi kau pasti tak akan lupa dengan namaku bukan Kyuhyunnie? Kau kan sudah mendesahkan namaku berulang kali malam itu,"

Changmin berkata santai seolah kegiatan intim yang mereka lakukan kemarin adalah hal biasa.

Kyuhyun melebarkan matanya horor dengan perkataan Changmin. Dia segera mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk memastikan tak ada orang yang mendengar percakapan mereka.

"Kau-diam!" desis Kyuhyun mulai jengkel dengan namja di depannya yang masih memasang seringaiannya.

"Kenapa? Kau takut orang-orang tahu kalau kau-mmmppp!"

Ucapan Changmin terpotong karena Kyuhyun segera membekap mulutnya. Kyuhyun merasa dirinya sangat terancam jika Changmin ada di sekitarnya.

"Aku bilang diam! Dan segera pergi dari sini! Aku tak mau berurusan lagi denganmu!"

Changmin hanya memutar bola matanya tak peduli dengan gertakan Kyuhyun. Dia pun melingkarkan kedua tangannya yang bebas ke pinggang Kyuhyun, menarik namja manis tersebut mendekat.

"Yah! Jangan peluk-peluk!" pekik Kyuhyun makin kesal.

Changmin menjulurkan lidahnya dan menjilati tangan Kyuhyun yang membekap mulutnya.

"Anghh…! Apa yang kau lakukan?!" tanya Kyuhyun kaget dengan perbuatan Changmin. Refleks Kyuhyun menjauhkan tangannya dari jangkauan lidah Changmin.

Changmin menarik sudut bibirnya kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Kyuhyun. Namja manis itu berusaha berontak dalam pelukan Changmin. Dia merasa sangat gugup sekarang. Jantungnya mulai berdetak tak terkendali. Dia tak pernah berada dalam posisi sedekat ini dengan orang lain.

"Aku sudah bilang. Kita pasti akan bertemu lagi, kan?" bisik Changmin di telinga Kyuhyun.

Kyuhyun merinding mendengar suara berat Changmin. Suara Changmin membuatnya merasa tiba-tiba kaku. Kyuhyun sungguh tidak tahan. Dia tak ingin Changmin mendengar suara degup jantungnya yang terasa sangat keras. Baginya itu sangat memalukan.

"La-lu a-apa yang k-kau inginkan, hah?"

Kyuhyun mencoba bersuara. Tapi dia sangat merutuki suaranya yang terdengar gugup. Changmin mengubah seringainya menjadi senyuman. Dia menatap tepat ke dalam mata caramel Kyuhyun. Namja manis tersebut hanya bisa menelan ludah gugup ketika melihat mata onyx milik Changmin memandangnya lekat.

"Kau hanya perlu ikut denganku. Tak ada penolakan!"

Tepat setelah mengatakan itu, Changmin menggendong Kyuhyun di bahunya dan mulai berjalan ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mereka berdiri. Kyuhyun yang tersadar dari keterkejutannya, segera berontak. Dia memukuli punggung Changmin, menendang-nendang, dan berteriak minta tolong. Tapi, Changmin hanya tersenyum santai.

.

.

ChangKyu

.

.

Kyuhyun mengaduk-ngaduk minumannya asal. Sesekali dia melirik namja di depannya yang sedang memakan makanannya. Dia tak habis pikir. Changmin menculiknya hanya untuk menemaninya makan? Terdengar sangat konyol.

Kyuhyun rasanya ingin kabur. Tapi dia tak tahu ini daerah mana. Lagi pula dia juga tidak membawa uang tunai cukup banyak seumpama tersesat dan ada hal-hal yang tak diinginkan terjadi.

'Tapi bersama namja mesum ini, keselamatanku juga terancam' Kyuhyun menyimpulkan dalam hati. Dia masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan terbaik yang akan diambilnya. Tapi, akhirnya Kyuhyun mendesah pasrah.

Changmin telah selesai dengan makanannya kemudian melihat Kyuhyun sekilas untuk memastikan namja manis tersebut tidak macam-macam. Setelah itu dia mengambil smartphonenya, membuka sebuah blog milik seseorang. Tampak Changmin tersenyum kecil membaca hal-hal yang diupdate di sana. Tapi kemudian senyuman itu berganti dengan kilatan kemarahan dan kekecewaan di matanya. Changmin memejamkan matanya sejenak untuk meredakan emosinya. Kyuhyun mengernyit heran melihat ekspresi Changmin.

"Hei! Kau sudah selesai, kan? Bisa aku pulang?" tanya Kyuhyun dengan suara agak keras agar Changmin melihatnya.

Changmin melirik sekilas, "Tenang saja. Aku pasti mengantarmu pulang," jawabnya masih dengan jari-jarinya yang sibuk dengan smartphonenya.

Kyuhyun memanyunkan bibirnya kesal dengan sikap Changmin. Tadi di depan sekolah, Changmin seenaknya sendiri membawanya ke sini. Sekarang Changmin mengacuhkannya? Kyuhyun merasa tidak terima. Sejenak Kyuhyun tertegun dengan pikirannya. Memangnya tidak terima kenapa? Kyuhyun menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran-pikirannya yang mulai aneh.

Setelah memasukkan smartphonenya, Changmin mengeluarkan uang dan meninggalkannya di meja. Dia berdiri dan menarik tangan Kyuhyun yang ada di atas meja. Kyuhyun yang terkejut dengan tarikan Changmin pada tangannya, hampir menabrak meja di depannya. Untunglah refleksnya bagus.

"Hei! Pelan-pelan!"

Kyuhyun kembali memekik kesal pada Changmin. Sedangkan Changmin hanya mengedikkan bahunya tak peduli.

TBC

.

Menanggapi pertanyaan beberapa reader mengenai ini akan jadi mpreg atau gak. Hehehe… jujur saya belum tahu. Sejauh ini saya cuma memikirkan konsep cerita dan konfliknya dulu dan itu belum sampai ke mpreg. Atau reader ada ide? Kalau memang permintaan mpreg banyak, coba nanti saya pikirkan kembali dan nanti akan saya coba sinkronkan dengan konsep cerita yang akan saya bangun.

Dan tak lupa saya mengucapkan terima kasih untuk yang bersusah-susah menyempatkan review. Terima kasih banyak dan mohon maaf sekali tidak bisa membalasnya. Tapi saya selalu membacanya, kok^^

Saya juga mengucapkan terima kasih untuk semua yang telah memberikan perhatiannya untuk ff ini.

#deepbow