"Yah, Hyung! Baru juga jam satu!"

"Jangan sebut jam satu 'baru juga'!" Joonmyeon berkacak pinggang di depan kedua maknae-nya. "Ayo, matikan! Kalian harus tidur. Ini sudah larut sekali."

"Tapi besok kita tidak ada jadwal, kan?" Jongin terus merajuk. "Dispensasi sehariii saja. Ya? Ya? Suho-hyung kan yang paling baik dari hyung-hyung lainnya."

Ketika Chanyeol, Baekhyun, dan Kyungsoo meliriknya sinis, Jongin tahu dia sudah salah bicara.

"Jangan merayuku," sergah Joonmyeon. "Matikan. Sekarang-Sehun! Kubilang matikan, bukan ganti kasetnya!"

"Ayolah, Hyuuung!" Kalau Joonmyeon tidak tahan tempur, aegyo Sehun pasti sudah meluluh lantakkannya. "Semalam saja. Kami main pakai mute, deh!"

"Tidak ada alasan. Manajer-hyung bisa marah kalau kalian besok tidak sanggup bangun pagi!"

"Nde," Jongin melirik usil. "Maksud Hyung, Manajer-gege?"

Kena sasaran. Joonmyeon diam. Dia lupa. Manajer mereka sekarang punya suffix gege. Dasar Cina-Kanada tolol. Dasar hitam tolol. Joonmyeon memandang kesal bocah gelap di depannya yang sedang terkikik.

"Terserah mau gege, mau hyung, mau eonnie, yang penting sekarang matikan!"

"Tapi-"

"Hush, dengarkan eomma-mu," Yifan datang entah dari mana. Joonmyeon berjengit dipanggil demikian. "Kalau besok kalian tidak bangun pagi, Appa yang marah."

Joonmyeon menyikut rusuk Yifan keras-keras.

Sehun belum menyerah. "Tapi, kami sudah lama tidak main playstation lagi."

"Lagu lama." Steker mengeluarkan percik api kecil, protes dicabut dari sejolinya-stopkontak. Yifan si pelaku menariknya tanpa ekspresi bersalah. Layar televisi jadi hitam, lampu indikatornya mati. "Nah, tidur."

Erangan diacuhkan. Jongin dan Sehun terhuyung menghampiri kakak-kakak mereka di ruang tengah (yang sudah disulap dengan menepikan perabot furnitur dan menggelar matras menjadi kasur raksasa). Chanyeol yang masih sibuk main instagram menoleh.

"Wow, siapa yang berhasil membuat kalian menjauh dari istri kalian?"

"Appa," Sehun tepar. "Appa menceraikanku dan istriku. Padahal aku sudah berjanji akan menemani playstation-ku yang cantik sampai pagi."

Kyungsoo menjewer telinga si maknae. "Jangan berlebihan. Besok malam kalian bisa rujuk lagi."

"Appa?" Chanyeol berkedip. "Siapa appa?"

"Manajer-ge," Jongin menyahut dari kejauhan. "Manajer-gege memanggil Suho-hyung eomma, berarti dia appa, kan?"

Gelak tawa Baekhyun yang menganggap itu lucu membahana. "Sial, Suho-hyung pasti tidak suka. Baiklah, bagaimana kalau mulai sekarang kita panggil mereka begitu? Sudah lama aku tidak mengerjai Suho-hyung."

Mereka tertawa, namun langsung bungkam ketika Joonmyeon datang, muka kusut walau masih enak dipandang.

Manik cokelat Joonmyeon tertuju pada raut muka sok inosen biang kerok grup mereka. "Baekhyun, hapus eyeliner-mu."

"Eomma," Si terdakwa merengut layaknya perawan puber diperintah mencuci dalaman. Joonmyeon juga merengut mendengar namanya disebut lain. "Aku malas berjalan ke wastafel. Biar saja, ya. Besok saja kucuci."

Joonmyeon menyipitkan bibir, sebelum mengambil teko air dari atas meja dan memiringkannya di atas kepala Baekhyun yang memekik.

"Cuci sekarang. Jangan salahkan aku kalau besok make-up-mu mengerak di mukamu."

"Aish, Eomma tidak seru." Menjulurkan lidah, si main vocal lalu beranjak pergi, bersamaan dengan Yifan yang duduk di sampingnya. Joonmyeon menggelengkan kepala.

"Apa-apaan kalian ini? Appa dan eomma..."

Yifan mengangkat sebelah alis. "Kenyataannya memang begitu, bukan?"

Joonmyeon mendengus, tak menanggapi. "Sudah, kepalaku pening. Ayo, semuanya, tidur. Jongin, lepas headphone-mu. Chanyeol, kemarikan ponselmu atau kubanting lagi. Dan tidak, kali ini tidak akan kubelikan yang baru. Baekhyun-Ya Tuhan, jangan memoles bedak ketika mau tidur! Kau ini minta disiram malam-malam?"

.:xxx:.

Wu Yi Fan tidak bisa memejamkan mata.

Telentang, bukan gaya tidurnya. Ia berguling ke kanan, tapi dengkuran Chanyeol mengganggu telinganya. Ke kiri, Baekhyun bergerak-gerak terus sampai tak jarang menjejaknya. Tengkurap, ia hampir mati kehabisan udara.

Sulit sekali untuk tidur, sih?! batin Yifan setengah murka, menjerit kesal tanpa suara sambil meremas bantal.

"... ge. Gege. Masih bangun?"

"Tidak. Aku sedang mengigau," sengitnya.

"Oh, kupikir..." suara Chanyeol melemah.

Yifan berkedip, menyesuaikan penglihatan di tengah ruangan yang gelap. Di belakang Chanyeol ia bisa lihat malaikatnya tidur pulas, memunggunginya. Heh, sialan, desis pria itu. Kau sengaja menempatkan Chanyeol di antara kita, kan? Sengaja kabur, eoh?

"Ge!"

"Apa, sih!"

"Bisa kita pindah tempat?"

Matanya yang semula fokus pada sosok kecil (jika dibandingkan dengannya) langsung beralih. "Apa?"

"Pindah tempat, Ge." Chanyeol berusaha bersikap seimut mungkin. Sayang sekali usahanya gagal. Yifan tidak bisa melihat aegyo-nya dalam gelap.

"Kenapa?" Basa-basi sedikit. Padahal aslinya Yifan sudah akan mengiyakan dalam sekejap.

"Aku... aneh rasanya jika jauh dari Baek-ie. Biasanya anak itu akan kedinginan malam-malam begini, lalu menendang-nendang mencari guling berpemanas."

Yifan terdiam. Alasan Chanyeol barusan benar-benar tidak ia sangka. Well, siapa yang tahu kalau duo mood maker mereka sedekat itu?

"Astaga, apa ini?" Yifan muncul sifat usilnya. "Biar kusederhanakan, Baekhyun tiap malam akan kedinginan dan mencari guling berpemanasnya yang bernama Park Chanyeol?"

Chanyeol hanya tertawa salah tingkah. "Gege bisa saja. Sudah, cepat pindah sini, biar makin dekat dengan eomma."

Yifan terkekeh, lalu merangkak melewati kaki Chanyeol. "Kau tahu, dia benci ketika kalian memanggilnya begitu."

"Tidak, dia tidak begitu." Chanyeol menarik selimut, lalu bergeser sejengkal mendekati Baekhyun yang langsung diam. "Sebenarnya dia senang, Ge. Dia senang ketika kami memanggilnya sesuatu yang berarti kita mengandalkannya... Hanya saja dia tidak suka dipanggil eomma. Tentu saja, pria mana yang suka dipanggil begitu?"

Yifan membaringkan tubuhnya, menghela napas. Mencerna dalam-dalam ucapan Chanyeol barusan seraya menatap langit-langit yang ditutup platform putih.

"Dia... sangat menyayangi kalian," bisiknya.

"Hmm."

"Apa... dia selalu begitu?"

"Maksud Gege?"

"Selalu... bertingkah sok mengatur, menasihati, bahkan merasa perlu mencampuri hidup kalian? Hanya karena SM memberinya posisi sebagai leader?"

Yifan mendengar Chanyeol mendengus di sampingnya, dan Joonmyeon bernapas lembut di sisinya.

"Tidak begitu."

Yifan terdiam, sebelum menoleh pelan. "Apa maksudmu?"

"Maksudku," Chanyeol mengusak rambut hitam pria di sampingnya yang mendengkur halus. "Apa Gege tidak mendengar kata-kata Gege sendiri?" Pria jangkung itu saling melirik. "Sudah, ya, Ge. Aku ngantuk."

"Tu-" ia terdiam melihat Chanyeol sudah berbalik, dengan Baekhyun memeluknya seperti bayi koala. Gemetaran pria mungil itu berhenti. Chanyeol benar-benar berperan baik sebagai guling pribadinya. "...baiklah. Selamat malam."

Yifan menengadah lagi. Batinnya berkecamuk. Ucapan Chanyeol terus diputar oleh piringan hitam otaknya.

"Apa Gege tidak mendengar kata-kata Gege sendiri?"

Kata-katanya?

"Selalu... bertingkah sok mengatur, menasihati, bahkan merasa perlu mencampuri hidup kalian? Hanya karena SM memberinya posisi sebagai leader?"

Benarkah?

... seperti itukah dia?

Joonmyeon meremas selimut tipisnya. Manik cokelat terbuka lebar.

Ia belum terlelap.

Ucapan Chanyeol dan Yifan terus bergema.

"Selalu... bertingkah sok mengatur, menasihati, bahkan merasa perlu mencampuri hidup kalian? Hanya karena SM memberinya posisi sebagai leader?"

Seperti itukah anggapan mereka tentangnya? Tentang semua kepedulian yang ia curahkan? Semua perhatian yang ia tujukan? Semua kasih sayang yang ia ungkapkan? Dalam semua marahnya, semua aturannya, semua larangannya, semua... semuanya?

Apakah mereka menganggap semua itu hanya perwujudan peran leader dan tidak berasal dari lubuk hati?

Apakah mereka menganggap semua itu hanya pura-pura? Hanya akting murah dengan SM sebagai sutradara?

Apakah mereka menganggap semua ketulusannya itu palsu di balik layar kaca?

Siapa... siapa itu mereka? Siapa mereka yang meragukan Joonmyeon?

Fans?

Media?

Staff?

Atau...

... grupnya sendiri?

Apakah rekannya sendiri juga meragukannya?

Apakah dalam tiga tahun kebersamaan ini mereka masih menganggap sikap Joonmyeon sebagai basa-basi peran leader?

Joonmyeon menggigit bibir. Kaki naik meringkuk.

"Selalu... bertingkah sok mengatur, menasihati, bahkan merasa perlu mencampuri hidup kalian? Hanya karena SM memberinya posisi sebagai leader?"

Tidak percaya yang mengatakan hal itu pertama kali adalah Yifan sendiri. Co-leader dari grup mereka.

Apakah itu berarti sikap kebapakan Yifan selama masih bergabung di grupnya hanya tuntutan peran?

Ataukah ia sendiri yang terlalu bodoh hingga mengayomi grupnya lebih dari yang seharusnya?

Apakah... apakah Joonmyeon berlebihan? Apakah leader itu sebenarnya hanya isapan jempol magnet penggemar dan tidak berarti apa-apa?

Dua tangan kekar itu melingkari pinggangnya, satu jari mengusap lembut pipi yang si pemiliknya sendiri tidak tahu sejak kapan basah.

"Hei, belum tidur? Kenapa menangis malam-malam?"

Yifan.

Joonmyeon menahan napas. Dada Yifan menempel punggungnya. Dagu Yifan bersandar pada pundaknya. Dan napas Yifan... memabukkan. Dalam situasi begini, Joonmyeon hanya kepikiran untuk melakukan sesuatu yang biasa dilakukan oleh rusa yang terpojok. Pura-pura mati.

Atau, pura-pura tidur.

Yifan terkekeh. Getar tenggorokannya membuat Joonmyeon meringis geli.

"Percuma pura-pura. Aku tahu kau masih bangun."

Oke. Melanjutkan parodi tidurnya hanya akan membuatnya terlihat tolol. Dan ia sedang sentimental, tidak mood untuk digoda. "Aku tidak menangis. Singkirkan tanganmu."

"Hmm?" Bibir menelusup masuk mendekati leher. Joonmyeon mengerang pelan. "Kenapa?"

"Minggir. D-di sini..." Berpikir cepat mencari alasan. "Panas. Di sini panas."

"Panas?"

Joonmyeon menjawab dengan gumaman yang lebih mirip desahan.

"Apanya?"

Ya Tuhan, Yifan tolol atau pura-pura tolol? "U-udaranya."

"Udaranya?" Demi Tuhan, Joonmyeon membeku. Tidak tahu Yifan bisa bersuara seperti itu. Itu suara ranjangnya, bukan? "Bukan tubuhmu yang panas?"

"T-t-tidak." Joonmyeon mulai bergerak risih. "Y-Yifan."

Ia tidak akan membiarkan mangsanya kabur. Dua tangan itu jika sudah merengkuh, tidak akan mudah melepas. "Kupikir tubuhmu panas juga karena dekat denganku, hm?"

"B-bicara apa kau," sergahnya. "Aku tidak nyaman b-begini. Aku berkeringat banyak sekali, tahu. Lengket."

"Oh, kau mau tahu apalagi yang lengket?" Telinga Joonmyeon memerah ditiup sensual. Sang empunya menutup mata, gemetaran. "Kalau begitu, mau berkeringat lebih banyak lagi denganku?"

.:xxx:.

Semua tokoh yang ada dalam fanfiksi ini bukan milik saya

Fanfiksi ini adalah hasil karya orisinil yang menyusupkan fiksi dalam fakta

EXO (c) SM Entertainment

Lubang Hitam (c) Crell

.

Tidak ada keuntungan finansial yang diambil dari pembuatan fanfiksi ini.

.

.

.

(3)

.

.

.:xxx:.

Harusnya Yifan tahu kalau siku Joonmyeon setajam cutter. Sakitnya masih ada sampai pagi. Padahal dia hanya menggoda, tidak sampai ada intercourse beneran.

Tidak apa, lah. Yang penting Joonmyeon maih mengizinkannya tidur di sampingnya.

Ngomong-ngomong Joonmyeon, pria mungil itu tengah meletakkan secangkir teh di depan manajer barunya (yang sedang meringis sambil duduk di meja makan). Manik cokelat Joonmyeon hanya melirik, sebelum kemudian menghela napas panjang dan duduk di depan si pria Mandarin sambil menyesap segelas kopi.

"Kalau kau menungguku meminta maaf, lupakan saja. Yang terjadi kemarin adalah sepenuhnya salahmu." Cangkir keramik berdenting nyaring, beradu sedikit keras dengan meja kayu. "Kau ini gila, ya? Kalau mereka lihat, bagaimana?"

"Mereka siapa? Anak-anakmu?"

Joonmyeon bungkam. "Kalau mereka anak-anakku, maka kau adalah ayah tidak tahu diri."

Yifan tergelak. "Kau bisa saja, Joonmyeon."

"Panggil aku Suho."

"Hmm?" Sebelah alis terangkat.

"Suho," pria itu menggigit bibir. "Manajer-hyung biasa memanggilku begitu. Dan aku akan sangat berterima kasih kalau kau mau mengikuti kebiasaannya."

"Ah, jadi sekarang kita bicara tentang posisiku sebagai manajer?" Yifan meraih pegangan cangkir teh, menghirup aromanya. Sedikit pahit, tapi itu yang ia suka. Yifan tidak suka yang manis-manis, kecuali pria di depannya. "Baiklah, mari kita mulai dengan; di mana aku akan tinggal?"

Joonmyeon mendengus. "Manajer-hyung tinggal di asrama ini juga untuk beberapa bulan pertama debut kita, ingat? Sekadar mengakrabkan diri dan mengatur jadwal kita."

"Apa itu berarti aku juga akan tinggal di asrama ini? Sekadar... mengakrabkan diri." Kalimatnya dibalik. Seringai itu tidak enak Joonmyeon pandang. Terlalu ambigu dan menyimpan rahasia seribu. "Ah, lagi pula pembagian kamar kalian kurang efektif. Empat kamar untuk sembilan orang? Akan lebih efisien empat kamar untuk sepuluh orang." Yifan menghitung di udara. "Satu kamar untuk Yixing, Kyungsoo dan Jongin. Satu untuk Minseok dan Chanyeol. Satu untuk Baekhyun, Sehun, dan Jongdae. Lalu satu lagi untuk kita berdua."

Joonmyeon hampir menyemburkan kopinya. "Tidak," jawabnya tegas tanpa mengulur waktu. "Tidak. Aku menolak."

"Kenapa?" Yifan memasang mimik terkejut. "Bagus, kan? Sudah sepantasnya manajer baru dan leader grup sekamar. Dengan begitu, kita bisa mempererat hubungan kita."

"Tidak. Aku tidak setuju." Joonmyeon menggeleng kuat-kuat. "Kau gila? Baekhyun, Sehun, dan Jongdae dalam satu kamar? Mau jadi apa kamar mereka? Titanic edisi dua?"

Yifan menghela napas. "Lalu bagaimana usulmu?"

Joonmyeon mengetukkan ujung telunjuk pada kayu. "Bagaimana... kalau mirip dengan tatanan awal asrama? Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun. Jongdae dan Minseok. Kau, Jongin, Kyungsoo. Lalu aku dan Yixing."

"Kau dan Yixing?" Yifan mengangkat sebelah alis. "Kenapa dengan Yixing? Lagipula aku tidak mau sekamar dengan Jongin dan Kyungsoo. Nanti aku bau lavender. Obat nyamuk."

"Yah, karena itu akan lebih baik daripada sekamar denganmu." Joonmyeon mengangkat pundak. "So?"

Yifan mengelus dagu(nya sendiri). "Rencanamu bagus. Hanya ada satu yang kurang pas."

"Apa?"

"Harusnya Yifan bersama Joonmyeon," Yifan menyeringai. "Aku menuntut itu. Apapun yang terjadi."

Joonmyeon memutar bola matanya. "Aku tidak bisa percaya padamu."

"Kau lupa? Kau perlu persetujuanku untuk menetapkan susunan kamar." Yifan bersandar. "Aku tidak akan melakukan apa-apa, kalau itu yang kau takutkan."

"Kalau begitu, sekamarlah dengan Kyungsoo," Joonmyeon menawar. "Dia second in charge di sini."

"Tidak. Kau sekamar denganku."

"Yifan, tolong."

"Sekamar."

"Yifan!"

"Sekamar!"

"Kau seperti anak kecil!"

"Dan kau tidak?"

"Baiklah, baiklah!" Joonmyeon menggaruk tengkuk, lelah. "Kita sekamar. Tetapi bertiga. Itu tawaranku yang paling dekat dengan permintaanmu."

Yifan manggut-manggut. Keinginannya mungkin belum bisa terpenuhi seutuhnya, tetapi ini sudah lumayan. "Baik. Dengan siapa?"

"Pilih, Baekhyun atau Yixing."

"Yixing," Yifan memilih dalam sekejap mata. "Kalau aku harus sekamar bertiga, aku akan memilih orang yang tidak ribut."

"Baik." Joonmyeon mengetuk meja. "Sudah diputuskan."

Yifan tersenyum puas.

Teh dan kopi habis. Joonmyeon bangkit mencuci piring dan gelas kotor. Yifan memainkan ponsel, menelepon seseorang.

"Yifan," panggil Joonmyeon dari kounter dapur. "Ke mana yang lain?"

"Jogging pagi. Aku menyuruh sopir membawa mereka ke gelanggang pribadi."

"Tanpa aku?"

"Aku sudah bilang ada yang harus kita diskusikan. Untuk hari ini saja, kau kuberi dispensasi latihan fisik."

"Sebenarnya tidak perlu," Joonmyeon mematikan keran. "Aku bisa menyusul mereka setelah ini. Urusanku di sini sudah selesai."

Joonmyeon sudah hendak mengeringkan gelas-piring ketika Yifan menghampirinya, mengapit ponsel di antara pundak dan telinga, merebut lap dari tangan Joonmyeon. "Kau tunggu di sini. Masih banyak yang harus kita bahas."

Joonmyeon mengangkat sebelah alis. Yifan sudah masuk mode manajer yang sebenarnya. "Seperti?"

Tangan bekerja sementara bibir bercerita. "Seperti konsep comeback kalian Desember ini. Produser sudah menetapkan temanya; salju, pernyataan, dan kenangan. Single spesial sudah diaransemen, tapi tidak menutup kemungkinan disusupi ide kalian. Kita juga akan meluncurkan MV untuk lagu itu, juga live show via V App."

Joonmyeon menyunggingkan senyum tipis. "Benarkah?"

"Tentu. Dan yang harus kita pikirkan sekarang adalah konsep video musiknya. Bagian produksi ingin kreativitas kalian bermain prima di video musik kali ini. Jadi sampaikan itu pada Chanyeol-biasanya dia yang punya ide-ide segar."

"Begitu?" Joonmyeon bersandar pada kounter. Perabot makan masih setengah yang basah. "Lalu, apa judul single-nya?"

"Judulnya Sing for You. Ah, maaf. Sebentar." Ponselnya menggetarkan meja, alarm panggilan masuk. Lap diletakkan. Yifan bergerak menjauh. "Selamat pagi. Minsoo-ssi? Iya, ini Yifan. Anda bilang Anda ingin bertemu denganku?"

Joonmyeon hanya memperhatikan, sebelum kemudian meraih lap itu dan melanjutkan sisanya.

"Baik. Kantor pusat? Ya, tentu saja. Aku akan datang jam sembilan. Tentu. Ya, ya. Terima kasih."

"Asisten manajer?" Panggilan diputus. Joonmyeon memiringkan kepala, bertanya. Yifan mengangguk, lalu melirik jam.

"Kita tunda pembahasan ini nanti. Kalau kau mau menyusul ke gelanggang, silahkan. Aku mandi dulu, dua puluh menit lagi aku berangkat." Yifan mengerling. "Mau ikut mandi?"

Lap kotor itu sudah akan mencium muka tampan si aktor jikalau ia tidak menyingkir tepat waktu.

.:xxx:.

"Namaku Gyung Minsoo." Pria itu membungkuk hormat. Yifan membalasnya. "Asisten manajer EXO sejak dua bulan lalu. Aku belum mendapat posisi itu ketika kau masih bergabung. Jadi bisa kupastikan, ini pertama kalinya kita bertemu." Senyum pria kepala tiga itu merekah. "Kehormatan bertemu dengan Wu Yifan yang terkenal ini."

"Ah, terima kasih. Anda berlebihan." Yifan tertawa kecil, lalu duduk kembali.

"Sebenarnya aku tidak menyangka SM berani mengambil langkah sedrastis ini." Minsoo merapikan jasnya. Pria berusia awal tiga puluhan itu punya rambut hitam klimis dan mata sipit a la Korea, yang ikut tersenyum sebagaimana bibirnya. "Tapi mereka melakukannya, dan SM tidak main-main jika sudah mengambil langkah yang melawan arus begini. Dengan begitu aku tahu bahwa peranmu di sini juga tidak main-main, dan kau dipercaya menjadi manajer EXO bukan tanpa alasan."

Yifan tersenyum kecil. "Sejujurnya aku juga terkejut dengan tawaran SM. Tapi karena sekarang aku tidak terlibat kontrak dengan agensi manapun, dan proses hukumku dengan SM juga belum sepenuhnya selesai, kupikir kenapa aku tidak menghabiskan waktuku dengan menggali pengalaman sebagai manajer?" Ia mengakhirnya dengan kekehan. "Siapa tahu kelak aku akan membangun agensiku sendiri, benar?"

"Tentu saja. Pengalaman adalah segalanya." Minsoo mengangguk. "Baiklah, bagaimana kalau kita sudahi basa-basinya? Yang perlu saya bicarakan adalah-ah, maaf. Teh Anda sudah datang."

Pelayan wanita yang lekuk tubuhnya S sempurna itu melenggang masuk dengan nampan di depan dada, matanya melebar melihat Wu Yifan duduk di ruangan yang sama dengannya. Tangan berbalut kulit kuning langsat sedikit tremor meletakkan keramik putih bertuang teh untuk dua atasannya, sebelum kemudian membungkuk sopan.

"Silahkan, Tuan Wu." Minsoo mempersilahkan sementara pelayan tadi keluar, sedikit-sedikit menoleh ke belakang pada sosok Yifan. Pria Mandarin itu sendiri mulai menikmati tehnya.

"Jangan seformal itu, bagaimana kalau Yifan saja? Toh kita rekan mulai dari sekarang."

Usulan Yifan diterima. "Baiklah. Kalau begitu Anda juga, panggil saya Minsoo."

"Tentu," Yifan nyengir. "Lalu? Yang harus kita bicarakan?"

Minsoo mengangguk. "Begini, tak perlu menunggu lama sampai media mencium semuanya. Wooyoung-ssi sudah dinyatakan akan rehat tiga bulan. Tetapi kita tak bisa ambil resiko dengan begitu saja membuat pernyataan bahwa Wu Yifan, mantan anggota EXO sendiri yang menjadi penggantinya. Oleh karena itu," ia berdeham. "SM mengambil kebijakan khusus. Secara formal, namaku yang akan dicatat dan diumumkan pada media sebagai manajer pengganti EXO. SM akan mengurus konferensi persnya. Akan tetapi itu hanya sebatas nama. Anda akan tetap bekerja sebagai manajer, dan aku akan tetap bekerja sebagaimana mestinya seorang asisten bekerja. Wu Yifan tidak akan diekspos, dan keberadaanmu di sini hanya akan diketahui oleh pihak SM. Dengan kata lain, manajer undercover." Lalu ia mengedip. "Tapi jangan khawatirkan fulus. Kau akan dapat lebih dari yang kau ekspektasikan, aku berani jamin itu."

Yifan menimbangnya sejenak, sunyi tak berani dipecah. Ia harus cermat. Memang sekilas ia tampak dirugikan, namanya tak akan mendapat ketenaran di balik kesuksesan EXO yang setelah ini akan ia dobrak. Akan tetapi, di sisi lain, semua itu sesuai sekali dengan kebutuhan rencananya. Ia memang harus menyelinap dari sorot lampu kamera. Pergerakannya tak boleh tercium. Ia harus betul-betul cerdik kali ini.

Rencana Yifan tidak boleh gagal.

"Kurasa tidak ada masalah dengan pengaturan itu." Akhirnya ia mengedikkan bahu. "Aku paham maksud mereka. Berita seperti ini tidak akan mudah diterima khalayak. Walau aku tak yakin akan ada banyak penolakan, tapi tetap saja berita ini mengguncang dan berpengaruh pada EXO ke depannya. Asalkan aku bisa membantu mereka walau di belakang layar, kurasa tidak ada masalah."

Manis.

Minsoo menghela napas panjang, lega. Tidak sesulit yang ia kira. Ia sudah mengantisipasi letupan amarah Yifan atau malah disposisinya, tapi yang terjadi justru kebalikannya.

Semakin ia yakin dengan ketulusan Yifan membantu eks-grupnya.

Kalimat terakhir bernada final. Minsoo bangkit. "Baiklah, kalau begitu kita sepakat. Bagaimana kalau kita makan siang pekan depan, jam yang sama? Kita bicarakan tempatnya nanti."

"Tentu. Dengan senang hati." Tangan mereka berjabat. Senyum itu masih belum hilang. "Senang bekerja dengan Anda."

.:xxx:.

Delapan pria yang kini terbaring (dan berguling-guling) di lantai tempat latihan dance mereka sama-sama mengerang senang ketika pemimpin mereka datang dengan satu kantong plastik penuh botol air dingin.

"Leader-hyung yang terbaik!"

Semua pasti kebagian, karena Joonmyeon tidak pernah membalikan sesuatu pas dengan jumlah mereka (ia selalu beli lebih). Tapi tampaknya Sehun dan Baekhyun merasa perlu untuk berebut air seperti balita berebut mobil-mobilan.

"Ini punyaku, Hyung! Ambil yang lain sana!"

"Enak saja! Aku duluan yang menyentuh botol ini! Kau saja yang ambil yang lain!"

Chanyeol akhirnya geregetan. "Ya, sudah! Ambil saja yang lain, masih banyak, kan! Tidak usah rebutan!"

"Kau tidak mengerti, Yeol-ie! Ini masalah harga diri!"

"Seperti kau masih punya harga diri saja, Baekhyun-hyung."

"Aish! Maknae kurang ajar! Jangan pegang-pegang pinggangku, mesum!"

Plak!

"Appooo!" Jongin meringis kala pipinya tertampar tangan Baekhyun. "Sakit, Hyung!"

"Suho-hyung, aku menyerah-" Chanyeol tepar kembali. Telinga lebarnya berdenging. "Suara Baek-ie cempreng sekali, telingaku sakit. Aduh, aku sampai tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Apa aku mendadak tuli?"

"Trims, Hyung." Kyungsoo tampaknya satu-satunya yang punya kepekaan untuk berterima kasih. Joonmyeon mengangguk.

"Cuma ini yang bisa kulakukan. Maaf sekali aku datang terlambat, ternyata kalian sudah selesai latihan." Ia membuka satu botol untuk dirinya sendiri. Baekhyun dan Sehun bergulat untuk satu botol lainnya di ujung ruangan.

Kyungsoo mengangguk.

"Ah, ya. Hei, kalian, dengarkan aku." Joonmyeon berujar keras. Jongdae membantu mengendalikan situasi dengan melempar botol kosong ke arah Baekhyun dan Sehun, yang sialnya malah menghantam kepala Jongin. Dua biang kerok EXO seketika diam, tak ingin ada episode kedua peluncuran rudal plastik ke kepala mereka. "Kita harus bersiap untuk Sing for You, single comeback kita. Desember awal akan diluncurkan, serta live show lewat V App. Kita juga harus memikirkan konsep MV-nya, yang diserahkan sepenuhnya pada kita."

"Wow," Chanyeol bangkit dari baringnya. "Tak kusangka akhirnya mempercayakan soal video musik pada kita! Tenang saja, hyung," ia mengacungkan telunjuk dan jari tengah. "Akan kupikirkan konsepnya."

"Bagus," Joonmyeon mengangguk dengan senyum. "Tema kita kali ini adalah salju dan kenangan. Lebih jelasnya akan kita bahas di asrama. Yang lain juga, mohon bantuannya. Jangan ragu untuk mengungkapkan ide kalian. Paham?"

"Paham!" Separuh memekik senang, separuh mengangguk kalem. Riuh datang lagi, semua antusias membicarakan ide-ide spontan mereka untuk event Desember nanti.

"Um, ngomong-ngomong, Suho-hyung," Kyungsoo angkat bicara. Joonmyeon menoleh padanya. "Mengenai manajer..."

Chanyeol dan telinga lebarnya mendengar, dan ia mendesis menyuruh semuanya diam.

Joonmyeon berkedip. "Eh? Iya? Ada apa dengan manajer?"

"Itu..." Kyungsoo menolehkan kepala ke arah rekan-rekannya, memohon bantuan. "Bagaimana aku harus mengatakannya?"

"Apa ada masalah?" Joonmyeon khawatir sekarang. Dirinya tak bisa tinggal diam kalau ada sesuatu yang mengganggu anak buahnya. "Ada apa dengan Yifan? Apa dia berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan?"

"Bukan, bukan begitu." Jongdae menggaruk tengkuk. "Hanya... ah, kami sedikit merasa aneh saja."

Joonmyeon mengernyit. "Bukannya kemarin kalian tersenyum lebar dan menyambutnya dengan begitu hangat setelah ia memperkenalkan diri sebagai manajer baru? Bahkan kalian beramai-ramai memeluknya sampai ia tertiban ke matras."

"Yah, tentu saja. Kita sebisa mungkin membuat pertemuan pertama kita untuk yang pertama kalinya berkesan baik." Minseok jujur. "Tapi tetap saja, sedikit aneh rasanya diatur mantan rekan sendiri."

Joonmyeon jadi ingin tertawa. "Bukannya dia dulu juga mengaturmu, Minseok-ah? Dia mantan leader-mu, kan?"

"Iya, kau benar. Tapi... ah! Tetap saja rasanya beda!"

"Baiklah, baiklah," Joonmyeon menatap sekeliling. "Jadi, inti pembicaraan ini sebenarnya apa? Kalian menolak Yifan sebagai manajer?"

Tidak ada yang menjawab. Semua diam, bertatapan. Ada segel yang mengunci bibir mereka, yang menahan mereka untuk bicara.

Enggan.

"Apakah diam kalian itu berarti iya?"

Tidak ada jawaban lagi. Joonmyeon lama-lama frustasi. Diam mereka ambigu.

Sebenarnya mau mereka bagaimana?

"Hyung."

Joonmyeon dan yang lainnya menoleh pada sumber suara. Yixing yang buka mulut.

"Bagaimana denganmu?"

"Eh?"

"Kau sendiri? Setuju tidak Kri-ah, Yifan-hyung menjadi manajer kita?" Satu-satunya pria Mandarin di ruangan itu menatapnya tajam. "Kau sendiri merasa nyaman, tidak?"

Kini giliran Joonmyeon terdiam. Matanya menatap nyalang. Semua bergiliran menoleh ke arah leader mereka satu-satunya, yang kini menghela napas pelan.

Yixing menyuarakan pertanyaan mereka semua.

Joonmyeon berkedip beberapa kali, mengalihkan tatapan ke arah lain, membuka mulut selama beberapa detik sebelum kemudian menutupnya lagi.

"Menurutku kita hanya butuh menyesuaikan diri saja," akhirnya ia memilih itu sebagai jawaban. "Aku merasakan hal yang sama dengan kalian, dan menurutku itu hanya masalah kecanggungan saja." Ia menatap mereka bergantian dengan senyum kecil. "Untuk itu, aku punya rencana kecil. Bagaimana kalau kita melanjutkan penyambutan Manajer-ge nanti malam? Jadwal kita free untuk tiga hari ke depan, kan?"

Melihat raut ragu rekan-rekannya, Joonmyeon melanjutkan. "Akan ada malam begadang dan kalian bebas main video game, bebas pesan makanan di luar, dan bebas dari jam tidur. Bagaimana?"

Sorak gembira sudah cukup untuk menenangkan gemuruh batin Joonmyeon sesaat.

.:xxx:.

Pintu otomatis itu terbuka, memberi jalan untuk pria jangkung yang berjalan keluar dari gedung sepuluh tingkat. Petugas keamanan membungkuk seraya memberinya salam, dan pria itu balas membungkuk, sambil tangannya sibuk menggerayangi saku mencari kunci mobil.

Langkah kakinya berderap pelan menuruni tangga teras yang dipulas keramik cemerlang, memantulkan sinar mentari yang tak seberapa kuat kala musim dingin menyerang Korea. Yifan membalas sapaan beberapa orang yang kebetulan mengenalnya, di balik penyamaran kecilnya yang hanya berubah jubah tebal berwarna cokelat, kacamata hitam, dan topi fedora.

Porsche hitamnya otomatis menjawab dengan bunyi klakson lembut begitu ia menekan tombol pada kontak kuncinya. Yifan masuk ke dalam mobil dengan helaan panjang, lalu membanting pintu menutup. Menyalakan wiper untuk menyapu lapisan embun salju yang mengganggu.

Ia sudah akan memutar keluar lobi parkir ketika ponselnya bergetar lagi. Yifan mengangkatnya dengan sebelah tangan, melirik sebentar pada kode nomornya yang menunjukkan sang pemanggil berada di Cina.

"Yifan?"

"Ya. Ini aku."

"Bagaimana?"

"Kabar bagus," ia menahan diri untuk tidak tergelak. "Mereka percaya. Mudah menemukan tempatku kembali di dalam asrama lamaku. Bahkan, kau percaya, mereka memutuskan untuk menyembunyikanku dari media!"

Ia bisa mendengar seringai orang itu melalui suaranya. "Baguslah, hal itu malah akan sangat menguntungkan kita. Ingat, fokuskan dirimu pada tugas-tugas manajerialmu. Lambungkan nama EXO. Buat mereka berada di level yang belum pernah mereka capai. Buat tren baru di Korea. Buktikan bahwa kehadiranmu adalah mesiu kesuksesan mereka. Ambil simpati mereka, raih kepercayaan mereka. Bahwa Wu Yifan sebagai manajer pengganti adalah pilihan yang tepat. Lalu..."

"Jatuhkan mereka. Leburkan sampai tak berdaya, sampai merangkak pun mereka harus dibantu dari belakang." Yifan meneruskan. Matanya berkilat aneh. Bibir pucat itu menyungging miring. Bukan dalam posisi menggoda, namun sesuatu yang lebih tajam. "Balaskan dendam pada si tua Soo Man. Aku mengerti."

.

.

.

[tbc]

AN: Bab 3 akhirnya kelar juga! Plot sedikit (sedikit?) bertambah berat di sini, seberat beban Suho jadi single parent di EXO /no.

Terima kasih untuk yang sudah review dan pencet itu follow dan fav. Love you all :) Review akan diusahakan untuk dibalas satu-persatu untuk reviewer yang log-in, dan yang tidak akan dijawab secara singkat di sini (maafkan saya yang tidak punya waktu banyak untuk menulis w)

Ngomong-ngomong, homin lover tanya kalau Kris yang di sini adalah Kris yang masih punya rambut. Jawabannya, iya. Hati Crell masih belum sepenuhnya terima rambut indah Kris-ge dibabat habis seperti itu :''DD

Ada beberapa juga yang bertanya soal penulisan italic dan normal. Apakah yang italic itu adalah flashback? Jawabannya adalaaah, iya bukan, ya? :3 /digampar

Luhan binal! Serius saya ketawa baca reviewnya RealJMXO dan Xing1002. Dan ngomong-ngomong BubbleLavender yang tanya apakah Luhan dan Tao akan keluar di fic ini. Saya belum bisa jawab sekarang :3 Mohon maaf, ya~

Yosh, sekian saja untuk chapter ini. Silahkan tinggalkan jejak, oke? Review kalian bagai minyak untuk saya, seonggok api unggun kecil. Dan tolong sempatkan untuk baca AN di setiap chapter, karena sewaktu-waktu saya akan memberi game mini berhadiah fanservice sesuai permintaan pemenang w)/

Oke, sampai ketemu di bab selanjutnya!